Gunakan Modus Baru, Jambret di Kudus Incar Ibu-ibu Pengguna Motor Metic

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Kabupaten Kudus, khususnya Kecamatan Gebog dibikin resah dengan aksi jambret yang mengincar ibu-ibu pengguna motor matic. Selain sudah terjadi beberapa kali, aksi penjambretan ini terkesan dilakukan dengan rapi dengan melibatkan banyak orang.

Dari informasi yang beredar, aksi penjambretan sebenarnya tak dilakukan dengan cara konvensional lagi. Mereka menggunakan trik teguran ban kempes yang melibatkan empat orang, yakni dua laki-laki dan dua orang perempuan.

Dalam modus ini, dua perempuan yang saling berboncengan bertugas menegur ibu-ibu pengguna matic yang menyimpan dompet atau handphone di gendongan depan bawah setang. Teguran biasanya berkaitan dengan ban kemps. Misalkan saja “Bu, ban belakang kempes”.

Setelah itu, sang ibu yang panik akan berhenti dan menengok kebelakang. Di sinilah dua laki-laki yang sudah membuntuti dari belakang melancarkan aksinya sebagai eksekutor untuk mengambil bahan berharga di gendongan.

Hariyanto, salah watu warga Desa Jurang, Kecamatan Gebog mengaku sudah mendengar kabar tersebut. Bahkan, dari kabar yang beredar di masyarakat sudah banyak kasus penjambretan bermodal teguran ban kemps yang terjadi di Gebog.

”Dua pekan lalu, kabarnya juga ada dua yang dijambret dengan modus itu. Malah sampai ada tiga korban. Lokasinya kalau tidak salah di Jalan Sukuntex,” katanya.

Selain itu, di Jalan Gondosari kabarnya juga ada tujuh orang yang kejambret. Hanya saja, ia tak tahu pasti kebenarannya. Akan tetapi kabar tersebut sudah beredar luas dan semakin membuat masyarakat was-was.

”Di grup-grup WhatsApp juga banyak beredar. Karena itu, ada kekhawatiran dari masyarakat. Istri saya sendiri ketakutan. Ia pun pilih menyimpan hp dan dompet di saku daripada di gendongan ataupun tas,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Muatan Truk yang ‘Dirampok’ di Rembang Ternyata Nilainya Mencapai Rp 1,9 Miliar

Petugas menunjukkan barang bukti truk yang sebelumnya sempat digondol pelaku “perampokan” beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Polres Rembang berhasil mengungkap kasus perampokan terhadap sopir truk tronton L 9599 UF  yang terjadi di Rembang pada Minggu (5/3/2017) dini hari. Setelah melakukan pendalaman, ternyata perampokan tersebut hanya rekayasa.

Dalam hal ini, Polres Rembang telah menetapkan tiga tersangka, termasuk salah satunya adalah sopir truk bernama Taufik Ichwan Gozali (30) warga Desa Sejan,Kecamatan Gemarang,Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kemudian dua tersangka lainya merupakan teman si sopir, yakni Budi Utomo (27) warga Klino, Kecamatan Sekar Bojonegoro, dan Moh Taufik (38) warga Desa Glanggang, Beci, Pasuruan. Kedua tersangka ini telah bersekongkol dengan sopir truk.

Untuk sopir truk, yakni Taufik, kini sudah diamankan di Mapolres Rembang. Sedangkan dua tersangka lainnya diamankan ditahan penyidik di Satlantas Polres Nganjuk dalam perkara kecelakaan.

Selain pelaku, polisi juga sudah mengamankan barang bukti truk tronton yang ditemukan dalam keadaan kosong di sebuah SPBU di bilangan Wonosalam Kabupaten Demak. “Untuk muatan besinya sudah tidak ada. Diduga sudah dijual dengan penadah di Semarang. Untuk nilai muatan truk tersebut,  berupa kuningan, tembaga dan alumunium, diperkirakan nilainya mencapai Rp 1,9 miliar,” ujar Kasar Reskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka.

