Libatkan Ribuan Santri Ponpes, Peringatan Hari Santri di Grobogan Diprediksi Lebih Semarak

Kabag Kesra Moh Arifin memimpin rakor persiapan peringatan HSN di ruang rapat Setda Grobogan lantai I, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Grobogan diperkirakan lebih semarak dibanding tahun lalu. Ribuan santri dari pondok pesantren yang tersebar di berbagai kecamatan bakal dilibatkan untuk mendukung peringatan HSN.

”Peringatan HSN akan dilangsungkan 22 Oktober nanti. Pelaksanaan HSN ini kita upayakan agar meriah dan menarik dengan melibatkan ribuan santri,” kata Kabag Kesra Moh Arifin, usai menggelar rapat persiapan HSN di ruang rapat Setda Grobogan lantai I, Kamis (31/8/2017).

Rapat koordinasi persiapan HSN dihadiri Ketua PCNU Grobogan Abu Mansyur dan jajaran pengurusnya. Hadir pula Ketua Syuriah PCNU KH Khambali serta perwakilan dari sejumlah ponpes.

Menurut Arifin, dalam rakor disepakati akan dibentuk sebuah kepanitiaan khusus HSN. Panitia ini akan melibatkan unsur Pemkab Grobogan, PCNU, Ponpes dan sejumlah pihak terkait lainnya. Pihak panitia inilah nantinya yang akan merumuskan konsep terbaik agar pelaksanaan HSN bisa sesuai rencana.

”Banyak usulan terkait peringatan HSN. Seperti diadakan pentas seni, pawai ta’aruf, dan lainnya. Nanti, untuk rangkaian acara terbaik akan diputuskan panitia. Satu kegiatan yang pasti dilakukan adalah upacara peringatan HSN di alun-alun,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Santri di Pati Diajari Wirausaha Berbasis Teknologi Informasi

Santri, pelajar dan mahasiswa mengikuti workshop technopreneurship di Ponpes Al Falah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri, pelajar dan mahasiswa diajari wirausaha berbasis teknologi informasi (IT) dalam workshop technopreneurship bertajuk “Membangun Spirit Technopreneurship Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi” di Ponpes Al Islah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017).

Kegiatan tersebut diadakan Java Literacy School bekerja sama dengan PC IPNU IPPNU Pati dan Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Tengah.

Tiga narasumber yang hadir, antara lain Hasan Chabibie dari Pusat Teknologi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, internet marketer Rifan Heryadi, dan santripreneur IPNU Pati Irham Shodiq.

“Arus teknologi informasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini tidak bisa dihindari sehingga harus ditangkap dengan baik oleh para santri, pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan usahanya,” kata Hasan.

Lebih dari itu, Hasan menjelaskan, pelaku wirausaha berbasis IT di Indonesia masih sebatas menggunakan karya orang lain, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memproduksi teknologi untuk pengembangan usaha.

Kendati demikian, sikap melek IT sangat diperlukan agar para santri tidak tertinggal dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan IT sebagai usaha memasarkan produk dianggap sangat penting untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sementara itu, Rifan menambahkan, warga Indonesia memiliki pengguna media sosial tertinggi se-Asia. Karena itu, kondisi itu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasarkan produk-produk usahanya melalui IT.

“Generasi muda, para santri, pelajar dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal keterampilan untuk menyongsong arus teknologi informasi yang semakin tinggi. Terlebih, dunia masa depan akan menggunakan basis teknologi sehingga harus dipersiapkan sejak sekarang,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dinkes Cari Sisa Makanan yang Bikin Puluhan Santri Ponpes Pelita Purwodadi Keracunan

Salah satu santri Pondok Pesantren Pelita yang jadi korban keracunan masih menjalani rawat inap di sebuah klinik di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pihak Dinas Kesehatan Grobogan langsung menindaklanjuti adanya puluhan santri Pondok Pesantren Pelita Purwodadi yang mengalami keracunan.

Setelah mendapat informasi, petugas dari Dinkes langung memonitor kondisi korban keracunan yang dirawat di sebuah klinik kesehatan di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi.

Selain itu, ada upaya lain yang dilakukan. Yakni, mencari sisa makanan yang diindikasikan jadi penyebab para santri keracunan.

”Hasil pemeriksaan medis sudah dipastikan kalau anak-anak itu keracunan makanan. Untuk lebih memastikan kita coba cari sisa makanan yang disantap mereka,” kata Sekretaris Dinkes Grobogan Slamet Widodo, Jumat (18/8/2017).

