Sedekah Bumi, Warga Tanjungrejo Pati Arak Jolen Berharap Harga Ketela Membaik

Warga Tanjungrejo, Margoyoso, Pati mengarak hasil bumi dalam peringatan sedekah bumi, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati menggelar sedekah bumi dengan mengarak hasil bumi, Sabtu (29/7/2017). Hasil bumi itu yang disebut dengan jolen.

Penduduk setempat yakin, jolen membawa berkah bagi pertanian. Karena itu, tak sedikit dari mereka yang berebut jolen seusai diarak keliling kampung.

Warga setempat, Budi Hantomo menuturkan, sedekah bumi di desanya menjadi wujud syukur kepada Tuhan dari hasil bumi yang menjadi mata pencaharian sehari-hari. Kendati hasil bumi tahun ini dianggap gagal, tetapi penduduk tetap mengadakan sedekah bumi.

“Warga sekitar banyak yang bekerja sebagai kuli mikul, kuli giling, mengupas ketela, beternak sapi hingga petani ketela. Komoditas ketela makin terpuruk. Kami berharap, sedekah bumi ini akan membawa perubahan yang lebih baik untuk komoditas ketela,” ucap Budi.

Menurutnya, orang Jawa masih bisa bersyukur atas segala berkah yang diberikan Tuhan. Kendati hasil bumi menurun karena harga ketela anjlok, mereka tetap merayakan sedekah bumi.

Padahal, ketela disebut sebagai komoditas terbesar di desanya. Bahkan, hamparan tanah milik penduduk bukanlah sawah, tetapi perkebunan ketela. Hal itu yang membuat warga cukup prihatian dan berharap “jolen” bisa membuat harga ketela membaik.

“Jolen itu berisi hasil bumi penduduk yang sudah didoakan tetua desa. Kami yakin jolen bisa membawa berkah. Semoga komoditas ketela kembali membaik agar petani tidak merugi,” harapnya.

Selain arak-arakan, warga juga memperingati sedekah bumi dengan karnaval dan pagelaran wayang. Tradisi itu diperingati setiap setahun sekali pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.

Editor : Kholistiono

Meriahnya Sedekah Bumi dan Perang Obor Jepara

Meriahnya Sedekah Bumi (e)

Warga menikmati perang obor yang digelar di Jepara.

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sukun Executive mensupport tradisi tahunan sedekah bumi dan perang obor yang digelar oleh warga Tegalsambi, Jepara pada Senin (2/5/2016).

Ribuan warga Jepara berkumpul untuk menonton tradisi tersebut. Seusai dibuka dengan doa, obor yang terbuat dari pelepah kelapa dan pisang kering disulut api oleh Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi dan Wakil Bupati Jepara, Subroto.

Perang obor pun dimulai. Para peserta yang berjumlah 34 orang dan merupakan perwakilan dari masing-masing RT di desa Tegal Sambi masing-masing sudah memegang obor mereka, mengambil kuda-kuda untuk siap menyerang lawannya.

Seketika para peserta saling serang, dalam perang obor tidak mengenal istilah kawan atau lawan, karena peserta bisa menyerang peserta manapun. Panitia menyediakan sekitar 300 obor yang akan digunakan peserta. Perang obor yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung sekitar satu jam atau setelah semua pelepah kelapa habis terbakar.

Untuk mengobati peserta maupun penonton yang mengalami luka bakar, panitia telah menyediakan obat berupa ramuan dedaunan yang telah diberi minyak kelapa.

Editor : Akrom Hazami

 

Sukses Wujudkan Program Petani Merdeka, Laskar Aryo Jipang Bakal Gelar Tasyakuran

iklan snatif umk

 

BLORA – Sukses mewujudkan program 1.500 Petani Merdeka, Laskar Aryo Jipang menggelar tasyakuran bertajuk  “Syukuran Rakyat Petani Merdeka, Marem Siji Marem Kabeh”. Acara yang akan diselenggarakan atas kerjasama dengan Sukun Premiere ini, bakal berlangsung pada 21-24 September 2015.

”Acara ini sebenaranya untuk tasyakuran atas terwujudnya program 1.500 petani merdeka. Termasuk terealisasinya penyertifikatan masal secara swadaya tahun 2014 dan 2015 yang diambil dari hasil panen,” kata Ketua paguyuban  Laskar Aryo Jipang Jundi Wasono Hadi, Sabtu (19/9/2015)

Ia menyebutkan, program tersebut sudah dimulai pada awal tahun 2012 melalui paguyuban Laskar Aryo Jipang. Selain itu, para pengurus juga melakukan legalisasi asset dan intensifikasi akses produksi hingga pemasaran hasil panen dari para anggota.

