Ekonomi jadi Alasan Wanita Setengah Baya Ini Tetap Nekat jadi PSK

f-psk 2

  MuriaNewsCom, Kudus – Seorang perempuan setengah baya, SY (48) yang merupakan pekerja seks komersial (PSK) terjaring razia Satpol PP Kudus ketika kedapatan mangkal di depan Kantor PMI Jati, Kudus, pada Kamis (9/6/2016) malam.

Dalam pengakuannya, SY yang merupakan warga Wirosari, Grobogan, tersebut nekat masih menjadi PSK karena alas an ekonomi yang sulit. Untuk itu, dia nekat masih sering mangkal di beberapa lokasi yang ada di Kudus.

“Alasannya karena terpaksa, masalah ekonomi yang kurang membuat dirinya menekuni dunia gelap menjadi PSK. Dia terdesak kebutuhan keluarga, begitu pengakuannya,” kata Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil kepada MuriaNewsCom.

Alasan seperti itu, menurutnya bukan kali pertama disampaikan PSK ketika terjaring razia. Sebelum-sebelumnya, katanya, saat patroli dan mendapatkan PSK, maka alasan yang dikeluarkan menjadi PSK adalah masalah ekonomi.”Bukan hanya PSK, para pemandu karaoke (PK) juga demikian. Mereka mengaku masalah ekonomi hingga akhirnya bekerja sebagai PK,” ujarnya.

Menurutnya, kebanyakan dari mereka yang memilih jalan tersebut karena korban permasalahan di dalam rumah tangga. Untuk itulah mereka sampai terjun menjadi PSK.

Editor : Kholistiono

 

Jelang Ramadan, PSK Kudus Ini Tobat di Kantor Satpol PP

satpol pp e

PSK dimintai keterangan di kantor Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu PSK yang berasal dari Pasuruhan Kidul, Kudus, NC (30) mengaku tobat. Hal itu diungkapkannya saat terjaring razia Satpol PP Kudus.

“Saya berjanji tidak akan menjalani pekerjaan ini. Selain itu, bila sudah dibina oleh Dinas Sosial dan mempunyai kreativitas, saya akan menjadi wiraswata,” kata NC di hadapan Satpol PP.

Dia mengaku melakoni kerja tersebut hampir satu tahun. Dia terpaka terjun ke lembah hitam sepulangnya dari rantau di Jakarta. Di Ibu kota dia bekerja sebagai buruh dengan penghasilan Rp 1 juta. Dia kembali ke Kudus karena tidak betah.

Di Kudus, dia menjadi PSK. Dari penghasilannya melayani pria hidung belang, NC bisa mengirimkan uang ke keluarganya Rp 200 ribu per bulan. “Saya berpindah-pindah melayani tamu,” tambahnya.

Satpol PP Kudus memang akan menggalakkan razia penyakit masyarakat. Terutama jelang Ramadan dan selama bulan suci.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, dalam razia yang digelar terakhir, ada dua PSK yang terazia. Adalah SS (22) warga Gemiring Lor, dan NC.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, keduanya akan diserahkan ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus untuk bisa dibina, dilatih kerja dan sebagainya.

“Supaya ke depannya tidak menjadi penyakit masyarakat di sekelilingnya. Sementara itu, kita juga akan menggelar razia ke tempat tempat yang disinyalir untuk tempat pacaran atau mesum. Sehingga disaat bulan suci, keberadaan PSK atau PGOT bisa tertata,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami