Pemecah Batu Ilegal Rahtawu, Polisi dan TNI Mengintaimu

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Desa Rahtawu, Sugiyono mengaku bakal menggandeng Babinsa dan Babinkamtibmas setempat untuk bisa ikut serta memantau kegiatan ilegal pemecahan batu di desa setempat.

“Kami sangat gerah sekali dengan kelakuan warga yang memang secara diam-diam melakukan pemecahan batu besar di tepi kali. Oleh sebab itu, yang pertama kita sudah melaporkan ke Satpol PP pada Jumat (25/3/2016). Kita akan rancang perdesnya, dan yang terakhir yakni kita akan menggandeng babinsa dan babinkamtibmas desa ini,” kata Sugiyono.

Dia menilai, bila ada pemantauan secara bersama-sama, baik dari pemerintah desa, serta aparat yang ada, maka warga yang melakukan pemecahan batu secara ilegal tidak bisa seenaknya. Sebab yang mereka hadapi adalah aparat penegak hukum.

Pihaknya akan selalu memberikan imbauan kepada masyarakat di saat ada rapat kerja. Baik itu beserta perangkat desa ataupun kepada masyarakat secara tersendiri.

“Lingkungan pegunungan itu memang harus dijaga, bila tidak dijaga secara terus menerus, maka akan bisa longsor. Sebab bila longsor menimpa, yang rugi bukan pemerintah saja, melainkan masyarakt juga akan rugi. Sebab di Kecamtan Gebog, khususnya Menawan dan Rahtawu sering terjadi longsor,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Ilegal, Pemecah Batu di Rahtawu Kudus Diperketat 

Ilegal, Pemecah Batu di Rahtawu Kudus Diperketat

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, akan membuat peraturan desa (Perdes) mengatur kegiatan penambangan atau pemecahan batu. Sebab, aktivitas pemecah batu ilegal masih marak.

Kepala Desa (Kades) Rahtawu, Gebog Sugiyono mengatakan, pihaknya akan membentuk perdes. Hal itu merupakan kesepakatan pemdes, tokoh muda, dan tokoh masyarakat. Setelah sehari sebelumnya, pada Jumat (25/3/2016), satpol PP menertibkan aktivitas pemecah batu ilegal.

Baca juga : Pemecah Batu Ilegal Sungai Rahtawu Lari Tunggang Langgang 

“Intinya, pemecah batu boleh dilakukan. Dengan syarat dijual ke dalam desa. Bukan ke luar desa,” kata Sugiyono, Sabtu (26/3/2016).

Terkait perdes, kades menegaskan nantinya akan ada tim pemantau ke lapangan. Mereka bisa mengetahui secara langsung aktivitas penambangan batu yang merugikan. Saat itu juga, pemdes akan memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang ada.

Batu besar di wilayah Rahtawu berangsur berkurang. Pemecah batu telah memecahnya sampai seukuran kecil. Padahal keberadaan batu besar dianggap mampu mengurangi terjangan longsor. “Memang salah satu penyebab longsor itu yakni tidak adanya batu berukuran besar,” ujarnya.

Dari pantauannya, aktivitas pemecahan batu ilegal dilakukan di lahan warga di tepi sungai. Kendati demikian, kata Sugiyono, kegiatan itu tidak dapat dibenarkan mengingat amat merugikan lingkungan. Dia berharap, perdes itu akan mengurangi tingkat penambangan batu ilegal.

Editor : Akrom Hazami

Ini Tanggapan PT Omya Indonesia Terkait Tuntutan Pendemo

Puluhan warga yang tergabung dalam Pemuda Terongan Independen Rasional (PETIR) melakukan demo di depan pagar perusahaan tambang milik PT. Omya Indonesia (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Puluhan warga yang tergabung dalam Pemuda Terongan Independen Rasional (PETIR) melakukan demo di depan pagar perusahaan tambang milik PT. Omya Indonesia (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Perusahaan tambang penggilingan batu putih milik PT Omya Indonesia yang berada di Rembang, mengklaim sudah mengendalikan operasional untuk meminimalisasi debu yang ditimbulkan oleh pabrik.

Hal tersebut disampaikan Plan Koordinator PT Omya Indonesia Didik Siswoyo. Menurutnya, perusahaannya telah memasang alat peredam suara, dan mengendalikan operasional untuk meminimalisasi debu yang ditimbulkan.

Didik mengatakan, akan memasrahkan tuntutan demonstran kepada PT Graha Sekar Kencana (GSK). Sebab, urusan rekrutmen karyawan sejatinya merupakan kewenangan PT GSK, sebagai rekanan PT Omya Indonesia.

