Aksi 2 Bocah Curi Barang Petani Honggosoco Kudus Berakhir di Sini

Kapolsek Jekulo AKP Subakri. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, benar-benar naik pitam, beberapa waktu terakhir ini. Sebab, mereka kerap jadi korban pencurian barang taninya.

Petani pun mencari cara agar bisa menangkap pencuri. Mereka pun sepakat melakukan kerja sama satu sama lain. Seperti dengan membiarkan alat mesin diesel penyedot air irigasi, di sawah.

Benar, dua orang pencuri berusia belasan tahun datang ke sawah. LS (16) dan BD (14) warga Dawe, berniat mencuri mesin penyedot air itu. Belum sempat mengamankan barang curiannya, sejumlah petani langsung mengejarnya.

“Warga yang kebanyakan petani menangkap basah pelaku yang membawa alat tersebut untuk dibawa kabur. Namun petani berhasil menangkapnya dan mengamankan,” kata Kapolsek Jekulo AKP Subakri kepada wartawan di Kudus, Rabu (12/7/2017).

Pihaknya berterima kasih kepada masyarakat yang sudah ikut menangkap pelaku. Termasuk juga, lanjut Subakri, terima kasih karena warga tak melakukan hakim sendiri. “Pelaku benar-benar aman dari amukan warga,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Hasil Panen Bawang Merahnya jadi Juara di Aceh, Begini Respons Tri Joko Purnomo

Tri Joko Purnomo menunjukkan hasil panen bawang merah miliknya yang sebagian diantaranya disertakan dalam kontes hortikultura Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV di Aceh. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Komoditas bawang merah dari Grobogan berhasil meraih juara dalam Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV di Aceh. Bawang merah yang meraih juara dalam kontes hortukultura itu ditanam oleh Tri Joko Purnomo dari kelompok tani Niaga Tani Desa/Kecamatan Penawangan.

Joko mengaku tidak menyangka jika hasil jerih payahnya bakal jadi juara dalam kontes tingkat nasional tersebut. “Terus terang saya kaget dan tidak percaya saat dapat kabar ini,” kata Joko ditemui di rumahnya, Senin (9/5/2017).

Menurut Joko, bawang merah varietas Bima Brebes yang disertakan dalam lomba ditanam 22 Februari lalu. Kemudian, bawang merah itu dipanen pada 18 April dalam usia 55 hari. Usai dipanen, bawang merah sempat dijemur selama 14 hari sebelum dibawa ke ajang Penas KTNA tersebut.

“Sebenarnya, saya diajak untuk hadir ke acara Penas. Namun, karena kesibukan bersamaan, saya tidak bisa ikut,” jelas Joko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Penawangan tersebut.

Menurut Joko, saat kontes digelar pada 6 Mei lalu, dia sempat dapat SMS dari pihak panitia Penas untuk menghadiri acara pengumuman pemenang. Karena tidak ikut ke lokasi, informasi itu kemudian diteruskan pada pegawai Dinas Pertanian Grobogan yang hadir dalam acara Penas.

“Waktu itu pihak panitia tidak mengabarkan kalau saya dapat juara. Hanya memberitahukan untuk datang ke lokasi kontes karena bakal dilakukan pengumuman pemenangnya,” katanya.

Kabar kalau bawang merahnya menjadi juara dalam kontes hortukultura itu didapat dari staf dinas pertanian melalui WhatsApp. Setelah itu, datang ucapan selamat dari berbagai pihak.

“Beberapa pegawai dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng juga mengucapkan selamat. Kemudian dari rekan kelompok tani juga banyak yang memberikan ucapan selamat,” imbuhnya.

Joko tidak mengira jika hasil panennya bakal bisa jadi juara tingkat nasional. Sebab, banyak petani lain yang dinilai lebih dulu punya nama dalam urusan bawang merah. Salah satunya dari Brebes.

Editor : Akrom Hazami

 

Dinas Pertanian Grobogan Mulai Antisipasi Serangan Hama pada Tanaman Padi

Sejumlah petani di Grobogan menggunakan alat pengasap untuk membasmi hama tikus (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Pertanian Grobogan sudah mulai melakukan langkah untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya serangan hama pada tanaman padi. Tindakan itu dilakukan dengan harapan jika nanti muncul serangan hama akan mudah ditangani.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, antisipasi serangan hama itu memang lebih diintensifkan. Terutama untuk hama tikus dan wereng yang biasa menyerang tanaman padi.

“Kegiatan mengantisipasi hama sudah mulai kita lakukan di Kecamatan Godong, dan Penawangan. Untuk menekan gangguan hama, pihaknya menggandeng kerjasama dengan para petani. Yakni, untuk melakukan gerakan gropyokan tikus dan penyemprotan secara berkala,”

Menurut Edhie, salah satu upaya untuk mencapai target adalah menekan serangan hama sedini mungkin. Untuk itu, dia sudah menugaskan pada petugas penyuluh agar memonitor terus perkembangan di lapangan. Kemudian, semua kelompok tani sudah diminta agar segera melaporkan pada petugas terdekat jika muncul serangan hama di wilayahnya. Baik itu, hama tikus, wereng, penggerek batang dan lainnya. 

Editor : Akrom Hazami 

Petani Tewas Tersetrum Listrik di Karangtalun Blora

Warga menunjukkan kabel listrik yang dipegang petani hingga mengakibatkan tersetrum di Desa Karangtalun, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Seorang warga tewas tersengat listrik di rumahnya di Desa Karangtalun, RT 04/RW 01, Kecamata Banjarejo, Blora, Kamis (16/03/2017). Korban bernama Parjo Bin Padi (42). Yang bersangkutan meninggal dunia saat perjalanan ke puskesmas.

Parjo meninggal akibat tersenggol jek kabel listrik pompa air. Tepatnya sepulang dari sawah saat mau beristirahat. Dirinya sempat berteriak untuk meminta tolong ke tetangga rumahnya. Rupanya nyawa Parjo tidak tertolong saat dalam perjalanan menuju ke puskesmas, Jumat (17/03/17).