Pihaknya sudah meminta petugas dari Puskesmas Purwodadi II untuk memantau kondisi korban keracunan di klinik kesehatan itu. Kebetulan letak klinik dengan puskesmas tidak terlalu jauh. Selama ini, pihak ponpes memang mengadakan kerjasama kesehatan dengan klinik tersebut.

”Sejak kemarin, kita sudah monitor perkembangan kesehatan korban keracunan. Hari ini tadi, tinggal satu anak yang masih dirawat. Tapi kemungkinan sore nanti atau besok pagi diizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik,” jelasnya.

Baca Juga : Diduga Keracunan Makanan, Puluhan Siswa Ponpes Pelita Purwodadi Dilarikan ke Klinik Kesehatan

Dari pantauan di klinik dokter umum suyatno di Jalan Danyang-Kuwu, masih ada satu anak yang dirawat. Yakni, Edo Haryanto (13), siswa kelas 2 SMP IT Pelita. Edo yang kondisinya sudah mulai normal itu didampingi ibunya Rofianah.

Menurut Rofianah, anaknya tidak jajan dan makan rica-rica ayam. Tetapi, dia hanya makan terong yang dimasak di pondok.

”Tidak lama setelah itu, Edo mulai muntah-muntah. Kemudian, buang air besar terus menerus. Sekarang belum boleh pulang. Kemungkinan, masih dirawat sehari lagi,” katanya.

Kepala Pondok Pesantren Pelita Purwodadi Muhammad Solikin membantah jika penyebab keracunan berasal dari menu terong yang dimasak di dalam pondok. Menurutnya, penyebab keracunan itu diduga disebabkan makanan yang dibeli di luar pondok.

”Bukan dari makanan di pondok tapi dari jajan di luar. Kalau berasal dari makanan pondok tentu lebih banyak lagi yang keracunan,” tegasnya pada wartawan

Editor: Supriyadi

Santri NU di Blora Dapat Pesan dari Polisi

Suasana konferensi cabang Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama ke-XI dan pelantikan ikatan pelajar putri Nahdatul Ulama periode 2016-2018. (Polres Blora)

Suasana konferensi cabang Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama ke-XI dan pelantikan ikatan pelajar putri Nahdatul Ulama periode 2016-2018. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Konferensi cabang ikatan pelajar Nahdatul Ulama ke-XI dan pelantikan ikatan pelajar putri Nahdatul Ulama periode 2016-2018 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Alif Desa Tamanharjo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Kapolres Blora AKBP Surisman dalam kesempatan kali ini meluangkan waktu untuk menghadiri acara tersebut untuk menjalin silaturahmi.

Dihadiri oleh seluruh alim ulama dan sesepuh serta pengasuh Pondok Pesantren Al-Alif, turut menghadiri Kapolsek Tujungan beserta Anggota dan Komandan Koramil beserta anggotanya, juga para pengurus Nahdatul Ulama Cabang Blora dan para Santri Ponpes Al-alif.

Di samping untuk mempererat silaturahmi antara TNI/Polri dengan para ulama dan santri, Kapolres Blora dipersilakan untuk memberikan sambutannya. Surisman menyampaikan selamat atas dibukanya acara Konfrensi Cabang pelajar Nahdatul ulama ke-XI serta dilantiknya ikatan pelajar Putri Nahdatul Ulama periode 2016-2018.

“Kami menyampaikan pesan kepada seluruh ikatan pelajar NU agar menggunakan ilmu yang diperoleh dengan baik untuk diterapkan dan ditularkan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadilah pelajar yang selalu belajar, berjuang, bertakwa, guna mewujudkan pelajar Blora yang berkarya seperti motto dalam acara hari ini,” ujarnya dikutip dari web resmi Polres Blora.

Jangan sampai jadi pelajar yang pinter tapi keblinger, kata dia, yakni menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang negatif dan merugikan masyarakat, bangsa dan negara. “Hati-hati dengan paham radikal yang sedang berkembang, mereka sedang mencari kader yang pintar berilmu dan berteknologi untuk mengacaukan situasi keamanan negara serta ingin mengubah ideologi Bangsa,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pondok Pesantren di Blora Ini Didatangi Polisi Biar Santrinya Tak Demo di Jakarta

Polisi, TNI, dan kalangan lainnya menyambangi salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tunjungan Blora. (Polres Blora)

Polisi, TNI, dan kalangan lainnya menyambangi salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tunjungan Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Situasi yang aman dan kondusif di wilayah Hukum Polres Blora khususnya untuk Polsek Tunjungan tidak datang dengan sendirinya. Terutama tanpa adanya sinergitas antara semua instansi terkait.

