Tak Kapok Jual Miras, Ibu Paruh Baya Asal Kudus Dibui 2 Bulan

Kepala Satpol PP Kudus Djati Solechah saat melakukan penindakan miras di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang penjual sekaligus agen minuman keras (miras) asal Gebog terpaksa mendekam dalam jeruji besi selama dua. Ia terpaksa diseret ke ranah hukum, lantaran tak kapok berjualan minuman keras meski dalam masa hukuman percobaan.

Kepala Satpol-PP Kudus Djati Solechah menyatakan, penjual sekaligus agen miras tersebut bernama Nurhayati (54) warga Desa Besito RT 7 RW 7 Gebog. Dia harus dikurung berdasarkan Hasil Keputusan Sidang PN atas pelanggaran Perda Kab. Kudus No 12 Tahun 2004 ttg Minuman Beralkohol atas 2 (dua)  kasus hari ini Rabu,  30 Agustus 2017.

“Jadi biar kapok. Soalnya kalau hanya tipiring, ia akan menjual miras lagi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/8/2017).

Menurut dia, warga Gebog itu sudah beberapa kali tertangkap berjualan miras. Salah satunya saat penindakan tanggal 5 Juli 2017 lalu, Satpol PP berhasil menindak langsung di warung dan rumahnya.

Akibat hal tersebut, dia langsung diberikan hukuman tipiring dengan hukuman percobaan. Belum selesai masa hukumannya, dia kembali menjalankan aktivitas jualan miras di rumahnya. Satpol-PP pun menangkap kembali di rumahnya, usai upacara 17 an lalu

“Atas dasar itulah yang bersangkutan dibawa ke PN  untuk diproses. Dan akhirnya diputuskan kurungan dua bulan penjara,” ujarnya.

Dia berharap, dengan adanya penjual miras yang tertangkap akan membuat jera para penjual dan agen miras lainya. Sehingga Kudus akan benar-benar bebas dari miras.

Editor: Supriyadi

PKL Nantang Satpol PP Kudus, 2 Lapaknya Pun Dibongkar Paksa

Sejumlah petugas Satpol PP membongkar lapak PKL di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah petugas Satpol PP membongkar lapak PKL di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah petugas gabungan dari Satpol PP, Dishubkominfo dan Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus membongkar dua lapak PKL Senin (1/8/2016).

Kedua lapak tersebut, diketahui jika pemiliknya nantang. Yakni tidak mengindahkan peringatan yang sebelumnya telah disampaikan.

PKL yang dibongkar adalah PKL di jalan R Agil Kusumadya atau di dekat dengan DPRD Kudus ke selatan, dan di jalan Museum kretek. Di masing-masing tempat ada satu buah lapak yang dibongkar paksa.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengungkapkan, PKL tersebut berjualan di kawasan yang dilarangt.  Sebelumnya, pedagang sudah mendapat  peringatan. Tapi pemilik lapak belum juga membongkar.

“Keduanya terpaksa kami tertibkan lantaran pemilik tidak datang untuk membongkar. Untuk itulah kami terpaksa membongkarnya,” katanya.

Menurutnya, khusus untuk lapak yang terdapat di jalan Museum kretek, hasil bongkaran diminta pemilik. Sebab ketika usai bongkar, pemilik datang ke lokasi.

Sementara untuk di jalan R Agil, pemilik tak datang sampai pembongkaran lapak dilakukan. Bahkan hingga lapak berupa kayu dan atap dibawa ke kantor Satpol, tidak juga pemilik datang.

“Besar kemungkinan pemilik sudah meninggalkan lapak itu. Jadi tidak ada yang datang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sebenarnya ada lapak lainnya yang juga harus dibongkar. Namun para pemilik meminta negosiasi agar lapak dibongkar sendiri.

“Ada tiga lapak lain yang harusnya dibongkar namun tadi sudah tanda tangan perjanjian. Rencana maksimal 8 Agustus mendatang harus sudah bersih,” ungkapnya.

Dia menambahkan, patroli rutin akan terus digalakkan untuk menciptakan kondisi yang tertib dari PKL. Tidak hanya untuk patroli pada pagi dan siang hari saja yang dilakukan, melainkan pula pada malam hari.

Editor : Akrom Hazami

 

Kepala Satpol PP: Jangan Beri Uang ke Pengemis

kudus-pengemis maneh (e)

Kawasan Menara Kudus yang sepi dari aktivitas peziarah di bulan puasa, membuat pengemis berpindah lokasi dalam mencari penghasilan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Meski tidak lagi berada di lokasi-lokasi wisata yang ada di Kudus ini selama puasa, namun pengemis tidak kehilangan akal dengan mencari sasaran baru untuk mendapatkan uang.

Salah satunya adalah dengan mendatangi rumah warga satu persatu. Inilah yang kemudian membuat gemas Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil. Dia bahkan mengimbau warga untuk tidak memberi uang ke pengemis.

Halil mengatakan, ada alasannya kenapa dirinya mengimbau kepada warga untuk tidak memberikan sumbangan atau uang kepada pengemis. Hal itu mengingat banyaknya pengemis yang beroperasi di Kudus ini, yang ternyata tidaklah semiskin yang dikira banyak orang.

”Banyaknya pengemis di wilayah Kudus, harus disikapi. Salah satunya, banyak yang kemudian penghasilannya sangat tinggi dari hasil mengemis. Makanya, saya imbau supaya warga tidak memberikan uang atau sumbangan ke pengemis,” terangnya.

