VIRAL, Buang Sampah 1 Truk ke Sungai Bogowonto Wonosobo

Warga melihat kondisi sungai Bogowonto yang jadi lokasi pembuangan sampah satu truk di Wonosobo. (wonosobozone)

MuriaNewsCom, Wonosobo – Lagi viral, aksi buang sampah liar ke sungai Bogowonto Sapuran Wonosobo. Aksi itu terekam kamera. Tampak seorang pria dengan enaknya membuang sampah hingga berkarung-karung ke aliran sungai tersebut. Pria itu juga sadar kalau dirinya direkam saat membuang sampah. Bahkan sudah diingatkan. Lokasinya di sisi jalan alternatif Magelang-Wonosobo.

Karena video mendapat respons banyak dari warganet, polisi pun bereaksi. Polres Wonosobo melakukan penyelidikan aksi pembuangan sampah di sungai itu. Saat ini, polisi  telah mengamankan dua orang yang ada dalam video, Rabu (30/8/2017). Mereka berdua berinisial NI dan P. Hasil penyelidikan, mereka mengakui jika dalam video itu adalah benar mereka.

“Setelah mendapat informasi kami langsung lidik. Mereka sudah dimintai keterangan dan mengakui,” kata Kapolres Wonosobo AKBP Muhammad Ridwan, Kamis (31/8/2017) dikutip dari tribunjateng.com.

Tampak di video itu, mobil truk bercat hijau tosca yang dipakai mereka untuk mengangkut sampah turut diamankan ke mapolres. Sementara ini, mobil itu masih diamankan dan terparkir di halaman mapolres. Sementara keduanya diperbolehkan pulang dan siap dipanggil kembali oleh penyidik untuk keperluan penyelidikan.

Perwira Urusan Subag Humas Polres Wonosobo Nanang Dwi Putro Wibowo mengatakan, dari hasil pemeriksaan oleh penyidik, NI dan P mengakui perbuatannya. Di hadapan polisi, mereka mengaku membuang sampah di sungai dengan alasan kepraktisan karena sampah dianggap langsung hanyut atau lenyap terbawa arus.

Sampah berkarung-karung yang dibuang ke sungai itu berisi limbah jahe dan ubi talas yang tak terpakai. Kejadian yang terekam dalam video itu ternyata bukan peristiwa baru. Menurut pengakuan N, kejadian itu telah berlangsung sekitar 3 bulan lalu.

Polisi harus menggelar perkara itu terlebih dahulu sebelum menjerat terduga pembuang sampah dengan pasal pidana. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo untuk mendalami kasus tersebut karena berkaitan dengan isu lingkungan. “Sungai itu memang sering disalahgunakan warga untuk membuang sampah. Dengan kejadian ini semoga kesadaran warga untuk menjaga lingkungan meningkat,”katanya

Diketahui, sungai itu telah sering menjadi tempat pembuangan sampah. Seperti sampah sayur busuk, bangkai, dan lainnya. Sungai Bogowonto yang jadi viral itu di Desa Pecekelan, Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Warga di lokasi itu kerap mengingatkan agar tidak buang sampah di sungai. Sebab bau yang ditimbulkan amat menyengat dan menggangu indera penciuman warga setempat. Biasanya, jika sempat dan tidak hujan, warga membakar sampah buangan orang lain tersebut. Tapi sampah yang sulit dibakar itu biasanya adalah sampah sayuran basah.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo berharap polisi menindak tegas pelaku pembuangan sampah di sungai. “Ini tindakan membuang sampah di sungai bisa mengakibatkan dampak negatif luar biasa, merugikan ekosistem sungai sampai memicu banjir, sehingga saya sudah meminta kepada kapolres untuk menindak tegas pelakunya,” kata Agus.

Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk kades dan camat se-Wonosobo.  Komitmen Pemkab Wonosobo untuk serius membenahi kesadaran warga masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan juga diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Supriyanto.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Grobogan Diminta Prioritaskan Pembuatan Tempat Penampungan Sampah Sementara

Tumpukan sampah liar di pinggir jalan raya Purwodadi-Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta agar Pemkab Grobogan menaruh perhatian serius pada masalan penanganan sampah. Salah satunya, dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPSS) atau menyediakan kontainer di sejumlah titik.

Permintaan itu dilontarkan karena saat ini makin marak tempat pembuangan sampah liar. Kebanyakan, tempat pembuangan sampah liar ini berada di pinggir jalan raya yang dilalui banyak pengendara. Antara lain, di ruas jalan raya meruju arah Semarang, Pati, Boyolali dan Solo.

Dengan membuat TPSS atau menyediakan kontainer memang menjadi salah satu solusi untuk menekan volume sampah. Sebab, sampah bisa terkumpul dalam satu titik sehingga mudah diangkut menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Adanya tumpukan sampah liar membuat pemandangan menjadi kurang sedap. Apalagi, saat musim hujan tiba. Ketika kena air hujan, bau menyengat dari sampah yang membusuk sering mengganggu kenyamanan pengendara.

“Tempat pembuangan sampah liar di pinggir jalan itu sudah berlangsung cukup lama. Namun, sejauh ini belum ada solusinya,” kata Risma, pengendara motor yang biasa melintasi tumpukan sampah liar di wilayah Kecamatan Godong, Rabu (30/8/2017).

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Ahmadi Widodo menyatakan, pembuatan TPSS memang dinilai cukup efektif mengatasi keberadaan tempat pembuangan sampah liar itu. Meski demikian, untuk membuat TPSS butuh lahan tersendiri.

“Penyediaan lahan ini seringkali jadi salah satu kendalanya. Disamping itu, butuh dukungan pula anggaran yang cukup besar. Saat ini, kita sudah ada beberapa TPSS dan menyediakan kontiner di sejumlah titik. Namun memang belum menjangkau ke semua kecamatan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Kini Objek Wisata Dieng Wonosobo Bebas Sampah

Polisi, TNI, dan warga gotong-royong membersihkan sampah di Dieng, Wonosobo. (wonosobokab.go.id)

MuriaNewsCom, Wonosobo – Masyarakat di kawasan wisata Dieng Kabupaten Wonosobo, yakni Desa Sembungan, Sikunang, Jojogan, Patak Banteng, Parikesit, dan Dieng Wetan menyepakati komitmen bersama untuk mewujudkan Dieng yang bersih tanpa sampah melalui deklarasi “Dieng Bersih Harga Mati”.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo di Wonosobo, mengatakan deklarasi tersebut sebagai langkah maju yang sangat berarti bagi upaya memajukan Dieng sebagai salah satu destinasi wisata unggulan berkelas internasional.

