Ini Cara Cerdas Tangani Longsor di Rahtawu Kudus

Warga melintasi jalan di lokasi longsor di Dukuh Semliro, Rahtawu, Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Longsoran yang menimpa Desa Rahtawu Kecamatan Gebog, disebabkan oleh air yang menggerus tanah. Hal itu diungkapkan Kadinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris.

“Hujan deras membuat air masuk dan tertahan di tanah karena tidak ada pembuang. Jadi longsor terjadi di sana. Terutama saat hujan deras,” kata Sam’ani di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Di kawasan tersebut, struktur tanahnya memang labil atau mudah bergerak. Hal itu juga yang mempengaruhi seringnya longsor. Kendati demikian, longsor di lokasi itu tetap bisa ditangani. Hanya memang butuh kerja sama satu sama lain.

“Kalau ditanggul bisa, namun membutuhkan biaya yang sangat banyak. Cara paling mudah yaitu mencarikan jalan air, jadi air tidak tertahan di tanah melainkan langsung keluar dan masuk saluran,” ujarnya.

Hanya, untuk penanganan semacam itu butuh kerja sama dengan masyarakat. Karena tanah kebanyakan milik warga. Susahnya tidak semua warga mau jika tanahnya diutak-atik oleh pemerintah atau pihak luar.

Soal jalan, kata dia, bakal segera ditangani oleh pemerintah. Pembiayaan menggunakan biaya rutin yang dimiliki oleh instansi tersebut. Hal itu lebih mudah dan cepat ketimbang melalui proses pengajuan.

“Kalau pengajuan lewat APBD cukup lama. Apalagi itu jalan kabupaten menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten untuk memelihara. Selain itu juga jalan juga menjadi akses satu-satunya warga yang berada di sana,” ungkapnya.

Dia memperkirakan, akibat dari kerusakan tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Editor : Akrom Hazami

 

Rahtawu Kudus Longsor lagi

Kades Rahtawu Sugiyono meninjau lokasi longsor di wilayah Dukuh Semliro, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor kembali  menimpa Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Longsor terjadi Selasa (7/3/2017) sekitar pukul 23.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Kades Rahtawu, Sugiyono mengatakan, longsor terjadi di lima titik. Kejadian longsor di lima titik terjadi serentak. Saat itu, daerah masing-masing sedang dilanda hujan deras.”Paling parah ada dua titik, keduanya di Dukuh Semliro. Keduanya merusak akses jalan karena menggerus jalan sekitar satu meter. Jika jalan luasanya hanya empat meteran, sekarang tinggal tiga meter,” kata Sugiyono di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Titik longsor awal berada di kawasan blok Dongkas wilayah setempat. Kondisi longsor menggerus tebing setinggi belasan meter dengan lebarnya 15 meter. Akibatnya, material longsoran hampir saja menutup jalan raya. Lokasi kedua lebih parah lagi, yang lokasinya tidak jauh dari titik pertama. Bedanya, tebing yang tergerus nyaris mengenai rumah warga.

“Untuk lokasi kedua panjang bisa mencapai 25 meter dan tinggi 15 meteran. Lokasi tersebut beberapa kali memang terkena longsor terlebih saat hujan seperti ini,” ujarnya.

Saat longsor terjadi tidak ada aktivitas di lokasi sekitar. Praktis tidak ada korban akibat longsor semalam. Sebagai wilayah yang siaga longsor, pagi tadi langsung diumumkan di masjid untuk kerja bakti membersihkan sisa material longsoran. Kerja bakti dimulai pukul 06.00 WIB dengan diikuti sebagian besar warga Rahtawu.

