Begini Jurus Petugas Dinkes Grobogan Lakukan Vaksinasi Siswa

Petugas dari Dinas Kesehatan Grobogan melangsungkan kegiatan vaksinasi MR di SMPN 5 Purwodadi, Senin (7/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Petugas Dinkes Grobogan ternyata tidak hanya butuh kemampuan medis saja saat melaksanakan pemberian vaksin measles rubella (MR) pada anak sekolah. Mereka juga dituntut punya jurus lain biar kegiatan vaksinasi berlangsung lancar. Yakni, bisa merayu anak sekolah supaya mau diberi vaksin.

Rayuan ini diperlukan karena tidak semua anak dengan senang hati mau diberikan vaksin. Soalnya, vaksin MR itu diberikan lewat jarum suntik. Kondisi ini menyebabkan sebagian anak merasa takut saat melihat jarum suntik yang dibawa petugas.

“Memang ada anak yang takut dikasih vaksin ketika lihat jarum suntik. Kalau ada yang takut seperti ini maka harus kita rayu dulu,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Lely Atasti, usai kegiatan vaksinasi pada siswa SMPN 5 Purwodadi, Senin (7/8/2017).

Menurut Lely, pembarian vaksin MR sudah dilakukan mulai pekan pertama bulan Agustus ini. Sejauh ini, sudah sekitar 3.000 anak yang telah mendapat vaksin.

Pemberian vaksin hanya pada anak usia 9 bulan hingga anak usia 15 tahun. Sasarannya adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Mulai PAUD, SD, SMP dan sebagian siswa SMA.

Target pelaksanaan vaksinasi di Grobogan sebanyak 325.000 anak. Ditargetkan, pelaksanaan vaksinasi MR selesai akhir September mendatang.

Lely menambahkan, bagi anak yang belum divaksinasi pada saat petugas datang sekolah,  diminta untuk datang ke puskesmas terdekat. Pemberian vaksin itu diperlukan guna mencegah anak-anak supaya tidak terkena penyakit campak.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan SMP di Rembang Kekurangan Peserta Didik Baru

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Sebanyak 24 SMP negeri di Kabupaten Rembang kekurangan siswa baru di tahun pembelajaran 2017-2018 ini.

Dari data yang ada, sebanyak 24 SMP negeri yang kekurangan siswa itu tersebar di 14 kecamatan se- Kabupaten Rembang.

Adapun sekolah yang kekurangan siswa baru itu, di antaranya SMPN 1 Kaliori. Sekolah yang sejatinya dapat menampung siswa baru sebanyak 288 siswa, namun sampai saat ini baru ada 235 pendaftar atau kekuarangan 53 siswa.

Selanjutnya yakni SMPN 1 Sale. Dari kuota 192 siswa, baru ada 161 siswa atau kekurangan 31 siswa. Kemudian SMPN 1 Sluke, dari 180 kuota pendaftar, baru ada 132 siswa atau kekurangan 48 siswa.

“Tahun ini ada beberapa sekolah yang masih kekurangan siswa hingga batas akhir pelaksanaan PPDB,” kata Achmad Solchan, Kabid Pembinaan SMP pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang.

Dia mengatakan, pihaknya mempersilakan sekolah yang akan mengajukan perpanjangan waktu pelaksanaan PPDB dengan mengirimkan surat kepada Dindikpora ditembuskan kepada kepala dinas.

Menurutnya, hingga saat ini total ada 5.107 siswa yang telah diterima di SMP negeri di Rembang. Pengajuan permohonan dari pihak sekolah yang mengalami kekurangan siswa juga sebagian telah diterima.”Saat ini tinggal menunggu persetujuan dari kepala dinas saja,” katanya.

Meski ada yang kekurangan, ternyata ada pula sekolah yang kelebihan pendaftar. Seperti halnya di SMPN 1 Rembang, SMPN 5 Rembang, SMPN 1 Kragan, SMPN 1 Sulang, SMPN 2 Rembang, SMPN 1 Lasem, dan SMPN 3 Rembang.

Yang paling menonjol di SMPN 1 Rembang. Dari daya tampung 320 siswa, ternya pendaftarnya sebanyak 401 orang. Kemudian SMPN 1 Kragan dari daya tampung 288 siswa, namun pendaftar mencapai 379 pendaftar.

