Ini Pesan Gubernur Ganjar Pranowo untuk Pelajar di Pati

Ganjar menjadi guru selama satu jam di SMK Negeri Jawa Tengah, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ganjar menjadi guru selama satu jam di SMK Negeri Jawa Tengah, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan pesan kepada pelajar di Pati untuk giat belajar, yakin cita-cita tercapai, dan yang paling penting inovatif. Hal itu disampaikan Ganjar, usai menjadi guru selama satu jam dalam agenda “Ganjar Mengajar” di SMK Negeri Jawa Tengah, Pati, Rabu (4/11/2015).

”Pesan saya, jadilah pelajar yang rajin dan giat belajar, serta inovatif. Kalau tidak inovatif, kita akan kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN. Soalnya, MEA sebentar lagi akan tiba,” pesan Ganjar.

Selain itu, kata dia, budaya ngajeni (menghargai) orangtua dan guru, tata krama, sopan santun dan budi pekerti yang baik harus dijunjung pelajar. Kriteria itulah yang dinilai Ganjar sebagai manusia unggul.

Ia juga berpesan, pelajar di Pati harus bisa menggali potensi yang ada di Pati untuk ditampilkan pada dunia. Tepung mokaf, misalnya. Tepung pengganti terigu ini yang sumber daya alamnya banyak ditemukan di Pati bisa menjadi produk unggulan.

”Tanpa kita sadari, setiap hari kita makan gandum. Padahal, itu bukan produk kita. Saat ini kita harus mulai menampilkan produk sendiri kepada dunia,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ganjar Pranowo Jadi ”Guru” di SMKN Jawa Tengah Pati

Ganjar Pranowo tengah berinteraksi dengan salah satu siswa SMKN Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ganjar Pranowo tengah berinteraksi dengan salah satu siswa SMKN Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi guru di SMK Negeri Jawa Tengah yang terletak di Pati-Tlogowungu, Rabu (4/11/2015).

Ganjar berbicara soal kisah tentang Presiden Habibie yang kiprahnya menginspirasi masyarakat di seluruh negeri. Selain itu, Ganjar meminta siswa untuk berinteraksi dengan memberikan soal masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).

”Kita sebentar lagi akan dihadapkan dengan MEA. Maka, jangan jadi bangsa yang cengeng. Kita dituntut untuk trengginas, gesit dan siap menghadapi tantangan globalisasi di tingkat masyarakat ASEAN yang kurang sebentar lagi,” ujar Ganjar di hadapan ratusan siswa.

Ia menambahkan, negara dalam ASEAN nantinya akan bersaing antara satu negara dengan negara lainnya. Karena itu, Ganjar berpesan agar anak SMK sebagai generasi bangsa untuk lebih kreatif, inovatif, dan siap berkompetisi dengan SDM di negara MEA. (LISMANTO/TITIS W)

T-Fanter 25 Direncanakan Bakal Diproduksi Massal

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Alat penjernih udara karya ketiga siswa MTs Yanbu’ul Quran, Kudus, saat ini terus ditingkatkan hingga sempurna. Bahkan, pihak sekolah berencana untuk memproduksi alat tersebut secara massal.

M Nasyim Mubarok, salah satu siswa penemu alat tersebut mengatakan, jika alat tersebut masih membutuhkan penyempurnaan, sehingga nantinya dapat diproduksi secara massal.

“Kalau awalnya dibuat untuk penjernih asap rokok, di mana alat ini ditaruh di tempat rokok. Jadi fungsinya asap rokok langsung diproses alat tersebut dan keluar sudah menjadi oksigen,” katanya.

Saat ini, katanya, mereka sudah memiliki dua alat,  yakni alat skala kecil dan besar. Hanya, alat tersebut masih mengandalkan listrik, sehingga harus tertancap pada sumber listrik untuk menghidupkannya.

Rencananya, alat tersebut bisa dibuat banyak dan skala besar. Hanya, untuk itu juga membutuhkan tegangan listrik yang besar dan kipas yang besar juga, serta alat lainnya.

Guru Pembimbing Muhammad Sam’an menjelaskan, alat tersebut juga perlu dipatenkan, agar alat yang ditemukan tidak dijiplak oleh lain. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Dapat Perintah Dadakan Siswa SMAN 1 Toroh Malah Sabet Juara

Siswa SMAN 1 Toroh peraih juara II Eksplorasi Cagar Budaya didampingi guru pendamping mereka Slamet Sugiyono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa SMAN 1 Toroh peraih juara II Eksplorasi Cagar Budaya didampingi guru pendamping mereka Slamet Sugiyono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Prestasi membanggakan berhasil diraih siswa SMAN 1 Toroh yang jadi duta Grobogan dalam Kemah Budaya Permuseuman dan Kepurbakalaan yang digelar di Purbalingga, akhir Oktober kemarin. Dimana, dalam even tersebut, kontingen SMAN 1 Toroh berhasil meraih juara II eksplorasi cagar budaya.

Kepala SMA 1 Toroh Aris Supriyadi menyatakan, keikutsertaan dalam even tersebut boleh dibilang cukup mepet waktunya. Dimana, perintah dari dinas pendidikan untuk mengikuti kegiatan itu baru diterima sekitar dua pekan sebelum kegiatan dilangsungkan.

