Jadi Mucikari, Pemilik Warung Kuro-kuro di Ngrames Pati Terancam 16 Bulan Penjara

Polisi menggrebek warung kopi di Ngrames, Sukoharjo, Wedarijaksa yang dijadikan tempat prostitusi terselubung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilik warung kuro-kuro Dukuh Ngrames, Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati berinisial WW (34) alias Dela ditangkap polisi, Rabu (31/8/2017) sore. Pelaku ditetapkan tersangka setelah terbukti menjadi mucikari di tempat prostitusi berkedok warung kopi.

Sebelum membekuk pelaku, polisi melakukan penyelidikan intensif ke warung kopi tersebut. Setelah terbukti menjadi mucikari, polisi langsung melakukan penyergapan.

“Pelaku dikenakan Pasal 296 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan. Dia terbukti telah mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul. Selain mengamankan barang bukti, ada empat saksi yang sudah kami amankan,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum, Kamis (31/8/2017).

Barang bukti yang diamankan, antara lain satu HP Samsung Galaxi J5 milik tersangka, satu unit HP Samsung Core 2 milik saksi, dan uang tunai Rp 250 ribu milik saksi lainnya.

Adapun modus operansi yang dilakukan, pelaku berjualan kopi di rumah kontrakannya sembari menawarkan pelanggan untuk bermain seks di dalam kamar tidur. Ketiga saksi yang diciduk polisi adalah pelanggan yang menggunakan jasa esek-esek.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa warung kopi itu digunakan untuk praktik prostitusi. Setelah itu, kami menerjunkan intelejen untuk melakukan penyelidikan. Setelah informasi itu benar dan ada barang bukti, kami langsung melakukan penggrebekan dan penangkapan pelaku,” jelas AKP Sulis.

Saat penggrebekan berlangsung, ada dua orang yang berada dalam satu kamar dalam keadaan terkunci. Namun, polisi berhasil membawa pelaku dan saksi-saksi beserta barang bukti ke Mapolsek Wedarijaksa.

Editor: Supriyadi

Menguak Jasa Esek-esek di Warung Kopi Belakang Ruko Mega Plaza Juwana Pati

Polisi mendata para PSK yang mangkal di warung kopi belakang ruko Mega Plaza Juwana, Selasa (24/5/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Siapa sangka sejumlah warung kopi di kawasan belakang Ruko Mega Plaza, Juwana, Pati ternyata menyediakan jasa layanan esek-esek. Hal itu terungkap setelah petugas Polsek Juwana melakukan operasi, Selasa (23/5/2017) malam.

Dalam operasi tersebut, lima petugas gabungan piket fungsi yang dipimpin Aiptu Riyanto diturunkan. Mereka diterjunkan, setelah ada informasi dari masyarakat yang menyebut ada jasa esek-esek di sana.

“Kami mendapatkan informasi dari masyarakat, ada pekerja seks komersial (PSK) yang mangkal di sejumlah warung kopi di belakang ruko Mega Plaza Juwana. Setelah kami terjunkan petugas, ternyata benar di sana memang ada,” ungkap Kapolsek Juwana AKP Sumarni, Rabu (24/5/2017).

Dari hasil operasi, polisi mengamankan dua orang pemilik warung kopi. Satu orang berinisial J (51), warga Karangrejo, Juwana. Satu orang lagi berisinial PK (30), warga Cempogo, Jepara.

Selain itu, polisi juga mengamankan lima orang PSK. Yang mengejutkan, kelima PSK tersebut ternyata bukan warga Pati. Mereka berasal dari luar daerah.

PSK berinisial SW (32) merupakan warga Jepara, S (37) warga Rembang, FD (32) warga Jepara, DC (25) warga Demak, dan PA (27) warga Grobogan. Mereka diciduk dan diamankan di Mapolsek Juwana untuk dilakukan pendataan, serta pembinaan.

“Operasi prostitusi ini menindaklanjuti Surat Kapolda Jateng tentang perintah pelaksanaan giat Operasi Pekat dalam rangka Cipta Kondisi 2017. Tujuannya untuk menciptakan situasi keamanan, ketertiban dan keamanan masyarakat mendekati bulan suci Ramadan,” pungkas AKP Sumarni.

Editor : Kholistiono

Ratusan PSK di Pati Ikuti Upacara Kemerdekaan RI

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma menjadi inspektur upacara Hari Kemerdekaan bersama kaum marjinal di Kompleks Pasar Hewan Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma menjadi inspektur upacara Hari Kemerdekaan bersama kaum marjinal di Kompleks Pasar Hewan Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan pekerja seks komersial (PSK) dari Lorong Indah (LI) dan Kampung Baru mengikuti upacara kemerdekaan RI ke-71 di Kompleks Pasar Hewan, Jalan Raya Pati-Kudus Km 2, Margorejo, Pati, Rabu (17/8/2016).

