PK di Kudus Dihukum Nyanyi Lagu Indonesia Raya dan Pancasila

pk 2

PK mendapatkan pembinaan dari Satpol PP Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

Murianewscom, Kudus – Sejumlah perempuan pemandu karaoke (PK)  yang diberikan pembinaan di kantor Satpol PP Kudus, diberikan hukuman unik. Hukuman itu, adalah hukuman untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghafalkan Pancasila. Sayangnya, banyak dari PK yang tak hafal.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan pihaknya prihatin dengan hal itu. PK yang biasanya menyanyi, ternyata tidak hafal lagu Indonesia Raya. Bahkan untuk menghafal Pancasila juga tidak bisa.

“Dari delapan PK yang kami hukum, enam di antaranya tidak bisa. Sedangkan yang bisa hanya ada dua saja,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (22/8/2016).

Menurutnya, hukuman itu sangat pas diberikan. Sebab pekerjaan mereka sebagai penyanyi, idealnya bisa hafal lagu. Ternyata mereka tidak mampu hafal lagu wajib Indonesia Raya dan isi Pancasila.

Hukuman itu memang jarang diberikan Satpol PP. Sedangan untuk penindakan, ke depannya akan digiatkan lagi. Bahkan tiap malam akan dilakukan razia membersihkan Kudus dari keberadaan karaoke yang beroperasi.

Menurutnya, Kudus tidak boleh ada karaoke yang menggunakan PK. Sebab Perda tentang hal itu sudah diatur. Bahkan MA juga menyebutkan demikian.

Beberapa waktu yang lalu, Satpol PP Kudus melayangkan peringatan kepada pemilik tempat karaoke. Surat tersebut berisi agar pemilik dapat menutup karaoke miliknya sendiri

 Editor : Akrom Hazami

 

Bocoran Penghasilan PK Seksi Kudus dalam Semalam

Sejumlah PK memberikan keterangan di kantor Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah PK memberikan keterangan di kantor Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Faktor ekonomi, memang kerap menjadikan alasan Pemandu Karaoke (PK) di Kudus beraksi. Apalagi, penghasilan yang didapat tidak tanggung tanggung. Biasanya, dalam ssmalam, seorang pemandu bisa mendapatkan pemasukan rata rata Rp 600 ribu.

Hal itu disampaikan Muhtarom, penyidik Satpol PP Kudus. Berdasarkan keterangan dari PK yang ditangkap, ekonomi merupakan alasan utama mereka beralih menjadi PK. Meskipun ada pula alasan lainnya yakni karena keluarga berantakan (broken home,red)

“Kalau alasan broken home ada, baik itu orang tuanya cerai, atau dia para PK yang sudah diceraikan oleh suaminya,” katanya kepada MuriaNewsCom

Seperti hanya L, PK asal Kudus. Dia terpaksa menjadi PK dengan alasan menyambung hidup. Sebab setelah ditinggal suaminya dia hidup sendirian dan harus butuh makan

Alhasil, para PK tersebut tergiur menjalankan pekerjaannya. Sebab, meskipun sepi mereka masih bisa mendapatkan penghasilan sedikitnya Rp 400 ribu

“Kalau ramai mungkin bisa mencapai angka Rp 1 juta. Sebab rata rata penghasilan mereka di angka Rp 600 ribuan,” ujarnya

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Sedang Layani Pelanggan, 8 PK di 2 Kafe Dijaring 

Video – Sedang Layani Pelanggan, 8 PK di 2 Kafe Dijaring

uplod jam 17 00 PK Kudus 1

PK dimintai keterangan di kantor Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya delapan pemandu karaoke (PK), ditertibkan Satpol PP saat kegiatan razia. Ke delapan PK tersebut, tertangkap basah saat melayani pelanggan di Kudus.

Hal itu disampaikan Muhtarom, penyidik Satpol PP Kudus. Menurutnya, kedua tempat tersebut berada di kafe daerah Ruko Panjunan dan sebuah tempat karaoke yang terdapat di lingkar selatan Jati-Jetak.

“Total delapan, oleh petugas sebagian langsung dibawa ke Satpol PP untuk diberikan pembinaan saat itu juga. Sedangkan tiga lainnya baru diberikan pembinaan segera,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Rata-rata, kedelapan PK tersebut berasal dari luar Kudus. Seperti Pati, Jepara bahkan dari Cirebon, Jawa Barat. Namun, dua di antaranya merupakan asli Kudus.

Menurutnya, ke delapan PK harus menandatangani perjanjian di atas materai tentang apa yang dilakukan. Yakni tidak akan menjadi pemandu karaoke di Kudus. Sebab, tidak semua titik, jadi tempat karaoke di Kudus. Terlebih memakai PK.