Halil mengatakan, pihaknya terus melakukan patroli dan razia terhadap pengemis. Namun, pihaknya membutuhkan peran aktif masyarakat untuk membantu petugas yang ada.

Menurutnya, memang warga biasanya memberikan uang kepada pengemis, dengan alasan memberi amal atau sedekah. ”Tapi, sedekah dapat dilakukan dengan banyak hal. Misalnya untuk masjid, atau untuk anak yatim piatu, atau lainnya. Kalau untuk pengemis, nanti dululah,” katanya.

Partisipasi masyarakat memang sangat diharapkan pemerintah. Khususnya dengan tidak memberikan uang kepada pengemis. Sebab, dengan memberikan uang, akan membuat senang para pengemis itu sendiri.

”Mereka tidak akan kapok, dan akan terus mengemis. Bayangkan saja, ada yang sehari mendapatkan Rp 200 ribu. Kalau sebulan berapa coba. Dan jumlahnya menjadi semakin banyak, karena banyak yang ingin juga dapat uang banyak setiap harinya. Makanya pilih mengemis,” imbuhnya.

Editor: Merie

Satpol PP Diam-Diam Sedang Incar PGOT Kudus

Jpeg

Petugas Satpol PP melakukan penertiban PGOT. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satpol PP Kudus sedang memantau pergerakan Pengemis, Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT). Sebab, saat ini mereka terus berpindah-pindah operasinya.

Kasi Tibum Tranmas Satpol PP Kudus Sukrin Subiyanto mengatakan, para PGOT kini bergerak berpencar di beberapa titik.

“Alasan PGOT pindah-pindah sekarang, karena tempat wisata religi seperti  Menara Kudus sedang sepi peziarah. PGOT pun berpencar. Mereka tidak lagi berkelompok lagi,” kata Sukrin.

Pihaknya akan terus berkeliling dan berpatroli untuk menyasar ke sejumlah tempat yang biasa jadi lokasi mereka. Seperti halnya terminal dan pasar.

Bila PGOT di tempat itu ditertibkan, maka petugas akan mudah untuk merazia.

“Kalau PGOT berkelompok kan bisa mudah merazianya. Bahkan bisa menertibkannya dan dibawa ke kantor satpol PP,” ujarnya.

Setelah itu, PGOT akan dibawa ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk dibina.

Sementara itu, untuk bisa memaksimalkan razia tesebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Supaya bisa melaporkan keberadaan PGOT tersebut.

“Kita akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Baik itu pihak terminal atau juga dengan pengelola pasar,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ekonomi jadi Alasan Wanita Setengah Baya Ini Tetap Nekat jadi PSK

f-psk 2

  MuriaNewsCom, Kudus – Seorang perempuan setengah baya, SY (48) yang merupakan pekerja seks komersial (PSK) terjaring razia Satpol PP Kudus ketika kedapatan mangkal di depan Kantor PMI Jati, Kudus, pada Kamis (9/6/2016) malam.

Dalam pengakuannya, SY yang merupakan warga Wirosari, Grobogan, tersebut nekat masih menjadi PSK karena alas an ekonomi yang sulit. Untuk itu, dia nekat masih sering mangkal di beberapa lokasi yang ada di Kudus.

“Alasannya karena terpaksa, masalah ekonomi yang kurang membuat dirinya menekuni dunia gelap menjadi PSK. Dia terdesak kebutuhan keluarga, begitu pengakuannya,” kata Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil kepada MuriaNewsCom.

Alasan seperti itu, menurutnya bukan kali pertama disampaikan PSK ketika terjaring razia. Sebelum-sebelumnya, katanya, saat patroli dan mendapatkan PSK, maka alasan yang dikeluarkan menjadi PSK adalah masalah ekonomi.”Bukan hanya PSK, para pemandu karaoke (PK) juga demikian. Mereka mengaku masalah ekonomi hingga akhirnya bekerja sebagai PK,” ujarnya.

Menurutnya, kebanyakan dari mereka yang memilih jalan tersebut karena korban permasalahan di dalam rumah tangga. Untuk itulah mereka sampai terjun menjadi PSK.

Editor : Kholistiono

 

Kedapatan Mangkal, PSK Asal Grobogan Digaruk Satpol PP Kudus

Seorang pekerja seks komersial saat dimintai keterangan di Kantor Satpol PP Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pekerja seks komersial saat dimintai keterangan di Kantor Satpol PP Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

  MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus berhasil mengamankan satu orang pekerja seks komersial (PSK) yang kedapatan sedang mangkal di depan Kantor PMI, Kecamatan Jati, Kudus pada Kamis (9/6/2016) malam.

Kepala Satpol PP kudus Abdul Halil mengungkapkan, pihaknya pada malam tadi melakukan Operasi Cipta Kondisi, dan ketika sampai di depan PMI Kudus, menjumpai seorang PSK yang sedang mangkal, dengan pakaian yang serba minim. Kemudian, petugas langsung membawa PSK tersebut ke Kantor Satpol PP untuk dilakukan pembinaan.

“Saat kami patroli rutin, kami menjumpai seorang wanita yang merupakan PSK. Akhirnya wanita tersebut kami bawa ke mobil patrol untuk dibawa ke kantor. Pada operasi ini, kami hanya mendapatkan satu orang saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, PSK itu berinisial SY (48) warga Wirosari, Grobogan. Wanita itu, katnaya biasa mangkal di sejumah tempat di Kudus, di antaranya depan Kantor PMI. Dari pengakuan SY, dirinya memang sering mangkal di tempat tersebut, namun baru kali ini terjaring razia yang dilakukan oleh petugas Satpol PP.

