Banyak Kejutan di Peringatan 1 Abad Qudsiyyah Kudus

qudsiyyah 2

Perwakilan panitia Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksanaan kegiatan puncak satu abad Madrasah Qudsiyyah, Kudus diprediksi akan ramai. Sebab, panitia sudah menyiapkan acara yang tidak biasa, dan banyak kejutan.

Perwakilan panitia kegiatan Abdul Jalil, mengatakan kalau kegiatan akan berjalan mulai 1 hingga 7 Agustus. Dan tiap harinya bakal berlangsung kegiatan yang berbeda.

“Seperti pembukaan 1 Agustus, bakal dihadiri Kepala Litbang Kemenag RI. Kami sudah kontak dengan mereka,” katanya.

Selanjutnya, kegiatan akan dilangsungkan dengan halaqoh santri dan konser budaya santri. Pada Selasa 2 Agustus, ada Mubarok Kids and Friend Show yang dilahirkan dengan deklarasi santri mandiri serta peluncuran album Al Mubarok volume XI

“Kegiatan lain adalah Lomba Mewarnai dan Gambar Menara. Lalu dilanjutkan dengan konser 100 selawat pada Kamis,” imbuhnya.

Kegiatan selanjutnya adalah Menulis Alquran 30 juz. Yang menulis adalah santri yang mencapai 1.000 orang.

Perwakilan Yayasan Qudsiyah, Nadjib Hasan mengatakan, album tersebut sekaligus lagu yang dibuat mencapai 100. “Ini sebuah kebetulan,” kata Nadjib.

Dia mengatakan, dalam kegiatan juga ada peluncuran program IPA. Selama ini hanya terdapat Prodi IPS saja. Hal itu berdasarkan masukan oleh banyak pihak.

“Kegiatan ditutup musik religi, yang berlangsung Ahad mendatang, 7 Agustus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kegiatan itu merupakan kegiatan dari santri, baik alumni dan siswa di sana. “Kami ingin menyatukan balung pisah. Jadi kami libatkan semuanya,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Santri Qudsiyyah juga Harus Bercita-Cita Tinggi

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa aktif maupun lulusan dari Madrasah Qudsiyyah memang tidak dipaksa untuk menjadi ustaz, kiai atau ulama oleh gurunya. Namun pesan dari pendidiknya ialah supaya para siswa atau lulusan tersebut dapat selalu mengedepankan ajaran agama saat meraih cita cita di manapun berada.

Seperti halnya siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14) ini. Sebab dirinya mengatakan bahwa santri atau lulusan dari Qudsiyyah itu boleh di mana-mana, namun jangan kemana-mana.

“Arti dari boleh di mana mana asal jangan kemana-mana ialah, para santri dan lulusan ini boleh menjadi apapun, boleh meraih cita cita apapun yang penting halal. Namun jangan sampai larut dalam kegiatan atau tindakan negatif. Selain itu, untuk menangkal tindakan itu, jiwa santri harus selalu mengedepankan ajaran Islam, apapun pekerjaanya,” ujarnya.

Sementara itu, di hari jadi Qudsiyyah yang ke-100 tahun ini, siswa yang berasal dari Pedurungan Tengah RT 1 RW 2 Pedurungan, Semarang ini berharap kepada siswa lain supaya bisa mengedepankan jiwa santrinya.

“Bila jiwa santri yang identik dngan kesederhanaan selalu dikedepankan, maka tindakan korupsi, tindakan mencuri di  saat sudah menjadi orang besar akan bisa terhindar,” ungkapnya.

Selain itu, siswa yang selalu mendapatkan ranking 5 besar di kelasnya ini juga berkeinginan untuk bisa selalu mengembangkan ajaran gurunya di saat pulang ke Semarang.

