Sumur Minyak Peninggalan Belanda di Bendoharjo Grobogan Mulai Dieksploitasi

Field Manager Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Agus Amperianto (baju biru) menerangkan secara singkat proses eksploitasi sumur tua di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus pada para pejabat setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana eksploitasi minyak yang dilakukan Perusda Purwa Aksara Grobogan resmi dimulai, Senin (27/2/2017). Aktivitas eksploitasi perdana ditandai dengan menyalakan tombol mesin penarik minyak dari dalam tanah dan pengguntingan pita yang dilakukan Kabag Perekonomian Pemkab Grobogan Anang Armunanto.

Proses eksploitasi perdana ditempatkan di salah satu sumur minyak tua peninggalan Belanda yang berada di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus. Eksploitasi minyak dari sumur tua dilakukan Purwa Aksara bekerjasama dengan PT Nureka dengan sistem bagi hasil.

Acara eksploitasi perdana juga dihadiri Field Manager Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Agus Amperianto dan Direktur PT Nureka Samsul Arifin. Terlihat pula, Direktur Purwa Aksara Myra Heltyani dan para direktur perusda lainnya serta sejumlah pejabat terkait.

Menurut Samsul Arifin, jumlah sumur yang dapat izin ekploitasi totalnya ada 27 titik. Namun, pada tahun ini eksploitasi difokuskan pada lima sumur dulu.

Selanjutnya, pada tahun berikutnya esploitasi akan dilakukan bertahap pada 27 sumur. Minyak yang telah dihasilkan nantinya akan ditampung dan diolah menjadi premium atau solar di Pusat Penampungan Produksi (PPP) Menggung Pertamina EP Field Cepu.

“Jangka waktu perizinan eksploitasi ini selama lima tahun dan dapat diperpanjang lima tahun lagi. Meski harga minyak saat ini belum stabil namun kami optimis bisa berhasil dari usaha ini,” terangnya pada wartawan.

Kerja sama eksploitasi dengan Purwa Aksara tersebut dilakukan dengan skema bagi hasil. Yakni 90 persen untuk PT Nureka dan 10 persen untuk Purwa Aksara.

Sementara itu, Agus Amperianto memuji keberanian Purwa Aksara dan investor PT Nureka untuk memulai eksploitasi di tengah harga minyak yang belum stabil. Menurut Agus, harga minyak dunia saat ini berada pada kisaran 50-55 USD Dollar. Sedangkan harga minyak ideal ada pada kisaran 60-70 USD Dollar.

“Dari pengalaman pengelolaan sumur minyak tua selama ini, para investor biasanya akan menghentikan lifting saat harga minyak di bawah 60 USD Dollar. Oleh sebab itu, saya merasa salut dengan keberanian memulai eksploitasi saat harga minyak belum bagus. Semoga eksploitasi disini bisa menghasilkan minyak sesuai harapan bersama,” katanya.

Kabag Perekomian Anang Armunanto berharah berharap, kegiatan eksploitasi minyak tersebut nantinya bisa berhasil sesuai rencana. Dengan demikian, hasilnya dapat memberikan kontribusi pendapatan para pemerintah daerah dan membawa manfaat bagi warga sekitar.

Editor : Akrom Hazami

 

8 Pertamini di Kudus Diawasi Pemkab Gara-gara Berisiko

 Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Disdagsar Kudus mengawasi delapan pertamini atau SPBU mini, beberapa waktu terakhir. Pemkab menganggap pertamini belum mempunyai alat standar operasional pengamanan.

Kabid Perdagangan Disdagsar Kudus Sofyan Dhuhri, mengatakan, pihaknya sedang mengawasi pertamini secara intensif. Sofyan mencatat ada delapan pertamini yang diawasi. Di antaranya, pertamini yang ada di Desa Lau dan Piji, Kecamatan Dawe. Ada juga pertamini di Desa Mlati Kidul dan Bhurikan, Kecamatan Kota. Lainnya, pertamini di Desa Besito dan Gondosari, Kecamatan Gebog; Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae; dan Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan.

“Para penjual membeli alatnya sendiri dan ada sales yang menjualnya. Kami memberikan imbauan supaya berhati-hati menjualnya. Karena ini menyangkut bahan mudah terbakar, dan alat yang digunakan tidak berstandar. Seperti yang ada di pom bensin,” kata Sofyan kepada MuriaNewsCom di Kudus, Sabtu (10/12/2016).

