Santri Qudsiyyah juga Harus Bercita-Cita Tinggi

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa aktif maupun lulusan dari Madrasah Qudsiyyah memang tidak dipaksa untuk menjadi ustaz, kiai atau ulama oleh gurunya. Namun pesan dari pendidiknya ialah supaya para siswa atau lulusan tersebut dapat selalu mengedepankan ajaran agama saat meraih cita cita di manapun berada.

Seperti halnya siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14) ini. Sebab dirinya mengatakan bahwa santri atau lulusan dari Qudsiyyah itu boleh di mana-mana, namun jangan kemana-mana.

“Arti dari boleh di mana mana asal jangan kemana-mana ialah, para santri dan lulusan ini boleh menjadi apapun, boleh meraih cita cita apapun yang penting halal. Namun jangan sampai larut dalam kegiatan atau tindakan negatif. Selain itu, untuk menangkal tindakan itu, jiwa santri harus selalu mengedepankan ajaran Islam, apapun pekerjaanya,” ujarnya.

Sementara itu, di hari jadi Qudsiyyah yang ke-100 tahun ini, siswa yang berasal dari Pedurungan Tengah RT 1 RW 2 Pedurungan, Semarang ini berharap kepada siswa lain supaya bisa mengedepankan jiwa santrinya.

“Bila jiwa santri yang identik dngan kesederhanaan selalu dikedepankan, maka tindakan korupsi, tindakan mencuri di  saat sudah menjadi orang besar akan bisa terhindar,” ungkapnya.

Selain itu, siswa yang selalu mendapatkan ranking 5 besar di kelasnya ini juga berkeinginan untuk bisa selalu mengembangkan ajaran gurunya di saat pulang ke Semarang.

“Yang penting jadi orang itu tidak harus muluk-muluk untuk meraih cita-cita. Akan tetapi bagaimana yang paling inti ialah bisa mengamalkan ajaran guru, ulama yang sudah kita dapat. Sementara itu, bila sudah bermanfaat di lingkungan masyarakat, maka hidup akan nyaman, tenang dan barokah,” imbuhnya.

Dengan adanya prinsip hidup santri Qudsiyyah boleh di mana-mana, asal jangan kemana-mana itulah, siswa yang sekarang mondok di Ma’had Qudsiyyah ini menjalani dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik setelah lulus nanti.

Editor : Akrom Hazami

 

Satu Abad Qudsiyyah juga Akan Seminar Mengungkap Keistimewaan Sapi di Kudus

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sekretaris 100 Tahun Qudsiyyah Kudus Abdul Jalil mengatakan, panitia akan membedah pengetahuan mengapa warga Kudus harus menghormati sapi. Maka nantinya dalam acara Satu Abad Qudsiyyah akan diadakan seminar internasional “Pesan Damai Menara Kudus untuk Dunia”.

Dalam seminar tersebut tentunya akan membedah tentang larangan penyembelihan sapi di Kudus. Karena jelas, hal itu mempunyai alasan khusus.Seminar itu juga akan membedah soal bangunan menara tersebut. Yang diketahui mewakili tiga agama sekaligus. Yakni bangunannya yang mirip pura, tempat ibadah umat Hindu, sedangkan bawahnya mirip candi sebagai persembahyangan umat Budha, serta atasnya berupa atap mirip mustaka masjid.

Rencananya, seminar digelar pada 31 Juli 2016 di Hotel Griptha Kudus. “Dengan pendidikan yang mendalam, maka perintah atau ajaran Sunan Kudus yang diberikan oleh warga bisa diketahui,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

Seabad Qudsiyyah, Pemuda Akan Diajak Berselawat

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Zaman modern seperti saat ini, pemuda banyak yang katut kebudayaan asing. Baik melalui lagu, pakaian, bahkan yang lainnya. Akibatnya, kebudayaan lokal kian terpinggirkan.

Oleh karenanya, dalam 100 tahun Qudsiyyah Kudus, nantinya bakal digelar acara seminar Arudl (menggali Khazanah Selawat). Supaya, kebudayaan yang dinilai Islami ini terus terjaga di jiwa pemuda.

Sekretaris 100 Tahun Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, selawat merupakan seni yang menanamkan jiwa agamis. Di dalam selawat, terkandung suri taudan yang patut, yakni Nabi Muhammad SAW.

“Setidaknya bila ada seminar Arudl yang digelar 23 Mei 2016 mendatang di Auditorium UMK tersebut, dapat memberikan semangat baru untuk pemuda. Supaya mereka bisa ikut serta mencintai seni Islam tersebut,” ujarnya.

Salah satu santri Qudsiyyah Kudus, Arif (15) mengatakan, santri Qudsiyyah itu harus bisa berselawat. Sebab pendiri Qudsiyyah, KH R Asnawi juga pencipta selawat. “Harusnya pemuda sekarang juga bisa berselawat,” ucapnya.

Harapannya, kegiatan Arudl bisa membangkitkan jiwa pemuda selalu berselawat.