“Yang penting jadi orang itu tidak harus muluk-muluk untuk meraih cita-cita. Akan tetapi bagaimana yang paling inti ialah bisa mengamalkan ajaran guru, ulama yang sudah kita dapat. Sementara itu, bila sudah bermanfaat di lingkungan masyarakat, maka hidup akan nyaman, tenang dan barokah,” imbuhnya.

Dengan adanya prinsip hidup santri Qudsiyyah boleh di mana-mana, asal jangan kemana-mana itulah, siswa yang sekarang mondok di Ma’had Qudsiyyah ini menjalani dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik setelah lulus nanti.

Editor : Akrom Hazami

 

Seabad Qudsiyyah, Pemuda Akan Diajak Berselawat

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Zaman modern seperti saat ini, pemuda banyak yang katut kebudayaan asing. Baik melalui lagu, pakaian, bahkan yang lainnya. Akibatnya, kebudayaan lokal kian terpinggirkan.

Oleh karenanya, dalam 100 tahun Qudsiyyah Kudus, nantinya bakal digelar acara seminar Arudl (menggali Khazanah Selawat). Supaya, kebudayaan yang dinilai Islami ini terus terjaga di jiwa pemuda.

Sekretaris 100 Tahun Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, selawat merupakan seni yang menanamkan jiwa agamis. Di dalam selawat, terkandung suri taudan yang patut, yakni Nabi Muhammad SAW.

“Setidaknya bila ada seminar Arudl yang digelar 23 Mei 2016 mendatang di Auditorium UMK tersebut, dapat memberikan semangat baru untuk pemuda. Supaya mereka bisa ikut serta mencintai seni Islam tersebut,” ujarnya.

Salah satu santri Qudsiyyah Kudus, Arif (15) mengatakan, santri Qudsiyyah itu harus bisa berselawat. Sebab pendiri Qudsiyyah, KH R Asnawi juga pencipta selawat. “Harusnya pemuda sekarang juga bisa berselawat,” ucapnya.

Harapannya, kegiatan Arudl bisa membangkitkan jiwa pemuda selalu berselawat.

Editor : Akrom Hazami

Pak Ganjar, Santri Qudsiyyah Bakal Mencatat Pelajaran Anda

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kehadiran Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dalam acara Satu Abad Qudsiyyah pada Agustus mendatang, benar-benar dinanti para siswa.

Bahkan meski acara itu masih lama, namun santri atau siswa Qudsiyyah sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan Ganjar. Mereka bahkan sudah menyiapkan berbagai bahan untuk bisa menanyakan berbagai hal kepada orang nomor satu di Jateng itu.

”Kita akan mencatat pelajaran Pak Ganjar yang diberikan kepada kita. Sebab acara Ganjar Mengajar itu pastinya tentang pengetahuan umum, cara sukses, atau juga cara untuk menjadi pemimpin. Sehingga kita akan mencatat itu,” kata Anam (15), salah satu santri Qudsiyyah Kudus, Jumat (15/4/2016).

Selain itu, dalam cacatan itu juga akan selalu dipelajari. Supaya ke depannya bisa mengikuti jejak gubernur Jawa Tengah tersebut. Anam mengatakan, dengan pelajaran yang diberikan Ganjar, maka siswa bisa mengikuti jejaknya.

”Yakni bisa jadi politisi yang baik dan pemimpin yang baik. Sebab lulusan Qudsiyyah juga ada yang sukses. Seperti halnya Nusron Wahid. Yang dahulunya pernah jadi politisi dan sekaarang menjadi BNPTKI,” ujarnya.

Dia menilai, pendidikan Ganjar Mengajar itu akan bisa bersifat global dan menyeluruh. Sehingga para santri bisa memanfaatkan kegiatan ini. Sebab kegiatan ini akan bisa mendongkrak mutu kualitas santri.

