Limbah RSUD Kudus Dianggap Meresahkan, Ini Tanggapan Direkturnya 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus –  Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dr Aziz Achyar mengaku pihaknya telah mendapat laporan terkait adanya keluhan warga ihwal limbah rumah sakit yang meresahkan warga.

Tapi hal itu buru-buru ditampiknya. Selama ini, limbah yang dibuang RSUD tidak lagi beracun, dan berbahaya.

”Limbah yang dikeluarkan melalui saluran air tidak berbahaya dan sudah memenuhi ketentuan ambang batas. Limbah tersebut juga bukan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) karena sebelum keluar diuji dulu,” kata Aziz di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Kendati demikian, pihaknya tidak mau diam begitu saja. RSUD akan menampung keluhan warga. Dalam waktu dekat, RSUD akan melakukan pertemuan dengan pemerintah Desa Ploso, serta warga.

Sesuai rencana, RSUD akan bertemu warga dan pemdes, Sabtu (11/7/2017). Sedianya, RSUD akan menjelaskan panjang lebar soal limbah yang keluar dari rumah sakit aman bagi lingkungan sekitar.

 

Editor : Akrom Hazami

Limbah RSUD Kudus Bikin Resah

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Limbah RSUD dr Loekmono Hadi Kudus bikin resah warga sekitar. Seperti yang dialami warga Desa Ploso, Kecamatan Jati. Diketahui, limbah mengalir ke permukiman desa itu. Akibatnya, bau tak sedap muncul serta mencemari air sumur dari rumah.

Hal ini diungkapkan Amin, salah seorang warga setempat. Dia memperkirakan air limbah yang mengalir mengarah ke permukiman. Adapun warnanya putih dan berbuih. “Aroma air juga tidak sedap. Sangat mengganggu warga,” kata warga RT II ini di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Akibatnya, sumur milik warga menjadi berbau. Seluruh warga yang tinggal di sekitar RSUD tak lagi menggunakan air sumur. Mengingat baunya yang tidak sedap. ”Kami kini terpaksa harus menggunakan air PDAM karena air sumur sudah tidak layak lagi,” ungkap Amin.

Warga berharap RSUD mengecek hal itu. Supaya warga tak terus menerus mengalami persoalan limbah dari RSUD.

Kepala Desa Ploso, Bambang Giyata mengatakan warganya banyak yang mengeluh soal limbah RSUD. Pihaknya telah menyampaikan keluhan ke RSUD. ”Hanya sayangnya, RSUD masih belum memberikan tanggapan memuaskan,” kata Bambang.

Polusi udara yang ditimbulkan RSUD juga mengganggu warga sekitar. Meski pihak RSUD sudah meninggikan tembok pembatas. Tapi nyatanya hal itu tak mengurangi bau tak sedap.

Editor : Akrom Hazami

Alasan RSUD Kudus Tak Penuhi Permintaan DPRD


Ketua DPRD Kudus Masan bersama anggota lain berkunjung ke RSUD dokter Loekmono Hadi Dokter Aziz Achyar, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Direktur RSUD dokter Loekmono Hadi Dokter Aziz Achyar mengatakan, pihaknya bukan bermaksud menyembunyikan apa yang diinginkan DPRD soal data karyawan. Hanya, pihaknya harus menjalankan sesuai dengan prosedur yaitu dengan cara berkomunikasi dengan pihak atasan.

Aziz mengatakan, pihaknya sudah berkonsultasi dengan Sekda Kudus terkait keinginan anggota dewan. Oleh sekda, jawaban yang didapatkan adalah untuk berkomunikasi dengan Bupati Kudus Musthofa terlebih dahulu.

“Dan kami belum bisa kordinasi dengan bapak Bupati, sehingga kami belum bisa memberikan data tentang administrasi dan juga keuangan dari RSUD ini,” kata Aziz usai kunjungan DPRD di Kudus, Sabtu (4/3/2017).