”Kami tidak mengira akan ikut dalam kegiatan perkemahan itu. Makanya, ketika ditunjuk jadi peserta kami cukup kaget karena waktunya sudah dekat. Meski demikian, kami berupaya memanfaatkan waktu singkat untuk persiapan semaksimal mungkin,” ungkapnya.

Dijelaskan, duta SMAN 1 Toroh dalam ajang itu ada 10 orang. Yakni, Recka Okto, siswa kelas XII IPA 2, Dwi Mardiyanto (XII IPA 2), Haris Maulana (XII IPS 1), Exvin Saputra (XII IPA 3), Muhammad Gilang (XII IPA 1), Dian Wulan Septi (XII IPA 2), Dwi Indri Astuti (XII IPA 4), Eni Seviana (XI IPA 2), Shiva Muntaha (XI IPA 1), dan Liring Pangesti (XI IPS 3). Mereka didiampingi satu orang guru, Slamet Sugiyono yang mengajar Biologi.

Dalam perkemahan itu sendiri ada tiga kegiatan perlombaan. Selain eksplorasi cagar budaya, perkemahan itu juga menyelenggarakan lomba kreasi kebudayaan dan film dokumenter. Namun, dari tiga lomba itu, hanya bidang Eksplorasi Cagar Budaya yang mendapatkan juara II.

”Karena persiapan singkat, kami tidak menargetkan anak-anak untuk meraih juara. Meski demikian, mereka kami minta untuk mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Ternyata, hasilnya malah dapat juara,” imbuh Aris dengan nada bangga. (DANI AGUS/TITIS W)

Keren! 3 Siswa Penghafal Alquran Asal Kudus Ini Mampu Ciptakan Alat Modern Penjernih Udara

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Asap yang berbau dan kotor ternyata bisa menjadi bersih di tangan ketiga siswa asal MTs Yanbu’ul Quran, Kudus. Menggunakan alat ciptaannya, ketiga siswa yang juga penghafal Alquran ini, mengubah udara yang mengandung asap menjadi udara yang segar dan kaya akan oksigen.

Alat ciptaan ketiga siswa tersebut diberi nama T-Fanter 25. Berkat alat ini pula, ketiganya berhasil meraih juara dalam perlombaan karya ilmiah remaja (KIR) yang diselenggarakan di Bali beberapa watu lalu. Ketiganya mampu menyingkirkan 1.004 pesaing dari seluruh Indonesia.

Generasi-generasi hebat ini adalah, M Nasyim Mubarok asal Lasem, Abdullah Faqih asal Bekasi Utara dan Alin Adzkannuha asal Bekasi Barat.

Muhammad Sam’an, guru pembimbing mengatakan, sistem kerja alat tersebut menggunakan listrik, yang berfungsi menyalakan lampu ultraviolet. Kemudian, dengan serangkaian alat yang telah dirancang ini berfungsi untuk menyaring asap menjadi oksigen.

“Awalnya ini dibuat untuk mengubah asap rokok, makanya bentuknya agak kotak memanjang. Namun bentuk dan ukuran sebenarnya dapat menyesuaikan kebutuhan,” imbuhnya.

Kemudian, terkait dengan pemberian nama alat tersebut T-Fanter 25, dirinya mengatakan jika nama itu diambil dari nama ketiga penemu dan proses pembuatannya.

“Prosesnya selama empat bulan. Dan pas tanggal 25  Juni lalu, alat tersebut selesai pembuatannya. Makanya alat itu diberikan nama sesuai dengan para penemunya,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Guru Ini Rela Lenggak Lenggok Demi Anak Didiknya

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain menciptakan sistem pendidikan akademik dengan membuat peraga pembelajaran, guru kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah, Klumpit, Gebog juga dituntut untuk membuat karya pendidikan non akademik. Pendidikan tersebut merupakan gerak lagu atau tari yang nantinya diberikan kepada anak didiknya. Sehingga mengembangkan kreativitas anak dalam bidang seni.

Kepala kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah Ani Mukhoiyaroh mengatakan, guru tingkatan yang ada di tingkatan KB atau TK itu harus lebih jenius lagi. Sebab yang diajari ialah anak usia dini, dimana usia tersebut baru mengenal pendidikan. Sehingga pihak guru harus mampu menciptakan kreasinya masing-masing.

Dia menilai, dengan kreativitas yang baik itulah, anak didik lebih merasa nyaman bersekolah. Sebab untuk membuat anak didik usia dini merasa nyaman menempuh pendidikan itu tidak mudah. Oleh karena itu, pihak guru dituntut kreativ dalam menyampaikan materi pembelajaran. Khsusunya mengembangkan psikomotorik serta mentalitas anak didik.

”Dalam kegiatan pembuatan kreasi ini, biasanya para guru melakukan pertemuan satu bulan sekali. Yaitu untuk saling sharing dan saling melengkapi. Sehingga karya-karyanya tersebut dapat dijadikan media untuk pembelajaran anak didiknya,” ujarnya.