“Tidak terpenuhinya kuota di beberapa sekolah bukan karena aturan dari Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, tapi karena pendaftar banyak memilih di beberapa sekolah tertentu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Komisi D DPRD Kudus Dalami Polemik Tabungan Siswa

Ketua Komisi D DPRD Kudus Setya Budi Wibowo. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Polemik tabungan siswa yang dikabarkan harus disetor ke koperasi milik bupati menyita perhatian Komisi D DPRD Kudus. Ketua Komisi D DPRD Kudus Setya Budi Wibowo mengatakan, segera memanggil Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk menjelaskan persoalan ini.

Menurut Bowo, panggilan Setya Budi Wibowo, ajakan siswa untuk menabung memang baik. Namun jika benar ada arahan apalagi perintah khusus agar tabungan siswa disetor ke koperasi tertentu, maka hal itu perlu dipertanyakan.

Terlebih jika koperasi yang dimaksud memang milik bupati Kudus, seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial. “Jika anjuran menabung di bank masih wajar, namun jika anjurannya ke koperasi, tentu memicu banyak pertanyaan,” katanya, Rabu (14/6/2017).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, prinsip koperasi adalah dari anggota dan untuk anggota. Ia mempertanyakan apakah siswa yang menyetorkan tabungannya ke koperasi itu lantas menjadi anggota koperasi.

Bowo menambahkan, aturan-aturan dalam usaha koperasi sudah diatur jelas. Termasuk mekanisme keanggotannya, serta apa saja hak dan kewajiban anggota. “Kami sudah meminta keterangan sejumlah pihak terkait persoalan ini. Dalam waktu dekat Disdikpora akan kami panggil untuk melengkapi data kami,” ujarnya.

Gerakan menabung bagi peserta didik diluncurkan Bupati Kudus 14 Mei lalu. Peluncuran program yang digelar di Alun-alun Kudus itu dihadiri langsung Bupati Kudus Musthofa, Ketua DPRD Kudus Masan, pengurus Koperasi Logam Mulia Sejatera, dan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Kudus.

Meski sudah diluncurkan pertengahan Mei lalu, namun, program itu baru menjadi perbincangan hangat, beberapa hari terakhir. Sekretaris Disdikpora Kudus Kasmudi kepada wartawan mengatakan, pihak sekolah tetap menjalankan program menabung tersebut.

Hanya, Disdikpora tak mengharuskan tabungan disetor ke koperasi tertentu. “Pihak sekolah dibebaskan memilih lembaga keuangan untuk menyimpan tabungan siswa. Yang penting program gerakan menabung bagi peserta didik tetap jalan terus,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Ini Alasan SD 1 Barongan Dipindah ke SD 1 Wergu Wetan Kudus

Siswa SD 1 Barongan Kudus melakukan kegiatan belajar mengajar di bangunan SD 1 Wergu Wetan, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dipindahnya proses kegiatan belajar mengajar SD 1 Barongan ke SD 1 Wergu Wetan Kudus, bukanlah tanpa sebab, Senin (10/4/2017).  Ratusan siswa dipindah lantaran bangunan kelasnya sedang dalam proses renovasi.

Sedangkan, alasan menggunakan SD 1 Wergu Wetan, karena lokasinya yang dianggap paling pas. Mulai dari lokasinya, tempat parkir hingga ruang kelasnya yang dianggap sesuai dan cukup untuk kebutuhan sekolah.

Kabid Dikdas Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, para siswa SD 1 Barongan dipindah sementara ke SD 1 Wergu Wetan lantaran lokasi tersebut yang dianggap paling pas untuk pemindahan sementara. Sebelum memutuskan untuk menempati SD 1 Wergu Wetan, sejumlah SD lainnya juga sempat menjadi rujukan.

“Beberapa SD sudah kami datangi, khususnya yang dekat. Seperi SD Glantengan, yang juga terdapat lokasi yang mumpuni, namun kendalanya adalah pada area parkir yang tidak ada. Saat itulah diputuskan untuk menempati SD 1 Wergu Wetan,” katanya kepada MuriaNewsCom saat meninjau siswa.

Menurutnya, kedatangan dia ke lokasi lantaran untuk memastikan keadaan di lokasi baru berjalan dengan lancar dan aman. Dia juga memastikan bahwa kebutuhan para siswa bisa tercukupi selama dipindah ke tempat yang baru itu.

