Razia Miras, Satpol PP Sasar Warung Kopi di Rembang

 Petugas Satpol PP Rembang saat melakukan razia miras di salah satu warung kopi. (Humas Setda Rembang)

Petugas Satpol PP Rembang saat melakukan razia miras di salah satu warung kopi. (Humas Setda Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Belasan botol minuman keras diamankan oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dari sejumlah warung kopi,Selasa (7/2/2017) malam. Razia tersebut merupakan upaya Satpol PP merespon keresahan masyarakat terkait banyaknya pemuda yang minum minuman keras.

Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang Nurwanto mengatakan, sasaran dalam razia tersebut difokuskan pada miras. Jajarannya menyisir ke sejumlah warkop yang disinyalir menjual barang haram tersebut.

“Menindaklanjuti adanya aduan dari masyarakat, kita melakukan razia yang fokusnya lebih kepada miras.Setelah kami lakukan razia, ternyata benar kami mendapati pemilik warung kopi yang masih nekat menjual miras,” ungkapnya.

Selama tiga jam razia dari enam warkop, dua warung kopi kedapatan menjual miras. Di antaranya, salah satu warung kopi di eks Pasar Senggol Desa Tasikagung dan satu warung kopi di ruko Perumahan Graha Kartini Desa Kabongan Kidul. “Total ada 14 botol minuman yang berkandungan alkohol di atas 5 persen. Di antaranya merk Anggur Merah empat botol, Kilin sembilan botol dan arak satu botol,” ungkapnya.

Pemilik dari kedua warung kopi tersebut akan diberikan pembinaan dan peringatan agar tidak menjajakan miras kembali. Pihaknya juga akan menggiatkan kegiatan semacam itu untuk menekan pelanggaran warung kopi menjual miras.

Editor : Kholistiono

Picu Kemacetan, PKL di Jalan KH Mansyur Rembang Ditertibkan

Petugas Satpol PP menertibkan PKL yang yang biasa berjualan di Jalan KH Mansyur Rembang, karena memicu kemacetan. (Humas Setda Rembang)

Petugas Satpol PP menertibkan PKL yang yang biasa berjualan di Jalan KH Mansyur Rembang, karena memicu kemacetan. (Humas Setda Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Rembang menertibkan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang sering mangkal di Jalan KH Mansyur. Para PKL yang sebelumnya berjualan di badan jalan diminta pindah ke atas trotoar.

Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang Nurwanto mengatakan, penertiban pedagang di area tersebut karena sering macet saat jam pulang sekolah. Para pedagang yang berjualan di badan jalan persis di depan SD Kutoharjo IV dan SD Kutoharjo VI sering memicu kemacetan.Ditambah para orang tua yang menjemput anaknya ketika jam pulang sekolah berhenti di sembarang tempat, sehingga membuat ruas jalan tersebut semakin menyempit.

“Di sini kalau jam-jam pulang sekolah macet,karena kurang tertibnya penjemput dan pedagang. Kita bersinergi dengan kepala sekolah, supaya hak-hak pengguna jalan tetap terpenuhi dan pedagang juga masih bisa berjualan. Yang terpenting kemacetan tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Ia juga mengimbau kepada orang tua siswa yang mau menjemput anaknya bisa parkir dengan tertib di dekat trotoar. Jikapun ingin membeli jajanan, bisa turun dari motor dan tidak sambil naik motor yang membuat semrawut jalan.

Pihaknya akan memantau setiap harinya di jam-jam pulang sekolah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sementara, sesuai permintaan pihak sekolah setempat,pedagang diminta berjualan di trotoar, namun tidak nempel di pagar sekolah tetapi lebih maju.

Agus,penjual pentol bakso keliling mengaku setuju jika harus berjualan di atas trotoar. Terlebih para pedagang masih bisa berjualan, hanya masalah tempat tidak masalah yang penting tujuannya baik.“Iya Mas setuju. Yang penting kita masih bisa berjualan,” katanya.