Pihaknya sendiri merasa tidak enak dengan hal tersebut. Sebab anggota dewan sudah menempati janjinya dengan datang ke RSUD untuk meminta data tersebut. Tapi karena terkendala birokrasi pihak RSUD belum bisa mengeluarkannya.

Dalam kegiatan tersebut, DPRD dan RSUD juga datang mengecek gedung baru di Poli Jantung. Di sana, anggota dewan didampingi petugas RSUD melihat alat serta meninjau bangunan di lantai I dan lantai II itu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : DPRD Kudus Kesal dengan  RSUD yang Tak Transparan soal Data

 

Kasus Pasien Dipaksa Pulang RSUD, DPRD Kudus Heran Pelayanan Rumah Sakit

Suasana rapat DPRD Kudus membahas soal pasien yang dipaksa pulang RSUD. (Kanan) pasien Ramisih (47), warga Desa Lambangan RT 7 RW 2 Gang 12 Kecamatan Undaan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Mas’an masih penasaran tentang pelayanan RSUD dokter Loekmono Hadi yang masih dianggap buruk. Dia menerka-nerka, apakah itu disebabkan karena gaji dan kesejahteraan yang kurang sehingga membuat pelayanan tak terlalu baik.

“Jika memang karena kesejahteraan yang kurang, nanti bisa kami fasilitasi dengan lapor ke bupati untuk penambah kesejahteraan petugas di sana,” kata Mas’an di Kudus, Jumat (3/2/2017).

Hanya, jika bukan karena kesejahteraan yang menjadi persoalan, tentunya harus dicari tahu permasalahannya. Jika kesejahteraan tinggi dan masih memberikan pelayanan buruk, maka laporan lain bisa diberikan untuk Bupati Kudus Musthofa.

Dia menjelaskan, bahwa sesuai dengan UU yang berlaku, pembagian hasil di RSUD untuk karyawan sejumlah 40 persen. Sementara untuk RSUD Kudus sendiri, jumlahnya 30 persen. Jika dirasa kurang, maka berdasarkan UU diperbolehkan mencapai 40 persen.

“Besok saya akan datang ke RSUD meminta data tentang itu. Mulai jumlah karyawan, gaji staf hingga direktur. Saya ingin data valid sehingga bisa menentukan jalan keluarnya,” ungkap Mas’an.

 Baca juga : RSUD Kudus Paksa Pulang Pasien yang masih Sakit

Sementara, Direktur RSUD dokter Loekmono Hadi Aziz Achyar mengatakan, nilai bagi hasil setiap bulannya bervariatif. Tergantung sepi dan ramainya rumah sakit. Jika ramai, maka nilai bagi hasil cukup tinggi. “Kalau direktur seperti saya ini fakansi yang diterima tiap bulan sekitar Rp 40 jutaan. Tergantung dari ramai sepinya rumah sakit,” jawabnya.

Jumlah tersebut merupakan pemasukan di luar dari gaji. Jika ditambah dengan gaji, maka tentu hasilnya lebih dari itu. Diberitakan sebelumnya, Ramisih (47), warga Desa Lambangan RT 7 RW 2 Gang 12 Kecamatan Undaan, dipulangkan RSUD kendati masih sakit.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Poli Penyakit Jantung RSUD Kudus Didesak Segera Dibuka 

Warga berada di depan pelayanan  Unit Pelayanan Penyakit Jantung (UPPJ) RSUD Loekmono Hadi . (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di depan pelayanan  Unit Pelayanan Penyakit Jantung (UPPJ) RSUD Loekmono Hadi . (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Anggota Komisi  D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo mendesak RSUD Loekmono Hadi  agar segera mengoperasikan pelayanan  Unit Pelayanan Penyakit Jantung (UPPJ). Sebab, segala fasilitas telah diselesaikan termasuk dengan bangunannya.

