Siswa Qudsiyyah Ditantang Menulis Biografi Ulama Indonesia

Workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016) di aula MA Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016) di aula MA Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya 40 siswa MA Qudsiyyah Kudus mengikuti workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016). Acara yang digelar di Aula sekolah tersebut mendidik siswa supaya bisa memahami para tokoh ulama yang ada di Indonesia.

Salah satu pembicara workshop Penulisan Biografi Ulama dari ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Kudus M Ihsan mengatakan, penulisan ini harus didasari dengan fakta dalam masyarakat pada diri ulama tersebut. ”Dan tidak hanya berupa profil atau biografi saja,” katanya.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu (30/1/2016) hingga Minggu (31/1/2016) mendorong siswa mencari literatur yang bisa dijadikan bahan. Sehingga hasil tulisan bisa dipelajari oleh pembaca. ”Untuk bahan penulisan itu, para santri Qudsiyyah ini akan mewawancarai atau menggali data dari guru senior tentang tokoh atau ulama tersebut,” ujarnya.

Dia menilai, guru senior di Qudsiyyah ini nantinya bercerita tentang tokoh atau ulama besar dan perannya, misalnya bercerita tentang H Sya’roni Ahmadi. Penulisan biografi ulama tersebut difokuskan terhadap ulama yang ada di Kudus. Supaya warga Kudus lebih mengenal ulama-ulama Kudus.

”Misalkan saja KHR Asnawi pendiri Qudsiyyah. Beliau merupakan tokoh ulama Kudus yang mewakili Indonesia untuk merubah aturan di Arab Saudi sekitar 1930an atau sejak NU berdiri,” tuturnya.

Ihsan melanjutkan, KHR Asnawi mewakili Indonesia untuk merubah aturan Arab Saudi, lantaran negara tersebut ditahun 1930 hanya memperbolehkan Wahabi untuk menunaikan haji. Sehingga untuk Ahlussunnah Wal Jamaah tidak diperkenankan untuk berhaji.

Selain KHR Asnawi yang memang fokus untuk ditulis, pendiri Qudsiyyah atau ulama Kudus lainnya yang harus ditulis di antaranya KH Ma’ruf Asnawi, KH Arwani, KH Ma’ruf Irsyad, KH Yahya Arif, KH Ah Muhyidin, KH Turaichan, KH Hasan Djalil, KH Ma’sum Rosyidi, guru Senior Qudsiiyah KH Sya’roni Ahmadi dan sebagainya.

”Dalam penulisan biografi ulama ini juga bisa dijadikan sebagai penangkal Gafatar. Karena ulama tersebut mempunyai ilmu jelas dan sepak terjang disaat masih hidup atau yang masih hidup. Baik dalam membuat kitab fiqih,” ungkapnya.
Dia menambahkan, meskipun acara ini baru digelar kali pertama. Diharapkan kedepannya bisa membuat produk baru berupa tulisan sejarah yang benar lewat santri Qudsiyyah. Yakni bisa membuat pemahaman terhadap masyarakat awam, supaya bisa mengikuti ilmu ulama. Serta tidak terjebak dalam radikalisme serta keanggotaan sesat.

Editor : Titis Ayu Winarni