Polres Grobogan Buka Posko Pengaduan Korban First Travel

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menunjukkan posko pengaduan korban First Travel yang ditempatkan di kantor Satreskrim. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus ribuan warga yang gagal diberangkatkan umrah oleh perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata mendapat perhatian cukup serius dari Polres Grobogan.

Indikasinya, bisa dilihat dengan dibukanya posko pengaduan di ruang Satreskrim bagi warga Grobogan yang ikut jadi korban First Travel, Kamis (31/8/2017).

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, pembukaan posko pengaduan bertujuan untuk menampung keluhan atau aduan dari warga. Pembukaan posko dilakukan karena dari informasi yang diterima, ada ratusan waga Grobogan yang mendaftarkan umrah lewat First Travel tetapi belum kunjung diberangkatkan.

”Sejauh ini memang belum ada aduan dari masyarakat yang jadi korban First Travel. Jika nanti ada laporan masuk, akan kami tindak lanjuti,” ungkapnya.

Sebelumnya, warga Grobogan yang jadi korban First Travel sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Jumlah pendaftar yang mengadu ke AMPHURI ini mencapai 160 orang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor : Supriyadi

160 Warga Grobogan Jadi Korban First Travel

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah warga Grobogan yang jadi korban perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata cukup banyak. Jumlah pendaftar umroh yang belum bisa diberangkatkan mencapai 160 orang.

Beberapa hari lalu, korban First Travel ini bahkan sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Informasi yang didapat menyebutkan, warga Grobogan yang tersebar di sejumlah kecamatan ini mendaftar lewat seorang koordinator bernama Adroi. Jumlah pendaftarnya sempat mencapai angka 380 orang. Namun, sebanyak 220 orang sudah diberangkatkan bertahap sejak tahun 2015.

Saat dihubungi wartawan, Adroi menyatakan, seluruh pendaftar sudah menyetorkan uang nilainya sekitar Rp 15 juta. Pemberangkatan 160 orang itu semua direncanakan April 2017. Namun, rencana itu akhirnya tertunda sampai sekarang.

Ia mengaku akan bertanggungjawab pada para pendaftar. Sebab, sejak awal memang menjembatani biro tersebut.

Saat ini, dia mengaku mengikuti perkembangan kasus tersebut. Terlebih ada 160 orang pendaftar yang belum berangkat.

“Sebelumnya, saya sempat bolak-balik ke Jakarta untuk menanyakan kepastian pemberangkatan pendaftar. Bulan Juni lalu, saya ke rumah pemilik First Travel Andika Surachman di Jakarta. Tapi rumahnya sudah kosong,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

“Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Duh, Korban First Travel Ternyata Ada yang Berasal dari Grobogan

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga yang jadi korban Perusahaan Penyelenggara Ibadah Umroh (PPIU) First Travel ternyata tidak hanya berasal dari kota besar saja. Sejumlah warga dari Grobogan dikabarkan juga ikut jadi korbannya, meski jumlahnya tidak signifikan.

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, informasi yang didapat memang ada warga dari Grobogan yang sempat menadaftar ibadah umroh lewat PPIU tersebut. Hanya saja, jumlah pastinya belum diketahui karena belum ada yang laporan resmi ke kantornya.

”Memang ada orang Grobogan yang ikut jadi korban First Travel. Mereka langsung mengurus sendiri ke pusat dan tidak laporan ke sini,” kata Hambali, saat ditemui di kantornya, Senin (21/8/2017).

Hambali berharap, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Ratusan Nasabah Swissindo Kudus Ditolak Bank Mandiri

Koordinator atau Deputi Jenderal UN-Swissiindo Kabupaten Kudus, Mughtanim menunjukkan berkas UN- Swissindo VM1. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga  berbondong-bondong mendatangi Kantor Cabang Bank Mandiri Kudus, Jumat (18/8/2017) pagi.

Kedatangan warga, untuk melakukan registrasi kepada Bank Mandiri Kudus, dengan membawa surat biaya peningkatan kesejahteraan hidup (VM1), dengan mengatasnamakan UN-Swissiindo.

