HUT ke-67 Jateng Dipusatkan di Jepara

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara akan menjadi tempat terselenggaranya ajang bertajuk Pesta rakyat Jawa Tengah 2017. Perhelatan yang digelar mulai Jumat-Minggu (25-27) Agustus itu digelar dalam memperingati HUT Provinsi Jateng ke 67.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku siap menjadi penyelenggara event akbar itu. “Dalam perayaan HUT Jateng Kabupaten Jepara mendapatkan sampur berupa tempat. Namun kita tidak diam diri dalam menyukseskan ajang ini, kita siapkan pengamanan. Juga kami minta masyarakat ikut berpartisipasi dalam ajang ini,” katanya, Selasa (22/8/2017).

Menurutnya, pesta tersebut tidak hanya diikuti oleh kabupaten Jepara saja. Seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah juga turut ambil bagian. Oleh karena itu ia meminta warganya menunjukan keramahan dan senyum khas Jepara. 

Rangkaian acara yang akan ditampilkan di antaranya, parade seni budaya 35 kabupaten dan kota se Jawa Tengah, Ketoprak Kontemporer yang pemainnya adalah pejabat termasuk Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng dan sebagainya.

Adapula penampilan penyanyi nasional Kunto Aji dan Band Shaggydog. Selain itu adapula Job Fair yang menyediakan puluhan lowongan kerja.

Editor: Supriyadi

Begini Cerita Asal Muasal Tradisi Perang Obor Tegalsambi Jepara

Para peserta perang obor melakukan atraksi, Senin (2/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Para peserta perang obor melakukan atraksi, Senin (2/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Perang obor yang digelar di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara memang menyedot perhatian banyak orang. Selain unik, Perang Obor juga menjadi ajang wisatawan dan fotografet dari berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja, banyak yang tidak tau bagaimana cerita asal muasal adanya Perang Obor tersebut.

Petinggi Desa Tegalsambi, Agus Santoso menceritakan, tradisi Perang Obor yang tahun ini digelar Senin (2/5/2016) malam ini, berawal dari kisah Ki Gemblong dengan Kyai Babadan.

Menurut dia, Ki Gemblong merupakan penggembala hewan milik Kyai Babadan. Pada suatu ketika, hewan-hewan yang digembalakan Ki Gemblong kurus dan beberapa jatuh sakit.

”Setelah diselidiki, ternyata Ki Gemblong tidak serius merawat hewan-hewan itu malah ditinggal mencari ikan dan udang,” kata Agus kepada MuriaNewsCom, Senin (2/5/2016).

Geram melihat ulah Ki Gemblong, Kyai Babadan marah. Saat Ki Gemblong membakar ikan dan udang di dekat kandang hewan peliharaannya, Kyai Babadan murka dengan menendang-nendang perapian. Tak pelak, percikan api membakar dami (batang padi kering). Lalu api membesar membakar kandang.

”Saat terjadi kebakaran itu, justru hewan-hewan yang tadinya sakit menjadi sembuh. Kemudian yang kurus-kurus menjadi gemuk-gemuk,” tutur Agus.

Dari cerita itulah,  lanjut Agus, ritual Perang Obor ini dilakukan warga. Menurutnya, dalam tradisi Perang Obor, peserta akan saling serang dan pukul dengan obor yang menyala berkobar-kobar. Dalam perang obor ini, tidak ada kawan maupun lawan. Semuanya punya kesempatan untuk saling memukulkan obor ke peserta lainnya.

”Meski mereka saling pukul, tapi tidak didasari rasa benci. Setelah perang berakhir, mereka akan kembali berbaikan, justru tradisi ini akan menambah kerukunan warga,” tutupnya.

Editor: Supriyadi