Sistem pendidikan berupa media hasil karya tersebut, rata-rata anak didik tertarik untuk mengaplikasikannya di kegiatannya sehari-hari. Yaitu di luar jam sekolah, atau saat waktu bermain di rumah.

Alhamdulillah, anak didik ini memahami tentang materi yang kita berikan. Seperti halnya membuat hasta karya dari barang bekas, serta melakukan gerak dan lagu (seni) dengan baik,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Tumbuhkan Budaya Menulis , MA NU Miftahul Ulum Buat Workshop Jurnalistik

Kegiatan Workshop Jurnalistik di MA NU Miftahul Ulum bersama Gisaf untuk melatih budaya menulis siswa. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kegiatan Workshop Jurnalistik di MA NU Miftahul Ulum bersama Gisaf untuk melatih budaya menulis siswa. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Tulisan merupakan suatu hal abadi yang mampu mengubah hidup seseorang. Sebab melalui tulisan, segala sesuatu bisa tersampaikan. Melihat pentingnya budaya membaca di kalangan pelajar, sekolah MA NU Miftahul Ulum mengadakan kegiatan jurnalistik untuk membantu siswa belajar menulis sesuai dengan kaidah.

Sebanyak 50 peserta terpilih, mengikuti workshop dengan beberapa materi dasar jurnalistik. ”Harapannya siswa mampu menulis dengan baik sesuai dengan ketentuan jurnalistik. Sebab menulis merupakan kegiatan positif yang sangat dibutuhkan oleh siswa baik di kegiatan disekolah maupun diluar,” ujar Anisa Arifiani, salah satu guru pendamping kegiatan.

Dalam kegiatan selama dua hari tersebut, sekolah menggandeng Gubuk Ilmu Sahabat Fikir (Gisaf) Semarang untuk mengisi materi jurnalistik. ”Nantinya selain penyampaian materi kejurnalistikan, siswa akan diajak langsung untuk menulis dan membuat media sendiri,” jelas M. Andi Hakim, Direktur sekaligus pemateri Gisaf. (AYU KHAZMI/TITS W)

SD 3 Barongan Bantah Ada Iuran Piknik Hingga Jutaan Rupiah

Beberapa murid SD 3 Barongan saat bermain di luar kelas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa murid SD 3 Barongan saat bermain di luar kelas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Adanya informasi yang menyebutkan adanya penarikan iuran kepada siswa untuk keperluan piknik, yang jumlahnya mencapai Rp 1.150.000, dibantah tegas oleh pihak SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, Kudus.

Kepala SD 3 Barongan Manis Wijayanti mengatakan, pihak sekolah tidak mengadakan kegiatan atau acara acara piknik selama masa tenggang semacam ini. Bahkan, katanya, pembahasan mengenai piknik juga tidak pernah ada.

“Belum ada pembahasan sama sekali. Saya malah bingung sama informasi yang beredar  semacam itu. Saya sendiri juga baru pulang dari haji,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/10/2015).

Dalam hal ini, dirinya tidak membenarkan adanya informasi yang sudah beredar tersebut. Bukan hanya piknik, penarikan iuran juga tidak pernah dilakukan oleh pihak sekolah. Kemudian, mengenai progam sekolah, katanya, juga selalu dikomunikasikan dengan pihak UPTD.

Dia menambahkan, kegiatan jeda usai Ujian Tengah Semester (UTS) memang dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan. Hanya, hal itu dilakukan di lingkungan sekolah sendiri, bukan dengan pergi ke luar sekolah, apalagi sampai keluar kota.”Kami menegaskan tidak ada hal semacam itu, kabar tersebut tidak benar,” jelasnya. Berita ini juga sebagai klarifikasi atas berita sebelumnya: http://www.murianews.com/2015/10/13/55373/ingin-piknik-murid-sd-ini-ditarik-iuran-hingga-jutaan-rupiah.html

Dalam pemberitaan sebelumnya, sejumlah orangtua murid mengeluhkan adanya penarikan iuran untuk acara piknik yang jumlahnya mencapai jutaan. Seperti halnya NH, orangtua salah satu murid SD 3 Barongan.

”Itu jelas memberatkan bagi para orangtua murid, apalagi jumlahnya mencapai jutaan dan hanya untuk kebutuhan piknik saja. Saya yakin untuk wali murid yang lain juga merasakan hal yang serupa,” katanya.

Menurutnya, sebagai murid SD tentunya hanya menuruti keinginan para gurunya untuk piknik. Terlebih dengan iming-iming lokasi yang enak dan jauh, seperti tujuan piknik tahun ini yaituke Bandung. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Tujuh Tahun Sekolah Rusak, Proposal SDN 4 Kayen Ditolak

Kondisi gedung SDN 4 Kayen yang retak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi gedung SDN 4 Kayen yang retak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selama tujuh tahun kondisi bangunan gedung SD Negeri 4 Kayen retak-retak dengan atap ternit yang rusak, tetapi pemerintah setempat masih tutup mata. Bahkan, sejumlah proposal yang dilayangkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Pati tak digubris.

