Sambut Hari Ibu, Anak dan Ibu Adu Kekompakan di Play Group Pelita Nusantara Kudus

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dalam memperingati hari ibu yang ke 87 di tahun 2015 ini. Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus mengadakan berbagai lomba. Lomba yang diikuti oleh 62 peserta didik dan ibu tersebut, tentunya dapat memberikan pelajaran psikomotorik terhadap anak.

Salah satu pendidik di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus Trisye Sulistiowati mengutarakan, lomba ini ada lima kategori. Selain itu, yang mengikuti lomba tersebut bukan hanya dari peserta didik saja, namun pihak orang tua juga turut serta.

”Ke lima lomba tersebut meliputi, lomba menempel pola organ tubuh manusia yang diikuti 14 anak dari usia 2-3 tahun, lomba meronce (menempel) manik-manik diikuti 21 anak dari usia 3-4 tahun, loma memakai dan melipat baju diikuti 27 anak dari usia 4-6 tahun, lomba anak menyuapi ibu dengan puding, serta lomba ibu merias kue donat,” paparnya.

Diketahui, lomba yang terlaksana sejak Kamis (10/12/2015) hingga Sabtu (12/12/2015) di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara di Perumahan Jati Indah No 99 Kudus ini diambil tiga kejuaraan di setiap cabang lomba. Sehingga menambah semangat para peserta lomba.

”Kegiatan itu memang diambil tiga kejuaraan dari setiap cabang lomba. Untuk hadiahnya khusus untuk lomba menempel pola organ tubuh yang diikuti anak usia 2-3 tahun akan diberi peralatan permainan semacam puzzle. Selebihnya untuk ke empat lomba lainnya diberikan peralatan sekolah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam kegiatan ini pastinya dapat memberikan ilmu pengetahuan umum pada anak didik selain materi. Namun mereka juga bisa mempraktikan pengetahuannya. Seperti halnya memakai dan melipat baju, menyuapi ibu dan yang lainnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

SMA Sederajat Diharapkan Pakai Kurikulum 2013

Kabid Dikmen pada Disdikpora Kudus Agus Nuratman. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Dikmen pada Disdikpora Kudus Agus Nuratman. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Penggunaan Kurikulum di satuan pendidikan tingkat SMA dan SMK, masih menggunakan dua kurikulum yakni Kurikulum 2013 dan (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP. Hanya, mulai tahun ajaran baru mendatang di 2017, diharapkan semua sekolah bakal memakai Kurikulum 2013 secara keseluruhan.

Hal itu disampaikan Kabid Dikmen pada Disdikpora Kudus Agus Nuratman. Menurutnya semua sekolah khususnya negeri sudah didaftarkan penetapan Kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang digunakannya.

“Kita sudah daftarkan semua. Mudah mudahan tahun depan sudah dapat digunakan penerapan Kurikulum 213 tersebut di semua jenjang pendidikan SMA sederajat,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Hingga kini, baru tiga SMA yang sudah menggunakan Kurikulum 2013, yakni SMA1 Kudus, SMA 2 Kudus dan SMA1 Bae. Sedangkan untuk tingkatan SMK, yang sudah menggunakan Kurikulum 2013  adalah SMKN 1, SMK Wisuda Karya, SMK Muhammadiyah, SMK Ma’arif, SMK PGRI dan SMKN 1 Mejobo.

Sementara jumlah SMA di Kudus, kata dia, sebanyak 18 sekolah, sebanyak tujuh sekolah di antaranya merupakan sekolah negeri dan selebihnya sekolah swasta. Untuk tingkat SMK, terdapat lima dari 27 sekolah.

“Sesuai dengan aturan, ke depannya semua bakal menggunakan Kurikulum 2013. Jadi semua sekolah bakal menetapkan kurikulum anyar tersebut,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

T-Fanter 25 Direncanakan Bakal Diproduksi Massal

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Alat penjernih udara karya ketiga siswa MTs Yanbu’ul Quran, Kudus, saat ini terus ditingkatkan hingga sempurna. Bahkan, pihak sekolah berencana untuk memproduksi alat tersebut secara massal.

M Nasyim Mubarok, salah satu siswa penemu alat tersebut mengatakan, jika alat tersebut masih membutuhkan penyempurnaan, sehingga nantinya dapat diproduksi secara massal.

“Kalau awalnya dibuat untuk penjernih asap rokok, di mana alat ini ditaruh di tempat rokok. Jadi fungsinya asap rokok langsung diproses alat tersebut dan keluar sudah menjadi oksigen,” katanya.

Saat ini, katanya, mereka sudah memiliki dua alat,  yakni alat skala kecil dan besar. Hanya, alat tersebut masih mengandalkan listrik, sehingga harus tertancap pada sumber listrik untuk menghidupkannya.

Rencananya, alat tersebut bisa dibuat banyak dan skala besar. Hanya, untuk itu juga membutuhkan tegangan listrik yang besar dan kipas yang besar juga, serta alat lainnya.

Guru Pembimbing Muhammad Sam’an menjelaskan, alat tersebut juga perlu dipatenkan, agar alat yang ditemukan tidak dijiplak oleh lain. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Keren! 3 Siswa Penghafal Alquran Asal Kudus Ini Mampu Ciptakan Alat Modern Penjernih Udara

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Alat penjernih udara yang diciptakan tiga siswa penghafal Alquran Asal MTs Yanbu’ul Quran Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Asap yang berbau dan kotor ternyata bisa menjadi bersih di tangan ketiga siswa asal MTs Yanbu’ul Quran, Kudus. Menggunakan alat ciptaannya, ketiga siswa yang juga penghafal Alquran ini, mengubah udara yang mengandung asap menjadi udara yang segar dan kaya akan oksigen.

