Ribuan Siswa di Pati Diimunisasi Rubella

Salah seorang murid TK Kartika III-43 mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejak digulirkannya program imunisasi gratis, ribuan siswa di Kabupaten Pati mendapatkan umunisasi rubella. Sebanyak 44 siswa di antaranya berasal dari TK Kartika III-43. Mereka baru mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017).

Ketua Cabang Persit Kartika Chandra Kirana Ny Andri Amijaya Kusuma mengatakan, siswa antusias mengikuti imunisasi rubella kendati ada sebagian yang ditunda lantaran kesehatannya kurang fit.

“Kami apresiasi kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pati I yang membuat program imunisasi rubella. Program ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak terserang virus Rubella yang berbahaya bagi anak berusia satu hingga sepuluh tahun,” ujar Ny Andri.

Sementara dokter dari Dinkas, dr Luther Selawa menuturkan, imunisasi rubella merupakan bagian dari program pemerintah pusat. Program tersebut menyusul adanya virus berbahaya yang mudah ditularkan.

“Kalau tidak segera kita cegah, dampaknya yang terjadi cukup mengerikan. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan mengalami cacat fisik,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengimbau kepada orangtua untuk tidak sungkan mengikuti program imunisasi rubella untuk anaknya. Dengan demikian, anak akan menjadi resisten terharap virus yang membahayakan tersebut.

Ia menambahkan, imunisasi rubella juga sudah dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Pati. Jumlahnya mencapai ribuan siswa. “Setelah diimunisasi, mereka punya resistensi jika sewaktu-waktu virus itu menyerang,” pungkas dr Luther.

Editor: Supriyadi

Lucu, Karena Takut Disuntik Siswa SMP 1 Gabus Larang Petugas Imunisasi Masuk Kelas

Kasi Imunisasi, Surveilan, dan Kejadian Luar Biasa pada Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko (berkacamata) memeluk salah satu siswa saat disuntik imunisasi, Jumat (11/8/2017).  (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski akhirnya berjalan lancar, pelaksanaan kegiatan pemberian vaksin measles rubella (MR) di SMPN 1 Gabus, Grobogan ternyata sempat diwarnai aksi protes dari sejumlah siswa. Protes dilakukan dengan memasang kertas bertuliskan “Tukang Suntik Dilarang Masuk’ yang ditempelkan di pintu kelas.

Di dalam kelas itu ada belasan siswa yang semuanya takut dengan jarum suntik. Setelah menempelkan kertas tersebut, pintu kelas kemudian ditutup dari dalam.

Adanya aksi ini, pelaksanaan imunisasi sempat tersendat beberapa saat. Soalnya, petugas butuh waktu untuk merayu para siswa yang phobia dengan jarum suntik. Setelah diberi pengerian, belasan siswa itu akhirnya bersedia di suntik vaksin di lengan tangannya.

”Selama pelaksanaan imunisasi memang ada anak yang takut dikasih vaksin ketika lihat jarum suntik. Kalau ada yang takut seperti ini maka harus kita rayu dan kasih pengertian dulu. Jadi, menghadapi anak seperti ini memang butuh kesabaran,” jelas Kasi Imunisasi, Surveilan dan Kejadian Luar Biasa Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko, Jumat (11/8/2017).

Menurutnya, petugas Dinkes Grobogan tidak hanya butuh kemampuan medis saja saat melaksanakan pemberian vaksin measles rubella (MR) pada anak sekolah. Khususnya, vaksin yang harus diberikan lewat suntikan. Yakni, bisa merayu anak sekolah supaya mau diberi vaksin.

Tulisan ”tukang suntik dilarang masuk” dipasang di depan salah satu kelas di SMP 1 Gabus sebagai aksi protes. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selain protes dan mengunci pintu kelas, lanjut Djatmiko, ada lima siswa yang kabur ketika petugas datang. Mereka kabur dari sekolahan karena ketakutan dengan jarum suntik. Namun, kelima siswa siswa ini berhasil dipanggil lagi oleh gurunya dan akhirnya bisa dikasih vaksin.

Djatmiko menyatakan, pemberian vaksin MR sudah dilakukan mulai pekan pertama bulan Agustus ini. Sejauh ini, sudah sekitar 106.487 anak yang telah mendapat vaksin.

Pemberian vaksin hanya pada anak usia 9 bulan hingga anak usia 15 tahun. Sasarannya adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Mulai PAUD, SD, SMP dan sebagian siswa SMA.

Target pelaksanaan vaksinasi di Grobogan sebanyak 325.902 anak. Ditargetkan, pelaksanaan vaksinasi MR selesai akhir September mendatang.

Dia menambahkan, bagi anak yang belum divaksinasi pada saat petugas datang sekolah,  diminta untuk datang ke puskesmas terdekat. Pemberian vaksin itu diperlukan guna mencegah anak-anak supaya tidak terkena penyakit campak.

Editor: Supriyadi

Siswa SD Disuntik Imunisasi Kayak Digigit Semut di Jepara

Ekspresi seorang siswa ketika disuntik pada pencanangan imunisasi MR di SDN 1 Jambu Timur Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pencanangan Imunisasi MR (Measles-Rubella, Campak Rubella) di Jepara dilaksanakan di SDN 1 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). Ratusan murid dari kelas satu hingga enam ikut serta dalam kegiatan itu. 

Seorang siswa Ahmad Khoirulyani (11) mengaku sempat takut saat petugas medis hendak menyuntik lengan kirinya. Ia bahkan tak berani melihat jarum suntik.  “Saya kira tadi sakit banget, tidak tahunya seperti digigit semut. Namun saat ini lengan saya agak kemeng (nyeri) tapi tidak sakit kok,” tuturnya. 

Siswa kelas lima itu mengatakan, tujuan imunisasi itu adalah untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Namun ia mengaku tak tahu jenis penyakit apa itu. “Enggak tahu aku, tapi pas disuntik itu untuk menghindari penyakit itu,” akunya polos. 

Siswa lain Irgi (8) mengatakan hal serupa. Meskipun tidak tahu tujuan kegiatan tersebut, namun ia mengaku lega sudah disuntik. “Saya sudah disuntik tadi. Rasanya seperti digigit semut. Tapi kalau disuntik lagi ya tidak mau,” ujarnya sambil terkekeh. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut program tersebut menyasar 292.886 orang usia 9-15 tahun. Imunisasi tersebut dilaksanakan selama dua bulan, Agustus-September 2017.  “Pada bulan Agustus ini difokuskan bagi anak-anak yang bersekolah. Sementara pada bulan September dilaksanakan untuk anak rentang usia tersebut yang belum bersekolah,” tutur dia. 

Adapun, untuk Kecamatan Mlonggo ada 1.053 anak yang menjadi sasaran imunisasi MR. “Untuk melaksanakan bulan imunisasi tersebut, setiap puskesmas (21 unit) menyediakan 4-5 petugas medis,” tutup Dwi. 

Editor : Akrom Hazami