Budi yang juga Ketua Badan Kehormatan DPRD Kudus menyebutkan kalau pembangunan  telah dirampungkan akhir tahun lalu. Pihaknya heran lantaran hingga kini bangunan tersebut tak kunjung digunakan sebagai fasilitas pengobatan di RSUD.

“Kami meminta agar UPPJ dapat segera digunakan.  Pembangunan sudah jadi, fasilitas ada, jadi semuanya sudah siap dan seharusnya memang sudah beroperasi,” kata Budi kepada MuriaNewsCom di Kudus, Senin (30/1/2017).

Menurutnya, masyarakat Kudus juga sudah menunggu gedung tersebut dipakai. Karena masyarakat sangat membutuhkan pelayanan di rumah sakit milik pemerintah itu. Dia mengatakan, dengan dibukanya pelayanan tersebut, maka kebutuhan masyarakat akan pelayanan penyakit jantung bisa tertangani di RSUD Loekmono Hadi. Dia juga mengkritisi pihak rumah sakit agar berbenah dalam meningkatkan pelayanannya.

Khususnya bagi penderita penyakit jantung, agar lebih nyaman saat berobat. Hal itu akan berdampak pada penyembuhan pasien. “Jangan menunggu lagi untuk membukanya, sebab masyarakat mengeluhkan dengan tidak dibukanya pelayanan tersebut,” imbuhnya.

Direktur RSUD Dokter Loekmono Hadi Kudus, Aziz Achyar mengatakan, kalau pembangunan UPPJ telah diselesaikan akhir tahun lalu. Untuk itu, pihaknya hanya tinggal membuka dan meresmikan bangunan anyar tersebut yang dijadwalkan pada 1 Februari 2017 nanti. “1 Februari nanti dibuka dan diresmikan. Jadi masyarakat Kudus bisa menggunakan fasilitas tersebut nanti,” katanya.
 
Menurutnya, waktu tersebut diambil lantaran dianggap paling pas, sebab segala sesuatunya sudah bisa digunakan saat awal bulan depan. Termasuk dengan petugas medis dan juga alat-alatnya yang menunjang pengobatan jantung. “Sebenarnya mau besok akhir Januari diresmikan, tapi waktunya tidak bisa. Jadi positif satu Februari akan digunakan,” jawabnya singkat.
 
Dia mengatakan kalau gedung mendapatkan garansi selama enam bulan dari pihak kontraktor terhitung diselesaikan bangunan. Dan awalnya, gedung baru dioperasikan saat selesai garansi.  Bangunan tersebut memakan anggaran senilai Rp 65 miliar yang dibiayai menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) yang dialokasikan melalui APBD 2016. Jumlah tersebut meliputi pembangunan gedung hingga penyediaan alat kesehatan yang canggih. “Di sana juga akan ada ruangan VIP 14 ruangan yang mana tiap kamar hanya ada dua bed. Lokasinya akan bertempat di lantai II gedung baru,” ungkapnya

Editor : Akrom Hazami

 

Penyakit Campak Serang Warga Kudus di Awal 2017

Salah seorang pasien penyakit campak mendera seorang anak dan dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah seorang pasien penyakit campak mendera seorang anak dan dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Kudus harus waspada dengan penyakit campak. Sebab, di awal  2017 ini saja sudah ada enam warga yang dilarikan ke RSUD dr Loekmono Hadi.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi dokter Aziz Achyar melalui Kabid Pelayanan Medis Aris Jukisno mengatakan, pihaknya mencatat ada enam warga yang rawat inap akibat kena penyakit campak. “Penyakit ini masih berpotensi serang warga seiring tingginya intensitas hujan sekarang,” kata Aris di tempat kerjanya, Jumat (20/1/2017).

