Jumlah Pasien RSUD Rembang Alami Lonjakan Usai Lebaran

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Setelah Lebaran, RSUD dr. R. Soetrasno Rembang tercatat merawat sebanyak 257 pasien rawat inap. Jumlah tersebut melonjak sebanyak 124 pasien, yang semula pada hari H Lebaran hanya merawat sebanyak 133 pasien.

“Dari sejumlah 257 tersebut, rata-rata pasien yang mengalami diare, asma, demam dan kecelakaan lalu lintas,” kata Laksmi Iwan, Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

Selain pasien rawat inap, yang meningkat juga ada pasian rawat jalan.  Dari data yang ada, sejak 1 Juli 2017 hingga saat ini, jumlah pasien rawat jalan tercatat pada kisaran angka 200-400 orang.

“Jumlah pasien baik yang rawat inap maupun rawat jalan, sempat mengalami penurunan pada masa menjelang Lebaran, di antaranya karena pasien meminta pulang paksa,” ungkapnya.

Katanya, pasien rawat inap pada 23 Juni 2017 tercatat 169 pasien, maka pada 24 Juni 2017, jumlahnya tinggal 144 pasien, dan turun lagi menjadi hanya 133 pasien pada hari H Lebaran.

“Kalau yang rawat jalan, menjelang Lebaran hingga 27 Juni, jumlah pasiennya berkisar antara 103-176 pasien, lalu sempat turun menjadi 94 pasien pada 28 Juni 2017. Tetapi sejak 1 Juli sampai hari ini melonjak menjadi di kisaran 200-400 orang,” bebernya.

Sementara itu, dari meningkatnya pasien rawat inap setelah Lebaran, mengakibatkan ruang perawatan di rumah sakit tersebut penuh. Laksmi menyebut, saat ini ruang yang kosong, tinggal Flamboyan dan Norton.

“Saat ini, dari 257 pasien, masih ada sembilan pasien yang menunggu kamar kosong sehingga masih dirawat di IGD. Karena sembilan pasien itu tergolong dewasa, maka kami tidak bisa gegabah memasukkannya di ruang perawatan anak (Flamboyan, red.),” jelasnya.

Sementara itu, saat disingung mengenai perawatannya, pihak rumah sakit menyatakan berusaha menjaga mutu pelayanan proporsional dengan hanya menampung 20-22 pasien di tiap ruang dan jumlah perawat yang disesuaikan.

“Kalau shift pagi memang perawatnya banyak antara 5-6 orang, tapi pada shift siang dan malam hanya 3 orang perawat. Kalau jumlahnya melebihi batas rata-rata kasihan pasien dan perawatnya juga,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Berdalih Kurangi Pengangguran, Pemdes Kabongan Kidul Buka Parkir di Area RSUD Rembang

Suasana parkiran di sebelah barat RSUD dr. Soetrasno Rembang yang didirikan oleh Pemdes Kabongan Kidul. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang, membuka tempat parkir di area atau lingkungan RSUD dr Soetrasno Rembang. Meskipun, hal tersebut belum ada izin dari dinas terkait.

Sekretaris Desa Kabongan Kidul Eko Priono mengatakan, yang mempunyai gagasan untuk membuat tempat parkir di lingkungan rumah sakit adalah Rukani, kepala desa setempat. Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi adanya pengangguran di desa tersebut.

“Ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi ini untuk kepentingan masyarakat. Dengan adanya tempat parkir ini, diharapkan, warga yang masih menganggur bisa mendapatkan pekerjaan sebagai tukang parkir,” ujarnya.

Dari pantauan di lapangan, tempat parkir milik Pemdes Kabongan Kidul ini berada di sebelah barat RSUD dr. Soetrasno, dengan panjang sekitar 10 meter dan beratap seng.

Menurut Eko, setidaknya ada delapan petugas parkir yang berjaga secara bergantian. Yakni, shift pagi dan siang. Sedangkan untuk tarif parkir, katanya, dikenakan Rp 2 ribu untuk kendaraan sepeda motor.

