Begini Cara Ponpes Manba’ul A’laa Purwodadi Mengisi Ramadan

ponpes e

Santri melakukan kegiatan di Ponpes Manbaul A’laa Purwodadi Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Datangnya Ramadan, dimanfaatkan bagi banyak pihak untuk meningkatkan kegiatan keagamaan. Seperti tadarusan atau mengaji Alquran, mempelajari hadist dan tafsir serta pengajian.

Kondisi seperti ini juga terlihat di lingkup Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul A’laa yang berada di Kampung Jagalan, Kelurahan Purwodadi, Groboigan. Sejak awal Ramadan, kegiatan keagamaan untuk santri diperbanyak.

Selama bulan puasa ini, diadakan empat kali kajian tiap hari. Yakni, pagi, siang, sore dan malam. Kajian tersebut disampaikan oleh pendiri Ponpes Manba’ul A’laa KH Hamzah Matni beserta putra-putrinya yang saat ini sudah ikut membantu mengasuh para santri.

“Jumlah santri yang ada saat ini cukup banyak. Sekitar 200 orang, baik putra dan putri,” kata perwakilan ponpes, Ahmad Liwaul Hamdi atau lebih dikenal dengan nama Gus El.

Kegiatan selama Ramadan sudah diawali sejak pukul 03.00 WIB dengan melaksanakan salat malam. Kemudian dilanjutkan sahur dan salat subuh berjamaah yang kemudian dirangkai tadarusan satu juz.

Santri melakukan salat malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Santri melakukan salat malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Sekitar pukul 09.00  WIB, para santri kembali harus mengikuti kajian kitab kuning, tafsir maupun hadist. Kajian kembali digelar usai zuhur, sesudah asar dan selepas tarawih.

“Kajian di bulan Ramadan memang jauh lebih padat dari bulan lainnya. Kondisi seperti ini sudah rutin kita lakukan. Para santri ini baru libur atau pulang setelah salat Idul Fitri nanti,” katanya.

Sementara itu, pengasuh lainnya M Sirajuddin atau Gus Didin menambahkan, ponpes tersebut sudah berdiri sejak tahun 1978 lalu. Sampai sekarang sudah ada ribuan santri yang sempat menimba ilmu.

Selain dari wilayah Grobogan, sebagian santri juga berasal dari luar daerah. Bahkan, ada pula yang datang dari Lampung, Tangerang, dan Banten.

Editor : Akrom Hazami

 

Keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Hadiri Pembangunan Ponpes di Besito Kudus

Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani, pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki yang merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di kampus I Pondok Pesantren Al Furqon, Tulis, Kudus, Senin (18/1/2016). (Istimewa)

Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani, pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki yang merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di kampus I Pondok Pesantren Al Furqon, Tulis, Kudus, Senin (18/1/2016). (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Acara peletakan batu pertama pembangunan kampus 2 Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon, Dukuh Telogo, Desa Besito, Kecamatan Gebog, pada Selasa (19/1/2016), berlangsung istimewa.

Pasalnya, pada kesempatan itu hadir Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Beliau adalah pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki, yang merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi terkenal.

Sebelumnya, beliau juga hadir di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul yang digelar pada hari sebelumnya, yakni Senin (18/1/2016), di kampus I Pondok Pesantren Al Furqon, Tulis, Kudus.

Dalam acara peringatan yang didukung PR Sukun tersebut, beliau menyampaikan tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, dan keutamaan shalawat.

”Serta agar dalam bergaul dan menyampaikan dakwah, kita harus mencontoh Nabi Muhammad SAW. Beliau berdakwah dengan cara rahmatan lil alamin. Bukan dengan kekarasan. Apalagi seperti teroris dan membuat gelisah masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, juga disampaikan beberapa keutamaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di mana Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk bershalawat dan mendoakan keselamatan kepada Nabi, maka kebaikannya akan kembali ke kita.

Menurut beliau, ada contoh kebaikan shalawat. Yakni Nabi Adam diterima taubatnya oleh Allah SWT karena bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. ”Nabi muhammad SAW belum diciptakan secara jasad, tetapi nur (cahaya) beliau sudah diciptakan sebelum Nabi Adam,” tuturnya.

Contoh lainnya adalah ketika Nabi Nuh kapalnya bisa bergerak dan berlayar, juga karena di kapalnya ditulis Allah, Nabi Muhammad, keluarganya, dan khulafaurrosyidin.