Salah satunya yang dilaksanakan Kapolsek Tunjungan Resor Blora AKP Supriyo, Kasat Binmas Polres Blora AKP Sumaidi dan Danramil 0721Tunjungan Blora Kapten Inf Sundiro bersama dengan para anggotanya. Mereka melakukan sambang desa bersama untuk menemui tokoh agama, dan tokoh masyarakat di kecematan setempat.

Di antaranya kegiatan menyambangi Pondok Pesantren Al alif dan Safiyatun Najah. Kapolsek Tunjungan AKP Supriyo menyatakan bahwa kegiatan sinergitas sambang desa merupakan program prioritas yang diperintahkan pimpinan yang bertujuan untuk menerima kritik, saran dan masukan dari masyarakat secara langsun.

Serta mengecek langsung pelaksanaan tugas Babhinkamtibmas dan Babinsa di lapangan. “Kami juga sosialisasi dan memberikan imbauan kepada masyarakat dan masyarakat juga bisa memberikan kritik, saran, dan masukan kepada kami/Polri ,guna menjalin komunikasi dua arah yang baik dengan masyarakat,” katanya dikutip dari website resmi Polres Blora.

Di samping itu pihaknya ingin mengajak dan menggalang serta menjalin kerja sama yang apik antara kepolisian dengan para tokoh agama untuk tetap menjaga situasi kamtibmas.

Sumaidi mengimbau agar para pengasuh Pondok pesatren mampu menahan dan memberikan pemahaman yang baik tentang paham radikal yang dapat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. “Dan berpesan supaya mencegah dan menginformasukan jikalau ada santrinya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti unras bela Islam pada tanggal 25 Novemeber dan 2 Desember 2016,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Remaja Masjid di Pati Digembleng Agar ‘Melek Bisnis’

Sejumlah remaja masjid tengah belajar teknik menanam dan bisnis tanaman dengan hidroponik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah remaja masjid tengah belajar teknik menanam dan bisnis tanaman dengan hidroponik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Puluhan remaja masjid yang tergabung dalam Forum Aktivitas Remaja Masjid Agung Baitunnur, Forum Komunikasi Remaja Masjid se-Kabupaten Pati dan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama mengikuti Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

Ketua Forum Komunikasi Remaja Masjid Se-Kabupaten Pati Irsyaduddin kepada MuriaNewsCom mengatakan, takmir masjid saat ini harus mulai melek dengan bisnis. Dengan bisnis akan menjadi kaya.

“Setelah kaya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup umat di sekitar lingkungan masjid. Setidaknya, peran masjid juga bisa memerangi kemiskinan di sekitar masjid,” ujarnya, Selasa (29/12/2015).

Ia menekankan, saat ini banyak sekali masjid megah, tetapi tak sedikit lingkungan di sekitarnya banyak yang kurang mampu. Hal itu yang harus diantisipasi agar masjid juga punya peran sosial dan ekonomi.

“Jangan sampai masjid megah, tetapi lingkungan di sekitarnya sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jangan hanya mengandalkan infaq dari jamaah, tetapi juga harus melek bisnis agar bisa mandiri,” imbuhnya.

Ia menambahkan, hampir seluruh masjid di Kabupaten Pati sudah memiliki takmir. Sayangnya, banyak di antara takmir yang belum bisa memfungsikan masjid secara optimal, lebih dari sekadar tempat ibadah.

“Masjid mestinya punya peran multifungsi. Selain tempat ibadah, juga harus punya peran sosial, pendidikan, hingga ekonomi,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Puluhan Santri Pati Belajar Kewirausahaan di Kudus

Sejumlah santri tampak berjalan di kebun buah naga untuk belajar kewirausahaan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah santri tampak berjalan di kebun buah naga untuk belajar kewirausahaan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 60 santri yang tergabung dalam Forum Komunikasi Remaja Masjid Kabupaten Pati, Forum Aktivitas Remaja Masjid Agung Baitunnur, dan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama mengikuti kegiatan Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

Mereka dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara teoritis dan praktis. Hal itu diharapkan agar santri dan masjid tidak sebatas berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga fungsi pemberdayaan umat.

“Masjid mestinya bisa memiliki banyak fungsi. Tak sekadar sebagai tempat ibadah, masjid harus dihidupkan sebagai pendidikan, kaderisasi keislaman, dan pemberdayaan umat,” kata Ketua Forum Komunikasi Remaja Masjid Kabupaten Pati Irsyaduddin kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/12/2015).