Dari pendataannya, Disdagsar mengetahui jika bahan bakar minyak (BBM) pertamini tidak didrop dari Pertamina. Pertamini membeli BBM dari Pertamina dengan cara jerikenan dalam jumlah tertentu. Kemudian, pengelola pertamini memasukkan BBM ke drum yang telah dilengkapi pompa. Alat pompa itu berguna untuk menyedot BBM biar bisa keluar melalui selang atau nozzle. “Jadi mirip dengan penjual eceran, hanya saja ini menggunakan alat sehingga terlihat seperti SPBU pada umumnya,” ujarnya.

Pihaknya juga melakukan pengawasan alat penghitung pertamini. Sebab, pemkab belum mengetahui apakah alat sudah menjalani proses tera atau belum. Padahal alat itu untuk menentukan apakah hitungan satu liternya sudah tepat, atau tidak.

Pemkab juga menyayangkan jika pertamini belum mengantongi izin usaha. Berdasarkan informasi, Pertamini membeli alat beroperasi, satu setnya Rp 16 juta hingga Rp 20 juta. Pertamini menjual pertalite Rp 7.500 per liter, dan pertamax Rp 9.000 per liter.

Menurut Sofyan, keberadaan pertamini di tengah permukiman juga amat berisiko. Alasannya, alat penjualan yang dipakai tidak sesuai standarnya.

Editor : Akrom Hazami

Lakukan Eksplorasi Migas di Jateng, PHE Randugunting Tak Pernah Dapatkan Hasil Maksimal, Bagaimana dengan di Rembang?

General Manajer PT. PHE Randugunting Abdul Mutalob Masdar (baju hitam) saat pemaparan proyek ekplorasi migas di Desa Krikilan, Kamis (06/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

General Manajer PT. PHE Randugunting Abdul Mutalob Masdar (baju hitam) saat pemaparan proyek ekplorasi migas di Desa Krikilan, Kamis (06/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting berdiri sejak 2007 lalu. PHE Randugunting memiliki wilayah kerja meliputi Kabupaten Rembang, Blora, Pati, Grobogan dan Tuban.

Hingga kini, PHE Randugunting telah melakukan pengeboran di beberapa wilayah di Jawa Tengah, namun tidak pernah menampakkan hasil yang memuaskan di hampir semua sumur-sumur yang dilakukan pengeboran kering (dry). Jika pun ada, kadarnya sangat rendah dan tidak layak untuk dieksploitasi.

Pada tahun 2016 ini, SKK Migas kembali mempercayai PHE Randugunting untuk melaksanakan pengeboran sumur eksplorasi di Kabupaten Rembang, tepatnya di Desa Krikilan, sebagai upaya terakhir untuk pencarian data dan pembuktian keberadaan hidrokarbon (migas) di wilayah kerjanya.

General Manajer PT. PHE Randugunting Abdul Mutalob Masdar mengutarakan, Desa Krikilan dipilih untuk pengeboran eksplorasi dikarenakan pada tahun 1996 Pertamina pernah membuktikan keberadaan gas bumi di wilayah tersebut melalui pengeboran sumur randugunting (RGT-1) yang terletak tidak jauh dari lokasi pengeboran RGT-2. Namun demikian, untuk memastikan keberadaan lebih lanjut atas cadangan potensi gas bumi tersebut, maka diperlukan konfirmasi ulang agar potensi migas didaerah ini dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Pengeboran sedalam 1.500 meter tersebut akan mulai dilaksanakan pada 15 November 2016 dan diharapkan pada tanggal 24 Desember 2016 sudah ada hasil dari kegiatan eksplorasi. Dalam 40 hari kerja tersebut, bakal mengahabiskan biaya sebesar $ 3.5 juta atau sekitar Rp 35 miliar. Sebenarnya anggarannya itu sebesar $ 4 juta hingga $ 5 juta. Akan tetapi untuk di Rembang ini pihaknya telah diberikan angaran sekitar $ 3.5 juta. Anggaran itu merupakan sebuah penghematan kita. Dan mudah mudahan nantinya pada 24 Desember nanti suidah mendapatkan hasil yang bagus. Jika hasil eksplorasi tidak memuaskan maka eksplorasi diwilayah randugunting akan dihentikan,” katanya.

Editor : Kholistiono

Agen Penyalur Minyak dan Solar Segera Berdiri di Karimunjawa Jepara

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Persoalan energi terutama Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa sedikit demi sedikit terurai. Setelah masalah distribusi teratasi, kini pembentukan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Karimunjawa segera direalisasikan.