”Untuk hal ini kami melibatkan berbagai unsur. Di antaranya Pemerintah Kecamatan di tiga kecamatan. Yakni Cepu, Sambong, dan Kedungtuban. Selain itu kami juga menjalin kerjasama dengan Kantor Kementrian Agraria dan tata ruang (BPN) Blora dan lembaga perbankkan lainnya,” ungkapnya.

Selain itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memberi perhatian bagi para petani. Sebab sebagian besar penduduk wilayah kabupaten Blora adalah bertani. Untuk itu sudah selayaknya jika para petani juga memiliki hak-hak yang sama dan perhatian khusus dari pada pemerintah.

”Sejauh ini para petani belum mendapat perhatian khusus. Oleh karena itu untuk bisa mendapatkan hak yang sama dalam berusaha setidaknya ada terobosan baru agar para petani bisa semakin sejahtera serta bisa mengembangkan usahanya dalam bidang pertanian” terangnya.  (PRIYO/KHOLISTIONO)

Pasar Murah Dinilai Memberikan Kontribusi Positif Terhadap Warga

 Suasana pasar murah di Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana pasar murah di Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Keberadaan pasar murah yang digagas Pemuda Karang Taruna Budi Utomo Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus, pada acara sedekah bumi di desa setempat, dinilai mampu memberikan kontribusi positif terhadap warga.

Ketua Karang Taruna Budi Utomo Muh Nurul Mufid mengatakan, dengan adanya pasar murah ini, warga bisa mendapatkan sembako dengan harga yang lebih murah dibanding di pasaran. Sehingga, hal itu dapat sedikit meringankan beban warga.

”Kegiatan ini tak lepas dari peran pemerintah desa yang memberikan support terhadap kami untuk mengadakan pasar murah. Tujuannya tak lain, agar kegiatan ini bermanfaat dan warga juga terbantu,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa terkait hal ini. Ke depan, kegiatan seperti ini, diharapkan tetap dipertahankan atau bahkan dengan kegiatan yang lebih besar lagi yang bisa bermanfaat bagi warga. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ada Sembako Murah pada Acara Sedekah Bumi Desa Sambung

Suasana pasar murah di acara sedekah bumi Desa Sambung, Kecamatan Undaan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana pasar murah di acara sedekah bumi Desa Sambung, Kecamatan Undaan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Ada yang berbeda pada acara sedekah bumi di Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus. Jika biasanya sedekah bumi diisi dengan pawai budaya atau ritual khas desa setempat, kini di Desa Sambung dibuat lebih kreatif lagi, dengan mengadakan pasar murah.

Kegiatan yang digagas Karang Taruna Budi Utomo ini, bertujuan agar warga bisa mendapatkan sembako murah. Sehingga acara sedekah bumi di tempat tersebut bisa lebih membawa manfaat terhadap warganya.

Husnul Wafa, salah satu perangkat Desa Sambung mengatakan, selain menggelar kesenian tradisional, pihak pemdes sengaja menggandeng pemua untuk ikut berperan dalam kegiatan tahunan ini, salah satunya melalui pasar murah.

”Setidaknya dengan adanya pasar murahini, bisa meringankan beban bagi warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena, dengan harga sembako yang saat ini cukup mahal, tentunya pasar murah ini bisa membantu warga,” katanya.

Pada pasar murah ini, katanya, warga bisa mendapatkan harga di bawah pasaran. Seperti halnya, gula pasir, jika di pasaran dijual dengan harga Rp 11.500/kg, di pasar murah harganya Rp 10 ribu/kg. Kemudian, telur Rp 20 ribu/kg, dan minyak goreng Rp 10.500/kg.

Selain sembako, katanya, beberapa produk UMKM juga dijual di tempat tersebut. Di antaranya, keripik, roti dan juga ada baju hasil produksi warga setempat. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Sedekah Bumi Pererat Kebersamaan Warga Lebak

Pemerintah Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji, Jepara, menggelar sedekah bumi dengan melakukan pawai atau arak-arakan tumpeng dan hasil bumi mereka, dari kantor Kecamatan Pakisaji hingga balai Desa Lebak. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemerintah Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji, Jepara, menggelar sedekah bumi dengan melakukan pawai atau arak-arakan tumpeng dan hasil bumi mereka, dari kantor Kecamatan Pakisaji hingga balai Desa Lebak. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pemerintah Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji, Jepara, menggelar agenda sedekah bumi dengan melakukan pawai atau arak-arakan tumpeng dan hasil bumi mereka, dari kantor Kecamatan Pakisaji hingga balai Desa Lebak. Tujuan utama dari agenda tersebut selain menjadi salah satu wujud syukur kepada Tuhan, juga sebagai upaya mempererat kebersamaan warga setempat.