Dikutip situs resmi Polres Blora, saksi Mariyatun (30), mengatakan bahwa korban pada saat itu korban pulang dari sawah dan bermaksud untuk beristirahat. Kemudian dia mendengar suara teriakan. Spontan, dirinya bersama Parti (30) tetangga lain, menghampiri dan bermaksud menolong korban. Mereka hendak menarik korban dari kabel listrik tersebut.

“Korban menyenggol kabel listrik, sempat pingsan dan sadar sebentar, akan tetapi kemudian tidak sadarkan diri kembali. Kami sempat membawa korban ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayangnya nyawa korban sudah tidak tertolong dan korban telah meninggal dunia saat dalam perjalanan ke puskesmas,” kata Mariyatun.

Mendapat informasi adanya kejadian warga meninggal tersengat arus listrik, anggota Kepolsian Polsek Banjarejo Polres Blora langsung mendatangi TKP.

Dari hasil identivikasi oleh pihak Medis dari Puskesmas Banjarejo dan Kepolsian Polsek Banjarejo, dipastikan murni kejadian tewas tersengat arus listrik. Tidak ada bekas penganiayaan atau kejanggalan lain yang ditemukan pada tubuh korban.

Editor : Akrom Hazami

 

Harga Gabah di Kudus Anjlok


Warga menunjukkan lahan sawah di Kecamatan Undaan,Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi),

MuriaNewsCom, Kudus – Wakil Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sistem Kedungombo, Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Haryono mengatakan, saat ini harga jual gabah Rp 2,5 juta per ton atau Rp 2.500 per kilogram.

“Pada panen kali ini kualitas bagus. Tapi karena tak ada panas maka susah untuk menjemur padi. Jadi harganya anjlok,” kata Haryono.

Pada saat awal panen raya sebelum akhir Januari lalu, harga gabah masih mencapai kisaran Rp 3.600 per kilogram. Harga lalu merosot ke angka Rp 3.000 per kilogram. Dan kini anjlok hingga Rp 2.000 per kilogram.

Kondisi makin buruk yakni dengan banyak tengkulak atau penebas yang tidak bersedia membeli. Alasannya, saat ini panen berlangsung secara serentak sehingga untuk penggilingan beras sudah penuh.

Di samping itu juga, petani kesulitan dalam melakukan penjemuran gabah karena tidak adanya panas. Sementara jika terus dibiarkan, gabah akan rusak dan tumbuh menjadi benih. Petani yang sewa lahan malahan makin terpukul.  Untuk biaya sewa lahan per bahu saja, petani harus mengeluarkan dana antara Rp 16 juta hingga Rp 18 juta, serta biaya pengolahan lahan sekitar Rp 5 juta.  

Kades Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan harga jual gabah saat ini memang kurang bagus. Sejumlah petani terpaksa harus memanen padinya lebih awal. Sebab jika dibiarkan, padi akan membusuk. “Di Desa Undaan Lor, saat ini terdapat 425 hektare tanaman padi. Sebagian mulai dipanen, dan sebagian lainnya kondisinya tergenang air. Jadi kondisi memperihatinkan,” kata Edy.

Yusrul, warga Kaliwungu Kudus mengatakan, harga padi anjlok, dan bahkan jarang penebas yang mau membeli. Hal itu menyulitkan petani karena pasti merugi.

Editor : Akrom Hazami

“Petani Tak Usah Takut, Gudang Sekarang Tidak Menyeramkan”

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Blora – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Reni Miharti menyampaikan bahwa saat ini luas tanam diawasi langsung oleh Kementrian Pertanian lewat satelit. Oleh karena itu Gapoktan harus segera melapor ke Dinas Pertanian apabila mulai menanam padi dan nantinya akan dilaporkan ke Kementrian secepat mungkin.

“Diharapkan saat ini Poktan dan Gapoktan memiliki persediaan gabah segera transaksi dengan Bulog segera terjadi,” ujar Reni.

Di tahun 2017 ditargetkan serapan gabah di Kabupaten Blora sebesar 21 ton dan realisasi yang diminta Bupati Blora minimal harus 25 ton. Oleh karena itu Kepala Gudang Blora Suismuntoyo menyampaikan bahwa persediaan beras maupun gabah yang ada di gudang Blora telah dijual ke Medan, Kalimantan Tengah maupun daerah lainnya untuk mengosongkan gudang khusus untuk serapan gabah tahun 2017.

Juga menyampaikan bahwa Gapoktan yang memiliki mesin penggilingan dapat didaftarkan ke Bulog Pati yang nantinya dapat diberikan lisensi oleh Dinas Pertanian untuk menjadi mitra Bulog. Kelompok tani kecil juga diharapkan menjual gabahnya langsung ke gudang Bulog yang ada. Nantinya uang hasil penjualan gabah dapat langsung dicairkan ke kantor Bank BRI terdekat setelah mendapatkan SPP.

Dengan menjual langsung ke gudang, petani dapat mengetahui secara langsung kualitas gabah yang dimiliki, hal ini dikarenakan terdapat mini laboratorium di gudang. Petani juga mendapat bimbingan dari Bulog agar gabah yang dihasilkan dapat mencapai kualitas dengan harga jual tertinggi yaitu Rp 3.700/kg.

“Petani tidak usah takut ke gudang, gudang sekarang tidak menyeramkan, gudang Bulog Blora mendapat peringkat 1 penataan taman se-Indonesia, jadi tidak usah takut, disana juga ada minilab jadi petani bisa tau bagaimana gabah yang bagus,” ujarnya.

Bupati Blora Djoko Nugroho meminta kepada petani untuk menjual gabahnya hanya ke Bulog . Dengan begitu harga jual gabah dapat tetap tinggi. Tujuannya biar petani tetap bisa untung pada harga jualnya.

Saat ini harga beli gabah dari Bulog ke mitra sebesar Rp 3.700/kilogram (kg), sedangkan harga beli gabah dari mitra ke petani atau Poktan hanya sebesar Rp 2.500 / kg. “Dengan menjual gabah langsung ke Bulog diharapkan dapat menekan selisihnya harga beli dari bulog dan mitra sebesar Rp 1.200,” kata Djoko.