Baca juga :Perampokan Sopir Truk di Rembang Ternyata Hanya Rekayasa

Kemudian, untuk tersangka Moh Taufik, katanya, ditangkap dengan membawa barang bukti berupa uang hasil kejahatan sebesar Rp 266,35 juta.

“Modus yang digunakan para tersangka yakni sopir tronton bekerja sama dengan tersangka Moh Taufik dan Budi Utomo saat mengirim muatan tembaga, kuningan, dan alumunium dari Surabaya menuju Jakarta,” ungkapnya.

Selanjutnya, pada saat berada di Jalan Pantura Lasem lebih tepatnya di Desa Punjulharjo, rekayasa itu dijakankan. Yakni sopir tronton seakan akan dirampok dan diikat tangan dan kakinya. Pun demikian, untuk mata dan mulutnya ditutup. Untuk meyakinkan warga atau polisi, sopir truk dibuang di jalan Clangapan-Pamotan masuk wilayah Desa Padaran, Rembang dan kemudian ditemukan oleh warga setempat pada Senin (6/3/2017) dini hari.

Setelah itu, sopir truk melapor kepada bosnya Agus Indrawan warga Kelurahan Pucangsewu, Kecamatan Gubeng, Surabaya. Selanjutnya tersangka dan Agus Indra (50) melaporkan kejadian tersebut ke Polsekta Rembang.“Hasil penyelidikan Opsnal Sat Reskrim Polres Rembang, bahwa perkara ini adalah rekayasa ketiga tersangka,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

2 Pembobol Konter Ponsel Beraksi di Dekat Pemiliknya di Grobogan

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning menyampaikan penjelasan pada wartawan terkait pengungkapan kasus pembobolan konter ponsel di Desa Depok, Kecamatan Toroh. (MuriaNewsCom /Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus pembobolan sebuah konter Ponsel Garuda Cell di Desa Depok, Kecamatan Toroh berhasil terungkap kurang dari 24 jam. Dua orang yang diidentifikasi sebagai pelaku kejahatan diamankan pihak kepolisian.

Satu pelaku diketahui bernama Cokro Riyanto (22), warga Desa Jambangan, Kecamatan Geyer. Seorang pelaku lagi yang diamankan statusnya masih di bawah umur.

Pembobolan konter milik Eko Asrudik (39) itu terjadi Selasa (7/3/2017) sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, pemilik konter sudah menutup pintu depan tempat usahanya.

Selanjutnya, ia menuju ke ruang servis di bagian belakang untuk menyelesaikan perbaikan ponsel yang sudah menumpuk.

Saat menuju ruangan servis itulah, pemilik konter melihat pintu belakang dalam kondisi terbuka. Padahal, sebelumnya sudah dalam posisi terkunci karena hanya dibuka ketika pemilik konter mau pulang.

Merasa ada yang janggal, Eko kemudian mengecek barang-barang di ruangan tersebut. Setelah dicek, sedikitnya ada 20 unit ponsel android berbagai merek yang sudah lenyap. Kemudian, ada satu unit play station, jaket dan uang tunai Rp 100 ribu yang juga tidak ada lagi di tempatnya semula.

Total kerugian atas barang yang hilang ditaksir sekitar Rp 10 juta. Pemilik konter selanjutnya melaporkan kasus tersebut pada pihak Polsek Toroh.

“Dari hasil penyelidikan, anggota berhasil mengidentifikasi pelaku dan akhirnya melakukan penangkapan sehari setelah kejadian. Untuk satu pelaku yang masih di bawah umur akan kita lakukan penanganan tersendiri,” jelas Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning pada wartawan.

Selain pelaku, sejumlah barang bukti hasil kejahatan berhasil pula diamankan. Antara lain, tujuh unit ponsel, jaket dan uang Rp 100 ribu.

Berdasarkan keterangan pelaku, mereka sedikitnya sudah tiga kali melakukan aksi pencurian. Dua kali dilakukan di Kecamatan Toroh dan sekali di Kecamatan Geyer.