“Kami juga sudah memasang drum, yang mana untuk menghalau kendaraan yang melintas agar lebih berhati-hati saat mengendarai,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Lokasi Longsor di Rahtawu Diberi Pengaman Drum

Warga berada di titik longsor di Dukuh Krajan, Desa Rahtawu, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di titik longsor di Dukuh Krajan, Desa Rahtawu, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bencana longsor kembali terjadi di Rahtawu, Kudus, Selasa (7/2/2017). Kali ini longsoran terjadi cukup parah, yakni sepanjang 25 meter  dan sampai mengikis jalan. Di lokasi diberikan drum sebagai tanda peringatan ke pengguna jalan.

Kades Rahtawu, Kecamatan Gebog Sugiyono mengatakan, longsor terjadi di Dukuh Krajan, Desa Rahtawu. Longsor terjadi pada pukul 14.00 WIB. Saat itu cuaca sedang hujan deras, dan juga disertai dengan angin kencang. “Saat itu saya sedang berpatroli keliling desa, tiba-tiba sampai daerah sini terjadi longsor cukup banyak dan panjang. Setelah itu saya laporkan ke sejumlah instansi terkait,” kata Sugiyono, Rabu (8/2/2017).

Setelah mengetahui longsor, pihaknya dibantu dengan warga mengambil drum bekas yang terdapat di lokasi yang tak jauh dari lokasi longsor. Drum tersebut dipasang di sekitar titik longsor, agar tak dilalui pengendara.

Dia menjelaskan panjang longsor sekitar 25 meter persis di tepi jalan. Beberapa longsor bahkan sampai memakan jalan, dengan lebar mencapai satu meter. Untuk itu, ruas jalan yang lebarnya mencapai 6 meter, hanya tersisa 5 meter akibat tergerus longsor. “Ini merupakan longsoran besar kelima selama musim hujan. Sebelumnya sejumlah titik mengalami longsor cukup besar. Sementara kalau longsor kecil sudah cukup sering,” ungkapnya.

Dia berharap supaya perbaikan dapat segera dilaksanakan, sebab jalan tersebut merupakan akses utama dan satu-satunya menuju kawasan Rahtawu. Jika sampai ada longsor susulan, maka akses berpeluang terputus.

Editor : Akrom Hazami

Longsor Ancam 15 Rumah Warga Rahtawu Kudus

Bagian rumah warga yang terkena longsor di Rahtawu, Kudus. (ISTIMEWA)

Bagian rumah warga yang terkena longsor di Rahtawu, Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Longsoran yang beberapa kali menimpa Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, semakin mengkhawatirkan. Karena, longsoran mengancam permukiman warga setempat.

Kepala Desa (Kades) Rahtawu, Sugiyono mengatakan, longsor terjadi beberapa kali pada musim hujan kali ini. Dengan lokasinya berada di tebing. “Longsoran bahkan ada yang sangat dekat dengan permukikan. Kami siaga terhadap adanya longsoran lagi,” kata Sugiyono di Kudus, Sabtu (4/2/2017).

Dari pantauannya, ada sekitar 15 rumah yang terancam longsor. Dari jumlah itu, ada bagian rumah yang sudah ambles, seperti halnya dapur dan sisi lainnya. Sekitar 15 rumah warga tersebar di berbagai  sudut Desa Rahtawu.

Di antaranya, empat rumah di RT 04 / RW 04, lalu lima rumah lainnya berada di RT 01 / RW 04, serta dua rumah di RT 3 / RW 5, dan beberapa rumah lain di Pedukuhan Wetan Kali. ‎”Melihat hal itu saya langsung laporan, seperti kepada kecamatan, kepolisian dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Sesuai dengan prosedur tentunya,” ungkapnya.

Saat ini, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar melakukan ronda secara gantian setiap harinya. Hal itu untuk mengantisipasi jatuhnya korban bila longsor tiba setiap saat.

Info terakhir, kata dia Kamis (2/2/2017) kemarin, terdapat tiga titik rekahan tanah, yang baru. Rekahan itu, berpotensi longsor dan mengancam tiga rumah penduduk. Untuk itu dia menginstruksikan warga untuk menjauhi lokasi itu.