Dia yang juga Ketua PGRI Kudus,  mendatangi satu per satu kelas secara langsung. Dia juga sempat bertanya kepada para siswa di kelas. “Bagaimana kabarnya? Senang tidak dengan lokasi baru? dengan tempat baru?, Apa kalian tahu kenapa dipindah di sini?,” tanyanya saat masuk ke ruang kelas satu.

Para siswa menjawab senang dan nyaman di tempat baru. Siswa juga menjawab kalau sekolahnya sedang dibangun lebih bagus lagi biar nyaman untuk belajar.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan Siswa SD Islamic Center Purwodadi Belajar Padamkan Kebakaran

Petugas pemadam kebakaran saat berlatih memadamkan kebakaran yang diikuti siswa di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan siswa SDIT Islamic Center Purwodadi mendapat pelajaran dari petugas pemadam kebakaran (damkar) mengenai cara-cara memadamkan api, Rabu (15/3/2017). Enam petugas damkar bergantian memberikan contoh cara memadamkan api yang dilangsungkan di depan markas damkar yang ada di komplek kantor Setda Grobogan.

Sebagian siswa tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang tidak pernah didapat di bangku sekolah tersebut. Sementara sebagian lagi terlihat agak takut ketika petugas menyalakan api untuk pelajaran praktik. Petugas juga mengenalkan pada para siswa tentang mobil pemadam kebakaran dan mereka diperbolehkan naik di atas kendaraan tersebut.

Selain pelatihan dasar pemadaman api, petugas juga memberikan materi seputar masalah kebakaran. Antara lain, soal penyebab kebakaran yang selama ini sering terjadi. Kemudian, tindakan awal yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran juga diberikan pada siswa tersebut.

“Harap adik-adik ketahui, kebakaran itu seringkali terjadi karena kecerobohan. Oleh sebab itu, jangan pernah bermain-main dengan api ketika ada di rumah,” pesan Kasi Damkar Sutrisno yang memimpin langsung pelatihan tersebut.

Sutrisno menyatakan, sangat senang dengan inisiatif dari pihak sekolah untuk dikenalkan cara-cara memadamkan kebakaran. Sebab, dengan langkah itu para siswa itu setidaknya sudah punya bekal pengetahuan. Dan, diharapkan ketika ada musibah kebakaran di dekatnya mereka bisa membantu meminimalkan terjadinya korban yang lebih besar.

“Selama ini, sudah banyak yang minta diadakan pelatihan. Terus terang kami sangat mengapresiasi inisiatif dari sekolah ini,” ujarnya.

Meski begitu, Sutrisno berharap agar sekolah-sekolah di tingkatan yang lebih tinggi yakni SMP dan SMA bisa mengikuti langkah serupa. Hal itu dinilai juga lebih baik lagi karena secara fisik mereka sudah lebih kuat. Sehingga ketika ada kebakaran didekatnya bisa lebih maksimal membantu penanganan dibandingkan dengan anak SD.

Editor : Akrom Hazami

 

Siswa Terobos Banjir Demi Bisa Sekolah di Karangturi Kudus

Siswa berangkat ke sekolah dengan menerobos jalanan yang banjir di Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa berangkat ke sekolah dengan menerobos jalanan yang banjir di Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah siswa asal Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, nekat menerobos genangan banjir yang menutupi jalan. Para siswa tak mau absen sekolah meski kondisi jalan memprihatinkan.

Seperti halnya diungkapkan M Rizki, siswa SMA di Kudus. Dia rela menerobos banjir dengan jalan kaki dari desanya hingga jalan raya. Dia tak mau absen meski kondisi tak memungkinkan. “Kalau jalan kaki masih aman, jadi tetap lanjutkan sekolah. Sedangkan kalau pakai motor belum tentu aman, tergantung jenis motor dan yang mengendarai,” kata Rizki, di lokasi, Rabu (8/2/2017).

Waluyo, warga setempat juga menerjang banjir agar tetap bisa berangkat sekolah. “Iya masih sekolah, masih bisa lewat kok, jadi ya masuk sekolah saja,” ucapnya sambil jalan.

Berdasarkan pantauan, para siswa yang menerobos banjir tak semuanya jalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor dan sepeda. Beberapa siswa membawa pakaian ganti. Serta ada yang membungkus pakaian seragam dan sepatunya  supaya tak basah.