Kemudian, untuk pendapatan dari jasa parkir tersebut, katanya, untuk setiap harinya bisa mencapai Rp 400 ribu. Hitungan tersebut, menurutnya ketika kondisi parkiran sedang ramai. “Pendapatan itu dibagi kepada masing-masing petugas parkir, dan sejauh ini tidak disetorkan ke pihak desa,” katanya.

Selanjutnya, mengenai perizinan, pihaknya mengakui jika pihak desa pernah dipanggil oleh Pemda Rembang mengenai parkir tersebut. “Bulan Januari kemarin kita juga sempat dipanggil oleh pemerintah. Di mana dalam rapat itu dihadiri oleh Dishub, Satpol PP, Sat lantas dan lainnya,” imbunya.

Sementara itu, bagian Lalu Lintas pada Dishub Rembang Suwarno menyatakan, jika pihaknya pernah memanggil pihak desa terkait parkir tersebut. “Sejauh ini memang pihak desa belum mengajukan membuka tempat parkir di area RSUD dr Soetrasno. Kita juga memberikan imbauan terkait hal ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Jangan Terkecoh dengan Karcis yang Disodorkan Petugas Parkir di RSUD dr Soetrasno Rembang

Karcis yang sebenarnya untuk kendaraan roda empat justru diberikan untuk kendaraan roda dua. Ini terjadi di parkiran RSUD dr. Soetrasno Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Penarikan restribusi parkir kendaraan masih saja terkadang dipermainkan oleh oknum petugas parkir. Misalkan saja, biaya restribusi terkadang lebih besar dari tarif resmi yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah setempat.

Pun demikian, karcis resmi yang disodorkan atau diberikan kepada pemilik kendaraan, terkadang juga tidak sesuai peruntukannya. Seperti halnya yang terjadi di RSUD dr Soetrasno Rembang. Oknum petugas parkir sengaja memberikan karcis yang sebenarnya diperuntukkan untuk kendaraan roda empat, namun, hal itu diberikan kepada pemilik kendaraan roda dua.

Dengan hal ini, pemilik kendaraan roda dua harus membayar parkir dengan tarif yang seharusnya diperuntukkan untuk kendaraan roda empat. Reno. Sebut saja begitu, warga Desa Kepoh Agung, Kecamatan Pamotan, ini mengaku mengalami hal tersebut. “Awalnya saya tidak tahu, tetapi setelah dibaca, saya baru ngeh kalau karcis restribusi parkir yang diberikan petugas parkir adalah untuk kendaraan roda empat. Padahal, saya kan pakai sepeda motor,” katanya.

Menanggapi hal ini, Kepala Seksi Lalu Lintas pada Dinas Perhubungan Rembang Sakidjo mengatakan, ketentuan tarif parkir sudah diatur dalam Perda Nomor 5 tahun 2010.

“Yang pertama yakni parkir di tempat khusus. Seperti halnya rumah sakit, taman dan tempat pelelangan ikan(TPI) itu Rp 1.000 bagi kendaraan roda dua. Dan Rp 2.000 itu bagi kendaraan roda empat. Sedangkan parkir di tepi jalan umum itu sebesar Rp 500 bagi kendaraan roda dua dan Rp 1.000 bagi kendaraan roda empat,” paparnya.

Kemudian saat disinggung mengenai karcis parkir untuk mobil sebesar Rp 2.000 yang diberikan oleh pengunjung RSUD dr. Soetrasno yang membawa kendaraan roda dua, ia mengutarakan, bahwa itu merupakan tindakan personal atau oknum.

“Wah kalau itu tindakan oknum, dan itupun berhak ditolak. Hal itu akan kita urus, akan kita bina. Sebab petugas parkir yang ada di RSUD dr. Soetrasno merupakan bagian dari binaan kita,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Jelang MEA, 2 Rumah Sakit Dibangun di Rembang

Pelantikan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) setempat di Pendapa Museum Kartini Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pelantikan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) setempat di Pendapa Museum Kartini Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dua rumah sakit swasta akan segera berdiri masing-masing di wilayah Kecamatan Lasem dan Rembang. Organisasi perawat pun diminta untuk mempersiapkan diri untuk meningkatkan profesionalitas perawat di wilayah setempat.