Djoko juga berpesan kepada poktan maupun gapoktan untuk memanfaatkan sarjana yang ada di desa dalam menyusun administrasi. Khususnya seperti kontrak jual beli gabah ke Bulog. Dengan begitu maka sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Saat ini kita dibantu oleh Pak Menteri Pertanian, maka kita juga harus meningkatkan serapan gabah di Blora, tapi kalian juga harus bisa dipercaya dan jangan bohong dengan kualitas gabah yang dijual ke Bulog harus sesuai ketentuan,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

Bahaya, Petani Terjang Banjir Demi Padi di Godong Grobogan

Seorang petani di Desa Klampok, Kecamatan Godong nekat menempuh bahaya guna menyelamatkan tanaman padinya dari bencana banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang petani di Desa Klampok, Kecamatan Godong nekat menempuh bahaya guna menyelamatkan tanaman padinya dari bencana banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kesedihan mendalam dirasakan sebagian petani di Desa Klampok, Kecamatan Godong, Grobogan. Hal ini, menyusul terendamnya tanaman padi mereka akibat meluapnya sungai Lusi.

Ironisnya, tanaman padi yang terendam tersebut sebagian besar sudah memasuki masa panen. Akibat bencana ini, para petani terancam tidak bisa memetik tanamannya. “Musim panen sebenarnya tinggal menunggu hitungan hari saja. Soalnya, tanaman sudah hampir seluruhnya menguning. Saya sebenarnya sudah merencanakan untuk memetik padi pekan depan,” kata Masruri, salah seorang petani di Desa Klampok, Senin (6/2/2017).

Dari pantauan di lapangan, lokasi sawah yang terendam air berada di sebelah selatan Bendung Klambu. Tepatnya, di sebelah barat dan timur jaringan irigasi primer. Dilihat dari sepanjang jalan inspeksi jaringan irigasi, areal sawah tampak seperti lautan. Praktis tidak ada tanaman di areal sawah yang terlihat karena terendam air. Areal sawah yang terendam ini diperkirakan mencapai puluhan hektar.

Salah seorang petani ada yang nekat menyusuri areal sawah. Tujuannya, untuk memetik sebagian tanaman padi yang belum sempat terendam air. Dari kejauhan petani yang ternyata seorang perempuan ini terlihat cukup kesulitan untuk menyusuri jalan di areal sawah yang terendam air. Dibantu sebatang tongkat, petani ini sangat hati-hati mencari jalan yang bisa dilalui dengan aman. Sebuah karung berisi padi yang digendong di punggungnya membuat petani ini terlihat cukup kelelahan saat berjalan menembus air setinggi pinggang tersebut.

“Sawah saya cukup jauh d iujung utara sana. Jaraknya dari sini sekitar 1 kilometer,” ujar petani yang mengaku bernama Narti, ketika sudah berhasil menyebrang hingga berada di tepi saluran irigasi.

Berdasarkan penuturan petani, areal sawah yang tinggal menunggu panen itu sudah terendam selama tiga hari. Menurut petani, jika tidak segera surut maka kemungkingkan besar tanaman padi akan rusak karena terlalu lama terendam air. “Kami sangat sedih dengan adanya musibah ini. Soalnya, tahun lalu juga terjadi musibah seperti ini yang mengakibatkan kami gagal panen,” imbuh Rokani, petani lainnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Petani Undaan Kudus Curhat ke Bupati Gara-gara Rugi Pas Panen

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan peninjauan di salah satu sudut sawah di Kecamatan Undaan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan peninjauan di salah satu sudut sawah di Kecamatan Undaan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom Kudus – Para petani yang berada di Kudus, khususnya Undaan kerap kali mengeluhkan ruginya hasil panen. Bahkan meskipun hasil panennya bagus, petani tetap merasa rugi lantaran tidak sesuai hasilnya.

Hal itu diungkapkan Bupati Kudus Musthofa di Kudus, Selasa (31/7/2017).  Menurutnya, para petani mengeluhkan kerugian saat usai panen. Kondisi tersebut dialami petani sudah cukup lama, yang disebabkan harga beli padi yang selalu anjlok saat panen.

“Ada sejumlah petani dan kelompok tani yang mengeluh demikian. Termasuk juga para petani di wilayah Undaan Lor saat panen raya semacam ini,” katanya kepada MuriaNewsCom saat kegiatan panen raya di Desa Undaan Lor 

Menurutnya, dari hasil keluhan para petani, pihaknya bakal melakukan komunikasi dengan pihak Bulog. Dari sana bisa diketahui apakah Bulog mampu membeli sesuai dengan keinginan petani ataukah tidak. Jika Bulog bisa membeli sesuai dengan keinginan petani, tentunya harga tersebut nilai yang wajar. Sebab Bulog memiliki aturan dalam pembelian gabah atau padi dari para petani. “Kalau harganya Rp 370 ribu per kuintal dari sawah, maka petani sudah masuk. Tapi belum tahu apakah Bulog bersedia demikian ataukah tidak demikian? tanyanya.

Hanya keluhan para petani tak melulu soal rendahnya harga padi panen, tapi juga dengan benih bantuan dari pusat yang diterima oleh para petani. Para petani mengeluhkan hal itu karena di sejumlah titik digratiskan bantuan benih, namun daerah lainnya harus membelinya dengan harga yang bervariatif.

Menyikapi hal itu, Bupati meminta pihak yang terkait dapat bertugas sebagaimana mestinya. Jika memang bantuan bentuknya gratis, maka sudah semestinya digratiskan kepada petani. Lain halnya jika harus membayar, maka harus ada aturannya. “Bagi wilayah yang sudah membagi dengan membayar saya meminta LPJ, berasal dari mana saja uangnya, dapat berapa dan digunakan untuk apa saja uangnya. LPJ tak harus formal, tulisan tangan juga boleh,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

10 Petani Langgar Lahan Perhutani Ditegur di Hutan Kendeng Kudus

Petugas Perhutani melakukan patroli di hutan Kendeng yang masuk wilayah Kecamatan Undaan, Kabupaten kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Perhutani melakukan patroli di hutan Kendeng yang masuk wilayah Kecamatan Undaan, Kabupaten kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perhutani KPH Purwodadi Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penganten melakukan patroli hutan di wilayah Kendeng, Undaan, Kudus, Jumat (20/1/2017). Hasilnya, petugas BKPH menemukan petani yang sedang menanam di kawasan yang dilarang. Mereka melakukan penanaman semusim.