Ia menuturkan langkah tersebut secepatnya bakal diikuti dengan pembangunan tempat pembuangan akhir sementara (TPAS) yang rencananya berlokasi di Dusun Siterus, Desa Sikunang.

“Tentu kami bersyukur langkah untuk membenahi masalah sampah di kawasan wisata Dieng ini mendapat dukungan dari warga masyarakat, bahkan kemudian tumbuh kesadaran untuk mendeklarasikan Dieng Bersih Harga Mati,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Ia berharap ke depan komitmen masyarakat untuk bersama-sama pemerintah kabupaten menjaga Dieng agar tetap bersih terus dipertahankan sehingga wisatawan yang berkunjung ke juga merasakan kenyamanan serta menambah masa kunjungannya.

“Semakin lama wisatawan tinggal di Dieng, imbasnya tentu ke perputaran ekonomi masyarakat juga,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemkab Wonosobo, Supriyanto mengatakan tumbuhnya kesadaran warga untuk mendukung Dieng bersih memang tidak dapat serta merta, melainkan memerlukan proses dan tahapan berjenjang.

Ia menuturkan nantinya langkah pemkab membangun TPAS di Siterus juga melibatkan keenam desa tersebut, termasuk dalam hal keterlibatan dana transfer desa untuk pembangunan tempat penampungan sampah terpadu (TPST) di desa masing-masing.

“Tahapan sebelum sampah dibuang di TPAS, masyarakat harus mampu memilah sampah di tingkat keluarga, apakah masih dapat dimanfaatkan atau tidak, termasuk apakah dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai manfaat dan ekonomi,” katanya.

Ia mengatakan lokasi TPAS yang rencananya didirikan di Siterus seluas 2.000 meter persegi telah disepakati warga. Ia berharap dengan adanya TPAS tersebut, residu sampah yang nantinya harus dibuang di TPA Wonorejo bakal berkurang drastis sehingga mampu mengurangi dampak lingkungan.

Editor : Akrom Hazami

Sampah Sisa Karnaval di Jepara Bikin Kotor Alun-alun

Tampak salah satu titik di Alun-alun Jepara yang dipenuhi sampah sisa karnaval. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval HUT RI Ke 72 di Jepara memang meriah, tapi setelah even rampung sampah sisa dari penonton, selalu bertebaran. Meskipun langsung dibersihkan oleh petugas, namun hal itu mengindikasikan masih rendahnya kesadaran warga akan kebersihan. 

“Pasti sehabis acara ada sampah yang bertebaran. Padahal di sudut-sudut alun-alun sudah disediakan tempat sampah. Namun kenyataannya, sampah lebih banyak berserakan di jalan, dibanding dibuang di tempat yang telah disediakan,” ucap Ahmad Suyudi, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Jepara, Selasa (15/8/2017).

Ia mengatakan, hal itu karena rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya sampah umum yang berserakan setelah acara. 

Dalam dua hari pelaksanaan karnaval, sampah yang dikumpulkan diangkut dengan tiga truk pengangkut sampah. Sementara itu, jumlah petugas yang diturunkan mencapai puluhan orang. 

Hal itu dibenarkan oleh mandor pemungutan sampah Mulyono, ia mengatakan di Alun-alun Jepara ada sekitar 40 tong sampah. Namun fasilitas itu ternyata kurang dimanfaatkan oleh warga. 

“Sebenarnya fasilitas itu (tempat sampah) cukup untuk menampung sampah masyarakat. Namun kesadarannya akan kebersihan masih rendah, akhirnya kami dari dinas yang harus turun tangan,” ujarnya. 

Seorang warga Alvin mengakui hal itu. Menurutnya, kesadaran  masyarakat membuang sampah di tempatnya memang masih rendah. “Ya memang kesadarannya masih kurang. Buktinya masih banyak sampah bertebaran sehabis acara seperti ini. Saya sendiri punya usul, jika memang saat punya sampah tapi tak didekat tempat sampah, ya sebaiknya bawa dulu sampai menemukan tong sampah,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

TPA di Ngembak Grobogan Bakal Dilengkapi Jembatan Timbang

Tim dari kementerian PUPR, DLH Grobogan, dan konsultan sedang berada di kawasan TPA untuk menentukan lokasi pekerjaan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek penataan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi berlanjut lagi. Rencananya, berbagai fasilitas tambahan juga akan disiapkan di lokasi tersebut. Salah satunya adalah keberadaan jembatan timbang.

Kasi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Noer Rochman menyatakan, sebelumnya memang sudah ada penataan lokasi TPA dengan anggaran sekitar Rp 18 miliar yang berasal dari Kementerian PUPR. Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musola, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Namun, untuk tahun ini, pihaknya meminta bantuan lagi untuk melengkapi sarana dan prasarana di TPA. Antara lain, berupa jembatan timbang, pembuatan jalan manuver dari pintu masuk TPA, hingga zona sampah baru. Kemudian, bronjong kawat untuk penahan tumpukan sampah yang lama supaya tidak longsor.

“Proyek tersebut semua dikendalikan dari kementerian. Saat ini, baru tahap persiapan pekerjaan untuk menentukan titik lokasi,” katanya, Kamis (3/8/2017)

Dijelaskan, keberadaan fasilitas pendukung, khususnya jembatan timbang memang sangat diperlukan. Sebab, dengan pengelolaan model controlled landfill yang diterapkan saat ini perlu mengetahui berapa banyak volume sampah di kolam pembuangan.

Pada model controlled landfill, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm.

Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, di atasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

“Idealnya, sebelum ditimbun tanah sampah yang akan masuk ditimbang dulu. Dengan demikian, kita bisa mengetahui berapa volume sampah yang sudah ada di kolam pembuangannya,” imbuhnya.