Editor : Akrom Hazami

Seabad Qudsiyyah, Alumni Dituntut Teladani Kiai

uplod jam 18

Pembicara saat kegiatan ceramah dalam peringatan Seabad Qudsiyyah, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Alumni dan santri Qudsiyyah Kudus diminta untuk meneruskan perjuangan para kiai, serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang dijunjung para pendahulu dalam kehidupan sehari-hari. Demikian salah satu poin saat ceramah yang disampaikan salah seorang ulama, KH Fathur Rahman, dalam pengajian umum Meneladani Dakwah KH R Asnawi atau Mbah Asnawi, yang digelar di Masjid Baiturrohim, Dukuh Tumang Wetan, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Minggu (17/4/2016) malam.

Dalam even yang digelar dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah tersebut, Fathur berpesan kepada sekitar dua ribu pengunjung pengajian, perjuangan dan dakwah pendiri Qudsiyyah, KH R Asnawi harus diteruskan dan dilanjutkan oleh alumni dan santri di era sekarang. “Kasih sayang mbah Asnawi kepada masyarakat dibuktikan dengan pendirian madrasah untuk mendidik dan mencetak generasi Islami dan anti penjajah,” katanya.

Mbah Asnawi, lanjut dia, tidak hanya sosok ulama yang kharismatik, ia merupakan kiai dengan jiwa seni yang cukup tinggi. Buktinya ialah lirik-lirik lagu selawat banyak tercipta. “Salah satu karya yang sampai sekarang masih terus ada adalah selawat Asnawiyah,” tambah Fathur.

Melalui lirik lagu dalam seolawat ini, mbah Asnawi menekankan kecintaan terhadap negeri. Melalui teks lagunya Indonesia Raya Aman adalah doa yang dipanjatkan untuk keamanan dan ketenteraman negeri ini.

Selain itu, Fathur menyatakan kebanggannya terhadap warga Kaliwungu yang merupakan pusat alumni Qudsiyyah terbesar. Hal inilah yang menjadi salah satu kenapa dakwah pengajian umum ini pertama kali dilaksanakan di Kecamatan Kaliwungu.

Fathur melanjutkan, Qudsiyyah istiqomah dalam mengajarkan pelajaran salafiyah yang berisi metari-materi dasar dalam beragama. Beliau mencontohkan ilmu aqidah yang biasa disebut Tauhid diajarkan sejak dini di Qudsiyyah.

Editor : Akrom Hazami

Semangat Madrasah Qudsiyyah Kudus yang Terus Membara

uplod jam 20 00 qudsiyyah 2 (e)

M Yusrul Hana Sya’roni saat ceramah dalam kegiatan Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penceramah lain dalam kegiatan peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah, M Yusrul Hana Sya’roni yang merupakan KH Sya’roni Ahmadi menceritakan perjuangan Madrasah Qudsiyyah termasuk panjang. Apalagi sampai di usia 100 tahun. Berdasarkan keterangan dari KH Yahya Arif, almarhum, Qudsiyyah berdiri pada 1337 H atau 1919.

“Qudsiyyah tetap berjalan ketika malam dalam bentuk ngaji Alquran di Masjid Menara. Qudsiyyah bangkit kembali tahun 1950. Yang dimotori oleh ustaz Noor Badri Syahid. Bahkan pada 1953, berdiri SMPI Qudsiyyah yang merupakan asal-usul MTs Qudsiyyah. Sejak saat itu Qudsiyyah terus berkembang dengan mendirikan tingkat Aliyah dan Ma’had Qudsiyyah. Eksistensi Qudsiyyah tak lepas dari peran para masyayikh dan dermawan yang senantiasa berjuang bersama,” katanya.

Sementara itu, perwakilan dari Kecamatan Kaliwungu Ali Rif’an, juga mengatakan keunikan dan ciri khas dari Madrasah Qudsiyyah pada zaman dahulu. Ia bercerita nostalgia masa mencari ilmu di madrasah itu. “Kami mendapatkan banyak pelajaran yang sampai sekarang sangat bermanfaat,” kata Ali.

Dalam pengajian tersebut, diawali dengan pembacaan maulid Nabi oleh Jamiah Al Mubarok Qudsiyyah bersama dengan grup rebana se-Kecamatan Kaliwungu. Kegiatan dakwah Meneladani KH R Asnawi’ nantinya akan dilaksanakan di lebih dari sepuluh lokasi. Selain di sembilan kecamatan di Kudus juga bakal dilaksanakan di Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak.

Editor : Akrom Hazami

Pak Ganjar, Santri Qudsiyyah Bakal Mencatat Pelajaran Anda

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kehadiran Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dalam acara Satu Abad Qudsiyyah pada Agustus mendatang, benar-benar dinanti para siswa.

Bahkan meski acara itu masih lama, namun santri atau siswa Qudsiyyah sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan Ganjar. Mereka bahkan sudah menyiapkan berbagai bahan untuk bisa menanyakan berbagai hal kepada orang nomor satu di Jateng itu.

”Kita akan mencatat pelajaran Pak Ganjar yang diberikan kepada kita. Sebab acara Ganjar Mengajar itu pastinya tentang pengetahuan umum, cara sukses, atau juga cara untuk menjadi pemimpin. Sehingga kita akan mencatat itu,” kata Anam (15), salah satu santri Qudsiyyah Kudus, Jumat (15/4/2016).