“Jika masih nekat melanggar perjanjian dengan apa yang mereka tanda tangani. Maka kami pastikan akan menempuh jalur hukum,” ancamnya.

Dia menambahkan, berdasarkan pengalaman, setelah tertangkap petugas, biasanya tidak akan ada lagi yang kembali tertangkap. Sehingga sampai sekarang belum ada yang mencapai proses hukum.

“Kami hanya menjalankan tugas, jadi kami melakukan hal semacam ini. Sebab mereka sudah melanggar perda tentang karaoke di Kudus,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Hai PK Seksi di Kudus, Kalian Akan Ditertibkan

Petugas sedang mendata dan membina PK yang tertangkap dalam razia, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas sedang mendata dan membina PK yang tertangkap dalam razia, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Keberadaan Pemandu Karaoke (PK) di Kudus kini terancam. Karena akan ada penertiban yang lebih gencar.

Penertiban di antaranya akan dilakukan oleh ribuan anggota Kader Siaga Trantib (KST) Kudus. KST dipersilakan untuk melakuakan penegakan perda di Kudus. Mereka juga sekaligus sebagai relawan yang akan membantu tugas Satpol PP dalam menegakkan aturan.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengungkapkan, ribuan kader tersebut siap memberantas karaoke dan PK. Terlebih, jumlah personel yang mencapai ribuan, jelas akan mempermudah pemberantasan.

“Selama ini tenaga kami memang terbatas,” katanya kepada MuriaNewsCom

Mengenai jumlah anggota, kata dia, tiap desa ada tiga anggota. Sedangkan di Kudus terdapat 123 desa serta sembilan kelurahan. Dengan tiga petugas tiap desa juga, akan lebih mudah menegakkan perda tingkat desa.
Dalam waktu dekat, pihaknya bakal melakukan razia kafe atau karaoke. Tujuannya jelas, menegakkan aturan dengan melarangnya operasi PK.

“Kalau dasar kami adalah dengan dasar Perda. Jadi kami semua menegakkan aturan tersebut dengan penegakan perda. Tidak hanya karaoke dan PK saja, melainkan aturan lainnya juga kami laksanakan,” ujarnya.

Jumlah PK di Kudus, dari pendataanya, sangat banyak. Mereka bukan hanya dari Kudus tapi juga dari daerah lain. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Mau Tahu Gaji PK di Kudus? Ini Pengakuannya

Karaoke_04

 

KUDUS – Beberapa pemandu karaoke (PK) di Kudus yang beberapa waktu lalu terjaring razia Satpol PP di salah satu kafe di Kudusmengaku jika dirinya bekerja di tempat tersebut dengan sistem bulanan. Untuk per bulannya, katanya, digaji sesuai dengan UMK Kudus, yakni Rp 1,38 juta.

SU, salah satu PK asal Demak mengaku jika dari pihak pengelola kafe menggaji dirinya dengan sistem bulanan, yang menyesuaikan standar UMK. Dirinya juga mengaku sudah lama bekerja di tempat tersebut. “Gajinya disesuaikan dengan UMK. Jadi sistemnya bulanan,” katanya.

Hal senada juga dikatakan HN, PK asal Kudus. Setiap bulannya, dirinya mengaku digaji oleh pengelola kafe dengan bayaran sesuai dengan UMK. HN mengaku menjalani pekerjaan sebagai seorang PK sudah selama tiga tahun.

“Saya sudah ada kalau tiga tahun bekerja di tempat ini. Namun dengan adanya penertiban dari Satpol PP, saya berkeinginan untuk bisa mendapatkan pekerjaan lain,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Satpol PP Kudus Sebut Razia Kafe Sering Bocor

Seorang Pemandu Karaoke dimintai keterangan petugas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang Pemandu Karaoke dimintai keterangan petugas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Upaya Satpol PP Kudus dalam menegakkan Perda terkait karaoke terus dilakukan, salah satunya dengan melakukan razia di beberapa kafe dan karaoke yang ada di Kudus. Namun, pihak Satpol PP mengakui jika razia tersebut sering bocor.

Seperti halnya yang dilakukan beberapa waktu lalu, ketika Satpol PP berhasil merazia salah satu kafe dan menindak beberapa pemandu karaoke (PK), namun ketika bergeser ke kafe lain, semuanya tiba-tiba sudah tutup.

“Diduga ada yang membocorkan. Jadi ketika melakukan penggerebekan di satu tempat, mereka mengabarkan kepada yang lainnya, jika ada razia,” ujar Kasi Penegak Perda pada Satpol PP Kudus Purnomo.