Alat ciptaan ketiga siswa tersebut diberi nama T-Fanter 25. Berkat alat ini pula, ketiganya berhasil meraih juara dalam perlombaan karya ilmiah remaja (KIR) yang diselenggarakan di Bali beberapa watu lalu. Ketiganya mampu menyingkirkan 1.004 pesaing dari seluruh Indonesia.

Generasi-generasi hebat ini adalah, M Nasyim Mubarok asal Lasem, Abdullah Faqih asal Bekasi Utara dan Alin Adzkannuha asal Bekasi Barat.

Muhammad Sam’an, guru pembimbing mengatakan, sistem kerja alat tersebut menggunakan listrik, yang berfungsi menyalakan lampu ultraviolet. Kemudian, dengan serangkaian alat yang telah dirancang ini berfungsi untuk menyaring asap menjadi oksigen.

“Awalnya ini dibuat untuk mengubah asap rokok, makanya bentuknya agak kotak memanjang. Namun bentuk dan ukuran sebenarnya dapat menyesuaikan kebutuhan,” imbuhnya.

Kemudian, terkait dengan pemberian nama alat tersebut T-Fanter 25, dirinya mengatakan jika nama itu diambil dari nama ketiga penemu dan proses pembuatannya.

“Prosesnya selama empat bulan. Dan pas tanggal 25  Juni lalu, alat tersebut selesai pembuatannya. Makanya alat itu diberikan nama sesuai dengan para penemunya,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Guru Ini Rela Lenggak Lenggok Demi Anak Didiknya

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain menciptakan sistem pendidikan akademik dengan membuat peraga pembelajaran, guru kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah, Klumpit, Gebog juga dituntut untuk membuat karya pendidikan non akademik. Pendidikan tersebut merupakan gerak lagu atau tari yang nantinya diberikan kepada anak didiknya. Sehingga mengembangkan kreativitas anak dalam bidang seni.

Kepala kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah Ani Mukhoiyaroh mengatakan, guru tingkatan yang ada di tingkatan KB atau TK itu harus lebih jenius lagi. Sebab yang diajari ialah anak usia dini, dimana usia tersebut baru mengenal pendidikan. Sehingga pihak guru harus mampu menciptakan kreasinya masing-masing.

Dia menilai, dengan kreativitas yang baik itulah, anak didik lebih merasa nyaman bersekolah. Sebab untuk membuat anak didik usia dini merasa nyaman menempuh pendidikan itu tidak mudah. Oleh karena itu, pihak guru dituntut kreativ dalam menyampaikan materi pembelajaran. Khsusunya mengembangkan psikomotorik serta mentalitas anak didik.

”Dalam kegiatan pembuatan kreasi ini, biasanya para guru melakukan pertemuan satu bulan sekali. Yaitu untuk saling sharing dan saling melengkapi. Sehingga karya-karyanya tersebut dapat dijadikan media untuk pembelajaran anak didiknya,” ujarnya.

Sistem pendidikan berupa media hasil karya tersebut, rata-rata anak didik tertarik untuk mengaplikasikannya di kegiatannya sehari-hari. Yaitu di luar jam sekolah, atau saat waktu bermain di rumah.

Alhamdulillah, anak didik ini memahami tentang materi yang kita berikan. Seperti halnya membuat hasta karya dari barang bekas, serta melakukan gerak dan lagu (seni) dengan baik,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Tumbuhkan Budaya Menulis , MA NU Miftahul Ulum Buat Workshop Jurnalistik

Kegiatan Workshop Jurnalistik di MA NU Miftahul Ulum bersama Gisaf untuk melatih budaya menulis siswa. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kegiatan Workshop Jurnalistik di MA NU Miftahul Ulum bersama Gisaf untuk melatih budaya menulis siswa. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Tulisan merupakan suatu hal abadi yang mampu mengubah hidup seseorang. Sebab melalui tulisan, segala sesuatu bisa tersampaikan. Melihat pentingnya budaya membaca di kalangan pelajar, sekolah MA NU Miftahul Ulum mengadakan kegiatan jurnalistik untuk membantu siswa belajar menulis sesuai dengan kaidah.

Sebanyak 50 peserta terpilih, mengikuti workshop dengan beberapa materi dasar jurnalistik. ”Harapannya siswa mampu menulis dengan baik sesuai dengan ketentuan jurnalistik. Sebab menulis merupakan kegiatan positif yang sangat dibutuhkan oleh siswa baik di kegiatan disekolah maupun diluar,” ujar Anisa Arifiani, salah satu guru pendamping kegiatan.

Dalam kegiatan selama dua hari tersebut, sekolah menggandeng Gubuk Ilmu Sahabat Fikir (Gisaf) Semarang untuk mengisi materi jurnalistik. ”Nantinya selain penyampaian materi kejurnalistikan, siswa akan diajak langsung untuk menulis dan membuat media sendiri,” jelas M. Andi Hakim, Direktur sekaligus pemateri Gisaf. (AYU KHAZMI/TITS W)

SD 3 Barongan Bantah Ada Iuran Piknik Hingga Jutaan Rupiah

Beberapa murid SD 3 Barongan saat bermain di luar kelas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa murid SD 3 Barongan saat bermain di luar kelas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Adanya informasi yang menyebutkan adanya penarikan iuran kepada siswa untuk keperluan piknik, yang jumlahnya mencapai Rp 1.150.000, dibantah tegas oleh pihak SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, Kudus.