Editor : Akrom Hazami

Jembatan Banyu Semurup Rahtawu Kudus Membahayakan

Warga berada di jembatan yang rusak di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di jembatan yang rusak di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jembatan Banyu Semurup, yang terdapat di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus mengalami kondisi yang memprihatinkan. Hal itu karena permukaan jembatan sudah berlubang dan beberapa titik sudah membahayakan.

Kades Rahtawu Sugiyono mengatakan, jembatan sudah rusak cukup parah. Beberapa titik sudah berlubang dan beberapa lokasi juga keropos. Bahkan ada juga struktur jembatan yang lapuk. “Sudah mengkhawatirkan jembatannya.  Sudah rusak dan membutuhkan penanganan segera,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (28/11/2016).

Menurutnya, jembatan tersebut sudah berusia 40 tahun lebih. Selain itu, jembatan juga menjadi satu-satunya akses menuju lokasi rintisan desa wisata Rahtawu. Dijelaskan, kalau beberapa waktu yang lalu lubang yang berada di jembatan sempat ditutup dengan drum. Namun, malah tertabrak pengguna jalan yang melintas.

Oleh pihak desa, kemudian drum bekas tersebut diambil kembali  “Kalau jatuh ke sungai malah bahaya. Soalnya ketinggian jembatan ini mencapai 15 meter, jadi membahayakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, jembatan hanya menggunakan pilar besi dan dilapisi dengan kayu. Kemudian, kayu yang menutupi jembatan dilapisi dengan aspal. Namun kayu sudah lapuk. “Kami dan warga berharap mudah-mudahan dapat diperbaiki secepat mungkin. Agar jembatan kembali nyaman dan tidak memakan korban,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Terjatuh, Polwan Kudus Pantang Nyerah Kendarai Sepeda Motor Trail ke Rahtawu

Seorajy polwan dari Polres Kudus melintasi rute berkelok di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus., Selasa.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorajy polwan dari Polres Kudus melintasi rute berkelok di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus., Selasa.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Murianewscom, Kudus – Puluhan polwan Polres Kudus, menaiki sepeda motor trail ke kawasan pegunungan, Selasa (30/8/2016). Salah satunya, mereka menuju kawasan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Para polwan berseragam lengkap itu hendak melakukan aksi sosial kepada warga setempat.

Satu dari polwan yang hadir, adalah AKP Rahmawaty Tumulo. Dia yang juga Kapolsek Kota, menuturkan kegiatan dilakukan dalam rangka Hari Polwan. “Sebagai petugas, kami juga harus bisa menaiki motor ini. Kami tunjukkan dalam Hari Polwan ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jumlah kendaraan yang digunakan untuk berkeliling Rahtawu sekitar10 unit.  Seluruh kendaraan dinaiki oleh 12 orang polwan. Diketahuinya, rata-rata polwan jarang naik sepeda motor trail itu. Semuanya menaiki kendaraan sepeda motor trail mulai dari Mapolres Kudus hingga di lokasi.

Dia berharap dengan berbagi sesama yang membutuhkan bakal sedikit membantu beban masyarakat. Terlebih, mereka yang berada di pinggiran kota seperti Rahtawu. Mereka membagi bingkisan dengan warga yang membutuhkan.

Pantauan di lokasi, beberapa petugas polwan yang menunggangi, nampak kesulitan mengendalikan sepeda motor. Bahkan beberapa kali mesin kendaraan yang dinaiki mati. Adapula polwan yang terjatuh akibat kesulitan mengendalikan kendaraan. “Karena memang medan yang dilalui berat, banyak tanjakan serta jalan yang berkelok. Makanya terkadang kesulitan,” ungkapnya.

Kendati demikian, anggota polwan itu terlihat menikmati suasana. Ditambah lagi dengan alam pegunungan membuat mereka bisa bernafas dengan segar.  Sesekali senyum ramah mereka terpancar saat bersimpangan dengan warga setempat.

