Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah di Kudus Anjlok

Sejumlah petani di Kabupaten memanen cabai di sawahnya, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Harga cabai rawit dan bawang putih di Kabupaten Kudus, Jumat (11/8/2017) turun drastis. Turunnya harga dua komoditas tersebut lantaran stok yang melimpah sementara daya beli masyarakat masih sama.

Petugas pengumpul data pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Noor Rokhis mengatakan, anjloknya harga dua komoditas tersebut terlihat jelas di tiga pasar tradisional. Untuk cabai rawit rata-rata turun antara Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

”Di Pasar Bitingan, harga cabai rawit mengalami penurunan dari Rp 17 ribu menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Kemudian di Pasar Kliwon dari Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Jember harganya dari Rp 18 ribu jadi Rp 15 ribu per kilogram,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, untuk bumbu dapur jenis bawang, harganya juga mengalami penurunan. Untuk bawang merah yang semula Rp 22 ribu, kini turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan untuk bawang putih, harganya yang pernah melambung hingga Rp 31 ribu  kini hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Sedang, untuk komoditas lainnya masih cenderung stabil. Seperti telur ayam negeri yang harganya masih Rp 20 ribu per kilogram, gula pasir Rp 12 ribu per kilogram, dan daging sapi KW 1 seharga Rp 110 ribu per kilogram.

“Harganya berkembang tiap hari, namun perkembangan masih fluktuatif, tergantung stok dagangan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Ini yang Buat Petani di Kudus Sering Galau

Petani menumpuk gabahnya usai panen, untuk dibawa pulang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani menumpuk gabahnya usai panen, untuk dibawa pulang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Cuaca yang tidak menentu membuat petani di Kudus kebingungan. Sebab hujan yang kadang masih turun, serta panas yang menyengat membuat petani kesusahan.

Tengok saja Hasan, petani asal Kaliwungu yang usai panen, dia kesulitan menjemur padi hasil panen lantaran panas yang tidak dapat seharian penuh. Terlebih, hujan juga masih sering mengguyur daerahnya.

”Biasanya kalau pagi itu panas, siang atau sore baru hujan. Kadang juga sebaliknya. Hal itulah yang membuat petani susah menjemur padi hasil panen,” katanya.

Biasanya, petani juga menitipkan padi di jasa pengering padi. Namun sekarang susah karena lokasi juga penuh dengan padi hasil panen. Hal itu disebabkan karena panen yang hampir berbarengan di berbagai daerah.

Selain itu, model pengeringan yang mengandalkan sinar matahari juga membuat kesulitan. Sebab hujan sering datang tiba-tiba, sehingga penyedia jasa juga tergesa-gesa mengamankan padi yang dikeringkan.

Hasan menambahkan, baginya bukan hanya mengeringkan padi yang susah, namun untuk kembali menanam juga susah. Kondisi hujan yang tidak terlalu intensif membuat sungai dan sawah tidak terlalu banyak air. Akibatnya sawah kekurangan air pada musim tanam berikutnya.

”Akhirnya kalau memang mentok ya beli air, karena memang intensitas hujannya kurang. Sungai saja masih kosong airnya,” keluhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Padi Ambruk, Petani di Gulang Mejobo Terancam Merugi

Salah satu petani di Desa Gulang, Mejobo mengecek kondisi padi setelah diterjang angin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu petani di Desa Gulang, Mejobo mengecek kondisi padi setelah diterjang angin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah petani di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus terancam merugi. Hal ini, gara-gara tanaman padi yang berada di sawah desa setempat banyak yang ambruk karena diterjang angin.

Ruslan, salah satu petani di desa tersebut mengatakan, padi yang ambruk tersebut rata-rata berusia tiga bulan dan dalam waktu dekat direncanakan untuk dipanen. Namun, dengan kondisi itu, petani khawatir tak bisa memanen padinya dengan hasil maksimal.

“Banyak yang ambruk, padahal sebentar lagi panen. Kalau kondisinya begini, tentunya kami juga harus melakukan penanganan secara cepat. Kami mengikat padi-padi itu agar tidak terkena air. Kami juga akan menyemprot padi supaya dapat berisi lagi,” ujarnya, Jumat (4/3/2016).

Dari pantauan MuriaNewsCom, memang rata-rata padi warga Gulang maupun Payaman Mejobo yang berada di dekat jalan lingkar kondisinya ambruk.