Apalagi profesi perawat kini tengah menghadapi persaingan dengan tenaga perawat asing dengan masuknya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal itu disampaikan Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memberikan sambutan pada pelantikan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) setempat di Pendapa Museum Kartini.

Hafidz menyebutkan, salah satu rumah sakit baru akan berdiri di Kecamatan Lasem, tepatnya di wilayah Desa Tasiksono. Selain itu di Kecamatan Rembang, akan dibangun satu rumah sakit di bilangan Jalan Blora, selatan mapolres setempat. “Kedua rumah sakit baru ini, sama-sama sudah memulai pembangunan dan sama-sama 7 lantai,” katanya.

Menyikapi akan dibangunnya dua rumah sakit baru swasta serta perubahan status rumah sakit umum daerah dan puskesmas menjadi badan layanan umum, ia berharap agar para perawat bersiap. “Jangan hanya ingin menjadi seorang pegawai negeri sipil. Bisa mengganggu. Tetapi ikhlas saja mengabdi kepada masyarakat, nanti ada jalan yang lain,” katanya.

Sementara itu, ketua PPNI Rembang Tabah Tohamik mengatakan, di kabupaten ini, organisasinya telah berkiprah mewujudkan pelayanan keperawatan sampai ke seluruh pelosok daerah. “Para perawat yang telah bergabung dalam PPNI, kami kawal agar menjalankan tugas sesuai praktek dan etika profesi,” terangnya.

Ia juga menyebut, pengurus dan perawat yang tergabung di PPNI memiliki potensi mengembangkan keperawatan. Dirinya pun meminta anggotanya untuk memberikan pengabdian yang tulus kepada masyarakat.

Soal kapasitas perawat di Rembang, menurutnya, mereka yang bertugas baik di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun yang praktik mandiri telah dipastikan memiliki surat izin praktik perawat. “Izin praktik diberikan hanya kepada perawat yang punya surat tanda register setelah lolos uji kompetensi,” jelasnya.
Edy Wuryanto, Ketua PPNI Jawa Tengah yang hadir pada pelantikan tersebut menambahkan, para perawat mesti dekat dengan pemerintah guna membantu program penyejahteraan kesehatan masyarakat. “Selain itu, perawat mesti meningkatkan profesionalisme dan kapasitas,” imbuhnya.

Apalagi, menurutnya, Pasar Bebas ASEAN termasuk bisnis di bidang kesehatan, sudah berlaku efektif mulai 2016. Perawat boleh saling masuk ke negara di Asia Tenggara. “Filipina yang memiliki SDM unggul perawat karena telah diakui di Timur Tengah dan Australia, bukan tidak mungkin akan masuk Indonesia,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Perawat di Rembang Optimistis Bisa Bersaing di MEA

Tabah Tohamik, salah satu perawat di RSUD dr R Soetrasno. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Tabah Tohamik, salah satu perawat di RSUD dr R Soetrasno. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Meski para perawat dari mancanegara mempersiapkan diri untuk bersaing di Indonesia dengan berlakunya MEA, namun para perawat di Rembang tidak khawatir. Bahkan, mereka optimistis mampu bersaing dalam MEA.

Salah seorang perawat di Rembang yang optimistis yakni Tabah Tohamik. Ia mengaku hampir semua perawat di kabupaten ini, siap bersaing dengan perawat dari negara lain. ”Persaingan tenaga perawat di Pasar Bebas ASEAN, sudah menjadi keniscayaan. Karena merupakan kesepakatan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, ada dua hal yang bisa mampu membuat perawat lokal memenangi persaingan, yakni kompetensi dan spesialisasi. ”Dengan kompetensi dan spesialisasi, maka perawat di Kabupaten Rembang mampu memenangi persaingan,” ucapnya.

Selain itu, kata Tabah, menurut catatan pihak Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Rembang, jumlah perawat di kabupaten ini mencapai 400-an. ”Hampir semua dari mereka telah mengantongi surat tanda registrasi (STR) dan memiliki sertifikat uji kompetensi yang berlaku secara internasional,” bebernya.