“Seingat saya, kondisi ini sudah berlangsung sejak 2009 lalu. Pihak sekolah sebetulnya sudah beberapa kali mengajukan proposal permohonan bantuan untuk rehab gedung, tapi saat ini belum ada kabar,” kata Ali Mundakir, salah seorang guru kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia berharap agar pemerintah setempat terbuka hatinya untuk memberikan bantuan rehab gedung agar proses belajar mengajar tidak terhambat.

“Selama tujuh tahun, kami terpaksa melaksanakan belajar mengajar di dalam gedung yang rusak. Kami berharap pemerintah terbuka hatinya untuk segera memikirkan masalah ini,” imbuhnya.

Sampai saat ini, ratusan siswa masih tetap belajar di bangunan sekolah yang mestinya tak layak huni tersebut. Salah satu hal yang dikhawatirkan dalam satu bulan ke depan, ketika musim penghujan tiba dan hujan lebat.

“Kalau bulan depan sudah mulai musim hujan, kami khawatir kerusakan bangunan sekolah kian parah. Kalau roboh diterjang angin dan hujan, kami khawatir mengancam keselamatan murid,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Miris! Anggaran Pendidikan Naik, Tapi Masih Saja Ada SD Negeri di Kayen Pati Rusak Parah

Seorang guru menunjukkan gedung sekolah yang retak di salah satu ruang belajar. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang guru menunjukkan gedung sekolah yang retak di salah satu ruang belajar. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI –Alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), paling banyak salah satunya digelontorkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal ini diharapkan agar pendidikan yang menjadi salah satu pilar kemajuan bangsa bisa berkembang.

Sayangnya, hal tersebut banyak yang tidak sesuai dengan realitas. Anggaran paling gemuk, tetapi pendidikan tak kunjung maju. Bahkan, sejumlah gedung sekolah banyak yang rusak, tetapi minim perhatian.

Di SD Negeri 4 Kayen, Pati misalnya. Sejumlah gedung yang retak termakan usia, tak kunjung dibenahi. Tak hanya itu, bagian atap bangunan yang terbuat dari ternit sudah banyak yang runtuh.

Jika hal itu dibiarkan, bukan saja mengganggu aktivitas murid, tetapi juga mengancam keselamatan pelajar. “Sebetulnya sudah rusak sejak 2009 lalu. Tapi, kami tidak bisa apa-apa karena belum ada bantuan rehab gedung,” ujar Ali Mundakir, salah satu guru SDN 4 Kayen kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/10/2015).

Ia berharap, agar pemerintah setempat bisa memikirkan masalah tersebut. “Saya khawatir kalau musim penghujan tiba pada November atau Desember nanti, kerusakan bangunan akan semakin parah,” keluhnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Membiasakan dari Hal Kecil untuk Mengajarkan Sopan Santun

Siswa sedang bersalaman dengan guru ketika masuk kelas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa sedang bersalaman dengan guru ketika masuk kelas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sebagai institusi pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan kepada peserta didik, tidak hanya dalam pendidikan reguler saja. Namun, pendidikan moral juga menjadi bagian dari sekolah, agar peserta didik memiliki prilaku moral yang baik.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh SMA PGRI 1 Kudus. Pihak sekolah berupaya mencetak generasi yang tidak hanya pintar dalam bidang akademik saja, namun juga memiliki moral yang baik. Salah satu cara yang dilakukan untuk mencapai hal itu, yakni dengan memulai membiasakan hal-hal kecil yang positif.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah, membiasakan siswa untuk bersalaman kepada guru, ketika masuk dan keluar ruangan belajar.

Kepala SMA PGRI 1 Kudus Bambang Sugiarto mengatakan, salah satupendidikan dasar untukmenjadikan murid tawaduk, salah satunya bisa dimulai dengan membiasakan bersalaman.Meskipun bersalaman itu mudah, namun bila tidak dibiasakan, maka halitu akan sulit dilakukan.

Dia menilai, bersalaman itu merupakan bentuk cara untuk mendekatkansiswa dengan guru,serta mengajarkan pendidikan kesopanan terhadap yanglebih tua.

”Dengan hal ini, diharapkan siswa bisamengetahui pendidikan karakter dan yang paling penting adalah bagimana siswa bisa menghormati guru.Saya yakin, jika hal ini sudah terbiasa, ketika di luar sekolah pun, rasa hormat terhadap guru akan tetap ada,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

MTs NU Sultan Agung Kudus Gelar Doa Bersama di Awal Tahun

Siswa MTs NU Sultan Agung Kudus sedang mengikuti doa bersama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa MTs NU Sultan Agung Kudus sedang mengikuti doa bersama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Memasuki tahun baru Islam 1437 hijriah, ratusan siswa MTs Nu Sultan Agung, Kecamatan Mejobo, Kudus , menggelar doa bersama. Kegiatan doa bersama ini, dikemas melalui istighosah.

Kepala MTs NU Sultan Agung Khumaidi mengatakan, doa bersama tersebut, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan, agar tahun ini bangsa Indonesia bisa lebih baik lagi dan dijauhkan dari musibah, bencana dan sejenisnya.

”Dengan doa ini, kita berharap tahun ini akan lebih baik lagi dibandingkan dengan tahun kemaren. Proses pembelajaran di sekolah ini, kami harapkan juga akan semakin lancar dan siswa terus memiliki semangat untuk berprestasi,” katanya.

