Panitia Kurban di Grobogan Dibekali Cara Penyembelihan Hewan Kurban 

Puluhan panitia kurban di 19 kecamatan mengikuti sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban yang digelar Disnakkan Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekedar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, perhatian juga ditujukan pada masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya sebanyak 50 orang yang merupakan panitia kurban di 19 kecamatan.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan 

kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, usai membuka pelatihan yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 10 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad menambahkan, diakhir acara, peserta dibekali pelatihan tata cara merobohkan sapi. Dengan pelatihan model burley itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Melalui metode ini, untuk merobohkan sapi cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Sempat Kerja Serabutan, Satrio Nugroho Akhirnya Meraih Sukses Setelah Tekuni Profesi Inseminator

Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Melihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari sosok Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. Namun siapa sangka, dibalik itu ada talenta hebat yang dimiliki pria berusia 39 tahun tersebut.

Sebagai buktinya, beberapa hari lalu, pria yang tinggal di Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan itu baru saja meraih prestasi bergengsi. Yakni, juara I tingkat Jawa Tengah untuk kategori lomba petugas inseminator berprestasi wilayah pengembangan.

Atas prestasinya ini, Satrio tidak hanya dapat penghargaan dari Gubernur Ganjar Pranowo. Tetapi juga dapat hadiah uang pembinaan yang nilainya cukup besar.

“Penghargaan yang saya raih ini sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Prestasi ini bukan hasil kerja saya semata. Tetapi juga berkat dukungan dari banyak pihak terutama Kadinas yang memberikan kesempatan untuk bekerja jadi inseminator,” kata bapak satu anak itu.

Sebelum terjun jadi inseminator, Satrio mengaku hanya bekerja serabutan. Lalu, timbul keinginan untuk bekerja jadi inseminator dan akhirnya diberikan kesempatan.

Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dunia IB sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Satrio. Sebab, ayahnya sebelumnya juga pernah bekerja jadi inseminator. Oleh sebab itu, sedikit banyak ia sudah tahu ilmu tentang IB karena sering melihat ayahnya saat menjalankan tugas.

Satrio tercatat dikasih kesempatan jadi petugas IB sekitar tahun 2010 lalu. Oleh pihak dinas, ia dipercaya menangani IB di beberapa desa di wilayah Kecamatan Grobogan. Antara lain, Desa Ngaben, Kelurahan Grobogan, Sumberjatipohon, Rejosari dan Getasrejo.

Satrio berupaya keras untuk memegang kepercayaan yang diberikan. Caranya, dengan melaksanakan tugas sebaik mungkin serta memberikan edukasi pada masyarakat dalam bidang IB dan peternakan secara umum.

Setiap tahun, Satrio bisa mengerjakan kawin suntik rata-rata sampai 1.200 ekor sapi. Adapun tingkat keberhasilan atau kebuntingan sapi yang dikawin suntik bisa diatas 70 persen.

Setelah dinobatkan jadi juara, Satrio mengaku tidak merasa puas. Sebab, keberhasilan itu justru harus dijadikan semangat untuk bisa bekerja lebih hebat lagi. Selain itu, kinerjanya juga akan terus dipantau karena ia akan mewakili Jateng dalam lomba inseminator tingkat nasional.

“Saya akan berupaya untuk selalu meningkatkan kinerja. Mohon doanya agar bisa berhasil dalam lomba nasional,” kata inseminator yang sudah mengantongi predikat asesor nasional itu.

Editor: Supriyadi

Bupati Grobogan Minta Petugas Inseminasi Buatan Bekerja Maksimal

Petugas inseminasi buatan saat melakukan penyuntikan untuk kawin gratis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan, predikat Grobogan sebagai lumbung sapi nomor dua di Jawa Tengah perlu dipertahankan. Upaya utama yang harus dilakukan adalah berupaya agar populasi sapi terus meningkat tiap tahun.

Menurut Sri, untuk meningkatkan populasi sapi, peran petugas teknis inseminasi buatan atau inseminator dinilai cukup penting. Oleh sebab itu, para inseminator itu diminta sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan meningkatkan capaian kebuntingan sapi dengan penggunaan teknologi tersebut.

