Tim Gabungan Masih Cari Satu Korban Perahu Pecah di Perairan Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, PMI, Basarnas dan Pol Air Jepara kini masih melakukan pencarian terhadap korban perahu pecah di Perairan Empu Rancak, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri. Satu korban atas nama Gisan, warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, hingga kini masih belum ditemukan.

Korban diketahui hilang sejak Kamis (16/2/2017) yang ketika itu, perahu yang ditumpangi bersama dua rekannya pecah diterjang ombak. Dua temannya yakni Nur Hadi (65) warga Dukuh Ngrandon,Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo dan Hariadi (60) asal Balongarto, Kecamatan Kembang, Jepara, bisa selamat dengan berpegangan bambu selama berjam-jam. Gisan yang semula juga ikut berpegangan bambu terlepas karena hempasan ombak, dan hingga kini masih belum ditemukan.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo mengatakan, pencarian untuk saat ini difokuskan pada penyisiran pantai. “Proses pencarian terhadap korban, sesuai dengan SOP yang ada. Yakni mengacu hingga 7 hari pascakejadian,” kata Pujo.

Baca juga : Perahu Pecah Diterjang Ombak, 3 Nelayan Mengapung dengan Pegangan Bambu, yang Terjadi Kemudian…

Dia melanjutkan, hari pertama hingga keempat, tim melakukan pencarian dengan kekuatan penuh di lokasi sekitar TKP. Sedangkan hari kelima hingga ketujuh, pihak tim melakukan penyisirian di pantai. Dan bilamana pencarian selama tujuh hari hasilnya nihil, maka akan dihentikan.

Namun demikian, katanya, jika dari pihak keluarga meminta untuk dilanjutkan dan bisa memberikan informasi yang berbobot, baik itu data atau ciri-ciri, sehingga bisa dilacak oleh tim dan memudahkan pencarian oleh tim, maka, sangat dimungkinkan untuk dilanjutkan.

Dalam hal ini, pihaknya juga mendirikan beberapa posko pengaduan. Hal ini untuk memudahkan tim untuk melakukan koordinasi. “Kita mendirikan beberapa posko, di antaranya yakni di Bondo, Bayuran dan Bandungharjo. Selain ituk kita mencarinya juga berpencar. Baik mulai TKP, Beringin dan Bandungharjo. Tentunya yang paling penting ialah mengikuti arus ombak atau angin. Sebab dimungkinkan korban terseret ombak sesuai arah angina,” katanya.

Editor : Kholistiono

Satu Lagi Korban Perahu Pecah di Perairan Jepara Ditemukan Dalam Kondisi Meninggal Dunia


Jenazah Jumanto saat dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga yang berada di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Sabtu (18/2/2017) sore. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Satu lagi korban perahu pecah akibat diterjang ombak di Perairan Bondo, Kecamatan Kembang, Jepara ditemukan oleh tim BPBD Jepara, pada Sabtu (18/2/2017) sekitar pukul 14.00 WIB.

Korban yang ditemukan terakhir ini atas nama Jumanto (37) warga Dukuh Ngetuk, Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Jepara. Jumanto ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia di perairan Bulak, yakni perbatasan antara Jepara dan Pati.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui kasi kedaruratan dan Logostik Pujo Prasetyo mengatakan, usai ditemukan, korban langsung divisum dan kemudian diserahkan ke pihak keluarga. “Korban ini merupakan asli Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, dan dapat istri orang Dermolo. Berhubung dekat dengan lokasi penemuan korban, maka jenazah dimakamkan di Puncel atas persetujuan keluarga,” katanya.

