19 Desa di Grobogan Bakal Jadi Pilot Project Penyaluran Pupuk Bersubsidi Pakai Kartu Tani

 

Dalam rangka penyaluran pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani Dinas Pertanian Grobogan menggelar rakor bersama berbagai instansi terkait, Senin (30/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dalam rangka penyaluran pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani Dinas Pertanian Grobogan menggelar rakor bersama berbagai instansi terkait, Senin (30/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Agar penyaluran pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani bisa berjalan lancar, ada program khusus yang akan dilakukan Dinas Pertanian Grobogan. Salah satunya, menyiapkan desa untuk dijadikan pilot project penyaluran pupuk dengan kartu tani.

Pembuatan pilot project itu muncul dalam rakor yang penyaluran pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani yang dilangsungkan di Aula Dinas Pertanian Grobogan, Senin (30/1/2017).

Rakor yang dipimpin Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto juga dihadiri Pemimpin Cabang BRI Purwodadi Agung Nugraha, perwakilan dari Disperindag, bagian perekonomian, gapoktan, penyuluh, produsen dan distributor pupuk.

“Rencana, ada 19 desa yang akan kita jadikan pilot project penyaluran pupuk pakai kartu tani. Jadi, masing-masing kecamatan ada satu desa yang ditunjuk,” kata Kabid Penyuluhan dan Sarpras Pertanian Latifawati pada wartawan, usai mengikuti rakor.

Dengan adanya desa pilot project, maka akan memudahkan untuk mengevaluasi kendala yang dihadapi dalam penggunaan kartu tani. Di samping itu, petani di tiap kecamatan juga lebih mudah jika ingin melihat seperti apa proses penebusan pupuk dengan menggunakan kartu tani.

“Penggunaan kartu tani untuk menebus pupuk bersubsidi merupakan sebuah kebijakan baru. Jadi, memang butuh waktu bagi para petani untuk bisa menggunakan kartu tani yang pengoperasiannya berbasis teknologi tersebut,” katanya.

Dijelaskan, jumlah alokasi kartu tani di Grobogan ada 164.095 kartu. Dari jumlah ini, sudah dibagikan sebanyak 138.033 kartu dan sisanya masih dalam proses distribusi yang dilakukan pihak BRI.

Selain wacana pembentukan desa pilot project, lanjut Latifa, rakor juga sempat membahas rencana validasi lagi luasan lahan yang butuh alokasi pupuk bersubsidi. Dari pendataan terakhir, luasan lahan sawah dan tegalan mencapai 97.958 hektare. Kemudian, luasan lahan di kawasan hutan (sanggeman) sekitar Rp 26.809 hektare.

“Untuk validasi lahan nanti akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN). Validasi ini penting guna menentukan besarnya pupuk yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Pupuk Mulai Langka, Sebagian Petani di Grobogan Gunakan Pupuk Alternatif

Seorang petani di Grobogan sedang melakukan pemupukan tanaman padinya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang petani di Grobogan sedang melakukan pemupukan tanaman padinya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sebagian petani di beberapa kecamatan terpaksa menggunakan pupuk atlernatif untuk memupuk tanaman padinya. Hal itu disebabkan, langkanya beberapa jenis pupuk di pasaran.

“Sejak beberapa minggu ini agak susah untuk mendapatkan pupuk jenis Phonska dan SP-36. Di tempat pengecer resmi sering kosong karena belum dapat pasokan dari distributornya,” kata Fauzi, petani di Desa Tanggungharjo, Kecamatan Grobogan. 

Menurutnya, untuk pupuk lainnya, seperti jenis Urea masih gampang didapat. Sebab, stoknya masih mencukupi. Lantaran hanya bisa dapat Urea, ia terpaksa menambah pupuk jenis lain untuk memupuk tanamannya. Yakni, pupuk organik atau pupuk majemuk lainnya yang dijual bebas atau nonsubsidi.

“Kalau hanya dikasih Urea saja kurang bagus. Makanya, saya tambahi pupuk lainnya tetapi dosisnya tidak terlalu banyak, sekadar untuk melengkapi kebutuhan tanaman,” katanya.