Selama Ramadan ini, petugas Satpol PP  baru kali pertama menjaring PSK. Namun menjelang Ramadan lalu, beberapa PSK sudah terjaring razia dalam operasi penyakit masyarakat. “Pelaku  kami minta surat perjanjian untuk tidak mengulangi. Jika terbukti, maka kami akan melakukan proses yang lebih jauh lagi ke  ranah hukum,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Satpol PP Kudus Ingin Ajak DPRD Razia Penyakit Masyarakat

satpol e

Satpol PP Kudus saat melakukan kegiatan. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keinginan DPRD Komisi B selama Ramadan ditanggapi serius oleh para SKPD. Bahkan, anggota dewan sampai ditawari untuk melakukan razia.

Hal itu disampaikan Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil. Menurutnya anggota dewan bisa ikut berpatroli dan razia penyakit masyarakat selama Ramadan. Biar anggota DPRD tahu kondisi di lapangan.

“Jadi silakan anggota dewan untuk ikut berpatroli dan razia. Kapan kapan dapat diagendakan untuk melakukan   penertiban bersama sama,” kata Halil saat pertemuan dengan DPRD, Jumat (3/6/2016).

Menurutnya, patroli rutin juga sudah dia dilakukan bersama anggota. Bukan hanya patroli biasa, namun razia kafe yang disalahgunakan izinnya. Bahkan, kata dia, pihaknya juga sudah menyurati terkait hal itu. Hanya, hal itu belum juga maksimal lantaran adanya perda yang lemah sehingga tidak membuat pelaku jera.

“Kami terus razia, tapi mereka tidak juga kapok. Dan belakang razia malah kami tingkatkan dengan adanya penemuan beberapa PSK yang tertangkap,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pedagang Miras Kudus Terancam Selama Ramadan

satpol e

Kepala Satuan Polisi Pamong  Praja (Satpol PP) Kudus Abdul Halil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Satuan Polisi Pamong  Praja (Satpol PP) Kudus Abdul Halil berjanji bakal memaksimalkan razia penyakit masyarakat saat bulan puasa nanti.

“Untuk memaksimalkan razia di bulan Ramadan, memang kita akan menyasar kepada minuman keras atau penyakit masyarakat lainnya yang ada di Kudus,” katanya.

Dia menilai, untukmenggelar kegiatan tesebut membutuhkan kinerja yang baik. Terlebih personel Satpol PP Kudus terbatas. Yakni hanya 73 orang.

Dari jumlah 73 orang tersebut, 18 personel di antaranya merupakan petugas lapangan. Jumlah itulah yang dituntut bekerja maksimal di lapangan. Termasuk menggelar razia.

“Kita akan memaksimalkan 18 personel yang ada di lapangan tersebut. Biar razia lancar. Selain itu, kita juga akan bekerjasama dengan pihak lain. Seperti halnya RT, RW, perangkat desa, kepala desa hingga pihak kecamatan. Supaya jajaran tersebut bisa membina masyarakatnya. semilsal tidak menjual minuman keras atau berbuat negatif selama bulan puasa,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Dianggap Pengganggu, Satpol PP Kudus Gencar Razia Anak Jalanan

anak jalanan e

Sejumlah anak jalanan saat dirazia Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan razia yang ditujukan kepada anak jalanan, belakangan di tingkatkan. Hal itu terkait dengan adanya laporan dan keluhan masyarakat keberadaan anak jalanan di Kudus.

Supriyadi, petugas Satpol PP mengatakan kegiatan patroli dilakukan tiap hari. Bahkan bukan hanya siang hari, melainkan pada malam hari juga dilakukan patroli.

“Keberadaan anak.jalanan belakangan sangat banyak, sehingga banyak yang merasa terganggu keberadaannya. Sehingga, sudah menjadi tugas kami untuk menindaknya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, para anak jalanan dianggap menunggu karena suka berbuat seenaknya. Mereka juga bergerombol dan terlihat seperti “preman”. Itulah yang membuat masyarakat takut, terlebih dengan dandanan yang terkesan sangar.

Banyaknya anak jalanan terlihat dari banyaknya yang ditangkap. Selama bulan ini, lebih dari 10 anak jalanan yang sudah diamankan. Semuanya sudah diberikan pembinaan dan dibuatkan perjanjian untuk tidak mengulanginya lagi.

Kasi Tibum Tranmas Satpol PP Kudus Sukrin S mengungkapkan, hampir tiap pekan selalu mendapatkan anak jalanan dalam razia yang dilakukan. Semuanya, langsung diberikan pembinaan dan untuk diberikan kepada Dinsos untuk pembinaan lanjutan.

“Rata-rata orang Kudus, meskipun terdapat yang luar kota namun mereka bergerombol,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Cerita Miris Anak Jalanan Putri di Kudus Ini

miris (e)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Anak jalanan yang ditangkap Satpol PP Kudus belakangan, bukan hanya pria, namun juga terdapat anak jalanan berjenis kelamin perempuan, yang juga ditertibkan.

Ironisnya, anak jalanan perempuan ada yang mengaku sudah tidak perawan lagi. Padahal masih di bawah umur. Parahnya lagi, anak jalanan tersebut mengaku melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sesama anak jalanan.

Supriyadi, petugas Satpol PP Kudus menerangkan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan ditemukan hal demikian. Kebanyakan mereka yang sudah tidak perawan melakukan hubungan badan dengan paksaan, atau tidak sadarkan diri.