Usai mengikuti workshop, puluhan santri tersebut dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara praktis dengan berkunjung ke Pesantren Enterpreneur Al Mawaddah di Honggosoco, Jekulo, Kudus.

“Para santri diajarkan tentang spiritual business kemudian dilanjutkan pelatihan kewirausahaan, seperti pengenalan budidaya sayur dan buah organik, proses pembuatan tepung mocaf dan aneka produknya, misalnya keripik dan aneka kue,” tuturnya.

Tak hanya itu, mereka juga dilatih dengan budidaya buah naga dan aneka macam produk yang dibuat dari buah naga, seperti sirup dan keripik buah naga. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para santri untuk terjun di dunia kewirausahaan. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Tim Advokat JPPA Kudus Tidak Masalah Jika Santri Tidak Menjadi Saksi

JPPA dan tim advokat koodinasi dengan pihak wali santri di Sekretariat JPPA Jati Wetan Kudus yang diduga korban penganiayaa AA (pengasuh Ponpes Darussalam) Cranggang Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

JPPA dan tim advokat koodinasi dengan pihak wali santri di Sekretariat JPPA Jati Wetan Kudus yang diduga korban penganiayaa AA (pengasuh Ponpes Darussalam) Cranggang Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait adanya dugaan penganiayaan yang dilakukan AA Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Cranggang, Dawe kepada sembilan santrinya, tim advokat Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Bahagianti berharap kasus tersebut dapat segera terungkap.

”Semoga kasus ini segera terungkap. Ini baru laporan serta kedepannya akan diselidiki. Sebab kita sebagai tim JPPA sudah melaporkan dugaan tersebut kepada PPA Polres Kudus pada Kamis (17/12/2015) lalu. Selain itu juga saksi kunci RPR (kelas IV SD) diharapkan bisa bersedia bersaksi disaat dibutuhkan nanti,” kata Bahagianti, saat dihubungi MuriaNewsCom, Minggu (20/12/2015).

Selain itu, lanjut Bahagianti, misalkan RPR (murid kelas IV SD) itu tidak bersedia atau tidak berani untuk bersaksi dalam pengadilan, pihaknya tidak akan mempermasalahkan. Sebab sudah ada bukti visum dari pihak terkait.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, kedepannya pihak JPPA akan selalu mengawal kasus tersebut supaya bisa cepat selesai dan menemukan jalan terbaik.

”Ya kita akan berusaha untuk bisa selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Supaya kasus ini bisa lancar tertangani dan membuahkan hasil. Sehingga bisa terbuka dengan terang,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

9 Santri Disiksa: Ini Reaksi Orang Tua Tahu Anaknya Disakiti

Wali santri ikut berkoordinasi dengan JPPA Kudus dan P2TP2A Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wali santri ikut berkoordinasi dengan JPPA Kudus dan P2TP2A Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu wali santri atau orangtua MUA ( kelas 1 SD), Sudiro tidak mengetahui kalau ada aksi kekerasan terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Cranggang, Dawe, Kudus.

“Kami tidak tahu sama sekali. Saya tahunya itu dapat informasi dari JPPA Kudus dan P2TP2A Jepara,” katanya.

Sementara itu, saat proses pengevakuasian ke-9 santri yang diduga korban kekerasan di Ponpes Darussalam tersebut, pihak pengasuh tidak berada di tempat.

“Misalkan kok saya tahu sebelumnya, saya pasti akan ikut mengevakuasi santri bersama JPPA Kudus ini. Selain itu, bila saya berkunjung ke ponpes juga tidak ada tanda-tanda. Saya melihatnya baik-baik saja. Akan tetapi dengan adanya informasi ini, maka saya akan memindah sekolah putra saya di Jepara saja,” paparnya.

Dia menambahkan, yang penting ialah kasus ini bisa terkuak. Selain itu juga mudah mudahan tidak ada korban lain. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

9 Santri Disiksa : Santri Akhirnya Dipindah di Rumah JPPA

Polisi dan JPPA mendatangi lokasi pondok yang menjadi tempat kekerasan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Polisi dan JPPA mendatangi lokasi pondok yang menjadi tempat kekerasan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dengan adanya kasus penyiksaan yang dialami oleh 9 santri anak anak yang dilakukan oleh AA, pengasuh pondok di Desa Cranggang RT 3 RW 3 Dawe, Kudus. Jaringan perlindungan perempuan dan Anak (JPPA) Kudus juga ikut turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

Ketua JPPA Kudus Noor Haniah mengatakan, kasus ini harus diusut tuntas. Sebab yang melakukan itu ialah seseorang yang tahu agama serta pengasuh pondok.