Mereka kompak mengenakan baju warna merah untuk peserta yang berada pada sisi barat dan putih pada sisi timur. Bila dilihat dari kejauhan, baju yang mereka pakai membentuk warna merah putih sebagai bendera kebanggaan Republik Indonesia.

Kegiatan upacara tersebut dihadiri oleh Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Pasiter Kodim Pati Kapten Inf Mujima, Pasi Intel Kodim Pati Kapten Inf Yahudi, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Margorejo, Gusdurian, dan anggota DPRD Pati Endah Sri Wahyuningsih.

“Kegiatan ini merupakan awal yang positif untuk menghargai merah putih dan Hari Kemerdekaan. Siapa pun orangnya berhak merayakan kemerdekaan RI. Tidak semua orang mau bertahan dalam kondisi seperti ini. Semua merupakan tuntutan hidup yang membuat seseorang menjadi kaum marjinal. Tugas kita, bagaimana bisa mengentaskan dan memberikan ruang bagi kaum marjinal untuk berhak menghormati merah putih,” ujar Letkol Inf Andri.

Sementara itu, Anggun (nama samaran), salah satu penghuni lokalisasi Lorong Indah memaknai Hari Kemerdekaan sebagai momentum untuk mengingat jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang selama ratusan tahun. Selama ratusan tahun, kata Anggun, bangsa Indonesia tidak bisa berdiri sendiri, hidup dalam tekanan bangsa asing, dan terjajah.

Karenanya, ia tidak bisa membayangkan hidup pada zaman penjajahan. “Yang hanya bisa saya lakukan adalah berdoa supaya para pejuang bangsa diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan. Dengan jasa-jasa para pejuang kemerdekaan, kita bisa menghirup udara dengan tenang di bumi Indonesia,” pungkasnya.

 Editor : Kholistiono

Preman Karaoke Penganiaya Satpol PP Pati, Bersiaplah Berurusan dengan Polisi

Komisi A DPRD Pati mendesak agar pembenturan kepala petugas Satpol PP di pintu mobil diusut tuntas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komisi A DPRD Pati mendesak agar pembenturan kepala petugas Satpol PP di pintu mobil diusut tuntas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Komisi A DPRD Pati mendesak agar polisi mengusut tuntas pelaku kekerasan yang membenturkan kepala petugas Satpol PP Pati saat bertugas menertibkan karaoke beberapa waktu lalu.

Anggota Komisi A DPRD Pati Wisnu Wijayanto mengatakan, tindakan yang mencederai petugas Satpol PP yang dilakukan pihak karaoke mesti ditindaklanjuti. Karena, hal itu sudah masuk ranah pidana.

“Kalau petugas Satpol PP dihajar terus, bagaimana nanti bisa menegakkan Perda? Lagipula, itu sudah masuk ranah pidana,” ungkapnya di depan rapat koordinasi bersama pemkab dan ormas Islam.

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta agar pengusaha karaoke yang merusak segel dari Satpol PP juga harus ditindak secara hukum. Ia menilai, segel Satpol PP menjadi representasi dari pemerintah.

“Segel itu punya pemerintah. Kalau dirusak, berarti orang itu melawan negara. Tafsir saya, itu tindak pidana karena sudah melawan negara,” katanya.

Karena itu, pihaknya meminta agar polisi bisa menangani dengan serius persoalan tersebut. “Satpol PP itu menjalankan tugas atas nama wakil rakyat. Biar dapat keadilan dalam menjalankan tugas, kami minta itu benar-benar ditangani, Pak,” adunya kepada Wakapolres Pati Kompol Sigit Bambang Hartono.

Sebelumnya, Muhammad Gunari, petugas satpol PP Pati dirawat di ruang Wijayakusuma RSUD Soewondo. Dia terkena hantaman pada kepala bagian belakang saat bertugas mengamankan upaya penutupan karaoke, Sabtu (5/3/2016).

Usai peristiwa itu, Gunari mengaku sering pusing dan terdapat benjolan di bagian belakang. Untuk mengantisipasi adanya kemungkinan buruk dari insiden tersebut, Gunari akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Eksekusi Karaoke di Pati Memakan Korban, Satu Anggota Satpol PP Dirawat di Rumah Sakit

Anggota Satpol PP Pati Ngaku Kepalanya Dijedorkan di Pintu Mobil Saat Eksekusi Karaoke

PSK di Trangkil Pati, Kapokmu Kapan?