Selain itu, dalam cacatan itu juga akan selalu dipelajari. Supaya ke depannya bisa mengikuti jejak gubernur Jawa Tengah tersebut. Anam mengatakan, dengan pelajaran yang diberikan Ganjar, maka siswa bisa mengikuti jejaknya.

”Yakni bisa jadi politisi yang baik dan pemimpin yang baik. Sebab lulusan Qudsiyyah juga ada yang sukses. Seperti halnya Nusron Wahid. Yang dahulunya pernah jadi politisi dan sekaarang menjadi BNPTKI,” ujarnya.

Dia menilai, pendidikan Ganjar Mengajar itu akan bisa bersifat global dan menyeluruh. Sehingga para santri bisa memanfaatkan kegiatan ini. Sebab kegiatan ini akan bisa mendongkrak mutu kualitas santri.

”Intinya ialah bagaimana kita bisa menyerap ilmunya yang diajarkan oleh Ganjar nanti. Dan bisa mempraktikkan, bahkan bisa meneruskan jejaknya,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kenalkan, Ada ”Guru” Qudsiyyah Baru Bernama Ganjar Pranowo

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal datang ke Madrasah Qudsiyyah, pada Agustus mendatang. Kedatangannya dalam rangka peringatan Satu Abad Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal datang ke Madrasah Qudsiyyah, pada Agustus mendatang. Kedatangannya dalam rangka peringatan Satu Abad Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri yang ada di Madrasah Qudsiyyah Kudus rupanya tidak sabar untuk menantikan ”guru” baru yang akan mengajar mereka.

Sosok ”guru” itu memang bukan orang biasa. Dia adalah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. Ya, sosok nomor satu di Jateng ini bakal mengisi salah satu agenda peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah.

Ganjar akan mengisi acara tersebut, dengan tajuk ”Ganjar Mengajar”. Acaranya memang masih lama, yakni pada Rabu (27/9/2016) mendatang. Namun, banyak siswa atau santri yang tidak sabar untuk diajar Ganjar.

Salah satu santri Qudsiyyah bernama Anam (15), mengatakan jika dirinya memang sudah tak sabar untuk menunggu acara tersebut. ”Saya ingin mendengar banyak apa yang ingin disampaikan Pak Ganjar kepada kami nanti. Jadi, saya bisa belajar banyak dari beliaunya,” jelasnya, Jumat (15/4/2016).

Dia menilai, kegiatan ”Ganjar Mengajar” ini juga sekaligus untuk memperkenalkan madrasah ini kepada pemerintah. Khususnya di tingkatan Provinsi Jawa Tengah.

”Bahwa di Kudus ini masih berdiri tegak sekolahan yang mengajarkan soal salaf. Dari dulu sampai sekarang. Dalam hal ini ialah sistem pembelajarannya. Sehingga kami juga akan bangga dengan madrasah kami,” tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, tentunya dapat membangkitkan stamina belajar santri. Sebab saat kegiatan itu berjalan, pastinya akan akan berbagi sebuah ilmu pengetahuan yang bisa mendongkrak semangat santri.

”Secara otomatis, Pak Ganjar akan memberikan cara atau trik menjadi orang sukses. Oleh sebab itu, rata-rata santri ini sudah tak sabar lagi untuk menunggu momen ”Ganjar Mengajar” di Qudsiyyah ini,” ujarnya.

Dia menembakan, dirinya meyakini bahwa rata-rata santri nantinya akan memberikan banyak pertanyan yang beragam kepada Ganjar. ”Selain itu, santri juga bakal minta foto bersama Pak Ganjar. Pasti senang sekali,” imbuhnya.

Editor: Merie

Karena Seni, Alumni dan Santri Qudsiyyah Bisa Akur

Para alumni dan santri Madrasah Qudsiyyah yang tergabung dalam Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Kudus, selalu akur salah satunya karena musik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para alumni dan santri Madrasah Qudsiyyah yang tergabung dalam Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Kudus, selalu akur salah satunya karena musik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada banyak cerita yang hadir dari Madrasah Qudsiyyah, yang usianya sudah seratus tahun atau satu abad. Salah satunya antara alumni dan para santri di sana.

Alumni Qudsiyyah Kudus Gus Apank mengutarakan, alumni dan santri Qudsiyyah bisa akur salah satunya lantaran musik. Sebab para alumni yang sering datang ke Qudsiyyah masih aktif mengikuti kegiatan rebana.

”Anggota grup rebana Al Mubarok sendiri ada sekitar 50 orang. Itupun terdiri dari santri aktif dan alumni Qudsiyyah,” kata Apank.

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Sementara saat latihan, para santri aktif juga sering menghubungi alumni untuk ikut serta berkegiatan. Sehingga dalam latihan tersebut, bisa menciptakan kekompakan antara santri dan alumni.

”Kekompakan itu tidak hanya ditunjukkan dalam berseni musik rebana saja. Melainkan hal yang lain. Seperti halnya even sepeda santai 100 tahun Qudsiyyah, acara khataman 100 ingkung (ayam), dan lainnya,” ujarnya.