Hal itu disampaikan Petinggi Desa Lebak, M Shodiq. Menurutnya, selama ini nilai kebersamaan sudah menjadi barang langka bagi sebagian daerah. Namun, di Desa Lebak, nilai kebersamaan selalu dipupuk agar terus bertahan. Salah satunya dengan berbagai acara seperti yang saat ini dilakukan.

”Dengan acara seperti ini, semua warga dapat lebih guyub, dan rukun. Tak hanya pesertanya saja, tapi juga semua warga yang turut hadir memeriahkannya,” kata Shodiq kepada MuriaNewsCom, Selasa (25/8/2015).

Menurut dia, kebersamaan dalam agenda ini diharapkan akan selalu terpupuk di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini penting, agar kehidupan bermasyarakat dapat lebih aman dan damai.
”Kalau masyarakatnya guyub dan rukun. Tentu saja keadaan selalu kondusif. Ini yang kami harapkan melalui sedekah bumi dan arak-arakan ini,” tandasnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Hasil Panen Melimpah, Warga Lebak Gelar Sedekah Bumi

Masyarakat Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji menggelar sedekah bumi dan mengarak puluhan tumpeng serta sebagian hasil bumi mereka sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Masyarakat Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji menggelar sedekah bumi dan mengarak puluhan tumpeng serta sebagian hasil bumi mereka sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Hasil panen yang dihasilkan oleh petani dan warga Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji, cukup melimpah. Untuk mensyukuri keberkahan dari hasil itu, warga masyarakat Desa setempat menggelar sekedah bumi dan mengarak puluhan tumpeng serta sebagian hasil bumi mereka seperti kacang-kacangan, padi, pisang, dan sebagainya.

Petinggi Desa Lebak, M Shodiq mengatakan, selama ini hasil panen dan hasil bumi lainnya dianggap mampu memberikan sumber kehidupan bagi warga. Untuk itu, pihaknya menggelar agenda sedekah bumi ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa agar ke depannya dapat semakin melimpah.

”Ini sebagai wujud syukur kita, warga Desa Lebak yang telah diberikan banyak rezeki dari hasil bumi oleh Allah SWT,” kata Shodiq kepada MuriaNewsCom, Selasa (25/8/2015).

Menurutnya, agenda pertama dibuka di kantor Kecamatan Pakisaji. Kemudian mengarak tumpeng dan berbagai jenis hasil bumi menuju balai desa Lebak, yang berjarak sekitar dua kilometer. Selanjutnya, di balai desa Lebak, warga yang ikut arak-arakan tersebut berkumpul dan melakukan doa bersama.

”Ada ratusan warga yang ikut. Kalau dirinci ada sekitar 38 RT, dan untuk setiap RT ada satu kelompok yang membuat tumpeng dan hasil bumi mereka untuk diikutkan dalam arak-arakan,” terangnya.
Dia menambahkan, setelah melakukan arak-arakan sampai sore hari. Nanti malam digelar pertunjukan wayang. Menurut Dia, dengan menggelar pementasan wayang tersebut, diharapkan warga Desa Lebak tetap selalu rukun dan guyub. (WAHYU KZ/TITIS W)

Berebut “Keplek” Jadi Tradisi Tahunan Warga Kampung Kaborongan

Ratusan Warga Kampung Kaborongan tengah berebut keplek yang akan digunakan untuk mengambil berkat yang sudah didoakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan Warga Kampung Kaborongan tengah berebut keplek yang akan digunakan untuk mengambil berkat yang sudah didoakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Setiap setahun sekali, tepatnya bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagian besar warga di Kabupaten Pati menggelar sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan melalui alam yang telah menghidupi. Masing-masing daerah punya cara dan tradisi yang berbeda serta unik.

Di Kampung Kaborongan RT 10 RW 1, Kelurahan Pati Lor, misalnya. Berebut “Keplek” menjadi ajang tahunan yang diadakan di Kompleks Makam Brimbing Keris Penjawi.

Bagi warga Kaborongan, keplek adalah kartu berisi nomor yang akan digunakan untuk mengambil berkat atau makanan yang sudah didoakan di Makam Brimbing Keris Penjawi. Hal tersebut diharapkan agar warga setempat bisa mengambil berkat dengan teratur.

