Napi Bawa Ponsel Akan Dijebloskan ke Ruang Isolasi Rutan Blora

ponsel

 

MuriaNewsCom, Blora – Ternyata narapidana (napi) atau penghuni rumah tahanan di Rutan Blora banyak yang masih membawa telepon seluler (ponsel) di dalam sel. Padahal hal itu dilarang. Bahkan, napi yang kedapatan membawa ponsel maka alat komunikasinya itu akan disita.

Pihak Rutan Blora berhasil menemukan ponsel napi dari dalam sel. Tercatat, sejak Januari 2016-Juli 2016, ditemukan sekitar sembilan unit ponsel. Tentu saja, rutan segera bertindak tegas. Ponsel itu dibakar. Termasuk pula potongan kabel.

Kepala Rutan Blora Fajar Cahyono mengatakan, ada sembilan unit ponsel dan beberapa potongan kabel milik napi dibakar secara bersama di dalam tong. Mengingat sesuai aturannya, penghuni rutan dilarang membawa atau mempergunakan alat komunikasi berupa ponsel.

“Biasanya barang seperti ini masuk ke rutan dengan modus dimasukkan dalam kiriman makanan. Dibungkus plastik lalu dimasukkan ke dalam sayur,”jelas Fajar.

Bahkan, secara tegas pula, pemiliknya akan dimasukkan ke dalam ruang isolasi selama enam hari. Bila nantinya, yang bersangkutan mengulangi lagi maka bersiap-siaplah dipindah ke rutan besar. Misalnya, ke Semarang, Solo, hingga ke Nusakambangan Cilacap.

Editor : Akrom Hazami

 

Rutan Blora Beri Motivasi dan Pendidikan Napi Melalui Keterampilan

Sejumlah warga binaan Rutan Blora saat membuat paving. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah warga binaan Rutan Blora saat membuat paving. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Rumah tahanan (Rutan) Blora memberikan pembinaan bagi 119 narapidana. Pembinaan tersebut berupa pelatihan, yang mengeksplore keterampilan sekaligus sarana rekreasi bagi warga binaan rutan.

”Ini adalah langkah menggali bakat mereka dan memberikan motivasi serta pendidikan, agar ketika mereka kembali ke masyarakat bisa menjadi seorang yang lebih baik dan berguna,” jelas Kepala Rutan Blora Andi M Syarif, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, selain untuk mencari bakat dan memberikan pelatihan, kegiatan ini juga untuk memberikan rekreasi untuk mereka. Pastinya mereka juga menginginkan kegiatan yang baru dan tidak monoton untuk membangkitkan semangat menjadi pribadi lebih baik.

”Saya kira rekreasi itu tidak harus pergi jauh, berlatih gamelan dan belajar membuat suatu produk pun juga bisa dikatakan rekreasi,” ungkapnya.

Selain melakukan pembinaan melalui pengarahan, warga binaan rutan Blora juga diberikan beberapa pelatihan untuk bekal mereka kelak jika sudah keluar dari Rutan Blora. Pihaknya berharap, mereka bisa menerapkan dan menjalankan ilmu pelatihan yang didapat selama berada di rutan.

”Selain memberi pelatihan gamelan, kami juga memberikan pelatihan usaha misalnya membuat batu akik, mengelas, membuat batako dan lainnya. Oleh karena itu, kami berharap pelatihan yang kami berikan ini bisa bermanfaat bagi mereka untuk hidup yang lebih baik,” harapnya. (PRIYO/TITIS W)

Para Napi Blora Ini Miliki Cara Unik Usir Kejenuhan

Sejumlah warga binaan rutan Blora berlatih gamelan di rutan sebagai kegiatan refreshing dan mengasah keterampilan. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah warga binaan rutan Blora berlatih gamelan di rutan sebagai kegiatan refreshing dan mengasah keterampilan. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Rumah tahanan (Rutan) Blora terus memberikan pembinaan bermanfaat bagi para narapidananya. Sebanyak 119 napi yang menempati bilik-bilik jeruji besi itu, diberikan sebuah pelatihan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemberdayaan dan refreshing warga binaan lapas, sebagai bekal keterampilan mereka ketika kembali ke masyarakat.

”Kita berdayakan penghuni rutan ini, dibina dan diberi keterampilan serta rekreasi bagi para warga binaan. Agar setelah keluar dari sini memiliki keterampilan atau keahlian sebagai modal hidup dan dapat diterima kembali di masyarakat,” jelas Kepala Rutan Blora, Andi M Syarif, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, para warga binaan rutan yang berlatih gamelan ini dimaksudkan untuk memberikan rekreasi bagi para binaan rutan. Selain itu, dengan berlatihnya gamelan ini tentu para napi juga mengembangkan bakat yang mereka miliki.

”Kalau dahulu di rutan Blora memiliki grup band dengan nama Rutan Band Blora (RBB), yang semua personelnya warga binaan. Oleh karena itu, dari situlah kami mencoba memberikan rekreasi lain yaitu dengan gamelan ini,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengatakan, dipilih gamelan bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa yang berangsur tergerus musik modernisasi. Selain itu hal ini juga untuk menyalurkan bakat dari para warga binaan rutan Blora.