”Intinya ialah bagaimana kita bisa menyerap ilmunya yang diajarkan oleh Ganjar nanti. Dan bisa mempraktikkan, bahkan bisa meneruskan jejaknya,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kenalkan, Ada ”Guru” Qudsiyyah Baru Bernama Ganjar Pranowo

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal datang ke Madrasah Qudsiyyah, pada Agustus mendatang. Kedatangannya dalam rangka peringatan Satu Abad Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal datang ke Madrasah Qudsiyyah, pada Agustus mendatang. Kedatangannya dalam rangka peringatan Satu Abad Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri yang ada di Madrasah Qudsiyyah Kudus rupanya tidak sabar untuk menantikan ”guru” baru yang akan mengajar mereka.

Sosok ”guru” itu memang bukan orang biasa. Dia adalah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. Ya, sosok nomor satu di Jateng ini bakal mengisi salah satu agenda peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah.

Ganjar akan mengisi acara tersebut, dengan tajuk ”Ganjar Mengajar”. Acaranya memang masih lama, yakni pada Rabu (27/9/2016) mendatang. Namun, banyak siswa atau santri yang tidak sabar untuk diajar Ganjar.

Salah satu santri Qudsiyyah bernama Anam (15), mengatakan jika dirinya memang sudah tak sabar untuk menunggu acara tersebut. ”Saya ingin mendengar banyak apa yang ingin disampaikan Pak Ganjar kepada kami nanti. Jadi, saya bisa belajar banyak dari beliaunya,” jelasnya, Jumat (15/4/2016).

Dia menilai, kegiatan ”Ganjar Mengajar” ini juga sekaligus untuk memperkenalkan madrasah ini kepada pemerintah. Khususnya di tingkatan Provinsi Jawa Tengah.

”Bahwa di Kudus ini masih berdiri tegak sekolahan yang mengajarkan soal salaf. Dari dulu sampai sekarang. Dalam hal ini ialah sistem pembelajarannya. Sehingga kami juga akan bangga dengan madrasah kami,” tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, tentunya dapat membangkitkan stamina belajar santri. Sebab saat kegiatan itu berjalan, pastinya akan akan berbagi sebuah ilmu pengetahuan yang bisa mendongkrak semangat santri.

”Secara otomatis, Pak Ganjar akan memberikan cara atau trik menjadi orang sukses. Oleh sebab itu, rata-rata santri ini sudah tak sabar lagi untuk menunggu momen ”Ganjar Mengajar” di Qudsiyyah ini,” ujarnya.

Dia menembakan, dirinya meyakini bahwa rata-rata santri nantinya akan memberikan banyak pertanyan yang beragam kepada Ganjar. ”Selain itu, santri juga bakal minta foto bersama Pak Ganjar. Pasti senang sekali,” imbuhnya.

Editor: Merie

Karena Seni, Alumni dan Santri Qudsiyyah Bisa Akur

Para alumni dan santri Madrasah Qudsiyyah yang tergabung dalam Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Kudus, selalu akur salah satunya karena musik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para alumni dan santri Madrasah Qudsiyyah yang tergabung dalam Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Kudus, selalu akur salah satunya karena musik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada banyak cerita yang hadir dari Madrasah Qudsiyyah, yang usianya sudah seratus tahun atau satu abad. Salah satunya antara alumni dan para santri di sana.

Alumni Qudsiyyah Kudus Gus Apank mengutarakan, alumni dan santri Qudsiyyah bisa akur salah satunya lantaran musik. Sebab para alumni yang sering datang ke Qudsiyyah masih aktif mengikuti kegiatan rebana.

”Anggota grup rebana Al Mubarok sendiri ada sekitar 50 orang. Itupun terdiri dari santri aktif dan alumni Qudsiyyah,” kata Apank.

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Sementara saat latihan, para santri aktif juga sering menghubungi alumni untuk ikut serta berkegiatan. Sehingga dalam latihan tersebut, bisa menciptakan kekompakan antara santri dan alumni.