Asisten Perhutani (Asper) BPKPH Penganten Ridho Hariyanto mengatakan, para petani itu segera diamankan. Mereka bukan warga Undaan, melainkan warga Sukolilo Pati. Mereka selanjutnya akan diminta untuk menandatangani surat pernyataan. Surat berbunyi untuk tak menggunakan lahan guna melakukan tanaman semusim. “Kami memberikan kesempatan untuk petani merawat tanaman sampai panen. Jika dilihat tinggal dua bulan lagi panen. Namun setelah itu tidak ada lagi tanaman semusim,” kata Ridho.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengungkapkan, sedikitnya 10 lebih petani tertangkap tangan sedang mengolah lahan pertanian. Para petani tersebut masih nekat menanam tanaman semusim jenis jagung, meskipun jelas-jelas sudah ada larangan. Kawasan hutan Kendeng dilarang digunakan tanaman semusim. Karena akan merusak hutan.

Tanaman semusim tak mampu menjaga tanah dan air sehingga membuat banjir di sejumlah titik seperti di kawasan Wonosoco Undaan. Selain ada puluhan petani yang terjaring, ada pula yang melarikan diri begitu saat penertiban dilakukan.

Editor : Akrom Hazami

Areal Padi Diserang Wereng, Tentara Grobogan Beraksi

Para petani di Desa Karangrejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, sedang melakukan penanganan hama wereng yang menyerang tanaman padi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para petani di Desa Karangrejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, sedang melakukan penanganan hama wereng yang menyerang tanaman padi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan tak biasa terlihat di areal persawahan Desa Karangrejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jumat (6/1/2016). Sejumlah anggota TNI yang berbaur dengan para petani setempat untuk menyemprot tanaman padi. Penyemprotan itu dilakukan lantaran ada sebagian tanaman yang mulai diserang hama wereng.

Kepala Desa Karangrejo Sri Hartati mengatakan, areal tanaman padi yang diserang wereng belum begitu luas. Namun, pihaknya langsung melaporkan serangan hama pada petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian TPH Grobogan.

“Serangan wereng ini bisa berkembang cepat kalau tidak segera ditangani. Makanya, begitu ada kabar wereng menyerang, saya langsung koordinasi dengan PPL,” katanya di lokasi.

Menurutnya, laporan yang disampaikan langsung direspons dengan cepat. Selain menyediakan bantuan obat, dinas terkait juga mengajak petani untuk menyemprot tanaman padi yang terkena wereng secara serempak.

“Saya mengucapkan terima kasih dengan cepatnya penanganan yang dilakukan. Dalam penanganan hama wereng, petani juga dibantu anggota Babinsa dari Koramil Sulursari,” imbuhnya.

Sementara itu, PPL Dinas Pertanian TPH Grobogan Mustagfirin menyatakan, pihaknya mengapresiasi cepatnya laporan yang disampaikan para petani berkaitan dengan serangan wereng. Sebab, jika laporannya lebih lambat diterima maka areal yang terserang bisa cepat meluas. Sebab, perkembangan wereng memang berlangsung cepat.

“Areal yang terkena wereng hanya beberapa hektare saja dan tingkat serangannya belum begitu parah. Kita harapkan, dengan penanganan ini hama wereng bisa teratasi,” ungkapnya.

Untuk penanganan wereng tadi, ada sekitar 40 petani yang diajak melakukan gerakan penyemprotan serempak. Selain itu, kegiatan juga didukung sejumlah anggota Koramil Sulursari.

Dengan penyemprotan serempak maka jangkauan penanganan hama bisa lebih luas. Hal ini di sisi lain bisa menekan penyebaran wereng ke areal padi lainnya.

Dijelaskan, tanaman padi yang ada di sawah saat ini umurnya beragam. Yakni, mulai 50-60 hari. Perbedaan umur tanaman ini disebabkan tidak serempaknya masa tanam yang dilakukan petani.

Editor : Akrom Hazami

Petani Grobogan Terima Pembagian Kartu Tani untuk Tebus Pupuk Bersubsidi

Petugas dari BRI unit Brati menyerahkan kartu tani pada salah seorang petani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari BRI unit Brati menyerahkan kartu tani pada salah seorang petani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan -Para petani di berbagai kecamatan mulai menerima pembagian kartu tani. Untuk mendapatkan kartu tani petani harus mengambil di kantor BRI terdekat.

Pemimpin Cabang BRI Purwodadi Agung Nugraha menyatakan, penyaluran kartu tani sudah mulai dilakukan sejak 10 Desember lalu. Penyaluran kartu tani dilayani di 34 kantor BRI unit yang tersebar di 19 kecamatan.

“Sudah kita bagikan kartu taninya sejak beberapa hari lalu. Sampai saat ini, jumlah kartu tani yang sudah kita serahkan ada 797 kartu,” kata Agung pada wartawan, Kamis (15/12/2016).

Dijelaskan, alokasi kartu tani keseluruhan yang harus disalurkan sebanyak 58.465 kartu. Untuk tahun ini, target penyaluran yang ditetapkan sebanyak 2.000 kartu.

Menurut Agung, untuk pendistribusian kartu tani itu tidak bisa dilakukan dengan cepat karena ada beberapa kendala. Seperti, data petani harus terkumpul dengan lengkap termasuk input kuota pupuk yang menjadi jatah penerima.

Untuk masalah pendataan ini, pihaknya tidak bisa melakukan sendiri karena keterbatasan tenaga. Tetapi, butuh bantuan dan kerja sama dari instansi lain, khususnya Dinas Pertanian Grobogan melalui tenaga penyuluh lapangan.

Kendala lainnya adalah kurang pro aktifnya sebagian petani untuk membuka rekening sebagai salah satu persyaratan membuat kartu tani.

“Beberapa kendala ini menyebabkan kartu tani tidak bisa dibuat atau dibagikan serempak. Meski demikian, kita targetkan pada tahun 2017 nanti, penyaluran kartu tani sudah tuntas seluruhnya,” jelasnya.