Hanya, pihak bank Mandiri tak memberikan izin masuk untuk melakukan pengurusan. Itu lantaran, pihak Mandiri menolak ada kerjasama dengan UN Swissindo. Meski begitu, warga memilih bertahan di depan kantor sambil berharap dapat terlayani.

Baca Juga : Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Kordinator atau Deputi Jenderal UN-Swissiindo Kabupaten Kudus, Mughtanim mengatakan, pihaknya datang bersama ratusan warga melakukan registrasi membuka rekening. Rekening tersebut, nantinya dapat dimanfaatkan warga untuk kebutuhan dengan kiriman dari UN-Swissindo.

“Kalau saya datang dari sekitar jam 09.00 WIB kurang, namun ada yang dari jam 07.30 WIB yang datang. Tujuannya untuk membuat rekening guna registrasi VM1,” katanya kepada media di depan kantor cabang Bank Mandiri Kudus.

Dia menjelaskan, kegiatan ini  merupakan  kegiatan awal  dari registrasi  VM1 dari  UN-Swissindo. Sedang Bank Mandiri merupakan bank yang dianggap kerjasama dengan UN-Swissindo.

Disanggung mengenai jumlah warga yang ikut organisasi tersebut, jumlahnya mencapai belasan ribu. Karena, dari dia sudah mencetak sekitar 10 ribu lembar sertifikasi atas nama Swissindo dan VM1.

Editor: Supriyadi

Bupati Pati Bingung Dikabarkan jadi Korban Penipuan Swissindo

Bupati Pati Haryanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto dikabarkan terkena penipuan berkedok voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup yang mengatasnamakan UN-Swissindo.

Kabar itu bersumber dari Direskrimsus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar dalam sebuah pemaparan di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah, Rabu (16/8/2017).

Namun, Haryanto justru tidak mengetahui apa itu UN-Swissindo. Dia juga tidak tahu tentang kabar tentang penipuan yang mencatut namanya.

“Apa itu UN-Swissindo. Saya malah tidak tahu. Itu diklarifikasi ya,” ujar Haryanto saat ditemui MuriaNewsCom, usai menghadiri upacara penyerahan remisi umum narapidana di Lapas Kelas II B Pati, Kamis (17/8/2017).

Sebelumnya, Kombes Pol Lukas Akbar menyebut Bupati Pati Haryanto mejadi salah satu korban penipuan yang mengatasnamakan UN-Swissindo. Saat ini Ditreskrimsus Polda Jateng tengah melakukan penelurusan, termasuk kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian itu.

Baca juga : Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menyebut ada sekitar 30 warga Pati yang terkena penipuan UN-Swissindo. Mereka membayar sejumlah uang untuk menjadi anggota UN-Swissindo.

Korban dijanjikan mendapatkan fasilitas berupa pelunasan hutang ke enam prime bank, seperti Mandiri, BNI, BRI, BCA, Danamon, dan CIMB Niaga. Namun, surat kuasa yang diberikan kepada anggota untuk melunasi hutang di bank dipastikan pihak OJK sebagai bentuk penipuan.

Editor : Ali Muntoha

Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo

Contoh surat dari UN-Swissindo yang digunakan untuk menipu calon korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati diimbau untuk mewaspadai tawaran yang menyebut dirinya UN-Swissindo tentang voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup.

Imbauan itu disampaikan Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo setelah ada korban hingga 30 nasabah, Sabtu (12/8/2017).

“Penipuan ini sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Pati. Ada sekitar 30 nasabah yang tertipu UN-Swissindo di Pati,” kata Kompol Sundoyo.

Modus dari penipuan tersebut, salah satunya meminta korban untuk mencari debitur bermasalah untuk diajak bergabung, meminta korban membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggotanya dan mencari korban yang terlibat kredit macet, serta menjanjikan akan menyelesaikan hutangnya dengan jaminan surat berharga negara.

Bahkan, UN-Swissindo berani mengatasnamakan negara dan lembaga negara dengan dasar kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Modus tersebut dilakukan untuk mengelabuhi para korban.