Petani lainnya, Mulyono menyatakan, untuk pemupukan bagi tanaman padinya yang berumur sekitar 15 hari masih bisa menggunakan pupuk standar. Yakni, Urea yang dicampur Phonska dan SP-36. “Kebetulan, saya masih punya stok Phonska dan SP-36 yang sudah saya beli sebelum masa tanam. Tetapi stok yang saya punya hanya cukup untuk memupuk kali ini saja,” katanya.

Dia berharap agar dinas terkait agar segera menambah pasokan pupuk. Sebab, dalam bulan ini, kebutuhan cukup tinggi karena tanaman di sawah waktunya dipupuk.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dikonfirmasi masalah ini mengakui jika persediaan pupuk Phonsa dan SP-36 tahun 2016 sudah mulai menipis. Hal ini memicu terjadinya kelangkaan pupuk di sejumlah wilayah kecamatan.

Menurut Edhie, persediaan pupuk Phonska saat ini berkisar 200 ton. Sedangkan, pupuk SP-36 sisa stoknya juga berkisar di angka 200 ton. “Persediaan stok Phonska dan SP-36 ini tinggal sedikit. Kalau stok pupuk Urea sampai saat ini memang masih dalam kondisi aman,” katanya pada wartawan, belum lama ini.

Dengan stok yang ada dinilai tidak mencukupi kebutuhan. Sebab, hingga akhir tahun, kebutuhan pupuk SP-36 dihitung berkisar 1.950 ton. Sedangkan kebutuhan pupuk Phonska sekitar 3.300 ton.“Saya sudah usul ke Kementerian Pertanian tapi belum ada solusi sampai saat ini. Kami berharap segera ada tambahan pupuk subsidi, khususnya Phonska dan SP-36 untuk mencukupi kebutuhan petani,” terang Edhie.

Menurutnya, salah satu penyebab kelangkaan pupuk disejumlah wilayah itu disebabkan adanya perubahan iklim. Kondisi musim kemarau tahun ini yang cenderung basah karena banyak curah hujan, mengakibatkan ada penambahan areal tanaman padi. Hal ini menjadikan kebutuhan pupuk dilapangan naik dari yang sudah disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) awal tahun lalu. 

Editor : Kholistiono

Petani Cemas, Keberadaan Pupuk di Grobogan Mulai Langka

Seorang petani di Grobogan sedang melakukan pemupukan tanaman padinya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang petani di Grobogan sedang melakukan pemupukan tanaman padinya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Sejumlah petani di beberapa kecamatan di Grobogan meminta dinas terkait agar menambah pasokan pupuk. Hal itu terjadi lantaran akhir-akhir ini para petani merasa kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Khususnya, pupuk jenis Phonska dan SP-36.

“Akhir-akhir ini agak susah untuk mendapatkan Phonska dan SP-36. Di tempat pengecer resmi sering kosong karena belum dapat pasokan. Kalau untuk pupuk jenis Urea gampang, stoknya masih ada,” kata Sumardi, petani di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dikonfirmasi mengakui jika persediaan pupuk Phonsa dan SP-36 tahun 2016 sudah mulai menipis. Hal ini memicu terjadinya kelangkaan pupuk di sejumlah wilayah kecamatan.

Menurut Edhie, persediaan pupuk Phonska saat ini berkisar 200 ton. Sedangkan, pupuk SP-36 sisa stoknya juga berkisar di angka 200 ton. “Persediaan stok Phonska dan SP-36 ini tinggal sedikit. Kalau stok pupuk Urea sampai saat ini memang masih dalam kondisi aman,” katanya.

Dengan stok yang ada dinilai tidak mencukupi kebutuhan. Sebab, hingga akhir tahun, kebutuhan pupuk SP-36 dihitung berkisar 1.950 ton. Sedangkan kebutuhan pupuk Phonska sekitar 3.300 ton.“Saya sudah usul ke Kementrian Pertanian tapi belum ada solusi sampai saat ini. Kami berharap segera ada tambahan pupuk subsidi, khususnya Phonska dan SP-36 untuk mencukupi kebutuhan petani,” terang Edhie.