“Ada yang diberikan minuman dulu, ada pula yang dipaksa temannya hingga akhirnya suka sama suka,” katanya kepada MuriaNewsCom

Seperti misalnya Kembang (bukan nama sebenarnya), juga mengalami hal semacam itu. Dia yang baru berusia 14 tahun harus merelakan keperawanan oleh teman sesama anak jalanan lantaran mabuk.

Dia merupakan warga Kudus, Kecamatan Kota. Dihadapan petugas, kata Supriyadi, Kembang menangis dan menyesal telah berbuat hingga sejauh itu.

“Bahkan ada yang sampai perut nya sudah besar, kami memberikan pengarahan kalau hal itu salah. Bahkan bisa berdampak fatal di kemudian hari,” ujarnya.

Dia berharap hal itu tidak akan terulang sehingga tidak ada yang dirugikan atau penyesalan di kemudian hari.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Aksi Kejar-kejaran Warnai Penangkapan 3 Anak Jalanan di Kudus

Tiga anak jalanan yang berhasil diamankan dengan susah payah dimintai keterangan oleh petugas Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Tiga anak jalanan yang berhasil diamankan dengan susah payah dimintai keterangan oleh petugas Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga anak jalanan yang diamankan Satpol PP Kudus pagi tadi, sebelumnya tidak langsung tertangkap. Petugas pun harus melakukan kejar kejaran terlebih dahulu hingga menjadi pusat perhatian warga sebelum diamankan.

“Para anak jalanan tersebut lari dan masuk ke perkampungan hingga dekat dengan sekolah. Hal itu membuat siswa dan guru sampai keluar untuk menyaksikan hal tersebut,” kata Kasi Tibum Tranmas pada Satpol PP Kudus Sukrin S kepada MuriaNewsCom

Ketiga anak jalanan tersebut tertangkapnya tempat yang berbeda. Mereka berlarian untuk menyebabkan diri, meski pada akhirnya masih tertangkap petugas.

Seperti halnya MAC (17) asal Puri, dia lari hingga masuk rumah warga dan bersembunyi di belakang pintu. Namun petugas yang mengetahuinya langsung membawanya ke kantor untuk diberikan pembinaan.

Sedangkan AS (16) perempuan asal Grobogan lebih malah lebih parah lagi. Saking takutnya dengan petugas, dia lari terbirit birit hingga masuk kamar warga. Beruntung penilik rumah tidak meneriakinya maling sehingga petugas dapat mengamankannya.

”Kalau yang paling kecil DIR (14) juga tak kalah lucu. Dia bersembunyi dibalik pot bunga yang banyak bunga. Petugas mendapatkannya lantaran jambul rambut yang berwarna merah kelihatan,” imbuhnya

Sebenarnya, anak jalanan yang berhamburan sejumlah lima anak. Namun, yang tertancap hanya tiga dan dua lainnya berhasil mengamankan diri.

”Operasi itu kami lakukan Dalam rangka menyelenggarakan tibum dan tranmas sesuai amanat pasal 225 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, telah melakukan patroli rurin. Selain itu, juga sesuai amanat pasal 255 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Kena Razia Satpol PP, 3 Anak Jalanan di Kudus Dihukum Jalan Sambil Jongkok 

Video – Kena Razia Satpol PP, 3 Anak Jalanan di Kudus Dihukum Jalan Sambil Jongkok

 

MuriaNewsCom, Kudus – Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) kembali mengamankan tiga anak jalanan saat melakukan giat operasi PGOT, Jumat (13/5/2016), pagi tadi. Ketiga anak jalanan yang tertangkap, dihukum petugas dengan cara disuruh jalan sambil jongkok.

Supriyadi, petugas Satpol PP yang melakukan razia mengatakan, ketiga anak jalanan diberikan hukuman bukanlah tanpa sebab. Hal itu dilakukan untuk memberikan efek jera agar anak jalanan kapok.

”Memang kami berikan hukuman agar dapat berubah. Jadi supaya mereka kapok sehingga tidak lagi menjadi anak jalanan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia menyebutkan, ketiga anak jalanan ditangkap di jalan Ahmad Yani, sekitar pabrik Djarum. Ketiga anak jalanan yang ditangkap itu, terdiri dari dua anak laki laki dan satu perempuan.

Ketiga anak jalanan tersebut, adalah MAC (17) warga Puri, Kabupaten Pati. AS (16) perempuan asal Grobogan, dan DIR (14) asal Grobogan. Mereka mengaku menjadi anak jalanan dengan tujuan mau ke Jepara.

“Jadi saat patroli rutin pagi tadi, malah menjumpai mereka, akhirnya kami menangkap mereka karena meresahkan masyarkat. Laporan terkait urat juga sering muncul,” imbuhnya.

Sementara itu, DIR anak jalanan paling kecil mengaku memilih menjadi anak jalanan setelah dibujuk AS. ”Saya dibujuk AS, katanya dengan menjadi anak jalanan bisa mudah kemana saja,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Konvoi Kelulusan Siswa SMP di Kudus Nanti Akan Dibuat Kocar-kacir

Jpeg

Sejumlah siswa SMA yang merayakan kelulusan dirazia petugas. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satpol PP Kudus siap bekerja sama dengan polisi dan instansi lainnya yang akan merazia konvoi kelulusan siswa. Terutama konvoi kelulusan siswa SMP nanti.