Ada juga orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sundup, misalnya. Dia mengantarkan anaknya ke sekolah. Sebab dia merasa kasihan jika anaknya harus jalan kaki dalam kondisi banjir.

Editor : Akrom Hazami

 

Siswa SD 1 Jati Kulon Kudus  Kaget Kedatangan Polisi saat Upacara

 Siswa dan polisi mengikuti upacara sekolah di SD 1 Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Siswa dan polisi mengikuti upacara sekolah di SD 1 Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Upacara bendera kerap dilaksanakan tiap Senin pagi di sejumlah sekolah. Namun ada yang berbeda pada upacara bendera di SD 1 Jati Kulon, Jati, Senin (30/1/2017). Karena upacara bendera kali ini tampak dihadiri petugas kepolisian setempat.

Muhammad Iqbal, siswa kelas VI SD mengaku kaget saat melihat sejumlah petugas kepolisian yang berbaris di depan saat upacara.  Karena hal itu jarang dijumpai di sekolah SD 1 Jati Kulon. “Kaget, pagi ini ada polisi yang datang saat upacara seperti ini. Biasanya hanya guru dan teman-teman di SD ini saja,” katanya usai upacara bendera di SD 1 Jati Kulon.

Kedatangan polisi di upacara sekolah membuat dia dan teman-temannya lebih serius. Sebab dia melihat sosok polisi selama ini dianggapnya sebagai pribadi yang sangar. Namun dengan upacara kali ini, dia mengetahui kalau polisi merupakan sosok yang kalem.

Dalam upacara tersebut, turut hadir Kapolsek Jati AKP Catur Kusuma Adhi bersama babinkamtibmas. Hadir pula dalam upacara Kepala UPT Jati Sulardi, yang mendampingi upacara bendera di SD tersebut. Kegiatan ditutup dengan silaturahmi berupa salaman dengan petugas kepolisian dan juga UPT Jati.  Sulardi menambahkan, pihaknya senang dengan keikutsertaannya dalam upacara. Dengan demikian maka para siswa khususnya SD mengetahui kalau polisi adalah mitra masyarakat, termasuk pelajar.

“Ini bisa dilanjutkan ke sekolah lainnya, dengan pemahaman kepada siswa SD,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Siswi SMK NU Banat Raih Prestasi Desain Nasional

Afifah Thohiroh (15), siswi kelas X SMK NU Banat Kudus bersama guru pembimbing Ida Rusmayanti memperlihatkanya karyanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Afifah Thohiroh (15), siswi kelas X SMK NU Banat Kudus bersama guru pembimbing Ida Rusmayanti memperlihatkanya karyanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Afifah Thohiroh (15), siswi kelas X SMK NU Banat Kudus, berhasil meraih peringkat IV pada Grand Prix Final Sakura Collection Asia Students Awards 2016 yang digelar di AEON Mall BSD City Tangerang, Banten, Sabtu (14/1/2016) lalu. Bukan hanya meraih prestasi, namun juga dia merupakan peserta termuda.

Afifah ditemui di sekolahnya, Selasa (17/1/2017) mengatakan, peserta yang ikut123 orang. Dari peserta itu, hanya dia yang usianya 15 tahun dan hanya dia pula satu-satunya siswi SMK. Peserta lainnya merupakan perancang busana dan mahasiswa.

“Kalau rata-rata usia yang mengikuti kisaran 20 hingga 30 tahun. Jadi saya yang kebetulan paling muda di antara para peserta lainnya,” katanya.

Menurutnya, dalam ajang itu desainer wajib mengirimkan tiga jenis karya berupa ilustrasi. Kemudian dipilihlah 10 finalis. Mereka nantinya harus mewujudkannya dalam bentuk pakaian jadi.

Dia menjelaskan, pakaian ala Jepang karyanya terinspirasi dari sebuah perayaan dari Festival Hanami, sebuah festival melihat bunga sakura di Jepang dengan tempo zaman kuno yang didatangi kalangan elite kerajaan. Dari sanalah ide membuat hasil karya dengan dominan warga biru dan merah muda muncul.

“Saya membutuhkan waktu sampai satu pekan untuk membuatnya. Dan warna biru dan pink saya pilih lantaran terlihat lebih indah dan energik,” ujarnya.