Dari informasi yang dihimpun oleh MuriaNewsCom, kegiatan pondok yang sudah dimulai sekitar bulan Juni 2015 tersebut juga jarang diketahui warga.

“Tempat ini untuk mengaji belajar ilmu agama. Namun kita juga tidak menyangka bahwa di dalamnya ada tindak kekerasan terhadap anak,” ujarnya saat di lokasi pondok.

Dia menilai, untuk ke-9 santri ini memang harus dievakuasi ke tempat yang aman. Selain itu, untuk kependidikan, ke depannya JPPA akan mencarikan tempat yang baik dan layak.

“Untuk saat ini ke 9 santri yang terdiri dari 8 laki laki dan 1 prempuan ini bersekolah formal di SD 5 Cranggang. JPPA juga akan berkoordinasi dengan pihak SD untuk memindahkan sekolah serta pondol ke tempat yang layak,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, JPPA akan memindahkan santri yang masih berada di pondok tersebut. Sehingga ke depannya tidak ada kekerasan terhadap anak.

“Kami meminta bantuan kepada polsek, babinsa, babinkamtibmas serta pihak desa,” ujarnya.
Haniah mengatakan, JPPA telah mengevakuasi santri, Rabu (16/12/2015). Namun tidak seluruhnya. Yakni yang sudah bisa diamankan ada empat orang santri, sedangkan lima santri lainnya itu nanti akan dievakuasi secepatnya.

Untuk menangani kasus tersebut, JPPA bekerjasama dengan Polres Kudus. Serta menghadirkan salah satu saksi atau santri RPR (11) kelas 4 SD warga, Demak.

“Saksi telah menceritakan kronologinya. Tapi tidak semua santri karena masih trauma,” paparnya.
JPPA Kudus akan membantu di bidang pengawalan hukum, pengawalan psikologi anak, serta pengawalan pencarian tempat pendidikan yang baik. Selain itu, untuk sementara 9 santri tersebuat nantinya akan ditampung di rumahnya terlebih dahulu. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Video – 9 SANTRI DISIKSA : Pondok Itu Ilegal

Lokasi pondok yang jadi tempat penyiksaan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Lokasi pondok yang jadi tempat penyiksaan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait adanya tindak kekerasan kepada santri di bawah umur yang dilakukan oleh pengasuh pondok di Kudus. Kepala Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Sri Solekhah mengakui tidak mengetahui bahwa di desanya ada sebuah pondok.

“Saya tidak tahu kalau yang di RT 3 RW 3 itu ialah pondok. Sebab pemiliknya yang bernama AA tersebut tidak pernah berbaur (tertutup,red) serta proses pendirian pondok atau izin, juga kami tidak tahu. Sebab di tempat tersebut juga tidak ada papan namanya,” kata Solekhah.

Selain itu, lanjut Solekhah, tempat itu memang asal mulanya ialah musala keluarga milik bapak AA. Akan tetapi bila fungsinya jadi pondok, pihak desa juga tidak begitu paham. Bahkan sepengetahuannya, tempat tersebut juga jarang dikunjungi oleh warga Cranggang sendiri.

Dia menilai, bahwa keberadaan pondok tersebut memang ilegal. Sebab pendiriannya juga tidak memberitahukan oleh pemerintah setempat. Meski AA, tercatat sebagai warga Cranggang. Namun, Solekhah menyatakan, setidaknya pendirian pondok harus melalui proses perizinan yang resmi dulu.

“Rabu (16/12/2015) kemarin pas sidak bersama ibu Norr Haniah (Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Kudus) saja orangnya (AA,red) judes. Selain itu, saya dengar dari ustaznya sih, namanya Ponpes Darus Salam. Akan tetapi nama itu, tidak dibuatkan papan nama,” ujarnya.
Hal itu diamini Ketua RT 3 RW 3 Desa Cranggang, Legiman Harun. Dia mengaku tidak menyangka bahwa ada siksaan santri semacam itu. Selama ini warga sekitar, memandangnya sebagai tempat mengaji.