Selain dari kementerian, ada alokasi dana dari APBD kabupaten. Penggunaannya untuk penutupan sampah di zona lama yang masih pakai open dumping. Penutupan ini butuh tanah sekitar 1.500 meter kubik. Kemudian penanaman bambu di sekeliling TPA yang berfungsi sebagai pembatas serta buffer zone.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

TPA Gemulung Jepara Sudah Penuh

Warga melakukan aktivitas pemilahan sampah di TPA Gemulung, Kabupaten Jepara, Senin. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di Desa Gemulung, Kabupaten Jepara, semakin padat. Selain dari perkampungan dan pasar meningkatnya gunungan sampah juga disumbang dari aktivitas pabrik dan rumah indekos di sekitar wilayah tersebut. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, kegiatan manufaktur di wilayah Gemulung dan Banyuputih memang berkontribusi pada jumlah sampah yang masuk di TPA tersebut. 

Ia mewacanakan untuk memindahkan lokasi TPA mengingat kondisinya yang hampir tak kuat menampung. “Kita wacanakan untuk tempat tersebut harus dipindah. Hal itu mengingat sisi kanan dan kirinya sudah tak mungkin lagi diperluas,” katanya, Selasa (1/8/2017). 

Saat ini sudah ada dua desa yang dijadikan calon lokasi TPA baru. Namun demikian hal itu masih menanti kajian lebih lanjut. Adapun, TPA Gemulung menampung sampah dari wilayah selatan Jepara seperti Mayong, Kalinyamatan, Welahan, Pecangaan dan sedikit wilayah Nalumsari. Sementara volume sampah tiap hari mencapai tiga ton. 

Menunggu rencana tersebut matang, pihaknya tengah berusaha untuk memaksimalkan luasan wilayah yang ada. Hal itu juga diamini oleh Kabid Kebersihan dan Pertamanan Isnan Haryono.  “Saat ini hanya ditata agar masih bisa menampung dengan menatanya keatas,” kata Isnan.

Editor : Akrom Hazami

 

Libur Panjang, Volume Sampah di Jepara Bertambah 25 Persen

Seorang pemulung sedang memilah sampah di TPA Desa Bandengan, Senin (24/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Libur panjang dan banyaknya kegiatan, berdampak pada meningkatnya volume sampah di Jepara. “Luar biasa (volume sampah) apalagi banyak acara, seperti di alun-alun,” ucap Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Jepara,  Senin (24/4/2017). 

Menurutnya, volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan naik hingga 10 ton dari hari biasa. Dirinya menyebut, di hari normal total buangan sampah ke fasilitas tersebut berjumlah 40 ton hingga 43 ton. 

Lulut mengatakan, volume sampah juga berasal dari berbagai acara di bulan April. Meskipun ada komitmen untuk menjaga kebersihan venue tiap kali event berlangsung, namun kenyataan di lapangan berbicara lain. 

“Komitmennya ketika ada sebuah acara sampah dinolkan, artinya sebelum acara bersih, setelahnya juga harus bersih. Namun terkadang peserta acara ada yang langsung pergi, yah kami memaklumi mungkin karena capek. Akan tetapi, kami juga punya jalur pemungutan sampah sendiri, jadi kalau ada acara ya harus pintar-pintar mengatur petugas untuk mengatasi masalah tersebut,” ujarnya. 

Dirinya mengatakan, sampah yang masuk ke TPA Bandengan berasal dari Kecamatan Jepara, Batealit, Tahunan, sebagian Kedung dan sebagian Pakis Haji. 

Ia mengatakan, dengan kondisi seperti itu, fasilitas TPA masih bisa mengatasi. Namun demikian, ia tidak menampik kenyataan, volume sampah kini telah menggunung. 

“Ya kami berusaha agar meskipun banyak orang yang memproduksi sampah, namun jumlah yang masuk ke TPA tidak begitu banyak. Cara yang kami tempuh adalah dengan mengedukasi masyarakat, terkait pengelolaan sampah,” pungkas Lulut. 

Editor : Kholistiono

 

Pembuatan Kolam Sementara untuk Pembuangan Air Resapan Sampah di TPA Landoh Mulai Dilakukan

Dua alat berat disiagakan untuk membuat komlam sementara di TPA Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Keberadaan kolam yang menampung air resapan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang, banyak menuai protes dari warga sekitar. Hal ini, karena limbahnya mencemari air sumur warga.

Terkait hal itu, kini, akan dilakukan pengurasan terhadap air resapan sampah yang berada di kolam tersebut. Namun, sebelum dikuras, terlebih dahulu dibuatkan kolam sementara untuk menampung limbah cair tersebut.

Saat ini, petugas sudah menurunkan alat berat untuk mengecek ketebalan sampah di TPA tersebut. “Kalau memang tumpukan sampahnya agak tipis, akan langsung digali untuk dibikin kolam sementara,” ujar Suyikno, salah satu petugas di TPA Landoh.

Menurutnya, untuk kolam penampungan sementara akan dibuat di area TPA seluas 6 hingga 7 meter dan sedalam 6 meter. Sebab, penampungan sementara itu akan bisa meresap air sampah ke dalam tanah dan tidak bisa mengendap.

Kemudian, terkait kendala saat ini, pihaknya mengakui bahwa di saat hujan tiba, maka pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu. Sebab air hujan bisa menggenangi kolam tersebut “Kalau masih hujan kayak ini sulit untuk mengeruk sampah. Sehingga pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Duh, Alun-alun Purwodadi Belum Dilengkapi Tempat Sampah

Kawasan alun-alun di sekitar tenda PKL perlu disediakan tempat sampah karena sudah mulai ramai pembeli. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi yang menelan dana Rp 10,3 miliar ternyata tidak ada alokasi untuk penyediaan sarana dan prasarana penunjang. Salah satunya, keberadaan tempat sampah.

Padahal keberadaan sarana yang dianggap sepele ini cukup penting untuk menunjang kebersihan alun-alun. Terutama, untuk kebersihan di sekitar tenda PKL di sisi timur yang sudah ditempati sejak Sabtu (11/2/2017) malam lalu.

“Saya dari tadi cari tempat sampah untuk buang gelas plastik bekas minuman tetapi tidak ketemu. Akhirnya, saya taruh saja di bawah pohon besar ini,” kata Lastri, salah seorang pengunjung alun-alun, Rabu (14/2/2017) malam.

Ketua Paguyuban PKL alun-alun Nur Wakhid membenarkan jika saat ini belum ada sarana tempat sampah sampai saat ini. Padahal, keberadaannya sangat dibutuhkan para PKL untuk membuang sampah. Diketathui saat ini volume sampah cukup banyak.