“Teknologi inseminasi buatan ini sudah terbukti bisa meningkatkan populasi sapi. Untuk itu, peran dari para inseminator ini sangat diandalkan dalam keberhasilan pemakaian teknologi inseminasibuatan atau IB tersebut,” katanya.

Menurut Sri, penerapan teknologi IB di Grobogan sudah dilakukan sejak tahun 1976. Yakni, di Kecamatan Toroh dan Purwodadi. Saat ini, pemakaian IB sudah menjangkau semua wilayah kecamatan.

“Sekarang ini, kita punya 34 wilayah kerja atau pos IB. Untuk petugas inseminatornya ada 43 orang,” katanya.

Sejauh ini, jumlah populasi sapi di Grobogan mencapai 200 ribu ekor. Banyaknya jumlah sapi di Grobogan ini menempati urutan kedua di Jawa Tengah, setelah Blora.

Meski punya potensi cukup besar namun Sri meminta agar populasi sapi itu harus terus ditingkatkan. Hal ini sebagai salah satu upaya mendukung program pemerintah swasembada daging sapi.

Untuk mempertahankan populasi sapi, Sri meminta dinas terkait lebih memaksimalkan program IB. Sebab, melalui upaya ini bisa menghasilkan sapi yang berkualitas.
Selain itu, upaya lainnya adalah menekan tingkat penyembelihan sapi betina. Khususnya sapi yang masih dalam usia produktif.

Dia menjelaskan, jika terjadi pemotongan sapi produktif maka dampak dikemudian hari adalah menurunnya jumlah populasi. Sebab, calon indukan yang siap berproduksi sudah kurang jumlahnya akibat dikonsumsi dagingnya. Oleh sebab itu, dia berharap kepada masyarakat agar tidak memotong sapi betina produktif jika ingin menjual atau mengonsumsi daging.

“Saya minta agar Disnakkan terus mengawasi masalah ini. Pemotongan sapi betina ini harus dicegah agar tidak memotong rantai produksi,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Populasi Sapi di Boyolali Tertinggi Se-Jawa Tengah

Warga melakukan ternak sapinya, beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Boyolali – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali menyatakan saat ini jumlah populasi sapi di Boyolali tertinggi se-Jawa Tengah. Boyolali masih di puncak dengan diikuti Rembang, Blora, dan Purwodadi.

“Selama ini jumlah populasi sapi per wilayah yang dihitung hanya sapi potongnya saja. Sedangkan sapi perahnya tak masuk hitungan,” kata Kasi Perbibitan Ternak Disnakkan Boyolali, Sugiyarto, Jumat (18/7/2017) dikutip dari krjogja.com.

Menurutnya, saat ini, populasi sapi potong di Boyolal‎i ada 85 ribu ekor, sedang jumlah sapi perah mencapai 80 ribu ekor. Apabila populasi sapi perah dihitung, maka jumlah populasi sapi di Boyolali mencapai 160-an ribu ekor. Selain itu, Boyolali juga menjadi barometer transaksi pasaran sapi di Jateng. Dengan pasar ternak Sunggingan Boyolali yang menjadi pasar hewan terbesar di Jateng.

Sedangkan untuk menjaga populasi sapi tetap tinggi, pihaknya mengimbau para pemilik sapi tak memotong sapi betina yang masih produktif. Namun untuk transaksi sapi yang dijual ke luar Boyolali, pihaknya tak bisa melarang sebab itu hak pemilik sapi. Ada berbagai model pedagang sapi, yakni ‎pedagang sapi, baik perah maupun potong, yang menjual anaknya, pedagang yang membeli sejak kecil yang dijual saat siap kawin, pedagang yang jual beli sapi bunting dan sebagainya.

“Tak ada regulasi larangan transaksi sapi bunting. Yang penting jangan memotong sapi betina produktif atau sedang bunting sebab sekarang upaya meningkatkan populasi sapi sedang gencar-gencarnya digalakkan,” tambahnya.

Dia menambahkan, salah satu program peningkatan populasi sapi yang dilakukan yakni Program Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab)‎ yang digalakkan secara nasional.Untuk Boyolali ditarget sebanyak 50.062 ekor sapi perah maupun sapi potong akan dibuntingi dengan inseminasi buatan (IB). Dalam program ini, sapi yang diinseminasi seluruhnya gratis. Tak ada biaya apapun yang ditarik dari pemilik ternak.