Kepala SD 3 Barongan Manis Wijayanti mengatakan, pihak sekolah tidak mengadakan kegiatan atau acara acara piknik selama masa tenggang semacam ini. Bahkan, katanya, pembahasan mengenai piknik juga tidak pernah ada.

“Belum ada pembahasan sama sekali. Saya malah bingung sama informasi yang beredar  semacam itu. Saya sendiri juga baru pulang dari haji,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/10/2015).

Dalam hal ini, dirinya tidak membenarkan adanya informasi yang sudah beredar tersebut. Bukan hanya piknik, penarikan iuran juga tidak pernah dilakukan oleh pihak sekolah. Kemudian, mengenai progam sekolah, katanya, juga selalu dikomunikasikan dengan pihak UPTD.

Dia menambahkan, kegiatan jeda usai Ujian Tengah Semester (UTS) memang dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan. Hanya, hal itu dilakukan di lingkungan sekolah sendiri, bukan dengan pergi ke luar sekolah, apalagi sampai keluar kota.”Kami menegaskan tidak ada hal semacam itu, kabar tersebut tidak benar,” jelasnya. Berita ini juga sebagai klarifikasi atas berita sebelumnya: http://www.murianews.com/2015/10/13/55373/ingin-piknik-murid-sd-ini-ditarik-iuran-hingga-jutaan-rupiah.html

Dalam pemberitaan sebelumnya, sejumlah orangtua murid mengeluhkan adanya penarikan iuran untuk acara piknik yang jumlahnya mencapai jutaan. Seperti halnya NH, orangtua salah satu murid SD 3 Barongan.

”Itu jelas memberatkan bagi para orangtua murid, apalagi jumlahnya mencapai jutaan dan hanya untuk kebutuhan piknik saja. Saya yakin untuk wali murid yang lain juga merasakan hal yang serupa,” katanya.

Menurutnya, sebagai murid SD tentunya hanya menuruti keinginan para gurunya untuk piknik. Terlebih dengan iming-iming lokasi yang enak dan jauh, seperti tujuan piknik tahun ini yaituke Bandung. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Membiasakan dari Hal Kecil untuk Mengajarkan Sopan Santun

Siswa sedang bersalaman dengan guru ketika masuk kelas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa sedang bersalaman dengan guru ketika masuk kelas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sebagai institusi pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan kepada peserta didik, tidak hanya dalam pendidikan reguler saja. Namun, pendidikan moral juga menjadi bagian dari sekolah, agar peserta didik memiliki prilaku moral yang baik.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh SMA PGRI 1 Kudus. Pihak sekolah berupaya mencetak generasi yang tidak hanya pintar dalam bidang akademik saja, namun juga memiliki moral yang baik. Salah satu cara yang dilakukan untuk mencapai hal itu, yakni dengan memulai membiasakan hal-hal kecil yang positif.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah, membiasakan siswa untuk bersalaman kepada guru, ketika masuk dan keluar ruangan belajar.

Kepala SMA PGRI 1 Kudus Bambang Sugiarto mengatakan, salah satupendidikan dasar untukmenjadikan murid tawaduk, salah satunya bisa dimulai dengan membiasakan bersalaman.Meskipun bersalaman itu mudah, namun bila tidak dibiasakan, maka halitu akan sulit dilakukan.

Dia menilai, bersalaman itu merupakan bentuk cara untuk mendekatkansiswa dengan guru,serta mengajarkan pendidikan kesopanan terhadap yanglebih tua.

”Dengan hal ini, diharapkan siswa bisamengetahui pendidikan karakter dan yang paling penting adalah bagimana siswa bisa menghormati guru.Saya yakin, jika hal ini sudah terbiasa, ketika di luar sekolah pun, rasa hormat terhadap guru akan tetap ada,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

MTs NU Sultan Agung Kudus Gelar Doa Bersama di Awal Tahun

Siswa MTs NU Sultan Agung Kudus sedang mengikuti doa bersama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa MTs NU Sultan Agung Kudus sedang mengikuti doa bersama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Memasuki tahun baru Islam 1437 hijriah, ratusan siswa MTs Nu Sultan Agung, Kecamatan Mejobo, Kudus , menggelar doa bersama. Kegiatan doa bersama ini, dikemas melalui istighosah.

Kepala MTs NU Sultan Agung Khumaidi mengatakan, doa bersama tersebut, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan, agar tahun ini bangsa Indonesia bisa lebih baik lagi dan dijauhkan dari musibah, bencana dan sejenisnya.

”Dengan doa ini, kita berharap tahun ini akan lebih baik lagi dibandingkan dengan tahun kemaren. Proses pembelajaran di sekolah ini, kami harapkan juga akan semakin lancar dan siswa terus memiliki semangat untuk berprestasi,” katanya.

Doa bersama ini, katanya, juga melatih siswa agar dalam kehidupan ini tidak mengabaikan pentingnya doa. Karena, usaha tanpa dibarengi doa juga akan sia-sia. Untuk itu, dirinya berharap nantinya ada keselarasan.

Lebih lanjut pihaknya berharap, agar tahun ini ada perubahan yang lebih baik untuk bangsa Indonesia. Begitupun dengan dunia pendidikan yang semakin maju. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Berikut Pernyataan Disdikpora Kudus Terkait Piknik SD dengan Biaya Jutaan

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kegiatan piknik para siswa SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, mendapatkan sorotan yang serius dari pihak dinas. Bahkan, dinas tidak terima jika sampai ada yang menarik kepada siswa untuk kepentingan tersebut.

Kepada Disdikpora Joko Susilo mengatakan, pihak dinas sudah memanggil kepala sekolah SD tersebut soal kabar yang tersebar. Pemanggilan dilakukan sekitar satu pekan lalu untuk mendapatkan keterangan langsung dari pihak sekolah.

”Sudah kami panggil kepala sekolahnya. Dari hasil pemeriksaan, tidak kegiatan semacam itu, terlebih sampai menarik sejumlah uang kepada para siswa,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Pihaknya mengimbau kepada para sekolah untuk tidak menarik iuran kepada siswa. Sebab kebutuhan sekolah juga sudah dipenuhi dari pihak pemerintah melalui dana BOS, pendamping bos, dan dana lainnya.

”Kalau ada hal yang semacam itu, silakan langsung laporkan kepada kami. Kami pastikan akan langsung menindaknya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ingin Piknik Murid SD Ini Ditarik Iuran Hingga Jutaan Rupiah

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik sejumlah Rp 1.150 juta. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejumlah murid di SD 3 Barongan, Kecamatan Kota, ditarik iuran pihak sekolah untuk keperluan piknik. Penarikan yang dilakukan dalam jumlah yang fantastis mencapai Rp 1.150 juta.

Hal itu jelas dikeluhkan oleh para orang tua murid, NH misalnya, yang mengeluhkan kegiatan penarikan kepada para murid di SD tersebut.

”Itu jelas memberatkan bagi para murid, apalagi jumlahnya mencapai jutaan dan hanya untuk kebutuhan piknik saja. Saya yakin untuk wali murid yang lain juga merasakan hal yang serupa,” katanya.

Menurutnya, sebagai murid SD tentunya hanya menuruti keinginan para gurunya untuk piknik. Terlebih dengan iming-iming lokasi yang enak dan jauh seperti tujuan piknik tahun ini yang di Bandung.

Kegiatan piknik kali ini masih berjalan. Saat MuriaNewsCom mengunjungi sekolah, kepala sekolah tidak berada di lokasi lantaran ada kegiatan di luar. Sedangkan bagi pengajar yang ada di tempat meminta untuk datang lain waktu.

”Ini bukan kali pertama terjadi hal tersebut. Sebelumnya juga pernah terjadi hal yang serupa,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Isi Jam Istirahat untuk Mengenalkan Salat Duha Terhadap Siswa 

Murid SD IT Al Islamiyah Karangbener sedang praktik salat duha (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Murid SD IT Al Islamiyah Karangbener sedang praktik salat duha (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Upaya untuk mengenalkan pendidikan agama terhadap peserta didik, dituntut untuk tidak sekadar teori saja, namun hal itu bisa dilakukan dengan praktek secara langsung. Hal ini, seperti yang dilakukan SD Islam Terpadu Al Islamiyah, Karangbener, Bae, Kudus.

Pada saat jam istirahat, pihak sekolah memanfaatkan waktu tersebut untuk mengenalkan kepada anak-anak terhadap salat sunah, di antaranya salat duha.

Kepala SD IT Al Islamiyah mengatakan, pengenalan salat duha memang perlu dilakukan sejak dini, sehingga nantinya diharapkan anak-anak akan terbiasa untuk mengerjakan salat. ”Bukan hanya salat duha saja, tapi target kita tentunya membiasakan anak untuk mengerjakan salat, khususnya untuk salat wajib,” katanya.

Menurutnya, dengan praktik secara langsung, anak-anak akan lebih mudah mengerti dan memahami mengenai tata cara ataupun lafal yang ada di dalam salat, baik itu salat sunah ataupun salat wajib.

“Sebenarnya pembelajaran salat sunah duha dengan salat wajibhampir sama. Yang berbeda adalah niat, jumlah rokaat, dan waktunyasaja. Sedangkan untuk gerakan,mulai takbiratul ihram sampai dengantahiyat akhir, bacaannya juga sama. Sehingga pembelajaran salat sunahdisaat jam istirahat tersebut, juga bisa diaplikasikan dengan sholat wajib,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Stake Holder Harus Tahu Pengelolaan BOS

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima setiap sekolah tingkat dasar merupakan program langsung dari pusat. Dana tersebut bertujuan untuk memenuhi pembiayaan sekolah tanpa harus memungut biaya kepada peserta didik.

Namun dengan kebutuhan yang banyak, para stake holder harus mampu untuk mengelolanya agar semua kebutuhan tercukupi. ”Dari kegiatan MBS ini juga dipelajari bersama bagaimana cara mengatur pengeluaran dan mengcover segala kebutuhan agar terpenuhi,” kata Muslih Nur, Ketua Panitia kegiatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Menurutnya dana BOS tersebut merupakan amanah yang menjadi penentu kesuksesan pendidikan. Sehingga dalam penggunaannya harus tepat sasaran dan mampu digunakan untuk segala kebutuhan.

”Karena banyak sekali kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam kegiatan belajar, jadi para stake holder perlu tahu cara pengelolaannya dengan baik,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Ratusan Stake Holder SD se Kecamatan Jati Belajar Managemen Dukung Proses Pembelajaran

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Para tenaga pendidik mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Ratusan tenaga pendidik yang terdiri dari komite, kepala sekolah dan guru se Kecamatan Jati berkumpul di SD 2 Getaspejaten hari ini (12/10/2015). Sebanyak 127 tenaga pendidik tersebut, mengikuti workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan USAID Prioritas.