Menurutnya, kondisi seperti ini bukan hanya sekali ini saja. Namun, beberapa waktu lalu ketika musim hujan dan angin kencang, banyak tanaman padi milik petani juga ambruk.

Editor : Kholistiono
Baca juga : Belasan Hektare Tanaman Padi di Mejobo Kudus Roboh Diterjang Angin Kencang

Biar Padi di Payaman Kudus Tak Rusak, Petani Lakukan Trik Ini

Petani mengolah lahannya di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani mengolah lahannya di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Intensitas hujan tinggi disertai angin kencang di  Kudus akhir-akhir ini, membawa pengaruh besar terhadap petani. Khususnya, mereka yang padinya ambruk terkena tiupan angin kencang.

Mi’an, salah seorang warga Payaman RT 2 RW 3, Kecamatan Mejobo, misalnya. Dia terpaksa mengikat padinya yang ditanam di lahan seluas 1.750 meter persegi.   “Bila tidak saya pocong, kayak gini, maka nantinya akan rugi. Sebab padi ini sudah berusia 2, 5 bulan dan sebentar lagi juga akan panen,” katanya.

Dia tidak mau rugi mengingat besarnya biaya sewa lahan. Dia menyewa lahan sekitar Rp 2 juta. Bila padi rusak, maka harganya pun akan anjlok.  Jika demikian, maka dia akan rugi besar. “Ya mudah-mudahan nanti yang bulan-bulan kemarau seperti Juli, modalnya akan kembali. Karena lahan ini akan saya tanami palawija,” tambahnya.

Berbeda dengan petani lainnya dari Dukuh Bancak,Payaman , Sipan. Dia enggan mengikat padinya lantaran terlalu repot. “Ribet,tidak ada tenaga khusus memocong padi,” kata Sipan.

Dia melanjutkan, rata-rata sawah yang berada di dekat jalan lingkar Kudus Ngembal ini memang ambruk. Setidaknya tanaman padi yang ambruk kena hujan deras dan angin kencang, sekitar 8 hektare.

Editor : Akrom Hazami

Sering Kena Banjir, Petani di Karangturi Tanami Sawahnya dengan Kangkung

Petani ketika memanen kangkung di sawah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani ketika memanen kangkung di sawah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebagian petani di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus lebih memilih menanami sawahnya dengan kangkung daripada padi. Hal ini, menyusul sering adanya banjir yang menggenangi sawah mereka.

Kahono, salah satu petani asal Dukuh Karangturi mengatakan, petani yang sawahnya tidak bisa dimanfaatkan untuk menanam padi, kemudian ditanami kangkung. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan hasil dari bertanam kangkung.

“Kangkung ini kan bisa dipanen satu bulan sekali, jadi bisa menambah penghasilan warga. Hal itu juga bisa menjadi alternatif selain menanam padi, karena memang sebagian sawah petani tidak bisa ditanami padi karena imbas banjir,” katanya.

Menurutnya, ketika musim kemarau, petani juga ada yang masih memilih menanam kangkung, dengan memanfaatkan air dari sumur pompa.

Editor : Kholistiono

Tahun Ini, Petani di Kudus Kembali Dapat Bantuan Alat Panen Padi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kelompok tani di Kudus tahun ini bakal mendapatkan bantuan alat panen padi lagi, seperti tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, jumlah alat panen padi yang bakal diberikan kepada beberapa kelompok tani tersebut, jumlahnya sebanyak 12 unit. Jumlah ini, lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai 15 unit.“Untuk kedatangan alatnya kapan, kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari pemprov,” katanya.

Menurutnya, alat panen padi yang nantinya bakal diberikan kepada petani tersebut, tingkat lolosnya bulir padi sekitar tiga persen, dengan syarat alat panen tersebut dibersihkan menyeluruh. Jika tidak, maka hasilnya tidak akan sebagus itu.”Dengan adanya alat tersebut, maka dapat mempermudah petani untuk panen padi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan, alat panen padi yang diberikan kepda petani tersebut masih perlu modifikasi, jika memang nantinya alat panen padi yang diberikan sama dengan sebelumnya.

“Alat panen padi mekanis yang ada saat ini sudah digunakan untuk panen awal Januari lalu, hasilnya masih belum maksimal, karena masih ada bulir padi yang lolos. Pelu ada modifikasi alat, agar tidak begitu banyak bulir padi yang lolos,” katanya.

