Mantap, Sedekah Laut Mampu Satukan Perbedaan

Sesaji dibawa ke tepi laut sebelum dilarung ke tengah laut pada acara sedekah laut Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sesaji dibawa ke tepi laut sebelum dilarung ke tengah laut pada acara sedekah laut Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Wilayah Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara merupakan satu kawasan yang memiliki masyarakat yang beragam.

Bahkan, ada beberapa keyakinan agama yang berbeda namun mereka mampu hidup berdampingan dan rukun.

Untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan tersebut, mereka setiap tahun menggelar acara sedekah laut. Petinggi Desa Bondo Purwanto menyampaikan, dengan adanya sedekah laut ini masyarakat desa yang terdiri dari banyak keyakinan agama dan profesi bisa tetap hidup guyub.

“Selain itu, sesuai dengan tujuannya, nelayan dan masyarakat desa bisa terus diberikan keberlimpahan sumber penghidupan dari laut,” kata Purwanto pada acara sedekah laut, Kamis (8/10/2015).

Menurutnya, sedekah laut ini tidak hanya ditujukan semata bagi rasa syukur serta doa agar nelayan tetap bisa hidup dari laut. Tapi juga untuk petani. Sebab warga Bondo sebagian juga hidup dari pertanian.

Hal itu dibuktikan dengan adanya gunungan yang tak hanya berisi hasil tangkapan laut, tapi juga hasil bumi seperti sayur-sayuran. Setelah didoakan, gunungan itu diperebutkan oleh warga sebelum larung sesaji dilakukan.

“Sementara sesaji yang dilarung berisi kepala kambing, aneka laut dan sejumlah jajanan. Sesaji dilarung ke tengah laut,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Nelayan Bondo Gelar Sedekah Laut Unik

Nelayan dan warga di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara, ketika menggelar sedekah laut dan larung sesaji. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Nelayan dan warga di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara, ketika menggelar sedekah laut dan larung sesaji. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Nelayan di kawasan Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara, bersama warga sekitar menggelar sedekah laut, pada Kamis (8/10/2015). Sedekah laut ini digelar setiap satu tahun sekali sebagai wujud rasa syukur warga yang memang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tersebut.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Jepara, Sudiyatno menyampaikan, sedekah laut digelar oleh para nelayan. “Kami sangat mengapresiasi pegelaran sedekah laut ini. Sebab, dengan sedekah laut ini sebagai wujud syukur pada nelayan,” katanya.

Menurutnya, tradisi lokal seperti ini sangat positif. Diharapkan bisa dilaksanakan oleh semua nelayan di Jepara. Sebab menjaga kerukunan warga. Pihaknya juga menyampaikan harapan agar tidaka da pengkotak-kotakan wilayah nelayan yang ada di Kabupaten Jepara agar tetap bersatu dan menjaga kerukunan.

Sedekah laut ini tidak hanya ditujukan semata bagi rasa syukur serta doa agar nelayan tetap bisa hidup dari laut. Tapi juga untuk petani. Sebab warga Bondo sebagian juga hidup dari pertanian. Hal itu dibuktikan dengan adanya gunungan yang tak hanya berisi hasil tangkapan laut, tapi juga hasil bumi seperti sayur-sayuran. Setelah didoakan, gunungan itu diperebutkan oleh warga sebelum larung sesaji dilakukan. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ribuan Warga Juwana Gelar Tradisi Sedekah Laut

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut Juwana, Minggu (26/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut Juwana, Minggu (26/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Ribuan warga dari berbagai desa di Kecamatan Juwana membanjiri kawasan alun-alun Juwana hingga tempat pelelangan ikan (TPI) Bajomulyo, Minggu (26/7/2015). Mereka melakukan larung sesaji yang dikenal dengan sedekah laut.

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut.

Sebelum dilarung, tokoh agama setempat berdoa terlebih dahulu. Mereka berdoa memohon berkah kepada Tuhan, sekaligus mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah diberikan kelancaran dalam mencari ikan.

Tradisi tersebut sudah berlangsung secara turun temurun dan menjadi kebiasaan masyarakat Juwana. Dalam perkembangannya, tradisi ini menyedot perhatian warga untuk menjadi tontonan dan hiburan yang menyenangkan.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, tradisi larung sesaji di laut Juwana sudah ada sejak 50 tahun yang lalu. Hal tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, karena diberikan rezeki melimpah melalui pekerjaan mencari ikan di laut.

”Larung menjadi harapan agar nelayan memperoleh rezeki yang lancar dalam mencari ikan. Selain itu, larung menjadi salah satu doa nelayan kepada Tuhan agar dihindarkan dari musibah,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Sedekah Laut Diharap Tarik Wisatawan ke Benteng Portugis

Sejumlah perahu nelayan melarung sesaji di perairan sekitar Pulau Mandalika, di Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Kamis (7/5/2015). (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Warga Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Jepara, menggelar ritual sedekah laut pada Kamis (7/5/2015). Ritual tersebut berlangsung meriah. Ratusan warga memadati area pesisir desa untuk menyaksikan ritual tahunan tersebut.

Lanjutkan membaca