Sularto, salah satu fasilitator daerah Kudus mengatakan tujuan utama dari MBS adalah untuk berlatih bersama menyusun program yang efektif dan efisien, mengaktifkan peserta, dan menggali potensi sesuai kondisi sekolah.

”Jadi kita saling belajar agar para stake holder mampu memahami managemen untuk mendukung proses pembelajaran,” ujarnya.

Dalam pembukaan acara tersebut hadir pula ketua UPT Pendidikan Kecamatan Jati, Sulardi mewakili dari Disdikpora Kudus. Dalam sambutan, dirinya mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

”Harapannya setelah acara ini, dapat diimplementasikan ke sekolah masing-masing untuk peningkatan mutu pendidikan di Kudus pada khususnya,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

MI NU Al Munawaroh Miliki Sistem Khusus Ajarkan Ngaji Ke Muridnya

Salah satu murid maju ke depan kelas bersiap untuk melakukan hafalan surat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu murid maju ke depan kelas bersiap untuk melakukan hafalan surat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sistem pembelajaran mengaji yang diterapkan MI NU Al Munawaroh, Desa Lau, Kecamatan Dawe ialah dengan cara menerapkan hafalan juz amma terlebih dahulu terhadap muridnya. Hafalan tersebut dimulai dari kelas satu sampai dengan kelas lima. Sehingga disaat menempuh kelas enam, materi tersebut dikuasi baik oleh muridnya.

Kepala MI NU Al Munawaroh Lau, Muhlisin menerangkan, meskipun kelas satu belum ada materi menghafal, tetapi alangkah bijaknya hafalan itu diterapkan secara perlahan dan bertahap. Yaitu dengan cara menentukan surat yang lebih mudah terlebih dahulu.

”Untuk materi hafalan kelas satu dimulai dengan Al Fatihah sampai Al Kautsar, kelas dua Al Maun sampai Al Adiyat, kelas tiga Al Zalzalah sampai Al Lail, kelas empat Assyamsi sampai Al Insiqoq , dan yang terakhir kelas lima Al Muthoffifin sampai An Naba. Sedangkan kelas enam hanya untuk materi pengulangan saja,” jelasnya.

Dengan adanya jadwal menghafal itu, secara otomatis setiap wali kelas harus memacu muridnya. Supaya disaat naik kelas ke jenjang berikutnya, murid tidak terbebani dengan hafalan lanjutan atau bahkan hafalan sebelumnya yang belum diselesaikan dengan maksimal.

Alhamdulillah, untuk saat ini setiap siswa yang naik kelas, mereka bisa beradaptasi dengan materi hafalan terbarunya. Selain itu, bagi siswa yang belum menuntaskan hafalannya di kelas sebelumnya maka saat ini masih dibimbing dengan perlahan. Sehingga kedepannya bisa menjalani materi hafalan terbarunya dengan lancar,” terangnya.

Dia menambahkan, untuk prosentase kemampuan hafalan murid disetiap kelas sebelum naik ke kelas selanjutnya dinilai baik. Sebab rata-rata di setiap kelasnya sekitar 85 persen murid mampu menghafal dengan baik. Namun untuk sisanya bisa dilanjutkan dikelas berikutnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

DPRD Kudus ‘Marah’ Gara-gara SDN Jepang Ambruk

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Wakil Ketua  Komisi D DPRD Kudus Ahmad Yusuf Roni, ‘marah’, yakni menyayangkan adanya kejadian tersebut. Pihaknya meminta Disdikpora segera bertindak melakukan perbaikan ruang kelas yang rusak.

Hal ini  terkait atap plafon kelas III di SDN Jepang Pakis 3, Kecamatan Jati,  Kudus, ambruk akibat lapuk dimakan usia. Atap ruang kelas ambruk, pada Senin (5/10/2015) malam hari.

”Kudus saat ini memperoleh alokasi dana alokasi khusus (DAK) pendidikan yang cukup besar. Kami minta agar ruang kelas tersebut bisa segera diperbaiki,” katanya.

Yusuf juga meminta agar Disdikpora terus menerus melakukan inventarisasi sekolah-sekolah yang rusak. ”Jangan sampai, kerusakan sekolah berakibat jatuhnya korban terutama para siswa,” tandasnya.

Sementara, Disdikpora hingga kini masih belum bisa dikonfirmasi. Kepala Disdikpora Joko Susilo juga tidak bisa dihubungi untuk dimintai keterangan perihal persoalan tersebut. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Siswa SMK NU Alhidayah Gebog Ditantang  Bikin Blog

 

Siswa SMK NU Alhidayah Kudus saat praktek TKJ (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa SMK NU Alhidayah Kudus saat praktek TKJ (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk memacu kreatifitas siswa dalam mengaplikasikan pembelajaran yang diberikan disekolah, siswa SMK NU Alhidayah Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, diberikan tugas tambahan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diterima.

Seperti halnya siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), siswa SMK NU Alhidayah ditantang untuk bisa membuat blog, software, desain progam dan lain sebagainya.

”Hal itu, nantinya akan dinilai oleh pihak guru atau pengampu. Untuk itu, kreatifitas siswa sangat dituntut untuk menguasai berbagai progam yang ada,” ujar M Rois, salah satu siswa SMK NU Alhidayah, jurusan TKJ.

Untuk memberikan kesempatan terhadap bagi siswa agar bisa lebih leluasa untuk belajar, pihak sekolah memberikan tambahan belajar di luar kegiatan belajar mengajar pada jam reguler.

