Satpol PP Mensinyalir Ada PKL di Alun-alun Rembang yang Gunakan Satu KTA untuk Beberapa Lapak

Sejumlah PKL yang berjualan di Alun-alun Rembang. Sebagian warga menilai jika keberadaan PKL ini masih belum tertata dengan baik. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Kepala Seksi Penegak Peraturan Daerah (Kasi Gakda) Satpol PP Rembang, Nur Wanto mengaku, pihaknya saat ini masih disibukkan dengan pendataan Kartu Tanda Anggota (KTA) paguyuban PKL Alun-alun Rembang.

Sementara itu, pihaknya juga mensinyalir masih ada banyak lapak yang masih menggunakan satu KTA, namun diperuntukkan beberapa lapak. Hal tersebut yang menyebabkan membeludaknya jumlah PKL di kawasan Alun-alun Rembang hingga berakibat semakin berkurangnya ruang gerak pengunjung alun-alun.

“Hingga kini kami masih dalam proses pendataan KTA sebagai bahan penertiban para PKL. Diduga ada beberapa pedagang yang membuka lapak lebih dari dua, namun hanya memanfaatkan satu KTA. Aturannya satu lapak, satu KTA,” ujarnya.

Satpol PP, katanya, akan melakukan koordinasi dengan pihak paguyuban untuk mengatur jumlah PKL yang hanya dibatasi sebanyak 94 Lapak. Termasuk pula pembahasan tata letak PKL, utamanya pelaku penjual jasa mainan anak yang berada di sisi timur alun-alun.

“Jumlah batas PKL hanya 94 lapak, jika lebih dari itu tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pengurangan lapak. Lebih tidak boleh, kurang bukan masalah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Keberadaan PKL di Alun-alun Rembang Dinilai Masih Semrawut

Sejumlah PKL yang berjualan di Alun-alun Rembang. Sebagian warga menilai jika keberadaan PKL ini masih belum tertata dengan baik. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Keberadaan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Rembang dinilai sejumlah warga masih semrawut. Hal itu, karena keberadaan mereka tidak tertata dengan baik, sehingga mengganggu fasilitas publik.

Misalkan saja fasilitas yang diperuntukkan bagi pejalan kaki di bagian pinggi alun-alun. Tempat yang sudah dikeramik, dan diperuntukkan untuk pejalan kaki itu, sebagian terampas karena digunakan untuk menggelar dagangan PKL.

Suryanto (43), salah satu warga Desa Gedangan,Rembang mengatakan, jika area di bagian pinggir alun-alun sejatinya diperuntukkan sebagai area pejalan kaki. Namun sayangnya kini justru disesaki oleh meja dari para pedagang.

“Selain itu, juga ada tikar yang memang diperuntukan untuk tempat makan di atas alun-alun bila tenda PKL sudah tidak muat pengunjung,” paparnya.

Dia melanjutkan, jika siang tidak ada PKL, lantai alun-alun serasa luas, tapi ketika malam hari justru semakin sempit gara-gara karpet lesehan dan meja PKL ditata hampir memakan separuh badan ruang gerak pejalan kaki.

Hal senada diungkapkan Sunarto (38) warga Babadan, Kecamatan Kaliori, Rembang. Pedagang mainan atau mereka yang menyewakan jasa mainan anak-anak juga memadati kawasan pelataran Alun-alun Rembang.

“Area lantai hampir tertutup penuh dengan jasa rumah balon yang dipasang melintang, sedangkan luasan badan jalan aspal bagi pengendara, termakan dengan jasa mainan kereta anak. Nah kondisi itu kan cukup menyita ruang gerak. Saya mau lewat harus menyeberang lewat jalan aspal karena sudah tertutup. Sedangkan yang di bawah juga terganggu dengan adanya kereta-keretaan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Bekas Cucian Piring PKL Alun-alun Rembang Tinggalkan Bau Tak Sedap

Bekas cucian piring PKL di kawasan Alun-alun Rembang yang menimbulkan bau tak sedap.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Warga mengeluhkan bekas cucian piring pedagang kaki lima (PKL) yang berada di Alun-alun Rembang. Hal itu, karena bekas cucian piring tersebut meninggalkan bau tak sedap, sehingga sangat mengganggu.