Hal itu sebagai bentuk tindakan satpol PP mengingat konvoi kelulusan dengan sepeda motor berknalpot bising, mengganggu kondusivitas masyarakat. Apalagi berkaca dari konvoi siswa SMA, ditemukan juga adanya minuman keras dan kondom saat razia digelar, Sabtu (7/5/2016).

Kasi Tibum Tranmas Satpol PP Kudus Sukrin Subiyanto mengatakan, pihaknya siap diajak kerja sama saat kegiatan razia konvoi kelulusan siswa. “Kita senang, siap jika bisa menertibkan itu,” kata Sukrin.

Dia menilai, konvoi kelulusan siswa dengan mengendarai sepeda motor atau kendaraan berknalpot bising, termasuk menggangu ketertiban umum dan ketentraman masyarakat sekitarnya. Termasuk mengganggu pengendara yang lain.

“Jika nanti pengumuman kelulusan tingkat SMP. Besar kemungkinan konvoi kelulusan yang dilakukan seperti tingkat SMA,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Tak Tahan Ingin Mesum di Taman Kota di Kudus, Lampu Pun Dirusak

Razia Satpol PP Kudus di salah satu taman kota yang ada di Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Razia Satpol PP Kudus di salah satu taman kota yang ada di Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus geram akibat taman kota kerap jadi tempat pacaran sejoli. Oleh karenanya, Satpol PP Kudus selalu mengintensifkan razia di bebarapa taman yang ada di Kudus.

Kasi Tibum Tranmas Satpol PP Kudus Sukrin Subiyanto mengatakan, pihaknya akan selalu mengelar razia di sejumlah taman kota. “Sebab taman itu bukan untuk tempat pacaran,” kata Sukrin kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/5/2016).

Dia melanjutkan, razia itu biasanya digelar di sejumlah taman. Di antaranya Taman Ganesha, Taman Gondang Manis, Taman Jati, Taman Adipura, dan lainnya. Seringnya taman jadi tempat pacaran tidak lepas pula dari minimnya penerangan. Termasuk juga, ada oknum yang sengaja mematikan lampu taman dengan merusaknya. Supaya leluasa berduaan.

Karenanya, satpol PP juga berkoordinasi dengan Dinas Cipkataru. Agar lampu taman kota diperbanyak, dan diperbaiki bila ada yang rusak. Dari data mereka, tercatat selama 2016, yaitu dari Januari hingga Mei, pihaknya sudah merazia 15 sampai 20 orang pasangan.

Bahkan, mereka juga harus menandatangani surat pernyataan bermaterai. Serta, jika ingin pulang, mereka wajib dijemput orang tua dengan menyertakan surat bertanda tangan RT, RW, dan kepala desa sesuai domisili.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Kudus Upayakan Perda Narkotika Tuntas Tahun Ini

Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penyusunan Peraturan Daerah (Perda) tentang Narkotika yang digagas Pemkab Kudus, diupayakan tuntas tahun ini. Sehingga, diharapkan pada tahun depan perda sudah dapat diterapkan.

Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah mengungkapkan, saat ini perda masih dalam rancangan penyusunan draf. Namun tidak lama lagi rancangan itu akan diteruskan kepada bagian hukum untuk dikaji.

”Beberpa waktu lalu sudah dilakukan pengkajian naskah akademik, kami menggandeng pakar hukum UMK yakni pak Subarkah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Tahapan selanjutnya, setelah selesai penyusunan adalah diberikan kepada bagian hukum. Di sana, akan dikaji terkait apa yang tercantum dalam perda baru tersebut atau lebih disempurnakan.

”Setelah itu baru diajukan kepada pihak dewan, untuk dilakukan pembahasan terkait perda baru ini,” tambahnya yang juga Plt Sekwan Kudus.

Dia berharap, dengan usaha yang rutin akan mampu menyusun perda dalam waktu yang singkat. Karena itu berharap tahun ini dapat terselesaikan.

”Ini merupakan perda yang baru, sebelumya kami belum ada sehingga perencanaan menjadi agak panjang,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Siap-siaplah, Satpol PP Kudus Bakal Ikut Perangi Narkoba

Kepala Kesbangpol Kudus, Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Kesbangpol Kudus, Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam waktu dekat ini, Satpol PP bakal mendapatkan tugas baru dalam menegakkan perda. Hal itu sesuai dengan kebijakan Pemkab Kudus, yang sedang menggagas adanya perda baru tentang Narkotika.

Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah mengungkapkan, perda tersebut merupakan Amanat UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Selain itu, perda tersebut juga terusan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 21 tahun 2013 tentang fasilitasi pencetakan penyalahgunaan narkotika.

”Jadi nanti satpol PP dalam menindaklanjuti perda yang dibuat. Sehingga ketika ada hal yang bersangkutan dengan narkotika, dapat dilakukan penindakan sesuai perda ini,” kata Kepala Kesbangpol Djati Sholechah, kepada MuriaNewsCom

Dia membocorkan, perda tersebut bukan hanya pada penindakan semata. Melainkan pula pada pencegahan dan pengobatan. Sehingga juga melibatkan instansi lainnya dalam menerapkannya.

Ia menambahkan, dalam perda juga membahas fasilitasi pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkotika, serta psikotropika dan zat lainnya.

”Selama ini Polres Kudus sudah menjalankan tugas dalam bidang narkotika. Ke depan, dapat dilakukan kerja sama dalam penanganannya,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Jelang Dandangan Kudus, PGOT Akan Ditertibkan  

Beberapa PGOT yang dirazia Satpol PP di jalan Sunan Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa PGOT yang dirazia Satpol PP di jalan Sunan Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus akan memantau pergelaran Dandangan. Sebab, pada momen tersebut para Pengemis, Gelandangan, dan Orang Terlantar (PGOT)  biasa berkeliaran.

