Nelayan yang Tewas Sedang Seorang Diri di Laut Mencari Rajungan

Petir 2

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang nelayan bernama Suwito Hasyim Ashari (48), Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, tewas di tengah laut, pada pagi buta di hari Senin (25/4/2016) sekitar pukul 04.30 WIB.

Dari kronologis yang dihimpun petugas kepolisian, korban Suwito diketahui pergi seorang diri mencari rajungan menggunakan perahu cukrik.

Pada saat yang bersamaan, ada sekitar delapan nelayan berangkat ke laut dengan tujuan yang sama, yaitu berburu rajungan. Setelah sampai di tengah laut, korban mengambil jebakan rajungan yang sudah dipasang sehari sebelumnya.

Saat hendak mengambil jaring, suara petir terdengar menggelegar dengan keras. Diduga, korban kaget dengan suara petir dan terjatuh.

”Menurut keterangan Sarno, salah satu saksi, dirinya juga kaget dengan petir itu. Nah, saat dia menoleh ke arah korban, korban tidak terlihat dari perahu. Saksi pun langsung memberi tahu teman-temannya untuk menengok korban,” ujar Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati, kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/4/2016).

Setelah didekati, korban ternyata sudah dalam keadaan telentang, dengan luka berdarah pada kepala dan telinga kiri mengeluarkan darah. Saat itu pula, teman-temannya membawa korban dan perahunya menepi.

”Usai mendapatkan laporan warga, petugas Polsek Tayu datang dan melakukan olah TKP bersama dengan tim medis dari Puskesmas Tayu. Kepala korban terbentur baut besi berdiameter 1 cm. Ada sisa rambut di baut itu,” pungkasnya.

Editor: Merie

Pohon Tumbang di Peganjaran Kudus Timpa Kabel Listrik

pohon tumbang (e)

Petugas dan warga di sekitar jalan Ring Road Utara, Peganjaran, Kudus, terlihat membersihkan pohon yang tumbang di sana, pada Minggu (10/4/2016) pagi. (Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebuah pohon di jalur Ring Road Utara Singocandi, turut Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, tumbang pada Minggu (10/4/2016) pagi. Belum diketahui penyebab kenapa pohon tersebut tumbang.

Yang jelas, tumbangnya pohon tersebut membuat arus lalu lintas cukup terganggu. Masyarakat harus hati-hati saat melewati jalur tersebut. ”Saya pikir tadi kendaraan tersendat karena apa. Ternyata ada pohon tumbang,” kata Syarief, salah seorang pengendara yang melewati jalur tersebut.

Usai pohon tersebut tumbang, terlihat aparat kepolisian dari Polsek Kota, mengamankan jalur jalan. Ini dilakukan supaya pengendara, baik mobil ataupun motor, bisa menghindari pohon yang tumbang tersebut.

Beberapa pengguna jalan yang melalui jalur tersebut, terlihat mengabadikan peristiwa itu. Sementara pengendara juga berjalan pelan, karena ingin melihat pohon tersebut.

Akibat tumbangnya pohon, kabel listrik yang ada di sana ikut terganggu. Sehingga pembersihan pun akhirnya dilakukan aparat terkait dan warga setempat.

Selain kabel listrik, beberapa bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu, juga turut tertimpa pohon tersebut. Petugas masih membersihkan pohon yang tumbang, sambil mengatur lalu lintas di sana.

Editor: Merie

Begini Kronologi Tewasnya 4 Nelayan Pangkalan Pati di Atas Kapal

Petugas menyiapkan ambulans untuk mengantar jenazah korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas menyiapkan ambulans untuk mengantar jenazah korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak ada yang menyangka bila empat anak buah kapal (ABK) yang berdomisili dalam satu desa meninggal dunia di atas kapal saat bekerja mencari ikan di kawasan perairan Maluku pada Kamis (17/3/2016) lalu. Keempatnya merupakan warga Desa Pangkalan, Kecamatan Margoyoso, Pati.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom, Senin (21/3/2016) membenarkan adanya laporan mengenai tewasnya empat ABK dalam satu kapal tersebut. “Dari hasil autopsi yang dilakukan saat singgah di Pelabuhan Kota Dobo, Maluku Tenggara, keempat korban meninggal karena keracunan,” katanya.

Kejadian itu bermula saat Ari Aprilia Manaf menguras dan membersihkan palka atau gudang penyimpanan dalam kapal akibat mengalami kebocoran. “Kalau palka kapal bocor, ikan hasil tangkapan biasanya cepat membusuk. Itu sebabnya salah satu dari mereka langsung memperbaiki,” tuturnya.

Tiba-tiba saja, Ari lemas dan pingsan. Melihat hal itu, ketiga ABK lainnya bernama M Faisal, Abdul Kolek dan Abdul Rohman berusaha menolong Ari. Ketiganya turun dan akan mengangkat dan mengeluarkan Ari yang sudah pingsan.

“Ketiganya yang kebetuan berada di atas palka mencoba menolong Ari, tapi ketiganya juga mengalami hal serupa. Ketiga orang tersebut lemas dan perlahan pingsan,” imbuhnya.

