Polisi Nyamar, 11 PSK Katut di Area Bekas Stasiun Purwodadi

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir saat melakukan pembinaan pada perempuan diduga PSK yang terjaring razia, Minggu malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski kawasan prostitusi di lahan bekas Koplak Dokar Grobogan sudah dihancurkan beberapa waktu lalu, namun bisnis esek-esek di daerah itu tidak mati. Tetapi mulai pindah lokasi di dekatnya.

Indikasinya ada praktik prostitusi terungkap saat dilakukan razia, Minggu (19/3/2017) malam. Dalam razia yang dilakukan petugas dari Sat Sabhara Polres Grobogan itu didapati ada 11 perempuan yang ditengarai sebagai PSK.

Mereka yang terjaring razia ini berasal dari luar daerah. Satu di antaranya, diduga sebagai mucikari. Razia yang dilangsungkan hingga jelang dini hari itu boleh dibilang cukup sukses. Sebab, para PSK tidak menyadari kedatangan petugas yang melakukan operasi dengan berpakaian ala preman dan menggunakan kendaraan pribadi.

“Anggota memang kita perintahkan untuk menyamar saat melakukan kegiatan. Hal ini supaya tidak terjadi aksi kejar-kejaran seperti kalau melaksanakan kegiatan pakai seragam,” jelas Kasat Sabhara AKP Lamsir.

Selanjutnya, 11 perempuan yang terkena razia langsung diangkut ke mapolres untuk didata dan diberi pembinaan. Selain itu, mereka juga diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan yang bisa mengganggu ketertiban umum.

“Kali ini mereka hanya kita kasih pembinaan. Kita harapkan, dengan adanya razia bisa menimbulkan efek jera. Setelah didata dan kasih pembinaan, mereka kita serahkan pada dinas sosial buat penanganan lebih lanjut,” tegasnya.

Dia menyatakan, kegiatan itu dilakukan setelah ada informasi dari masyarakat. Info yang masuk menyebutkan jika ada praktik prostitusi yang dilakukan di kawasan bekas stasiun tersebut.

“Informasi ini langsung kita tindaklanjuti. Kami berharap, di kawasan bekas stasiun kereta api ini tidak ada lagi praktik prostitusi,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Lokalisasi di Dorokandang Rembang Bakal Ditutup

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Lokalisasi di wilayah RT 1 RW 8 Desa Dorokandang,Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang akan segera ditutup. Rencananya, penutupan akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang.

Camat Lasem Harjono mengatakan, sebelum dilakukan penutupan, saat ini pihaknya sudah melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan agamis terhadap pekerja seks komersial (PSK) maupun mucikari, serta masyarakat. Sehingga, nantinya ketika penutupan diefektifkan tidak ada lagi komplain dan permasalahan yang timbul dari masyarakat.

Menurutnya, tercatat, setidaknya ada 53 pekerja seks komersial yang terdapat di tempat tersebut. Namun kini, katanya, mereka sudah mulai berangsur pulang ke kabupaten asal, di antaranya Blora, Jepara dan Grobogan.

Selain PSK, katanya, juga tercatat ada sebanyak 14 mucikari yang biasa ada di lokalisasi tersebut. Para mucikari ini merupakan warga setempat. “Sekarang ini, kami fokusnya adalah pada mucikari yang nota bene merupakan warga setempat. Kami akan koordinasi dengan Dinas Sosial, PKK, dan Dinindagkop untuk membekali mereka dengan keterampilan,” katanya.

Dirinya juga berharap, dengan adanya penertiban penyakit masyarakat, ke depan dapat merajut Lasem sebagai Kota Tua, yang tak lagi ada praktik esek-esek. Kemudian, dirinya juga berharap, Lasem bisa bersih dari sampah dan tertib administrasi desa.

Pihaknya juga akan mengantisipasi kemungkinan pergeseran para PSK ke titik lain di wilayah Kecamatan Lasem. Meskipun sinyal itu belum ditangkap, tetapi ia tetap siaga. “Ke depannya, kami akan terus memantau selalu kondisi tempat tongkrongan tersebut, agar tidak ada lagi muncul praktik serupa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

10 PSK Mangkal di Warung Kopi Pecangaan Jepara Ditertibkan Polisi

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 10 orang PSK ditertibkan Polsek Pecangaan Jepara, saat mangkal di beberapa warung kopi di Desa Pulodarat, Sabtu (31/12/2016) dini hari.