“Kalau setelah Magrib dan Isya memang ada kegiatan mengaji. Selain itu juga ada kegiatan salat berjamaah dipimpin oleh pengasuhnya. Namun kalau kejadian kekerasan terhadap santri anak anak, kami juga tidak tahu persis. Tahunya ya setelah ada pak polisi menjemput anak-anak (santri,red) untuk pulang,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, ada 9 santri disiksa. Yakni MUA ( L ) kelas I SD warga Tahunan Jepara, ACI (L) kelas II SD warga Tahunan, Jepara; RPR ( L ) Kelas IV SD warga Kebon Agung Demak; AM ( L ) kelas IV warga Tahunan, Jepara; AP ( L ) kelas IV SD warga Tahunan Jepara; MDL ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; MNR ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; SM ( P ) kelas VI SD Warga Tahunan, Jepara serta RAP ( L ) kelas VI SD warga Meganten, Demak.
(EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

 

9 Santri Disiksa Pengasuh Pondok, 1 Dipaksa Makan Kotoran Manusia

Salah satu santri saat didampingi tim JPPA Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu santri saat didampingi tim JPPA Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

Dunia pendidikan formal atau non formal saat ini memang gencar-gencarnya mempromosikan tempatnya dengan cara menggratiskan semua siswanya.

Begitu halnya dengan dengan salah satu pondok pesantren anak anak yang ada di Desa Cranggang RT 3 RW 3, Kecamatan Dawe, Kudus. Sebab tempat tersebut sebelum menerima santrinya, dahulunya pernah memberikan janji bahwa semua santrinya akan digratiskan.

Namun apa daya, bukan ilmu agama atau fasilitas pendidikan yang diberikan. Justru ke-9 anak didiknya tersebut disiksa, serta diintimidasi oleh pengasuhnya tersebut.

Salah satu santri RPR (11) kelas 4 SD ini mengatakan, dia pernah mengalami kekerasan fisik pada kakinya dengan cara dipukul kayu oleh pengasuhnya yang bernama AA.

“Pergelangan kaki saya pernah dipukul oleh Abah (AA,red) dengan kayu lantaran di saat masuk kamar mandi pondok, rebutan,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun oleh MuriaNewsCom, santri tersebut rata rata dari luar kota, dan masih duduk di kelas sekolah dasar.

Santri tersebut ialah MUA ( L ) kelas I SD warga Tahunan Jepara, ACI (L) kelas II SD warga Tahunan, Jepara; RPR ( L ) Kelas IV SD warga Kebon Agung Demak; AM ( L ) kelas IV warga Tahunan, Jepara; AP ( L ) kelas IV SD warga Tahunan Jepara; MDL ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; MNR ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; SM ( P ) kelas VI SD Warga Tahunan, Jepara serta RAP ( L ) kelas VI SD warga Meganten, Demak.

“Memang dahulunya sebelum mondok di Cranggang, saya sempat sekolah dan mondok di Demak. Akan tetapi ada seseorang yang merekrut santri anak anak yatim, serta menjajnjikan penggratisan, sehingga bapak saya langsung memondokan di sini,” paparnya.

RPR, menambahkan, selain dirinya yang pernah terkena siksaan fisik, seingatnya ada teman lain juga pernah disiksa. Yakni ACI ( L ) Kelas II SD warga Tahunan Jepara. Jumat (11/12/2015) dia disuruh makan kotoran manusia dengan cara disuapin dan diseret sampai bokongnya terkelupas lantaran membuang air besar di depan pintu WC.

ACI membuang kotoran di pintu WC sebab pada tengah hari. ACI tidak berani masuk ke WC. Selain itu, ACI juga masih kecil. Yakni baru kelas II SD.

Selain ACI juga ada MUA. Dia disuruh minum air kencingnya sendiri lantaran ngompol. Selain itu, ke-9 santri juga pernah disuruh mencari kangkung dan menjualnya.

Dia menilai, ke-9 santri tersebt memang tidak berani mengadu kepada masyarakat dan keluarganya. Sebab nantinya bila ketahuan mengadu, maka akan diintimidasi atau diancam.

Dia menambahkan, kondisi ini sudah diketahui oleh pihak keluarga lantaran ada bukti darah di bokong ACI yang terkelupas. Sehingga di saat berangkat ke sekolah Eabu (16/12/2015) SD 5 Cranggang, pihak guru mencurigi itu serta melapor.

Hal senada juga diiyakan oleh kakak ipar MNR, Zainal Abidin. Memang dahulunya ada seseorang yang mencari anak yatim untuk bisa disekolahkan atau didik secara gratis. Akan tetapi kondisinya malah seperti ini.

“Saya tidak nyangka bila kejadiannya semacam ini. kalau saya tanya ke santri, memang kegiatan belajar itu ada. Yakni mengaji kitab kitab setelah magrib. Akan tetapi kok tega menyiksa anak anak seperti ini,” pungkasnya.