Sebelumnya, rekan korban atas nama Sugiyanto (45) warga Dermolo, Kecamatan Kembang, sudah ditemukan terlebih dahulu, yang juga sudah dalam kondisi meninggal dunia. Sugiyanto ditemukan oleh seorang nelayan bernama Ponco, warga Dukuh Beringin, Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling. Korban ditemukan Kamis (16/2/2017) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

“Korban ditemukan seorang nelayan yang sedang melaut. Kini, kami dari pihak BPBD Jepara juga telah menerjunkan puluhan personel dibantu relawan untuk melakukan pencarian. Sebab, masih ada satu lagi korban yang belum ditemukan,” katanya.

Perahu yang Ditumpangi 3 Nelayan Pecah Diterjang Ombak di Perairan Jepara, Begini Nasibnya

Untuk diketahui, peristiwa kecelakaan laut menimpa perahu yang ditumpangi tida nelayan di Perairan Bondo pada Kamis sore lalu. Ketika itu, perahu yang ditumpangi tiga nelayan atas nama Istiyono warga Tengguli, Bangsri, Sugiyanto dan Jumanto, pecah karena diterjang ombak.

Satu nelayan bernama Istiyono berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang menuju arah PLTU dan memanjat jeti melalui tangga dolpin bagian timur. Namun kedua nelayan lainya atas nama Sugiyanto dan Jumanto tidak bisa menyelamatkan diri. Sugiyanto ditemukan Kamis malam sekitar pukul 23.30 WIB sudah dalam keadaan tidak bernyawa, dan Jumanto ditemukan pada Sabtu siang, juga dalam kondisi sudah meninggal.

Editor : Kholistiono

Perahu Pecah Diterjang Ombak, 3 Nelayan Mengapung dengan Pegangan Bambu, yang Terjadi Kemudian…

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Jepara. Setelah pada Kamis (16/2/2017) sebuah perahu yang ditumpangi tiga nelayan pecah karena dihantam ombak di perairan Bondo, Kecamatan Bangsri, yang berakibat satu orang meninggal, satu selamat dan satu lagi hilang dan masih dalam pencarian.

Kejadian serupa juga terjadi perairan Empu Rancak Bondo, Kecamatan Bangsri, pada Kamis (16/2/2017) sore. Perahu yang juga ditumpangi tiga orang nelayan pecah dihantam ombak.

“Tiga nelayan tersebut adalah Nur Hadi (65) warga Dukuh Ngrandon, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Jepara. Kemudian Hariadi (60) warga Desa Balongarto, Kecamatan Kembang dan Gisan warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri,” ujar Kasat Pol Air Polrea Jepara AKP Hendrik Irawan.

Informasi yang didapatkan, mereka bertiga pergi melaut yang berangkan dari Sungai Ngelak, Desa Bondo, pada Kamis (16/2/2017) sekitar pukul 03.00 WIB. Namun melaut beberapa jam, mereka kembali ke daratan. Namun, sesampainya perairan Pantai Empu Ranca, pada Kamis (16/2/2017) sekitar pukul 16.00 WIB, perahu yang ditumpangi tiga nelayan tersebut dihantam ombak hingga pecah.

Melihat hal itu, mereka bertiga kemudian mencoba menyelematkan diri dengan mengapung menggunakan sebatang bambu yang panjangnya sekitar 5 meter yang berada di perahu. Berjam-jam, mereka mengapung di tengah laut. Namun, nahas bagi Gisan, yang justru tangannya terlepas dari bambu, karena tak kuat menahan kencangnya ombak.

“Pada Kamis malam, sekitar pukul 22.00 WIB, salah satu dari tiga nelayan yang mengapung dengan bambu ini hilang, karena, terlepas dari bambu yang dipegang mereka bertiga. Kemudian untuk yang dua lainnya berhasil  menepi dan diselamatkan oleh warga Dukuh Metawar, Desa Ujung Watu, Kecamatan Keling, Jepara, pada Jumat (17/2/2017) sekitar pukul 04.00 WIB di Banyumanis, Kecamatan Donorojo,” ungkapnya.

