Kepala Staf Kepresidenan Batal Kunjungi Rumah Padmi di Larangan Pati

Perwakilan Kantor Staf Kepresidenan RI mengunjungi rumah Padmi, aktivis penolak semen yang meninggal beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Staf Kepresidenan RI Teten Masduki batal mengunjungi rumah keluarga Padmi di Desa Larangan, Tambakromo, Pati. Sebelumnya, Teten dijadwalkan akan ikut berdoa dan mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Patmi pada Senin (28/3/2017) malam.

Abetnego Tarigan, perwakilan Kantor Staf Kepresidenan RI yang mewakili Teten mengatakan, Teten sudah berada di Semarang untuk bersiap menuju Pati. Namun, Teten mendadak membatalkan kunjungannya karena tidak enak badan.

“Bapak berencana akan mengunjungi rumah keluarga ibu Padmi di Larangan. Sebelum tiba di Pati, beliau sudah bersiap di Semarang. Namun, beliau mendadak tidak enak badan sehingga mengutus kami untuk mewakili,” kata Abetnego.

Sebelumnya, Teten juga merencanakan melayat ke rumah duka pada Rabu (22/3/2017) lalu. Namun, Teten membatalkan rencananya karena menemani Presiden Joko Widodo ke Sumatera Utara.

Abetnego sendiri menjabat sebagai tenaga ahli utama kedeputian bidang kajian dan pengelolaan isu-isu sosial, budaya dan ekologi strategis. Tak datang sendirian, dia berkunjung ke rumah keluarga Padmi bersama Alois Wisnuhardana, tenaga ahli utama kedeputian 4 Kantor Staf Kepresidenan RI.

Kunjungan kedua perwakilan Teten tersebut dikawal petugas dari Polres Pati, Polsek Tambakromo, Polsek Kayen, Polsek Sukoilo, Kodim 0718/Pati dan Koramil Tambakromo. Keduanya meninggalkan rumah duka sekitar pukul 23.00 WIB.

Seperti diberitakan sebelumnya, Padmi, aktivis penolak semen asal Desa Larangan meninggal dunia setelah mengikuti aksi cor kaki menggunakan semen di Jakarta. Padmi meninggal dunia, karena serangan penyakit jantung.

Editor : Kholistiono

Gunung Kendeng Masuk Kawasan Karst yang Tak Boleh Ditambang, Ini Jawaban PT Indocement

Petinggi PT Indocement tengah memberikan penjelasan terkait dengan pembangunan pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petinggi PT Indocement tengah memberikan penjelasan terkait dengan pembangunan pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Banyak pertanyaan yang muncul dari masyarakat ketika kawasan pegunungan Kendeng yang berada di Pati selatan dibangun pabrik semen. Salah satunya, pegunungan itu masuk wilayah karst yang berfungsi sebagai hutan lindung sehingga tidak boleh ditambang.

 

Pertanyaan tersebut mendapatkan tanggapan dari Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya. Ia mengakui bila kawasan pegunungan Kendeng memang masuk wilayah karst yang tidak boleh ditambang, tetapi tidak semuanya.

Baca juga : PT Indocement Klaim Pembangunan Pabrik Semen di Pati Tak Rusak Mata Air

Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

”Kekhawatiran itu sudah dijawab di dokumen Amdal. Mestinya kita mendapatkan bagian 8.000 hektare yang akan ditambang. Berhubung ada yang masuk wilayah karst, akhirnya kami mengambil bagian sekitar 2.600 hektare saja,” ujar Christian kepada MuriaNewsCom.

Dikatakan, PT Indocement sudah berkomitmen dan tidak mau menambang wilayah karst. ”Lingkungan tetap nomor satu. Kita bukan perusahaan yang cuma cari untung saja, tetapi juga memperhatikan lingkungan,” imbuhnya.

Di samping itu, perusahaan yang memproduksi semen merek Tiga Roda itu juga memiliki Electrostatic Precipitator (ESP) yang berfungsi menyedot debu akibat proses produksi semen. ”Kalau yang dikhawatirkan masyarakat selama ini juga muncul debu, kita punya teknologi untuk menyaring debu,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

PT Indocement Klaim Pembangunan Pabrik Semen di Pati Tak Rusak Mata Air

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya mengklaim bila pembangunan semen di Pati tidak akan merusak mata air yang selama ini dikhawatirkan warga penolak pabrik semen.

Baca juga : Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

Ia mengatakan, semua kekhawatiran warga terkait dengan hilangnya sumber mata air sudah diakomodasi dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang disusun selama tiga tahun.