Mereka ditertibkan dari warung kopi karena dianggap meresahkan warga. Karenanya, warga melaporkan hal itu ke petinggi desa setempat. Petinggi desa, babinsa, dan Polsek Pecangaan turun ke lokasi tersebut.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Pecangaan AKP Bajuri mengatakan, polisi menertibkan 10 orang PSK dari warung kopi. “Mereka kami tertibkan karena warga kesal,” kata Bajuri dihubungi MuriaNewsCom, Sabtu.

Warga banyak yang resah dengan keberadaan PSK. Polisi dan perangkat desa telah beberapa kali melakukan teguran kepada pemilik warung. Tapi hal itu tak juga digubris.

Akhirnya polisi dan perangkat desa melakukan tindakan. Para PSK ditertibkan. Mereka diberi surat pernyataan agar tidak mengulang. “Sebenarnya mau kami kenakan tipiring, tapi karena kejaksaan libur, jadi hanya diberi surat pernyataan,” pungkasnya. 

Editor : Akrom Hazami

7 PSK Konangan saat Mangkal di Bekas Stasiun KA Purwodadi di Grobogan

Tujuh perempuan yang ditengarai berprofesi jadi PSK didata identitasnya dan diberi pembinaan di kantor Satpol PP. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tujuh perempuan yang ditengarai berprofesi jadi PSK didata identitasnya dan diberi pembinaan di kantor Satpol PP. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski kawasan prostitusi di lahan bekas koplak dokar sudah dihancurkan beberapa waktu lalu, namun bisnis esek-esek di situ tidak mati. Tetapi mulai pindah lokasi di dekatnya.

Yakni, masih d ikawasan bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi yang saat ini dipakai untuk terminal angkot. Lokasi ini berada di sebelah barat bekas koplak dokar tetapi dibatasi dengan tembok setinggi 2 meter.

Indikasinya ada praktik prostitusi terungkap saat dilakukan razia, Kamis (29/12/2016) malam. Dalam razia yang dilakukan petugas gabungan dari Dinsosnakertrans, Polres Grobogan dan Satpol PP itu didapati ada tujuh perempuan yang ditengarai sebagai PSK.

“Sebagian di antaranya merupakan wajah lama yang dulu ada di kawasan koplak dokar. Mereka ini bukan warga sini tetapi pendatang dari luar kota,” kata Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan.

Selanjutnya, ketujuh perempuan yang terkena razia langsung diangkut ke kantor Satpol PP untuk didata dan diberi pembinaan. Selain itu, mereka juga diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan yang bisa mengganggu ketertiban umum.

“Kali ini mereka hanya kita kasih pembinaan. Kalau di kemudian hari kedapatan mengulangi perbuatannya maka akan kita ambil tindakan lebih tegas. Misalnya, mengirimkan mereka ke panti sosial,” tegas pria yang akrab disapa Wawan itu.

Dia menyatakan, kegiatan dengan petugas gabungan itu dilakukan setelah ada informasi dari masyarakat. Yang mana, info yang masuk menyebutkan jika ada praktik prostitusi yang dilakukan di sejumlah warung di kawasan terminal angkot.

“Informasi ini langsung kita tindaklanjuti. Kami berharap, di kawasan bekas stasiun kereta api ini tidak ada lagi praktik prostitusi. Para pedagang juga kita peringatkan sekalian kita minta agar tidak menyediakan miras,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Lokalisasi Nglebok Cepu Diduga Sediakan PSK Bawah Umur

Sutarno saat memberi pembinaan sejumlah PSK yang terkena razia beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Petugas Satpol PP saat memberi pembinaan sejumlah PSK yang terkena razia beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

 

MuriaNewsCom, Blora – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lare Cepu Blora, menemukan pelanggaran hukum di lokalisasi Nglebok, Kecamatan Cepu. Lokalisasi tersebut, diduga menyediakan Pekerja Seks Komersial (PSK) di bawah umur berinisial ER yang dipekerjakan oleh mucikari berinisial NG selama dua tahun.