”Sedangkan Nabi Ibrahim selamat ketika dibakar setelah bershalawat, dan Nabi Ismail tidak jadi disembelih karena bershalawat. Jadi, contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana pentingnya dan baiknya bershalawat itu,” imbuhnya.

Editor : Merie

Dari Saung-saung Sederhana Ini, Lahir Ratusan Penghafal Alquran

Beberapa saung yang ditempati santri Ponpes Al Haromain Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa saung yang ditempati santri Ponpes Al Haromain Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak jarang pola pendidikan di pondok pesantren juga semakin modern. Baik hal itu terkait sistem pembelajaran maupun fasilitas yang dimiliki pondok pesantren.

Namun hal itu berbeda dengan dengan Pondok Pesantren Al Haromain yang berada di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Sebab, pondok pesantren tersebut masih menggunakan saung atau gubug bambu untuk menampung anak didiknya. Selain itu sistem pengajarannya juga masih bisa dibilang kuno.

Pengasuh Ponpes Al Haromain K. Khumaidi Al Hafidz mengatakan, untuk bisa membuat anak didik lebih nyaman serta bisa menghafal Alquran dengan cepat, memang diperlukan suasana nyaman, hening dan sederhana. Seperti halnya fasilitas yang ada di pondok tersebut.

Pondok pesantren yang mempunyai santri sekitar 120 orang tersebut, memiliki saung sebanyak 15 unit, dengan masing-masing saung memiliki ukuran lebar sekitar 5 x 5 meter.

“Saung ini memang untuk tempat tidur santri, namun untuk kegiatan mengaji kita juga ada tempatnya sendiri, yakni saung yang berukuran agak lebar sekitar 8 x 8 meter seperti panggung. Yang penting, intinya ialah bagaiamana bisa memberikan mereka kenyamanan dalam mengaji dan menghafal Alquran,” paparnya.

Dari tempat sederhana itulah, pondok pesantren tersebut juga bisa meluluskan salah satu santrinya yang bernama Rohmat, yang saat ini bisa memasuki perguruan tinggi di Kota Surabaya dengan melewati Jalur khusus. Yakni melalui test hafidz atau hafalan Alquran.

“Ya alhamdulillah kesederhanaan atau kesalafan sistem pengajaran ini tidak membuat surut semangat para santri. Sebab mereka juga bisa membuktikan kepada masyarakat, bahwa mereka bisa diterima di perguruan tinggi di Kota surabaya lewat jalur hafalan Alquran. Selain itu, menurut saya orang mencari ilmu memang harus berani “rekoso” ikhtiar lahir batin, jauh dari kemewahan,” ujarnya.

Dia Menambahkan, selain perguruan tinggi di Suarabaya, santri dari lulusan Ponpes Al Haromain juga ada yang mendaftar di UNNISULA Semarang melewati jalur hafidz. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Maksimalkan Pengetahuan Agama, Ponpes MA NU Assalam Wajibkan Siswa Ikuti Kegiatan Muatan Lokal

Siswa sedang mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa sedang mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk memaksimalkan pengetahuan agama, Ponpes MA NU Assalam yang berada di Kecamatan Jati, mewajibkan anak didiknya untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Salah satu kegiatan tersebut adalah mengaji kitab kuning.

Kegiatan ini, biasa dilaksanakan pada pukul 15.00-18.00 WIB. Di mana, beberapa materi yang berkaitan dengan pendidikan dasar agama. Di antaranya, nahwu, shorof, Alquran Hadist, fiqih, tajwid dan lain sebagainya.

Kepala Ponpes MA NU Assalam Ma’ruf Sidiq menjelaskan, ngaji kitab tersebut merupakan alat untuk mempelajari mata pelajaran salaf atau kitab kuning yang ada di tempat tersebut.

“Salah satu tujuan pembelajaran ini, adalah untuk memberikan pemahaman pengetahuan agama, khususnya terhadap siswa baru. Karena, tak sedikit yang berasal dari sekolah umum. Meskipun ada yang dari sekolah agama, namun tak semuanya bisa membaca kitab kuning,” katanya.

Dengan adanya eskul tersebut, katanya, membawa perubahan yang cukup baik terhadap anak didik. Karena, siswa yang sebelumnya belum bisa membaca Alquran atau kitab kuning, secara perlahan dapat membaca dan memahami.

“Setidaknya, pada satu semster mereka bisa sedikit paham cara mengartikan kitab kuning per kata. Sehingga kedepnnya bisa dilanjutkan dengan pemahaman membaca,” tuturnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)