Ia katakan, jumlah PK di Kudus jumlahnya cukup banyak, dan mereka bukan hanya berasal dari Kudus saja, melainkan ada juga dari daerah lain luar Kudus. Sama seperti delapan PK yang tertangkap dalam razia waktu itu, juga berasal dari berbagai daerah yang berbeda.

“Nanti razia bakal kami lakukan secara rutin. Mengingat kegiatan tersebut merupakan tugas dari Satpol PP,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Kemolekan Tubuh PK Bikin Ngembalrejo Panas Dingin

ilustrasi karaoke

ilustrasi karaoke

 

KUDUS – Kemolekan perempuan yang bekerja sebagai Pemandu Karaoke (PK) bikin Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, panas dingin.

Sebab, ada PK yang mengekos di salah satu rumah warga setempat. Gara-gara tingkah PK yang tidak sesuai norma setempat, warga pun gerah.

“Sebab kemarin memang pernah ada pemilik kos yang menyewakan kamar kos kepada PK. Warga di sekitarnya merasa risih (pakaiannya tidak senonoh,red) di setiap saat,” kata salah satu pemilik kos di wilayah Ngembalrejo, Nurrochim.

Sebelum adanya penyewaan rumah kos yang disewakan kepada PK, wilayah Ngembalrejo ini tenang. Sebab rata-rata yang menyewa rumah kos ialah pelajar dan mahasiswa. Akan tetapi setelah rumah kos dihuni PK juga, wilayahnya menjadi gaduh.

Dia meminta agar pemilik kos bisa membuat wilayah desa nyaman. Kenyamanan itu juga bisa didapat dari rasa kehati-hatian saat menerima penyewa kos.

Setelah adanya pengawasan dari Pemerintah Desa Ngembalrejo, situasi lingkungan telah menjadi normal dan kondusif.

Yang jelas, kata dia, meskipun yang menyewakan rumah kos kepada PK itu hanya beberapa gelintir saja. Tapi dia juga kena imbas negatifnya.

“Yang penting citra negatif gara gara PK itu bisa disingkirkan. Namun setelah adanya pemantauan dari pemdes setempat, suasana bisa kondusif lagi,” tambahnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Merasa Paling Seksi, PK Gaduhkan Rumah Kos di Ngembalrejo Kudus

ilustrasi karaoke

ilustrasi karaoke

 

KUDUS – Merasa paling seksi, Pemandu Karaoke (PK) sempat menggaduhkan rumah kos di Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus. Diketahui, kegaduhan itu melibatkan PK dan pelajar.

Kepala Desa Ngembalrejo Moh Zakaria mengatakan sekitar tiga bulan lalu ada kegaduhan penghuni kos. Rumah kos tersebut disewakan kepada PK dan pelajar.  “Kondisi itu berakibat PK dan pelajar tidak tenang,” kata Zakaria.

Saat ini Pemerintah Desa Ngembalrejo melakukan pantauan terhadap rumah kos di wilayahnya. Mengingat beberapa waktu yang lalu, di salah satu rumah kos terjadi kegaduhan. Rumah kos itu dihuni PK.

Di wilayahnya memang banyak rumah kos. Hal itu lantaran desanya banyak berdiri bangunan instansi pendidikan. Baik mulai dari tingkatan MTs, MAN, SMA maupun perguruan tinggi.

Setidaknya ada 150 rumah kos. Dengan penghuni per rumah kos rata-rata 20 orang. Kondisi itu membuat desa gencar melakukan pemantauan terhadap penghuni kos.

Yaitu dengan cara menyambangi rumah kos satu persatu setiap bulannya. Kedatangan jajaran desa ke rumah kos itu bukan berarti untuk ikut campur. Namun sebagai bentuk pengawasan.

Penghuni kos juga diminta untuk melakukan kegiatan positif. Seperti mengaji Alquran, tahlilan, hingga jamaah salat.

Menurutnya, dengan pantauan semacam ini, maka secara tidak langsung bisa memberikan arahan kepada pemilik kos supaya mereka tidak meyewakan kepada sembarang orang.

Pihaknya juga akan bertindak tegas bila ada pemilik kos yang menyewakan kamar kos kepada PK. Sebab bila disewakan ke PK maka anggapan warga akan negatif terhadap wilayah ini.

Dengan demikan, desa yang berpenduduk sekitar 6.750 jiwa serta terdiri dari 41 RT dan 6 RW tersebut bisa tercipta suasana kondusif serta nyaman bagi warganya. Baik penduduk pribumi maupun penghuni kos. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)