Petani di Pati Manfaatkan La Nina untuk Menanam Padi

 Para petani di Desa Ngawen, Margorejo mulai menanam padi pada masa tanam ketiga yang mestinya ditanami palawija. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Para petani di Desa Ngawen, Margorejo mulai menanam padi pada masa tanam ketiga yang mestinya ditanami palawija. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pada masa tanam (MT) ketiga, petani di Pati biasanya menanam tanaman palawija seperti kedelai, jagung, kacang hijau, dan sebagainya. Karena, musim kemarau tiba ketika memasuki MT ketiga sehingga tanaman yang ditanam harus palawija.

Namun, petani di Pati saat ini kembali menanam padi seperti pada masa tanam pertama dan kedua, karena ada La Nina. La Nina sendiri merupakan gangguan iklim akibat suhu permukaan laut Samudera Pasifik menurun.

Akibatnya, hujan turun lebih banyak terjadi. Salah satunya di Indonesia. Kondisi ini yang dimanfaatkan petani di Pati untuk kembali menanam padi, karena tanaman ini membutuhkan cukup air. Diperkirakan, La Nina akan berakhir pada September 2016.

“Kalau saat ini kita menanam tanaman palawija tidak tepat, karena tanaman palawija tidak bisa hidup ketika banyak suplai air. Makanya, kita kembali menanam padi. Tapi, kami sudah siapkan antisipasi ketika kemarau secara normal terjadi pada September 2016 nanti,” ujar Ramijan, petani asal Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo.

Ramijan yang menanam padi seluas satu hektare juga sudah menyiapkan sejumlah langkah ketika tanaman padinya diserang hama. Pasalnya, tanaman padi menjadi rentan diserang hama ketika cuaca panas-hujan dengan mudahnya berganti.

“Berhubung ini mestinya musim kemarau tapi masih hujan, terjadi perubahan suhu yang ekstrem dalam waktu cepat. Kondisi itu biasanya gampang muncul hama padi. Tapi, kami sudah siapkan langkah untuk mengatasi kendala tersebut, termasuk menyiapkan pestisida yang tepat,” kata Ramijan.

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma yang hadir dalam gerakan percepatan luas tambah tanam padi di Desa Ngawen menambahkan, pihaknya siap membantu mengatasi permasalahan petani pada peralihan musim September 2016 mendatang. “Kami siap membantu setiap permasalahan petani demi memperkuat ketahanan pangan di wilayah teritorial Pati,” tukas Andri.

Editor : Kholistiono

 

Petani Pati Keluhkan Musim Salah Mangsa

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Pati saat ini mengeluhkan kondisi musim yang salah mangsa. Bulan Juli yang mestinya musim kemarau, tetapi hujan masih turun. Orang menyebutnya, hujan salah mangsa atau tidak sesuai masanya.

Akibat dari hujan salah mangsa tersebut, tanaman padi menjadi rentan diserang penyakit. Sementara itu, tanaman palawija mudah membusuk karena terlalu banyak pasokan air ketika hujan datang.

“Kalau musim itu berlangsung normal, petani bisa dengan mudah memilih menanam padi atau palawija. Kalau ada fenomena hujan salah mangsa begini, kami jadi bingung dan harus menyiapkan langkah antisipasi. Langkah itu mengakibatkan biaya produksi lebih tinggi,” ungkap Supriadi, petani asal Kayen, Kamis (21/7/2016).

Di satu sisi, petani palawija biasanya menanam pada musim kemarau, sehingga tanamannya tidak butuh air banyak. Di sisi lain, petani yang ingin menanam padi masih berspekulasi apakah hujan di musim kemarau ini berlangsung lama atau sebentar.

Belum lagi, kondisi panas-hujan secara tidak teratur membuat penyakit padi berdatangan. Di sejumlah daerah di Kecamatan Gabus, misalnya. Padi mulai memerah akibat kondisi panas-hujan. Hal itu diakui Sriwati, petani asal Wedarijaksa. Sejumlah tanaman padinya mulai diserang hama, karena cuaca tidak menentu. “Kami berharap cuaca bisa berlangsung normal kembali,” harapnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sejumlah petani yang menanam palawija berada di kawasan Pati selatan. Sedangkan petani di wilayah Pati utara sebagian besar masih menanam padi. Mereka juga akan menghadapi La Nina yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus 2016.