“Untuk sementara, sampah kita kumpulkan dan dibuang di tempat sampah seberang jalan. Kami berharap, keberadaan tempat sampah segera ditempatkan di sekitar sini. Khususnya, di sekitar lokasi PKL yang potensi sampahnya cukup banyak. Selama ini, kami berupaya lokasi ini tetap bersih setelah PKL selesai jualan,” jelas pedagang nasi soto itu.

Sementara itu, Kasi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman saat dikonformasi menyatakan, awalnya pengadaan tempat sampah dikira sudah jadi bagian dalam proyek revitalisasi alun-alun. Namun, ternyata tidak ada alokasi anggaran untuk pengadaan tempat sampah.

“Saat ini, kami sudah menyiapkan tempat sampah untuk ditaruh di kawasan alun-alun. Barangnya lagi diproses bikin dan dalam waktu dekat sudah jadi,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Bendung Wilalung Kudus Penuh Sampah

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bendung Wilalung Kudus dipenuhi tumpukan sampah di ujung pintu air. Hal itu berbeda dari biasanya, karena kali ini sampah mengambang di bendung. Hal itu disampaikan penjaga Bendung Wilalung Noor Ali di Kudus, Rabu (8/2/2017).

Menurutnya, sampah saat ini masih menutup akses air meski debit ai telah berkurang. “Biasanya sampah langsung hilang saat air surut. Tapi kali ini masih ada. Jumlah sampah juga cukup banyak,” kata Ali.

Sampah yang ada itu merupakan kiriman dari berbagai tempat. Seperti halnya sampah dapur dan permukiman. Namun di antara sampah itu yang banyak adalah sampah pohon pisang. Menyikapi hal itu, pihaknya sudah mengajukan  surat kepada balai besar terkait hal itu.

Surat tersebut, merupakan laporan kepada atasan untuk mengatasi sampah. Namun sampai sekarang belum ada instruksi tentang pembersihan sampah. “Biasanya ada pekerja yang membersihkan sampah. Modelnya dengan menghanyutkan sampah ke sungai dan terbawa arus. Soalnya kalau diambil sangat sulit dan tak ada kendaraan,” imbuh dia.

Editor : Akrom Hazami

Anggota DPRD Grobogan Dukung Penanganan Sampah Berkonsep Ramah Lingkungan

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Upaya penanganan sampah dengan konsep ramah lingkungan yang dilakukan instansi terkait mendapat dukungan dari wakil rakyat setempat. Salah satunya, datang dari Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo.

“Penanganan sampah sudah jadi persoalan serius yang mesti ditangani. Tentunya, upaya yang dilakukan oleh dinas terkait akan kita dukung sepenuhnya sepanjang untuk kebaikan masyarakat,” katanya.

Dia menyadari, untuk menangani sampah dengan konsep ramah lingkungan memang butuh biaya tidak sedikit. Nantinya, dari anggota DPRD akan berupaya mendukung alokasi dana yang dibutuhkan supaya penanganan sampah bisa lebih maksimal. Tidak hanya sampah di kawasan kota saja tetapi juga di level kecamatan lainnya yang juga butuh perhatian serius. Meski memberikan dukungan, namun Nurwibowo memberikan catatan khusus dalam penanganan sampah tersebut. Hal itu semata-mata tidak dilakukan hanya demi mendapatkan piala Adipura saja. Tetapi memang untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih luas guna menciptakan lingkungan yang sehat, rapi dan indah.

“Ada penilaian Adipura atau tidak, penanganan sampah tentu harus dilakukan sungguh-sungguh. Kalau penanganan kebersihan yang dilakukan bagus termasuk masalah sampah maka kesempatan dapat piala Adipura pasti lebih mudah. Jadi, kalau penanganan sampah tujuannya hanya untuk dapat piala Adipura malah kurang pas jadinya,” tegus politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Dukungan terharap penanganan sampah berkonsep ramah lingkungan juga dilontarkan Ketua Komisi B Budi Susilo. Budi menegaskan, dalam penanganan sampah, sebaiknya juga melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat. “Persoalan sampah ini merupakan masalah kita bersama. Jadi, salah satu komponen penting untuk menangani sampah adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegasnya.

Budi menilai, penanganan sampah yang dilakukan sejauh ini memang masih perlu ditingkatkan lagi. Tidak hanya di kawasan kota tetapi juga sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan raya. Seperti di Kecamatan Godong dan Gubug. Terkait dengan Piala Adipurna, sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih simbol kebersihan itu sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama.

“Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang. Kami tentu akan mendukung upaya penanganan sampah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Penanganan Sampah Makan Biaya Rp 2 Miliar 

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk membuat  suasana kota Purwodadi bersih dari sampah ternyata juga butuh dukungan biaya yang tidak sedikit. Sebab, banyak personel dan peralatan pendukung yang harus disiapkan untuk mengangkut sampah dari permukiman hingga sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.

“Untuk penanganan sampah memang butuh dana besar. Tahun 2017 ini, alokasi dana untuk menangani sampah sekitar Rp 2,6 miliar,” Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Menurutnya, sebagian besar dana yang tersedia tersedot untuk biaya operasional. Yakni, honor tenaga harian lepas (THL), bahan bakar dan operasional alat berat di TPA. Lebih lanjut dijelaskan, untuk penanganan sampah pihaknya memiliki 4 dump truk dan 5 truk amrol untuk mengangkut kontainer sampah. Jumlah kontainer keseluruhan ada 40 unit yang tersebar di kawasan kota dan beberapa kecamatan.

Peralatan lainnya berupa 57 becak kayuh, dan 4 becak motor roda tiga. Kemudian, peralatan berat yang siaga di TPA berupa 1 unit backhoe dan 2 unit buldoser. Untuk jumlah THL yang dimiliki sekiar 150 orang. Personel ini, terdiri dari para penyapu jalan raya dan pengambil sampah dari kawasan pemukiman yang ada di kawasan perkotaan. Kemudian, ada lagi tenaga yang ada di TPA serta kru truk yang selain mengambil sampah atau kontainer di kota juga menyisir ke beberapa TPS di kecamatan.