Dia menilai, kekompakan dan keakraban inilah yang bisa menciptakan hari jadi Qudsiyyah yang ke 100 tahun, bisa dijalankan bersama-sama hingga puncak acara nanti.

Gus Apank mengatakan, dengan adanya kekompakan, maka kegiatan yang selalu digelar Madrasah Qudsiyyah ini bisa dijalankan dengan lancar.

”Ya, kami harap kekompakan ini bisa selalu terjaga. Sehingga acara 100 tahun Qudsiyyah bakal terlaksana lancar dan bermanfaat,” imbuhnya.

Editor: Merie

Alumni dan Santri Qudsiyyah Genjot Latihan Nabuh ”Jidur”

Santri Madrasah Qudsiyyah berlatih rebana untuk pementasan pada acara puncak satu abad madrasah tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Santri Madrasah Qudsiyyah berlatih rebana untuk pementasan pada acara puncak satu abad madrasah tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski peringatan Hari Jadi Qudsiyyah yang ke 100 tahun sudah dimulai beberapa pekan yang lalu, namun persiapan untuk mematangkan puncak acara nanti, juga selalu dilakukan.

Seperti halnya grup musik rebana Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus ini. Grup rebana yang digawangi santri Qudsiyyah beserta alumni tersebut, selalu menggelar latihan secara rutin.

Salah satu alumni sekaligus pentolan Al Mubarok Gus Apank mengutarakan, latihan ini selalu digelar seusai sekolah.”Namun untuk latihannya bukan hanya sekadar dari santri aktif saja, melainkan juga ada alumni yang ikut serta latihan ini,” paparnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (14/4/2016).

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Latihan tersebut diikuti beberapa alumni Qudsiyyah serta santri aktif di Sekretarian Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus, Gang Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus. Sehingga saat istirahat latihan, mereka bisa saling mencontohkan satu sama lain.

Gus Apank mengatakan, latihan ini dilakukan untuk mengompakkan satu sama lain. Baik itu not, irama lagu, vokal, dan lainnya. ”Terlebih kita ini melatih lagu baru dari kedua album yang terahir ini. Sebab kedua album yang berjudul Isy Ghotti dan Khudz Badala ini, total sebanyak 15 lagu. Dan akan ditampilkan sebelum puncak acara 100 tahun Qudsiyyah pada tanggal 5 Agustus 2016 mendatang,” ujarnya.

Dia menambahkan, nantinya saat pada puncak acara tersebut, diharapkan penampilan Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus yang akan diisi alumni dan para santri ini, bisa lebih baik dan lancar.

Editor: Merie

Sholawat Asnawiyah Bakal Menggema di Seluruh Nusantara

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Shalawat Asnawiyah yang diciptakan KHR Asnawi saat masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, merupakan bentuk dari kecintaannya terhadap bangsa Negara Indonesia.

Oleh sebab itu, Shalawat Asnawiyah tersebut juga sering disebut dengan julukan ”sholawat nasionalis”. Sehingga dalam rangka peringatan satu abad atau seratus tahun Madrasah Qudsiyyah, shalawat ini akan berkumandang ke seluruh Nusantara.

Sekretaris panitia Satu Abad Qudsiyyah Kudus Abdul Jalil mengatakan, shalawat yang diciptakan KHR Asnawi tersebut, merupakan bentuk kecintaan terhadap NKRI.

Inilah lirik dari shalawat tersebut, yang juga bisa Anda senandungkan. Yakni Ya Robbisholli ‘ala Rasuu li Muhammadin sirril ‘ulaa, Wal anbiyaa’ wal mursaliin al ghurri khot man awwalaa,

Ya Robbi nawwir qolbanaa binuri quraanin jala, Waftah lanaa bidarsin aw qiroatin turottalaa, Warzuq bifahmil anbiyaa lanaa wa ayya mantalaa, Tsabit bihi iimananaa dunya wa ukhron kamila Aman aman aman aman Indonesia Raya Aman, Amin amin amin amin Yaa Robbi Robbal ‘alamin, Amin amin amin amin wayaa mujiibasassailiin.

Menurut Jalil, bait shalawat yang tertera nama ”Indonesia Raya” tersebut merupakan sebuah doa untuk mendoakan nasib bangsa. Supaya tidak terkena musibah atau sejenisnya.

”Oleh sebab itu, shalawat itu nantinya bakal dikumandangkan setiap saat. Bahkan akan dikenalkan ke seluruh Nusantara. Sebab saat reorganisasi NU tahun 2015 di Jawa Timur itu, shalawat ini sudah dikenalkan kepada seluruh warga NU,” ujarnya.

Dia menambahkan, mudah-mudahan dengan dikumandangkan Shalawat Asnawiyah atau juga shalawat nasionalisme ini bisa membangkitkan semua orang untuk selalu mencintai NKRI.

”Serta untuk meneladani sosok KHR Asnawi sebagai sosok yang religius dan nasionalis,” imbuhnya.

Editor: Merie

Lomba Qudsiyyah Juga Jadi Ajang Pertemanan

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aneka lomba bakal digelar dalam rangka peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus tahun ini. Lomba ini juga dimaksudkan untuk memperat pertemanan.