Menurutnya, salah satu penyebab kelangkaan pupuk di sejumlah wilayah itu disebabkan adanya perubahan iklim. Di mana, kondisi musim kemarau tahun ini yang cenderung basah karena banyak curah hujan, mengakibatkan ada penambahan areal tanaman padi. Hal ini menjadikan kebutuhan pupuk di lapangan naik dari yang sudah disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) awal tahun lalu.

“Perubahan iklim yang terjadi di pertengahan tahun memicu peralihan pola tanam sebagian petani. Yakni, biasanya tanam palawija menjadi tanam padi. Hal ini dilakukan lantaran tanaman palawija rentan gagal panen apabila ada curah hujan tinggi,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Tanaman Padi Kebanjiran, Petani di Godong Dapat Klaim Asuransi Rp 23 juta

Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada menyerahkan klaim asuransi pada perwakilan petani didampingi Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada menyerahkan klaim asuransi pada perwakilan petani didampingi Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Program asuransi usaha tani mulai dirasakan manfaatnya oleh sebagian petani di Grobogan. Indikasinya bisa dilihat dengan adanya penyerahan klaim asuransi sebesar Rp 23.040.000 pada petani yang terancam gagal panen.

Acara penyerahan klaim asuransi usaha tani dilakukan Kepala Cabang PT Asuransi Jasindo wilayah Semarang Bayu Aji Wardana pada perwakilan petani yang dilangsungkan di Aula Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan, Sabtu (9/4/2016). Ikut mendampingi penyerahan klaim asuransi tersebut Kabid Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Pertanian TPH Grobogan Tri Retno Indriati.

Petani yang mendapat klaim asuransi tersebut berada di dua desa di Kecamatan Godong. Masing-masing, Desa Werdoyo dan Desa Guyangan. “Petani di dua desa itu dapat klaim asuransi karena tanaman padinya mati akibat kebanjiran pada bulan Maret kemarin. Tanaman padi yang mati ini umurnya hampir dua bulan,” kata Indri.

Luas lahan pertanian yang terkena musibah itu ada 4,68 hektar. Rinciannya, di Desa Werdoyo ada 3,68 hektar dan di Desa Guyangan seluas 1 hektar.

Indri menyatakan, program asuransi usaha tani itu dinilai sangat bermanfaat buat petani. Sebab, ketika ada ancaman gagal panen, para petani bisa mendapatkan klaim dari PT Asuransi Jasindo selaku BUMN yang dipercaya menangani masalah tersebut.

Meski cukup bermafaat namun sampai sekarang, minat petani untuk ikut program asuransi ini belum menggembirakan. Pada tahun lalu baru 781 hektare luasan lahan pertanian yang diikutkan dalam program asuransi.

“Target kita tahun lalu sebanyak 13.000 hektare bisa masuk asuransi. Namun, kenyataannya baru 781 hektare yang diikutkan asuransi. Dengan adanya pembayaran klaim ini secara tidak langsung akan meningkatkan minat petani buat ikut asuransi. Ini merupakan peyerahan klaim asuransi usaha tani pertama di Grobogan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Petani Grobogan, Catatlah Janji Bupatimu Ini

Kegiatan pemberian bantuan alat pertanian di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kegiatan pemberian bantuan alat pertanian di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Para petani diminta untuk membantu program pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan nasional. Caranya, dengan berupaya untuk terus meningkatkan produksi atau hasil panen. Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyerahkan bantuan peralatan, benih pertanian, dan bibit tanaman pada petani yang dilangsungkan di kebun belajar milik Kantor Dinas Pertanian TPH, Kamis (31/3/2016).

“Kita punya target cukup berat terkait produksi berbagai macam komoditas. Terutama padi, jagung dan kedelai. Untuk itu tingkatkan hasil panennya dan saya berjanji akan meningkatkan bantuan pada petani jika target terpenuhi,” tegas perempuan pertama yang jadi Bupati Grobogan itu.