Sementara itu, Imam Rudi salah satu warga Desa Tasikagung yang setiap harinya melewati jalan tersebut mengapreasiasi langkah Satpol PP. Setiap jam-jam pulang sekolah SD dirinya pun selalu terjebak macet di sana.

Editor : Kholistiono

Satpol PP Rembang Bakal Razia PNS yang Keluyuran pada Jam Kerja

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang -Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Rembang berencana menggelar razia di sejumlah pusat perbelanjaan, seperti pasar atau tempat-tempat lainnya.Karena, pusat perbelanjaan dinilai kerap menjadi jujugan oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang suka keluyuran saat jam kantor.

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Satpol PP Rembang Karnen, mengungkapkan, hasil pemantauan dan laporan dari masyarakat, tak jarang didapati PNS keluyuran ke pasar pada saat jam kantor. ”Informasi yang kami terima, lokasi yang sering dijadikan tempat berkeluyuran PNS adalah pasar, makanya kami masih melakukan pemantauan sebelum melakukan penindakan,” ungkapnya.

Menurut Karnen, rata-rata para oknum PNS itu, berkeluyuran pada jam-jam kerja.Kebanyakan dari PNS yang ditemukan pergi ke pasar sambil berbelanja kebutuhan keluarga. ”Kami masih mengamati dulu, karena untuk membedakan PNS yang guru dan pegawai kantoran, sulit. Maka dari itu sementara kami pantau PNS mana saja yang berbelanja ke pasar pada saat jam kantor,” tambahnya.

Menurutnya, jika dalam razia nanti  ada PNS yang  tertangkap basah bolos atau keluyuran saat jam kerja berlangsung dan tanpa membawa surat tugas keluar dari pimpinannya, maka pihaknya akan melakukan tindakan sesuai dengan tugas dan fungsi (tupoksi) Satpol. PP dalam menegakan peraturan daerah (perda).

“Dalam waktu dekat ini kita  akan melakukan razia dan akan menindak tegas PNS yang ketahuan bolos atau keluyuran saat jam kerja. Kita akan melakukan pendataan, dan melaporkan hal itu kepada atasan masing-masing PNS yang terjaring razia itu, untuk memberikan pembinaan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Razia Warung Remang-remang di Rembang, Satpol PP Garuk 1 PSK

Petugas Satpol PP Rembang mendata pengunjung kafe yang terjaring razia pada Kamis (14/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petugas Satpol PP Rembang mendata pengunjung kafe yang terjaring razia pada Kamis (14/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang bersama Satpol PP Provinsi Jateng dan Satpol PP Tuban, Jawa Timur melakukan razia terhadap sejumlah warung kopi yang diduga dijadikan sebagai tempat mangkal PSK dan pria hidung belang di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di antaranya di Kecamatan Sarang dan Kragan.

Razia gabungan tersebut dilakukan pada Kamis (13/10/2016) malam. Dari hasil penyisiran di sejumlah warung kopi, petugas mengamankan satu orang pekerja seks komersial (PSK) dan dua lelaki yang diduga akan menggunakan jasa PSK.

Kasi Penegak Perda pada Satpol PP Rembang Sudarno mengatakan, razia tersebut sengaja dilakukan di wilayah perbatasan Rembang dan Tuban, karena dinilai berpotensi terhadap kerawanan tindakan negatif, khususnya aktivitas esek-esek.

“Sasaran kita adalah tempat karaoke yang tak berizin dan warung kopi yang diduga dijadikan tempat praktik esek-esek. Namun, pada razia kali ini, ternyata banyak warung yang tutup, dan kita hanya mendapati satu PSK dan dua orang laki-laki pengunjung kafe. Satu PSK tersebut inisial TS (45) warga Blora yang mangkal di wilayah Kalipang, Kecamatan Sarang, dan di tempat berbeda kita juga menciduk dua pengunjung kafe inisial R (24) warga Karangmangu, Sarang dan AR (18) warga Sarang Meduro,” ungkapnya.