Editor : Akrom Hazami

Rahtawu Dijaga dari Kerusakan

Pemandangan Rahtawu Kudus. (MuriaNewsCom)

Pemandangan Rahtawu Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Warisan leluhur bukan berarti harta benda atau permata, namun wisata alam atau kekayaan alam juga bisa jadi warisan kepada anak cucu.

Oleh sebab itu, Kepala Desa Rahtawu Sugiyono berharap warga bisa merawat dan mewariskannya kepada anak cucu yang akan datang.

“Bila wisata alam atau panorama alam ini tidak terawat, maka yan akan rugi adalah kita semua. Selain itu, terbengkalainya panorama alam atau rusaknya pemandangan itu, bisa mengakibatkan bencana alam,” ujar Sugiyono.

Sebenarnya warga itu harus bisa berpikir bahwa wisata alam ini memang harta yang paling berharga. Bila dimanfaatkan dengan baik dan maksimal, kata dia, maka anak cucu bisa terwarisi. Sehingga setiap warga yang ada harus bisa menjaga lingkngan Rahtawu dari segala bencana alam.

Sementara itu, terkait adanya bencana alam tanah longsor, dirinya juga mengakui bahwa itu merupakan kelalaian warga. Yakni seringnya memecah batu dan menjualnya, menebang pohon dan menjualnya ke luar desa.

“Kita akui, bencana alam tanah longsor yang menerjang Rahtawu itu memang kelalaian manusia. Oleh sebab itu, saat ini kita akan terus memantau wilayah ini supaya tidak dirusak. Baik itu memantau kegiatan warga supaya tidak menggelar aktivitas yang merugikan. Seperti halnya menebang pohon yang masih muda, memecah batu secara liar, menambang pasir kali atau yang lainnya,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Obsesi Rahtawu jadi Destinasi Utama Wisata Kudus

Pemandangan Rahtawu tampak di gerbang masuk desa tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pemandangan Rahtawu tampak di gerbang masuk desa tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Sugiyono menginginkan wisata alam Kudus, khususnya Rahtawu menjadi destinasi wisata utama di Kota Kretek. Hal itu tak lepas dari potensi alam Rahtawu yang mempesona dibanding lainnya.

Kepala Desa Rahtawu Sugiyono mengatakan, pemandangan di Rahtawu masih alami. Selain itu, di desa itu juga masih jarang permukiman penduduk. “Sehingga saat wisatawan datang kemari, mereka bisa melihat suasana asri. Sebab kanan dan kiri jalan pun masih berupa lahan hijau dan pegunungan. Berbeda dengan wisata alam lainnya,” katanya.

Sementara itu, dirinya juga akan mendayakan para pemuda untuk bisa bersama sama mengembangkan wisata yang ada di Rahtawu ini.

“Para pemuda terus kita ajak kerja sama. Yakni mereka supaya bisa menyiarkan atau menginformasikan lewat media massa. Baik itu Facebook, atau sejenisnya. Supaya Kudus ini terkenal dengan wisata Rahtawunya. Sementara itu, selama ini yang menonjol yakni Gunung Murianya,” ujarnya.

Dirinya mengaku, Kudus terkenal dengan wisata religi seperti Menara Kudus dan Muria. Namun wisata alam Rahtawu juga harus bisa dikenalkan kepada masyarakat umum.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ternyata Batu Raksasa Dung Gong Ini yang Jadi “Magnet” Wisata Rahtawu

Batu Raksasa Dung Gong di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Batu Raksasa Dung Gong di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tidak diragukan lagi, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog memang dikenal dengan panorama alam yang asri dan indah. Namun, diantara pemandangan dan wisata alam yang terdapat di Rahtawu, terdapat sebuah batu Raksasa Dung Gong yang kerap menjadi tujuan wisata.

Kades Rahtawu Sugiono mengatakan, sesuai dengan namanya, batu Raksasa Dung Gong memang berukuran raksasa. Bahkan enam hingga tujuh orang dewasa tidak akan mampu melingkari batu raksasa itu.

