Yang Perlu Kamu Tahu, Gelar RA untuk Kartini Kini Kepanjangannya Bukan Lagi Radeng Ajeng

Foto Raden Ayu Kartini yang terpasang di Musem Kartini Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Singkatan gelar RA untuk Kartini, yang semula memiliki kepanjangan Raden Ajeng, kini telah diubah menjadi Raden Ayu. Terkait hal ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Rembang gencar untuk melakukan sosialisasi terkait perubahan tersebut.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Winaryu Kustiyah mengatakan, perubahan tersebut tidak lepas dari kajian atau penelitian mendalam dari pakar sejarah. Katanya, gelar Raden Ajeng pada masanya disematkan hanya untuk wanita yang belum menikah.

“Sedangkan bagi perempuan atau wanita yang sudah menikah, maka langsung berubah menjadi Raden Ayu. Sementara itu, Kartini telah menikah dengan Bupati Rembang Raden Mas Djojo Adiningrat. Maka sebutan Raden Ajeng dianggap tidak relevan lagi,” katanya.

Selain itu, pihak Dinbudpar juga sudah menggelar rapat dengan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) telah disepakati bahwa kepanjangan itu sudah diubah. Yakni menjadi Raden Ayu.

Sementara itu, pihaknya juga mengimbau kepada pihak terkait, baik mulai dari kalangan pelajar, instansi, sekolah atau yang lainnya bisa ikut mensosialisasikannya.

“Selama ini, warga memang sudah terbiasa dengan sebutan nama Raden Ajeng Kartini atau disingkat dengan RA. Namun untuk saat ini mulailah menggunakan nama Raden Ayu Kartini, sekaligus untuk membiasakan. Terlebih lagi, sebutan itu jangan disingkat lagi dengan singkatan RA. Akan tetapi langsung disebutkan saja Raden Ayu, baik di acara seremonial, acara pemerintahan dan lainnya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Benda Ini Bukti Ketertarikan RA Kartini dengan Alquran

Kasi Sejarah Museum dan Purbakala Dinbudparpora Rembang Siti Nuryati menunjukan Tafsir Alquran yang ditulis Kiai Soleh Darat yang dihadiahkan ke R.A. Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasi Sejarah Museum dan Purbakala Dinbudparpora Rembang Siti Nuryati menunjukan Tafsir Alquran yang ditulis Kiai Soleh Darat yang dihadiahkan ke R.A. Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bisa jadi sebagian besar orang cukup sekadar tahu bahwa Kartini adalah seorang ibu keturunan ningrat Jawa yang memperjuangkan emansipasi. Tapi mungkin saja masih banyak yang belum tahu jika R.A Kartini memiliki ketertarikan yang besar terhadap Alquran.

Benda yang berada di Museum Kartini Rembang ini, menjadi salah satu bukti mengenai ketertarikan RA Kartini mengenai isi Alquran. Benda ini berupa kitab tafsir dan terjemahan Alquran yang bernama Kitab Faidhur-Rohman.

Kitab ini, disebut-sebut sebagai tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini hasil terjemahan yang ditulis oleh Kiai Sholeh Darat dari Semarang, dalam huruf  “arab gundul” (pegon). Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Kasi Sejarah Museum dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Rembang Siti Nuryati mengatakan, jika kitab tersebut hingga kini masih tersimpan secara baik di museum. Benda ini, juga bisa menjadi pengetahuan bagi pengunjung mengenai bagian dari kehidupan Kartini.

“Selain pengunjung bisa tahu bahwa Kartini merupakan tokoh emansipasi wanita, pengunjung juga bisa tahu Kartini dahulunya juga pintar mengaji. Selain bersekolah di umum, Kartini juga dahulunya suka mengaji,” ungkapnya.

Ia katakan, kitab tafsir dan terjemahan Alquran ini sebanyak 13 juz. Sebab, kitab tersebut belum sempat di selesaikan oleh Kiai Sholeh Darat, sebab, guru ngaji Kartini sudah meninggal terlebih dahulu, sebelum menyelesaikan terjemahan tersebut.

Lebih lanjut ia katakan, pemberian kitab tersebut bermula ketika pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga paman Kartini.

“Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Alquran diterjemahkan, karena menurut Kartini,  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Alquran.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

HARI KARTINI : Begini Potret Kamar Pingit Kartini di Pendapa Kabupaten Jepara

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menunjukkan kamar pingit RA Kartini (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menunjukkan kamar pingit RA Kartini (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sosok pahlawan nasional RA Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April tidak lepas dari kota kelahirannya Jepara. Ya, pahlawan emansipasi ini masa hidupnya banyak dihabiskan di Kota Ukir. Salah satu yang menjadi saksi bisu kehidupan Kartini adalah di kamar pingitnya yang terletak di Pendapa Kabupaten Jepara.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi memperkenalkan lebih dekat mengenai beberapa barang peninggalan Kartini yang ada di Jepara, terutama yang terletak di Pendapa Kabupaten Jepara. Menurut Marzuqi, kamar berukuran tidak lebih dari 12 meter persegi dengan warna cat kuning kecokelatan itu, dulu merupakan tempat Kartini dipingit.

“Masih ada banyak barang peninggalan RA Kartini di Jepara. Salah satu yang tidak berubah adalah kamar pingitnya di sini,” ujar Marzuqi kepada MuriaNewsCom sambil menunjukkan seisi kamar pingit RA Kartini tersebut, Kamis (21/4/2016).

Menurut dia, di dalam kamar pingit Kartini, selain terdapat replika ranjang tidur, meja kursi, dan lukisan Kartini, juga terdapat sejumlah replika benda-benda yang digunakan Kartini untuk berkarya.

“Ada replika yang digunakan oleh beliau (RA Kartini) untuk berkarya, seperti peralatan untuk membatik. Sebab, dulu RAKartini tidak hanya menulis tetapi juga membatik,” terang Marzuqi.

Marzuqi yang sejak menjabat sebagai Bupati Jepara tinggal di Pendapa Kabupaten yang didalamnya terdapat kamar pingit RA Kartini itu, mengaku belum pernah mimpi bertemu Kartini. Menurut dia, hanya orang-orang tertentu yang dapat bermimpi bertemu dengan Kartini.

“RA Kartini bagi saya sangat istimewa dan hebat. Beliau seperti sosok seorang utusan. Ada hal-hal yang sebentulnya mirip dengan ke-Rasulan Nabi, seperti tanggal lahir beliau adalah 21 April, sehari setelah kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bermimpi ketemu beliau,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

HARI KARTINI : Ini Pesan Bupati Grobogan

Pelaksanaan upacara Hari Kartini di halaman Setda Grobogan dipimpin Bupati Sri Sumarni dengan seluruh petugasnya kaum perempuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelaksanaan upacara Hari Kartini di halaman Setda Grobogan dipimpin Bupati Sri Sumarni dengan seluruh petugasnya kaum perempuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Momen Hari Kartini yang jatuh hari ini, Kamis (21/4/2016) diharapkan jadi tonggak kebangkitan perempuan, khususnya di Grobogan. Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni dalam amanatnya ketika bertindak jadi inspektur upacara Hari Kartini di halaman setda.

“Perempuan bisa meraih prestasi seperti kaum laki-laki. Jadi, mari kita jadikan momen ini untuk bangkit sekaligus instrospeksi diri,” cetusnya.

Upacara hari Kartini ini dihadiri pula para pimpinan FKPD Grobogan beserta istri atau suami. Hadir pula para kepala SKPD dan pimpinan BUMD Grobogan.

Dalam upacara ini, seluruh petugasnya adalah perempuan. Mulai dari komandan upacara, pengibar bendera, pembaca naskah pembukaan UUD 1945, hingga pembaca doa.

Sri juga menegaskan bahwa dirinya sudah bisa membuktikan. Yang mana, ia tercatat namanya sebagai perempuan pertama yang bisa jadi Bupati Grobogan.

“Pencapaian ini memang tidak mudah dicapai. Tetapi, butuh perjuangan dan kerja keras serta dukungan dari banyak pihak. Jadi pada intinya, jika kita mau berupaya sungguh-sungguh maka kesempatan meraih prestasi dan cita-cita pasti bisa terlaksana,” kata mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Dalam kesempatan itu, Sri juga berpesan agar kepada para perempuan agar tidak lupa tugasnya dalam membina keluarga. Menurutnya, meski punya banyak kesibukan kerja atau usaha namun perhatian terhadap keluarga jangan sampai terabaikan.