Ikut hadir dalam kesempatan itu, Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki, Kadinas Pertanian TPH Edhie Sudaryanto beserta seluruh karyawan dan beberapa pejabat terkait lainnya. Hadir pula perwakilan dari kelompok tani yang ada di berbagai kecamatan. Sebelum menyerahkan bantuan, Sri Sumarni didampingi para pejabat sempat melakukan panen cabe merah dilokasi tersebut.

Menurut Sri, pada tahun 2015 lalu, Grobogan dapat prestasi juara nasional dalam bidang upaya khusus ketahanan pangan. Atas prestasi ini, para petani mendapatkan banyak bantuan peralatan pertanian dari Kementerian Pertanian agar hasil panen bisa terus ditingkatkan.

Seperti hand traktor, traktor roda empat, pompa air, dan mesin tanam padi. Selain itu, bantuan pembuatan sarana dan prasarana pertanian juga banyak didapat. Antara lain, pembangunan jaringan irigasi maupun jalan usaha pertanian, embung dan sumur gali.

Adanya bantuan peralatan tersebut akan mempercepat pengolahan tanah buat persiapan musim tanam. Dengan demikian, waktu yang diperlukan untuk persiapan bisa lebih singkat dibandingkan dengan memakai alat pengolah sawah saat ini.

Ditambahkan, selama ini, ada beberapa komoditas pertanian yang jadi andalan. Yakni, padi, jagung dan kedelai. Khusus untuk komoditas jagung, hasil produksinya paling tinggi di Indonesia.

“Saya harapkan dengan adanya bantuan ini, secara tidak langsung bisa meningkatkan produksi hasil pertanian. Untuk bantuan peralatan ini, saya minta dimanfaatkan dan dirawat dengan baik,” pesan Sri.

Sementara itu, Edhie Sudaryanto menambahkan, ada banyak bantuan yang diberikan. Yakni, 43 unit traktor roda dua, 4.290 bibit jambu citra untuk 2 gapoktan, dan 3.125 bibit belimbing untuk satu gapoktan. Kemudian, ada bantuan benih cabe merah dan melon yang masing-masing diberikan pada 7 kelompok tani untuk lokasi penanaman 40 hektare.

“Selanjutnya, ada benih kedelai sebanyak 316,75 ton untuk 209 kelompok tani. Terakhir, bantuan 150 ton benih padi buat 165 kelompok tani,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Tahun Ini, Hasil Panen Jagung di Kawasan Hutan Grobogan Ditarget Capai 1 Juta Ton

Panen raya jagung bersama Menteri BUMN Rini Soemarno di kawasan hutan petak 31F, RPH Plosokerep, BKPH Penganten, KPH Purwodadi, Kamis (11/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Panen raya jagung bersama Menteri BUMN Rini Soemarno di kawasan hutan petak 31F, RPH Plosokerep, BKPH Penganten, KPH Purwodadi, Kamis (11/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam rangka mendukung program kedaulatan pangan yang dicanangkan pemerintah, Perum Perhutani pada tahun 2016 mengalokasikan sebagian lahan untuk ditanami komoditas pertanian. Khususnya padi dan jagung.

Baca juga : Siang Ini, Menteri BUMN Bakal Panen Jagung di Kawasan Hutan

Fantastis, Rp 100 Triliun Disiapkan untuk Kredit Usaha Rakyat dan Petani Grobogan

”Tahun 2016 ini, kita alokasikan lahan hutan buat tanaman padi seluas 15.363 hektare. Kemudian, lahan seluas 193.820 hektare kita siapkan buat tanaman jagung,” cetus Dirut Perum Perhutani Mustoha Iskandar dalam acara panen raya jagung bersama Menteri BUMN Rini Soemarno di kawasan hutan petak 31F, RPH Plosokerep, BKPH Penganten, KPH Purwodadi, Kamis (11/2/2016).

Dari luasan lahan hutan yang disediakan tersebut, lanjut Mustoha, ditarget menghasilkan gabah sebanyak 131.488 ton. Kemudian, lahan jagung diharapkan menghasilkan 1.220.131 ton. Sumbangan dari kawasan hutan itu diharapkan membantu memenuhi kebutuhan jagung nasional yang mencapai 20,2 juta ton.