Agung menambahkan, fungsi utama kartu tani tersebut untuk penebusuan pupuk bersubsidi. Sebelumnya petani harus membeli pupuk dengan uang tunai di pengecer atau kios. Setelah memiliki kartu tani maka harus digunakan untuk menebusnya sesuai dengan kuota yang ada dalam data dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

Kartu tani yang dimiliki petani hanya bisa digesek di tempat pengecer di mana mereka terdaftar untuk mendapatkan pupuk. Sehingga, petani tidak bisa membeli pupuk lewat pengecer di tempat lain di luar alokasi yang sudah ditentukan.

“Untuk alat gesek transaksi kartu tani ditiap pengecer nanti akan kita sedaikan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Kudus Terganggu Genangan Air

Petani melintas di jalan perbatasan Undaan Lor dengan Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom / Faisol Hadi)

Petani melintas di jalan perbatasan Undaan Lor dengan Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom / Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) lahan pertanian milik petani Undaan, Kudus, terganggu genanang air. Hal itu disebabkan karena air irigasi di sawah tidak bisa dibuang. Kondisi demikian menghambat proses pertanian setempat.

Kades Wates Sirin, mengatakan sawah warga tidak memiliki aliran pembuangan air irigasi. Jadi air irigasi yang masuk ke sawah dibiarkan mengendap dan hilang dengan sendirinya.

Bila air tak juga mengendap, maka sawah penuh air. “Area sawah di sini mencapai 425 Ha. Sawah tidak memiliki saluran pembuangan. Air pun jadi mandek, dan menggenangi sawah warga,” kata Sirin, Rabu (5/10/2016).

Menurutnya, jika air bisa dibuang ke jalur irigasi di Desa Undaan Lor, maka sawah warga bisa selamat dari luberan air. “Kalau dulu di sekitar jalan itu ada sudetan. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Praktis, air tidak bisa mengalir ke irigasi Undaan Lor,” ujarnya.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan, saluran di desanya lebih rendah dari Desa Wates. Air dari Desa Wates untungnya tidak dibuang ke irigasi Desa Undaan Lor. “Jika itu terjadi maka air akan membanjiri persawahan warga desa kami,” kata Edy.

Dia mengatakan, luar area sawah desanya sekitar 400 Ha. Sebagian besar merupakan dataran rendah ketimbang Wates. “Kami tidak bisa mengorbankan petani di sini. Jadi air dari Wates tidak bisa dikirim ke saluran air sawah di Undaan Lor” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Potensi Kedelai dan Jagung Grobogan Terus Digencarkan

Para orang tua wali murid LPIT Ilma Nafia sedang beraksi menciptakan produk minuman berkualitas dari bahan kedelai dan jagung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para orang tua wali murid LPIT Ilma Nafia sedang beraksi menciptakan produk minuman berkualitas dari bahan kedelai dan jagung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Momen Hari Kartini yang jatuh 21 April lalu dimanfaatkan Majelis Silaturahmi Guru dan Orangtua Wali Murid (Masigo) Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Ilma Nafia di Kecamatan Godong untuk mengangkat pamor kedelai dan jagung. Dua komoditas pertanian yang selama ini jadi andalan di Grobogan. Caranya, dengan menggelar lomba kreasi minuman sehat dengan bahan dasar dari kedelai dan jagung.

“Seperti kita ketahui, produk jagung dan kedelai disini melimpah. Nah, kami mencoba untuk memberikan tantangan untuk menciptakan minuman dari dua bahan tersebut,” kata Ketua Masigo LPIT Ilma Nafia Godong Siti Zamrotun.

Menurutnya, selama ini, jagung dan kedelai memang sudah dimanfaatkan untuk beragam produk konsumsi. Namun, kebanyakan adalah jenis makanan atau camilan. Sementara untuk produk minuman yang terbuat dari jagung dan kedelai belum begitu banyak.

“Lomba kreasi minuman sehat ini diikuti 22 tim. Masing-masing tim terdiri dari 2 orang. Untuk juri kita ambilkan dari orang yang kompeten dibidangnya. Selain itu, kami juga bikin lomba kreasi jilbab,” bebernya.

Tujuan utama lomba kreasi ini bukan berorientasi mencari juara. Tetapi, menggerakkan minat dan kemauan ibu-ibu untuk selalu berkreasi dengan kegiatan positif dengan memanfaatkan bahan yang murah dan mudah didapat.

Harapannya, produk yang diciptakan nantinya bisa terus dikembangkan. Baik untuk konsumsi keluarga maupun untuk usaha kecil. Dengan demikian, produk itu bisa bermanfaat dan menambah pendapatan.

Editor : Akrom Hazami

Tanaman Padi Kebanjiran, Petani di Godong Dapat Klaim Asuransi Rp 23 juta

Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada menyerahkan klaim asuransi pada perwakilan petani didampingi Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada menyerahkan klaim asuransi pada perwakilan petani didampingi Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Program asuransi usaha tani mulai dirasakan manfaatnya oleh sebagian petani di Grobogan. Indikasinya bisa dilihat dengan adanya penyerahan klaim asuransi sebesar Rp 23.040.000 pada petani yang terancam gagal panen.

Acara penyerahan klaim asuransi usaha tani dilakukan Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada perwakilan petani yang dilangsungkan di Aula Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan, Sabtu (9/4/2016). Ikut mendampingi penyerahan klaim asuransi tersebut Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati.

Petani yang mendapat klaim asuransi tersebut berada di dua desa di Kecamatan Godong. Masing-masing, Desa Werdoyo dan Desa Guyangan. “Petani di dua desa itu dapat klaim asuransi karena tanaman padinya mati akibat kebanjiran pada bulan Maret kemarin. Tanaman padi yang mati ini umurnya hampir dua bulan,” kata Indri.

Luas lahan pertanian yang terkena musibah itu ada 4,68 hektar. Rinciannya, di Desa Werdoyo ada 3,68 hektar dan di Desa Guyangan seluas 1 hektar.

Indri menyatakan, program asuransi usaha tani itu dinilai sangat bermanfaat buat petani. Sebab, ketika ada ancaman gagal panen, para petani bisa mendapatkan klaim dari PT Asuransi Jasindo selaku BUMN yang dipercaya menangani masalah tersebut.

Meski cukup bermafaat namun sampai sekarang, minat petani untuk ikut program asuransi ini belum menggembirakan. Pada tahun lalu baru 781 hektare luasan lahan pertanian yang diikutkan dalam program asuransi.