Dijelaskan olehnya, setiap lima tahun sekali STR perlu diperpanjang namun dengan uji kompetensi lagi. ”STR ini seperti SIM, perlu diperpanjang lima tahun sekali. Namun, harus diuji kembali sehingga ada peningkatan kompetensi,” jelasnya.

Ia pun menilai wajar ada perawat yang takut atau gelisah. Namun ia menegaskan, perawat yang memiliki kompetensi siap menghadapi persaingan di MEA. ”Mau tidak mau, kami sudah siap untuk bersaing,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Giri Menilai Adanya MEA, Menguntungkan RSUD Rembang

RSUD-rembang

Humas RSUD dr R Soetrasno, Giri Saputro ketika berkunjung ke ruang perawat. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewCom, Rembang – Humas RSUD dr R Soetrasno, Giri Saputro mengaku tidak khawatir dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Justru, ia menilai adanya MEA menjadi keuntungan bagi pihak rumah sakit.

Menurutnya, dengan adanya MEA para perawat lebih kompetitif sehingga kualitasnya pun akan terus terpacu. ”Kami justru merasa diuntungkan karena ada persaingan. Tanpa persaingan, kualitas pelayanan perawat tidak akan terpacu menjadi lebih baik lagi,” jelas Giri.

Terkait akan mempekerjakan perawat asing atau tidak, Giri mengatakan, selagi kompetensinya sama, maka belum perlu menyerap perawat dari manca negara. ”Kami memang mendengar perawat asing misalnya dari Malaysia, Thailand, dan Filipina, mulai bersiap ke Indonesia,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku telah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut MEA, salah satunya peningkatan kualitas dan mutu perawat melalui uji kompetensi. ”Tiap masa berlaku sertifikat kompetensi perawat habis, kami juga menyelenggarakan pelatihan bagi mereka,” tandasnya.

Secara kualitas perawat, ia tidak khawatir. Namun, untuk kuantitas jumlah perawat dan pasien di RSUD, menurut Giri, masih belum ideal. Idealnya, satu perawat merawat satu pasien. Sementara saat ini, satu perawat rata-rata merawat empat pasien. ”Idealnya, satu pasien satu perawat. Namun di ruang ICU, satu perawat dua pasien. Sementara yang pasien biasa, rata-rata masih dengan satu perawat merawat empat pasien,” terangnya.

Kendati begitu, juru bicara RSUD Rembang itu menegaskan kekurangan perawat itu tidak sampai mengganggu pelayanan terhadap pasien. ”Namun, tidak sampai mengganggu mutu pelayanan terhadap pasien. Bisa dikatakan berada dalam kualifikasi ideal minimal,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pasien Membeludak di RSUD Rembang, Ruang Tunggu Disulap Menjadi Ruang Perawatan

Humas RSUD Rembang, Giri Saputra meninjau ruang tunggu Ortopedi yang didesain menjadi ruang perawatan darurat, Kamis (28/1/2016). (MuriaNewsCom/ Ahmad Wakid)

Humas RSUD Rembang, Giri Saputra meninjau ruang tunggu Ortopedi yang didesain menjadi ruang perawatan darurat, Kamis (28/1/2016). (MuriaNewsCom/ Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Membeludaknya pasien yang berbondong-bondong datang ke RSUD R. Soetrasno Rembang, memaksa pihak rumah sakit untuk mendesain ruang tunggu menjadi ruang perawatan.

Berdasarkan pantauan MuriaNewsCom pada Kamis (28/1/2016), ruang tunggu Ortopedi Gedung Pavilium Kartini lantai II dijadikan menjadi ruang perawatan darurat. Sebagian besar pasiennya merupakan anak-anak yang menderita demam berdarah.

Humas RSUD Rembang, Giri Saputra mengungkapkan kebanyakan pasien merupakan anak-anak. Bahkan, lanjut Giri, hampir semua ruangan terdapat pasien anak dikarenakan ruang khusus anak-anak sudah tidak menampung.

”Dominasi anak-anak, hampir tersebar di semua ruang. Di ruang anak yang kapasitas 30 sudah penuh,” ungkapnya kepada MuriaNesCom.