”Kekompakan itu tidak hanya ditunjukkan dalam berseni musik rebana saja. Melainkan hal yang lain. Seperti halnya even sepeda santai 100 tahun Qudsiyyah, acara khataman 100 ingkung (ayam), dan lainnya,” ujarnya.

Dia menilai, kekompakan dan keakraban inilah yang bisa menciptakan hari jadi Qudsiyyah yang ke 100 tahun, bisa dijalankan bersama-sama hingga puncak acara nanti.

Gus Apank mengatakan, dengan adanya kekompakan, maka kegiatan yang selalu digelar Madrasah Qudsiyyah ini bisa dijalankan dengan lancar.

”Ya, kami harap kekompakan ini bisa selalu terjaga. Sehingga acara 100 tahun Qudsiyyah bakal terlaksana lancar dan bermanfaat,” imbuhnya.

Editor: Merie

Alumni dan Santri Qudsiyyah Genjot Latihan Nabuh ”Jidur”

Santri Madrasah Qudsiyyah berlatih rebana untuk pementasan pada acara puncak satu abad madrasah tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Santri Madrasah Qudsiyyah berlatih rebana untuk pementasan pada acara puncak satu abad madrasah tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski peringatan Hari Jadi Qudsiyyah yang ke 100 tahun sudah dimulai beberapa pekan yang lalu, namun persiapan untuk mematangkan puncak acara nanti, juga selalu dilakukan.

Seperti halnya grup musik rebana Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus ini. Grup rebana yang digawangi santri Qudsiyyah beserta alumni tersebut, selalu menggelar latihan secara rutin.

Salah satu alumni sekaligus pentolan Al Mubarok Gus Apank mengutarakan, latihan ini selalu digelar seusai sekolah.”Namun untuk latihannya bukan hanya sekadar dari santri aktif saja, melainkan juga ada alumni yang ikut serta latihan ini,” paparnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (14/4/2016).

Logo Satu Abad Qudsiyyah

Latihan tersebut diikuti beberapa alumni Qudsiyyah serta santri aktif di Sekretarian Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus, Gang Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus. Sehingga saat istirahat latihan, mereka bisa saling mencontohkan satu sama lain.

Gus Apank mengatakan, latihan ini dilakukan untuk mengompakkan satu sama lain. Baik itu not, irama lagu, vokal, dan lainnya. ”Terlebih kita ini melatih lagu baru dari kedua album yang terahir ini. Sebab kedua album yang berjudul Isy Ghotti dan Khudz Badala ini, total sebanyak 15 lagu. Dan akan ditampilkan sebelum puncak acara 100 tahun Qudsiyyah pada tanggal 5 Agustus 2016 mendatang,” ujarnya.

Dia menambahkan, nantinya saat pada puncak acara tersebut, diharapkan penampilan Jam’iyyah Ad-Dufuf Al-Mubarok Qudsiyyah Kudus yang akan diisi alumni dan para santri ini, bisa lebih baik dan lancar.

Editor: Merie

Santri Qudsiyyah Harus ”Ampuh” Sepanjang Zaman

Salah satu kegiatan yang diikuti santri Madrasah Qudsiyyah, yang diharapkan bisa membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi zaman. (MuriNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu kegiatan yang diikuti santri Madrasah Qudsiyyah, yang diharapkan bisa membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi zaman. (MuriNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri di Madrasah Qudsiyyah Kudus diharapkan bisa menjadi santri yang ”ampuh” di sepanjang zaman.

Salah satu siswa Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus M Shofwan, (15), mengatakan, santri Qudsiyyah Kudus harus bisa tahan atas tempaan saat modernisasi zaman.

”Santri itu Kudus ampuh sepanjang zaman. Yang kita maksud ampuh yakni pengamalan ilmu yang sudah mereka dapatkan, bisa diamalkan kepada masyarakat saat lulus nanti. Selain itu, mereka juga jangan jumawa di dalam masyarakat,” paparnya.