“Untuk tambahan jam pelajaran itu memang tidak diatur secara rutin tiap hari. Namun hal itu menyesuaikan saja, tergantung pengampu dan gurunya,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rois, selain membuat program perangkat lunak, siswa juga juga diwajibkan untuk bisa merangkai serta menginstal komputer sampai tuntas, yakni sampai bisa dipergunakan kembali. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Brakk! Atap Ruang Kelas di SD Jepang Ambruk

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

Salah satu ruang kelas di SDN 3 Jepang Pakis, Kecamatan Jati, ambrol, pada Senin (5/10/2015). Hingga saat ini siswa terpaksa harus pindah ruangan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Gedung sekolah yang rusak masih ditemui di Kabupaten Kudus. Kali ini, atap plafon kelas III di SDN Jepang Pakis 3, Kecamatan Jati,  ambruk akibat lapuk dimakan usia. Beruntung tidak ada siswa yang menjadi korban.

Ali Munthoha, salah satu guru kelas SDN Jepang Pakis 3 mengatakan peristiwa ambruknya atap ruang kelas tersebut terjadi pada Senin (5/10/2015) malam hari.

Hal tersebut cukup disyukuri, lantaran ambruknya tidak terjadi pada saat jam belajar mengajar. ”Untungnya saja ambruknya pada malam hari. Kalau pas anak-anak belajar, tentu lain lagi ceritanya,” kata Ali.

Atap plafon kelas yang ambruk tersebut, menurut Ali, memang kondisinya sudah sangat lapuk. Sebelum kejadian, memang sudah ada tanda-tanda atap tersebut akan jebol.

Dikatakan Ali, selain ruang kelas III, ada beberapa lagi kelas yang kondisinya sama. Saat ini, pihak sekolah berinisatif menjebol atap plafon tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

”Daripada ambruk dan menimpa siswa, lebih baik kami jebol secara keseluruhan,” katanya.

Ali mengatakan, kondisi bagian atap ruang kelas di sekolahnya memang sudah tua. Hal ini lantaran SDN 3 Jepang Pakis sudah cukup lama tidak tersentuh rehabilitasi dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. ”Kira-kira ada empat hingga lima tahun tidak ada rehab,” ungkapnya.

Selain kondisi atap yang sudah lapuk, SDN 3 Jepang Pakis juga masih kekurangan ruang kelas. Dari total 143 siswa yang ada, hanya tersedia lima kelas saja.

”Termasuk ruang kelas yang atapnya ambrol, sebenarnya adalah kantor yang difungsikan juga untuk ruang kelas. Kami juga kekurangan ruangan untuk perpustakaan,” ujarnya.

Untuk itu, Ali berharap ada tindakan dari Disdikpora, siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan nyaman dan aman. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Ratusan Murid TK di Kudus Ikuti Manasik Haji

Anak-anak sedang mengikuti praktik manasik haji (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Anak-anak sedang mengikuti praktik manasik haji (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TKIT) yang berasal dari sembilan lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kudus, mengikuti praktik haji di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (3/10/2015).

Koordinator Pelatihan Manasik Haji, Santi Suwardi mengatakan, jumlah anak yang ikut praktik manasik haji tersebut sebanyak 751 siswa. Kegiatan pelatihan manasik haji ini bertujuan untuk mengenalkan rukun Islam kelima kepada anak didik sejak dini.

Ia katakan, sepuluh lembaga pendidikan yang dalam praktik manasik haji, di antaranya KB IT Umar Bin Khathab, PAUD IT Utsman Bin Affan, PAUD IT Mutiara Bunda, TPA Hanifa, KB Syamsa Auladina dan beberapa sekolah yang berada di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

“Apalagi, bagi umat Islam ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang membutuhkan persiapan secara mental dan fisik yang cukup, sehingga sejak usia dini perlu diperkenalkan serta dipersiapkan,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, anak-anak dikenalkan tata cara pelaksanaan ibadah haji, termasuk para orangtua yang ikut mendampingi anaknya.

Dirinya juga menyampaikan, jika kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menumbuhkan semangat para anak untuk melakukan ibadah haji sedini mungkin, melainkan juga ikut menumbuhkan semangat masyarakat. “Khususnya umat Muslim, bagi yang mampu untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut,” ugnkapnya.

Dalam pelatihan manasik haji tersebut, ratusan anak terlihat antusias mempelajari tata cara
menjalankan ibadah haji, meskipun berlangsung di tengah lapangan dengan cuaca agak panas. Keceriaan anak terlihat ketika praktik berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwah serta mencukur rambut layaknya haji sebenarnya.

Dalam praktik ibadah haji tersebut, para peserta mengenakan pakaian ihram dengan mendapatkan bimbingan dari guru sekolah masing-masing, guna memudahkan anak mengikuti seluruh kegiatan yang ada dalam rukun haji. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus Diminta Aktif Ikuti Kegiatan di Masyarakat

Beberapa siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus ketika mengikuti kegiatan di organisasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa siswa MA NU Miftahul Ulum Kudus ketika mengikuti kegiatan di organisasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Siswa MA NU Miftahul Ulum  Loram Kulon, Jati, Kudus diminta aktif untuk mengikuti berbagai kegiatan yang ada di masyarakat. Hal ini, dimaksudkan agar siswa dapat mengisi waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat.

Kepala MA NU Miftahul Ulum Misbachuddin mengatakan, kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif di masyarakat sangat banyak. Sehingga, siswa juga dapat belajar, tidak hanya di dalam sekolah saja, tapi di luar sekolah.

Dirinya menyampaikan, kegiatan itu bisa bersifat organisasi kemasyarakatan atau lainnya yang memang bisamenambah ilmu pengetahuan mereka. Seperti halnya ikut serta dalamIkatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar PutriNahdlatul Ulama (IPPNU).