Salah satu siswa Madrasah Qudsiyyah yang bernama M Najib, (13), mengatakan jika lomba di hari jadi Qudsiyyah yang 100 tahun ini, bukan sekadar menambah ilmu. Namun juga dapat menambah teman.

”Sebab nantinya peserta lomba berasal dari pelajar di tingkat Jawa Tengah. Sehingga kita bisa kenal siswa dari sekolah lain juga,” jelasnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/4/2016).

Lomba tingkat Jawa Tengah ini, akan berlangsung dari 2-6 Agustus 2016 mendatang. Dengan adanya lomba ini, tentunya akan dapat memberikan pengetahuan. Baik itu dari siswa Qudsiyyah sendiri maupun siswa dari sekolah lainnya.

”Nantinya kita juga bisa berbagi pengalaman dari siswa sekolah lain. Baik itu kesan-kesan sekolah di Qudsiyyah ini, maupun sebaliknya. Selain itu, kita juga bisa memberikan pengenalan profil sekolah atau profil KHR Asnawi (pendiri Qudsiyyah, red) kepada siswa sekolah lainnya,” ungkapnya.

Karena itulah Najib mengatakan jika dirinya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin, untuk bisa ikut mendaftar di lomba tersebut. Dia memilih ikut lomba pidato.

”Yang saya inginkan yakni lomba pidato. Sebab pidato itu menantang. Yakni melatih mental untuk menyampaikan ilmu agama di depan orang lain. Khususnya ajaran KHR Asnawi sebagai pendiri Qudsiyyah ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Asah Kemampuan Santri, Qudsiyyah Gelar Lomba Tingkat Jateng

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu cara mengasah ketrampilan dan ilmu pada santri Madrasah Qudsiyyah Kudus, saat peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah tahun ini, bakal digelar berbagai lomba.

Ketua panitia kegiatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Ihsan mengatakan, lomba itu nantinya bisa mengasah ketrampilan para santri. ”Sehingga ilmu pengetahuan mereka dapat berkembang. Di mana lomba tersebut akan diikuti oleh pelajar tingkat Jawa Tengah,” paparnya.

Lomba yang akan digelar pada tanggal 2 hingga 6 Agustus 2016 ini terdiri dari lomba rebana, cerdas cermat, maupun yang lain.

”Untuk jenis lomba nantinya akan berkaitan dengan kegiatan siswa semasa di sekolah. Baik itu kaligrafi, rebana, cerdas cermat, pidato atau sejenisnya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan lomba, maka motivasi bagi santri akan terus terjaga. Sehingga persaingan antarpelajar untuk menuju kebaikan atau meraih presatsi juga bisa nyata.

”Baik itu ilmu pengetahuan di bidang keagamaan maupun umum,” imbuhnya.

Editor: Merie

Alumni Qudsiyyah Berharap Santri Bisa Meniru KHR Asnawi

satu abad qudsiyyah-tyg pkl 2200 wib (e)

Kesenian bernuansa islami diajarkan di Madrasah Qudsiyyah Kudus. Ini sebagai bekal mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari, di samping ilmu yang sudah didapat selama ini. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada banyak sekali alumni santri dari Madrasah Qudsiyyah Kudus. Mereka memiliki harapan tersendiri pada satu abad peringatan madrasah tersebut.

Salah satu alumni Qudsiyyah Kudus Gus Apank mengatakan, dirinya berharap semua santri aktif maupun lulusan Qudsiyyah, bisa meniru perilaku KHR Asnawi.

”Bila kita contohkan, kedua album yang berjudul Khudz Badala dan ‘Isy Ghotthi yang diciptakan guru Qudsiyyah bernama Syaifudin Luthfi tersebut, merupakan arahan bagi semua santri yang ada,” paparnya.

Menurutnya, album yang berjudul Khudz Badala atau yang berarti ”Carilah Penggantiku” ini, merupakan mengisahkan Madrasah Qudsiyyah. Di mana album itu merupakan doa serta perjuangan para guru, yang berjuang di madrasah ini maupun di luar madrasah.

”Sehingga setiap santri harus bisa mempertahankan ilmu yang diberikan oleh bapak guru. Dan harus ikut tuntunan yang disampaikan KHR Asnawi sebagai pendiri madrasah,” tuturnya.

Sedangkan album yang berjudul Isy Ghotthi intinya ialah untuk mengenang KHR Asnawi sebagai guru bangsa. Baik itu sebagai tokoh ulama pendiri NU maupun sebagai pengajar atau pemuka agama.

”Yang terpenting ialah bagaiamana para santri ini bisa terus melanggengkan kebaikan, melalui ilmu yang sudah didapatnya saat masih duduk di Qudsiyyah. Selain itu juga bisa mengamalkan kepada masyarakat, bahwa ilmu pemberian dari guru dan ulama ini dapat bermanfaat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ajaran dari guru atau ulama yang sudah diberikan kepada santri, memang akan bisa bermanfaat, bilamana mereka dapat mengamalkan kepada masyarakat yang ada.

”Sebab bekal ilmu agama ini memang penting untuk sebagai penyeimbang ilmu pengetahuan di saat modernisasi zaman,” imbuhnya.