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI mengatakan, APMS yang dibentuk guna mengatasi harga BBM di pulau terluar Jepara itu rencananya dapat beroperasi pada pertengahan Oktober ini. “APMS mulai operasi pertengahan Oktober. APMS tersebut diperkirakan bisa menampung 80 hingga 100 ton bensin dan solar,” ujar Edwin kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dengan adanya APMS tersebut nantinya diharapkan dapat menuntaskan persoalan BBM di wilayah Karimunjawa. Terutama berkait dengan stok dan masalah harga.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto menjelaskan, APMS itu nantinya akan melayani 13 pengecer. Lokasinya tersebar di kawasan Karimunjawa. APMS dibentuk untuk menormalkan harga BBM di Karimunajawa agar sama dengan daerah lain.

“Selama ini harga BBM tinggi karena beban pengangkutan masih ditanggung agen. Kalau sudah ada APMS tidak ada alasan harga BBM masih mahal karena pengangkutannya sudah di tanggung Pertamina,” katanya.

Namum, terkait pembentukan APMS tersebut, pihaknya belum mendapatkan informasi secara detail. Sebab, pembangunannya ditangani langsung oleh Pertamina dan pihak swasta. Pihaknya hanya melakukan pemantauan saja.

“Sebenarnya yang mengajukan untuk pembuatan APMS tersebut ada dua. Yaitu perusda dan pihak swasta atas nama Gagang. Hanya saja yang disetujui hanya satu yaitu dari swasta,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Pertamina Siap Dukung Proses dan Prosedur Gas In Jargas Blora

Suasana pembahasan Gas In Blora.

Suasana pembahasan Gas In Blora.

 

MuriaNewsCom, Blora – Pertamina EP Blora siap mendukung proses dan prosedur Gas In Jargas. Hal itu tampak saat pembahasan di Rapat Persiapan Gas-In Jargas Blora, di Blora, Selasa (19/7/2016).

Rapat dipimpin Bupati Blora Djoko Nugroho. Agus Amperianto, Field Manager (FM) PEP Asset 4 Field Cepu mengatakan, hasil sementara rapat jargas Blora tersebut, di antaranya mendukung proses dan prosedur Gas In Jargas.

“Pertamina EP siap dan mendukung proses dan prosedur Gas-In Jargas, dan bersamaan telah menyelesaikan Kesepakatan Bersama / KB Gas-In yg mengatur aspek legal & komersialnya,” kata Agus dalam rilisnya ke MuriaNewsCom.

Selain itu, juga dibahas hasil identifikasi Hazops (Hazard Ops Identification) ditindaklanjuti dan diantisipasi bersama, dan menjadi tindaklanjut dari team terintegrasi yaitu Pemkab Blora, SKk Migas, DitJen Migas, PGN serta Pertamina EP.

Disinggung pula soalperalatan Diff Pressure Closing Valve yang akan dipasang oleh PGN pada sistem pemipaan distribusi Jargas Blora, sebagai pengganti sementara SDV. Itu menindaklanjuti rekomendasi studi Hazops.

“Selanjutnya pada  29 Juli 2016, mudah-mudahan pekerjaan sosialisasi ke masyarakat dan Gas-in sudah bisa dilaksanakan,” pungkas Agus.

Editor : Akrom Hazami

 

Pertamina ADK Kembali Akan Bor Sumur Migas pada Oktober Mendatang

PEPC ADK sosialisasikan rencana kegiatan 2016. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PEPC ADK sosialisasikan rencana kegiatan 2016. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) Alas Dara Kemuning (ADK) akankembali melakukan pengeboran sumur eksplorasi di wilayah Kecamatan Jiken. Eksplorasi ini, sebelumnya sempat terhenti pada akhir 2014 silam.

Persiapan demi persiapan pun tengah dilakukan oleh manajemen PEPC ADK, yakni terkait perizinan, sosialisasi dan persiapan teknis lainnya. Sampai saat ini masih dalam tahap pelelangan. “Belum tahu siapa kontraktor yang bakal melaksanakan pengeboran,” ujar Chip Petrolium Enginer PEPC ADK Ari Triansa.

Kali ini, sumur eksplorasi KMD-01 di Lapangan Kemuning diusulkan dibor untuk membuktikan kandungan hidrokarbon pada struktur Kemuning dengan target utama formasi kujung equivalent (Ngimbang) dan target sekunder formasi tawun.