”Batu itu tidak dapat dipindah, beratnya saja diperkirakan hingga puluhan ton. Jadi bagaimana cara memindahkan selain menggunakan alat atau meledakkan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Batu yang terletak di sungai Rahtawu itu, kini menjadi pusat perhatian dalam sebuah wisata alam. Ukuran baru yang tidak seperti umumnya membuat masyarakat yang berkunjung ingin menaklukkan batu raksasa itu dengan memanjatnya.

Tidak hanya itu, lokasi batu raksasa yang persis di tepi sungai membuat pengunjung mudah dalam menemukan batu bulat itu. ”Biasanya pengunjung langsung datang dan menaiki batu itu, memang agak susah namun sudah ada beberapa pijakan baru lainnya untuk menaiki batu itu,” ujarnya.

Batu tersebut, kata dia sebenarnya bukanlah berada di sungai. Melainkan berada di daerah tebing yang tertutup tanah. Hanya, lantaran dengan longsor pada 2014 lalu, menyebabkan batu besar itu terjatuh hingga terhenti di bibir sungai.

”Saat longsor malah sampai membuat satu jembatan putus. Sebab ukuran batu yang sangat besar serta berat sehingga jembatan tidak mampu menampung,” ungkapnya.

Menurut Sugiono, pengunjung Rahtawu paling ramai pada hari Minggu atau saat liburan. Pada waktu itu biasanya sungai penuh dengan para pengunjung. ”Di sini wisatanya alam, jadi pengunjung datang untuk mandi di sungai sambil menikmati indahnya alam Rahtawu yang masih asli,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Yuk, Ikut Pengajian di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Rahtawu

Jadwal acara Pengajian di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Rahtawu. (ISTIMEWA)

Jadwal acara Pengajian di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Rahtawu. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Memperkaya diri dengan ilmu agama, memang sangat penting. Salah satunya dengan lebih banyak menghadiri pengajian, yang tentu saja akan ada ilmu yang diambil dari sana.

Salah satu agenda pengajian yang bisa diikuti adalah pengajian yang digelar Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Pengajian ini akan digelar Minggu (17/1/2016). Acara pengajian ini, digelar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H, mulai pukul 19.00 WIB.

Kegiatan yang didukung PR Sukun itu, memang kegiatan yang rutin digelar setiap tahun. Masyarakat yang hadir adalah masyarakat Desa Rahtawu, dan masyarakat sekitarnya.

Peringatan maulid ini akan dihadiri oleh KH Makrus Alie dari Jepara. Sedangkan pengajian akan bertambah semarak, dengan kehadiran grup rebana qosidah Al Darisma Nujumus Syuban dari Kudus. (MERIE)

Memprihatinkan, 5 Tahun Berdiri MI di Rahtawu Ini Tak Beratap

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)Ra

 

KUDUS – Minimnya fasilitas yang dialami MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog tidak menyurutkan semangat kegiatan belajar mengajar (KBM) para murid di Madrasah Ibtidaiyah tersebut. Semangat itulah yang menjadi kekuatan sekolah yang berdiri pada tahun 2011 itu untuk tetap mendidik para penerus bangsa di desa sekitar.

Kepala MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog Ubaidillah Dwi Lazuardi mengatakan, memang disaat penerimaan siswa baru (PSB) pada tahun 2011 lalu, para murid terlebih dahulu ditampung di rumah warga sekitar RT 5 RW 3, Rahtawu, Gebog.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah murid meningkat. Sehingga KBM tersebut dipindah di gedung TPQ Raudlatul Athfal yang letaknya tidak jauh dari rumah warga tersebut. Pemindahan KBM ke gedung TPQ tersebut diharapkan dapat menampung murid lebih banyak lagi, dan membuat nyaman belajar.

