Bisnis Esek-esek di Pati Disebut Menggiurkan

Suasana penertiban rumah yang disewakan untuk short time di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana penertiban rumah yang disewakan untuk short time di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis esek-esek disebut-sebut sebagai bisnis paling mudah dan menggiurkan. Dari sisi ekonomi, prostitusi memiliki dampak bisnis yang menjanjikan, mulai dari warung, jasa sewa kamar, dan sebagainya.

Hal itu yang membuat bisnis lendir selalu ada, sejak peradaban kuno sekalipun. Hal itu pula yang membuat bisnis lendir semakin menantang ketika ditentang. “Tidak hanya di Pati, bisnis esek-esek ada di mana-mana. Bisnis ini selalu sulit ditertibkan. Kalau berhasil ditertibkan, biasanya beralih ke tempat lain. Dulu, zaman di Dukuhseti ditertibkan, mereka lari ke Margorejo. Termasuk, lokalisasi Bribik Kudus yang setelah ditertibkan, larinya ke Margorejo,” kata pengamat sosial, Adiningtyas Prima, Sabtu (08/10/2016).

Berkembangnya bisnis esek-esek di Pati diakui tidak lepas dari ketidaktegasan pemerintah. Bila pemerintah mau bekerja, kata Tyas, lokalisasi jalanan yang bercecer di perkampungan mestinya ditertibkan atau dilokalisasi dengan baik.

“Pemerintah tidak tegas. Kalau dibuat lokalisasi, sekalian dikelola dengan baik. Itu kalau pemerintah mau. Sebab, kalau dibiarkan berceceran di perkampungan, justru bermasalah,” ucap Tyas.

Menurutnya, bisnis esek-esek tidak akan parnah habis. Meski sudah dibubarkan, mereka biasanya akan membuat tempat lagi. Hal itu disebabkan bisnis kelamin itu sangat menggiurkan. “Tinggal bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah itu dengan baik,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

MUI Pati Haramkan Keberadaan Rumah Esek-esek

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena merebaknya rumah esek-esek di Pati dinilai sudah meresahkan masyarakat dan menjadi sorotan publik. Fenomena tersebut yang membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati angkat bicara.

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mengaku sangat khawatir dengan keberadaan rumah yang berada di tengah-tengah perkampungan, disewakan untuk kegiatan prostitusi. Hal itu dianggap mencederai etika moral dan agama masyarakat, sekaligus menjadi awal kerusakan bagi generasi emas bangsa.

“Itu sangat mengkhawatirkan, terutama anak-anak generasi emas bangsa yang hidup di sekitarnya. Mental dan moral anak-anak akan dipertaruhkan bila tidak segera ditindak dengan tegas,” ujar KH Mujib saat ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016).

Dilihat dari perspektif Islam, kata dia, prostitusi masuk dalam perbuatan zina yang menjadi bagian dari sederet dosa paling besar dalam ajaran Islam. Bahkan, hukum Islam memberikan ganjaran berat bagi pelaku zina dengan rajam bagi yang sudah punya pasangan dan cambuk seratus kali untuk pelaku yang masih lajang.

“Siapa yang membantu maksiat, sama dengan orang yang bermaksiat. Kalau ada orang yang menyediakan, memfasilitasi rumah untuk dijadikan tempat maksiat, sama halnya orang yang bermaksiat. Kalau zina haram, rumah yang memfasilitasi zina juga haram,” paparnya.

Editor : Kholistiono