Adanya alat panen modern tersebut, menurutnya, memang sangat membantu petani, apalagi tenaga untuk memanen saat ini semakin berkurang.

Dengan adanya alat panen padi itu, biaya panen juga bisa ditekan. Misalnya, untuk per hektare sawah, bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 3 juta, jika panennya mengandalkan tenaga alat tradisional, karena tenaga manuisanya cukup banyak. Sedangkan jika menggunakan mesin modern, biayanya hanya berkisar Rp 2 juta.

Editor : Kholistiono

Ini Fakta, Petani Undaan Kudus Belum Panen tapi Sudah Bergelimang Uang

Petani mengolah lahan sawahnya di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani mengolah lahan sawahnya di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS –  Meski waktu panen masih sekitar 10 hingga 15 hari ke depan. Akan tetapi, rata-rata petani yang berada di wilayah Undaan, Kudus, sudah bisa menjual padinya ke penebas padi.

Oleh sebab itu, saat ini petani tersebut sudah bisa merasakan hasil dari penanaman padinya selama 3,5 bulan yang lalu.

Salah satu petani dari Medini, Undaan, Zayid mengatakan,  saat ini para petani sudah mengantongi uang sebagai bentuk uang muka dari pembayaran padi. “Dengan harga yang sudah disepakati antara petani dan pembeli,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, saat ini harga padi
masih stabil. Bahkan harga itu masih bisa meningkat. Yakni sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 480 ribu per kuintalnya.

Bila saat musim panen nanti tiba dengan cuaca cerah, maka secara otomatis harga padi akan meningkat.

Selain itu, lanjut Zayid, untuk lahan seluas 1.400 meter saja, petani sudah bisa mendapat uang sekitar Rp 4, 5 juta.

Tidak semua petani telah menerima uang muka karena padinya sudah dijual. Ada juga petani yang belum bersedia menjualnya lantaran ingin menunggu harga bagus. Dan kemungkinan akan dijual saat masa panen tiba.

Salah satu pembeli padi dari Ngawi, Jawa Timur, Sunaryo Ngadi mengatakan, dirinya memang sengaja datang ke Undaan, Kudus, sebelum masa panen. Selain untuk memantau padi, juga membelinya.

“Saya datang sebelum panen, karena saya puas bisa melihat padi ini. Nanti saat panen tiba,tinggal memotong padi, memprosesnya dan membayar kepada petani,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Petani di Wonosoco Kudus Was-was Lahannya Terendam Banjir

Beberapa petani sedang mengontrol padi di sawah masing-masing (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)’

Beberapa petani sedang mengontrol padi di sawah masing-masing (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)’

 

KUDUS – Banjir bandang yang melanda Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, membuat petani di desa tersebut was-was. Mereka khawatir, banjir susulan akan terjadi lagi, dan tidak hanya melanda desa tetapi juga lahan pertanian .

Salah satu petani yang bernama Sawijan mengatakan, meskipun pihaknya berdomisili di Medini, Undaan, namun pihaknya juga mempunyai lahan persawahan di daerah Wonosoco.

“Saya juga hawatir dengan kejadian ini, sebab sawah saya berada di area Wonosoco. Selain itu, meskipun rumah saya di Medini, akan tetapi saya selalu mengkroscek kejadian ini. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi. Setidaknya bisa cepat surut,” paparnya.

Dia menilai, bila Wonosoco terkena banjir gunung, maka secara otomatis lahan persawahan di tempat tersebut juga akan terkena imbasnya. Sebab, daerah Wonosoco itu lebih tinggi dibanding letak persawahan. Bahkan, bisa saja air bercampur bebatuan serta lumpur bisa memenuhi persawahan.

Hal senada juga disampaikan Subari. Menurutnya, sebelum kejadian ini pihaknya juga sudah menebar pupuk sebanyak 3 kuintal. Namun setelah beberapa jam, hujan turun dengan deras dan mengakibatkan banjir.

“Ya mudah – mudahan kejadian ini tidak terulang lagi. Meskipun persawahan ini sering dilanda banjir, akan tetapi banjir yang terdahulu itu bukan bercampur lumpur atau bebatuan. Akan tetapi, tahun ini malah bercampur lumpur dan bebatuan,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Kasihan! Petani di Kaliwungu Harus Rela Antre Hingga Tengah Malam untuk Mengairi Sawah

Petani sedang beraktivitas di sawah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani sedang beraktivitas di sawah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski wilayah Kudus sudah beberapa kali turun hujan, namun, hal itu belum membuat petani di Kaliwungu aman dengan tanaman padi di sawah. Karena, petani masih mengandalkan air dari saluran irigasi, yang saat ini dioperasikan secara bergiliran.