Mustoha menegaskan, khusus untuk wilayah Grobogan, kawasan hutan yang berpotensi menghasilkan jagung seluas 21.670 hektare dengan target produksi 86.683 ton. Luasan hutan ini terdapat di empat KPH. Yakni, KPH Purwodadi 3.795 hektare, KPH Semarang 8.132 hektare, KPH Telawa 2.577 hektare, dan KPH Gundih 6.962 hektare.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno menambahkan, Perum Perhutani memang diminta membantu mengoptimalkan lahan yang dimiliki untuk membantu meningkatkan produksi jagung, padi, dan kedelai. Sebab, kebutuhan ketiga komoditas itu sangat tinggi dan pemerintah masih perlu melakukan impor guna memenuhi permintaan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Fantastis, Rp 100 Triliun Disiapkan untuk Kredit Usaha Rakyat dan Petani Grobogan

Panen raya jagung di kawasan hutan KPH Purwodadi di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kamis (11/2/2016).

Panen raya jagung di kawasan hutan KPH Purwodadi di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kamis (11/2/2016).

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Guna memudahkan masyarakat dalam mendapatkan modal usaha, pemerintah pada tahun 2016 ini sudah menyiapkan dana sebesar Rp 100 triliun. Dana sebanyak ini dialokasikan untuk kredit usaha rakyat (KUR) termasuk di dalamnya adalah kalangan petani.

Hal itu disampaikan Menteri BUMN Rini Soemarno saat melangsungkan panen raya jagung di kawasan hutan KPH Purwodadi di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kamis (11/2/2016).

Baca juga : Siang Ini, Menteri BUMN Bakal Panen Jagung di Kawasan Hutan

”Para petani silahkan manfaatkan dana tersebut untuk modal tanam. Bunga KUR ini cukup ringan, yakni 9 persen per tahun,” ungkap Rini.

Dia menyatakan, selama ini masih banyak petani yang merasa kesulitan mendapatkan modal usaha. Akibatnya, mereka terjerat pada pengijon yang pada kenyataannya cukup merugikan petani.

Selain soal modal usaha buat petani, Rini juga sempat menyinggung masalah harga jagung. Untuk menstabilkan harga jagung sudah diserahkan pada pihak Bulog. Dimana, BUMN yang mengurusi masalah pangan ini diharuskan bisa mempertahankan harga jagung pada level Rp 3.200 per kilo.

”Soal harga jagung ini jadi tanggung jawab Bulog. Kalau harganya nanti di bawah angka Rp 3.200 maka para petani silahkan datang saja ke Bulog,” imbuhnya.

Acara panen raya jagung itu berlangsung cukup singkat. Sekitar satu jam, Rini Soemarno dan rombongan berada di lokasi tersebut. Ikut mendampingi Rini, Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar dan deputi sejumlah BUMN.

Bupati Grobogan Bambang Pudjiono bersama kepala dinas terkait ikut hadir dalam kesempatan itu. Demikian pula para pimpinan FKPD Grobogan juga terlihat dalam kesempatan tersebut.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siang Ini, Menteri BUMN Bakal Panen Jagung di Kawasan Hutan

Beberapa panitia masih mempersiapkan panen raya jagung di Area panen ini berada di kawasan hutan KPH Purwodadi, Kamis (11/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa panitia masih mempersiapkan panen raya jagung di Area panen ini berada di kawasan hutan KPH Purwodadi, Kamis (11/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Menteri BUMN Rini Soemarno, siang ini Kamis (11/2/2016) dijadwalkan bakal melangsungkan panen raya jagung di Desa Panganten, Kecamatan Klambu. Area panen ini berada di kawasan hutan KPH Purwodadi. Tepatnya di petak 31F, RPH Plosokerep, BKPH Penganten.

Baca juga : Dukung Program Kedaulatan Pangan, KPH Purwodadi Sediakan Lahan untuk Penanaman Jagung

Selain Menteri BUMN, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dijadwalkan ikut hadir. Kemudian, ada juga Dirut Perum Perhutani Mustofa Iskandar yang akan mendampingi menteri.