Keberadaan mereka di lokasi Dandangan biasanya meresahkan masyarakat. Karenanya, Satpol PP segera melakukan aktivitas antisipasi penanganan sejak sekarang. Tujuannya agar pencegahan bisa dilakukan.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil melalui Kasi Tibum Tranmas Sukrin Subiyanto mengatakan, dalam even Dandangan itu, pihaknya akan terus mengintensifkan patroli.”Keberadaan PGOT maupun anak  punk bisa tersisir dengan baik,” kata Sukrin.

PGOT tersebut pasti bakal memanfaatkan even Dandangan itu. Terlebih even Dandangan juga bertepatan dengan bulan Syaban atau Ruwah. Saat jumlah peziarah di makam Sunan Kudus sedang meningkat  luar biasa. Jika keberadaan PGOT dibiarkan, maka dikhawatirkan akan mengganggu peziarah.

“Memang tempat wisata itu tempatnya PGOT berkumpul. Oleh karenanya saya akan terus berupaya berkoordinasi dengan tim supaya bisa menertibkan PGOT tersebut,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan terus menyisir objek wisata yang ada di Kudus lainnya. Terutama objek wisata religi. Dia menambahkan, dalam razia tersebut Satpol PP berharap warga bisa ikut melaporkan keberadaan PGOT. Supaya Satpol PP bisa melacak keberadaan PGOt. “Jadi akan tepat sasaran,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Razia Orang Pacaran, Satpol PP Kudus Malah Dapat yang Seperti Ini

Petugas Satpol PP Kudus mendapat sepeda milik pengemis saat berburu muda-mudi yang memadu kasih di taman. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Satpol PP Kudus mendapat sepeda milik pengemis saat berburu muda-mudi yang memadu kasih di taman. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya keluhan masyarakat terkait keberadaan taman di Kudus yang dijadikan sebagai tempat muda-mudi memadu kasih alias pacaran akhirnya membuat Satpol PP Kudus bertindak.

Kamis (5/5/2016) malam, puluhan petugas perda tersebut mengelilingi taman di Kota Kretek dengan target muda-mudi. Setelah mengelilingi semua taman di sudut-sudut Kabupaten Kudus, bukannya pasangan muda-mudi yang didapat, melainkan sepeda milik seorang pengemis di Kudus.

”Target kami memang pasangan muda-mudi yang pacaran di taman. Tapi setelah melakukan razia keliling Kabupaten Kudus, kami tak mendapatkannya. Justru kami mendapat sepeda seorang pengemis,” kata Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil, Jumat (6/5/2016).

Kejadian lucu tersebut bermula saat petugas memeriksa salah satu taman di desa Kencing. Tiba-tiba saja, ada pengemis yang langsung lari tunggang langgang karena melihat petugas operasi.

”Pengemisnya malah lari terbirit birit melihat kami datang. Sepedanya pun ditinggal begitu saja di taman itu,” katanya kepada MuriaNewsCom

Setelah kehilangan jejak pengemis, kata dia, sepeda milik pengemis akhirnya dibawa ke kantor Satpol PP. Hal itu dilakukan agar yang bersangkutan dapat datang untuk mengambil dan diberikan pembinaan.

”Kami persilahkan untuk diambil kembali. Silahkan datang ke kantor,” ungkapnya.

Halil menambahkan, sebenarnya lokasi kencing merupakan titik terakhir operasi. Sebelum nya petugas melakukan operasi di sejumlah taman di Kudus. Mulai Gondangmanis, Menara, Ganesha dan taman lainya yang diduga digunakan untuk pacaran.

”Namun sesampainya di lokasi kencing, yang didapat adalah itu, sepeda milik pengemis,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Jadi Tempat Pacaran, Satpol PP Bakal Razia Taman di Kudus Tiap Malam

Petugas Satpol PP Kudus melakukan razia di sejumlah taman di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Satpol PP Kudus melakukan razia di sejumlah taman di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus mulai menggencarkan razia bagi muda-mudi yang memadu kasih di taman. Itu dilakukan lantaran, banyak masyarakat yang terganggu dengan aksi muda-mudi yang sering kelewat batas tersebut.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, razia yang dilakukan petugas saat ini difokuskan di taman-taman. Selain orang pacaran, yang di sasar adalah PGOT yang juga kerap meresahkan masyarakat.

”Iya kita masih rutin melakukan operasi, semua taman dan tempat keramaian kami datangi untuk menciptakan suasana yang aman,” katanya kepada MuriaNewsCom

Operasi yang digelar, lanjutnya, akan dilakukan setiap malam. Saat ini petugas yang ada sudah terbagi dalam tim berkeliling satu tempat ke tempat lainnya untuk memastikan semua aman.

”Kita memberikan efek jera, jadi jika kami sering datangi, mereka yang suka memanfaatkan lokasi untuk hal yang kurang pas akan kapok. Sehingga suasana tertib akan muncul,” ujarnya.

Mengenai prosesnya, petugas biasanya mendatangi satu taman ke taman lainnya. Kemudian, petugas menyisisir ke dalam taman untuk memastikan lokasi itu aman.