Dengan adanya kondisi tersebut, saat ini kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Kudus. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Dari Saung-saung Sederhana Ini, Lahir Ratusan Penghafal Alquran

Beberapa saung yang ditempati santri Ponpes Al Haromain Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa saung yang ditempati santri Ponpes Al Haromain Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak jarang pola pendidikan di pondok pesantren juga semakin modern. Baik hal itu terkait sistem pembelajaran maupun fasilitas yang dimiliki pondok pesantren.

Namun hal itu berbeda dengan dengan Pondok Pesantren Al Haromain yang berada di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Sebab, pondok pesantren tersebut masih menggunakan saung atau gubug bambu untuk menampung anak didiknya. Selain itu sistem pengajarannya juga masih bisa dibilang kuno.

Pengasuh Ponpes Al Haromain K. Khumaidi Al Hafidz mengatakan, untuk bisa membuat anak didik lebih nyaman serta bisa menghafal Alquran dengan cepat, memang diperlukan suasana nyaman, hening dan sederhana. Seperti halnya fasilitas yang ada di pondok tersebut.

Pondok pesantren yang mempunyai santri sekitar 120 orang tersebut, memiliki saung sebanyak 15 unit, dengan masing-masing saung memiliki ukuran lebar sekitar 5 x 5 meter.

“Saung ini memang untuk tempat tidur santri, namun untuk kegiatan mengaji kita juga ada tempatnya sendiri, yakni saung yang berukuran agak lebar sekitar 8 x 8 meter seperti panggung. Yang penting, intinya ialah bagaiamana bisa memberikan mereka kenyamanan dalam mengaji dan menghafal Alquran,” paparnya.

Dari tempat sederhana itulah, pondok pesantren tersebut juga bisa meluluskan salah satu santrinya yang bernama Rohmat, yang saat ini bisa memasuki perguruan tinggi di Kota Surabaya dengan melewati Jalur khusus. Yakni melalui test hafidz atau hafalan Alquran.

“Ya alhamdulillah kesederhanaan atau kesalafan sistem pengajaran ini tidak membuat surut semangat para santri. Sebab mereka juga bisa membuktikan kepada masyarakat, bahwa mereka bisa diterima di perguruan tinggi di Kota surabaya lewat jalur hafalan Alquran. Selain itu, menurut saya orang mencari ilmu memang harus berani “rekoso” ikhtiar lahir batin, jauh dari kemewahan,” ujarnya.

Dia Menambahkan, selain perguruan tinggi di Suarabaya, santri dari lulusan Ponpes Al Haromain juga ada yang mendaftar di UNNISULA Semarang melewati jalur hafidz. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ingin Lihat Anaknya yang Hapal Alquran, Orang Tua Ini Harus Tinggal di Tenda

Tampak orang tua santri mendirikan tenda ketika menyambangi anaknya di di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran anak-anak, di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tampak orang tua santri mendirikan tenda ketika menyambangi anaknya di di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran anak-anak, di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Meski tempat menginap di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran anak-anak, di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus, telah disediakan. Namun ada salah satu orang tua santri yang mendirikan tenda untuk menginap saat menyambangi santri.

Yaitu Nasruddin Anshoriy CH. Dia rela mendirikan tenda di depan pondok tersebut. Hal itu dilakukan lantaran ingin mengobati rasa rindu terhadap putranya. Karena selama satu bulan tidak pernah ketemu dengan keluarga.

“Saya mendirikan tenda ini sebab ingin menginap di ponpes. Meskipun tempatnya sudah ada, namun saya mengajak dua orang keluarga. Yakni istri dan anak saya lagi. Sebab di sini haya membatasi pengunjung dua orang saja. Oleh sebabnya saya rela tidur di tenda ini,” katanya.

Pria yang berasal dari Bantul DIY juga berharap dengan menyambangi putranya, Ibrahim Syauqi Muhammad, kedekatan emosianal orang tua dan anak bisa selalu terjaga.

“Supaya psikologis anak saya juga selalu baik. Sehingga saat hapalan Alquran bisa lancar,” ujarnya.

Dia menuturkan kalau anaknya saat ini duduk di kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Serta, lanjut dia, anaknya telah hapal Alquran empat juz. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Mata Santri Ponpes Yanbuul Quran Kudus Berkaca-kaca Ketemu Orang Tuanya

Sejumlah orang tua dan keluarga santri menyambangi di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran  Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sejumlah orang tua dan keluarga santri menyambangi di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kamis (15/10/2015) sore, ratusan orang tua santri menggeruduk Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran Kudus.