Kendati demikian, berebut keplek menjadi satu ajang yang merekatkan antara satu warga dengan warga yang lainnya. “Tradisi ini bisa merekatkan dan membaurkan warga. Kerukunan dan kebersamaan tercipta dari adat seperti ini,” kata Lurah Pati Lor Adi Rusmanto kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia berharap agar warga Pati bisa melestarikan tradisi sedekah bumi yang memiliki dampak positif bagi warga. “Tradisi sedekah bumi itu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Warga Kaborongan Pati Rayakan Sedekah Bumi di Makam Penjawi

Ratusan warga Kampung Kaborongan mengantri untuk mendapatkan berkat, usai berdoa bersama di Kompleks Makam Brimbing Keris Penjawi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan warga Kampung Kaborongan mengantri untuk mendapatkan berkat, usai berdoa bersama di Kompleks Makam Brimbing Keris Penjawi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Warga Kampung Kaborongan RT 10 RW 1, Kelurahan Pati Lor merayakan sedekah bumi di Makam Penjawi, Minggu (23/8/2015) sore. Mereka bersyukur atas rahmat dan rezeki kepada yang diberikan Tuhan, dengan menghormati leluhur yang dianggap sebagai tokoh sentral di Kabupaten Pati.

“Mbah Penjawi itu salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Kabupaten Pati. Beliau adalah ayah dari Mbah Wasis Joyokusumo yang dikenal sebagai adipati digdaya, perkasa, dan mencintai rakyatnya yang hidup sekitar tahun 1550 an,” ujar Sutrisno, wakil juru kunci setempat kepada MuriaNewsCom.

Warga setempat juga menamai makam keramat tersebut sebagai Brimbing Keris. Awalnya, ada pohon belimbing keris yang dianggap keramat warga sekitar. Setelah melalui tirakat oleh orang pintar, akhirnya tempat tersebut diyakini sebagai makam Ki Ageng Penjawi.

Sementara itu, Lurah Pati Lor Adi Rusmanto mengatakan, sedekah bumi di Kampung Kaborongan sudah menjadi adat dan tradisi warga setempat setiap tahunnya. “Ini perlu dilestarikan sebagai tradisi warga Pati untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan menghormati leluhur,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sedekah Bumi, Warga Randukuning Gelar Doa Bersama di Petilasan Sunan Muria

Ketua RT setempat Didik Suwignyo bersama Ketua Perhelatan Sedekah Bumi Desa Randukuning Permadi menunjukkan pohon kleco yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Muria. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua RT setempat Didik Suwignyo bersama Ketua Perhelatan Sedekah Bumi Desa Randukuning Permadi menunjukkan pohon kleco yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Muria. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Desa Randukuning, Kecamatan Pati, Pati, memiliki keunikan kultur dan budaya tersendiri. Dalam satu desa saja, masing-masing RT menggelar agenda sedekah bumi yang berbeda-beda.

Jika warga RT 5 RW 3 menggelar sedekah bumi di Makam Mbah Troyudo, warga RT 9 RW 3 mengadakan sedekah bumi di Pohon Kleco yang diyakini sebagai petilasan Sunan Muria.

Mereka membawa makanan dalam kardus yang kemudian didoakan tokoh agama di sekitar Pohon Kleco. Makanan yang telah didoakan, lantas diberikan kepada warga setempat.

“Dalam sebuah perjalanan, Sunan Muria salat di tempat ini yang kemudian ditumbuhi pohon kleco. Karena itu, sedekah bumi bagi warga RT setempat diadakan di tempat tersebut,” kata Permadi, Ketua Perhelatan Sedekah Bumi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (22/8/2015).

Ia menambahkan, sedekah bumi tidak bertentangan dengan ajaran agama. Sedekah bumi menjadi salah satu cara bagi warga untuk bersyukur kepada Tuhan, sekaligus melestarikan kebudayaan nenek moyang Nusantara. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Warga Randukuning Gelar Sedekah Bumi di Makam Mbah Troyudo

Ratusan warga berebut berkat usai didoakan di Kompleks Makam Mbah Troyudo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan warga berebut berkat usai didoakan di Kompleks Makam Mbah Troyudo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan warga Desa Randukuning RT 5 RW 3, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Kota Pati menggelar sedekah bumi dengan hajatan di kompleks makam Mbah Troyudo, Sabtu (22/8/2015).

Mereka mengumpulkan makanan yang lazim disebut “berkat” atau “ambengan”, lantas didoakan di Makam Mbah Troyudo yang diyakini warga sebagai leluhur. Dengan berdoa bersama, mereka berharap agar bumi memberikan kehidupan.

“Sedekah bumi menjadi tradisi yang hidup di masyarakat Pati, termasuk warga Randukuning. Selain bentuk rasa syukur kepada Tuhan, ini menjadi bagian dari upaya untuk nguri-uri budaya Jawa,” kata Lurah Pati Lor Adi Rusmanto.

Usai berdoa, mereka rebutan berkat untuk dibawa pulang. Semua warga hadir untuk sedekah bumi, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, hingga anak-anak. Raut riang mewarnai kegembiraan warga. (LISMANTO/KHOLISTIONO)