Doa bersama ini, katanya, juga melatih siswa agar dalam kehidupan ini tidak mengabaikan pentingnya doa. Karena, usaha tanpa dibarengi doa juga akan sia-sia. Untuk itu, dirinya berharap nantinya ada keselarasan.

Lebih lanjut pihaknya berharap, agar tahun ini ada perubahan yang lebih baik untuk bangsa Indonesia. Begitupun dengan dunia pendidikan yang semakin maju. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Bupati Pati: Jangan Malu Gunakan Bahasa Jawa

Aksara Jawa yang dipasang di Makam Brimbing Keris Penjawi, Desa Kaborongan, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Aksara Jawa yang dipasang di Makam Brimbing Keris Penjawi, Desa Kaborongan, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Bupati Pati Haryanto mengimbau kepada pemuda, terutama pelajar dan kalangan pegawai negeri sipil (PNS) untuk tidak malu menggunakan bahasa Jawa. Karena, bahasa Jawa dinilai sebagai warisan leluhur yang perlu dilestarikan.

“Bahasa Jawa itu keren. Menguasai bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya itu penting untuk menjadi pribadi yang siap berkompetisi di arena global. Tapi, tidak lantas kemudian meninggalkan bahasa lokalnya sendiri,” kata Haryanto saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Selasa (13/10/2015).

Saat ini, kata dia, banyak bahasa lokal di berbagai belahan dunia yang hilang setiap tahunnya. Hal itu disebabkan banyak penutur atau masyarakatnya yang enggan menggunakan bahasa lokal daerah.

Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat Pati juga bangga menggunakan bahasa Jawa berlogat Pati. “Kita akui, bahasa Jawa itu beragam logat. Kita harus bangga dengan logat masing-masing daerah yang masih dalam satu rumpun bahasa Jawa,” imbuhnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Berikut Pernyataan Disdikpora Kudus Terkait Piknik SD dengan Biaya Jutaan

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kegiatan piknik para siswa SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, mendapatkan sorotan yang serius dari pihak dinas. Bahkan, dinas tidak terima jika sampai ada yang menarik kepada siswa untuk kepentingan tersebut.

Kepada Disdikpora Joko Susilo mengatakan, pihak dinas sudah memanggil kepala sekolah SD tersebut soal kabar yang tersebar. Pemanggilan dilakukan sekitar satu pekan lalu untuk mendapatkan keterangan langsung dari pihak sekolah.

”Sudah kami panggil kepala sekolahnya. Dari hasil pemeriksaan, tidak kegiatan semacam itu, terlebih sampai menarik sejumlah uang kepada para siswa,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Pihaknya mengimbau kepada para sekolah untuk tidak menarik iuran kepada siswa. Sebab kebutuhan sekolah juga sudah dipenuhi dari pihak pemerintah melalui dana BOS, pendamping bos, dan dana lainnya.

”Kalau ada hal yang semacam itu, silakan langsung laporkan kepada kami. Kami pastikan akan langsung menindaknya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ingin Piknik Murid SD Ini Ditarik Iuran Hingga Jutaan Rupiah

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik. Penarikan yang dilakukan dalam jumlah yang fantastis mencapai Rp 1.150 juta.

Hal itu jelas dikeluhkan oleh para orang tua murid, NH misalnya, yang mengeluhkan kegiatan penarikan kepada para murid di SD tersebut.

”Itu jelas memberatkan bagi para murid, apalagi jumlahnya mencapai jutaan dan hanya untuk kebutuhan piknik saja. Saya yakin untuk wali murid yang lain juga merasakan hal yang serupa,” katanya.

Menurutnya, sebagai murid SD tentunya hanya menuruti keinginan para gurunya untuk piknik. Terlebih dengan iming-iming lokasi yang enak dan jauh seperti tujuan piknik tahun ini yang di Bandung.

Kegiatan piknik kali ini masih berjalan. Saat MuriaNewsCom mengunjungi sekolah, kepala sekolah tidak berada di lokasi lantaran ada kegiatan di luar. Sedangkan bagi pengajar yang ada di tempat meminta untuk datang lain waktu.

”Ini bukan kali pertama terjadi hal tersebut. Sebelumnya juga pernah terjadi hal yang serupa,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pelajar dan PNS di Pati Diwajibkan Pakai Bahasa Jawa Setiap Kamis

upati Pati Haryanto instruksikan pelajar dan PNS di Pati gunakan bahasa Jawa setiap Kamis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

upati Pati Haryanto instruksikan pelajar dan PNS di Pati gunakan bahasa Jawa setiap Kamis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Setiap pelajar dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) dan kalangan pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Pati diwajibkan untuk menggunakan bahasa Jawa setiap Kamis. Hal itu diharapkan bisa melestarikan bahasa Jawa di daerah Pati.

“Di tengah derasnya arus globalisasi yang berkiblat pada dunia barat, generasi penerus bangsa harus diberi bekal untuk mencintai dan mengamalkan bahasa kebanggaan warisan leluhur sendiri,” ujar Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (13/10/2015).