Dia mengaku banyak keluhan dari masyrakat tentang penggunakan fasilitas umum untuk hal hal yang kurang pas. Untuk itulah petugas datang guna menertibkannya ”Sejauh ini masih aman, namun kedepan akan kami tingkatkan ahar benar benar tertib,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

 

5 Anak Punk Panik Dikejar Satpol PP Kudus

Jpeg

Petugas Satpol PP meminta keterangan dari anak punk yang ditertibkan di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Kudus – Sekitar lima orang anak punk panik saat dikejar petugas Satpol PP Kudus, Rabu (4/5/2016) pagi. Mereka dikejar saat sedang mengamen di Jalan Sunan Kudus, atau perempatan Jember Kudus.

Begitu mengetahui keberadaan petugas, kelimanya berhamburan lari. Namun petugas lebih sigap. Sehingga satu persatu anak punk tertangkap. Mereka diamankan petugas karena laporan warga yang menyatakan resah dengan keberadaan anak punk.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil melalui Kasi Tibum Tranmas Sukrin Subiyanto mengatakan, razia anak punk tadi dilakukan dengan menyisir di jalan perkotaan. “Setelah itu, kita bisa menertibkan ke-5 anak punk yang sedang mengamen di Jalan Sunan Kudus,” kata Sukrin.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, kelima anak punk tersebut tiga di antaranya beralamatkan di Kudus dan dua lainya dari Demak. Kelima anak itu adalah KDA (15) dari Kaliwungu Kudus, RR (17) Bonang Demak, DPR (17) Wonosalam Demak, AR (16) Jurang Gebog, ARF (19) Janggalan Kudus.

Semantara dalam penertiban tersebut, pihaknya menyita beberapa alat mengamen dan peralatan lainnya. “Barang yang berhasil kita sita yakni tiga buah gitar, satu ketipung yang terbuat dari pipa air, ikat pinggang, gunting,” ujarnya.

Semantara itu, penanganannya, Satpol PP akan menyerahkan kelima anak punk tersebut ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Razia dilakukan untuk menegakan Perda tentang Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban.

Editor : Akrom Hazami

Membandel, Pengemis Menara Tetap Saja Beroperasi

Petugas Satpol PP merazia gelandangan dan pengemis yang ada di kawasan Menara Kudus. Meski sudah berulangkali dilakukan razia, namun mereka masih membandel. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Satpol PP merazia gelandangan dan pengemis yang ada di kawasan Menara Kudus. Meski sudah berulangkali dilakukan razia, namun mereka masih membandel. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satpol PP Kudus kembali menggelar razia untuk pengemis gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di Kudus. Hal itu dilakukan lantaran keberadaan PGOT sudah banyak meresahkan masyarakat.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, kegiatan razia PGOT sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Razia dilakukan diutamakan tempat keramaian, atau sekitar kompleks Menara Kudus.

”Saat ramai peziarah atau pengunjung menara, kami lebih tingkatkan razia. Dari hasil penindakan, tertangkap sembilan pengemis menara yang bisa kami amankan,” katanya, Kamis (28/4/2016).

Kesembilan pengemis itu berasal dari warga Demaan. Mereka adalah Kapol (35), Sumirah (60), Nita (30), Siti (27), Sukini (36), Zulaikah (64), Pi’ah (24), Munzainah (28), dan Nor Hidayah (28).

Kesembilan pengemis itu, langsung dilakukan pembinaan. Hal itu dilakukan sesuai dengan aturan, yakni Perda Nomor 10 Tahun 1993 tentang K3. Selain itu, razia ini juga untuk melindungi peziarah.

”Tujuannya adalah untuk memberikan rasa aman dan nyaman para pengunjung kompleks makam Sunan Kudus. Khususnya juga bagi para peziarah di kawasan menara,” jelasnya.

Dia menambahkan, pihaknya akan semakin rutin melakukan razia. Dengan demikian maka pengunjung menara juga semakin merasa aman, selama berada di sana.

Editor: Merie

Ratusan Botol Miras Disita dari Warung di Kudus

Jpeg

Petugas Satpol PP memegang miras hasil sitaan di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus  – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus menggiatkan razianya yang terkait dengan penyakit masyarakat.

Salah satu contoh yang dilakukan Satpol PP tersebut yakni merazia sejumlah warung, Senin (25/4/2016). Hasilnya, ratusan botol miras disita.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, pihaknya mendapatkan sebanyak 520 botol miras dari berbagai merek. Di antara warung yang dirazia di Jalam Niti Semito Sunggingan dan di Desa Tanjungkarang, Jati. “Dari warung di Jalan Niti Semito disita 347 botol. Di toko yang ada di Tanjungkarang disita 173 botol,” kata Halil.

Total yang disita dalam kegiatan saat itu sekitar 520 botol miras. Jumlah itu lebih banyak dari hasil sitaan di kegiatan lalu. Jumlahnya hanya 370 botol miras.

Satpol PP melakukan kegiatan berdasarkan Perda Nomor 12 tahun 2004 tentang Minuman Berakohol di Kudus. Mereka berharap, peredaran miras bisa ditekan.

Editor : Akrom Hazami

 

Satpol PP Kudus Pertimbangkan Bakal Bentuk Bagian Intel di Kesatuannya

Pansus I LKPj Bupati saat sidak ke Kantor Satpol PP Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pansus I LKPj Bupati saat sidak ke Kantor Satpol PP Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satpol PP Kudus mengakui tidak adanya bagian intel dalam kesatuannya membuat kinerjanya kurang terprogam. Namun, soal penindakan yang dilakukan dipastikan tidak akan kendor.