Polwan Wedarijaksa (kanan) ikut merazia kawasan prostitusi terselubung di Trangkil. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polwan Wedarijaksa (kanan) ikut merazia kawasan prostitusi terselubung di Trangkil. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyaningrum mengaku sudah dua tahun gencar melakukan razia kepada pekerja seks komersial (PSK) yang biasa mangkal di tempat prostitusi terselubung di perbatasan Desa Ketanen, Desa Karanglegi, dan Desa Trangkil, Kecamatan Trangkil.

Kendati begitu, mereka tidak ada kapoknya. Usai dirazia dan dikenakan sanksi tipiring, mereka kembali lagi mangkal dan menjajakan jasa esek-esek kepada pria hidung belang. “Sudah lebih dari dua tahun saya lakukan razia dan saya kenakan sanksi tipiring, tapi mereka tidak ada jeranya. Selain menjadi penyakit masyarakat, tempat itu sangat kumuh sehingga berpotensi menjadi sumber penyakit,” ujar Sulis kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Parahnya, para PSK yang sebagian besar berusia 35 hingga 50 tahun itu hanya membawa tikar atau alas seadanya untuk berhubungan badan dengan lelaki hidung belang. Tarifnya pun murah meriah. Satu kali berhubungan badan, pria hidung belang cukup mengeluarkan kocek Rp 30 ribu.

“Kondisinya kumuh. Apalagi, lokasinya berdekatan dengan SMP Negeri 1 Trangkil. Jelas, keberadaan tempat prostitusi terselubung itu meresahkan masyarakat,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada dinas terkait dan satuan polisi pamong praja (Satpol PP) untuk ikut serta mengamankan daerah yang sudah meresahkan masyarakat itu. “Kami berharap agar daerah itu mendapat perhatian dari pemkab, dinas sosial, serta satpol pp,” harapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
6 PSK Diciduk di Tempat Pembuatan Batu Bata yang jadi Lokasi Esek-esek di Trangkil Pati 

6 PSK Diciduk di Tempat Pembuatan Batu Bata yang jadi Lokasi Esek-esek di Trangkil Pati

Jajaran Polsek Wedarijaksa menciduk PSK untuk dibawa ke Mapolsek Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jajaran Polsek Wedarijaksa menciduk PSK untuk dibawa ke Mapolsek Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Wedarijaksa Pati merazia tempat prostitusi terselubung yang berlokasi di tempat pembuatan batu bata di perbatasan Desa Ketanen dan Karanglegi, Kecamatan Trangkil, Selasa (1/3/2016) malam.

Dalam razia yang dipimpin Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum tersebut, enam pekerja seks komersial (PSK) berhasil diciduk. Selain itu, polisi juga mengamankan satu tukang ojek yang biasa mangkal di tempat itu.

“Razia ini menjadi bagian dari operasi penyakit masyarakat dengan sasaran prostitusi. Karena, tempat itu selama ini dikeluhkan masyarakat,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Dari enam PSK yang diciduk, dua PSK berasal dari Pati, sedangkan empat PSK lainnya berasal dari Jepara, Grobogan, dan Blora. “Dua orang warga asli Pati, dua orang dari Jepara, serta dua orang lainnya dari Grobogan dan Blora,” imbuhnya.

Operasi pekat tersebut berlangsung kondusif dan aman. Enam PSK yang terjaring bakal dikenakan tindak pidana ringan (tipiring). “Supaya jera, kami akan tindak dengan tipiring,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Diduga PSK, Asyik Mojok malah Ketiban Apes di Pecangaan Jepara

PSK Lorong Indah Pati Gemakan Selawat Ala Gus Dur

Puluhan PSK mengikuti pelatihan keterampilan salon di Lorong Indah (LI), Margorejo, Pati. Sebelum ikut pelatihan, mereka sempat berdoa dan berselawat bersama. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Puluhan PSK mengikuti pelatihan keterampilan salon di Lorong Indah (LI), Margorejo, Pati. Sebelum ikut pelatihan, mereka sempat berdoa dan berselawat bersama. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – “Ya rasulullah, salamun alaik. Ya rafi’assani waddaraji. Athfatayajiratal ‘alami. Ya uhailaljudi wal karami”. Begitu suara puluhan pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Lorong Indah, Margorejo, Pati, sebelum mengikuti pelatihan keterampilan usaha salon, Senin (5/10/2015).

Selawat itu dipandu Kiai Happy Irianto yang juga menghadiri pembukaan pembekalan keterampilan bagi PSK di Pati. Kiai Happy sendiri, dikenal aktif dalam Komunitas GusDurian Pati dan konsen bergerak di bidang multikulturalisme dan pembelaan pada kaum minoritas.