Sebelumnya, PEPC ADK berhenti melakukan eksplorasi pada akhir tahun 2014 dikarenakan habis masa kontraknya. Pada awal 2015, PEPC telah melakukan re-entry terhadap empat sumur di wilayah setempat. Yakni wilayah sumur NGBT-01, sumur NGBU-04, Desa Nglobo, Kecamatan Jiken dan sumur ALSD-01 dan sumur ALSD-04 di Desa Cabak, Kecamatan Jiken.

Pada 26 Desember 2014, muncul semburan lumpur bercampur gas dan air di kawasan persawahan dan hutan jati di Desa Nglobo. Diduga, semburan itu sebagai ekses dari kegiatan re-entry sumur NGBU-04. Jumlah semburan mencapai 41 titik yang tersebar di sejumlah lokasi. Setelah beberapa hari melakukan penanganan, PEPC berhasil menutup semburan tersebut.

Dalam mengantisipasi hal yang tak diinginkan seperti pada sebelumnya, berbagai persiapan tengah dilakukan diantaranya dengan perencanaan keadaan darurat, perencanaan lokasi evakuasi, pemasangan sensor untuk mendeteksi H2S, termasuk sweeper dari radius tertentu dari lokasi pengeboran.

Selain itu, ketersediaan personel yang kompeten sebagai tim penanggulangan H2S juga disiapkan. “Kami juga menyiapkan desain pengeboran yang telah mengakomodir kemungkinan terburuk,” jelas Ari Triansa.

Sementara, Bupati Blora Djoko Nugroho berharap, pengeboran sumur eksplorasi kali ini membuahkan hasil. Menurutnya, dari beberapa kali pengeboran oleh sejumlah perusahaan perminyakan di Blora sejak beberapa tahun lalu, hingga kini belum membuahkan hasil yang menggembirakan.

“Kita berharap dan berdoa bersama, semoga pengeboran kali ini hasilnya bagus untuk cadangan energi nasional,” ujar Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho.
Editor : Kholistiono

Pertamina Setia Kelola Sumur Tua dengan Paguyuban

Salah satu sumur tua yang ada di Kabupaten Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu sumur tua yang ada di Kabupaten Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan sumur tua di Kabupaten Blora sampai saat ini masih menjadi polemik. Yaitu dalam hal pengelolaan antara BUMD atau KUD. Meski berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2008 dikelola oleh paguyuban.

Dalam hal ini nyatanya Pertamina masih setia mengelola sumur tua dengan paguyuban. Ada dua wilayah yang saat ini dikelola, yakni wilayah Semanggi, Kecamatan Jiken, dan wilayah Ledok Kecamatan Sambong.

Padahal, dalam pengelolaan sumur tua, Pemerintah Kabupaten Blora bersamaan dengan DPRD Blora telah mendorong agar sumur tua dikelola BUMD. ”Yang dikelola paguyuban hanya sumur-sumur di Ledok dan Semanggi. Sedangkan, KUD Wargo Tani masih mengelola di Banyubang,’’ kata Manager PT Pertamina EP Asset IV Field Cepu, Sigit Dwi Aryono.

Sedangkan, nantinya ketika Pemkab Blora mengajukan prosesnya untuk mengelola sumur yang ada di Ledok dan Semanggi oleh BUMD, dirinya enggan berkomentar. “Bukan kapasitas saya. Itu kewenangan ada di Pertamina EP pusat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pengelolan sumur tua di dua lokasi itu memiliki jangka waktu. Yakni, mulai Januari-Juni 2016. Sebelumnya, sumur tua ini pernah diserahkan pengelolaannya pada paguyuban 15 Juni 2015 bersamaan dengan diserahkannya sumur tua di Wonocolo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dirinya pun tidak bisa memberikan komentar ketika nantinya ada dorongan dari DPRD agar sumur tua bisa dikelola oleh BUMD.

”Saya tidak berpendapat terkait hal itu. Itu kebijakan Pemerintah Kabupaten Blora. Monggo diproses sesuai yang berlaku,’’ ujarnya.

Setiaji Setya Wijaya, anggota Komisi B DPRD Blora mengungkapkan, keberadaan sumur tua harusnya dikelola oleh BUMD yang nantinya hasil dari pengelolaan masuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Jadi rakyat bisa menikmati dari adanya sumur tua,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan MuriaNewsCom, Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Migas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora Djati Walujastono mengatakan pengelolaan sumur peninggalan Belanda tersebut berdasarkan Peraturan Menteri ESDM nomor 1 tahun 2008 dan pedoman tata kerja 023/PTK/III/2009.

“Dari peraturan tersebut sudah jelas bahwa dari peraturan tersebut menyebutkan bahwa pengusahaan dan memproduksi minyak bumi dari sumur tua hanya dilaksanakan oleh KUD/BUMD dengan melaksanakan pengajuan permohonan kepada K3S dengan tembusan Kepala Menteri ESDM melalui Direktorat Jenderal Migas dan Kepala SKK Migas,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Ngelo Protes Ke Pertamina dengan Hentikan Tangki

Sejumlah warga trengah menghentikan tangki pengangkut limbah dari PPP Menggung Pertamina EP 4 Cepu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sejumlah warga trengah menghentikan tangki pengangkut limbah dari PPP Menggung Pertamina EP 4 Cepu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Warga RW 02 Kelurahan Ngelo, Kecamatan Cepu, Blora protes ke Pertamina dengan menghentikan tangki yang akan memuat limbah hasil produksi dari Pusat Penampungan Produksi (PPP) Menggung Pertamina Asset 4 Field Cepu pada Kamis (14/01/2016).

Penghentian tangki tersebut bermula dari kegerahan warga RW 02 Ngelo yang notabene berada di ring 1 PPP Menggung, hanya mendapatkan bau busuk dari limbah PPP Menggung.

Bandan Purwanto, selaku tokoh pemuda yang juga sebagai koordinator aksi penghentian tangki mengungkapkan, warga sekitar tidak sekadar menerima bau busuk hasil limbah PPP Menggung, tapi juga harus ikut mengelola dengan alasan menaikkan taraf ekonomi. ”Ini sengaja kami lakukan agar ada perwakilan dari Pertamina turun ke lokasi. Sehingga kami bisa berkomunikasi,” ujarnya.

Supriyadi, Asisten Manager Health, Safety, Security and Environment (Asmen HSSE) Pertamina Eksplorasi dan Produksi Field 4 Cepu mengatakan, pihaknya terbuka dan akan merespon dengan baik. ”Kami merespon, asal sesuai aturan usaha,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, ketika ingin berpartisipasi dalam pengolahan limbah, harus memenuhi beberapa persyaratan. Di antaranya warga harus menggandeng pihak ke 3 (perusahaan), memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan memiliki izin pengangkutan dari dinas perhubungan. Sementara sampai saat ini warga belum memiliki izin pengolahan dari KLH serta izin pengangkutan dari dinas perhubungan sudah kadaluarsa.

Martono salah seorang operator tangki Prasada Pamunah Limbah Industri (PPLI) mengatakan, dirinya tidak tahu menahu terkait penghentian tangki tersebut. ”Kami tidak tahu, hanya dihentikan maka kami pun berhenti,” ungkapnya.

Martono yang merupakan warga Bojonegoro rencananya akan mengambil dua tangki limbah dari PPP Menggung, untuk diproses dan dibawa ke Bogor. Ia menambahkan, dalam sehari dirinya bisa mengambil dua tangki limbah. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Pengecer Lebih Pilih Jual Premium Ketimbang Pertamax

Iin dibantu rekannya mengisi bensin ke dalam botol eceran. Setiap siang hari, stok bensinnya selalu habis dan harus diisi lagi. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Iin dibantu rekannya mengisi bensin ke dalam botol eceran. Setiap siang hari, stok bensinnya selalu habis dan harus diisi lagi. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Maraknya penjual bensin eceran di berbagai sudut wilayah Kudus ini ternyata tetap memiliki peminat. Masyarakat yang enggan mengantri di SPBU atau jarak tempat tinggal jauh dari SPBU, sering membeli bensin eceran. Rata-rata mereka membeli bensin eceran jenis premium yang mayoritas dijual pedagang.

Seperti Indah, atau yang akrab dipanggil Iin, pedagang bensin eceran di jalan Sunan Muria, Kudus. Setiap hari ia kulak bensin jenis premium di SPBU Panjang. Satu jerigen besar berukuran 25 liter dibawanya untuk diisi premium dan dijualnya kembali dalam bentuk botol berukuran satu liter.

”Saya pilih jualan premium saja, soalnya orang-orang lebih banyak beli bensin premium. Harganya juga stabil, tidak berubah-ubah. Ini per satu botol ukuran 1 liter saya jual dengan harga Rp 8.000. Harganya sama dengan para pedagang lainnya. Kalau saya jual Pertamax, harganya kan berubah-ubah,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Biasanya Iin berjualan mulai pukul tujuh pagi hingga sore hari. Dalam sehari ia bisa menjual mulai dari 25 hingga 50 botol. Berbeda dengan pedagang lainnya yang biasa menyimpan sisa bensin yang tidak laku, bensin yang dijual Iin tidak ada sisa.