Dia mengaku baru kali pertama ikut even. Mulanya dia grogi karena tak punya pengalaman.”Berbekal internet maka saya beranikan diri mengikuti perlombaan. Dan kendala memang grogi karena lawannya orang hebat-hebat,” jelasnya.

Disinggung soal harga karyanya, dia mengaku belum tahu. Sebab dia hanya berniat mengikuti perlombaan saja.

Sementara, guru pembimbing Ida Rusmayanti mengatakan, pihak sekolah bangga atas prestasi yang didapat. Karena meski masih duduk jelas X, namun sudah mampu bersaing.

“Untuk siswa memang perlu sering-sering ikut perlombaan. Jadi tidak hanya sebatas pameran saja. Dengan demikian akan tahu kondisi  lapangan dan pasar,” jelasnya. 

Editor : Akrom Hazami

Siswa Diperingatkan Hati-Hati Bermedia Sosial di Jepara  

medsos-e

Polisi memberikan imbauan kepada siswa agar lebih waspada dalam menggunakan media sosial, serta bahaya narkoba dan kenakalan remaja di SMK N 1 Kalinyamatan Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polisi dari Polsek Kalinyamatan Jepara mengajak para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kalinyamatan, agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial, dengan tidak cepat menerima, menangapi dan menyebarluaskan berita yang belum diketahui pasti kebenarannya.

“Sehingga berita yang disebarkan tersebut dapat menimbulkan reaksi dan dapat menimbulkan korban harta benda maupun jiwa bagi orang lain,” kata Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Kalinyamatan Iptu Edy Purwanto.

Selain itu, untuk mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Kabupaten Jepara, Kanit Binmas Polsek Kalinyamatan Polres Jepara, juga terjun ke sekolah guna memberikan penyuluhan tentang bahaya narkoba dan kenakalan remaja, serta sosialisasi penerimaan Polri.

Polisi juga menekankan pada penyalahgunaan dan peredaran gelap serta efek samping dari penyalahgunaan Narkoba. Dia mengatakan, narkoba menjadi musuh bersama, karena saat ini narkoba telah menyebar sampai ke desa dan menjadikan para remaja sebagai pecandunya.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya mengimbau kepada seluruh siswa peserta sosialisasi jangan sampai terlibat atau terkena pengaruh dari peredaran gelap Narkoba dan mengajaknya untuk menolak dan bersama memerangi peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.

“Juga mengajak para guru berperan aktif untuk mengawasi siswa-siswinya agar tidak terlibat dalam peredaran dan penyalahgunaan Narkoba dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah,” kata Edy dikutip dari website resmi Polres Jepara.

Editor : Akrom Hazami

SMK Al Hidayah Langon, jadi Satu-satunya Sekolah Pariwisata di Jepara

langon

Siswa SMK Al Hidayah, Langon, Jepara saat melakukan kegiatan wisuda. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – SMK Pariwisata Al Hidayah di Jalan Sultan Hadlirin Km 03 Rt 10 Rw V, Langon, Tahunan, Jepara menjadi satu-satunya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Pariwisata.

Tak hanya itu, sekolah itu juga untuk kali pertama melaksanakan wisuda di Tahun Ajaran 2015/2016, dan meluluskan 42 orang siswa/siswi pada Mei 2016 lalu.

Pengurus Yayasan Al Hidayah, Santoso menyatakan bahwa sesuai visi dan misi, program studi keahlian pariwisata Al Hidayah menekankan pada bidang penguasaan informasi dan kemampuan tentang ticketing, tour planning, guiding dan MICE.

Semua kompetensi keahlian ini diberikan untuk membekali peserta didik dengan ketrampilan pengetahuan dan sikap agar mumpuni di bidang pariwisata.

“Dalam praktiknya didukung beberapa fasilitas penunjang. Berupa gedung baru, laboratorium ticketing tour and travel, hot spot area dan pembelajaran komputer/IT, perpustakaan dan mobil operasional,” terang Santoso kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, guna mendukung kegiatan dan kemajuan siswa, SMK Pariwisata Al Hidayah juga memberikan berbagai ekstakurikuler dan beasiswa. SMK Al Hidayah juga bekerjasama langsung dengan Dinas Pariwisata dan berbagai dunia usaha dan industri yang ada di Jepara.