Editor : Akrom Hazami 

6 Perampok Modus Penggandaan Uang di Grobogan Dibekuk 

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning didampingi Kasat Reskrim AKP Eko Adi Pramono saat gelar perkara kasus perampokan dengan modus penggandaan uang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus perampokan dengan modus baru yang terjadi Jumat (3/3/2017) berhasil diungkap pihak Polres Grobogan. Sebanyak enam pelaku berhasil diringkus dalam waktu dan tempat berbeda.

“Jumlah pelaku ada 9 orang dan sudah 6 orang yang kita tangkap. Tiga pelaku lainnya identitasnya sudah kita ketahui dan anggota sedang melakukan pengejaran. Untuk penangkapan pelaku ini, kita dibantu anggota Jatanras Ditrekrimum Polda Jateng,” kata Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning saat gelar perkara, Kamis (9/3/2017).

Peristiwa kejahatan ini terjadi di sebuah rumah di Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh, Grobogan. Rumah ini sebelumnya hendak disewa oleh pelaku.

Korban perampokan diketahui bernama M Sulthon warga Malang, Jawa Timur. Kerugian korban sekitar Rp 600 juta.

Menurut Agusman, modus yang digunakan pelaku tergolong baru. Awalnya, korban terpancing untuk menggandakan uang pada salah satu pelaku. Pelaku yang kabarnya mengaku mampu menggandakan uang Rp 300 juta menjadi Rp 1 miliar.

“Penggandaan uang ini hanya modus saja. Pada awalnya, pelaku ini berniat merampok uang korban,” katanya.

Pada waktu yang ditentukan, korban diminta membawa uang ke rumah warga di Desa Sindurejo. Ketika sampai di lokasi, korban bertemu dengan beberapa pelaku.

Tidak lama kemudian, muncul beberapa pelaku lainnya secara mendadak ke dalam rumah. Para pelaku ini menyamar sebagai polisi lalu menggerebek korban dan menyita uang yang dibawa. Bahkan, salah seorang pelaku ada yang pura-pura dijadikan sebagai sandera.

“Skenario tersebut berhasil kami ungkap setelah melakukan olah tempat kejadian perkara. Di situ kami menemukan ada kejanggalan. Setelah kami selidiki, ternyata kejadian itu sebuah perampokan,” imbuh Kasat Reskrim AKP Eko Adi Pramono.

Para pelaku memiliki peran berbeda-beda. Empat pelaku berperan sebagai polisi dan satu di antaranya berhasil ditangkap. Yakni, Haryanto (40) warga Dusun Krajan RT 7 RW 2 Desa Karangsono, Mranggen, Demak. Tiga polisi gadungan lainnya saat ini masih dalam status buron.

Kemudian, dua pelaku lain bertugas mencari rumah tempat transasksi uang dan mengawasi perampokan. Masing-masing, Zaenudin (54) warga Dusun Kondang Tempel RT 4 RW 1, Desa Karangrejo, Wonosalam, Demak dan Djoko Santoso (44) alias Jek warga Dusun Kedungrejo RT 2 RW 3, Desa Kedungrejo, Purwodadi, Grobogan.

Pelaku lain adalah Riyadi (44) warga Dusun Pagersari RT 2 RW 2 Desa Pagersari, Bergas, Kabupaten Semarang yang berperan mengawasi lokasi kejadian. Kemudian, pelaku Suhartono (41) warga Dusun Kudu Kramat RT 5 RW 2, Desa Kudu, Genuk, Demak bertindak sebagai pengemudi.

“Otak kasus ini yakni seorang residivis bernama Agus Sumarno (48) alias Haji Arif yang sudah berhasil kita amankan,” jelasnya.

Ditambahkan, uang sebanyak Rp 600 milik korban perampokan berhasil diamankan Rp 175 juta karena sudah dibagi-bagi sembilan pelaku. Dalam pembagian hasil kejahatan, Haji Arif paling banyak mendapatkan bagian yakni Rp 205 juta.

“Para pelaku kini mendekam ditahanan dan dijerat Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun penjara,” tambah Eko.

Editor : Akrom Hazami