Ketua LSM Lare Cepu, Budi Prayitno mengungkapkan, kejadian itu sebenarnya sudah lama, dan hingga saat ini belum diketahui oleh pihak penegak hukum Blora. ”Informasi yang kami dapatkan, PSK dibawah umur berinisial ER itu sudah sejak dua tahun lalu dipekerjakan sebelum ER berusia 18 tahun,” kata Budi Prayitno, kepada MuriaNewsCom (3/5/2016).

Menurutnya, ER yang merupakan warga di Kecamatan Cepu. Saat ini, ia baru berusia 18 tahun, sementara ia sudah pekerjakan mucikari NG sejak dua tahun lalu. ”Kalau sekarang baru usia 18 tahun berarti saat ER dipekerjakan jadi PSK masih di bawah umur. Ini jelas pelanggaran, karena selama ini mucikari NG sudah mempekerjakan ER selama dua tahun,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, ER luput dari pendataan yang dilakukan oleh petugas dari pemerintah. Karena saat ada pendataan NG menyembunyikan ER. ”Saat pagi hari, ER disembunyikan oleh NG dan saat setelah magrib hingga pagi ER baru mulai dipekerjakan,” tuturnya.

Melihat kondisi tersebut, Budi Payitno telah mencoba melaporkan kepada Polsek Cepu, namun, dari pihak Polsek Cepu menyarankan agar dirinya melaporkan langsung kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Blora. “Dalam waktu dekat akan kami laporkan kepada PPA Polres Blora,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

 

Bejat! Pelaku Menjual Dua Siswi di Pati kepada Pria Hidung Belang Melalui Media Sosial

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Prostitusi online mulai merambah ke Pati. Dua gadis di bawah umur yang statusnya masih belajar di salah satu sekolah di Pati terlibat prostitusi online yang ditawarkan untuk menemani pria hidung belang di salah satu hotel di Pati.

M, gadis yang masih berusia 16 tahun merupakan lulusan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2014. Sementara itu, SN yang berusia 17 tahun diketahui masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Menurut pengakuan pelaku, Andro, kedua korban dijajakan melalui media sosial. Setelah pembeli tertarik dengan foto yang dipajang di media sosial, pembeli mengontak pelaku.
Dari situ, peran pelaku melantarkan pembeli dan korban. Tempat untuk bersenggama laiknya suami istri ditentukan pembeli dan dibayar oleh pembeli.

”Dari hasil pengakuan pelaku, ia menawarkan korban melalui media sosial. Tempat yang menentukan pelanggan dan yang banyak pelanggan,” ujar Dir Reskrimum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Gagas Nuraha kepada MuriaNewsCom.

Yang lebih bejat lagi, korban dipaksa untuk melayani persetubuhan dengan pelaku dengan cara diancam akan disebarluaskan perbuatan korban kepada keluarga maupun masyarakat.
”Persetubuhan pelaku dengan para korban dilakukan di hotel, setelah tamu pergi,” imbuhnya.

Saat ini, pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan mengambil keterangan dari para saksi, korban dan tersangka. ”Kasus ini akan terus kami dalami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswi di Pati yang Dijadikan PSK Dihargai Rp 700 Ribu untuk Tamu Hotel

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Ironis. Perdagangan anak di bawah umur untuk dijajakan kepada pria hidung belang mulai merambah ke Pati. Salah satunya, kasus perdagangan orang yang dilakukan Andro yang melibatkan dua siswi di salah satu sekolah di Pati.

Andro mengaku, dua siswi tersebut dihargai Rp 700 ribu oleh tamu di salah satu hotel di Pati. Sebanyak Rp 500 ribu diberikan kepada korban, sisanya Rp 200 ribu diminta Andro sebagai imbalan.

”Rabu (23/3/2016) sekitar pukul 19.00 WIB lalu, kita bersama dengan Satgas Perlindungan Anak Jawa Tengah menangkap tangan pelaku yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan dua korban berinisial M berusia 16 tahun dan SN berusia 17 tahun. Pelaku kami tangkap di salah satu hotel berbintang di Pati,” ujar Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati kepada MuriaNewsCom.