”Semoga hal seperti ini bisa meningkatkan kepercayaan diri warga binaan dan nantinya keluar dari sini mereka punya modal keterampilan untuk hidup yang lebih baik,” harapnya. (PRIYO/TITIS W)

Awas, Napi Rutan Blora Kabur karena Kekurangan Penjaga!

Aktivitas penjaga Rutan Blora, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Priyo)

Aktivitas penjaga Rutan Blora, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kabupaten Blora masih kekurangan tenaga penjaga. Dari sebanyak 159 kamar tahanan dan terdiri dari 121 tahanan yang menghuni Rutan Blora hanya memiliki 31 petugas.

“Saat ini, kami memang sangat kekurangan petugas terutama pada petugas penjagaan sebab dari petugas yang ada hanya 12 orang yang menjadi petugas penjaga,” kata Kepala Rutan Blora Andi M Syarif , Sabtu (22/8/2015).

Menurutnya, dalam petugas penjagaan selama ini baru ada empat regu tim penjagaan dengan satu regu tiga orang. Tentu ini sangat kurang sekali. Padahal selama ini pihak rutan sudah mencoba meminta agar petugas penjagaan rutan bisa ditambah.

“Saat ini ya dalam satu regu hanya ada tiga orang dibagi satu penjaga pintu keluar masuk dan yang dua bertugas didalam. Kalau idealnya untuk satu regu adalah 8 orang. Kami sudah mengajukan penambahan dan hingga saat ini belum ada penambahan petugas penjagaan,” ungkapnya. (Priyo/AKROM HAZAMI)

Inilah Pernyataan Tobat Napi Rutan Blora yang Mengharukan

Narapidana saat mendapatkan remisi bebas dari Rutan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Narapidana saat mendapatkan remisi bebas dari Rutan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Dua narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Blora bebas karena dapat remisi Hari Kemerdekaan RI. Mereka merupakan narapidana kasus pencurian dan kekerasan. Mereka adalah Nurhadi dari Jember dan Joko Wanto dari Sumbawa. Kedua ditangkap setelah melakukan aksi di wilayah Blora.

Joko Wanto, penerima remisi bebas mengungkapkan rasa senang dan gembiranya mendapat remisi bebas pada hari Kemerdekaan RI ini.

“Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yang membuat saya masuk rumah tahanan ini,” kata Joko, Senin (17/8).

Dia senang sekali. Bahkan, dia akan berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan dan memulai kehidupan baru dengan masyarakat sekitar. ”Tentunya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat,” terangnya.

Diketahui, sebanyak 37 narapidana yang menghuni Rumah Tahanan (Rutan) Blora mendapat remisi di Hari Kemerdekaan RI ke-70.

Dari 85 narapidana yang diusulkan, 37 narapidana mendapatkan remisi. Dari 37 narapidana sudah mendapat remisi 2 di antaranya mendapat remisi bebas. (PRIYO/AKROM HAZAMI)

Datang ke Rutan, Plt Bupati Blora Bakar Handphone Napi

Plt Bupati Blora Ihwan Sudrajat saat melakukan pembakaran hanphone milik napi yang berhasil dirazia (MuriaNewsCom/Priyo)

Plt Bupati Blora Ihwan Sudrajat saat melakukan pembakaran hanphone milik napi yang berhasil dirazia (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Sebanyak 16 handphone milik narapidana yang terjaring razia petugas rumah tahanan (rutan) Blora dimusnahkan. Pemusnahan handphone dengan cara dibakar ini, bertepatan dengan pemberian remisi terhadap 37 napi dan dilakukan langsung oleh Plt Bupati Blora Ihwan Sudrajat.

”Ada 16 handphone milik narapidana yang terjaring razia selama 7 bulan, mulai Januari hingga Juli. Bertepatan dengan hari kemerdekaan ini, kami kumpulkan menjadi satu untuk di musnakan,” ujar Kepala Rutan Blora Andi M. Syarif,Senin(17/8/2015).

Pemusnahan yang dilakukan oleh Plt Blora ini, disaksikan unsur Muspida Kabupaten Blora. Pemusnahan tersebut, katanya, berkaitn dengan adanya aturan yang melarang narapidana membawa handphone.

“Pelarangan membawa handphone, harus harus ditaati napi. Karena dikawatirkan alat komunikasi itu bisa digunakan sebagai alat untuk melarikan diri, misalnya dengan menghubungi orang yang berada di luar rutan.” ungkapnya

Selain itu, ponsel tersebut dikhawatirkan digunakan untuk sarana transaksi jual beli narkoba dengan orang luar rutan dan penipuan, bahkan hal-hal lain yang memicu kriminalitas.

”Kami tidak menginginkan hal itu terjadi di rutan, jadi untuk mengantisipasi hal tersebut kami lakukan pemusnahan handphone dengan di saksikan oleh para Muspida,” katanya.

Pihaknya berharap dengan pemusnahan ini nantinya para narapidana bisa mentaati peraturan yan sudah ada dan bisa tertib. Sehingga, kedepan bisa membawa perubahan pada diri napi selama berada didalam rutan. (PRIYO/KHOLISTIONO)