Penggerudukan orang tua santri tersebut lantaran ingin menyambangi putra atau putrinya yang mondok di ponpes itu. Guna saling melepas rindu. Tidak sedikit mata santri berkaca-kaca karena bertemu orang tuanya.

Pengurus Ponpes Tahfidz Yanbuul Quran khusus anak anak di Krandon Hadi Rokid mengatakan, kegiatan menyambangi santri biasanya memang dijadwalkan satu bulan sekali. Yakni pada hari Jumat di minggu pertama bulan Hijriah.

Dimuai dari hari “Kegiatan sambangan atau menyambangi anak anak itu dimulai dari Kamis sore. Setelah itu, Jumat malam Sabtu sekitar pukul 20.00 WIB, orang tua santri diharapkan pulang,” katanya.

Adapun untuk orang tua santri yang menyambangi santri, dibatasi hanya 2 orang saja. Sebab bila tidak dibatasi maka tempatnya akan penuh. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Top, Santri di Margorejo Pati Digadang jadi Ahli Hukum Hebat!

Sejumlah santri Ponpes Ragil Al Fatah ikuti penyuluhan hukum, Jumat (14/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah santri Ponpes Ragil Al Fatah ikuti penyuluhan hukum, Jumat (14/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas II Pati menggelar penyuluhan hukum kepada sejumlah santri di Pondok Pesantren Ragil Al Fatah di Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Jumat (14/8/2015).

Kegiatan tersebut mengambil tema “Penyuluhan Hukum untuk Anak” dengan menggandeng Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polres Pati sebagai penyuluh.

“Kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk memperingati Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus,” ujar Kepala Bapas Klas II Pati Dwi Arnanto melalui Kasubsi Bimbingan Client Dewasa Sulistyo.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Ragil Al Fatah Hafidz Nur Alim Habibi mengatakan, penyuluhan hukum yang dilakukan Bapas dan PPA Polres Pati diharapkan bisa memberikan nilai teladan bagi santri. “Ini menjadi masukan pengetahuan hukum bagi kalangan santri yang selama ini memang belajar ilmu-ilmu agama,” tuturnya.

Ia menambahkan, pengetahuan hukum memang perlu dipelajari mengingat Indonesia adalah negara hukum. “Dengan adanya penyuluhan ini, kami berharap agar santri kami mengetahui pentingnya peraturan hukum yang harus ditaati,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ratusan Santri di Jepara Berlomba di Ajang Festival Anak Saleh

Suasana pembukaan kegiatan Festival Anak Soleh Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Suasana pembukaan kegiatan Festival Anak Soleh Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggelar Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) VI se-Kabupaten Jepara, pada Rabu (5/8/2015). Dalam kegiatan FASI Ke-VI ini mengusung tema “Wujudkan Generasi Faqih, Berakhlakul Karimah, Mandiri dalam Lindungan dan Ridho Allah SWT”.

Beberapa perlombaan diadakan dalam kegiatan ini, diantaranya yaitu tartil tingkat TPQ dan TQA, kaligrafi tingkat TQA, ceramah bahasa Indonesia tingkat TPQ dan TQA, cerdas cermat Alquran tingkat TPQ, menggambar tingkat TPQ, mewarnai tingkat TKQ, tahfidz Juz Amma TQA, dan tilawah tingkat TQA.

Ketua Panitia Pelaksana Lukito Sudi Asmara mengatakan, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan FASI Ke-VI Kabupaten Jepara ini berjumlah 230 santri anak dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Jepara, yang berasal dari santri Taman Kanak-kanak Alquran (TKQ), Ta’limul Quran Anak (TQA), Taman Pendidikan Alquran (TPQ).

Lukito juga menyampaikan, masing-masing perwakilan setiap kecamatan diantaranya dari Kecamatan Jepara sebanyak 13 anak, Kecamatan Kedung 14 anak, Kecamatan Tahunan 11 anak, Kecamatan Batealit 21 anak, Kecamatan Mlonggo 11 anak, Kecamatan Pakis Aji 7 anak, Kecamatan Bangsri 18 anak, Kecamatan Kembang 21 anak, Kecamatan Keling 7, Kecamatan Donorojo 7 anak, Kecamatan Pecangaan 16 anak, Kecamatan Kalinyamatan 19 anak, Kecamatan Welahan 14 anak, Kecamatan Mayong 10 anak, Kecamatan Nalumsari 9 anak, Kecamatan Karimunjawa 10 anak.

”Setelah perlombaan santri, anak-anak diharap bisa berpacu untuk selalu memperbaiki prestasi dalam pendidikan dan keagamaan,” ujar Lukito. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)