Dari hasil pengakuan pelaku, kata dia, setiap melayani tamu, korban mendapatkan Rp 700 ribu sekali transaksi. Sementara itu, pelaku mendapatkan Rp 200 ribu. ”Pelaku juga mengaku, tempat yang menentukan pelanggan. Tempat juga yang membayar pelanggan. Jadi, pelaku dan korban terima bersih,” imbuhnya.

Pelaku diancam dengan Pasal 76 i jo Pasal 88 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 jo 17 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman pidana paling singkat tiga tahun dan selama-lamanya 15 tahun.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemkab Blora Belum Punya Trik Jitu Hadang Gelombang Eksodus PSK

Hartanto Wibowo Kabid Kesejahteraan Sosial Disnakertransos Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Hartanto Wibowo Kabid Kesejahteraan Sosial Disnakertransos Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Di Blora, ada beberapa tempat bagi para pria hidung belang memuaskan hasrat kenikmatan sesaatnya. Seperti di lokalisasi Kampung Baru, Kecamatan Jepon, Sumber Agung dan Nglebok Kecamatan Cepu.

Chris Hapsoro Kepala Dinas Ketenagakerjaan Transmigrasi dan Sosial (Dinsakertransos) Blora melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesejahteraan Sosial, Hartanto Wibowo mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini belum pernah melakukan tindakan preventif guna menghadang lonjakan jumlah PSK yang ada di beberapa tempat esek-esek di Kabupaten Blora.

Saat dikonfirmasi langsung oleh MuriaNewsCom, pihaknya mengaku akan segera mengkordinasikan dengan pihak terkait. ”Wah kalau tindakan preventif seperti itu kami belum terfikirkan sebelumnya. Itu akan kami kordinasikan dengan Satpol PP Blora dan tentu Dinas pencatatan sipil,” jelas Hartanto Wibowo kepada MuriaNewsCom (8/3/2016).

Menurutnya, saat ini Kalijodo telah digusur serta di Pati yang sedang ramai atas penutupan Karaoke tidak menutup kemungkinan para wanita tuna susila menyebar ke masing-masing tempat kelam, tak terkecuali di Blora.

”Dulu waktu Dolly digusur, ada peningkatan jumlah PSK di kawasan Nglebok Cepu. Namun, kami susah untuk mendatanya, karena keberadaan mereka sulit diketahui. Itu karena, kedatangan mereka sulit untuk kita deteksi,” ujar dia.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom sampai saat ini ada 54 PSK yang terdata, di Nglebok Cepu, dan ada 44 mucikari yang terdata. Hartanto mengungkapkan, pihaknya tidak bisa memastikan jumlah yang sampai saat ini masih fluktuatif, artinya sewaktu-waktu bisa naik juga bisa turun.

”Salah satu penyebabnya, ya, katakan dulu waktu Dolly di tutup. Untuk yang Kampung Baru dan Sumber Agung kami belum mendatanya secara rinci,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

‘Berondong’ Bisa Tergoda PSK Pati dan Terancam Ikut ‘Jajan’

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sikap iseng untuk memasuki kawasan lokalisasi di Pati dan sekadar menonton pekerja seks komersial (PSK) dikhawatirkan menjadi kebablasan yang berujung pada “jajan” PSK. Hal ini mulai lumrah menjangkiti kalangan anak di bawah usia 18 tahun atau akrab disebut ‘berondong’.

Jika sudah terjerumus, mereka akan ketagihan. Padahal, mereka belum punya pekerjaan yang berpotensi menghalalkan segala cara untuk jajan PSK. Ini yang kemudian meraih simpati sejumlah pegiat sosial.

Sekretaris LSM Penegakan Hukum Bhakti Anak Negeri Bambang Suherman mengatakan, anak di bawah umur sekarang sudah banyak yang mulai mencoba untuk mengenal kawasan prostitusi. Padahal, lokalisasi biasanya identik dengan HIV/AIDS dan penyimpangan moral yang berpotensi merusak masa depan anak.

Karena itu, pihaknya mencoba untuk mengingatkan masalah tersebut dengan memasang papan peringatan di lokalisasi Lorong Indah dan Kampung Baru, Kecamatan Margorejo.