“Target kita tahun lalu sebanyak 13.000 hektare bisa masuk asuransi. Namun, kenyataannya baru 781 hektare yang diikutkan asuransi. Dengan adanya pembayaran klaim ini secara tidak langsung akan meningkatkan minat petani buat ikut asuransi. Ini merupakan peyerahan klaim asuransi usaha tani pertama di Grobogan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Tahun Ini, Petani di Kudus Kembali Dapat Bantuan Alat Panen Padi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kelompok tani di Kudus tahun ini bakal mendapatkan bantuan alat panen padi lagi, seperti tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, jumlah alat panen padi yang bakal diberikan kepada beberapa kelompok tani tersebut, jumlahnya sebanyak 12 unit. Jumlah ini, lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai 15 unit.“Untuk kedatangan alatnya kapan, kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari pemprov,” katanya.

Menurutnya, alat panen padi yang nantinya bakal diberikan kepada petani tersebut, tingkat lolosnya bulir padi sekitar tiga persen, dengan syarat alat panen tersebut dibersihkan menyeluruh. Jika tidak, maka hasilnya tidak akan sebagus itu.”Dengan adanya alat tersebut, maka dapat mempermudah petani untuk panen padi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan, alat panen padi yang diberikan kepda petani tersebut masih perlu modifikasi, jika memang nantinya alat panen padi yang diberikan sama dengan sebelumnya.

“Alat panen padi mekanis yang ada saat ini sudah digunakan untuk panen awal Januari lalu, hasilnya masih belum maksimal, karena masih ada bulir padi yang lolos. Pelu ada modifikasi alat, agar tidak begitu banyak bulir padi yang lolos,” katanya.

Adanya alat panen modern tersebut, menurutnya, memang sangat membantu petani, apalagi tenaga untuk memanen saat ini semakin berkurang.

Dengan adanya alat panen padi itu, biaya panen juga bisa ditekan. Misalnya, untuk per hektare sawah, bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 3 juta, jika panennya mengandalkan tenaga alat tradisional, karena tenaga manuisanya cukup banyak. Sedangkan jika menggunakan mesin modern, biayanya hanya berkisar Rp 2 juta.

Editor : Kholistiono

Berikut Cara Efisien untuk Petani Dalam Menyiram Tanaman

Metode irigasi tetes yang sedang diuji coba di lahan Kebun Belajar Pertanian di sebelah utara kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Metode irigasi tetes yang sedang diuji coba di lahan Kebun Belajar Pertanian di sebelah utara kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Pemanfaatan teknologi untuk mendukung meningkatnya hasil pertanian tampaknya perlu dilakukan petani di Grobogan. Salah satunya adalah teknologi pembuatan irigasi tetes yang bertujuan untuk menghemat air.

Selain itu, melalui metode ini, keperluan air pada tanaman dapat diatur sesuai kebutuhan. Kemudian, air yang disalurkan melalui irigasi tetes dipastikan akan tepat sasaran dan tidak ada yang terbuang percuma.

”Metode irigasi tetes, saat ini sedang kita uji coba di lahan Kebun Belajar Pertanian di sebelah utara kantor. Dengan langkah ini, kita harapkan petani bisa tambah pengetahuan dan nantinya bisa menerapkan metode tersebut di areal sawah,” kata Kadinas Pertanian TPH Grobogan melalui Kabid Hortikultura Grobogan Imam Sudigdo.

Menurutnya, secara singkat irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk. Dimana, sistem kerjanya adalah dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman. Baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa, dan emitor.

Sumber air dalam irigasi tetes ini ditampung dalam bak penampungan dan disalurkan melalui pipa PVC atau bambu ke areal sawah. Fungsi pipa ini layaknya saluran primer dalam irigasi teknis. Dari pipa ini kemudian diberi selang kecil yang diberi semacam kran kecil ke tiap-tiap tanaman.

”Pada prinsipnya, pembuatan irigasi tetes ini mudah, murah dan hemat tenaga kerja. Saat ini, irigasi tetes ini lebih banyak digunakan untuk tanaman hortikulura,” katanya.

Selain irigasi tetes, ada satu lagi teknologi pivot yang juga berfungsi untuk penyiraman tanaman. Dimana, pivot ini memerlukan alat khusus yang bisa menyiram tanaman dalam jangkauan yang lebih luas dan bisa digunakan setiap dibutuhkan. Fungsi pivot ini seperti alat penyiraman untuk rumput di taman. (DANI AGUS/TITIS W)

TNI Blora Turun ke Sawah Perangi Hama Blas

Babinsa Banjarejo memberikan penyuluhan bersama UPTD Pertanian Banjarejo, antisipasi hama blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Babinsa Banjarejo memberikan penyuluhan bersama UPTD Pertanian Banjarejo, antisipasi hama blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Serda Sabar Harjono Babinsa Koramil 03/Banjarejo Kodim 0721/Blora bekerjasama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan dan Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Pertanian kecamatan Banjarejo turun ke sawah. Kegiatan tersebut untuk memberikan penyuluhan dengan melakukan penyemprotan tanaman padi di lahan seluas 2,5 hektare, milik Daman dan Narto kelompok tani Dukuh Temboro, Desa Sumberagung, Kecamatan Banjarejo, Blora. Selasa (22/12/2015).

Salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi padi adalah penyakit padi, salah satunya adalah penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Penyakit blas yang lazim disebut tekek (cekik) ini dapat menurunkan hasil secara nyata. Karena menyebabkan leher malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis, sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso.

”Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas diantaranya adalah iklim makro dan mikro, musim, suhu dan kelembapan, cara budidaya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi,” Jelas Mulyono Kepala UPTD Pertanian Banjarejo.