Giri menegaskan pihak rumah sakit terus berupaya memberikan pelayanan semaksimal mungkin, salah satunya dengan meminjam 19 Velbed dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Linmas. Velbed itu kemudian tempatkan di setiap ruangan yang masih bisa dimasuki Velbed.

”Seperti tadi di ruang Ortopedi yang sejak kemarin, kami persiapkan untuk menjadi ruang perawatan darurat,” tambahnya.

Sesuai dengan aturan, kata Giri, rumah sakit tidak boleh menolak pasien. ”Jadi kami usahakan, agar pasien bisa dirawat terlebih dahulu meskipun hanya di velbed, asalkan mereka setuju. Kalau tidak setuju, terpaksa kami carikan rumah sakit lain sebagai rujukan,” tandas Giri.

Editor : Titis Ayu Winarni

Komisi D Mendadak Sidak ke RSUD Soetrasno Rembang

Rombongan Komisi D DPRD Rembang yang diketuai Henri Purwoko melakukan sidak ke RSUD Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Rombongan Komisi D DPRD Rembang yang diketuai Henri Purwoko melakukan sidak ke RSUD Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Mendengar kabar terkait membludaknya pasien di RSUD Soetrasno Rembang, rombongan Komisi D DPRD Rembang yang diketuai Henri Purwoko langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi, Selasa (19/1/2016) siang.

Dalam sidak tersebut, rombongan anggota dewan itu sempat berkeliling melihat pelayanan dan perawatan terhadap pasien di RSUD Rembang. Henri meminta kepada pihak rumah sakit agar tidak ada penolakan terhadap pasien.

“Harapan saya jangan ada penolakan pasien, kecuali perlu penanganan khusus. Kalau ICU penuh, kami bisa memahami dan itu harus dirujuk,” katanya.

Selain itu, Henri meminta agar pihak rumah sakit mengedepankan penanganan terlebih dahulu dibandingkan urusan administrasi. Henri juga mengajak agar permasalahan ini ditangani secara kolektif.

“Harus ada tindakan bersama antara DKK sampai perangkat desa. Kalau ditangani biasa-biasa saja, saya khawatir akan semakin membludak,” ungkapnya.

Sementara,Direktur RSUD Soetrasno Rembang Agus Setyohadi menuturkan, pihaknya sedang mengupayakan berbagai cara untuk menangani jumlah pasien yang overload itu.

“Ada beberapa ruang yang kami ubah, diantaranya Pavilium Kartini lantai dua dan sejumlah tempat di Ruang Anyelir untuk antisipasi sementara,” tuturnya.

Agus menjelaskan, kapasitas normal rumah sakit hanya menampung 200 pasien. Namun belakangan ini, pasien meningkat hingga 220 sampai 230 pasien. Agus juga menyangkal, kabar terkait penolakan pasien. Menurutnya, pihak rumah sakit tidak pernah menolak pasien.

“Kami tidak pernah menolak pasien karena overload. Namun untuk pasien yang perlu perawatan instensif di ICU, kalau ICU penuh kami tidak berani menerima. Jadi, kami upayakan untuk dirujuk saja,” terangnya.

Sayangnya, Agus mengaku mengalami beberapa kendala terkait proses rujuk ke rumah sakit lainnya. “Saat ini memang ada beberapa kesulitan terkait rujukan ke rumah sakit lain,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

3 Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan RSUD Rembang Ditahan

Ketiga tersangka dugaan korupsi pembangunan Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang (deretan kanan berpakaian beda) akhirnya ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Ketiga tersangka dugaan korupsi pembangunan Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang (deretan kanan berpakaian beda) akhirnya ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Tiga orang tersangka dugaan korupsi pembangunan Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang akhirnya ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Jumat (18/12/2015).

Tiga tersangka itu adalah Muhammad Zuhri (49) warga Sidoarjo Jawa Timur, Budi Harsono (36) warga Kabongan Lor ,Rembang dan Mujiono (41) warga Tireman, Rembang. Penahanan itu dilakukan menyusul pelimpahan tahap kedua berupa berkas perkara, tersangka, dan barang bukti dugaan korupsi itu, dari penyidik di Polres kepada pihak Kejari Rembang.