Oleh sebab itu, dengan adanya acara Satu Abad Madrasah Qudsiyyah tersebut, dapat dijadikan momen untuk bisa mengamalkan ilmu kepada warga Kudus.

Menurutnya, dengan adanya berbagai even baik itu ekspo, bedah buku, teater, dan lainnya, bisa membuat warga semakin mengenal keberadaan mereka. ”Bahwa Madrasah Qudsiyyah juga bukan pendidikan di bidang agama saja. Melainkan juga madrasah yang bisa mendidik di bidang ilmu pengetahuan umum,” ujarnya.

Dia menilai, bagi santri Qudsiyyah harus bisa memanfaatkan momen satu abad ini. Sehingga masyarakat Kudus bisa paham akan Madrasah Qudsiyyah, dan bukan hanya sekadar tahu sekolah umum saja.

Dengan adanya perayaan Satu Abad Qudsiyyah, tentunya keunggulan madrasah yang didirikan keturuanan Sunan Kudus yang bernama KHR Asnawi itu, juga dapat terbaca serta terlihat oleh khalayak umum.

”Ya, mudah-mudahan dengan acara ini, masyarakat umum bisa tahu akan sistem pendidikan Qudsiyyah. Serta Madrasah Qudsiyyah ini bisa menciptakan dan menggembleng santri-santri tangguh untuk masa depan,” imbuhnya.

Editor: Merie

Santri Bumikan Semangat Gusjigang di Satu Abad Qudsiyyah

Santri menunjukkan karya yang akan dipajang saat gelaran expo Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Santri menunjukkan karya yang akan dipajang saat gelaran expo Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gusjigang adalah sebuah kata yang menghiasi tema acara Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus. Kata tersebut bukan karena tidak ada arti dan makna tersendiri. Akan tetapi kata Gusjigang inilah yang mendongkrak jiwa warga Kudus meningkatkan kemandirian di segala bidang.

Sekretaris panitia satu abad Quidsiyyah Abdul Jalil mengatakan, kata Gusjigang merupakan ikon Kota Kudus.”Gusjigang itu merupakan singkatan. Yakni Gus berarti bagus (rupa, akhlaq, perbuatan), Ji berarti pintar mengaji, dan Gang ialah pandai berdagang (mandiri). Akan tetapi di sini bukan berarti terfokus pada berdagang saja, namun harus bisa mandiri di segala bidang. Misalkan saja pengetahuan dan sejenisnya,” kata Jalil.

Diketahui, ikon Kudus Gusjigang muncul lantaran rata rata warga berpenghasilan dari berdagang. Selain itu, perdagangan tersebut juga diidentifikasikan dengan adanya tiga suku yang ada di Kudus. Seperti halnya Jawa, Tionghoa dan Arab.

Karenanya untuk membumikan dan mempraktikkan Gusjigang tersebut, nantinya di momen satu abad Qudsiyyah, bakal digelar expo. Para santri Qudsiyyah akan menunjukan berbagai kreativitas yang ada. Seperti halnya prestasi, kitab salaf atau kuning karya ulama Kudus, poster dan foto para ulama Kudus dan lainnya.

Expo tersebut nantinya akan digelar pada 2 hingga 6 Agustus 2016 di lapangan Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi Kudus.

“Setidaknya dalam expo tersebut, kita dapat menunjukan kepada masyarakat Kudus, bahwa produk atau jasa para ulama di bidang agama itu banyak sekali. Seperti halnya membuat kitab salaf dan sejenisnya. Selain itu, juga menunjukan kreativitas asli masyarakat Kudus seperti halnya batik Kudus. Serta lagu-lagu selawat ciptaan santri Qudsiyyah,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Satu Abad Qudsiyyah Bisa Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Mutu Sekolah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu alumni Madarasah Qudsiyyah Kudus yang berasal dari wilayah Undaan Syaiful (24) mengtatakan, kegiatan satu abad Qudsiyyah ini merupakan momen utnuk meningkatkan mutu sekolah.