“Jadi, sasaran korban adalah debitur bermasalah, dibujuk untuk tidak membayar hutang kepada kreditur. UN-Swissindo memberikan tawaran menggiurkan dengan melunasi semua hutang debitur. Tapi dengan syarat membayar biaya administrasi sebesar 50 persen dari angsuran bulanan,” tuturnya.

Demi menjaga keamanan masyarakat dari kejahatan penipuan berbasis keuangan, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk proaktif melaporkan kepada aparat penegak hukum bila ditemukan informasi sejenis.

UN Swissindo atau United Nations Swissindo World Trust International Orbit menyebut dirinya sebagai lembaga dunia yang mengklaim melepaskan hak keuangannya senilai 6,1 triliun dolar di Bank Indonesia dan enam bank, seperti Mandiri, BCA, BRI, BNI, CIMB, dan Danamon.

Uang sebanyak itu disebutkan untuk membebaskan utang rakyat Indonesia. Namun, pihak bank dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak membenarkan pengakuan itu. Sebab, klaim seperti itu sengaja dibuat untuk meyakinkan calon korban.

Editor: Supriyadi

Penipuan Berkedok Tukang Service AC, Begini Modus Operandinya

Pelaku penipuan yang berkedok tukang service AC. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Baru-baru ini Polres Rembang berhasil membongkar kasus penipuan yang berkedok tukang service AC.

Kepada awak media pelaku Harto (38) warga Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Blora, pelaku mengaku jika modus operandi penipuan yang dilakukan yang dengan cara mendatangi rumah atau tempat usaha calon korban yang memiliki AC.

Salah satunya kasus teranyar yang dapat diungkap oleh Polres Rembang, yakni pelaku pernah mendatangi klinik kecantikan Celie di Desa Tasikagung, Rembang, pada bulan Juni lalu.

Ketika itu, pelaku bertemu dengan penjaga klinik, Gisna Purdiana (22). Pelaku kemudian berupura-pura, jika pemilik klinik setempat telah memesan 4 unit AC kepada dirinya, karena AC yang lama rusak.

Setelah itu, sang penjaga klinik pun menyerahkan uang tunai Rp 2,5 juta. Sementara itu, pelaku berpura-pura dan beralasan akan membelikan peralatan AC.

Kasus itu terungkap, lantaran pemilik klinik, Jinarto menyatakan tidak pernah memesan AC. Peristiwa itu akhirnya dilaporkan polisi. Lantaran sudah mengantongi data – data, polisi berhasil menangkap pelaku.

Ketika meladeni pertanyaan awak media, pelaku sempat berbelit-belit ketika ditanya berapa kali sudah melakukan aksi penipuan tersebut. Pertama, pelaku menjawab tujuh kali, namun kemudian mengatakan jika sudah 37 kali melakukan aksinya tersebut.

Kemudian, mengenai uang yang diminta kepada korban dengan dalih untuk belanja onderdil AC, pihaknya mengutarakan bahwa uang itu tidak dibelanjakan.

“Biasanya saya meminta Rp 500 ribu dan yang terakhir yakni sekitaran Rp 2,5 juta  dengan alasan belanja onderdil. Namun saya pergi dan tidak kembali lagi. Uang itu untuk jajan, membeli HP dan mengangsur kredit sepeda motor,” paparnya.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, bahwa tindakan pelaku itu sudah meresahkan masyarakat di wilayah Kabupaten Blora, Rembang dan Pati. “Sampai saat ini baru 1 korban yang melapor ke polisi. Kemungkinan korban lain dimungkinkan enggan melapor,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Polisi Bekuk Pelaku Penipuan Asal Banyuurip Rembang, Korbannya Capai 15 orang

 Sardan, pelaku penipuan serta barang bukti yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. (Humas Polres Rembang)

Sardan, pelaku penipuan serta barang bukti yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang membekuk pelaku penipuan, yakni Sardan, warga RT 2 RW 1 Desa Banyuurip, Kecamatan Pancur. Lelaki 47 tahun ini, diduga telah melakukan penipuan dengan korban mencapai 15 orang.

Pelaku dilaporkan oleh Abdul Wakhid (28), warga RT 1 RW 1 Desa Sridadi, Kecamatan Kota Rembang.Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik Satreskrim Polres Rembang, aksi penipuan yang dilakukan oleh pelaku dilakukan dalam kurun waktu 14 Desember 2016 sampai 7 Januari 2017 lalu.

Kasatreskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, modus operandi yang dilakukan oleh pelaku adalah mengelabuhi korban sedang membutuhkan pinjaman dana segar. Pelaku mengaku kepada 15 korbannya bisa mencarikan pinjaman sebesar Rp 30 juta dengan bunga sangat lunak.

Syaratnya, para korban diminta untuk menyetor uang yang jumlahnya mencapai sekitar Rp 10 juta. Uang tersebut, pengakuan pelaku digunakan sebagai keperluan administrasi sebelum uang pinjaman sebesar Rp 30 juta cair.

“Karena tergiur, akhirnya para korban sepakat mengumpulkan uang dengan jumlah total mencapai Rp 10 juta untuk diserahkan kepada pelaku. Harapan korban, setelah uang tersebut diserahkan uang pinjaman yang dijanjikan bisa segera cair.Ternyata apa yang dikatakan oleh pelaku hanya akal-akalan saja,” AKP Ibnu Suka.

Kemudian uang milik para korban tersebut, ternyata digunakan untuk keperluan pribadi pelaku. Uang tersebut diduga kuat digunakan pelaku untuk membeli ponsel, membyara kredit sepeda motor serta kebutuhan pribadi lainnya.

Polisi, saat ini juga mengamankan semua barang bukti yang terkait dengan kejahatan pelaku untuk kepentingan penyidikan. Pelaku juga sudah ditahan di sel tahanan Polres Rembang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Editor : Kholistiono

Ini Tanggapan Bappeda Jepara Terkait Oknum yang Mengaku dari Bappenas dan Diduga Melakukan Penipuan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara Sujarot memberikan tanggapan atas adanya oknum yang mengaku sebagai anggota Bappenas dan menjanjikan memberikan bantuan kepada 93 lembaga pendidikan swasta di Jepara.
Menurut Sujarot, selama ini instansi Bappenas maupun Bappeda ketika memberikan bantuan melalui instansi atau kementerian terkait.

“Saya belum tahu persis masalah dugaan penipuan itu. Setahu saya, selama ini ketika Bappenas maupun Bappeda ingin memberikan bantuan kepada instansi, baik pendidikan maupun lainnya harus melalui instansi atau lembaga atau kementerian teknis, tidak secara langsung,” ujar Sujarot saat dihubungi MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Menurut dia, mekanisme yang lazim dijalankan memang seperti itu, karena Bappenas maupun Bappeda bukan instansi yang bisa mengeksekusi kebijakan. Hanya saja, pihaknya tidak berani secara langsung menilai salah atau benar. Sebab, pihaknya belum mengetahui persis masalahnya.

“Jika memang ada aturan baru kalau Bappenas bisa memberikan bantuan secara langsung, saya belum tahu. Dalam hal ini, saya belum bisa berkomentar dan memberikan banyak tanggapan,” tegasnya.
Seperti diberitakan, Sedikitnya 93 lembaga pendidikan swasta tingkat usia dini hingga menengah atas di Kabupaten Jepara diduga terkena penipuan oleh oknum berinisial HRS, yang mengaku sebagai Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan UMKM Kementerian PPN/Bappenas. HRS menjanjikan dapat membantu memberikan kucuran bantuan sebesar Rp 100 juta.

Dugaan adanya penipuan tersebut muncul, setelah sejumlah pengelola lembaga pendidikan itu merasa curiga, kemudian melaporkan HRS ke Polres Jepara. HRS menjanjikan bantuan ratusan juga dan meminta sejumlah uang ratusan ribu kepada masing-masing lembaga pendidikan dengan dalih memuluskan cairnya bantuan tersebut.

Hal itu seperti yang disampaikan Pengelola PAUD Annur Tengguli Jepara, Muhammadun. Menurut dia, kepada para korbannya, HRS mengaku dapat membantu mencairkan bantuan dana hibah sebesar Rp 100 juta per lembaga dari Bappenas. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, masing-masing pengelola lembaga diminta untuk mengajukan proposal dan membayar sejumlah uang.