Dari pantaun di lapangan, lokasi panen raya saat ini sudah ramai orang. Segala persiapan akhir masih dilakukan pihak panitia panen raya jagung.

”Rencananya, panen jagung bersama menteri BUMN dimulai pukul 10.00 WIB. Saat ini rombongan menteri masih dalam perjalanan dari Semarang,” kata Kabag Humas Pemkab Grobogan Ayong Muhtarom di lokasi panen raya.

Baca juga : Ssttt…Mentan dan THL Penyuluh Pertanian Grobogan Bikin Janjian di Bulan April

Kelompok Wanita Tani di Grobogan Dilatih Membuat Makanan dari Bahan Jagung

Sentra Pertanian, Jadi Pertimbangan BI untuk Pilih Grobogan Sebagai Daerah Pengembangan Klaster Jagung

Editor : Titis Ayu Winarni

Disediakan Lahan, Petani Grobogan Diminta Tidak Merusak Tanaman Milik Perhutani

Sejumlah warga tengah bersiap melakukan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, KPH Semarang pada bulan Desember tahun lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga tengah bersiap melakukan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, KPH Semarang pada bulan Desember tahun lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk membantu meningkatkan pendapatan, Perum Perhutani selama ini sudah menyediakan lahan untuk bercocok tanam petani di sekitar kawasan hutan. Oleh sebab itu, sebaliknya para petani juga diminta untuk tidak merusak tanaman yang menjadi milik Perhutani.

Hal itu disampaikan Administratur KPH Semarang Yuda Suswardanto saat melangsungkan kegiatan penanaman pohon bertajuk ’Penghijauan Dengan Pola Padat Karya’ di Dusun Kali Ceret, Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

”Lahan yang sudah disediakan buat petani silahkan dimanfaatkan sebaik mungkin. Tetapi perlu diperhatikan jangan merusak tanaman milik Perhutani. Sebab, jika kedapatan melakukan perusakan akan diproses secara hukum,” tegas Yuda.

Acara penanaman pohon yang diikuti siswa sekolah dan tokoh masyarakat itu dihadiri sejumlah pejabat. Antara lain, Plt Ketua DPRD Grobogan Nurwibowo, Kasdim 0717/ Purwodadi Mayor Inf Arif Isnawan, dan Kabag Ops Polres Grobogan Kopol Jenda Pulung.

Dalam acara tersebut Arif Isnawan mengatakan Gerakan Penghijauan Padat Karya tersebut harus melibatkan berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan pemerintahan saja, masyarakat dan pengusaha juga diminta ikut terlibat di dalamnya. Sehingga semua pihak merasa peduli untuk ikut menyukseskan program penghijauan yang sedang digalakan pemerintah.

Pada bulan Desember tahun lalu, pihak KPH Semarang juga sudah melangsungkan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, yang masuk wilayah Desa Deras, Kecamatan Kedungjati. Acara penanaman pohon yang juga melibatkan masyarakat itu digelar dalam rangka Bulan Menanam Nasional.

Editor : Titis Ayu Winarni

Selain Swike, Grobogan juga Terkenal dengan Produk Pertanian Ini

Penanaman bawang merah di Grobogan yang dilakukan pejabat pemda setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Penanaman bawang merah di Grobogan yang dilakukan pejabat pemda setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Selain komoditas padi, jagung dan kedelai (Pajale), wilayah Grobogan juga siap jadi penghasil bawang merah yang cukup potensial di Jawa Tengah. Hal itu dicetuskan Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro usai menggelar panen bawang merah dengan model true seed shallot (TSS) dan temu wicara dengan petani di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Senin (16/11/2015) siang.

Kesiapan itu dicetuskan Icek seiring sudah adanya beberapa kelompok tani yang berhasil mengembangkan penanaman bawang merah dengan cara TSS. Yakni, cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen sebelumnya.