“Mengingat potensi pariwisata di Jepara sangat terbuka luas. Dan diharapkan mampu memberikan kontibusi yang besar terhadap perkembangan dunia pariwisata di Jepara,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjutnya, potensi pariwisata ini sangat berbahaya manakala tidak dikelola oleh orang-orang yang cerdas, profesional dan beriman.

Terkait hal inilah, diharapkan keberadaan SMK Al Hidayah tidak hanya mampu menyiapkan dan melahirkan tenaga kepariwisataan yang terdidik dan terampil, tapi yang terpenting lagi adalah beraklakhul karimah.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Versi Lain Terkait Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual yang Dialami Seorang Siswi SMA di Lasem

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kanit Reskrim Polsek Lasem Iptu Edi Sismanto mengungkapkan terkait kronologi kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa seorang siswi salah satu SMA di Lasem yang terjadi pada Kamis (4/2/2016).

Menurutnya, gadis berinisial WAY yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual tersebut, sedang mengendarai sepeda ontel ketika berangkat sekolah pada pagi kemarin.

Sesampainya di perempatan Jalan dr.Ronald Desa Babagan, Kecamatan Lasem, tiba-tiba pemuda berinisial S (25), warga Pamotan yang menaiki sepeda motorkemudian mengambil posisi berdampingan di samping WAY yang mengayuh sepeda ontel.

Ketika sudah sejajar, kemudian pelaku langsung menjalankan niat cabulnya, dengan menyentuh bagian sensitif tubuh gadis itu. Korban berusaha menangkis dengan salah satu tangannya, namun keseimbangan korban jadi goyah dan akhirnya terjatuh dari sepeda dan mengalami luka di kepala.

“Jadi begini, yang laki-laki itu mau menyentuh bagian sensitif dari tubuh si perempuan itu. Perempuannya menaiki sepeda ontel mau sekolah, sedang laki-laki itu mengendarai sepeda motor. Ketika mau menyentuh, gadis itu terus menangkis, tapi keseimbangan perempuan ini tidak terjaga, akhirnya terjatuh,” kata Edi.

Setelah terjatuh, gadis yang bersangkutan melapor ke polisi. “Akhirnya dari pihak korban itu melapor ke Sat Reskrim Polres Rembang dan minta kasus tersebut diselesaikan secara hukum,” ungkapnya.
Sementara, terkait tindak lanjut kasus tersebut, Edi mengatakan,jika saat ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Hal itu, setelah ada koordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Rembang.

Baca juga :

Terlalu! Pemuda Ini Nekat Gerayangi Seorang Siswi SMA di Tengah Jalan

Editor : Kholistiono

Terlalu! Pemuda Ini Nekat Gerayangi Seorang Siswi SMA di Tengah Jalan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Seorang siswi salah satu SMA di Lasem mendapatkan pelecehan seksual dari seorang pemuda berinisial S, warga Kecamatan Pamotan, Rembang. Peristiwa ini, terjadi ketika siswi dengan inisial WAY tersebut berangkat ke sekolah pada Kamis (4/2/2016) pagi, sekitar pukul 6.30 WIB.

Saat itu, WAY sedang menuju sekolah, dan ketika sampai di Jalan dr Ronald, Desa Babagan, Kecamatan Lasem, dirinya dicegat oleh S. Kemudian, S melakukan tindakan tidak terpuji, yakni menggerayangi beberapa bagian tubuh WAY.

Tidak terima perlakuan S, kemudian WAY mencoba berontak dan melawan. Namun, karena tenaganya kalah kuat dengan pemuda itu, korban justru terjatuh dan mengalami luka memar di kepala bagian belakang.

Tak berselang lama, beruntung ada seorang warga mengetahui kejadian tersebut dan kemudian menolong korban. Warga tersebut kemudian menangkap pelaku dan membawanya ke rumah korban. Kasus ini, saat ini sudah sampai di kepolisian.

Kapolsek Lasem AKP Eko Budi Sulistyo membenarkan terkait kejadian tersebut. Menurutnya, saat ini kasus tersebut ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Rembang. “Kasusnya sudah ditangani oleh PPA Polres,” katanya singkat, ketika dihubungi MuriaNewsCom, Jumat (5/2/2016).