Bahkan, untuk bisa mengairi sawah, petani harus rela mengantre hingga tengah malam, agar mendapatkan giliran. Hal ini dilakukan, karena petani baru saja menyebar benih dan jika tidak mendapatkan air dikhawatirkan benih padi akan mati.

“Mulai pagi hingga sore, pasti banyak petani yang sudah booking untuk pengairan sawah mereka. Padahal petani di sini kan banyak, jadi mereka rela antre hingga tengah malam untuk bisa mendapatkan pengairan,” kata Widodo, pengelola pengairan irigasi sawah di Kaliwungu.

Kondisi tersebut, kata dia sudah berlangsung beberapa pekan. Yakni semenjak memasuki MT I. Hujan yang menjadi pertanda awal musim hujan langsung dimanfaatkan masyarakat untuk menyebar benih, untuk kemudian ditanam.

Namum, belakangan hujan tidak turun secara intens, sehingga petani harus mengandalkan irigasi. Bahkan, katanya, pengairan bisa dilakukan hingga pukul 02.00 WIB. “Barulah mesin untuk irigasi dimatikan dan digunakan lagi besok harinya. Habis subuh, pukul 04.30 WIB sudah ada yang pesan lagi. Jadi mulai jam itu mesin irigasi kembali dihidupkan,” ungkapnya.

“Di daerah sini masih mending, jika dibandingkan dengan daerah lain yang sama sekali tidak ada irigasi atau irigasi sawah karena sudah rusak,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Petani Kudus Tepuk ‘Jidat’ Karena Ratusan Hektare Sawah Tak Bisa Ditanami

Petani berada di sawah yang tergenang air di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani berada di sawah yang tergenang air di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Memasuki musim hujan, kebanyakan para petani disibukkan dengan persiapan bercocok tanam. Namun, di Kudus, yang masuk pada MT I, petani malahan tidak dapat melakukan penanaman.

Hal itu diutarakan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Budi Santoso. Menurutnya, dalam MT I ini, luasan lahan yang tidak dapat ditanami mencapai 800 hektare.

Jumlah tersebut terbagi dalam dua kecamatan, yakni Kecamatan Jekulo dan Kecamatan Mejobo. Masing masing kecamatan yang tidak dapat ditanami seluas kisaran 400 hektare.

“Saat MT I yang memasuki musim musim hujan, daerah tersebut selalu tergenang air. Sehingga tidak baik jika dilakukan penanaman. Untuk itulah para petani di daerah tersebut tidak dapat menanamnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mengatakan, daerah yang terendam air itu selalu terjadi pada musim hujan. Setidaknya, pada Januari daerah sudah mulai tergenang air. Bahkan kedua kecamatan tersebut juga menjadi langganan banjir saat datang musim hujan.

Dengan demikian 800 hektare lahan persawahan hanya bisa ditanami selama dua kali saja. Yakni pada MT II dan MT III. Kondisi tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun, namun untuk membenahi membutuhkan penanganan yang serius dari pemerintah pusat.

“Caranya harus ada pengerukan sungai sekitar, agar air yang berada di areal sawah dapat mengalir, namun sulit dilakukan kalau mengandalkan pemkab saja, harus dibantu dengan pihak provinsi,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ditangan Petani Mejobo Ini Kotoran Kerbau Jadi Lebih Bermanfaat

Para petani tengah menjemur kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang pada proses penanaman palawija Maret mendatang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para petani tengah menjemur kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang pada proses penanaman palawija Maret mendatang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Jangan anggap remeh kotoran kerbau, karena ternyata dari kotoran tersebut mampu dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Ditangan para petani asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo ini mereka mampu mengubah kotoran kerbau yang tidak memiliki nilai lebih, menjadi pupuk yang ampuh dan berkhasiat.

Para petani tersebut mengolah kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang. Dan digunakan sebagai pupuk pada proses penanaman palawija atau buah-buahan pada musim tanam mendatang.