“Sudah dilakukan sejak April lalu dan sampai bulan juni sudah 24.768 ekor sapi yang sudah diinjeksi IB,” ‎pungkas Sugiyarto.

Editor : Akrom Hazami

Awas Jangan Sembelih Sapi  Betina Produktif di Jepara

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementrian Pertanian I Ketut Diarmita, mewanti-wanti agar peternak agar tak menyembelih sapi betina produktif. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, mewanti-wanti agar peternak agar tak menyembelih sapi betina produktif. Pihaknya juga telah bekerjasama dengan Polri untuk memastikan tak ada pemilik sapi yang nekat melakukan hal itu.

Ia mengungkapkan, langkah tegas tersebut diambilnya agar  Indonesia bisa terlepas dari impor daging sapi. “Selain itu, hal itu bertujuan untuk mendukng terciptanya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” ucapnya saat memberi pengarahan dalam program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) di Jepara.

Ia menyebut, kecenderungan penyembelihan sapi betina karena melihat harganya yang jauh lebih murah, jika dibandingkan sapi jantan. Oleh karena itu, dirinya menegaskan agar pemotongan hewan yang tak teratur harus segera dicegah baik yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan atau di rumah warga. 

“Saya juga sudah kerja sama dengan Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Mabes Polri, akan ada sanksi tegas bagi masyarakat yang menyembelih sapi betina yang produktif. Oleh karenanya kami akan terus mengawasi dan memonitor hal itu,” tambahnya. 

Ketut juga berpesan, agar petani mengubah pola pikir beternak sapi. Ia menyebut banyak di antaranya yang menjadikan aktifitas tersebut sebagai sampingan.  “Selama ini kita ingin merubah pandangan petani kita yang tadinya mereka beternak sambilan, sekarang kita ingin menggiring petani itu bagaimana beternak supaya menguntungkan,” tutup Ketut. 

Editor : Akrom Hazami

 

2017, Pemda Rembang Targetkan 60 Ribu Sapi Indukan Bunting

Bupati Rembang Abdul Hafidz didampingi pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang melakukan proses inseminasi di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Sarang, Selasa (15/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz didampingi pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang melakukan proses inseminasi di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Sarang, Selasa (15/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri, Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (Upsus Siwab) beberapa waktu lalu.

Upaya khusus tersebut dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026. Selain itu, peningkatan populasi sapi ditujukan untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang menegaskan siap untuk mendukung program swasembada daging tersebut. Apalagi, Rembang menduduki peringkat empat besar populasi ternak sapi se-Jawa Tengah. Pemda Rembang, menargetkan, pada 2017 nanti ada 60 ribu indukan bunting.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, pemda sangat mendukung upaya pemerintah untuk swasembada daging. “Sebab, program init akan meningkatkan kesejahteraan petani ternak di Indonesia termasuk Rembang,” ujarnya, saat menghadiri kegiatan pesta patok dan panen pedet (anak sapi) hasil Inseminasi Buatan (IB) dan pencanangan Upsus Siwab di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Sarang, Selasa (15/11/2016).

Dirinya mencontohkan, seperti peternak sapi di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Sarang yang memiliki populasi sapi mencapai 1.050 ekor, yang dinilai merupakan aset. Dan hal itu, menurutnya harus dikelola dengan baik dengan cara menjaga kesehatan dan pertumbuhan sapi serta dibudidayakan dengan baik melalui inseminasi buatan, agar cepat untuk tumbuh kembang.

Sementara itu, terkait sarana dan prasarana inseminator, pemkab tetap  memperhatikan dengan melalui proses yang harus disepakati bersama. Karena meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peternakan juga menjadi komitmen pemerintah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang Suratmin menambahkan, mulai saat ini Pemda Rembang berupaya mensukseskan program Upsus Siwab. Sebagai langkah awal, pihaknya akan melakukan cek kesehatan reproduksi kepada hewan ternak.