Editor : Kholistiono

Sibuk Sekolah dan Mengaji, Diam-diam Eka juga Belajar Melukis Otodidak

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom,Kudus – Eka Sapta Amalia (17), seorang siswi yang tak hanya menempuh pendidikan di MA NU Al Hidayah, Getasrabi, Kecamatan Gebog, namun juga mengaji di pesantren Al Hidayah. Meski disibukkan dengan kegiatan di sekolah dan pondok, ia tetap meluangkan waktu belajar melukis otodidak.

Disaat waktu luang antara belajar formal dan mengaji, pelajar asli Pekalongan tersebut mengisi waktu luangnya dengan melakukan hobi melukisnya. ”Sering iseng menggambar sendiri disaat waktu luang. Melihat hasil karya saya, saya didaftarkan dan dibayari pihak sekolah untuk mengkuti lomba dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus ini,” paparnya.

Meski begitu, siswi yang duduk di bangku kelas II IPA itu tidak berharap untuk bisa meraih juara. Baginya yang terpenting bisa ikut berpartisipasi menambah ilmu dan pengalaman.
”Yang penting saya bisa diikutkan serta dalam kompetisi melukis ini. Sebab selama ini saya belum pernah ikut lomba semacam ini,” tuturnya.

Eka mengakui, tak hanya hobi melukis wajah tapi juga benda atau pemandangan. Untuk melatih keluwesan tangannya dalam melukis, Eka pun mengambil contoh dari internet untuk kemudian di print. Sehingga disaat menorehkan pensil ke kanvas, bisa menghasilkan gambar yang mirip.

”Untuk lukisan ini memang saya meniru gambar Gusdur yang saya print dari internet. Dan gambar aslinya ini bukan gambar karikatur, sehingga saya harus membuatnya menjadi karikatur. Itulah tantangannya,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Sekolah Ini Punya Cara Unik Usir Kejenuhan Siswanya

Kepala MTs NU Nurussalam Sondhadji sedang mengecek kolam dan memberi makan ikan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala MTs NU Nurussalam Sondhadji sedang mengecek kolam dan memberi makan ikan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – MTs NU Nurussalam, Besito, Gebog, memang tidak perlu diragukan lagi dalam memberikan pembelajaran yang variatif bagi siswanya. Karena madrasah tsanawiyah ini mempunyai cara tersendiri dibanding dengan sekolah lainnya.

Kepala MTs NU Nurussalam Sondhadji mengutarakan, kejenuhan yang dihadapi siswa itu harus bisa diatasi. Sebab biasanya kejenuhan tersebut biasaya pada saat kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran agama dan salaf.

Untuk mengatasi kejenuhan siswa tersebut, pihak sekolahpun menyediakan kolam ikan. Kolam ikan tersebut dipercaya mampu mengusir kejenuhan para siswa ketika usai menerima pelajaran.

”Kolam ikan ini berukuran sekitar 8 m yang terdiri 2 kotak. Namun fasilitas itu bisa dimanfaatkan siswa untuk mengisi waktu luang, di saat istirahat atau sepulang sekolah sekalipun. Yaitu dengan mengunjungi kolam ikan tersebut, memberi makan ikan, dan mengamatinya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Sondhadji, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus untuk membimbing para siswanya. Sehingga para siswa mendapatkan ilmu pengetahuah tentang budidaya ikan selain dari sekolah.

”Para siswa juga diajak untuk memanen ikan di kolam sekolah tersebut. Hasil panen tersebut bisa dijadikan tabungan untuk membeli fasilitas kegiatan siswa. Baik mulai dari bola voly, bola tenis, raket, dan sejenisnya,” tuturnya.

Dia menambahkan, yang terpenting bagi pihak sekolah ialah mampu membuat siswa nyaman dalam mengikuti KBM di sekolah. Meskipun setiap harinya mereka berkutat dengan materi agama. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Satlantas Blora Tantang Siswa SMK Berkendara Baik

Sejumlah siswa SMK Bhakti Husada Blora sedang mencoba praktik ketangkasan berkendara, Selasa (12/5/2015). (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Jajaran Satlantas Polres Blora terus melakukan kampanye tertin berlalu lintas. Kali ini yang menjadi sasaran adalah siswa sekolah yang memang banyak sekali melanggar lalu lintas. Yakni dengan melakukan sosialisasi sekaligus praktik berkendara yang baik, kepada siswa dan guru SMK Bhakti Husada Blora, Selasa (12/5/2015).

Lanjutkan membaca