”Kalau ada yang bilang pabrik Indocement itu menghabiskan mata air, coba saja datang ke pabrik semen di Citeureup. 40 tahun kita beroperasi di sana. Air tidak habis. Sawah masih ada dan masyarakat tambah maju. Reklamasi terus jalan,” ujar Christian saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Dalam operasinya, PT Indocement dikatakan menggunakan sistem dry process sehingga tidak membutuhkan air yang banyak. Air hanya digunakan untuk proses pendinginan (cooling). Itupun air yang digunakan bukan diambil dari alam setempat, tetapi dari embung yang dibuat PT Indocement.

”Dalam amdal, kita sudah rencanakan akan membangun enam embung dengan kapasitas 2 juta meter kubik air. Semua kekhawatiran masyarakat kita kelola dan mitigasi dalam dokumen amdal. Ini kan win-win,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, operasional pabrik semen tidak akan merusak sumber mata air. ”Penambangan yang dilakukan tidak akan merusak sumber mata air. Semua ada aturannya. Kita bukan pemain kemarin sore. Kita sudah 40 tahun. Lingkungan akan menjadi prioritas kami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Indocement Bakal Lanjutkan Pembangunan Pabrik Semen di Pati

Warga penolak semen memblokade pantura hingga enam jam 23 Juli 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga penolak semen memblokade pantura hingga enam jam 23 Juli 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk bakal melanjutkan rencana untuk membangun pabrik semen di Pati, meski izin lingkungan dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang pada 17 November 2015 lalu.

Hal itu ditempuh dengan menunjuk Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukum untuk mengajukan banding atas putusan PTUN Semarang ke Pengadilan Tinggi TUN Surabaya.

”Dari awal kami sudah komitmen dan serius melakukan pembangunan pabrik semen di Pati. Indocement sudah beroperasi di Indonesia selama 40 tahun. Pabrik kami ada di Citeureup Bogor, Palimanan Cirebon, dan Tarjun Kalimantan,” ujar Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya kepada MuriaNewsCom, Senin (1/2/2016).

Christian mengklaim bila persiapan Indocement untuk membangun pabrik semen di Pati sudah berlangsung selama sembilan tahun, dengan memperhitungkan secara matang. Mulai dari perhitungan lingkungan hingga perubahan kehidupan sosial-budaya di Pati bagian selatan.

Karena itu, upaya banding yang dilakukan ke PTTUN Surabaya menjadi satu-satunya cara bagi PT Indocement agar rencana pembangunan semen di Pati benar-benar terealisasi.

”Lagipula, lokasi tambang yang dipilih bisa dipastikan seluruhnya berada di luar kawasan bentang alam karst Sukolilo. Itu berdasarkan keputusan Menteri ESDM Nomor 2641 Tahun 2014 yang diterbitkan pada Mei 2014 lalu,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pabrik Semen di Pati Didukung NU? Netizen Geger

Sebuah maklumat yang mengatasnamakan warga Nahdliyin Pati beredar di media sosial. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sebuah maklumat yang mengatasnamakan warga Nahdliyin Pati beredar di media sosial. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sebuah surat propaganda yang berisi dukungan warga Nahdlatul Ulama (NU) Pati terhadap pendirian pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng menggegerkan netizen.

Dalam isi surat tersebut, pelaku yang mengaku dirinya sebagai warga Nahdliyin tersebut meminta warga untuk bersabar dan mendukung investasi di seluruh Kabupaten Pati.

Ia juga meminta untuk menghormati keputusan Bupati Pati yang melakukan upaya banding atas keputusan tersebut. Tak hanya itu, isi surat itu mengimbau untuk mendoakan upaya banding Bupati Pati agar PTUN memenangkan upaya banding Pemda dan mengesahkan AMDAL yang diterbitkan Bupati.

Mahameru, salah satu netizen asal Pati mengaku kaget dengan adanya selebaran itu. “Kabarnya, surat selebaran propaganda itu disebarkan ke masjid-masjid dan musala. Ada yang memotret dan disebarkan di media sosial,” tuturnya kepada MuriaNewsCom, Senin (7/12/2015).

Ia mengatakan, dalam poin ke-5 dalam selebaran tersebut, menyatakan agar warga Nahdliyin di Kabupaten Pati harus mendukung Bupati Pati terkait dengan upaya menjadi Pati sebagai wilayah investasi untuk eksploitasi dan pembangunan pabrik semen. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)