Mengetahui kondisi tersebut, nahkoda memerintahkan salah satu ABK untuk turun ke palka menggunakan alat bantu pernapasan masker dan kompresor. Setelah dicek, keempat ABK yang pingsan tadi sudah dipastikan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Diduga Keracunan, 4 Nelayan Asal Pati Tewas di Perairan Maluku

Kakak Beradik ini Tewas Tenggelam di Sungai Suromoyo Bangsri Jepara

tenggelam_pantai_kartini-e

Ilustrasi

 

JEPARA – Kakak beradik bernama Septiana Dinda Fitria Sari (5), dan Septian Aditya Putra (3), warga RT 1/RW II Desa Kedungleper, Kecamatan Bangsri diketahui tewas tenggelam di sungai Suromoyo yang berada di desa setempat. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (16/1/2016) kemarin sore.

Peristiwa ini bermula dari sang ayah bernama Mustaghfirin bersama kedua anaknya tersebut mencari pasir di sungai itu sekitar pukul 14.00 WIB. Saat sang ayah sedang mengumpulkan pasir, kedua anaknya tiba-tiba meninggalkan posisi ayahnya. Mustaghfirin mengira jika kedua anaknya meninggalkannya pulang lebih dulu.

Namun, ketika Mustaghfirin pulang ke rumahnya sekitar pukul 15.30 WIB yang hanya berjarak beberapa meter saja dari sungai. Dia tidak mendapati kedua anaknya. Sontak, dia panic dan meminta pertolongan kepada sejumlah warga untuk mencari kedua anaknya tersebut.

”Saat itu kedua anaknya dicari di sungai, dan sekitar pukul 17.00 WIB, keduanya ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa,” ujar salah seorang tetangga korban, Agus Setya.

Menurutnya, kondisi kedua anaknya mengapung di aliran sungai terbawa arus. Posisi ditemukannya di dekat jembatan limpas di wilayah Desa setempat. Diduga kedua bocah tersebut tenggelam saat bermain di sungai karena memang kedalaman sungai terlalu dalam bagi mereka yang masih kecil-kecil.

Sementara itu, ayah korban Mustaghfirin belum bisa dimintai keterangan. Karena mendapati kedua anaknya yang telah meninggal dunia itu, membuatnya sangat terpukul. (WAHYU KZ/TITIS W)

Sebelum Tewas Gorok Lehernya, Pria Bakalan Krapyak Pukul Temannya di RSUD Kota Semarang

Mayat Endro purnomo (31) di lokasi kejadian di Semarang.

Mayat Endro purnomo (31) di lokasi kejadian di Semarang.

 

KUDUS – Sebelum tewas usai gorok leher sendiri, Endro purnomo (31) warga Dukuh Grogol RT04 RW04, Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, diduga memukul temannya. Diketahui, korban magang kerja di RSUD Kota Semarang.

Dari sumber yang dihimpun, sebelumnya, Selasa (5/1/2016) pukul 09.00 WIB, korban masih berada di tempat kerjanya. “Dia sempat mukul penjaga di tempat kerjanya, terus ke sini,” kata salah satu sumber di lokasi kejadian, Selasa (5/1/2016).

Selain itu juga, ada informasi beredar bahwa korban kena pemutusan hubungan kerja. Sehingga korban emosi kemudian memukul salah satu orang kemudian pergi. Entah bagaiman, korban memutuskan membawa pisau yang digunakannya untuk menggorok leher sendiri.

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Kota Semarang, Sutrisno mengatakan bahwa korban yang bekerja di bagian Sistem Informasi Manajemen (SIM) itu dikumpulkan bersama karyawan lain, Selasa pagi. Pengumpulan itu bukan untuk pemutusan hubungan kontrak kerja melainkan untuk membahas surat pengunduran diri yang diajukan oleh korban. “Kita itu justru ‘nggondeli’ (agar tidak keluar kerja,red),” kata Sutrisno.

Bahkan, Sutrisno tegas membantah melakukan memutuskan kontrak kerja, harus ada rapat direksi, sedangkan Selasa memang tidak ada rapat.

“Hari ini tidak ada rapat. Ini musibah. Kami serahkan penanganannya kepada polisi,” tandas Sutrisno.

Sebelumnya diberitakan, Endro sebelum melakukan aksi berdarahnya, turun dari motor kemudian berbincang lewat telepon seluler. Tidak lama setelahnya, ia emosi dan membanting helm. Seketika itu juga pisau kecil yang dibawa langsung digorokkan ke lehernya sendiri.

Warga yang melihat langsung berteriak dan menarik perhatian warga lain. Tapi tidak ada yang berani mendekat sampai Endro lemas dan tidak berkutik.

Petugas Polsek Pedurungan langsung datang ke lokasi dan membawa ke RS Bhayangkara, namun sayangnya nyawa korban tidak tertolong.