Pelaksana Harian Kepala Kejaksaan Negeri Rembang Bintarno mengatakan pihaknya menerima pelimpahan berkas perkara, tersangka, dan barang bukti atas kasus tersebut. Namun, pihaknya menilai ketiga tersangka itu akan menjalani hukuman yang berbeda. Meski sama-sama ditahan, ada kemungkinan Budi dan Mujiono hanya tahanan kota.

“Selanjutnya, kami akan melakukan penahanan terhadap para tersangka. Namun, hanya satu orang yang ditahan di dalam rutan, yakni Zuhri. Karena yang bersangkutan tidak koopratif, sehingga dikhawatirkan ada upaya untuk kabur,” katanya kepada awak media.

Terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono menyatakan polisi sempat kesulitan untuk menghadirkan Muhammad Zuhri, Direktur Utama PT Dutarama Surabaya. Sehingga pelimpahan tahap kedua nyaris tersendat.
“Kami menangkap paksa Zuhri di Semarang setelah perintah agar dia wajib lapor tidak dilakukan belakangan ini. Kalau soal indikasi kabur, saya tidak ada bukti ke arah sana,” jelasnya.

Barang bukti yang turut dilimpahkan bersama tiga tersangka tersebut antara lain dokumen kontrak kerja dan tiga unit laptop yang dipakai untuk aktivitas oleh yang bersangkutan. Kaitannya dengan pekerjaan yang diduga dikorupsi. Seluruh barang bukti kemudian diperiksa kejaksaan.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi pembangunan Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang senilai Rp7,9 miliar, bergulir sejak tahun 2013.Ketika itu polisi menerima laporan indikasi korupsi atas pembangunan gedung tiga lantai oleh PT Dutarama. Diduga, volume dan spesifikasi proyek itu disunat.

Polisi pun langsung bergerak menyelidiki. Tahun 2014, kasus itu dinaikkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan tiga orang tersangka. BPKP Jateng menyatakan ada kerugian negara sebesar Rp. 997 juta dalam proyek ini. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Ini Pesan Bupati Rembang Kepada 149 Pegawai Baru RSUD

Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat menyerahkan surat keputusan (SK) pengangakatan Pegawai Tetap non PNS RSUD dr Sutrasno dilantai IV Kantor Bupati Rembang, pada Sabtu (30/5/2015). (MURIANEWS/AHMADFERI)

REMBANG – Sebanyak 149 peserta yang dinyatakan lolos seleksi penerimaan pegawai, akhirnya menerima surat keputusan (SK) pengangakatan sebagai pegawai tetap non-PNS RSUD dr R Sutrasno. Ratusan pegawai baru itu berhak menerima SK setelah secara resmi dilantik secara langsung oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz. Penyerahan SK Pegawai Tetap non PNS RSUD dr Sutrasno digelar dilantai IV Kantor Bupati Rembang, Sabtu (30/5/2015).

Lanjutkan membaca

Tujuh Pegawai Tetap Non-PNS RSUD Rembang Pilih Mundur Sebelum Terima SK

Bupati Rembang, Abdul Hafidz dan Sekda Rembang Hamzah Fatoni bersama jajaran pejabat RSUD dr R Sutrasno foto bersama para pegawai yang telah menerima Surat Keputusan (SK) Pegawai Tetap non PNS RSUD dr Sutrasno dilantai IV Kantor Bupati Rembang, Sabtu (30/5/2015). (MURIANEWS/AHMADFERI)

REMBANG – Sebanyak 7 pegawai tetap non-PNS RSUD dr R Sutrasno Rembang memilih mengundurkan diri sebelum menerima SK. Mereka mundur dengan berbagai alasan, dan terpaksa digantikan oleh pegawai cadangan yang dinyatakan lolos seleksi wawancara. Namun dari ketujuh pegawai tersebut, seorang asisten apoteker yang mundur tidak bisa digantikan, karena tidak ada cadangan pegawai yang lolos seleksi.

Lanjutkan membaca