Alokasi dana penanganan sampah tahun ini, tidak terpaut jauh dengan tahun 2016. Kemungkinan, pihaknya akan mengupayakan penambahan sedikit anggaran untuk pengadaan tanah urug di TPA. Dengan penanganan TPA model controlled landfill yang akan dilakukan dalam waktu dekat memang butuh tanah urug untuk melapisi sampah yang sudah ditimbun. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

“Penanganan TPA model controlled landfill memang harus ada persediaan tanah. Fungsi tanah ini di sisi lain untuk mempercepat proses dekomposisasi sampah supaya mudah terurai,” jelasnya.

Disinggung soal adanya penambahan peralatan pendukung, Noer Rochman menyatakan, untuk sementara belum ada pengadaan baru tahun ini. Peralatan yang ada masih bisa difungsikan untuk menangani sampah. “Beberapa peralatan yang mengalami kerusakan kita upayakan perbaikan dulu. Kalau pengadaan mungkin tahun mendatang. Salah satu kebutuhan yang perlu kita lakukan ke depan adalah meremajakan becak sampah kayuh. Mungkin tahun depan akan kita upayakan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Selain Penataan TPA, Ini Kunci Utama Raih Adipura

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam beberapa tahun terakhir, kegagalan meraih Piala Adipura memang terganjal pada faktor tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.Belum dilakukannya pengelolaan sampah ramah di lingkungan di TPA, membuat skor penilaian Adipura selalu menurun. Padahal, sektor TPA ini dapat angka tinggi dalam penilaian Adipura.

 “Sekarang, kawasan TPA sudah ditata dan kesempatan untuk meraih piala Adipura kembali terbuka. Kita harapkan, pada tahun 2017, piala Adipura bisa kita raih lagi,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Untuk bisa meraih Adipura tidak sekadar konsentrasi pada TPA.  Tetapi diperlukan konsep yang jelas, terpadu dan berkesinambungan. Selain itu, ada hal lain yang lebih utama untuk dikerjakan. Yakni menggandeng semua komponen masyarakat untuk menyukseskan penilaian Adipura. Caranya, dengan meminta partisipasi masyarakat untuk menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik.

“Dalam penilaian Adipura faktor yang dinilai cukup banyak. Kalau bisa melibatkan semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi maka kesempatan meraih Adipura bisa lebih terbuka. Jadi, salah satu komponen penting adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama. “Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Ahmadi Widodo menegaskan, sejauh ini, partisipasi masyarakat, khususnya di kawasan kota untuk mendukung piala Adipura dinilai sudah cukup menggembirakan. Empat kali keberhasilan meraih Adipura merupakan salah satu bukti adanya partisipasi dari berbagai elemen masyarakat. Selain menata menciptakan lingkungan, sejumlah perkampungan juga mulai mendirikan Bank Sampah. Adanya bank sampah ini menjadikan warga memilah sampah terlebih dahulu. Kemudian, sampah yang sudah dipilih ditabung di bank sampah dan sisanya baru dibuang.

“Secara umum, konsep bank sampah itu cukup simpel. Yakni, masyarakat menyetorkan sampah yang sudah dipilah di rumah ke bank sampah. Mereka ini tidak mendapatkan uang tunai ketika menyetorkan sampah tetapi uang itu masuk dalam rekening tabungan bank sampah. Selain dapat penghasilan, melalui bank sampah ini bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA,” jelasnya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa kampung yang punya Bank Sampah. Selain itu, ada pula Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di berbagai tempat. Anggota KSM ini juga melakukan pemilihan sampah yang masih bisa punya nilai ekonomi. Di samping itu, berbagai pelatihan kerajinan dari bahan bekas juga sudah seringkali diberikan pada berbagai komponen masyarakat. Termasuk pada kalangan pelajar.

Editor : Akrom Hazami

 

Sebentar Lagi, Penanganan Sampah Bakal Pakai Model Baru, Begini Gambarannya

 

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejak Oktober 2016 ada penataan yang dikerjakan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Yakni, membuat lokasi baru pembuangan sampah yang sudah berkonsep ramah lingkungan.

Proyek penataan TPA ini anggarannya cukup besar, sekitar Rp 18 miliar. Dana penataan TPA ini berasal dari Kementerian PUPR. Proyek penataan semua dikendalikan dari kementerian. Mulai pembuatan DED, hingga proses lelangnya.

“Dana sebesar ini, digunakan untuk membuat tempat pembuangan sampah model ramah lingkungan disisi barat areal TPA. Luas lahan yang disediakan sekitar 2,5 hektar,” jelas Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Di lahan tersebut, dibuatkan tiga kolam besar yang disebut zona pembuangan sampah dan masing-masing berukuran 0,8 hektar. Dibagian dasar zona dipasangi geomembran untuk menahan air dari tumpuhan sampah tidak meresap dalam tanah. Kemudian masih ada pasangan geotekstile di atas geomembran. Hal ini bertujuan untuk melindungi geomebran tidak rusak karena benda tajam yang bercampur dalam sampah.

Di atas geotekstil masih ditaburi gravel atau batu-batuan kecil untuk menyerap air. Dalam tiap zona juga dibuatkan hangar untuk truk bongkar dan alat berat untuk meratakan sampah.

“Tiap zona ini diperkirakan mampu menampung sampah sebanyak 292.000 meter kubik atau setara 11.000 ton. Dengan perhitungan banyaknya volume sampah selama ini, tiap zona bisa dipakai menimbun sampah hingga 5 tahun. Sampah di tiap zona akan ditimbun dengan model piramida,” katanya.

Setelah zona pertama penuh, penimbunan sampah dialihkan ke zona kedua. Kemudian, begitu zona ketiga penuh maka zona pertama kembali akan difungsikan jadi tempat penimbunan lagi.

“Jadi, kira-kira setahun sebelum zona tiga penuh, sampah di zona pertama yang sudah lama disitu mulai kita bongkar bertahap. Sampahnya kita olah jadi pupuk organik sehingga setelah kosong tempatnya bisa dipakai lagi begitu zona tiga penuh. Ketinggian sampah ditiap zona kira-kira 9 meter,” terang Noer.

Nantinya, cara penanganan sampah akan memakai model controlled landfill yang lebih berkembang dibanding open dumping. Sebab, pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel.

Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

Pembuatan zona berukuran besar juga dilengkapi saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan fasilitas pengendalian gas metan.

“Gas metan dari sampah ini nanti kita kembangkan jadi biogas untuk bahan bakar alternatif. Dalam pembuatan zona sudah dipasang cerobong dan ada saluran khusus untuk menangkap gas metan,” kata Noer.

Untuk bak penampungan air lindi juga sudah disiapkan tempat khusus di selatan pembuatan zona. Ukurannya sangat besar, yakni 98,5 x 30 meter yang disekat menjadi beberapa kotak.

Dari dasar zona sampah juga sudah dipasang saluran khusus untuk mengangkut lindi menuju tempat penampungan. Kedepan, air lindi akan diolah jadi pupuk cair yang bermanfaat bagi pertanian.

“Jadi, penataan TPA baru ini konstruksi dan desainnya sudah ramah lingkungan. Lokasinya juga tidak terlalu luas dibandingkan model open dumping. Tapi, biaya pembuatannya memang nilainya sangat besar. Di samping itu, butuh juga dana operasional tambahan, khususnya untuk tanah buat mengurug sampah,” jelasnya.

Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musala, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Noer Rochman menyatakan, proses penataan TPA saat ini progresnya sudah berkisar 95 persen. Pekerjaan utama yang sedang disiapkan penyelesaiannya adalah membuat jalan operasional menuju zona.

“Targetnya, akhir bulan pekerjaan penataan TPA sudah rampung 100 persen. Dengan demikian, mulai awal Februari nanti, penimbunan sampah sudah bisa dialihkan ke zona pertama. Sambil menunggu proyek selesai, penimbunan sampah saat ini kita tempatkan di lahan yang kosong,” imbuhnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pengendara di Jalur Gubug-Purwodadi Keluhkan Bau Sampah Tepi Jalan Raya

Tumpukan sampah di tepi Jalan Gubug-Purwodadi yang merupakan jalan utama menuju Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tumpukan sampah di tepi Jalan Gubug-Purwodadi yang merupakan jalan utama menuju Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga dan pengguna jalan yang biasa melintas di jalan raya Gubug-Semarang mengeluhkan keberadaan tempat pembuangan sampah liar di pinggir jalan raya. Tepatnya, di perbatasan wilayah Kecamatan Gubug dan Tegowanu.

Keluhan itu disampaikan lantaran sampah itu selalu mengeluarkan bau menyengat karena cukup lama tidak diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Saat kena air hujan bau menyengat dari busukan sampah makin bertambah parah.
Meski sudah berlangsung lama, namun hingga kini keberadaan tempat pembuangan sampah itu belum kunjung di atasi. Warga berharap, sampah itu segera ditangani karena banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Selain bau, tumpukan sampah itu juga dipastikan jadi sumber penyakit karena letaknya tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk.

Di lokasi tersebut terdapat dua kontainer yang disediakan dari Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Grobogan yang sekarang kewenangannya berada di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan. Namun, ketika dua kontainer sudah penuh dengan sampah, warga membuang sampah di tanah kosong yang ada di dekatnya.

Sementara itu, Camat Gubug Teguh Harjokusumo mengaku telah meminta dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah Grobogan bagian barat kepada dinas terkait. Namun, sampai sekarang belum ada realisasinya.

Teguh mengakui, keberadaan sampah yang menumpuk di tepi jalan tersebut menganggu pemandangan dan membuat pengendara yang melintas merasa kurang nyaman.

“Saya juga prihatin dengan kondisi itu. Kami berharap supaya di wilayah Grobogan barat ini segera ada TPA. Solusinya memang harus ada TPA ini,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sampah Bisa Dikreasikan jadi Barang Super Oke, Itu Terbukti di Jepara

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Sejak diresmikan kali pertama Januari 2013, jumlah bank sampah di Kabupaten Jepara terus bertambah. Jika pada akhir tahun 2013 tidak lebih dari 10 unit, pada akhir tahun 2015 tercatat berkembang menjadi lebih dari 55 unit. Sementara hingga di tahun 2016 menjadi sebanyak 89 bank sampah yang eksis maupun rintisan.

Bank sampah ini terdiri dari bank sampah  permukiman, bank sampah sekolah dan bank sampah kantor/SKPD.

Semakin banyak jumlah bank sampah, utamanya yang aktif, berarti akan semakin besar manfaat yang dapat diberikan bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan. Salah satu hasilnya dapat dilihat langsung pada Pameran Kreativitas Sampah Tahun 2016, di halaman pendapa Kabupaten Jepara.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari ini, Rabu dan Kamis (21-22/12) sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Rapat Kerja Daerah II Bank Sampah Kabupaten Jepara yang dibuka langsung oleh Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat.

Hadir pada kesempatan tersebut, Sekda Jepara, Kepala BLH, Kepala Dinas/Instansi terkait serta peserta yang terdiri dari perwakilan pengurus dari 89 Bank sampah se-Kabupaten Jepara.

Kepala BLH Kabupaten Jepara, Fadkurrohman menyatakan pameran kreativitas sampah tahun 2016 ini diikuti 24 peserta dari bank sampah, sekolah dan komunitas peduli lingkungan.

Sementara untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, khususnya bidang persampahan, pada kesempatan rapat kerja kali ini ditampilkan pelaku sekaligus tokoh perintis yang kini menjadi Direktur Bank Sampah Mulya Sejahtera Semarang, Sri Mulyani.

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat sangat apresiasi atas berbagai kreativitas dalam pengelolaan sampah, sebagaimana yang ditampilkan dalam pameran. “Diharapkan  dapat lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah,” katanya.

Khusus produk hasil pengolahan limbah sampah hendaknya hendaknya terus ditingkatkan. Sehingga dapat lebih menarik minat para pembeli dan masyarakat serta konsumen secara keseluruhan. 

 Editor : Akrom Hazami

Hebatnya Pemuda Pladen, Siap Angkut Sampah Demi Desa

Kondisi lingkungan Desa Pladen nampak sampah berserakan, menggerakan pemudanya untuk menjadi petugas kebersihan dan mengelola sampah di desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kondisi lingkungan Desa Pladen nampak sampah berserakan, menggerakan pemudanya untuk menjadi petugas kebersihan dan mengelola sampah di desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gerakan sadar akan kebersihan semakin digalakkan bahkan sampai tingkat desa. Di Desa Pladen misalnya. Pemuda desa yang terdapat di Kecamatan Jekulo itu, mengelola sampah demi kebersihan desanya.

Hal itu diungkapkan Plt Sekretaris Desa Pladen, Kecamatan Jekulo Sunardi. Pihaknya mengatakan kalau pemuda Karang Taruna di sana meminta pengelolaan sampah dikelola oleh kalangan pemuda.

”Jadi para pemuda meminta cara pengelolaan sampah, agar mereka bisa mengelola. Para pemuda itu atas keinginannya sendiri untuk menjadi tenaga pembersih sampah di desa,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Menyikapi hal itu, kata Sunardi, pihak desa dengan senang hati memberikannya. Hanya sebelum memberikan, terlebih dahulu harus dibekali terlebih dahulu soal tugasnya.

Hal itu dilakukan demi berjalannya progam secara bersama. Baik tingkat Karang Taruna yang mengurusi kepemudaan desa dan pihak pemdes yang menampung sampah dari masyarakat.

”Mengenai model masih disiapkan. Apakah dikelola secara sepenuhnya pihak desa atau Karang Taruna atau kerja sama. Yang jelas keduanya harus berjalan,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Waah, Pemdes Pladen Jekulo Kudus Fasilitasi Buang Sampah Gratis untuk Warganya

Tempat sampah yang disediakan Pemdes Pladen untuk warganya secara gratis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Tempat sampah yang disediakan Pemdes Pladen untuk warganya secara gratis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Masyarakat Desa Pladen, kecamatan Jekulo, mendapat keistimewaan khusus dari pemerintah desanya. Berbeda dari desa lainnya yang harus membayar secara rutin pembuangan sampah, namun untuk Desa Pladen tidak demikian.

Plt Sekretaris Desa Pladen, Kecamatan Jekulo Sunardi mengatakan, tiap warga mendapatkan fasilitas yang sama untuk bebas membuang sampah. Bahkan, sebanyak apapun sampah yang dibuang akan digratiskan oleh pihak desa.

”Ini merupakan fasilitas desa, jadi tidak ada biaya khusus dalam membuang sampah di sini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, pemdes Pladen juga membagikan tempat sampah kepada tiap rumah yang ada di desa tersebut. Tujuannya, tidak lain adalah guna meningkatkan kebersihan serta mencegah warga membuang sampah sembarangan. Tempat sampah tersebut dapat digunakan masyarakat desa dalam membuang sampahnya.

Meski digratiskan, namun bukan berarti pelayanan buruk. Sebab tiap pagi pasti ada petugas sampah dari desa yang mengambil sampah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk membuangnya.

”Petugas digaji dari desa, jadi setelah sampai diambil, petugas sampah dari desa langsung membuangnya di TPA Tanjungrejo,” imbuhnya.

Mengenai kendaraan yang digunakan, pemdes Pladen mendapatkan bantuan alat transportasi dari Pemkab Kudus. Yakni sebuah kendaraan sampah roda tiga.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswi Cantik Ini Ubah Kertas LKS Bekas jadi Baju Indah

Hasil kreasi dari barang-barang bekas yang dihasilkan Ummy Izzatunida. (MuriaNewsCom / EDY SUTRIYONO)

Hasil kreasi dari barang-barang bekas yang dihasilkan Ummy Izzatunida. (MuriaNewsCom / EDY SUTRIYONO)

 

KUDUS – Siswi kelas XII MA NU Muallimat Kudus, Ummy Izzatunida, memang top. Betapa tidak, kreativitasnya mampu mengolah sampah menjadi barang bernilai.

Dari keprihatinan ini, gadis berusia 15 tahun ini lantas memutar otaknya untuk memanfaatkan barang-barang bekas atau sampah. Barang-barang bekas itu kemudian ia olah dan sulap menjadi kerajinan tangan yang indah.

“Sebenarnya barang barang bekas dan sampah ini juga bisa dimanfaatkan. Baik itu mulai dari koran, botol bekas ataupun LKS (lembar kerja siswa) yang sudah tak terpakai lagi,” katanya.

Ia mencontohkan, koran-koran bekas bisa ia sulap menjadi menjadi baju yang indah. Ia menjelaskan, untuk membuat baju dari koran bekas tersebut membutuhkan sejumlah bahan. Di antaranya, koran bekas, kain kapas untuk lambaran dalamnya, lem, serta manik manik lainnya.

“Untuk pembuatan baju ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran yang maksimal. Bila waktu dan kesabaran tidak bisa dikontrol, maka bahan-bahan itu akan rusak. Serta hasilnya juga tidak bagus,” tuturnya.

Siswi yang mulanya menjadi angota OSIS itu juga terkadang dimintai sesama rekannya ataupun adik kelasnya untuk memberikan pendidikan kesenian usai jam pelajaran sekolah.

“Untuk pembuatan seni baju bekas dari bahan bekas ini memang berada di ekskul “keputrian” MA NU Muallimat. Ekskul keputrian itu sejenis kegiatan memasak, membuat bros, membuat jilbab serta membuat seni dari bahan bekas semacam ini,” paparnya.

Akan tetapi ekskul “keputrian” yang berada di MA NU Muallimat tersebut materi pendidikannya tergantung dari kesepakatan dari peserta ekskul. “Memang dalam seni ekskul keputrian itu hari dan materinya tidak tentu. Dan itupun tergantung pada permintaan atau kesepakatan seluruh peserta. Misalkan hari senin ini ialah membuat baju bekas dari koran, rabu membuat masakan, dan hari selanjutnya memuat jilbab dan lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, bila seseorang ingin sadar akan kemampuanya, maka setiap barang bekas itu ada manfaatnya. Selain itu juga kreativitas dapat terasah denghan baik. (EDY SUTRIYONO / AKROM HAZAMI)

Musim Baratan, Sampah Kiriman Penuhi Bibir Pantai Karang Jahe Rembang

Musim baratan, sampah kiriman berdatangan di Pantai Karang Jahe Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Musim baratan, sampah kiriman berdatangan di Pantai Karang Jahe Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Meski setiap pagi dibersihkan namun sampah di bibir pantai Karang Jahe terus berdatangan. Lantaran sejak sepekan belakangan sudah memasuki musim baratan.

Salah satu petugas Pantai Karang Jahe, Wahid (35) mengatakan, sampah kiriman tersebut baru ada beberapa hari yang lalu. “Biasanya pantainya bersih, tidak ada sampah. Namun karena sudah memasuki musim baratan, jadi sampah-sampah dari luar daerah terbawa ke sini,” ungkapnya.

Dijelaskannya, setiap pagi pihak pengelola pantai sudah menugaskan tiga orang untuk membersihkan sampah kiriman itu. Namun setiap siang hari, sampah kiriman pasti berdatangan. “Padahal sudah ada tiga orang yang membersihkan, tapi sampah kiriman terus berdatangan,” jelasnya.

Meski terdapat banyak sampah di tepian bibir pantai, namun para pengunjung tetap terlihat asyik bermain. Salah satunya, Tomo (30) warga desa Tompomulyo, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Menurutnya, meski ada sampah, namun pesona Pantai Karang Jahe tidak berkurang.

Tomo yang berkunjung bersama keluarganya mengapresiasi langkah pengelola yang melakukan pembersihan sampah setiap pagi. “Ya, gimana lagi namanya juga sedang musim baratan. Setidaknya sudah ada upaya dari pengelola untuk membersihkan sampah yang berdatangan,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Video – Begini Cara Ubah Sampah Jadi Rupiah

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbagai karya kreatif dipamerkan dalam pameran bank sampah di Kabupaten Jepara, Selasa (22/12/2015). Salah satu dari karya yang dipamerkan adalah memanfaatkan limbah plastik dan kertas menjadi barang bernilai ekonomi, seperti pakaian, tas, pot, hiasan hingga memanfaatkan sampah menjadi bahan untuk bercocok tanam.

Hal ini seperti yang dilakukan salah satu peserta bernama Dwi. Dirinya membuat sejumlah produk seperti tas, baju, kotak pot, kotak tisu, dan tempat sampah dengan bentuk yang unik.

“Saya buat tas dari bahan plastik yang sudah tidak digunakan. Jika sudah menjadi tas, bisa dijual dengan harga sekitar Rp 70 ribu hingga 125 ribuan,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/12/2015).

Menurutnya, untuk membuat satu tas dengan bahan plastik bekas, dirinya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari saja. Sedangkan untuk membuat satu baju dengan bahan limbah juga hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja.

Sementara itu, salah seorang pembimbing anak peduli lingkungan dari SMA 1 Bangsri Haryanto menjelaskan, dirinya bersama anak didik membuat sejumlah karya yang juga terbuat dari bahan limbah atau sampah. Misalnya saja, dia memanfaatkan sampah menjadi arang yang dapat digunakan untuk membakar sate. Selain itu juga membuat pupuk yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
“Pupuk bisa digunakan untuk tanaman hidroponik. Selain itu juga botol-botol plastic bekas juga dapat digunakan untuk pot tanaman,” kata dia.

Dia menambahkan, untuk membuat berbagai karya tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun hanya membutuhkan keseriusan dan ketelitian saja untuk memanfaatkan limbah menjadi barang berharga bahkan memiliki nilai ekonomi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

 

Relawan Bersihkan Sampah Menggunung di Bendung Sambong, Warga Malah Masa Bodoh

Sejumlah relawan mengangkut sampah menggunung di Bendungan Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan mengangkut sampah menggunung di Bendungan Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kesadaran warga tentang bahaya sampah yang menyumbat di sungai memang masih sangat minim. Terbukti, ketika sejumlah relawan yang terdiri dari RAPI, PMI, TAGANA dan Babinsa setempat melaksanakan giat pengurangan risiko bencana dengan mengangkat sampah yang menggunung di Bendung Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015), warga setempat malah masa bodoh.

Bukannya ikut membantu sejumlah relawan yang membersihkan sampah, warga justru cuek dan menyalahkan bendungan. “Kami sudah berupaya membersihkan sampah yang menggunung biar tidak terjadi bencana banjir, warga setempat malah menyalahkan bendungannya. Padahal, ini menyangkut hidup warga setempat,” kata Ketua RAPI Pati Gunawan kepada MuriaNewsCom.

Saat hujan mengguyur daerah tersebut beberapa waktu lalu, Desa Tambahmulyo diterjang banjir hingga menyebabkan tanggul jebol. Aktivitas warga pun lumpuh untuk sementara.

Kendati begitu, masyarakat masih belum sadar akan pentingnya membersihkan sampah yang menyumbat saluran dan sungai. “Bendungan ini parah. Padahal, sampah yang menggunung sampai menutupi bendungan,” imbuhnya.

Tak hanya warga yang cuek, petugas bendungan juga kurang respons saat gunungan sampah menyumbat bendungan tersebut. Jika hujan kembali mengguyur, lanjutnya, sudah dipastikan air meluber hingga menggenangi pemukiman.

Karena itu, ia meminta kepada seluruh warga di Kabupaten Pati agar peka terhadap kondisi alam di sekitarnya. Pasalnya, lingkungan yang tidak baik menjadi penyebab utama muncul bencana. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Wow! Sampah di Kota Pati Capai 50 Ton Per Hari

Sampah yang masuk ke TPA Sukoharjo diolah dengan teknik terasering untuk dipilah antara organik dan anorganik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sampah yang masuk ke TPA Sukoharjo diolah dengan teknik terasering untuk dipilah antara organik dan anorganik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sampah yang masuk tempat pembuangan akhir (TPA) Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo mencapai 50 ton per hari. Dalam sebulan saja, sampah yang diambil dari wilayah Kota Pati itu mencapai angka 1.500 ton.

“Angka itu diambil dari wilayah Kecamatan Pati, bukan kabupaten. Sampah organik dan anorganik yang masuk, langsung diolah dengan eskavator berdasarkan teknik terasering. Setelah itu, ditutup dengan tanah,” ujar Penanggungjawab TPA Sukoharjo Agus Darmono kepada MuriaNewsCom, Rabu (7/10/2015).

Sebelum ditutup dengan tanah, kata dia, sampah sudah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik ditutup dengan tanah, sedangkan sampah anorganik diambil pemulung.

“Sedikitnya ada 60 pemulung yang mengambil sampah anorganik di sini, seperti plastik, besi dan sebagainya,” imbuhnya.

Dengan pemanfaatan itu, lanjutnya, pihaknya bisa menghasilkan pupuk kompos dari sampah organik yang ditimbun dengan tanah. Sementara itu, sampah anorganik memberikan lapangan pekerjaan bagi pemulung yang nantinya akan diolah lagi menjadi biji plastik,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)