”Anak muda saat ini harus bisa menjadi generasi emas yang memajukan negeri, bukan terlibat dengan seks bebas, pergaulan malam, termasuk mencoba jajan PSK,” katanya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

PSK di Pati Pingsan Saat Hormat Merah Putih

Bunga, salah satu PSK pingsan saat mengikuti upacara bendera di Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Bunga, salah satu PSK pingsan saat mengikuti upacara bendera di Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Salah satu pekerja seks komersial (PSK) pingsan saat mengikuti upacara bendera di Kompleks Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). Sebut saja Bunga, ia pingsan di tengah-tengah upacara dan dibawa ke tempat teduh untuk disadarkan.

Selang 15 menit, Bunga berhasil disadarkan. Bunga diduga pingsan, karena kelelahan dan belum istirahat yang cukup. Bunga nampak pucat dan tak berdaya.

“Sepertinya kelelahan. Dari tadi, Bunga sudah tidak kuat berdiri, tapi jongkok di tengah-tengah peserta upacara. Lama-kelamaan, akhirnya Bunga Pingsan. Ia sepertinya juga belum sarapan,” ujar Selly (nama samaran), salah satu PSK saat ditanya MuriaNewsCom.

Upacara bendera tersebut dihadiri Dandim 0718 Pati Letnan Kol Inf Hery Setiono, Wakil Bupati Pati Budiyono, Anggota DPRD Pati, Kiai Heppy Irianto, Pengasuh Ponpes Soko Tunggal Gus Nuril, dan Ketua Gusdurian Pati Edi Siswanto. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ratusan PSK di Pati Doakan Bangsa Indonesia

Ratusan PSK tengah mendoakan bangsa Indonesia di tengah-tengah upacara Kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Ratusan PSK tengah mendoakan bangsa Indonesia di tengah-tengah upacara Kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sebanyak 300 pekerja seks komersial (PSK) dari Lorong Indah dan Kampung Baru menggelar upacara kemerdekaan di Kompleks Pasar Wage, Senin (17/8/2015). Mereka mengenakan topi merah dengan seragam putih bertuliskan “Jiwa Ragaku Untukmu, Indonesiaku.”

Salah satu agenda doa, mereka berdoa untuk kemajuan bangsa Indonesia. Doa tersebut dipimpin oleh Gus Nuril, Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal.

“Apa pun profesi, pekerjaan dan jabatannya, kita semua warga negara Indonesia yang wajib hormat dan mencintai bangsa Indonesia. Hormat kepada Sang Saka Merah Putih menjadi bagian dari jalan untuk mencintai Allah. Berikan kemajuan untuk Indonesia, ya Allah,” doa Gus Nuril yang kemudian diamini ratusan PSK.

Acara yang digagas Komunitas Gusdurian tersebut diakhiri dengan acara penyerahan 10 mesin jahit dan 10 mesin obras untuk PSK. Hal tersebut diharapkan bisa memberikan bekal PSK untuk berkarya dan bekerja secara kreatif. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Salut, Ratusan PSK Pati Ikuti Upacara Bendera!

300 PSK mengikuti upacara Hari kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sebanyak 300 pekerja seks komersial (PSK) dari Lorong Indah (LI) dan Kampung Baru mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI ke-70 di Kompleks Pasar Wage, Senin (17/8/2015).

Kegiatan ini dihadiri oleh Komandan Distrik Militer (Dandim) 0718 Pati Letnan Kol Inf Hery Setiono, DPRD, tokoh lintas agama, dan kiai. “PSK adalah warga negara Indonesia yang berhak untuk merayakan kemerdekaan,” ujar Hery di hadapan peserta upacara.

Sementara itu, Gus Nuril yang hadir membacakan doa mengatakan, siapa pun profesi dan jabatannya berhak untuk merayakan kemerdekaan dan menghormati Sang Saka Merah Putih.

“Ya Allah, jangan engkau cibir mereka, kalau mereka tidak tahu. Berikan mereka kemuliaan, kalau mereka menghormati dan mempertahankan Sang Saka Merah Putih,” doa Gus Nuril di hadapan 300 PSK. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)