Terpisah Danramil 03/Banjarejo Kapten Inf Sukemi mengimbau dan mengajak para petani untuk selalu bekerjasama dan koodinasi dengan Babinsa, PPL, dan UPTD. Danramil berharap di kegiatan peyemprotan ini harus tuntas. Agar panen nantinya mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak gagal panen.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Barokah Jaya, Kasturi, mengucapkan banyak terima kasih kepada TNI khususnya Babinsa Koramil 03/Banjarejo Sabar Harjono, yang selalu aktif memberikan penyuluhan juga contoh kepada petani di desa ini. ”Tata cara melaksanakan penanggulangan hama pada tanaman padi agar tahan terhadap serangan hama,” tutur Kasturi. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

3 Desa di Blora ‘Tersenyum’ Dapat Bantuan Alat Pertanian

Rusdi Padjung saat menaiki ala pertanian berupa penggilingan padi di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Rusdi Padjung saat menaiki alat pertanian berupa penggilingan padi di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – 3 Desa ‘tersenyum’ karena senang mendapat bantuan alat pengolahan pertanian pascapanen saat kedatangan staf ahli Kementrian Desa Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan, Rusnadi Padjung di Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Blora, Jumat (18/12/15).

Penerima bantuan mesin pengolahan pertanian pascapanen yakni Desa Gayam, Desa Kemiri dan Desa Bangsri. Alat pengolahan itu meliputi mesin penggiling jagung dan mesin penggiling padi.

Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kaitannya dengan pengelolaan hutan bersama masyarakat desa memang memberikan bantuan berupa mesin-mesin pengolahan pertanian pascapanen.

“Diharapkan dapat mensejahterakan dan meningkatkan peran masyarakat desa sekitar hutan,” tutur Rusnadi saat membacakan surat mandat Menteri Desa Marwan Jafar.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Nyelong Inga Simon mengungkapkan acara ini merupakan tindaklanjut MoU Kemendes PDT Trans dengan Perhutani dalam rangka pengelolaan hutan bersama desa. “Diharapkan masyarakat desa hutan bisa lebih kreatif memanfaatkan hasil hutan sehingga dapat memperkuat sumber ekonomi,” harapnya. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Hujan Mulai Turun, KPH Purwodadi Siapkan Penanaman Kayu Putih

 

Ratusan bibit kayu putih telah disiapkan untuk ditanam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan bibit kayu putih telah disiapkan untuk ditanam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Perum Perhutani KPH Purwodadi dalam waktu dekat akan mulai melakukan penanaman kayu putih di sejumlah kawasan hutan. Persiapan tanam ini dilakukan seiring sudah mulai seringnya hujan turun dalam beberapa minggu terakhir.

”Di areal hutan yang akan kita tanami kayu putih sudah mulai diguyur hujan beberapa kali. Jika intensitas hujan ini bisa naik terus, maka kemungkinan pada bulan Desember, bibit pohon kayu putih sudah bisa kita tanam di kawasan hutan. Jadi, kita lihat dulu perkembangan cuaca dalam bulan ini,” terang Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri didampingi Kasi PSDH dan Lingkungan Dwi Anggoro Kasih.

Dijelaskan, pada tahun 2015 ini, Perum Perhutani KPH Purwodadi untuk pertama kalinya akan mengembangkan penanaman pohon kayu putih. Rencananya, kayu putih akan ditanam di lahan seluas 892,3 hektar.

Lokasi penanaman kayu putih seluas 294,7 hektar ditempatkan di BKPH Penganten dan sisanya sebanyak 597,6 hektar di BKPH Jatipohon. Lokasi penamanam kayu putih tersebut ditempatkan di lahan yang masih kosong, tanamannya rusak atau kurang produktif.

”Saat ini kita baru pada tahap pembuatan bibit kayu putih dan persiapan lahan. Sebanyak 750 ribu bibit kita bikin sendiri dan 750 ribu lainnya diambilkan dari KPH sekitar,” ujarnya.

Ditambahkan, penanaman kayu putih nanti akan dilakukan dengan sistem plong-plongan atau kaplingan. Yakni, untuk areal seluas 15 meter akan ditanami kayu putih. Kemudian, areal seluas sembilan meter dipakai untuk tanam palawija.

”Untuk daun kayu putih ini mulai bisa dipanen ketika sudah berusia tiga tahun. Kemudian, selang sembilan bulan berikutnya baru bisa dipanen lagi daunnya,” imbuhnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Petani Jagung di Pati Malah ‘Berjoged’ Saat Bencana Kemarau

Seorang petani menunjukkan jagung yang ia panen di tengah kekeringan yang melanda Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO

Seorang petani menunjukkan jagung yang ia panen di tengah kekeringan yang melanda Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO

 

PATI – Bagi sejumlah petani, kemarau yang berimbas pada kekeringan menjadi malapetaka. Namun, hal sebaliknya bagi petani jagung di Desa Talun, Kecamatan Kayen, Pati.

Mereka bisa ‘berjoged’ karena riang. Mereka memanen jagung di lahan sawah 120 hektare saat kekeringan panjang melanda sejumlah daerah, termasuk Pati. Karena itu, sejumlah petani jagung menganggap kemarau juga membawa berkah bagi mereka.

“Saat ini, petani di Pati masih bisa memanen tanaman palawija itu menjadi berkah di tengah kekeringan panjang yang melanda Pati. Daerah lain mungkin belum bisa merasakan panen di tengah kekeringan, tapi petani di Pati masih bisa panen. Ini benar-benar berkah,” kata Bupati Pati Haryanto saat dimintai keterangan MuriaNewsCom, Senin (24/8/2015).

Ia menambahkan, panen jagung di tengah kekeringan ini mencapai 9,5 ton jagung pipil kering per hektare. Karena itu, kerja keras petani yang memperjuangkan menanam palawija di tengah kekeringan perlu mendapatkan apresiasi. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Petani Diiming-imingi Perda Perlindungan dan Pemberdayaan

 

Kunker anggota DPRD Jateng ke Pemkab Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kunker anggota DPRD Jateng ke Pemkab Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Peran para petani cukup diperhitungkan. Hal ini, setidaknya bisa dilihat dengan disiapkannya Perda yang mengatur masalah perlindungan dan pemberdayaan petani oleh Pemprov Jateng.

”Saat ini, peraturan untuk melindungi dan memberdayakan petani masih berupa draft. Jadi, kedatangan kami kesini untuk mencari masukan buat penyempurdaan draf raperda,” kata Ketua Badan Pembentukan Peratuan Daerah (BPPD) DPRD Provinsi Jawa Tengah Abdul Aziz saat melakukan kunjungan kerja di Grobogan siang tadi.