Sholikin (43), warga Turusgede, Kecamatan Rembang mengaku cukup prihatin dengan kondisi ini. Karena, warga yang melintas di kawasan alun-alun bukan hanya warga Rembang saja, tapi banyak juga yang dari luar daerah. Sehingga, kondisi seperti itu membuat citra Rembang kurang bagus, karena dinilai penataan atau pengelolaan PKL kurang bagus.

“Di daerah lain juga banyak PKL yang mangkal di kawasan alun-alun, seperti halnya Pati dan Blora. Tapi mereka bisa menjaga kebersihan. Bahkan, mereka bisa meraih Adipura, karena kotanya bersih, khususnya di kawasan alun-alun,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya meminta kepada pihak terkait untuk memberikan solusi terkait hal ini, dan memberikan sanksi tegas kepada PKL agar tidak membuang bekas cucian piring secara sembarangan. Pun demikian, pedagang juga diminta sadar akan pentingnya kebersihan.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Bupati Rembang Abdul Hafidz sudah mengimbau kepada para PKL di kawasan alun-alun agar menjaga kebersihan. Sehingga, tidak selalu muncul keluhan warga terkait kurangnya kebersihan di alun-alun.

“Selain itu, pemkab pada pertengahan tahun ini akan menyediakan bak-bak penampungan limbah sisa cucian piring atau gerabah. Sehingga nantinya dapat mengatasi persoalan tersebut,” paparnya.

Editor : Kholistiono

Picu Kemacetan, PKL di Jalan KH Mansyur Rembang Ditertibkan

Petugas Satpol PP menertibkan PKL yang yang biasa berjualan di Jalan KH Mansyur Rembang, karena memicu kemacetan. (Humas Setda Rembang)

Petugas Satpol PP menertibkan PKL yang yang biasa berjualan di Jalan KH Mansyur Rembang, karena memicu kemacetan. (Humas Setda Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Rembang menertibkan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang sering mangkal di Jalan KH Mansyur. Para PKL yang sebelumnya berjualan di badan jalan diminta pindah ke atas trotoar.

Kasi Penegak Perda Satpol PP Rembang Nurwanto mengatakan, penertiban pedagang di area tersebut karena sering macet saat jam pulang sekolah. Para pedagang yang berjualan di badan jalan persis di depan SD Kutoharjo IV dan SD Kutoharjo VI sering memicu kemacetan.Ditambah para orang tua yang menjemput anaknya ketika jam pulang sekolah berhenti di sembarang tempat, sehingga membuat ruas jalan tersebut semakin menyempit.

“Di sini kalau jam-jam pulang sekolah macet,karena kurang tertibnya penjemput dan pedagang. Kita bersinergi dengan kepala sekolah, supaya hak-hak pengguna jalan tetap terpenuhi dan pedagang juga masih bisa berjualan. Yang terpenting kemacetan tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Ia juga mengimbau kepada orang tua siswa yang mau menjemput anaknya bisa parkir dengan tertib di dekat trotoar. Jikapun ingin membeli jajanan, bisa turun dari motor dan tidak sambil naik motor yang membuat semrawut jalan.

Pihaknya akan memantau setiap harinya di jam-jam pulang sekolah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sementara, sesuai permintaan pihak sekolah setempat,pedagang diminta berjualan di trotoar, namun tidak nempel di pagar sekolah tetapi lebih maju.

Agus,penjual pentol bakso keliling mengaku setuju jika harus berjualan di atas trotoar. Terlebih para pedagang masih bisa berjualan, hanya masalah tempat tidak masalah yang penting tujuannya baik.“Iya Mas setuju. Yang penting kita masih bisa berjualan,” katanya.

Sementara itu, Imam Rudi salah satu warga Desa Tasikagung yang setiap harinya melewati jalan tersebut mengapreasiasi langkah Satpol PP. Setiap jam-jam pulang sekolah SD dirinya pun selalu terjebak macet di sana.

Editor : Kholistiono