Dengan razia seperti ini, pihaknya berharap pengegkan perda bisa berjalan, sehingga Rembang bisa aman, nyaman dan tertib.”Mereka yang terjaring razia ini kami berikan pembinaan, agar nantinya tidak mengulangi perbuatannya lagi,” pungkasnya.

Dirinya juga menyampaikan, razia yang dilakukan pada malam tadi dimungkinkan sudah bocor. Sebab, tak seperti biasanya, banyak warung yang tutup. Dengan kondisi seperti ini, katanya, hasilnya juga kurang maksimal.

Editor : Kholistiono

Satpol PP Rembang Sita Belasan Liter Tuak

 Barang bukti miras dan rokok kedaluwarsa yang berhasil disita petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Barang bukti miras dan rokok kedaluwarsa yang berhasil disita petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang menggelar razia miras dan rokok illegal. Kali ini, petugas menyasar di wilayah Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sarang dan Desa Tanjungan, Kecamatan Kragan serta Kecamatan Kota Rembang, Selasa (26/7/2016).

Dari tempat tersebut, petugas berhasil menyita 14 liter tuak dari warung milik Siti Rukanah warga Tanjungan, Kecamatan Kragan. Rinciannya, satu dirigen berisi 10 liter tuak dan 4 botol, masing-masing ukuran satu liter.

Selain miras, petugas juga menyita 63 bungkus rokok kedaluwarsa berbagai merek dari warung Rifai, warga Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sarang. “Dalam razia ini, kita amankan belasan liter miras dan puluhan rokok yang sudah kedaluarsa. Ini bisa membahayakan jika dikonsumsi,” ungkap Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang Sudarno.

Dia mengatakan,untuk pemilik toko atau yang menjual rokok kedaluwarsa dan minuman tuak tersebut saat ini dilakukan pembinaan. “Kita terus memantau, membina dan mengarahkan mereka supaya tidak menjual rokok kedaluwarsa serta minuman keras lainnya. Sementara, dari Kecamatan Kota, yakni di toko yang berada di kawasan Jalan Kartini Rembang, petugas berhasil menyita 5 pak dan 50 bungkus rokok kedaluwarsa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Kenal di FB, Sejoli Muda Langsung Berduaan di Taman Tugu Lilin Rembang

Satpol PP melakukan pendataan terhadap remaja yang terjaring dalam razia di taman Tugu Lilin Rembang, Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid

Satpol PP melakukan pendataan terhadap remaja yang terjaring dalam razia di taman Tugu Lilin Rembang, Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid

 

MuriaNewsCom, Rembang – FS (17) gadis yang berasal dari Sarang Kabupaten Rembang dan RNI (15) remaja dari Ngaliyan Kota Semarang, tiba-tiba diangkut oleh petugas razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang, Kamis (31/3/2016).

Kedua terjaring dalam razia Satpol PP setempat ketika sedang nongkrong di taman Tugu Lilin Rembang bersama dua teman lainnya. RNI yang merupakan siswa kelas X di salah satu SMA di Semarang, mengaku sedang membolos sekolah untuk bermain di Rembang.

“Baru tadi pagi sampai di Rembang mau ketemu dengan teman. Tapi malah dibawa kesini,” kata remaja asal Tambak Aji Ngaliyan itu.

Sementara itu, gadis yang ditemuinya mengatakan sengaja bertemu dengan RNI di taman Tugu Lilin Rembang. Namun, ia mengaku tidak kenal banyak hanya tahu dari FB. “Cuma kenal saja lewat FB. Ketemuan di Tugu Lilin dan hanya nongkrong saja,” ungkap FS.

Selain kedua remaja itu, ada dua remaja putra dan putri yang ikut digaruk dalam razia Satpol PP di Tugu Lilin. Mereka adalah teman dari FS dan RNI. Keempatnya kemudian dibawa ke kantor Satpol PP untuk pendataan.

Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang, Sudarno mengatakan, razia tersebut dalam rangka menindaklanjuti laporan masyarakat terkait banyaknya anak Punk yang nongkrong dan meresahkan masyarakat. “Razia ini sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat. Banyak anak punk yang mangkal dan meresahkan masyarakat,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

25 Siswa di Lasem Hadapi Satpol PP

Petugas Satpol PP Rembang mengangkut pelajar yang membolos dalam razia yang dilakukan pada Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/(Ahmad Wakid)

Petugas Satpol PP Rembang mengangkut pelajar yang membolos dalam razia yang dilakukan pada Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/(Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 25 pelajar terjaring dalam razia yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang. Namun, hanya tujuh pelajar saja yang dilakukan pendataan oleh petugas.

Pasalnya, 18 pelajar yang tertangkap basah sedang nongkrong dengan pakaian seragam sekolah lengkap, ternyata memang sudah selesai jam pelajarannya. Sementara, 7 pelajar lainnya memang kepergok sedang membolos dan memilih nongkrong di taman pasar Babagan Lasem.

“Ada laporan, banyak anak-anak sekolah yang pada jam pelajaran keluyuran di pasar dan warung kopi, salah satu di wilayah Lasem. Sebanyak 18 siswa tidak kami data, karena kelas XII dan sudah selesai jam pelajarannya.

edangkan, 7 siswa lainnya kami lakukan pendataan,” ungkap Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang, Sudarno.

Dijelaskan olehnya, pada razia tersebut tempat sasarannya yakni, hanya di dua kecamatan. “Sasarannya hanya Lasem dan Rembang kota. Enam orang yang kami data, kami angkut dari Lasem. Sedangkan, satu lainnya dari Rembang,” imbuhnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016).

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya, mengakui sedang membolos sekolah dan nongkrong di taman Babagan Lasem bersama teman lainnya. Namun, ia berdalih sedang ada kegiatan di sekolahannya. “Ada acara ulang tahun di sekolahan, terus kami tinggal nongkrong,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pak Satpol PP Rembang, Kapan Anda Punya Kantor Sendiri?

Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Rembang tengah mengusulkan anggaran sebesar Rp 4 miliar untuk membangun kantor baru. Rencana ini digulirkan setelah Satpol PP pindah ke dari kantor lama ke kantor baru yang bersifat sementara di gedung Bangkit Kompleks Museum Kartini. Selama ini, Satpol PP menempati rumah milik keluarga mendiang Wakil Presiden Sudharmono.

Saat disinggung terkait kapankah Satpol PP Rembang akan memiliki kantor baru sendiri? Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Kabupaten Rembang menargetkan pada 2016 mendatang. Menurutnya saat ini usulan pembangunan kantor baru sudah masuk rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Rencananya, lokasi kantor baru itu di sebelah barat Embung Rawasetro.

“Tanahnya adalah aset milik Pemkab, terkait anggaran, kami sudah mengusulkan baik ke provinsi maupun kabupaten. Kebutuhan anggarannya mencapai Rp4 miliar, tetapi itu bisa dipenuhi secara bertahap. Selain anggaran, kami pun usul agar personel Satpol PP ditambah, dari yang sekarang 70 menjadi 150-200 orang,” kata Slamet Riyadi, Jumat (14/8/2015). (AHMAD FERI/AKROM HAZAMI)

Tempati Rumah Mantan Wapres RI, Satpol PP Rembang Diusir

Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang akhirnya terpaksa pindah dari kantor lama ke kantor barunya pada Jumat (14/8/2015). Mereka terpaksa pindah dari kantor lama yang berada di bilangan Jalan Soetomo ke kantor baru yang bersifat sementara di Gedung Binangkit, Kompleks Museum Kartini.
Alasan kepindahan kantor yang berstatus pinjam ini karena pemilik rumah meminta Satpol untuk pindah.

“Keluarga mendiang Wakil Presiden RI Sudharmono memberi batas waktu kepada kami sampai 30 September ini, untuk pindah. Karena pemkab sudah menyediakan kantor sementara, kami putuskan pindah lebih awal. Kantor baru ini lebih representatif,” ujar Slamet Riyadi, Kepala Satpol PP Rembang, Jumat (14/8/2015).

Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan masyarakat, sinyal agar Satpol PP segera pindah dari rumah bernomor 51 di wilayah RT 3 RW 3 Kelurahan Sidowayah, Kecamatan Rembang, sudah lama muncul atau sejak Oktober 2014. Kala itu pun, Satpol PP langsung gusar, karena belum ada bayangan tempat pengganti kantor. Slamet menyatakan meski berstatus sewa, namun selama ini dia menempati secara gratis.

“Sepanjang menggunakan bangunan rumah milik mendiang Sudharmono untuk kantor, statusnya memang hanya meminjam. Namun Satpol PP tidak membayar. Kami berterima kasih atas kebaikan keluarga dari almarhum Pak Sudharmono, telah meminjamkan rumah keluarga beliau kepada Pemkab,” kata Slamet Riyadi. (AHMAD FERI/AKROM HAZAMI)

Satpol PP Rembang Tak Berkutik Tertibkan Baliho Hafidz-Bayu

Baliho berukuran besar milik pasangan bakal calon bupati dan wakil  bupati, Abdul Hafidz dan Bayu Andriyanto terpajang di kawasan Pantura Rembang tepatnya di Jalan Diponegoro(MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Baliho berukuran besar milik pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati, Abdul Hafidz dan Bayu Andriyanto terpajang di kawasan Pantura Rembang tepatnya di Jalan Diponegoro(MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Rembang tak berkutik untuk menertibakn sejumlah baliho besar di kawasan pantura milik pasangan bakal calon bupati dan wakil  bupati, Abdul Hafidz dan Bayu Andriyanto.

Penghambat utamanya adalah gara-gara baliho itu diklaim telah mengantongi izin dari Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) dan Dinas Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) setempat.

“Baliho sosialiasasi yang gambarnya bapak Hafidz dan Bayu, itu sudah izin, biar tetap nampak, karena dia bakal calon bupati. Jika tidak berizin pasti kami akan menertibkannya, sebab semua warga masyarakat harus mematuhi undang-undang maupun peraturan daerah (Perda) yang berlaku di Rembang,” ujar Sudarno, Kepala Seksi (Kasi) Penegak Perda (Gakda) pada Satpol PP Rembang, Kamis (30/7/2015).

Berdasarkan pantauan MuriaNewsCom di lapangan, sejumlah baliho besar milik Hafidz dan Bayu memang terpasang di sepanjang Jalur Pantura Rembang. Ada sejumlah titik penting yang terpasang, beberapa divantaranya terpajang di SPBU Kecamatan Kaliori dan Kecamatan Lasem. Selain itu ada pula sejumlah baliho besar yang terpampang di sejumlah tempat strategis seperti di pasar maupun perempatan jalan.

Tak ditertibkannya baliho sosiasilisasi milik Hafidz dan Bayu ini berbeda dengan nasib baliho milik Harno. Gara-gara dinilai meresahkan masyarakat, baliho sosiasilasasi milik Ketua Komisi B DPRD itu telah ditertibkan oleh aparat Satpol PP. Sebab Harno diketahui batal mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala daerah setelah sebelumnya mengundurkan diri karena gagal meminang calon pendamping yang dia idamkan. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Harno Legowo Spanduk Sosialisasi Miliknya Dipreteli Satpol PP Rembang

Petugas Satpol PP saat menertibkan atribut sosialiasasi milik Harno pada Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Petugas Satpol PP saat menertibkan atribut sosialiasasi milik Harno pada Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Harno, bakal calon bupati yang memutuskan untuk mengundurkan diri jelang pendaftaran memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Satpol PP dalam menertibkan baliho dan spanduk sosialiasasi miliknya.

Ketua Komisi B DPRD Rembang itu tidak mempersoalkan langkah Satpol yang membersihkan atribut sosialiasasinya sebagai bakal calon bupati pada Kamis (30/7/2015). Harno justru mengucapkan terimakasih atas sikap tanggap Satpol PP tersebut.