“Yang mana dalam acara tersebut ada berbagai ilmu yang ditunjukan. Seperti halnya bedah buku, bedah Selawat Asnawiyah yang diciptakan Qudsiyyah untuk mengenang KH R Asnawi,” katanya.
Dengan adanya ilmu pengetahuan yang digali tersebut, tentunya akan membuat mutu sekolah yang berdiri pada tahun 1917 ini semakin dikenal oleh masyarakat.

“Selain mengenalkan mutu agama terutama tentang ilmu salafnya, saya juga mendengar bahwa Madrasah Qudsiyyah ini bakal membuka jurusan IPA. Sehingga ilmu pendidikan yang ada di madrasah tersebut akan tergali lagi dan bisa bervariasi,” tuturnya.

Dirinya berharap supaya dengan adanya kegiatan satu abad ini dapat dimanfaatkan oleh santri Qudsiyyah, alumni dan warga Kudus.

“Ya kami ingin Madarsah Qudsiyyah ini tambah maju, tambah berkompeten, baik di bidang ilmu umum dan terlebih di bidang salafnya. Serta bisa menjadi referensi warga Kudus untuk menyekolahkan putranya di Qudsiyyah ini,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Rayakan 1 Abad, Qudsiyyah Kudus Gelar 22 Kegiatan Selama 5 Hari

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam memperingati 1 abad hari jadi Madrasah Qudsiyyah Kudus, sekolah yang terkenal dengan santri salafnya tersebut bakal menggelar berbagai acara. Acara itu akan dimulai 2 April 2016 hingga 6 Agustus 2016 mendatang.

Ketua panitia 1 abad Qudsiyyah Kudus Ihsan memaparkan, pihaknya mempersiapkan 22 jenis kegiatan. Di antaranya ziarah makam Muassis dan Masyayikh, bedah buku jejak Sunan Kudus, sepeda santai dan napak tilas Sunan Kudus, Khotmil Quran, Roadshow meneladani KHR. Asnawi, menggali khasanah syair sholawat, seminar ilmu falaq, halal bihalal alumni qudsiyyah. Selanjutnya, ada halaqah (menjadi santri mandiri dan berkarakter), Ganjar mengajar, Seminar nasional (pesan damai Menara Kudus untuk dunia), jagong kamolyan (mengenang mba asnawi), Kirab 1000 terbang, Nada dakwah, Expo, Festival seni rebana, lomba, bedah buku qudsiyyah bagi bangsa, bahsul masail ketenagakerjaan, Festival teater pelajar, seminar mendaulat sholawat asnawiyah sebagai sholawat kebangsaan, dan yang terahir yakni pengajian akbar.

”Dalam ke 22 acara tersebut, bukan berarti tanpa makna. Acara itu memetik inti yang mendalam. Yakni meneladani tokoh Wali 9 khususnya Sunan Kudus, dan KHR Asnawi tokoh ulama Kudus sekaligus sebagai pendiri Qudsiyyah,” ujarnya.

Disaat yang sama, Sekretaris Panitia 1 abad Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, acara ini nantinya bertemakan ”Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”.

Abdul menambahkan, dalam arti Gusjigang itu, Gus ialah bagus yakni harus bersikap bagus, berhati bagus dan berakhlaq bagus. Sementara JI, warga kudus harus bisa paham akan ilmu pelajaran agama atau mengaji, khususnya santri Qudsiyyah ini. Dan Gang, ialah berdagang.

”Berdagang bukan hanya konteks perdagangan yang menjadi inti, namun santri itu harus bisa mandiri. Baik itu keilmuannya, pengetahuannya sehingga dapat menjadi contoh untuk semua kalangan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Qudsiyyah Kudus Rayakan Satu Abadnya

 Pengurus tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus melakukan konferensi pers. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pengurus tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus melakukan konferensi pers. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Di usianya yang menginjak satu abad, tempat pendidikan Qudsiyyah di Kudus ini tetap mempertahankan kesalafannya.

