Gara-gara Punya Satu Kaki, Rahma Bocah Asal Sidomulyo Pati Ini Ditinggal Orang Tuanya

 Rahma sedang dipangku neneknya yang mengasuh Rahma sejak berusia empat bulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Rahma sedang dipangku neneknya yang mengasuh Rahma sejak berusia empat bulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lahir dalam kondisi cacat tentu bukan sesuatu yang diinginkan Rahma, bocah berusia enam tahun yang hidup dalam asuhan kakek neneknya di Dukuh Pojok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati. Namun, karena cacat bawaan lahir, bocah ini ditinggal orang tuanya sejak usia empat bulan.

Warni (65), nenek Rahma bercerita tentang kisah pahit yang menimpa cucu kesayangannya itu. “Pada saat Rahma berusia empat bulan, ibunya titip Rahma karena ingin merantau. Namun, hingga kini tidak ada kabarnya,” ungkap Warni.

Bahkan, tersiar kabar bahwa menantunya itu sudah menikah lagi dengan pria lain. Sementara itu, Muryono, ayah Rahma bekerja di kapal dan jarang pulang. Sesekali pulang, ayah Rahma memilih untuk tinggal bersama keluarganya.

Warni hanya berpikir positif kenapa kedua orang tuanya tega meninggalkan anaknya. Mungkin, kata Warni, kedua orang tuanya belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya itu lahir dalam kondisi cacat dengan kaki satu.

Ayah Rahma kadangkala memang menjenguk anaknya itu dan memberikan uang. Namun, hal itu tidak cukup mengobati Rahma ketika rindu dengan ayah dan ibunya.

Satu hal yang dikhawatirkan Warni, yaitu ketika dirinya bersama suaminya sudah tiada. Sebab, Warni sudah berusia 65 tahun dan suaminya, Saryo sudah berusia 85 tahun. “Saya khawatir, kalau kami sudah tiada, siapa yang akan merawat Rahma?” ucapnya.

Sesekali, Warni mengungkapkan kegelisahannya itu kepada Rahma. Namun, cucunya itu membuat jawaban yang mengejutkan. “Saya bertanya, bagaimana kalau saya nanti meninggal. Dia jawab ingin ikut meninggal juga. Saya menangis dalam hati,” tutur Warni.

Meski begitu, dia bangga punya cucu Rahma. Bocah ini diakui sangat gigih menghadapi getirnya hidup. Dia tidak minder ketika bermain dan sekolah. Bahkan, Rahma terbilang murid yang cerdas.

Neneknya itu berharap, suatu saat kelak Rahma bisa meraih cita-cita agar memiliki masa depan yang cerah. “Dia selalu semangat ketika akan bersekolah. Sekarang baru duduk di bangku kelas satu SD Negeri Sidomulyo 03 Jakenan,” tutupnya.

Baca juga : Kisah Rahma, Bocah dengan Satu Kaki Asal Sidomulyo Pati yang Gigih Hadapi Kerasnya Hidup

Editor : Kholistiono

Kisah Rahma, Bocah dengan Satu Kaki Asal Sidomulyo Pati yang Gigih Hadapi Kerasnya Hidup

Rahma (tengah) bersama neneknya dan seorang anggota TNI yang peduli dengannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rahma (tengah) bersama neneknya dan seorang anggota TNI yang peduli dengannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Di Dukuh Pojok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati, hidup seorang bocah berusia enam tahun, bernama Rahmawati. Rahma sejak lahir hidup dalam keterbatasan fisik, yakni hanya memiliki satu kaki.

Rahma tinggal di rumah sederhana bersama kakek dan neneknya yang sudah berusia renta. Warni, nenek Rahma sudah berusia 65 tahun, sedangkan Saryo, kakek Rahma sudah berusia 85 tahun.

Untuk bertahan hidup, kakek dan nenek Rahma yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri bekerja serabutan. Warni yang sudah tua masih giat bekerja sebagai kuli tandur, sedangkan Saryo memelihara dua ekor kambing.

Keduanya begitu tabah merawat Rahma. Justru dengan cucunya yang mengalami disabilitas sejak lahir itu, kakek dan neneknya selalu punya semangat bertahan hidup untuk merawat Rahma.

Rahma sendiri diakui anak yang cerdas. Meski cacat fisik, Rahma tidak minder ketika bermain dengan teman-temannya. Saat ini, Rahma duduk di bangku kelas 1 SD Negeri Sidomulyo 03 Jakenan.

“Nalarnya seperti orang tua. Selama TK, uang saku Rahma Rp 4 ribu. Ternyata uang itu disisihkan Rp 2 ribu setiap hari. Dalam setahun, tiba-tiba punya tabungan Rp 800 ribu. Dalam hati, saya menangis,” ungkap Warni.

Untuk berangkat sekolah, Warni selalu mengantar dan menungguinya, lantaran jaraknya sekolahnya cukup jauh. Sembari menunggu cucunya, Warni terkadang membantu menyapu halaman sekolah hingga diangkat menjadi tukang kebun.

Lantaran iba, sejumlah masyarakat yang peduli memberikan bantuan kepada Rahma. Dua tahun yang lalu, misalnya. Rahma mendapatkan bantuan berupa tongkat untuk berjalan. Dia berharap, Rahma bisa meraih cita-citanya.

Editor : Kholistiono