”Buat antisipasi, saya tidak mau menyimpan bensin yang tidak laku. Untungnya, bensin yang saya jual selalu habis setiap hari. Kata orang-orang bensin yang saya jual awet buat perjalanan karena masih jernih,” tambah Iin.

Berbeda dengan Totok, pedagang eceran di Dersalam juga menjual bensin eceran jenis premium dengan harga yang sama. Dalam sehari, ia bisa menjual 25 botol dan berkulakan bensin hingga 35 liter. Namun, karena adanya perbaikan jalan di depan warungnya, dianggap menjadi kendala dua pekan terakhir ini.

”Sudah dua pekan ini mau kulakan saja repot. Bukan hanya bensin saja. Stok LPG 3 kg di warung juga menipis. Belum sempat kulakan ya karena perbaikan jalan ini,” keluhnya. (HANA RATRI/TITIS W)

Selain di Wonopotro I, PHE Randugunting Juga Siap Lakukan Pengeboran di Blok Lain

Sejumlah pekerja saat di area pengeboran PHE Randugunting di Plantungan Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah pekerja saat di area pengeboran PHE Randugunting di Plantungan Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Menurut perwakilan Direksi Pertamina Hulu Energi, Darwin Tangkalalo, selain sumur minyak yang terdapat di Wonopotro, ada beberapa blok lain yang saat ini siap untuk dilakukan pengeboran sebagai penopang terpenuhinya produksi 30 juta barel. Lanjutkan membaca

Kandungan Minyak di Sumur Wonopotro I Capai 30 Juta Barel, PHE Randugunting Bisa Produksi Minyak 400-500 Bph

Sejumlah pekerja saat di area pengeboran PHE Randugunting di Plantungan Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah pekerja saat di area pengeboran PHE Randugunting di Plantungan Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting mulai melakukan pengeboran sumur Wonopotro I di Desa Plantunga, Kecamatan Blora, sejak Sabtu (1/8/2015). Jika berhasil, diprediksi akan memperoduksi minyak 400-500 bph. Lanjutkan membaca

Gagal Kantongi Izin Pertamina, Objek Wisata Sumur Pompa Angguk Tak Bisa Dikunjungi

Sejumlah warga saat melihat dan berfoto di dekat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah warga saat melihat dan berfoto di dekat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Pemerintah Kabupaten Blora masih merasa kesulitan untuk mengembangkan destinasi wisata Sumur Pompa Angguk, sebagai salah satu ikon wisata Blora. Pasalnya, hingga sekarang, pemkab belum mengantongi izin dari pertamina untuk menjadikan sumur sumur pompa angguk tersebut sebagai tempat wisata.

”Kami sudah mengajukan izin ke Pertamina, tapi masih dijanjikan. Ironisnya, hingga saat ini belum ada pemberitahuan tertulis kembali atas izin tersebut. Padahal, area tersebut sangat menjanjikan untuk dunia wisata Blora,” kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten Blora, Sugiyanto, Sabtu (4/7/2015).

Ia menyebutkan, selama bulan Juni kemarin, setidaknya ada tiga kunjungan wisata yang gagal mengunjungi sumur pompa angguk milik Pertamina. Ketiga kunujungan tersebut yaitu kegiatan Duta wisata Blora, kunjungan Asosiasi Pelaku wisata Jawa Tengah, dan Road show pelaku wisata Blora.

”Melihat sulitnya izin masuk ke wuliyah Pertamina, kami terpaksa mengalihkan kunjungan Sumur Pompa Angguk ke wilayah Banyuasin. Karena itu, kami berharap Pertamina memberikan kemudahan perijinan untuk masuk ke wilayah sumur pompa angguk di Nglobo sebagai salah satu tujuan wisata,” tandasnya.

Sementara itu Public Government Relatlion and CSR Staff Pertamina Asset 4 Field Cepu, Aulia Arbiani, mengaku belum mengetahui jika Pemkab mengajukan izin.

”Mungkin mengajukan izinnya ke Pertamina Asset 4 Jakarta. Bukan di pertamina Asset 4 Field Cepu, sebab kami belum mengetahuinya” ucapnya melalui pesan singkat. (PRIYO/SUPRIYADI)