“Mereka juga warga negara Indonesia. Mereka juga makhluk Allah. Mereka bisa berselawat, mereka juga tahu agama,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, bicara soal PSK ada kalanya memang butuh pendekatan solutif dengan menggali latar belakang persoalan. “Itu kisah kehidupan manusia yang mendesak. Manusia dengan kondisi wajar seperti kita tidak mungkin menjual kehormatan. Ada faktor lain yang mendesak mereka akhirnya terjun di dunia prostitusi,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Tuntut Penegakan Perda Karaoke, Ratusan Mahasiswa Geruduk Kantor Bupati Pati

Massa dari mahasiswa memaksa ingin memasuki Kantor Bupati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Massa dari mahasiswa memaksa ingin memasuki Kantor Bupati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Pati, Rabu (2/9/2015).

Mereka menuntut agar Perda Nomor 8 Tahun 2013 terkait dengan masalah karaoke yang sudah diberlakukan secara efektif per 2 Juli 2015 lalu segera ditegakkan. Karena, saat ini banyak tempat karaoke yang masih buka.

“Kami menuntut agar Bupati Pati Haryanto tegas dan berani dalam menegakkan Perda terkait masalah karaoke. Setelah diberlakukan secara efektif, Perda itu ternyata mandul karena karaoke sampai saat ini masih buka secara terang-terangan,” ujar Ketua PMII Cabang Pati Ali Maftuh kepada MuriaNewsCom.

Mereka juga menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan bahwa Perda Nomor 8 Tahun 2013 tidak bisa ditegakkan oleh Pemerintah Kabupaten Pati. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

‘Berondong’ Bisa Tergoda PSK Pati dan Terancam Ikut ‘Jajan’

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sikap iseng untuk memasuki kawasan lokalisasi di Pati dan sekadar menonton pekerja seks komersial (PSK) dikhawatirkan menjadi kebablasan yang berujung pada “jajan” PSK. Hal ini mulai lumrah menjangkiti kalangan anak di bawah usia 18 tahun atau akrab disebut ‘berondong’.

Jika sudah terjerumus, mereka akan ketagihan. Padahal, mereka belum punya pekerjaan yang berpotensi menghalalkan segala cara untuk jajan PSK. Ini yang kemudian meraih simpati sejumlah pegiat sosial.

Sekretaris LSM Penegakan Hukum Bhakti Anak Negeri Bambang Suherman mengatakan, anak di bawah umur sekarang sudah banyak yang mulai mencoba untuk mengenal kawasan prostitusi. Padahal, lokalisasi biasanya identik dengan HIV/AIDS dan penyimpangan moral yang berpotensi merusak masa depan anak.

Karena itu, pihaknya mencoba untuk mengingatkan masalah tersebut dengan memasang papan peringatan di lokalisasi Lorong Indah dan Kampung Baru, Kecamatan Margorejo.

”Anak muda saat ini harus bisa menjadi generasi emas yang memajukan negeri, bukan terlibat dengan seks bebas, pergaulan malam, termasuk mencoba jajan PSK,” katanya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

PSK Pati Tak Bisa Lagi Lihat ‘Berondong’ di Lokalisasi

 

Sejumlah pekerja tengah memasang papan imbauan anak di bawah umur masuk lokalisasi di depan gang Lorong Indah. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pekerja tengah memasang papan imbauan anak di bawah umur masuk lokalisasi di depan gang Lorong Indah. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Pelajar dan anak di bawah umur 18 tahun dilarang memasuki kawasan lokalisasi Lorong Indah dan Kampung Baru. Imbauan tersebut dibuat dalam bentuk papan peringatan di ujung gang masuk, Senin (24/8/2015).

Sekretaris Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Penegakan Hukum Bhakti Anak Negeri Bambang Suherman kepada MuriaNewsCom mengatakan, larangan tersebut dilakukan untuk mencegah anak-anak di bawah umur tidak berada di areal lokalisasi. “Kami ingin mengingatkan secara moral agar anak-anak tidak mengunjungi tempat yang bukan tempatnya,” ujarnya.

Selain itu, aksi tersebut untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS di kalangan anak muda. Diakui atau tidak, setiap lokalisasi dipastikan ada penyandang HIV/AIDS yang tidak dapat diketahui secara jelas.

Karena itu, papan peringatan tersebut diharapkan bisa menjaga kalangan muda agar tidak terjerumus dalam wilayah moralitas yang tidak baik, serta mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS yang lebih parah dan masif. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)