“Untuk tahapan awal menuju indukan wajib bunting,kita lakukan pemeriksaan kesehatan reproduksinya. Jika reproduksinya terganggu kita obati lebih dulu. Setelah itu kita kawinkan melalui inseminasi buatan,” terangnya.

Editor : Kholistiono

Jelang Hari Raya Kurban,  Pemkab Kudus Galakkan Pemeriksaan Hewan

sapi

Petugas memeriksakan kondisi sapi di Pasar Hewan Jati, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus melakukan pemeriksaan kepada hewan kurban di pasar hewan, Jati, Kudus, Rabu (7/9/2016). Dalam pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan hewan jenis sapi yang berliur.

Meski demikian, pemkab menjamin hewan kurban yang dijual. Air liur dianggap wajar lantaran sapi masih mengunyah makanan. “Itu biasa, tidak ada masalah. Hewan aman dan memeriksa para hewan sudah kami lakukan. Hasilnya aman,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Catur Sulistyanto. kepada  MuriaNewsCom.

Menurutnya pemeriksaan terkait jelang Idul Adha sudah dilakukan. Pihaknya memastikan jika hewan sudah aman. Hal itu merupakan hasil pemeriksaan yang dilakukan sebelum memasuki jelang Idul Adha sampai sekarang.

Untuk hewan yang diperiksa, mulai sapi, kambing dan kerbau. Petugas yang melakukan pemeriksaan  merupakan tim ahli dari dinas tersebut. “Sebelumnya pada pemeriksaan sebelumnya ada tanda-tanda penyakit pada hewan. Namun kondisi terakhir sehat karena sudah diobati. Masyarakat tidak usah risau,” ujarnya.

Menjelang Hari Raya Idul Adha, memang banyak pedagang hewan kurban di Kudus. Mereka menyebar hampir di sebagian besar wilayah pedesaan di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Polres Pati Masih Tunggu Audit dari BPKP Terkait Kerugian Negara Akibat Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Sapi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

PATI – Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho belum berani menyebut angka kerugian negara akibat kasus dugaan korupsi pengadaan sapi. Pasalnya, pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Kami masih belum bisa menyebut angka kerugian negara akibat korupsi itu. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari BPKP, karena itu menjadi bagian dari wewenang BPKP,” kata Setijo kepada MuriaNewsCom, Jumat (1/1/2016).

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan dan surat resmi dari BPKP penting untuk mengetahui berapa kerugian negara akibat penyelewengan bansos pengadaan ternak sapi. Dengan demikian, surat resmi itu akan menguatkan kepolisian untuk melakukan penyidikan lebih lanjut.

“Setelah ada indikasi kerugian negara dan alat bukti yang cukup, baru akan ditetapkan tersangka secara pasti. Kami akan terus mendalami kasus dugaan korupsi ini,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Wow! Anak Sapi Berkaki Lima Milik Warga Bageng Pati Ditawar Rp 30 Juta

Anak sapi milik warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong dengan satu kakinyatumbuh di atas kepala. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anak sapi milik warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong dengan satu kakinyatumbuh di atas kepala. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Anak sapi berkaki lima milik Rifki (27), warga Desa Bageng RT 2 RW 4, Kecamatan Gembong sempat ditawar sejumlah warga, mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Namun, Rifki enggan melepasnya.

Bukan soal tuah atau keberuntungan, tetapi Rifki ingin mengoleksi anak sapi berkaki lima itu di kandang bersama sapi lainnya. “Sempat ditawar juga. Ada yang minta Rp 20 juta, ada yang Rp 25 juta, hingga Rp 30 juta,” kata Rifki kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, harga anak sapi empat bulan lazimnya dihargai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Kendati begitu, Rifki tak ingin anak sapi kesayangannya itu dibeli orang meski dengan harga selangit.

“Biar saya rawat sampai dewasa. Saya memberikan nama untuk anak sapi itu, Gatot Kaca. Tidak ada maksud apa dalam penamaan. Saya suka aja dengan nama Gatot Kaca,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Heboh! Kaki Sapi Milik Warga Bageng Pati Ini Tumbuh di Kepala

 

Rifki menunjukkan kaki sapi miliknya yang berada di kepala. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rifki menunjukkan kaki sapi miliknya yang berada di kepala. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sapi milik Rifki, warga Desa Bageng RT 2 RW 4, Kecamatan Gembong memiliki kaki lima. Empat kaki, normal seperti sapi pada lazimnya, tapi satu kaki menggantung di bagian kepala.