Editor: Merie

Peringati Satu Abad Qudsiyyah, Al-Mubarok Ciptakan 2 Album

Jpeg

Jam’iiyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jamiah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah, kelompok musik rebana yang diisi santri aktif dan alumni memperingati Satu Abad Qudsiyyah dengan menciptakan dua album lagu sejak 10 tahun lalu.

Pengurus jamiah, Gus Apank mengatakan, pihaknya telah mengonsep penampilan peringatan 100 tahun Qudsiyyah, sejak sepuluh tahun lalu. “Kami tampil pada puncak acara satu abad, Sabtu (6/8/2016) malam,” katanya.

Diketahui, album selawat yang bakal dilantunkan telah dibuat di dua buah album mereka. Total lagu ada 15. “Kedua album ini melengkapi kedelapan album Al-Mubarok yang sudah tercipta sebelumnya. Sebab kedelapan album itu ada 85 lagu. Sedangkan kedua album yang terbaru untuk menyambut satu abad Qudsiyyah ini ada 15 lagu. Dengan rincian Album Khudz Badala ada 7 lagu dan Isy Ghotthi ada 8 lagu. Bila ditotal ada 100 lagu. Dan itu bisa klop dengan usia madrasah Qudsiyyah ini yang sudah menginjak 100 tahun,” paparnya.

Dia melanjutkan, kedua album ini diberi judul Khudz Badala dan Isy Ghotthi. Nama album tersebut mengandung arti dan filosofi tersendiri. Terutama di ruang lingkup Qudsiyyah ini. Dari sumber yang dihimpun MuriaNewsCom, nama album Khudz Badala tersebut berarti Carilah Penggantiku yang mempunyai makna mendidik dan meluluskan santri dengan baik serta tersirat filosofi dari tahun kelahiran madrasah Qudsiyyah yang didirikan keturunan Sunan Kudus, KH R Asnawi.

Sedangkan untuk album Isy Ghotthi yang bermakna Hiduplah, Lindungi Kami merupakan album yang mengisahkan dari tokoh pendiri Qudsiyyah KH R Asnawi. “Bila kita runut, kata Khudz Badala itu menunjukan tahun 1337. Tahun itu merupakan berdirinya Qudsiyyah. Yakni bila diurai, maka huruf Kho itu berangka 600, huruf dzal mempuyai arti 700, ba mempunyai angka 2, huruf dal mempunyai angka 4, lam angka 30 dan lam berangka 1. Bila dijumlah maka akan ketemu angka 1337 tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan, namun untuk yang album Isy Ghotthi ini merupakan filosofi dari tahun wafatnya KH R Asnawi. Sebab kata Isy Ghotthi itu bila ditotal ada sejumlah 1379. Nah angka itu merupakan tahun wafatnya KH R Asnawi. Selain mendiang KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi sering menyebut kata itu. Yang berarti KH R Asnawi harus dilindungi ilmunya, serta dijadikan contoh.

Editor : Akrom Hazami

Santri Qudsiyyah Harus ”Ampuh” Sepanjang Zaman

Salah satu kegiatan yang diikuti santri Madrasah Qudsiyyah, yang diharapkan bisa membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi zaman. (MuriNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu kegiatan yang diikuti santri Madrasah Qudsiyyah, yang diharapkan bisa membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi zaman. (MuriNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri di Madrasah Qudsiyyah Kudus diharapkan bisa menjadi santri yang ”ampuh” di sepanjang zaman.

Salah satu siswa Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus M Shofwan, (15), mengatakan, santri Qudsiyyah Kudus harus bisa tahan atas tempaan saat modernisasi zaman.

”Santri itu Kudus ampuh sepanjang zaman. Yang kita maksud ampuh yakni pengamalan ilmu yang sudah mereka dapatkan, bisa diamalkan kepada masyarakat saat lulus nanti. Selain itu, mereka juga jangan jumawa di dalam masyarakat,” paparnya.

Oleh sebab itu, dengan adanya acara Satu Abad Madrasah Qudsiyyah tersebut, dapat dijadikan momen untuk bisa mengamalkan ilmu kepada warga Kudus.

Menurutnya, dengan adanya berbagai even baik itu ekspo, bedah buku, teater, dan lainnya, bisa membuat warga semakin mengenal keberadaan mereka. ”Bahwa Madrasah Qudsiyyah juga bukan pendidikan di bidang agama saja. Melainkan juga madrasah yang bisa mendidik di bidang ilmu pengetahuan umum,” ujarnya.

Dia menilai, bagi santri Qudsiyyah harus bisa memanfaatkan momen satu abad ini. Sehingga masyarakat Kudus bisa paham akan Madrasah Qudsiyyah, dan bukan hanya sekadar tahu sekolah umum saja.

Dengan adanya perayaan Satu Abad Qudsiyyah, tentunya keunggulan madrasah yang didirikan keturuanan Sunan Kudus yang bernama KHR Asnawi itu, juga dapat terbaca serta terlihat oleh khalayak umum.