Salah satu Petani Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Jamian menjelaskan, pupuk kandang ini nantinya digunakan pupuk saat menanam melon pada Maret mendatang. Sebab dengan menggunakan kotoran kerbau ini, bisa mempercepat tumbuhnya bibit melon.

”Bila menggunakan kotoran kerbau, maka proses tumbuh bibit di dalam pot sampai dengan penanaman ke sawah itu hanya memerlukan waktu 1 pekan. Sedangkan bila menggunakan tanah biasa, bisa memakan waktu lebih dari 1 pekan,” ungkap Jamian.

Pupuk kandang yang selalu dibuatnya tersebut juga tidak harus dicampuri dengan obat-obatan kimia lainnya. Sehingga tetap terjaga kealamiannya.

”Dalam pembuatan pupuk kandang tersebut tidak usah dicampuri dengan yang lain. Toh ini juga khasiatnya sudah bagus. Untuk lahan seluas 2 hektare hanya memerlukan 5 kuintal pupuk kandang saja. Dan itupun kesemua kotoran kerbau tersebut kami dapat dari peternakan kerbau saya sendiri. Jadi sangat ekonomis,” paparnya.

Dia menambahkan, yang penting permulaan pembibitan mulai dari penanaman biji ke dalam pot, setidaknya jangan sampai menggunakan obat kimia. Namun menggunakan bahan alami saja. Sehingga pada masa pertumbuhannya juga alami. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

PPL : Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo Bisa Bikin Bulir Padi Lebih Berisi

Petani di Kecamatan Undaan sedang menanam padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani di Kecamatan Undaan sedang menanam padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang ada di wilayahKecamatan Undaan Alfian Eko mengatakan, tanam padi dengan sistem jajar legowo bisa membuat bulir padi lebih berisi.

“Bulir padi lebih berisi, lantaran penyemprotan, pemupukan, sertapengobatan terhadap tanaman itu bisa diransum oleh bibit tesebut.Sebab, bibit padi itu lebih renggang, lebih tersinari matahari denganmaksimal. Karena, dalam sistem ini memang ada pengaturan jarak yang ditentukan,” katanya, Kamis (8/10/2015).

Ia katakan, sistem jajar legowo sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

“Kita juga sudah membuktikan sistem tersebut disalah satu lahanperangkat Desa Terangmas, dan alhamdulillah perangkat desa tersebutbilang, bahwa disaat panen kemarin bisa baik, dibanding dengan tahunsebelumnya yang masih menggunakan sistem lama yakni tegel,” paparnya.

Hal senada juga dikatakan salah satu perangkat Desa TerangmasNgatno. “Jajar legowo ini bisa membuat padi lebih berisi.Sebab, penyerapan pupuk, obat semprot bisa maksimal,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Petani Undaan Ogah Tanam Padi Pakai Sistem Jajar Legowo

Tanam padi dengan sistem jajar legowo (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tanam padi dengan sistem jajar legowo (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Banyak hal yang memengaruhi proses meningkatnya produksi padi, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat sasaran, pengairan yang tepat, pengendalian hama penyakit dan lain sebagainya.

Saat ini terdapat berbagai cara untuk meningkatkan hasil produksi tersebut, di antaranya dengan sistem jajar legowo. Sistem seperti ini, tahun 2010 lalu pernah dikenalkan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) kepada petani di Kecamatan Undaan.

Meski cara seperti ini dinilai efektif untuk meningkatkan hasil produksi, namun, sebagian besar petani di Undaan masih enggan untuk menerapkan sistem tersebut, karena dinilai terlalu ribet dan memakan waktu lama dalam prakteknya.

“Kelamaan pakai sistem jajar legowo itu dan malah membingungkan. Karena petani sudah terbiasa dengan pola lama. Selain itu, kita juga malas menghitung dengan rumus, terlalu ribet,” ujar Sumiyatun, salah satu petani di Undaan.

Menurutnya, mau menggunakan sistem apa saja, jika petani tidak giat dan telaten menggarap tanamannya, maka hasil panen juga tidak bisa maksimal. Untuk itu, petani untuk sementara ini melakukan hal yang sudah biasa diterapkan dalam menanam padi, yakni dengan sistem tegel.

Perlu diketahui, tanam padi dengan sistem jajar legowo dalam prakteknya adalan dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

Biasanya, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Sedangkan untuk tipe sistem jajar legowo adalah, 2:1, 3:1 dan 4:1. Tiper tersebut merupakan pengaturan jarak tanaman. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)