Hal itu disampaikan Kasi Penegak Perda Purnomo saat Pansus I LKPj Bupati sidak kemarin. Menurutnya, selama ini memang tidak ada bagian intel dalam Satpol PP.

“Belum pernah ada, nantinya dapat dipertimbangkan apa yang menjadi masukan dari pihak pansus ini,” katanya

Meski demikian, pihaknya memastikan tidak ada kendala yang berarti terkait penindakan yang dilakukan Satpol PP. Sebab, selama ini penindakan sudah rutin dilakukan oleh para petugas.

Penindakan yang dimaksud, mulai dari penertiban spanduk yang ilegal dan kedaluwarsa, penindakan miras di toko dan warung, hingga penindakan galian C dan karaoke.

“Kami rutin melakukan penindakan,bahkan setiap hari kami melakukan patroli keliling Kudus. Hal itu dilakukan untuk menegakkan aturan di Kudus,” ujarnya.

Dalam sidak yang dilakukan Pansus I LKPj Bupati, anggota dewan diajak ke gudang untuk melihat hasil penindakan. Disana banyak baliho serta miras hasil penertiban beberapa waktu lalu.

Editor : Kholistiono

Anggota Dewan Bilang Satpol PP Butuh Intel

 

 

Anggota Pansus I DPRD Kudus saat melakukan peninjauan langsung ke kantor Satpol PP Kudus, Kamis (14/4/2016).(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Anggota Pansus I DPRD Kudus saat melakukan peninjauan langsung ke kantor Satpol PP Kudus, Kamis (14/4/2016).(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pansus I DPRD Kudus melalukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satpol PP. Hasilnya adalah, Pansus I memberikan masukan agar menambahkan seksi intel pada Satpol PP Kudus.

Ketua Pansus I Mardijanto mengatakan, untuk Satpol PP sebenarnya sangat membutuhkan adanya yang membidangi intel. Dengan demikian, maka dalam menjalankan progam dan informasi dapat lebih tertata.

”Selama ini tidak pernah ada intel. Padahal posisi intel sangat dibutuhkan di sana. Jika tidak ada, maka dalam melaksanakan tugas kurang terprogram,” katanya.

Dia mencontohkan seperti yang dilakukan sekarang. Satpol PP sudah melakukan tugasnya dengan menindak miras dan baliho yang ilegal. Hal itu dianggap kurang, dengan tidak adanya bidang intel di sana.

Sehingga, Satpol PP terkesan hanya bertindak ketika ada laporan saja. Sedangkan dengan adanya intel, maka dapat membuat informasi lebih tertata dan dapat dikembangkan dari apa yang ditemukan di lapangan.

”Namun jangan hanya jabatan intel saja yang didapat. Melainkan juga dengan orangnya yang pas dan mendukung pemerintah. Jangan malah intel yang suka bermain sendiri dan mengancam warganya,” ujarnya.

Dia berharap masukan itu dapat ditindaklanjuti. Mengingat pentingnya peran Satpol PP dalam menegakkan aturan di Kudus. Dia juga berharap dalam menindak dapat diturunkan, tidak hanya jika terdapat laporan saja.

Editor: Merie

Satpol PP Kudus Bakal Terus ‘Hantui’ Pengunjung Tempat Karaoke

Petugas Satpol PP Kudus berhasil mengamankan ratusan botol miras dari beberapa kafe di Kudus. Ke depan, Satpol PP berjanji bakal terus melakukan penertiban (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Satpol PP Kudus berhasil mengamankan ratusan botol miras dari beberapa kafe di Kudus. Ke depan, Satpol PP berjanji bakal terus melakukan penertiban (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus terus melakukan penertiban tempat karaoke dan kafe yang ada di Kudus. Untuk meminimalisasi adanya tempat karaoke di Kudus, salah satu cara yang dilakukan petugas Satpol PP adalah dengan “menghantui” pengunjung.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, ketika razia ke tempat karaoke, petugas akan mendata pengunjung. Hal itu diharapkan mampu membuat pengunjung berpikir dua kali, sebelum kembali ke tempat yang jelas melanggar aturan.

“Jika dengan cara seperti itu masih kurang belum maksimal, maka kami juga melakukan pembinaan kepada para pengunjung. Pembinaan dilakukan dengan memberitahu pengunjung, terkait larangan mendatangi tempat karaoke,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dengan cara demikian, pihaknya menilailebih ampuh dalam memberantas kebiasaan warga untuk karaoke di kafe yang menyediakan PK atau layanan plus-plus. Dalam hal ini, pihaknya menghindari untuk menggunakan cara kekerasan dan lebih ke sanksi sosial.

“Kalau pengunjung sudah tidak ada yang datang, karena kapok ditegur dan dibina, maka tempat karaoke otomatis akan tutup dengan sendirinya. Itu lebih damai ketimbang pakai otot,” ujarnya.

Sayangnya, pada saat penertiban tempat karaoke dan kafe dilakukan, pihaknya kerap kali menemui kendala yang klasik. Setelah petugas datang ke satu tempat karaoke dan kafe untuk razia, biasanya tempat tersebut tutup, dan disinyalir operasi bocor.

“Sekarang teknologi sudah canggih. Sehingga ketika ada razia di tempat karaoke atau kafe, terkadang kafe lain buru-buru tutup, karena informasi sudah tersebar. Sehingga, petugas tidak maksimal ketika razia,” ungkapnya.

Meski demikian , pihaknya memastikan bakal menertibkan semua kafe dan karaoke. Berbagai cara telah dirancang untuk menertibkannya.

Editor : Kholistiono