”Setelah ditampung di TPQ, tahun 2013 kami mendapat bantuan Rp 50 juta dari Kemenag pusat. Dan bantuan itu langsung kami gunakan membangun 4 lokal. Pembangunan lokal tersebut juga masih dibantu swadaya masyarakat hingga Rp 20 jutaan. Akan tetapi bangunan ini belum bisa diberikan atap yang layak,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sekolah yang berada di bawah Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU Wahid Hasyim Kudus tersebut terdapat 74 murid. Sejumlah murid tersebut terbagi dalam 5 kelas yang nampak semangat dalam menempuh pendidikan. Meskipun KBM dilaksanakan di gedung TPQ.

”Alhamdullillah meskipun dalam kondisi bangunan seadanya, tetapi anak didik kami bisa menunjukan prestasinya. Diantaranya Juara II Putri lomba puisi dan juara 3 putri menggambar di hari pendidikan yang diselenggarakan IPNU IPPNU Kudus 2013. Dan yang terakhir yakni juara II Tingkat Kecamatan lomba Pramuka yang diadakan UPT Kecamatan Gebog belum lama ini,” tuturnya.

Meski dengan kondisi fasilitas sekolah yang belum memadai, pihak guru serta masyarakat setempat tetap optimistis bisa memajukan sekolah dan juga murid yang berprestasi. ”Yang penting kita harus semangat. Supaya anak didik juga semangat. Selain itu, kami juga telah membeli tanah seluas 300m dengan harga Rp 20 juta. Dana tersebut kami peroleh dari jerih payah menggandeng masyarakat setempat dan bantuan PR Sukun,” tuturnya.

Dia menilai, perjuangan mendidik anak belum cukup sampai di sini. Pihaknya berharap dinas terkait bisa ikut berpartisipasi dalam mendidik generasi bangsa. Sehingga kesejahteraan warga negara dalam menempuh dunia pendidikan terjamin.

”Pendidikan itu bukan sekadar urusan dari guru dan warga setempat. Akan tetapi dinas terkait juga kami harapkan bisa ikut serta. Sehingga masyarakat Rahtawu ini bisa menikmati pendidikan yang baik dan lebih layak,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Ini Tarif untuk Berkunjung ke Petilasan di Desa Rahtawu

rahtawu (e)

Portal untuk masuk petilasan Rahtawu yang dikelola oleh pemdes setempat (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Peringatan tahun baru hijriah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk mengunjungi situs bersejarah atau wisata religius untuk berdoa. Salah satunya petilasan yang ada di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus.

Moment ini dimanfaatkan Pemerintah Desa Rahtawu untuk menambah pemasukan pendapatan desa, yakni dengan cara membuat portal di jalan utama masuk Desa Rahtawu. Pihak desa kemudian membuat karcis, yang diperuntukkan untuk pengunjung.

Sugiyono, Kepala Desa Rahtawu mengatakan, setiap tahun dirinya bersama masyarakat membuat portal masuk kawasan petilasan. “Jadi dengan adanya portal tersebut, setiap peziarah atau wisatawan yang masuk daerah petilasan akan diberi tiket masuk. Masyarakat dari luar yang masuk ke area petilasan akan ditarik tiket sebesar Rp 2 ribu per orang,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Sugiyono menambahkan adanya portal tersebut, katanya, agar ada kejelasan darimana asal dan berapa jumlah pengunjung yang masuk. Terhitung 11-23 Oktober 2015,  portal dan tiket masuk akan dijalankan.

Dana yang masuk dari tiket masuk tersebut, lanjutnya, akan diserahkan pada pemdes untuk dikelola bersama. ” Jadi tiket masuk tersebut memang resmi dari desa dan dana yang terkumpul juga akan digunakan untuk kebutuhan bersama,” jelasnya.

Dan yang terkumpul tersebut akan digunakan untuk pembangunan serta perbaikan infrastruktur desa. “Jadi dananya harus digunakan untuk kebutuhan bersama dan harus berupa bangunan atau akses umum yang digunakan bersama, ” pungkasnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)