“Saya tidak mendaftar ke KPU, jadi tidak menjadi calon bupati, maka saya berikan apresiasi dan terimakasih kepada Satpol PP yang telah menertibkan baliho saya agar masyarakat tidak bingung juga. Disamping unsur memingungkan juga gimana ya, wes ora nyalon kok ijeh ono fotonya, kan juga tidak etis begitu,” ujar Harno, Kamis (30/7/2015).

Harno juga mengaku mengerahkan tim relawan untuk membersihkan atribut sosialisasi miliknya di sejumlah wilayah lain. Sebelumnya, dia mengaku legowo atas terpilihnya Sunarto dan Kuntum Khairu Basa sebagai pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati. Dia mengaku siap mendukung dan memenangkan pasangan calon yang mendaftarkan diri di KPU di hari terakhir pendaftaran tersebut (28/7/2015).

“Tim relawan secara keseluruhan memang tidak ada yang saya minta untuk mencopoti, cuma sebagian memang saya suruh untuk mengambilnya di beberapa wilayah tertentu, karena memang saya sudah tidak nyalon, jadi saya minta tolong diambil. Saat ini, kita mulai bersiap untuk memenangkan pasangan calon yang didukung oleh partai,” kata Harno. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Dinilai Meresahkan, Satpol PP Bersihkan Atribut Sosialisasi Harno

Petugas Satpol PP Kabupaten Rembang saat menertibkan atribut sosialiasasi milik Harno. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Petugas Satpol PP Kabupaten Rembang saat menertibkan atribut sosialiasasi milik Harno. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Rembang memutuskan untuk menertibkan atribut sosialisasi milik bakal calon bupati yang batal maju di Pilkada 2015, Harno pada Kamis (30/7/2015) siang.

Puluhan baliho dan spanduk milik Ketua Komisi B DPRD setempat itu dibersihkan dari sejumlah titik di kawasan Kota Rembang. Penertiban ini dilakukan karena keberadaannya dinilai berpotensi membingungkan masyarakat dalam menentukan calon di Pilkada.

“Penertiban gambar Pak Harno karena yang bersangkutan batal mencalonkan diri sebagai bupati. Daripada meresahkan masyarakat dan pihak calon yang lain, maka kami putuskan untuk menertibkannya. Sementara ini dalam kota dulu, gambar-gambar Pak Harno kita turunkan semua,” ujar Sudarno, Kepala Seksi (Kasi) Penegak Perda (Gakda) pada Satpol PP Rembang, Kamis (30/7/2015).

Sudarno mengatakan, khusus terhadap baliho maupun spanduk milik Harno yang berada di kawasan kecamatan lainnya, dia mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Trantib di seluruh kecamatan. Menurutnya mereka akan diberikan tugas untuk membersihkan atribut sosialisasi Harno hingga ke wilayah perdesaan. Sudarno juga menyebutkan masa aktif perijinan atribut milik Harno itu juga telah kedaluarsa.

“Waktu berizin dan sosialisasi atribut sosialisasi Pak Harno selama tiga bulan, biar masyarakat tidak terjadi gejolak karena batal menjadi calon bupati, maka kami putuskan untuk diturunkan. Terkait gambar yang tertempel di kendaraan umum, nanti kami akan koordinasi dengan KPU dan Satlantas untuk menentukan langkah selanjutnya,” kata Sudarno. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Satpol PP Sebut Pengelola Karaoke Remehkan Kebijakan Pemkab Rembang

Sudarno, Kepala Seksi (Kasi) Penegak Perda (Gakda) pada Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Sudarno, Kepala Seksi (Kasi) Penegak Perda (Gakda) pada Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Sudarno, Kepala Seksi (Kasi) Penegak Perda (Gakda) pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Rembang mengultimatum pengelola kafe dan karaoke agar tidak meremehkan kebijakan Pemkab setempat.  Lanjutkan membaca