“Sebenarnya tuntutan mereka belum jelas. Kabar soal adanya PHK itu belum kami ketahui. Karena manajemen belum ada putusan soal PHK. Persoalan ini pasti akan kami atasi,”ujarnya, Rabu (27/1/2016).

Sementara itu, soal tindakan sewenang-wenangan manajemem, dia mengaku belum memahami duduk permasalahan yang dialami karyawan. Sebab, mereka merupakan karyawan outsourcing di bawah naungan PT GSK selaku perusahaan rekanan.

“Sebenarnya untuk tuntutan belum jelas, mungkin ada gosip yang beredar sehingga mereka punya pemikiran sendiri. Kami tidak tahu kenapa mereka seperti itu. Nanti akan kami sampaikan kepada PT GSK, supaya manajemen GSK yang menanganinya,” bebernya.

Editor : Kholistiono 

Kembali, Puluhan Warga Menggeruduk Perusahaan Tambang di Rembang

Puluhan warga yang tergabung dalam Pemuda Terongan Independen Rasional (PETIR) melakukan demo di depan pagar perusahaan tambang milik PT. OMYA Indonesia, Rabu (27/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Puluhan warga yang tergabung dalam Pemuda Terongan Independen Rasional (PETIR) melakukan demo di depan pagar perusahaan tambang milik PT. OMYA Indonesia, Rabu (27/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Puluhan warga berbondong-bondong menggeruduk perusahaan tambang milik PT OMYA Indonesia yang berada di Desa Wonokerto, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, Rabu (27/1/2016) siang.

Puluhan pria yang tergabung dalam Pemuda Terongan Independen Rasional (PETIR) melakukan demo di depan pagar perusahaan penggilingan batu putih tersebut, dikarenakan masyarakat merasa terganggu dengan polusi yang ditimbulkan akibat operasional pabrik OMYA Indonesia.

Setelah melakukan long march dari kantor Balai Desa Wonokerto, warga menuju lokasi perusahaan dan melakukan orasi. Dalam orasinya, warga mengaku resah akan polusi udara dan gangguan suara bising yang ditimbulkan dari operasioal pabrik.

Koordinator aksi, Muhamad Nur Kholis mengatakan, selain adanya keluhan dari warga terkait polusi debu, pihak perusahaan sering berlaku sewenang-wenang terhadap karyawan warga lokal.
”Kesalahan sedikit saja mereka diancam akan diberhentikan. Terlebih lagi baru-baru ini PT GSK juga merekrut dan melatih puluhan karyawan baru,” ujarnya kepada awak media.

Menurutnya, di bulan ini, PT GSK yang merupakan perusahaan outsourching yang merekut karyawan untuk OMYA tengah merekrut 20 orang karyawan baru untuk dilatih. Mereka pun khawatir terancam kehilangan pekerjaan. ”Sehingga para karyawan lama yang hampir mayoritas warga lokal khawatir kehilangan pekerjaan,” tambahnya.

Pihaknya meminta perusahaan mengatasi polusi debu dan suara bising yang ditimbulkan dari perusahaan. ”Selain itu kami juga menuntut perusahaan tetap mengakomodir dan mengutamakan tenaga kerja lokal,” tandasnya.

Salah satu warga yang ikut demo, Wahyu Haka menambahkan sudah dua hari ini karyawan baru dilatih oleh karyawan lama di perusahaan tersebut. Menurutnya, nanti kalau karyawan baru sudah bisa ada rencana karyawan lama akan dikeluarkan.

”Kami tidak bisa terima itu, karena ibaratnya kami bunuh diri. Ibaratnya kami diminta mengasah pedang yang nantinya digunakan untuk membunuh kami,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Demonstran Penolak Pabrik Semen Bubar, Ini Komentar Bupati Pati

Batu-batu berserakan di sekitar lokasi demonstrasi tolak pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom / Lismanto)

Batu-batu berserakan di sekitar lokasi demonstrasi tolak pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom / Lismanto)

PATI – Ribuan pendemo yang memblokade jalan pantura Pati telah membubarkan diri pada Kamis (23/7/2015) sekitar pukul 16.00 WIB. Usai membubarkan diri, mereka menggelar aksi arak-arakan keliling di sejumlah jalan di Kota Pati. Lanjutkan membaca

Meski Punya Potensi Bahan Tambang, Namun Grobogan Minim Batu Akik

f-tambang (e)

Sampel bahan tambang yang berasal dari Grobogan (MURIANEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Meski selama ini Grobogan lebih dikenal sebagai salah satu penghasil bahan galian C namun kandungan batu yang bisa diolah jadi bahan akik masih minim. Kalaupun ada yang berhasil menemukan bahan akik Jala Sutra khas pegunungan kendeng, jumlahnya tidak begitu besar. Lanjutkan membaca