“Saya dengar teriak-teriak, saya keluar sama anak saya. Dia (korban) sudah geluntungan, pisau di leher,” kata saksi lainnya Said, warga Pedurungan Tengah V-A. (AKROM HAZAMI)

1 Orang Tewas saat Mikrobus Tabrak Vario di Tikungan Songkel Mereng Rembang

kecelakaan_02

Ilustrasi

 

REMBANG – Kecelakaan maut kembali terjadi di Rembang, Senin (7/12/2015). Insiden nahas itu terjadi di jalan Rembang-Blora, Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang tepatnya di tikungan songkel mereng.

Kecelakaan menyebabkan satu orang tewas. Kasus ini masih didalami polisi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebuah microbus dengan nomor polisi K 1427 AD menabrak sepeda motor Vario K 2736 BQ pada pukul 06.30 WIB. Sopir mikrobus diketahui bernama Mustamin (55) warga Desa Karang Jati, Kecamatan/Kabupaten Blora.

Sedangkan pengendara sepeda motor Vario yang tewas akibat peristiwa itu adalah Ahmad Arief Efendi (27) warga Punggur Sugeh RT 07 RW 08 Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. Arief meninggal dunia ketika hendak dibawa ke Rumah Sakit Dr R. Soetrasno karena mengalami luka parah di kepala.

Kasat Lantas Polres Rembang, AKP Ahmad Ghifar Al Ahfaqsyi menjelaskan, awalnya Arief melaju dari arah utara ke selatan. “Sesampainya di lokasi, jalan menikung. Sementara pengendara sepeda motor vario oleng ke kanan hingga melewati marka jalan,” jelasnya.

Tiba-tiba, lanjut Ghifar, saat bersamaan ada sebuah microbus melaju dari arah yang berlawanan. “Karena jarak sudah dekat, microbus tidak bisa menghindar hingga menabrak kendaraan yang dikendarai oleh Arief,” tandasnya.

Tikungan Songkel Mereng menjadi salah satu jalan menikung di Rembang yang rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Termasuk juga, menurut informasi, tikungan itu berhantu. Baca juga: Hantu Cantik di Tikungan di Rembang Siap Menakutimu. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

4 Peristiwa yang Bikin Geger Kota Ukir Selama Oktober

JEPARA – Kabupaten Jepara selama Oktober 2015 telah terjadi beberapa kejadian atau peristiwa yang menggegerkan Kota Ukir. Berikut beberapa kejadian yang dihimpun MuriaNewsCom.

1. Pelajar MTs dibunuh ayah kandung saat tolong ibunya
Pelajar MTs di Jepara, Afrianto alias Rian, (15), warga Desa Geneng, RT 03/RW 01, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, tewas. Niat menolong ibunya yang disiksa sang ayah, berujung maut saat dirinya justru diduga terbunuh di tangan ayahnya sendiri.
Rian tewas setelah dipukul ayahnya bernama Seraju, (45), pada Rabu (28/10/2015), sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, dia hendak menolong ibunya bernama Siti Hadroh (37), yang diduga dianiaya ayahnya. Pelaku saat ini sudah ditangkap polisi.

Pelaku (kanan)Seraju diinterogasi polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pelaku (kanan)Seraju diinterogasi polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

2. Pemuda Tewas saat Pertunjukan orkes dangdut
Orkes dangdut yang berlangsung di lapangan Kenari, Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, pada Sabtu (24/10/2015) malam lalu, memakan korban. Satu orang pemuda tewas dan satu orang kritis, usai ditusuk sesama pengunjung.

Korban penusukan saat berlangsungnya orkes dangdut. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Korban penusukan saat berlangsungnya orkes dangdut. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

3. Gempa Jepara
Pada Jumat 23 Oktober 2015 berdasarkan informasi dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempa berukuran 5.0 SR di wiyalah Jepara dan sekitarnya. Tepatnya berpusat di 26 km timur laut Jepara, atau di 47 km barat laut Pati dan 84 km timur laut Semarang. Gempa terjadi sekitar pukul 01.10 WIB.

Ilustrasi Gempa Jepara

Ilustrasi Gempa Jepara

 

4. Hutan Gunung Muria Terbakar
Hutan di lereng Gunung Muria yang berada di Kabupaten Jepara, terbakar pada 21/10/2015. Kemudian juga terjadi beberapa hari kemudian. Hutan milik Perhutani ludes dilalap api. Lahan yang terbakar itu sebagian besar berada di wilayah Bategede, Jepara. (AKROM HAZAMI)

Hutan yang terbakar di Kabupaten Jepara. (Polsek Nalumsari)

Hutan yang terbakar di Kabupaten Jepara. (Polsek Nalumsari)

Demonstran Penolak Pabrik Semen Bubar, Ini Komentar Bupati Pati

Batu-batu berserakan di sekitar lokasi demonstrasi tolak pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom / Lismanto)

Batu-batu berserakan di sekitar lokasi demonstrasi tolak pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom / Lismanto)

PATI – Ribuan pendemo yang memblokade jalan pantura Pati telah membubarkan diri pada Kamis (23/7/2015) sekitar pukul 16.00 WIB. Usai membubarkan diri, mereka menggelar aksi arak-arakan keliling di sejumlah jalan di Kota Pati. Lanjutkan membaca