Dari jumlah itu ada yang berusia anak-anak, hingga orang dewasa. Tahun 2016,  jumlah penderitanya juga banyak. Yaitu capai 174 orang. Mereka dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi. Penyakit campak tidak seganas penyakit DBD yang bisa menyebabkan kematian. Namun jika tak segera ditangani maka virus akan menyebar ke tubuh dan bahayanya yang diserang adalah bagian dalam, khususnya otak.

Pihaknya  memberikan perlakuan berbeda kepada pasien campak. Selain perawatan dan obat, rumah sakit juga memberi imunisasi campak kepada pasien yang dirawat. Penderita campak yang pernah diimunisasi kalau terserang virus tersebut tingkatannya tidak terlalu parah. Ini berbeda dengan penderita yang belum sama sekali divaksin. Karena kondisinya lebih parah dan dibutuhkan perawatan secara intensif.

Gejala terkena campak di antaranya mata merah, suhu panas mencapai 39 derajat celsius, timbul bercak merah, dan badan panas tiga hari tidak turun-turun. Kalau menjumpai seperti itu, kata dia, bisa langsung dibawa ke puskesmas atau dokter. Untuk antisipasi sebenarnya cukup mudah. Pola hidup sehat harus dijalankan dan konsumsi makanan yang segar. Selain itu, konsumsi minuman air putih juga dianjurkan dalam menjaga daya tahan tubuh.

“Untuk anak-anak, jangan sering diberi makanan cepat saji karena mengandung bahan pengawet yang tidak baik untuk tubuh. Sayur-mayur dan buah diperbanyak untuk menjaga kekebalan tubuh. Sementara orang dewasa dapat memperbanyak konsumsi air putih sehari-hari,” sarannya.

Editor : Akrom Hazami

Pekerja Tewas Terjatuh dari Lantai 4 Proyek RSUD Kudus

Lokasi jatuhnya seorang pekerja proyek pembangunan RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Lokasi jatuhnya seorang pekerja proyek pembangunan RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tri (39), seorang pekerja proyek pembangunan gedung layanan penyakit jantung RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, tewas. Setelah sebelumnya, warga Kecamatan Jati, Kudus itu, terjatuh dari lantai empat di lokasi proyek tersebut.

Kepada wartawan, kontraktor pelaksana dari PT Reka Esti Utama, Puryadi, mengatakan, informasi nahas tersebut benar terjadi. Kejadiannya pada Sabtu (5/11/2016) sekitar pukul 15.00 WIB. “Memang benar pekerja jatuh dan meninggal. Dia biasa dipanggil Tri (39), warga Kecamatan Jati, Kudus,” katanya di lokasi, Senin (7/11/2016).

saat itu, korban sedang bekerja seperti biasanya. Pekerjaan yang dilakukan ketika itu adalah pengerjaan penyelesaian lantai empat. Tiba-tiba saja, korban terjatuh. Sampai akhirnya korban tidak sadarkan diri. Pihaknya langsung membawa korban ke UGD RSUD dr Loekmono Hadi, yang tak jauh dari lokasi kejadian. Dia mengaku tidak tahu persis saat korban jatuh. Namun info yang dihimpun, korban mengalami luka yang serius pada muka bagian kanan.

Menurutnya, usai terjatuh, korban masih hidup.”Saat itu langsung dibawa ke UGD. Kemudian korban mendapat perawatan di Ruang ICU. Nahas, nyawa korban tak tertolong sekitar Sabtu malam, sekitar pukul 23.00 WIB.

Adapun untuk biaya perawatan medisnya, pihak pelaksana proyek telah menanggung semuanya. Berikut pula biaya pemakaman serta selamatan tujuh hari. Pihaknya juga memberikan santunan kepada keluarga korban.

Dikonfirmasi hal ini, Kasubag Humas Polres Kudus, AKP Sumbar Priyono, mengatakan kalau polisi belum menerima laporan itu.  Pihaknya sudah mengecek hal tersebut. “Mungkin permasalahan sudah diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Sumbar.

Editor : Akrom Hazami