Sebetulnya, kata dia, pemberlakukan bahasa Jawa itu sudah diatur dalam Perbup Nomor 17 Tahun 2013. Karena itu, ia berharap agar semua guru di Pati ikut memantau penggunaan bahasa Jawa setiap Kamis dengan konsisten.

“Kami tidak membatasi bahasa Jawa yang resmi sesuai dengan yang diajarkan dalam kurikulum. Bahasa Jawa dengan logat khas Pati juga diperbolehkan. Tujuannya untuk mewarisi dan nguri-uri bahasa leluhur sendiri,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Isi Jam Istirahat untuk Mengenalkan Salat Duha Terhadap Siswa 

Murid SD IT Al Islamiyah Karangbener sedang praktik salat duha (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Murid SD IT Al Islamiyah Karangbener sedang praktik salat duha (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Upaya untuk mengenalkan pendidikan agama terhadap peserta didik, dituntut untuk tidak sekadar teori saja, namun hal itu bisa dilakukan dengan praktek secara langsung. Hal ini, seperti yang dilakukan SD Islam Terpadu Al Islamiyah, Karangbener, Bae, Kudus.

Pada saat jam istirahat, pihak sekolah memanfaatkan waktu tersebut untuk mengenalkan kepada anak-anak terhadap salat sunah, di antaranya salat duha.

Kepala SD IT Al Islamiyah mengatakan, pengenalan salat duha memang perlu dilakukan sejak dini, sehingga nantinya diharapkan anak-anak akan terbiasa untuk mengerjakan salat. ”Bukan hanya salat duha saja, tapi target kita tentunya membiasakan anak untuk mengerjakan salat, khususnya untuk salat wajib,” katanya.

Menurutnya, dengan praktik secara langsung, anak-anak akan lebih mudah mengerti dan memahami mengenai tata cara ataupun lafal yang ada di dalam salat, baik itu salat sunah ataupun salat wajib.

“Sebenarnya pembelajaran salat sunah duha dengan salat wajibhampir sama. Yang berbeda adalah niat, jumlah rokaat, dan waktunyasaja. Sedangkan untuk gerakan,mulai takbiratul ihram sampai dengantahiyat akhir, bacaannya juga sama. Sehingga pembelajaran salat sunahdisaat jam istirahat tersebut, juga bisa diaplikasikan dengan sholat wajib,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Stake Holder Harus Tahu Pengelolaan BOS

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima setiap sekolah tingkat dasar merupakan program langsung dari pusat. Dana tersebut bertujuan untuk memenuhi pembiayaan sekolah tanpa harus memungut biaya kepada peserta didik.

Namun dengan kebutuhan yang banyak, para stake holder harus mampu untuk mengelolanya agar semua kebutuhan tercukupi. ”Dari kegiatan MBS ini juga dipelajari bersama bagaimana cara mengatur pengeluaran dan mengcover segala kebutuhan agar terpenuhi,” kata Muslih Nur, Ketua Panitia kegiatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Menurutnya dana BOS tersebut merupakan amanah yang menjadi penentu kesuksesan pendidikan. Sehingga dalam penggunaannya harus tepat sasaran dan mampu digunakan untuk segala kebutuhan.

”Karena banyak sekali kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam kegiatan belajar, jadi para stake holder perlu tahu cara pengelolaannya dengan baik,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Ratusan Stake Holder SD se Kecamatan Jati Belajar Managemen Dukung Proses Pembelajaran

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Ratusan tenaga pendidik yang terdiri dari komite, kepala sekolah dan guru se Kecamatan Jati berkumpul di SD 2 Getaspejaten hari ini (12/10/2015). Sebanyak 127 tenaga pendidik tersebut, mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas.

Sularto, salah satu fasilitator daerah Kudus mengatakan tujuan utama dari MBS adalah untuk berlatih bersama menyusun program yang efektif dan efisien, mengaktifkan peserta, dan menggali potensi sesuai kondisi sekolah.

”Jadi kita saling belajar agar para stake holder mampu memahami managemen untuk mendukung proses pembelajaran,” ujarnya.

Dalam pembukaan acara tersebut hadir pula ketua UPT Pendidikan Kecamatan Jati, Sulardi mewakili dari Disdikpora Kudus. Dalam sambutan, dirinya mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

”Harapannya setelah acara ini, dapat diimplementasikan ke sekolah masing-masing untuk peningkatan mutu pendidikan di Kudus pada khususnya,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

MI NU Al Munawaroh Miliki Sistem Khusus Ajarkan Ngaji Ke Muridnya

Salah satu murid maju ke depan kelas bersiap untuk melakukan hafalan surat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu murid maju ke depan kelas bersiap untuk melakukan hafalan surat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sistem pembelajaran mengaji yang diterapkan MI NU Al Munawaroh, Desa Lau, Kecamatan Dawe ialah dengan cara menerapkan hafalan juz amma terlebih dahulu terhadap muridnya. Hafalan tersebut dimulai dari kelas satu sampai dengan kelas lima. Sehingga disaat menempuh kelas enam, materi tersebut dikuasi baik oleh muridnya.

Kepala MI NU Al Munawaroh Lau, Muhlisin menerangkan, meskipun kelas satu belum ada materi menghafal, tetapi alangkah bijaknya hafalan itu diterapkan secara perlahan dan bertahap. Yaitu dengan cara menentukan surat yang lebih mudah terlebih dahulu.

”Untuk materi hafalan kelas satu dimulai dengan Al Fatihah sampai Al Kautsar, kelas dua Al Maun sampai Al Adiyat, kelas tiga Al Zalzalah sampai Al Lail, kelas empat Assyamsi sampai Al Insiqoq , dan yang terakhir kelas lima Al Muthoffifin sampai An Naba. Sedangkan kelas enam hanya untuk materi pengulangan saja,” jelasnya.

Dengan adanya jadwal menghafal itu, secara otomatis setiap wali kelas harus memacu muridnya. Supaya disaat naik kelas ke jenjang berikutnya, murid tidak terbebani dengan hafalan lanjutan atau bahkan hafalan sebelumnya yang belum diselesaikan dengan maksimal.

Alhamdulillah, untuk saat ini setiap siswa yang naik kelas, mereka bisa beradaptasi dengan materi hafalan terbarunya. Selain itu, bagi siswa yang belum menuntaskan hafalannya di kelas sebelumnya maka saat ini masih dibimbing dengan perlahan. Sehingga kedepannya bisa menjalani materi hafalan terbarunya dengan lancar,” terangnya.

Dia menambahkan, untuk prosentase kemampuan hafalan murid disetiap kelas sebelum naik ke kelas selanjutnya dinilai baik. Sebab rata-rata di setiap kelasnya sekitar 85 persen murid mampu menghafal dengan baik. Namun untuk sisanya bisa dilanjutkan dikelas berikutnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

DPRD Kudus ‘Marah’ Gara-gara SDN Jepang Ambruk

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Wakil Ketua  Komisi D DPRD Kudus Ahmad Yusuf Roni, ‘marah’, yakni menyayangkan adanya kejadian tersebut. Pihaknya meminta Disdikpora segera bertindak melakukan perbaikan ruang kelas yang rusak.

Hal ini  terkait atap plafon kelas III di SDN Jepang Pakis 3, Kecamatan Jati,  Kudus, ambruk akibat lapuk dimakan usia. Atap ruang kelas ambruk, pada Senin (5/10/2015) malam hari.

”Kudus saat ini memperoleh alokasi dana alokasi khusus (DAK) pendidikan yang cukup besar. Kami minta agar ruang kelas tersebut bisa segera diperbaiki,” katanya.

Yusuf juga meminta agar Disdikpora terus menerus melakukan inventarisasi sekolah-sekolah yang rusak. ”Jangan sampai, kerusakan sekolah berakibat jatuhnya korban terutama para siswa,” tandasnya.

Sementara, Disdikpora hingga kini masih belum bisa dikonfirmasi. Kepala Disdikpora Joko Susilo juga tidak bisa dihubungi untuk dimintai keterangan perihal persoalan tersebut. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Siswa SMK NU Alhidayah Gebog Ditantang  Bikin Blog

 

Siswa SMK NU Alhidayah Kudus saat praktek TKJ (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa SMK NU Alhidayah Kudus saat praktek TKJ (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk memacu kreatifitas siswa dalam mengaplikasikan pembelajaran yang diberikan disekolah, siswa SMK NU Alhidayah Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, diberikan tugas tambahan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diterima.

Seperti halnya siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), siswa SMK NU Alhidayah ditantang untuk bisa membuat blog, software, desain progam dan lain sebagainya.

”Hal itu, nantinya akan dinilai oleh pihak guru atau pengampu. Untuk itu, kreatifitas siswa sangat dituntut untuk menguasai berbagai progam yang ada,” ujar M Rois, salah satu siswa SMK NU Alhidayah, jurusan TKJ.

Untuk memberikan kesempatan terhadap bagi siswa agar bisa lebih leluasa untuk belajar, pihak sekolah memberikan tambahan belajar di luar kegiatan belajar mengajar pada jam reguler.

“Untuk tambahan jam pelajaran itu memang tidak diatur secara rutin tiap hari. Namun hal itu menyesuaikan saja, tergantung pengampu dan gurunya,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rois, selain membuat program perangkat lunak, siswa juga juga diwajibkan untuk bisa merangkai serta menginstal komputer sampai tuntas, yakni sampai bisa dipergunakan kembali. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Brakk! Atap Ruang Kelas di SD Jepang Ambruk

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Gedung sekolah yang rusak masih ditemui di Kabupaten Kudus. Kali ini, atap plafon kelas III di SDN Jepang Pakis 3, Kecamatan Jati,  ambruk akibat lapuk dimakan usia. Beruntung tidak ada siswa yang menjadi korban.

Ali Munthoha, salah satu guru kelas SDN Jepang Pakis 3 mengatakan peristiwa ambruknya atap ruang kelas tersebut terjadi pada Senin (5/10/2015) malam hari.

Hal tersebut cukup disyukuri, lantaran ambruknya tidak terjadi pada saat jam belajar mengajar. ”Untungnya saja ambruknya pada malam hari. Kalau pas anak-anak belajar, tentu lain lagi ceritanya,” kata Ali.