“Bila usai sekolah siswa dapat memanfaatkan waktu secara positif, seperti halnya berorganisasi, maka saya yakin perilaku negatif anak anak bisadicegah. Seperti halnya kebut-kebutan di jalan, nongkrong dan lain sebagainya,” katanya.

Dengan berorganisasi, dirinya juga yakin, jika anak-anak akan memiliki karakter yang terampil, cerdas dan terdidik. Karena, pembentukan karakter siswa, katanya juga tidak hanya dari sekolah saja.

“Alhamdulilah rata-rata siswa disini sudah mulai ikut sertadalam organisasi,pada Jumat sore atau Minggu sore mereka aktif belajar berorgaisasi.Meskipunmereka tidak masuk dalam jajaran pengurus,namun mereka selaluaktif dalam kegiatan tersebut,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

DisdikporaKudus “Girang” Dapat Aplikasi Perhitungan Cepat, Mudahkan Mendata Tenaga Pendidik Hingga Ke Pelosok Daerah

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus bersama USAID Prioritas mengadakan kegiatan bersama untuk perbaikan pendidikan di Aula Disdikpora hari ini, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus bersama USAID Prioritas mengadakan kegiatan bersama untuk perbaikan pendidikan di Aula Disdikpora hari ini, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Dalam setiap daerah terdapat ratusan bahkan hingga ribuan tenaga pendidik yang tersebar dalam beberapa jenjang pendidikan. Untuk itu perlu adanya monitoring, agar kualitas peserta pendidikan mengalami peningkatan. Selain dari peserta didik tentunya tenaga pendidik juga perlu memperbaiki diri.

Pastinya hal tersebut tidaklah mudah, karena ada banyak sekali tenaga pendidik disuatu daerah. Diperlukan data valid untuk mengetahui kondisi tenaga pendidik terkini.

Witono Budi Utomo, Kasie PTK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus mengatakan pihaknya menerima aplikasi dari USAID Prioritas untuk mengetahui berbagai analisis dari data tenaga pendidik di Kabupaten Kudus. ”Pada dasarnya aplikasi ini sangat diperlukan Dinas dalam menangani tenaga pendidik, untuk pengembangan kompetensi,” ujarnya.

Ditemui disela kegiatan, Witono menambahkan aplikasi ini terhitung sangat cepat. Hanya dengan memasukkan data ke aplikasi akan muncul beberapa analisis. ”Seperti jumlah persebaran masing-masing daerah, apakah sudah memenuhi kuota atau tidak, serta tingkat kompetensinya. Sehingga dari dinas dengan mudah memperbaiki disektor mana saja yang belum tercukupi,” lanjutnya.

Menurutnya, aplikasi tersebut juga sangat mudah digunakan mengingat kesulitan dilapangan jika harus membentuk tim analisis sendiri, dengan menghabiskan banyak tenaga dan dana. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Disdikpora Kudus Atur Strategi Bantu Guru Kembangkan Karir

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus bersama USAID Prioritas mengadakan kegiatan bersama untuk perbaikan pendidikan di Aula Disdikpora hari ini, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus bersama USAID Prioritas mengadakan kegiatan bersama untuk perbaikan pendidikan di Aula Disdikpora hari ini, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan daerah dan bangsa pada umumnya. Nasib negara akan ditentukan juga oleh peran serta pendidikan dalam membangun karakter. Untuk itu, tenaga pendidik juga berperan sebagai faktor penentu kualitas pendidikan juga perlu ditingkatan.

Hari Riyadi, USAID Prioritas Semarang mengatakan perlunya setiap daerah melakukan monitoring kepada tenaga pendidiknya. ”Pihak yang berwenang untuk tingkat dasar ya dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga sendiri,” ujarnya.

Untuk itu, USAID Prioritas bersama dengan pemerintah Kabupaten yang diwakili oleh Disdikpora melakukan pemahaman melalui agenda yang diadakan sejak Selasa lalu (29/09/2015) hingga hari ini Rabu (30/09/2015) di Aula Disdikpora.

Dalam kegiatan tersebut, membahas mengenai penyusunan perencanaan strategis melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). ”Harapannya dinas untuk kedepannya bisa membantu guru mengembangkan karir  yang harus seiring dengan peningkatan kompetensi,” imbuhnya.

Kegiatan utama sebelum PKB, Dinas harus mampu mengumpulkan semua data pendidik. Sehingga kegiatan ini juga sebagai pendampingan pendataan dan analisis untuk mengetahui kondisi pendidikan Kudus lewat tenaga pendidik saat ini. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Mencengangkan, Sekolah Ini Mampu Buat Siswanya Lebih Kreatif

uru mengajarkan siswanya belajar kaligrafi di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

uru mengajarkan siswanya belajar kaligrafi di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain mewajibkan bagi siswa siswinya untuk mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) pramuka, MTs NU Khoiriyah, Bae, Kudus, juga mewajibkan kepada anak didiknya untuk mengikuti ekskul pilihan pribadi siswa. Baik mulai dari pencak silat, komputer, maupun kaligrafi.

Hal itu ditekankan oleh pihak sekolah supaya bisa membangkitkan jiwa kreasi siswa.

Salah satu siswa Ainur Imamah mengatakan, pihaknya mengikuti ekskul pilihan yang diwajibkan pihak sekolah, yakni berupa kegiatan kaligrafi.