Editor : Kholistiono

 

300 Kelompok Tani di Pati Bakal Terima Hibah pada 2016

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 300 kelompok tani di Kabupaten Pati bakal menerima hibah pada 2016. Tak seperti tahun sebelumnya, mereka saat ini sudah berbadan hukum sehingga sudah siap menerima hibah.

“Sekitar 300 kelompok tani di Pati pada November 2015 lalu sudah mengajukan badan hukum ke Kementerian Hukum dan HAM. Waktu masih masa transisi itu, mereka belum bisa menerima dana. Sekarang, mereka sudah siap menerima hibah karena sudah berbadan hukum,” kata Kepala Dispertanak Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, ada empat pos besar alokasi dana dari Dispertanak Pati yang disalurkan melalui kelompok tani. Salah satunya, pembangunan jaringan irigasi tersier, rehabilitasi pembangunan fisik di pertanian yang rusak, pembangunan sumber air seperti sumur yang dangkal, embung atau pengadaan pompa penyedot air untuk irigasi, dan pembangunan akses jalan di sawah untuk petani.

Saat ditanya soal dana anggaran dari dinas dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) 2015, pihaknya masih belum bisa memastikan secara pasti. Pasalnya, dana tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan pada sektor pertanian saja, tetapi juga sektor pangan dan peternakan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelompok Tani di Pati Banyak Tak Berbadan Hukum, Serapan Anggaran di Dispertannak Rendah

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Salah satu alasan serapan anggaran Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan (Dispertanak) Pati rendah, antara lain masih banyaknya kelompok tani yang belum berbadan hukum. Akibatnya, dana hibah untuk kelompok tani tidak sepenuhnya tersalurkan.

Kepala Dispertanak Pati Mochtar Affendi mengakui hal itu. Ia mengatakan, rendahnya penyerapan anggaran sepanjang 2015 disebabkan dana hibah untuk kelompok tani yang tidak sepenuhnya tersalurkan.

“Masih banyak kelompok tani di Pati yang masih belum berbadan hukum. Jadi, dana hibah tidak bisa sepenuhnya tersalurkan. Memang ada beberapa kegiatan yang tersendat dari dinas ini. Itu disebabkan masalah administrasi kelompok tani yang mestinya harus berbadan hukum,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, dana paling besar dari Dispertanak diperuntukkan kelompok tani. Saat kelompok tani masih belum berbadan hukum, akhirnya dana tidak tersalurkan dengan baik yang pada akhirnya menyebabkan serapan anggaran di Dispertanak rendah. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ini Cara Membuat Pestisida Pengusir Hama dari Kentang

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selain dijadikan bahan dasar pembuatan keripik yang dikenal seantero dunia, kentang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pestisida pengusir hama secara alami.

Penganalisis Diagnosis Organisme Pengganggu Tumbuhan Lab PHPT Pati Tri Adji kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/12/2015) mengatakan, sari kentang yang dicampur gula melalui proses tertentu bisa menghasilkan semacam mikroba yang efektif membunuh berbagai macam hama pertanian.

”Bahan-bahan yang digunakan cukup mudah, yaitu kentang dan gula. Kentang dipotong-potong biasa seperti kalau mau membuat sambal goreng. Selanjutnya direbus hingga sepuluh menit. Air rebusan itu diambil dan direbus lagi dengan gula. Setelah dingin dimasukkan ke sebuah alat fermentasi,” tuturnya.

Ia mengatakan, hasil fermentasi harus ditampung dalam galon sehingga tidak terkontaminasi dengan bakteri atau jamur. ”Jangan gunakan ember, karena bisa terkontaminasi. Kalau mau tanya lebih lanjut soal alatnya, bisa datang ke Laboratorium PHPT Pati,” imbuhnya.

Dilihat dari aspek biaya, pemanfaatan pestisida dari kentang bisa lebih murah ketimbang pestisida kimia. Jika pestisida kimia dibanderol paling murah Rp 25 ribu per liter, pestisida dari kentang hanya menelan biaya Rp 10 ribu per liter.