Sebab madrasah yang didirikan oleh tokoh ulama NU, KH R Asnawi tersebut selalu mengedepankan sistem pendidikan pondok pesantren.

Dalam jumpa pres perayaan satu abad madrasah Qudsiyyah, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan mengatakan, meskipun madrasah sudah berusia satu abad, namun sistem pendidikan kurikulumnya masih berbasis pondok pesantren.

“Bahkan dibanding madrasah yang di bawah naungan NU sekalipun, sekolah ini masih menggunakan kesalafannya. Sebab bila ada program baru, kita sebagai yayasan itu berfikir terlebih dahulu untuk bisa mengikutinya. Apakah itu nantinya mendapat restu, izin atau rida dari pendiri (KH R Asnawi) atau tidak,” paparnya.

“Rata rata guru yang ada di sini memang lulusan pesantren. Ada juga yang ulama, bahkan KH Syaroni sekalipun. Sementara itu, kita juga agak sedikit tidak memikirkan untuk mendapatkan status akreditasi tersebut,” ujarnya.

Madrasah yang didirikan sekitar tahun 1917 ini mempunyai prinsip memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik

“Inti dari prinsip tersebut yakni memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Oleh sebab itu, bila kesalafan itu merupakan kunci kebaikan, maka kita akan pertahankan. Selain itu, bila ada sistem terbaru yang lebih baik lagi, maka kita juga akan memilah milah untuk kita ambil,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Para Pelajar Qudsiyyah Kudus Ini Budayakan Pamer

Beberapa siswa tengah membuat karya alat musik tradisional dari bambu di lokasi pameran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa siswa tengah membuat karya alat musik tradisional dari bambu di lokasi pameran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pamer memang suatu perbuatan tidak baik, namun justru para siswa ini diharuskan oleh pihak sekolahnya. Karena pamer yang satu ini bernilai positif, yaitu berupa pameran karya siswa. Kegiatan yang diadakan pelajar Qudsiyyah Kabupaten Kudus merupakan serangkaian kegiatan rutin bakti sosial di bulan Hijriyah.

Selain membagikan daging kurban, pemeran tersebut menampilkan beberapa karya siswa. Baik mulai dari kaligrafi, album rebana Qudsiyyah Al Mubarok, maupun buku Islami. Ketua persatuan pelajar Qudsiyyah Kudus Muhammad Tajjudin Nur Hafa menjelaskan, untuk pelaksanaan kegiatan ini dimulai Rabu tanggal 9 hingga 11 Dzulhijjah 1436, atau 23 hingga 25 September 2015.

Selain itu, lanjut Tajjudin, dalam pameran itu nantinya siswa diharapkan memberikan kontribusi berupa hasil karyanya. Yaitu mulai dari menampilkan kaligrafi, aneka kerajinan, ragam piagam penghargaan, lukisan, dan foto tokoh-tokoh pendiri Qudsiyyah.

Dengan adanya pameran yang diadakan di lapangan Desa Peganjaran, Bae, tersebut semua siswa mempunyai semangat untuk berkarya lebih baik lagi. Karena hasil karyanya, dipamerkan ke seluruh masyarakat luas, yang tak jarang banyak yang tertarik untuk membelinya.

”Bila setiap siswa dapat berkarya. Baik mulai dari mendapatkan piala, membuat kaligrafi, atau yang lain, maka hasil tersebut bisa mendongkrak nama baik sekolah Qudsiyyah ini,” paparnya.

Dia menilai, kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh pelajar Qudsiyyah di bulan Dzulhijjah ini bukan sekadar menyembelih dan membagikan daging kurban saja. Namun waktu tersebut juga bisa dijadikan momen untuk menyelengarakan pameran karya siswa. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)