Rifki sendiri tidak mengira jika sapinya melahirkan anak berkaki lima. “Awalnya saya kaget, tiba-tiba anak yang dilahirkan sapi saya punya kaki di bagian kepala. Saat ini, usianya sudah empat bulan,” ujar Rifki kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/10/2015).

Tak ayal, keberadaan sapi berkaki lima tersebut menggemparkan warga. Sejumlah tetangga hingga warga luar desa banyak berdatangan untuk melihat sapi aneh tersebut.

“Banyak warga yang datang ke sini untuk melihat sapi saya karena aneh. Tidak ada unsur mistis. Bagi saya, tidak ada hal yang tidak mungkin kalau Tuhan menghendaki,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sapi di TPA Ngembak Purwodadi Harus Dikarantina Sebelum Dikonsumsi

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski bisa dikonsumsi, namun sapi yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, harus melalui tahapan karantina terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto saat dimintai komentarnya seputar masalah penggemukan sapi di tempat sampah tersebut.

Menurutnya, secara umum kondisi sapi yang makan sampah itu memang cukup sehat. Meski demikian, jika diperiksa lebih lanjut, dalam daging sapi yang digemukkan di TPA itu bisa mengandung unsur logam yang berbahaya, seperti jenis timbal. Jika daging ini dikonsumsi manusia, maka dalam jangka panjang bisa berdampak pada masalah kesehatan.

Oleh sebab itu, jika sapi di TPA itu akan dikonsumsi atau disembelih, termasuk untuk hewan kurban, maka terlebih dahulu harus dikarantina selama dua bulan.

Selama masa karantina, sapi tersebut diberi pakan normal baik jenis rumput segar (hijauan) atau pakan kering seperti jerami dan tebon serta dikasih minum air yang cukup. Masa karantina ini berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang ada dalam tubuh sapi tersebut.

“Kepada para pemilik ternak di TPA serta pedagang sudah kita kasih tahu masalah ini. Selama dua bulan sebelum dijual, sapi mereka harus dikarantina lebih dulu agar kandungan zat berbahaya bisa hilang,” ujarnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Kabupaten Pati Jadi Sasaran Program “Panen Pedhet”

Sapi jenis ongole di Pati yang diperlombakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sapi jenis ongole di Pati yang diperlombakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati yang selama ini menjadi salah satu sentra pengembangan sapi lokal peranakan ongole (PO) diharapkan bisa menjadi daerah yang sukses melaksanakan program panen pedhet atau anak sapi.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, pemerintah ke depan menginginkan ada proyek pengembangan sapi bertajuk “panen pedhet”. Karena itu, ia berharap agar Pati bisa melaksanakan program tersebut.

“Jadi, kita memperbanyak bibit-bibit sapi lokal sebanyak mungkin dan itu bisa ditemukan di daerah-daerah yang berpotensi untuk mengembangkan sapi ongole. Salah satunya, di Pati,” imbuhnya.

Dengan pengembangan kapasitas di bidang peternakan sapi, ia berharap bisa meningkatkan pendapatan daerah yang pada akhirnya bisa memajukan ekonomi bangsa melalui peternakan di daerah-daerah. “Subsidi pakan ternak dan modal akan terus kami upayakan untuk mengembangkan sapi lokal,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Pati Dinilai Berpotensi untuk Pengembangan Sapi Lokal Peranakan Ongol

Bupati Pati Haryanto melihat sapi peranakan ongol (PO) di Pasar Hewan Winong, Kecamatan Winong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto melihat sapi peranakan ongol (PO) di Pasar Hewan Winong, Kecamatan Winong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati dinilai punya potensi yang besar untuk mengembangkan sapi lokal jenis peranakan ongol (PO). Karena, Pati dinilai memiliki potensi alam yang melimpah dan mendukung pengembangan sapi PO.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, pengembangan sapi di Pati didukung dengan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari ketersedian rumput dan pakan ternak organik lainnya.