”Ya, mudah-mudahan dengan acara ini, masyarakat umum bisa tahu akan sistem pendidikan Qudsiyyah. Serta Madrasah Qudsiyyah ini bisa menciptakan dan menggembleng santri-santri tangguh untuk masa depan,” imbuhnya.

Editor: Merie

Santri Bumikan Semangat Gusjigang di Satu Abad Qudsiyyah

Santri menunjukkan karya yang akan dipajang saat gelaran expo Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Santri menunjukkan karya yang akan dipajang saat gelaran expo Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gusjigang adalah sebuah kata yang menghiasi tema acara Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus. Kata tersebut bukan karena tidak ada arti dan makna tersendiri. Akan tetapi kata Gusjigang inilah yang mendongkrak jiwa warga Kudus meningkatkan kemandirian di segala bidang.

Sekretaris panitia satu abad Quidsiyyah Abdul Jalil mengatakan, kata Gusjigang merupakan ikon Kota Kudus.”Gusjigang itu merupakan singkatan. Yakni Gus berarti bagus (rupa, akhlaq, perbuatan), Ji berarti pintar mengaji, dan Gang ialah pandai berdagang (mandiri). Akan tetapi di sini bukan berarti terfokus pada berdagang saja, namun harus bisa mandiri di segala bidang. Misalkan saja pengetahuan dan sejenisnya,” kata Jalil.

Diketahui, ikon Kudus Gusjigang muncul lantaran rata rata warga berpenghasilan dari berdagang. Selain itu, perdagangan tersebut juga diidentifikasikan dengan adanya tiga suku yang ada di Kudus. Seperti halnya Jawa, Tionghoa dan Arab.

Karenanya untuk membumikan dan mempraktikkan Gusjigang tersebut, nantinya di momen satu abad Qudsiyyah, bakal digelar expo. Para santri Qudsiyyah akan menunjukan berbagai kreativitas yang ada. Seperti halnya prestasi, kitab salaf atau kuning karya ulama Kudus, poster dan foto para ulama Kudus dan lainnya.

Expo tersebut nantinya akan digelar pada 2 hingga 6 Agustus 2016 di lapangan Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi Kudus.

“Setidaknya dalam expo tersebut, kita dapat menunjukan kepada masyarakat Kudus, bahwa produk atau jasa para ulama di bidang agama itu banyak sekali. Seperti halnya membuat kitab salaf dan sejenisnya. Selain itu, juga menunjukan kreativitas asli masyarakat Kudus seperti halnya batik Kudus. Serta lagu-lagu selawat ciptaan santri Qudsiyyah,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Satu Abad Qudsiyyah Bisa Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Mutu Sekolah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu alumni Madarasah Qudsiyyah Kudus yang berasal dari wilayah Undaan Syaiful (24) mengtatakan, kegiatan satu abad Qudsiyyah ini merupakan momen utnuk meningkatkan mutu sekolah.

“Yang mana dalam acara tersebut ada berbagai ilmu yang ditunjukan. Seperti halnya bedah buku, bedah Selawat Asnawiyah yang diciptakan Qudsiyyah untuk mengenang KH R Asnawi,” katanya.
Dengan adanya ilmu pengetahuan yang digali tersebut, tentunya akan membuat mutu sekolah yang berdiri pada tahun 1917 ini semakin dikenal oleh masyarakat.

“Selain mengenalkan mutu agama terutama tentang ilmu salafnya, saya juga mendengar bahwa Madrasah Qudsiyyah ini bakal membuka jurusan IPA. Sehingga ilmu pendidikan yang ada di madrasah tersebut akan tergali lagi dan bisa bervariasi,” tuturnya.

Dirinya berharap supaya dengan adanya kegiatan satu abad ini dapat dimanfaatkan oleh santri Qudsiyyah, alumni dan warga Kudus.

“Ya kami ingin Madarsah Qudsiyyah ini tambah maju, tambah berkompeten, baik di bidang ilmu umum dan terlebih di bidang salafnya. Serta bisa menjadi referensi warga Kudus untuk menyekolahkan putranya di Qudsiyyah ini,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Satu Abad Qudsiyyah jadi Momen Teladani KH R Asnawi

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri aktif dan alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus memperingati 100 tahun atau satu abad berdirinya lembaga pendidikan itu.
Selain digelar berbagai acara, santri juga dituntut untuk bisa meneladani sikap dan tindak-tanduk sang pendiri, KH R Asnawi.

Ketua panitia peringatan 100 tahun Madrasah Qudsiyyah Kudus, Ihsan mengatakan, pihaknya menyelenggarakan berbagai acara dalam kesempatan tersebut.

“Mulai dari nyepeda bareng santri, bedah buku, mengenalkan Selawat Asnawiyah dan lainnya,” kata Ihsan.

Dia berharap, santri maupun warga Kudus dan sekitarnya bisa mengenal luas Qudsiyyah, bahkan bisa meneladani sosok KH R Asnawi.

Dikutip dari buku Kyai Tanpa Pesantren Potret Kyai Kudus karangan Prof H Abdurrahman Mas’ud, Ph.D yang juga membahas sosok KH R Asnawi, diceritakan tentang singkat sosoknya.

KH R Asnawi mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada 1919 M. Pada 26 September, KH R Asnawi mendirikan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, 26 September 1927 M.