Kegiatan yang diikutinya itu untuk melatih perkembangan ilmu agamanya. Sebab kegiatan tersebut berkaitan dengan baca tulis alquran.

“Saya mengikuti ekskul pilihan wajib itu lantaran sudah mendapat izin orang tua. Sebab ekskul ini bisa membuat pengetahuan agama meningkat. Yaitu khususnya di bidang BTA (baca tulis alquran,red),” katanya.

Meski begitu, kegiatan yang digelar setiap hari Senin seusai kegiatan belajar mengajar tersebut selalu dipenuhi siswa. Khsususnya kelas satu.

“Untuk kegiatan ini memang rata rata diikuti oleh anak kelas satu. Jumlahnya sekitar ada 25 siswa. Mereka juga berkeinginan untuk bisa memperdalam BTA lewat kaligrafi ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, kegiatan bisa membuat siswa lebih sadar bahwa kegiatan di sekolah bisa memberikan pendidikan tambahan. Sehingga kreativitas juga bisa meningkat. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Cegah Dampak Negatif Medsos, Ari Wijaya Terapkan Materi Khusus untuk Siswanya

Ari Wijaya kerap memantau postingan FB para murid di SMA 1 Kudus. Dari beberapa data yang diperolehnya, ia termotivasi mengajarkan internet secara bijak kepada muridnya dalam pelajaran kewirausahaan nanti. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Ari Wijaya kerap memantau postingan FB para murid di SMA 1 Kudus. Dari beberapa data yang diperolehnya, ia termotivasi mengajarkan internet secara bijak kepada muridnya dalam pelajaran kewirausahaan nanti. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Materi tentang kewirausahaan yang pernah diterapkan SMA 1 Kudus pada dua tahun lalu, akan dikembangkan lagi pada tahun ini. Ari Wijaya guru mapel Kewirausahaan mengatakan, materi tersebut akan diperkenalkan pada siswa kelas XI di SMA 1 Kudus.

”Rencananya saya menerapkan kembali materi kewirausahaan kepada para siswa. Khususnya siswa kelas XI. Dalam materi kewirausahaan ini, saya memberikan penerapan materi tentang bisnis online,” kata Ari saat ditemui sore ini di SMA 1 Kudus.

Ari menjabarkan penyampaian materi yang dipergunakan berupa teori dan praktek. Pada penerapan teori nanti, Ari menjelaskan seluk beluk mengenai bisnis online dan risikonya menghadapi konsumen dalam bisnis ini.

”Saya juga menyiapkan bekal untuk siswa agar memahami dunia onlineshop. Rencananya dalam sebuah kelompok, saya bebaskan mereka menjual apa saja dalam bisnis online ini. Boleh menggunakan media sosial apa saja, baik FB, twitter, Path, Instagram, dan sebagainya,” jelas Ari.

Tujuan dari materi ini bukan semata-mata mencari penghasilan saja. Tapi juga mengarahkan langsung kepada siswa, supaya mereka menggunakan internet dengan bijak. Ari mengemukakan alasannya menggunakan tujuan tersebut. Ia menilai banyak status yang tidak terlalu penting diungkapkan di medsos. Mulai dari keluhan maupun umpatan kasar dinilai tidak pantas masuk ke ranah medsos.

”Daripada punya FB, misalnya, buat mengumpat tidak jelas, maka saya arahkan mereka untuk kreatif dan bijak dalam menggunakan FB atau medsos lainnya,” pungkasnya. (HANA RATRI/TITIS W)

Untuk Tampil Maksimal, Siswa SMP 2 Mejobo Latihan Upacara Hingga 2 Hari

Para siswa SMP 2 Mejobo yang mengikuti ekskul paskibra foto bersama usai latihan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para siswa SMP 2 Mejobo yang mengikuti ekskul paskibra foto bersama usai latihan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Bagi SMP 2 Mejobo, upacara bendera merupakan suatu yang sakral. Sehingga para siswa yang bertugas menjadi petugas mempersiapkannya sejak 2 hari sebelum pelaksanaan. Mereka menggelar latihan pasukan pengibar bendera (Paskibra) setiap hari Jumat dan Sabtu seusai kegiatan belajar mengajar (KBM).

Pelatih Paskibra dari kelas IX Dhiyah Isvarina menjelaskan, latihan paskibra tersebut bukan sekedar latihan biasa. Namun dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler bagi kelas VII hingga kelas IX.

”Dalam latihan paskibra harus didasari dari sikap tanggung jawab. Sehingga disaat menjalankan tugas bisa khidmad,” ungkapnya.

Ekskul yang diikuti 30 siswa yang terdiri dari kelas VII hingga kelas IX tersebut, biasa berlatih layaknya pasukan baris berbaris (PBB). Sebab kegiatan dasar dari paskibra ialah baris berbaris.

”Jadi sikap tanggung jawab dan keseriusan dalam pelatihan ekskul paskibra tersebut mempermudah siswa dalam PBB. Sebab para peserta ekskul tersebut memang berkeinginan untuk mengabdikan diri sebagai paskibra yang mempunyai jiwa nasionalisme,” paparnya.

Dia menilai, dengan adanya ekskul paskibra ini meningkatkan jiwa nasionalisme siswa. Sebab kegiatan tersebut akan diaplikasikan pada pelaksanaan upacara peringatan hari bersejarah dan upacara rutin setiap Senin.

”Meskipun ekskul paskibra ini hanya mengedepankan PBB. Namun di dalamnya juga dibimbing dengan materi lainnya. Seperti halnya tanggung jawab, kekompakan, serta jiwa nasionalis, dan keikhlasan,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)