“Penanaman bawang merah dengan cara TSS ini belum banyak yang bisa sukses seperti di sini. Kalau penanaman dengan umbi sudah banyak petani yang melakukan. Oleh sebab itu, keberhasilan ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan produksi bawang merah di Grobogan. Saya harapkan, hasil panen dengan TSS ini jangan dijual dulu tetapi dipakai untuk mengembangkan bawang merah di sini,” kata Icek.

Acara panen bawang merah dihadiri Kepala Puslitbang Hortukultura M Prama Yufdy serta Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng Moh Ismail Wahab. Terlihat pula pejabat dari Dinas Pertanian TPH Provinsi Jawa Tengah serta Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto.

Icek menambahkan, sejauh ini, komoditas hortikultura di Grobogan menjadi pilihan para petani dan hasilnya juga cukup menggembirakan. Misalnya, produksi melon di Grobogan bisa jadi paling tinggi di Jawa Tengah. Disusul produksi semangka, dan terong.

Sementara itu, Edhie menambahkan, beberapa waktu lalu, kelompok tani Margo Soto di Desa Brabo dan Kelompk tani Wijaya Kusuma II di Desa Padang, Kecamatan Tanggungharjo sudah berhasil melakukan panen bawang merah dengan pola TSS. Saat ini, gantian Kelompok Tani Niaga Tani di Penawangan yang berhasil menanam bawang dengan pola TSS di areal seluas 0,5 hektar.

“Penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit,” jelas Edhie.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pula pengukuhan perkumpulan produsen benih bawang merah TTS oleh Icek. Selain itu, ada pula penyerahan bantuan pengembangan bawang merah TSS untuk kelompok tani. Antara lain, tiga unit screen house serta bantuan sarana prasarana tanaman bawang merah. Usai penyerahan bantuan, dilakukan penanaman perdana benih bawang merah TSS di dalam screen house. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Kelompok Wanita Tani di Grobogan Dilatih Membuat Makanan dari Bahan Jagung

Demonstrasi dan sosialisasi model pengembangan pangan pokok lokal, di ruang Riptaloka itu diselenggarakan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan BKP Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Demonstrasi dan sosialisasi model pengembangan pangan pokok lokal, di ruang Riptaloka itu diselenggarakan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan BKP Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Puluhan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Grobogan hari ini mendapat pelatihan membuat aneka makanan dari bahan utama tepung jagung. Kegiatan Demontrasi dan Sosialisasi Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) yang dilangsungkan di ruang Riptaloka itu diselenggarakan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan BKP Grobogan.

Dalam kegiatan tersebut, para anggota KWT diajari langsung cara mengolah tepung jagung menjadi pie dan makanan kering lainnya. Pelatihan itu diajarkan oleh Dwi Susanto, ahli masak berpengalaman yang tergabung dalam Asosisasi Chef Indonesia (ICA).

Kabid Pengolahan dan Penganekaragaman Pangan BKP Provinsi Jawa Tengah Krisnawati Ekananta Utoyo mengatakan, kegiatan Demontrasi dan Sosialisasi MP3L sudah dilakukan sejak 2013 lalu. Dimulai dari Kebumen, Temanggung, dan Wonogiri pada 2013. Kemudian tahun 2014 di Kabupaten Pati dan di Kabupaten Grobogan tahun 2015 ini.

”Saat ini pemprov sudah mengupayakan pengalihan pada bahan pangan alternatif. Ditambahkan, salah satunya adalah dari bahan tepung jagung. Kalau diolah dengan baik dan tepat, tepung jagung pasti lebih enak dari pada menggunaan gandum,” jelas Krisnawati didampingi Kepala BKP Grobogan Muhammad Hidayat.

Ia menambahkan, banyaknya penggunaan beras dan gandum sebagai bahan makanan perlu diubah. Sebab, jika terus menerus dilakukan maka dalam jangka panjang ketahanan pangan akan sedikit terancam. Dan pemerintah pun terpaksa melakukan impor untuk mencukupi kebutuhan itu. Melihat kondisi itu, masyarakat perlu dilatih untuk mengolah makanan dengan pangan alternatif selain beras dan gandum. (DANI AGUS/TITIS W)