Adapun karya dan peninggalan KH R Asnawi ada yang berupa kitab Fashalatan, kitab Soal Jawab Mu’taqad Seket, dan ada juga yang berupa syair tentang nilai agama dan nilai kebangsaan. Sang kiai juga ikut andil membendung arus kolonialisme Belanda, ketika masa penjajahan.

Baginya, segala yang dilakukan Belanda tidak boleh ditiru. Sehingga banyak produk hukum fikih pada masa penjajahan Belanda, oleh KH R Asnawi selalu disandarkan pada prinsip tegas anti kolonialisme.

“Dalam meneldani KH R Asnawi itu paling tidak ada lima aspek. Di antaranya ialah tentang dakwah keumatannya atau dalam rangka berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara halus dan sopan. Selanjunya, kebangsaan cinta NKRI, ibadah, menghargai budaya yang ada di Kudus serta kemandirian. Baik itu kemandirian di bidang ilmu atau yang lainya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Rayakan 1 Abad, Qudsiyyah Kudus Gelar 22 Kegiatan Selama 5 Hari

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam memperingati 1 abad hari jadi Madrasah Qudsiyyah Kudus, sekolah yang terkenal dengan santri salafnya tersebut bakal menggelar berbagai acara. Acara itu akan dimulai 2 April 2016 hingga 6 Agustus 2016 mendatang.

Ketua panitia 1 abad Qudsiyyah Kudus Ihsan memaparkan, pihaknya mempersiapkan 22 jenis kegiatan. Di antaranya ziarah makam Muassis dan Masyayikh, bedah buku jejak Sunan Kudus, sepeda santai dan napak tilas Sunan Kudus, Khotmil Quran, Roadshow meneladani KHR. Asnawi, menggali khasanah syair sholawat, seminar ilmu falaq, halal bihalal alumni qudsiyyah. Selanjutnya, ada halaqah (menjadi santri mandiri dan berkarakter), Ganjar mengajar, Seminar nasional (pesan damai Menara Kudus untuk dunia), jagong kamolyan (mengenang mba asnawi), Kirab 1000 terbang, Nada dakwah, Expo, Festival seni rebana, lomba, bedah buku qudsiyyah bagi bangsa, bahsul masail ketenagakerjaan, Festival teater pelajar, seminar mendaulat sholawat asnawiyah sebagai sholawat kebangsaan, dan yang terahir yakni pengajian akbar.

”Dalam ke 22 acara tersebut, bukan berarti tanpa makna. Acara itu memetik inti yang mendalam. Yakni meneladani tokoh Wali 9 khususnya Sunan Kudus, dan KHR Asnawi tokoh ulama Kudus sekaligus sebagai pendiri Qudsiyyah,” ujarnya.

Disaat yang sama, Sekretaris Panitia 1 abad Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, acara ini nantinya bertemakan ”Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”.

Abdul menambahkan, dalam arti Gusjigang itu, Gus ialah bagus yakni harus bersikap bagus, berhati bagus dan berakhlaq bagus. Sementara JI, warga kudus harus bisa paham akan ilmu pelajaran agama atau mengaji, khususnya santri Qudsiyyah ini. Dan Gang, ialah berdagang.

”Berdagang bukan hanya konteks perdagangan yang menjadi inti, namun santri itu harus bisa mandiri. Baik itu keilmuannya, pengetahuannya sehingga dapat menjadi contoh untuk semua kalangan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Qudsiyyah Kudus Rayakan Satu Abadnya

 Pengurus tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus melakukan konferensi pers. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pengurus tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus melakukan konferensi pers. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Di usianya yang menginjak satu abad, tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus ini tetap mempertahankan kesalafannya.

Sebab madrasah yang didirikan oleh tokoh ulama NU, KH R Asnawi tersebut selalu mengedepankan sistem pendidikan pondok pesantren.

Dalam jumpa pres perayaan satu abad madrasah Qudsiyyah, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan mengatakan, meskipun madrasah sudah berusia satu abad, namun sistem pendidikan kurikulumnya masih berbasis pondok pesantren.

“Bahkan dibanding madrasah yang di bawah naungan NU sekalipun, sekolah ini masih menggunakan kesalafannya. Sebab bila ada program baru, kita sebagai yayasan itu berfikir terlebih dahulu untuk bisa mengikutinya. Apakah itu nantinya mendapat restu, izin atau rida dari pendiri (KH R Asnawi) atau tidak,” paparnya.

“Rata rata guru yang ada di sini memang lulusan pesantren. Ada juga yang ulama, bahkan KH Syaroni sekalipun. Sementara itu, kita juga agak sedikit tidak memikirkan untuk mendapatkan status akreditasi tersebut,” ujarnya.

Madrasah yang didirikan sekitar tahun 1917 ini mempunyai prinsip memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik

“Inti dari prinsip tersebut yakni memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Oleh sebab itu, bila kesalafan itu merupakan kunci kebaikan, maka kita akan pertahankan. Selain itu, bila ada sistem terbaru yang lebih baik lagi, maka kita juga akan memilah milah untuk kita ambil,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami