Darurat Kekurangan Air, Wabup Pati Ikuti Salat Istisqa

Warga Pati tengah salat istisqa di kawasan Alun-alun Pati, Senin (9/11/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Pati tengah salat istisqa di kawasan Alun-alun Pati, Senin (9/11/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Upaya batin dengan meminta hujan kepada Tuhan yang Maha Kuasa dilakukan warga Kecamatan Pati di tengah-tengah Simpang Lima Pati, Senin (9/11/2015). Mereka meminta hujan, lantaran wilayah Pati sudah mengalami darurat kekeringan.

Wakil Bupati Pati Budiyono mengatakan, kekeringan yang terjadidi wilayah Pati memang gejala alam yang tidak bisa dihindari. Karena itu, solat istisqa meminta hujan menjadi “upaya batin” bagi warga Pati agar Tuhan bisa menurunkan rahmatnya berupa hujan.

“Kami sangat prihatin dengan warga Kota Pati yang saat ini mengalami kekeringan dan kekurangan air meskipun hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini yang mendorong kami mengikuti salat istisqa,” ujar Budiyono kepada MuriaNewsCom.

Dengan salat tersebut, kata dia, warga berharap agar Tuhan memberikan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan sehingga memberikan kehidupan kepada masyarakat. “Ini bentuk usaha batin kami. Semoga Allah mengabulkan doa dan harapan kami semua,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sumber Mata Air Habis, Ratusan Warga Gelar Salat Istisqa di Alun-alun Pati

PATI – Sedikitnya 800 warga dari Kecamatan Pati Kota menggelar salat istisqa di kawasan Alun-alun Pati, Senin (9/11/2015). Mereka berharap agar musim penghujan segera tiba, sehingga kawasan Pati tak lagi kekeringan.

“Peserta salat istisqa dari kepala desa dan perangkatnya, pemerintah daerah (Pemda), warga NU dan badan otonomnya, serta pelajarSMA dan MA,” ujar Baharudin, Ketua Panitia Salat Istisqa dari LKK PCNU kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kawasan Pati Kota selama ini tidak pernah terjadi kekeringan. Namun, musim kemarau tahun ini bisa mengakibatkan kekeringan hingga sumber air bersih habis.

“Di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Pati sudah mengalami kekeringan sejak sebulan yang lalu. Dengan salat istisqa, kami berharap Allah bisa mengampuni dosa-dosa kami dan segera memberikan berkah berupa hujan yang menghidupi,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ribuan Siswa SMK Duta Karya Kudus Ikuti Salat Istisqa

KUDUS – Meski dalam beberapa hari ini Kudus sudah diguyur hujan, namun warga masih terus berdoa agar hujan bisa turun secara rutin. Seperti halnya yang dilakukan ribuan pelajar SMK Duta Karya Kudus, yang melaksanakan salat istisqa di halaman sekolah pagi tadi.

salat-istisqa

Ribuan siswa SMK Duta Karya Kudus mengikuti salat istsqa (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

Kepala SMK Duta Karya M Thoat mengatakan, siswa di sekolah tersebut diajak untuk berikhtiar dan meminta agar hujan bisa turun lebih dari yang kemarin. “Salat ini diikuti siswa, guru dan semua karyawan, bahkan ada juga dari masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Salat istisqa, sebenarnya juga sudah dilakukan sebagian masyarakat Kudus beberapa hari lalu. Seperti halnya yang dilakukan warga Desa Sudimoro, Kecamatan Geobog.

Romli, warga Desa Sudimoro, mengatakan, salat istisqa tersebut digelar pada Jumat (30/10/2015). “Waktu itu habis salat Jumat , jadi setelah itu langsung diumumkan untuk melaksanakan salat tersebut di halaman masjid,” katanya.

Sala tersebut dilakukan, lantaran kemarau yang sangat lama. Setelah pelaksanaan salat tersebut, pada malam harinya Kudus diguyur hujan deras. “Kemarau sekarang memang sangat panas. Meski kebutuhan air di Sudimoro masih mencukupi,namun warga khawatir kalau kemarauterus berkepanjangan, sehingga akan membuat sumur kering,” katanya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ribuan Siswa MAN Lasem Diajak Berdoa Minta Hujan

Ribuan siswa melaksanakan salat istisqa (Istimewa)

Ribuan siswa melaksanakan salat istisqa (Istimewa)

 

REMBANG – Sekitar 1.300 orang, yang terdiri dari siswa dan guru MAN Lasem, hari ini menggelar salat istisqa di halaman sekolah.

Kepala MAN Lasem Shofi mengatakan, selain untuk meminta diturunkan hujan, pelaksanaan salat istisqatersebut juga untuk melatih kepekaan para pelajar terhadap kondisi kekeringan yang kini dialami sebagian besar masyarakat di Kabupaten Rembang.

“Salat istisqo ini termasuk pembelajaran kepada siswa untuk membangun kecintaan mengamalkan nilai-nilai ajaran islam,” ungkapnya.

Shofi menyebutkan, kemarau panjang tahun ini mengakibatkan terlambatnya musim tanam para petani. Tak hanya itu, kurangnya suplai air juga memenghambat kegiatan belajar mengajar di sekolah. Untuk mencukupi kebutuhan air, pihak madrasah harus membeli air sebanyak 200 ribu rupiah tiap hari.

“Tiap hari kami membutuhkan 25 ribu liter untuk kebutuhan solat dhuha dan solat dzuhur berjamaah yang menjadi program wajib di madrasah,” katanya. (KHOLISTIONO)

Warga Pati Salat Istisqa di Tengah Kepungan Mendung

Salat Istisqa 2 (e)

Warga Pati tengah menjalankan salat istisqa di tengah kepungan mendung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Musim penghujan sepertinya sudah mulai tiba. Pati bagian selatan seperti Kecamatan Kayen dan Sukolilo sudah diguyur hujan sekitar 30 menit pada Jumat (30/10/2015) malam.

Mendung pun tampak terlihat jelas di bagian Pati Kota, Sabtu (31/10/2015). Kendati begitu, ratusan warga Pati antusias dan khusyuk melaksanakan salat istisqa.

”Keadaannya memang sudah parah. Kekeringan sudah sampai di wilayah Pati Kota yang selama ini tidak pernah mengalami kekeringan, itu saja sampai kekeringan. Ini sudah menjadi perhatian bersama, sehingga salat istisqa kami gelar,” ujar Slamet Budi Santosa, salah satu peserta salat istisqa saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pada zaman Nabi Musa yang dikerahkan untuk minta hujan sekitar 70.000 jamaah. Karena itu, salat istisqa mestinya dilakukan secara serentak dengan serius dan sungguh-sungguh.

”Ini pesertanya sekitar 500 orang. Meski demikian, kami berharap Tuhan mengabulkan doa dan harapan kami,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pelajar dan Anggota TNI Gelar Salat Istisqa

Siswa SD dan SMP Integral Luqman Al Hakim Purwodadi (Kiri) mengikuti salat Istisqa.  Anggota Kodim 0717/Purwodadi sedang mengikuti salat Istisqa (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa SD dan SMP Integral Luqman Al Hakim Purwodadi (Kiri) mengikuti salat Istisqa.
Anggota Kodim 0717/Purwodadi sedang mengikuti salat Istisqa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Belum berakhirnya musim kemarau disikapi siswa SD dan SMP Integral Luqman Al Hakim Purwodadi dengan menggelar salat Istisqa. Pelaksanaan salat untuk meminta hujan yang dipimpin Ustad Chamdani Al Hafidz itu dilangsungkan di halaman sekolah milik Yayasan Amanah Hidayatullah Purwodadi.

Beberapa saat sebelumnya, ratusan siswa menggelar upacara bendera di tempat yang sama untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Kepala SD dan SMP Integral Achmad Bashori menyatakan, salat Istisqa itu diikuti 325 siswa dan para guru. Pelaksaan salat Istisqa tersebut, katanya, merupakan salah satu implementasi pembelajaran nilai-nilai agama. Dengan begitu, diharapkan para siswa selalu sadar untuk mendekatkan diri pada Allah.

Pada waktu hampir bersamaan, pelaksaan salat Istisqa juga dilangsungkan di halaman Kodim 0717/Purwodadi. Kasdim 0717/Purwodadi Mayor Inf. Arif Isnawan bertindak menjadi imam dalam salat memohon hujan yang diikuti puluhan anggota TNI itu.

”Kami prihatin dengan kondisi saat ini. Musim kemarau panjang menyebabkan bencana kekeringan di mana-mana. Dengan salat Istisqa ini, kami berharap Allah memberikan kemurahannya dengan segera menurunkan hujan. Sebab hujan menjadi satu-satunya yang diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya Kabupaten Grobogan,” kata Kasdim. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Salat Istisqa untuk Songsong Masa Tanam Pertama

 Jemaah perempuan tengah salat istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jemaah perempuan tengah salat istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 3.000 warga dari berbagai kalangan di Kecamatan Gabus menyelenggarakan salat istisqa untuk menyongsong masa tanam pertama. Karena, kekeringan yang melanda pada musim tanam kedua menyebabkan petani gagal panen.

“Sejak bulan Rajab sampai sekarang, hujan tidak juga turun. Padahal, petani pada masa tanam kedua sudah gagal. Panen hanya berhasil berkisar antara 50 hingga 60 persen,” ujar Mudasir, petani asal Desa Gabus yang ikut salat istisqa.

Ia mengatakan, bulan September biasanya petani sudah mulai membuat persemaian untuk menebar benih. Namun, sampai sekarang petani belum berani untuk menebar benih, lantaran belum ada tanda-tanda hujan.

Karena kemarau dan kekeringan dirasa terlalu berkepanjangan yang mengancam masa tanam pertama, mereka akhirnya membuat keputusan untuk menggelar salat istisqa. “Kami memohon kepada Tuhan agar hujan segera turun,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ribuan Warga Jepara Gelar Salat Istisqa

salat-istisqa

Ribuan warga Jepara sedang mengikuti Salat Istisqa (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ratusan warga Jepara meminta hujan dengan melakukan Salat Istisqa di tengah Alun-alun Kabupaten Jepara, Jumat (18/9/2015) pagi tadi. Hal ini, karena sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara sudah mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Para jemaah antusias mengikuti salat ini. Tak hanya warga sekitar, tapi juga ratusan karyawan atau pegawai negeri sipil dan pejabat di Pemkab Jepara, Forkopinda, ormas, hingga pelajar juga ikut. Mereka memadati alun-alun sejak pukul 06.00 WIB. Salat ini dipimpin KH Ubaidillah Nur Umar.

Selama musim kemarau ini, memang di Jepara belum pernah turun hujan. Untuk itu, Salat Istisqa dilaksanakan. Sebelum melaksanakan salat, para jemaah juga melakukan istighotsah dan sholawat.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud solidaritas sebagai sesama warga negara dan sebagai umat manusia karena di wilayah Jepara mengalami kekeringan. Dengan ini diharapkan hujan cepat turun.

“Ini sebagai wujud solidaritas dan kesadaran kita bahwa bagaimanapun juga, air bersih merupakan kebutuhan pokok. Sehingga memang perlu selalu ada termasuk air hujan yang nantinya dapat digunakan sebagai air bersih setelah melalui proses,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)