Sementara ini, pencarian terhadap korban yang hilang masih terus dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. Baik dari Pol Air Polre Jepara, BPBD, dan relawan. Sedangkan korban yang selamat, masih dalam perawatan di Rumah Sakit Donorojo.

Editor : Kholistiono

Satu Korban Perahu Pecah di Perairan Jepara Ditemukan

Petugas melakukan evakuasi terhadap korban atas nama Sugiyanto yang tewas tenggelam di Perairan Bondo, Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Satu korban perahu pecah akibat diterjang ombak di Perairan Bondo, Kecamatan Kembang, Jepara ditemukan. Satu korban yang ditemukan atas nama Sugiyanto (45) warga Dermolo, Kecamatan Kembang. Korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo mengatakan, Sugiyanto ditemukan oleh seorang nelayan bernama Ponco, warga Dukuh Beringin, Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling. Korban ditemukan Kamis (16/2/2017) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

“Korban ditemukan seorang nelayan yang sedang melaut. Kini, kami dari pihak BPBD Jepara juga telah menerjunkan puluhan personel dibantu relawan untuk melakukan pencarian. Sebab, masih ada satu lagi korban yang belum ditemukan,” katanya.

Untuk diketahui, peristiwa kecelakaan laut menimpa perahu yang ditumpangi tida nelayan di Perairan Bondo pada Kamis sore kemarin. Ketika itu, perahu yang ditumpangi tiga nelayan atas nama Istiyono warga Tengguli, Bangsri, Sugiyanto dan Jumanto, pecah karena diterjang ombak.

Perahu yang Ditumpangi 3 Nelayan Pecah Diterjang Ombak di Perairan Jepara, Begini Nasibnya

Satu nelayan bernama Istiyono berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang menuju arah PLTU dan memanjat jeti melalui tangga dolpin bagian timur. Namun kedua nelayan lainya atas nama Sugiyanto dan Jumanto tidak bisa menyelamatkan diri. Sugiyanto ditemukan tadi malam sekitar pukul 23.30 WIB sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

“Untuk pencarian satu korban yang masih belum ditemukan, kita saat ini masih menyisir daerah Kembang atau area PLTU. Selain itu juga akan menuju ke Bangsri, Keling dan lainnya. Tentunya akan selalu mengikuti arus atau angin,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Dua Pemancing di Jepara Hilang, Diduga Perahu yang Ditumpangi Diterjang Ombak

ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Dua pemancing asal Desa Kaliaman, Kecamatan Kembang, Jepara bernama Ngatno (42) dan Sunarso (45) warga Desa Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa, diduga hilang.

Dua orang ini pergi memancing pada Minggu (29/1/2017) dengan menggunakan perahu Fitri Jaya. Tujuan kedua pemancing ini adalah ke kawasan Takak Burung Karimun Jawa. Namun, hingga kini kedua pemancing tersebut tak kunjung pulang, dan diduga perahu yang ditumpanginya diterjang ombak.

Menurut informasi di lapangan, biasanya mereka pergi memancing atau mencari ikan hanya memerlukan waktu satu hari. Namun hingga kini, kedua orang tersebut tak kunjung pulang. Sehingga kuat dugaan perahu kapal yang mereka tumpangi untuk memancing diterjang ombak.

Relawan BPBD area Karimun Jawa Sriyanto mengatakan, kedua orang itu berangkat memancing ke Takak Burung pada Minggu (29/1/2017) pukul 06.00 WIB. “Kemungkinan kapal atau perahunya itu terhempas gelombang. Apalagi, pada Minggu pagi kemarin terjadi angin puting beliung yang berada di wilayah Jepara,” ujar Sriyanto.

Menurutnya, pada Senin (30/1/2017) kemarin, pihaknya sudah mengerahkan 3 unit kapal untuk melakukan pencarian. Namun hingga sore, hasilnya tak memuaskan.Untuk itu, pencarian hari ini kembali dilanjutkan dengan melibatkan berbagai instansi lainnya.

Editor : Kholistiono