“Saat ini, kesibukan orang tua menjadikan komunikasi dengan anak ini berkurang bahkan menghilang. Untuk itu, orang tua harus memberi waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Keluarga yang harmonis ini juga salah satu sarana untuk menjadikan anak-anak menjadi orang hebat dikemudian hari,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

Kartini Tidak Panggul Senjata, Namun Besar Jasanya

festival kartini tyg 2300 wib (e)

RA Kartini. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peran dan jasa Raden Ajeng (RA) Kartini terhadap Indonesia memang tidak terbantahkan lagi. Meski begitu, jasanya itu harus bisa diterjemahkan dengan luas dan dipahami benar oleh semua pihak.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Jepara Hadi Priyanto mengatakan, pemahaman sejarah akan peran dan jasa Kartini ini, memang diperlukan. ”Dengan mendalami dan memahami sepak terjangnya dengan benar, maka kita akan dapat melihat dan berbuat ke depan, dengan tidak mengulang kesalahan masa lalu,” jelasnya dalam acara Dialog Pewaris Kartini, di Pendapa Kabupaten Jepara, Rabu (13/4/2016).

Acara itu sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam Festival Kartini Tahun 2016, yang bekerjasama dengan Bakesbangpol.

Hadi mengatakan, semua pihak perlu meniru dan meneruskan pelajaran dan perjuangannya yang bagus. Itulah perlunya semuanya harus mempelajari sejarah. ”Tidak untuk mengulang kesalahan masa lalu, tetapi mengambil intisari untuk perbaikan generasi ke depan,” katanya.

Dikatakan Hadi, khusus RA Kartini memang tidak bisa dipandang remeh. Meski perjuangannya tidak memanggul senjata, namun melalui tulisan dan spirit emansipasi dalam perjuangannya, menjadi kekuatan absolut.

”Bahkan lewat kecerdasannya, Kartini kecil sudah menjadi pencetus tafsir Alquran dalam bahasa Jawa. Yaitu lewat jawaban yang lugas kepada guru mengajinya saat itu,” jelasnya.

Jawaban yang diberikan Kartini kepada guru mengajinya itu adalah ”untuk apa saya membaca Alquran, sementara tidak Tahu arti dan maknanya”. Inilah yang kemudian membuat sang guru ngaji, yakni KH Sholeh Darat, membuat tafsir Alquran dalam bahasa Jawa.

Dengan begitu, masyarakat Jawa dapat mempelajari dan memahami dengan baik dan benar soal agama Islam saat itu. ”Sejarah dan kearifan lokal seperti inilah yang harus banyak diberikan kepada generasi penerus bangsa, untuk membentengi era modernisasi, teknologi, dan informasi saat ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kartini Bukan Hanya Pahlawan Emansipasi

festival kartini-tyg 2000 wib (e)

Kabag Humas Setda Jepara Hadi Priyanto berbicara di depan hadirin yang datang pada Dialog Pewaris Kartini di di Pendapa Kabupaten Jepara, Rabu (13/4/2016). (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sosok RA Kartini selama ini hanya kita kenal hanya sebagai pahlawan emansipasi. Ternyata setelah dipelajari dan dipahami, masih banyak sekali jasanya untuk bangsa, negara, bahkan agama.

Terbukti berdasarkan catatan sejarah, Kartini berjuang bukan hanya untuk kaum perempuan saja. Melainkan seluruh aspek dan sendi kehidupan, termasuk dalam penyebaran Islam di Jepara khususnya, dan Jawa pada umumnya.

Melihat sepak terjang kehidupan dan perjuangannya, maka Kartini pantas disebut sebagai Ibunda Pendidikan, Ayunda Pergerakan, Pematik Nasionalisme, Sebarkan Virus Patriotisme, Pelopor Industri Kreatif.

Serta dalam keagamaan, Kartini juga sebagai pembuka tradisi tafsir Alquran berbahasa Jawa. Patut dan wajib hukumnya bagi kita semuanya terus mengenang, mengenal, meneladani, serta meneruskan cita-citanya.

Kesimpulan dan penekanan ini terkuak pada acara Dialog Pewaris Kartini di di Pendapa Kabupaten Jepara, Rabu (13/4/2016). Acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Festival Kartini Tahun 2016, bekerjasama dengan Bakesbangpol.

Kegiatan ini diikuti para peserta dari seluruh perwakilan ormas perempuan dan guru sejarah se Kabupaten Jepara. Menampilkan dua pembicara sekaligus, yaitu Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Hadi Priyanto yang sekaligus penulis beberapa buku Kartini. Dia membawakan materi ”Spirit Kartini Dalam Membangun Bangsa yang Kreatif dan Mandiri”.

Sementara pembicara kedua, Iskak Wijaya, dosen Filsafat dan Ilmu Sejarah UIN Yogyakarta, membawakan materi tentang ”Perspektif Kartini di Masa Lalu, Kini, dan Masa Datang”.

Editor: Merie