Kedatangan wakil rakyat sebanyak 14 orang itu disambut Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki di ruang rapat wakil bupati. Ikut mendampingi, Stah Ahli Bupati Grobogan Sugeng, Kadinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto dan beberapa pejabat terkait lainnya.

Menurut Abdul Aziz, tujuan pembuatan Perda nanti cukup bagus. Dimana, perlindungan dan pemberdayaan terhadap petani itu sudah dibutuhkan. Di beberapa daerah lain, seperti Jawa Timur sudah memiliki Perda seperti itu.

Dijelaskan, dalam masalah perlindungan, ada beberapa poin menarik. Yakni, masalah ganti rugi gagal panen dan asuransi pertanian. Kemudian, di bidang pemberdayaan adalah meningkatkan pendidikan dan pelatihan serta penguatan kelembagaan petani.

Khusus untuk asuransi pertanian, pada tahun ini akan ada proyek percontohan dengan dana dari APBN. Dimana, untuk Jawa Tengah dapat jatah lahan seluas 155 hektar.

“Premi asuransi ini besarnya sekitar Rp 35 ribu perbulan. Sementara nilai klaim nantinya berkisar Rp 6 juta,” imbuhnya.

Kadinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dimintai tanggapannya menyambut positif dengan adanya Perda tersebut. Sebab, aturan tersebut dirasa sudah dibutuhkan oleh para petani. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Rusak Parah, Warga Grobogan Pertanyakan Perbaikan Saluran Irigasi Primer

Saluran irigasi yang kondisinya rusak parah dan hingga kini belum ada perbaikan (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Saluran irigasi yang kondisinya rusak parah dan hingga kini belum ada perbaikan (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Kebijakan penghentian pasokan air Waduk Kedungombo untuk perbaikan saluran irigasi masih menjadi tanda tanya petani. Sebab, hingga akhir bulan ini belum ada tanda-tanda bakal dilakukannya kegiatan perbaikan sejumlah titik saluran irigasi yang rusak parah. Padahal, pengeringan saluran irigasi primer itu sudah dilakukan sejak awal Juli lalu.

”Saluran ini sudah rusak sejak beberapa tahun lalu. Dulu, kabarnya sudah mau diperbaiki tetapi sampai sekarang belum ada kenyataannya,” ungkap Sutrimo, petani di Desa Depok, Kecamatan Toroh.

Dari pantauan MuriaNewsCom, kerusakan saluran primer paling parah berada di wilayah Desa Krangganharjo dan Desa Sugihan, Kecamatan Toroh. Total saluran yang rusak sekitar 300 meter panjangnya. Selain dua desa tersebut, aliran air dari saluran ini juga dipakai para petani di Desa Depok.

”Kerusakan saluran ini sudah sangat parah dan mendesak diperbaiki. Kalau dibiarkan seperti ini maka akan mengganggu kelancaran distribusi air,” kata Slamet, petani di Desa Sugihan.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono menyatakan, penutupan Waduk Kedungombo itu biasa dilakukan tiap tahun, yakni pada kurun waktu Juli hingga awal September. Selain untuk menghemat debit air, penutupan itu digunakan pihak BBPSDA untuk mengecek dan memperbaiki saluran irigasi primer. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Berharap Bisa Raup Untung pada Lebaran, Justru Petani Melon Malah Merugi

melon (e)KUDUS – Puluhan petani melon di wilayah Kecamatan Undaan Kudus terpaksa pasrah, setelah tanaman buah melon yang ditarget bisa mendatangkan hasil untuk keperluan lebaran mengalami gagal panen. Lebih dari 50 persen tanaman melon yang berada di hamparan ladang seluas lebih dari 200 hektar, mati terserang hama penyakit. Sedang, sebagian besar tanaman melon lainnya berbuah tetapi hasilnya kurang maksimal.

Kepala Desa Kalirejo Kecamatan Undaan, Agus Haryanto, mengatakan, puluhan hektar tanaman melon di desanya mengalami gagal panen. Sebagian besar milik Kelompok Tani Sidomakmur dan Cangkringrejo, kegagalannya mencapai 50 persen dari luasan lebih 100 hektar. Sedang tanaman melon milik Kelompok Tani Panderejo dan Kadutrejo yang luasannya relatif kecil.

”Sebagian besar petani melon tempat kami benar- benar menangis. Hasil tanaman yang diharapkan bisa untuk menambah kebutuhan lebaran malah gagal panen,” terangnya.

Tanaman buah melon dan semangka di wilayah Undaan, biasanya disiapkan untuk musim tanam ketiga (MT III) sekitar bulan Juli ini. Tetapi tahun ini banyak petani melon melakukan tanam lebih awal pada akhir April lalu, dengan target bisa dipanen saat bulan Ramadan. Selama Ramadan, kebutuhan buah segar meningkat, sehingga harga jualnya terdongkrak naik.

”Petani berharapnya seperti itu. Bagi pemilik lahan pas- pasan, menanam melon memang lebih menguntungkan jika tidak terserang penyakit,” ungkapnya.

Dia pun merinci, untuk biaya produksi tanam satu kotak sawah atau sekitar 1.500 meter persegi, dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Namun, jika sukses dipanen, hasilnya bisa berlipat mencapai antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Petani di Undaan Menangis, Ratusan Hektar Tanaman Melon Gagal Panen

melon (e)KUDUS – Ratusan hektar tanaman melon, mengalami gagal panen. Hal itu terjadi setelah tanaman buah musiman tersebut terserang penyakit dan akhirnya mati.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Budi Santosa mengatakan, tanaman melon banyak ditanam petani di Undaan. Antara lain di Desa Kalirejo sekitar 100 hektar, Kutuk 50 hektar, Berugenjang 33 hektar, Lambangan 15 hektar, Glagahwaru 2 hektar, serta di Desa Sambung dan Terangmas, masing-masing 1 hektar.

”Sejumlah petani sudah memanen, tetapi puluhan petani lain terpaksa membiarkannya setelah tanaman melonnya mati dan buahnya membusuk akibat terserang hama kutu yang mengandung virus. Terdapat sekitar 50 persen tanaman melon tak bisa dinikmati hasilnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, cuaca panas membuat virus berkembang cepat. Daun tanaman menjadi kuning keriting dan buahnya tidak berkembang, hingga akhirnya mati dan membusuk. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)