”Tak hanya murah, tetapi juga ramah lingkungan dan hasil pertanian yang dipanen bisa organik, bebas residu kimia. Kentangnya juga bisa dimanfaatkan untuk membuat aneka makanan,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ingin Hidup Sehat, Warga Pati Ini Olah Kentang Jadi Pestisida

Sejumlah warga Pati diajari membuat pestisida alami dari pemanfaatan kentang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga Pati diajari membuat pestisida alami dari pemanfaatan kentang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Warga Pati yang tergabung dalam komunitas lingkungan dan organik seperti Gagego Organik, Kader Peduli Lingkungan Hidup, dan Taman Belajar Organik diajari membuat pestisida alami yang memanfaatkan bahan dasar kentang di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan (PHPT) Wilayah Pati, Kamis (10/12/2015).

Pelatihan itu diharapkan bisa membekali pegiat organik untuk menggunakan pestisida pengusir hama secara alami, dengan memanfaatkan hasil sumber daya alam (SDA) yang melimpah di lingkungan pertanian.

”Selama ini, petani masih banyak menggunakan pestisida dari bahan kimia. Padahal, hasil pertanian seperti kentang juga bisa digunakan untuk membasmi hama,” ujar Tri Adji, Penganalisis Diagnosis Organisme Pengganggu Tumbuhan Lab PHPT Pati kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, Muslikun, Pendiri Taman Belajar Organik (TBO) yang menjadi peserta mengaku senang dengan adanya pelatihan itu. ”Kita bisa memanfaatkan pestisida ramah lingkungan, organik, dan bebas bahan kimia. Meski ini bukan temuan baru, tetapi bisa dicoba oleh masyarakat luas,” tuturnya.

Ia menambahkan, penggunaan pestisida dan pupuk alami tidak meninggalkan residu pada hasil pertanian seperti padi. Karena itu, kampanye organik perlu digalakkan untuk mengawal hidup sehat melalui hasil pertanian yang bebas bahan kimia. (LISMANTO/TITIS W)

Kemarau Panjang di Pati Dinilai sebagai Gejala Global

Sejumlah peneliti asal Jerman berbincang soal kondisi pertanian dan iklim antara Pati dan Jerman. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah peneliti asal Jerman berbincang soal kondisi pertanian dan iklim antara Pati dan Jerman. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kemarau panjang yang mendera di sejumlah daerah di Kabupaten Pati dimaklumi sebagai gejala global. Pasalnya, pergantian musim yang terlalu panjang dialami berbagai negara di dunia.

Hal ini disampaikan Peneliti yang juga dosen Universitas Frankfurt, Jerman, Felix Anderl. ”Pergantian musim yang molor dan lama tidak hanya terjadi di Pati, tetapi juga sejumlah negara di dunia. Di Jerman, pergantian dari musim gugur ke musim dingin juga berlangsung lama dan tidak seperti biasanya,” kata Felix kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia memaklumi jika sejumlah warga dan petani di Kabupaten Pati menggelar ritual dan doa minta hujan. Karena kemarau terlalu lama yang berdampak pada dunia pertanian.

Namun begitu, ia mengagumi kondisi pertanian di Pati. Kendati kekeringan panjang melanda, sejumlah petani masih bisa panen palawija, mulai dari jagung, kedelai, hingga kacang hijau. (LISMANTO/TITIS W)

Peneliti Asal Jerman Khawatirkan Kondisi Pertanian di Pati

Sejumlah peneliti asal Jerman tengah berdiskusi soal kondisi pertanian di dunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah peneliti asal Jerman tengah berdiskusi soal kondisi pertanian di dunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Peneliti dari Universitas Frankfurt, Jerman Felix Anderl mengkhawatirkan kondisi pertanian di Pati. Pasalnya, pergeseran kultur petani ke industri sudah mulai dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Pati.

”Di Jerman, petani kecil sudah mati. Semua dikuasai industri. Pertanian di sana sudah mengalami pergeseran menuju industri. Jangan sampai hal itu terjadi di Pati,” ujar Felix kepada MuriaNewsCom.

Namun, ia mengakui memang ada perbedaan kultur petani di Jerman dan Pati. Di sana, pertanian sudah menjadi milik perusahaan. Sementara itu, pertanian sebagian besar masih dimiliki petani kecil.

Karena itu, ia berharap agar nasib pertanian di Pati tidak seperti di negaranya. ”Petani memang harus berdaulat, termasuk areal persawahan jangan sampai dicaplok perusahaan yang tak bertanggung jawab,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)