Karena itu, ia berharap agar Pemerintah Daerah (Pemda) setempat bisa mendukung untuk pengembangan sapi lokal PO. “Saya lihat, Pati itu tempatnya sapi PO. Jadi, Pemda setempat harus memfasilitasi untuk mengembangkan sapi lokal PO. Itu bisa menjadi salah satu senjata untuk meningkatkan potensi peternakan di Pati,” imbuhnya.

Sementara itu, pihaknya sendiri akan mendukung dengan memberikan sejumlah bantuan. Misalnya, bantuan subsidi pakan, soal teknologi inseminasi buatan. “Dengan bantuan teknologi itu, kami berharap bisa memacu untuk meningkatkan upaya pengembangan bibit sapi lokal PO,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sstt…Betina-betina Ini Dipacu Cepat Birahi Lho….

Petugas sedang melakukan penyuntikan terhadap sapi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas sedang melakukan penyuntikan terhadap sapi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Ribuan ekor sapi betina yang ada di Grobogan dipacu birahinya dan selanjutnya diinseminasi buatan atau kawin suntik. Selain itu, ribuan ekor sapi betina lainnya dicek kesehatan reproduksinya. Sekitar 25 petugas diterjunkan untuk melaksanakan dua kegiatan tersebut.

”Hal itu dilakukan dalam rangka melaksanakan program penanggulangan gangguan reproduksi. Kegiatan ini dibiayai dari dana ABPN perubahan tahun 2015,” ungkap

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto.

Menurutnya, program tersebut jadi skala nasional dalam rangka meningkatkan populasi sapi dan kerbau di Indonesia. Selain itu, program tersebut juga bertujuan untuk mensukseskan kebijakan swasembada daging nasional.

Dalam progam tersebut, ada dua kegiatan yang dilakukan.Yakni, gertak birahi dan inseminasi buatan (GBIB) serta penanganan gangguan reproduksi (PGR). Program tersebut mulai dilaksanakan sejak akhir Juli hingga November mendatang.

”Untuk program GGIB targetnya sekitar 1.700 ekor sapi. Kemudian untuk gangguan reproduksi ditargetkan ada 5.280 ekor sapi yang ditangani,” katanya.

Nur Ahmad menambahkan, sasaran program tersebut menyebar di seluruh wilayah Grobogan. Dimana, sapi yang diperiksa untuk program tersebut ada yang diambilkan dari kelompok ternak dan perorangan.

Ditambahkan, petugas lapangan dalam tahap awal melakukan pemeriksaan pada sapi betina yang dinilai sudah cukup umur menjadi indukan. Jika kesehatan reproduksinya bagus maka langsung masuk dalam GGIB. Jika ada gangguan maka akan ditangani lebih lanjut melalui program penanganan gangguan reproduksi.Diharapkan, setelah ditangani, sapi betina ini bisa cepat sehat dan siap produksi. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Masyarakat Grobogan Masih Bisa Mengawinkan Sapi Pada Saat Lebaran

inseminisasi (e)

Bibit sapi IB yang disiapkan untuk pelayanan pada saat lebaran (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Pada masa lebaran, pemilik sapi yang hendak mengawinkan hewan piaraannya melalui layanan inseminasi buatan (IB) tidak perlu resah. Sebab, layanan kawin suntik sapi itu tetap beroperasi dan petugas IB diminta untuk memberikan pelayanan semaksimal mungkin pada masyarakat. Lanjutkan membaca

Populasi Sapi Putih Makin Berkurang

Seorang pedagang sapi menjajahkan sapi jualannya di Pasar Hewan Purwodadi. (MURIANEWS/DANI AGUS)

Seorang pedagang sapi menjajahkan sapi jualannya di Pasar Hewan Purwodadi. (MURIANEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Upaya pelestarian terhadap sapi putih atau peranakan ongole (PO) tampaknya perlu dilakukan dengan serius. Hal ini seiring dengan makin berkurangnya populasi sapi lokal dalam beberapa tahun terakhir. Indikasinya bisa dilihat dengan makin sedikitnya sapi putih dipasar hewan maupun yang dipelihara warga. Lanjutkan membaca