Atap plafon kelas yang ambruk tersebut, menurut Ali, memang kondisinya sudah sangat lapuk. Sebelum kejadian, memang sudah ada tanda-tanda atap tersebut akan jebol.

Dikatakan Ali, selain ruang kelas III, ada beberapa lagi kelas yang kondisinya sama. Saat ini, pihak sekolah berinisatif menjebol atap plafon tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

”Daripada ambruk dan menimpa siswa, lebih baik kami jebol secara keseluruhan,” katanya.

Ali mengatakan, kondisi bagian atap ruang kelas di sekolahnya memang sudah tua. Hal ini lantaran SDN 3 Jepang Pakis sudah cukup lama tidak tersentuh rehabilitasi dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. ”Kira-kira ada empat hingga lima tahun tidak ada rehab,” ungkapnya.

Selain kondisi atap yang sudah lapuk, SDN 3 Jepang Pakis juga masih kekurangan ruang kelas. Dari total 143 siswa yang ada, hanya tersedia lima kelas saja.

”Termasuk ruang kelas yang atapnya ambrol, sebenarnya adalah kantor yang difungsikan juga untuk ruang kelas. Kami juga kekurangan ruangan untuk perpustakaan,” ujarnya.

Untuk itu, Ali berharap ada tindakan dari Disdikpora, siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan nyaman dan aman. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Ratusan Murid TK di Kudus Ikuti Manasik Haji

Anak-anak sedang mengikuti praktik manasik haji (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Anak-anak sedang mengikuti praktik manasik haji (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TKIT) yang berasal dari sembilan lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kudus, mengikuti praktik haji di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (3/10/2015).

Koordinator Pelatihan Manasik Haji, Santi Suwardi mengatakan, jumlah anak yang ikut praktik manasik haji tersebut sebanyak 751 siswa. Kegiatan pelatihan manasik haji ini bertujuan untuk mengenalkan rukun Islam kelima kepada anak didik sejak dini.

Ia katakan, sepuluh lembaga pendidikan yang dalam praktik manasik haji, di antaranya KB IT Umar Bin Khathab, PAUD IT Utsman Bin Affan, PAUD IT Mutiara Bunda, TPA Hanifa, KB Syamsa Auladina dan beberapa sekolah yang berada di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

“Apalagi, bagi umat Islam ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang membutuhkan persiapan secara mental dan fisik yang cukup, sehingga sejak usia dini perlu diperkenalkan serta dipersiapkan,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, anak-anak dikenalkan tata cara pelaksanaan ibadah haji, termasuk para orangtua yang ikut mendampingi anaknya.

Dirinya juga menyampaikan, jika kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menumbuhkan semangat para anak untuk melakukan ibadah haji sedini mungkin, melainkan juga ikut menumbuhkan semangat masyarakat. “Khususnya umat Muslim, bagi yang mampu untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut,” ugnkapnya.

Dalam pelatihan manasik haji tersebut, ratusan anak terlihat antusias mempelajari tata cara
menjalankan ibadah haji, meskipun berlangsung di tengah lapangan dengan cuaca agak panas. Keceriaan anak terlihat ketika praktik berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwah serta mencukur rambut layaknya haji sebenarnya.

Dalam praktik ibadah haji tersebut, para peserta mengenakan pakaian ihram dengan mendapatkan bimbingan dari guru sekolah masing-masing, guna memudahkan anak mengikuti seluruh kegiatan yang ada dalam rukun haji. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus Diminta Aktif Ikuti Kegiatan di Masyarakat

Beberapa siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus ketika mengikuti kegiatan di organisasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus ketika mengikuti kegiatan di organisasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Siswa MA NU Miftahul Ulum  Loram Kulon, Jati, Kudus diminta aktif untuk mengikuti berbagai kegiatan yang ada di masyarakat. Hal ini, dimaksudkan agar siswa dapat mengisi waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat.

Kepala MA NU Miftahul Ulum Misbachuddin mengatakan, kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif di masyarakat sangat banyak. Sehingga, siswa juga dapat belajar, tidak hanya di dalam sekolah saja, tapi di luar sekolah.

Dirinya menyampaikan, kegiatan itu bisa bersifat organisasi kemasyarakatan atau lainnya yang memang bisamenambah ilmu pengetahuan mereka. Seperti halnya ikut serta dalamIkatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar PutriNahdlatul Ulama (IPPNU).

“Bila usai sekolah siswa dapat memanfaatkan waktu secara positif, seperti halnya berorganisasi, maka saya yakin perilaku negatif anak anak bisadicegah. Seperti halnya kebut-kebutan di jalan, nongkrong dan lain sebagainya,” katanya.

Dengan berorganisasi, dirinya juga yakin, jika anak-anak akan memiliki karakter yang terampil, cerdas dan terdidik. Karena, pembentukan karakter siswa, katanya juga tidak hanya dari sekolah saja.

“Alhamdulilah rata-rata siswa disini sudah mulai ikut sertadalam organisasi,pada Jumat sore atau Minggu sore mereka aktif belajar berorgaisasi.Meskipunmereka tidak masuk dalam jajaran pengurus,namun mereka selaluaktif dalam kegiatan tersebut,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)