Langka, Ada Sapi Milik Warga Grobogan yang Punya 5 Kaki

Suwito, warga RT 02 RW 05 Dusun Sukoharjo, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh menunjukkan anak sapinya yang punya lima kaki (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suwito, warga RT 02 RW 05 Dusun Sukoharjo, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh menunjukkan anak sapinya yang punya lima kaki (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Lazimnya, seekor sapi itu memiliki empat kaki. Tetapi, sapi milik Suwito, warga RT 02 RW 05 Dusun Sukoharjo, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh ini di luar kelaziman. Sebab, sapi ini ternyata punya kaki yang jumlahnya 5.

Empat kaki sapi tersebut kondisinya normal. Sementara satu kaki tambahan ukurannya sedikit lebih pendek dan ujungnya tidak sampai menempel tanah.Satu kaki tambahan ini letaknya di antara dua kaki belakang. Jadi, jika dilihat dari belakang, terlihat tiga kakinya. “Sapi ini jenis kelaminnya betina dan sejak lahir sudah punya lima kaki. Sampai saat ini, umur sapi ini sekitar lima bulanan,” kata Suwito.

Setelah lahir, sapi tersebut langsung mendapat perawatan mantri hewan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan. Soalnya, ketika lahir, sapi tersebut tidak kelihatan duburnya.

Oleh petugas, kemudian dilakukan operasi untuk membuatkan saluran pembuangan kotoran. Dari tindakan ini, sapi tersebut akhirnya bisa tumbuh dengan baik sampai sekarang.

Menurut Suwito, indukan sapi yang dimiliki sebelumnya sudah lima kali beranak. Kebetulan, lima anakan sebelumnya jenis kelaminnya jantan. Baru anakan terakhir ini nongol betina tetapi kondisinya tidak wajar lantaran punya lima kaki.

“Indukannya itu jenis peranakan ongole dan selama ini anakannya bagus-bagus dan normal. Baru yang terakhir ini anakan yang keluar agak aneh. Dulu, indukannya saya kawinkan melalui inseminasi buatan yang dilakukan petugas peternakan,” sambungnya.

Meski anakan sapi itu kondisi fisiknya tidak lazim, namun pertumbuhannya cukup bagus. Nafsu makannya cukup baik dan terlihat cukup gemuk untuk sapi seumur lima bulan.“Kalau soal makan dan minum tidak kalah dengan sapi yang normal. Baik, makanan hijau maupun jerami kering dimakan semua,” imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, adanya sapi berkaki lima memang sangat jarang terjadi. Menurutnya, kondisi itu besar kemungkinan disebabkan kebuntingan kembar yang tidak bisa tumbuh sempurna.

“Kalau pertumbuhannya normal, indukan sapi milik Pak Suwito itu bisa jadi beranak dua. Jadi adanya sapi berkaki lima itu bukan karena faktor penyakit,” jelasnya.

Editor : Kholistiono 

Unik! Pohon Pisang di Cengkalsewu Pati Ini Berbuah dari Batang

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pohon pisang milik Siswanto (33), warga Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo, Pati berbuah dari tengah batang yang tumbuh menyamping. Padahal, pohon pisang yang wajar tumbuh pada bagian ujung pohon.

Sontak, pohon pisang unik tersebut menjadi perhatian warga. Bahkan, teman Siswanto sempat menawar buang pisang yang tumbuh secara tak wajar itu senilai Rp 500 ribu. Namun, Siswanto enggan menjualnya karena dinilai aneh dan unik.

“Awalnya, istri saya bersih-bersih pekarangan di belakang rumah. Kebetulan, belakang rumah saya itu kebun pisang. Istri saya kaget setelah salah satu pisang miliknya muncul bunga pisang disertai dengan buahnya dari samping batang, bukan dari ujung,” kata Siswanto kepada MuriaNewsCom, Senin (11/1/2016).

Kendati ditawar Rp 500 ribu, buah pisang itu rencananya tidak dijual sampai masak. Padahal, satu tandan pisang masak biasanya dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu.

“Ini baru tumbuh sekitar satu bulan yang lalu sudah ditawar teman Rp 500 ribu. Rencananya, mau diambil saat masak nanti. Tapi, saya tetap tidak mau. Soalnya ini unik dan tidak biasa,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sapi ‘Mistis’ Milik Warga Bageng Ini Pernah Ditawar Hingga Puluhan Juta

Sapi berkantung milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sapi berkantung milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada yang aneh dari dua sapi peranakan ongole (PO) Jawa milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati. Kedua hewan mamalia tersebut memiliki kantong layaknya hewan kanguru yang lazim ditemukan di Australia.

Warga pun tak bosan melihat dua sapi aneh itu. Sebagian orang mengaitkan hal tersebut dengan hal gaib. Kendati begitu, Rifki membantah jika sapinya itu terkait dengan hal mistis.

“Sejak lahir, dua sapi saya itu sudah dalam keadaan berkantung. Saya tidak punya firasat apa pun. Tiba-tiba saja sudah begitu. Saya rawat hingga dewasa dan beranak banyak,” ujar Rifki kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sebetulnya sapi peliharaannya tersebut sudah banyak ditawar dengan harga mahal hingga Rp 50 juta. Selain tubuhnya sehat dan kekar, keanehan pada sapi milik Rifki menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

Namun, tawaran itu ia tolak karena Rifki berniat memelihara sapi itu hingga beranak pinak sampai banyak. “Niatnya saya koleksi saja di kandang. Sangat menarik jika saya nanti punya banyak sapi-sapi unik,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Heboh! Sapi Berkantung Seperti Kanguru Ditemukan di Pati

Sapi berkantung milik Rifki, peternak sapi asal Desa Bageng, Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sapi berkantung milik Rifki, peternak sapi asal Desa Bageng, Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong tak berhenti membuat sensasi. Setelah anak sapinya punya kaki lima, peternak sapi berusia 27 tahun ini ternyata memelihara koleksi sapi berkantung.

Jika hewan berkantung biasanya lazim ditemukan pada hewan kanguru, sapi milik Rifki ini juga punya kantung. Namun, kantungnya berada di bagian punggung.

“Ada dua ekor sapi milik saya yang berkantung. Dari lahir, keduanya memang sudah dalam keadaan berkantung. Saat ini, sudah berumur 15 tahun dan saya pakai buat indukan,” ujar Rifki kepada MuriaNewsCom, Jumat (23/10/2015) sore.

Ia berharap, agar kedua indukan sapi berkantung itu melahirkan anak sapi berkantung pula. Sayangnya, harapan tidak sesuai dengan realitas. Anak-anak yang dilahirkan dari dua sapi berkantung itu dalam kondisi normal seperti sapi pada umumnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)