Pemerintah Pusat Buka Lowongan Perawat Ikuti Kursus Bahasa Inggris 

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid saat berada di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah pusat membuka peluang bagi perawat yang mahir berbahasa Inggris. Itu dilakukan agar tenaga perawat di Indonesia mampu bersaing dan dapat diterima di rumah sakit di tingkatan internasional di luar negeri.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, mengatakan tahun ini pemerintah pusat memiliki progam mengkursuskan tenaga perawat di Indonesia. Namun tenaga tersebut harus benar-benar bersedia bekerja di luar negeri, dengan mengikuti tes.

“Ada 1.000 tenaga perawat yang dibutuhkan.  Mereka akan dikursuskan Bahasa Inggris. Mereka semua akan dikursuskan hingga lulus dan mendapatkan sertifikatnya. Jadi jika kursus kemudian tak lulus, akan dikursuskan lagi sampai lulus,” kata Nusron di pendapa Pemkab Kudus dalam kegiatan Sosialisasi Progam Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Jumat (24/3/2017).

Menurutnya, para perawat harus bersedia mengikuti program pemerintah untuk bertugas di luar negeri. Karena, dengan menjadi perawat di luar negeri, selain mendapatkan penghasilan yang tinggi, juga mengharumkan nama bangsa dengan jadi perawat tingkat dunia.

Dia mengatakan, kursus akan dilakukan di luar negeri. Dan dalam sekali kursus, biaya yang seharusnya dikeluarkan kisaran Rp 16 juta. Dengan biaya yang besar itulah diharapkan perawat mampu bekerja dil uar negeri.

Bagi yang berminat, dapat mendaftar di tempat yang disediakan.  Bahkan di DKK saja, dapat digunakan sebagai tempat pendaftaran tersebut. Ini berlaku di seluruh Indonesia, termasuk di Kudus.

Dia menjelaskan, sebelumnya banyak para perawat yang ikut tes dalam bekerja di luar negeri. Namun sebagian besar gagal lantaran tes Bahasa Inggrisnya, khususnya Bahasa Inggris medis.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pihak pemerintah mendukung penuh akan progam tersebut. Bahkan dia berterima kasih kepada Nusron, yang mana bersedia pulang ke kampung halaman demi hal tersebut.

“Bangga punya warga yang sukses di nasional. Kami mendukung penuh progam tersebut. Dan bagi warga Kudus, ini merupakan peluang yang sangat langka,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan Ribu Lulusan Perawat Nganggur Tiap Tahun

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, saat hadir di Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya 28 ribu lulusan perawat, menganggur setiap tahunnya. Kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bahkan sampai sekarang hal itu bukannya berkurang, tapi justru sebaliknya.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, menuturkan tentang hal tersebut saat di Kudus, Jumat (24/3/2017). Saking banyaknya yang nganggur, membuat mereka kurang sejahtera. Terlihat dari lulusan perawat yang akhirnya menjadi tenaga honorer, dengan gaji seadanya, serta ada yang bertahan menjadi pengangguran.

“Tiap tahun, lulusan perawat baru mencapai jumlahnya 43.150 orang. Sedangkan, yang terserap  dan mendapatkan kerja hanya 15 ribu, dengan jumlah maksimal. Jadi, rata-rata tiap tahun 28 ribu nganggur,” katanya di pendapa Kabupaten Kudus dalam kegiatan Sosialisasi Progam Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.

Menurutnya, semakin banyak lulusan tiap tahun, maka pengangguran juga semakin banyak. Hingga kini jumlah perawat yang menganggur sekitar 422 ribu orang. Melihat hal itu, dia mengajak para lulusan perawat dapat bekerja lebih layak dil uar negeri. Bukan sebagai TKI yang berprofesi pembantu, namun lebih sebagai TKI yang memiliki penghasilan lebih lantaran sebagai perawat. 

Selain itu, perawat diluar negeri sangat dihormati dan memiliki gaji yang amat banyak. Yaitu mencapai Rp 20 hingga Rp 40 juta dalam rupiah. Jumlah tersebut sangat berbalik jika menjadi perawat dengan status yang tak jelas, apalagi pengguran.

“Jangan jadi perawat tak tetap gaji seadanya dan berharap PNS. Apalagi sampai nyogok sana-sini dengan jual tanah, kerbau, sapi dan sebagainya. Tidak bisa,” ujarnya.

Dia mengatakan, perawat di Indonesia merupakan perawat yang unggul di luar negeri. Bahkan kebutuhan sangat tinggi akhirnya ada pihak yang meminta tenaga dari Indonesia. Ada sejumlah negara yang siap menerima tenaga perawat Indonesia, seperti Amerika, Arab bahkan Jepang.

Editor  : Akrom Hazami

Kesejahteraan Perawat dan Keselamatan Pasien jadi Perhatian

raker

Anggota Raker membahas kesejahteraan perawat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kesejahteraan perawat dan jaminan keselamatan pasien masih menjadi isu yang menarik di kalangan dunia kesehatan di Indonesia. Dua masalah tersebut pula yang menjadi sorotan utama pada rapat kerja (Raker) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah, yang digelar di Jepara pada Jumat (22/7/2016).

Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto mengatakan, dua isu tersebut memang menjadi sorotan khusus pada Raker kali ini. Dia menilai, untuk kesejahteraan perawat saat ini masih banyak yang belum seimbang, antara kemajuan infrastuktur dengan gaji perawat.

“Kesejahteraan perawat masih banyak yang belum baik, terutama di sektor pelayanan kesehatan swasta. Dari sisi infrastruktur bangunan terus dilakukan, tetapi untuk gaji perawat masih rendah bahkan tidak memenuhi UMR. Itu yang saya maksud tidak imbang,” ujar Edy kepada MuriaNewsCom di gedung wanita Jepara, Jumat (22/7/2016).

Menurutnya, untuk gaji perawat secara umum di Indonesia masih memprihatinkan. Dibanding dengan Negara lain di ASEAN, gaji perawat di Indonesia paling rendah. Dengan Negara Thailand misalnya, gaji perawat tiga kali lipat dibanding di Indonesia, padahal biaya hidup di Thailand sama dengan di Indonesia.

“Untuk itu, standar gaji untuk Jawa Tengah kami petakan antara Rp 3-4 juta setiap bulannya. Kami mendorong agar semua rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya dapat memenuhi standar gaji para perawat,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk masalah jaminan keselamatan pasien. Pihaknya menyoroti bahwa perawat memang berkewajiban memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk itu, pihaknya mendorong adanya legalitas yakni izin dari instansi pemerintah terkait, dalam hal ini Dinas Kesehatan di kabupaten masing-masing ketika membuka praktik mandiri.

“Itu demi kepastian dan jaminan keselamatan pasien ketika pelayan kesehatan membuka praktik mandiri. Harus ada legalitasnya dari instansi pemerintah terkait,” katanya.

Sementara itu, acara raker tersebut diikuti oleh sekitar 250 peserta dari sejumlah unsur di bidang kesehatan. Selain raker juga digelar seminar yang diikuti oleh 800 peserta dari beberapa unsur, baik pelaku pelayanan kesehatan maupun pendidikan kesehatan.

Editor : Akrom Hazami