Editor : Kholistiono

Diduga Lakukan Penipuan, Oknum yang Mengaku dari Kementerian PPN/Bappenas Digelandang ke Mapolres Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya 93 lembaga pendidikan swasta tingkat usia dini hingga menengah atas di Kabupaten Jepara diduga terkena penipuan oleh oknum berinisial HRS, yang mengaku sebagai Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan UMKM Kementerian PPN/Bappenas. HRS menjanjikan dapat membantu memberikan kucuran bantuan sebesar Rp 100 juta.

Dugaan tersebut muncul, setelah sejumlah pengelola lembaga pendidikan itu merasa curigadan kemudian melaporkan HRS ke Polres Jepara. HRS disebut menjanjikan bantuan ratusan juga dan meminta sejumlah uang ratusan ribu kepada masing-masing lembaga pendidikan dengan dalih memuluskan cairnya bantuan tersebut.

Hal itu disampaikan Pengelola PAUD Annur Tengguli, Jepara Muhammadun. Menurut dia, kepada para korbannya, HRS mengaku dapat membantu mencairkan bantuan dana hibah sebesar Rp 100 juta per lembaga dari Bappenas. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, masing-masing pengelola lembaga diminta untuk mengajukan proposal dan membayar sejumlah uang.

“Kami diminta membuat proposal. Kami dijanjikan mendapatkan bantuan senilai Rp 100 juta. Masing-masing lembaga ada yang kena Rp 300 ribu ada yang Rp 600 ribu,” ujar Muhammadun kepada MuriaNewsCom, Kamis petang (24/3/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, informasi mengenai janji dapat memberikan bantuan itu terjadi pada akhir tahun 2014 lalu. Kemudian dilakukan sejumlah pertemuan, untuk membicarakan pembuatan proposal itu terjadi April 2015 di tiga tempat. Yaitu di Kabupaten Jepara, Pati, dan Demak.

“Pertemuan berikutnya dengan HRS kembali terjadi pada September 2015. Saat itu pertemuan untuk melakukan Penandatanganan Nota Perjanjian Hibah Daerah dan Surat Pertanggungjawaban. Saat itu diminta lagi membayar ada yang Rp 100 ribu, dan ada yang Rp 150 ribu,”terangnya.

Setelah pertemuan tersebut, HRS kembali bertemu dengan para korbannya di Panti Asuhan Sunu Ngesti, Jepara, pada Rabu 23 Maret 2016. Pertemuan itu untuk sosialisasi pembuatan rekening bank. Namun, saat itu, HRS tidak menghadirkan pihak bank.

“Katanya blangkonya habis ,terus tidak menghadirkan pihak bank. Dari situ mulai muncul kecurigaan, kemudian kami langsung berkoordinasi dengan polisi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwasana, membenarkan adanya laporan itu. Usai menerima laporan, HRS langsung digelandang dari panti asuhan ke Mapolres Jepara. Kini HRS masih diperiksa intensif di Mapolres Jepara.

Editor : Kholistiono

Ini Tanggapan Kodim 0719/Jepara Terkait Anggota yang Dilaporkan ke Sub Denpom IV/3-2 Pati Karena Dugaan Penipuan

Markas Kodim 0719/Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Markas Kodim 0719/Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Salah satu oknum anggota TNI Kodim 0719 Jepara, berinisial BS dilaporkan seorang warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak ke Markas Sub Denpom IV/3-2 Pati. BS yang berpangkat Kopka diduga telah melakukan penipuan terhadap U.

Pasi Intel Kodim 0719/Jepara Kapten Fadlan membenarkan adanya laporan tersebut. Hanya saja, pihaknya belum dapat memastikan apakah anggota Kodim Jepara tersebut benar-benar melakukan penipuan atau tidak.

“Salah satu anggota memang dilaporkan ke Sub Denpom Pati. Tetapi, kami masih mencari kebenarannya. Kami tidak segera memutuskan anggota benar atau salah,” ujar Fadlan, Rabu (23/3/2016).

Menurut dia, berdasarkan informasi sementara yang telah dihimpun, tuduhan penipuan dengan menjanjikan masuk Tamtama tidak benar. Uang sebanyak Rp 60 juta yang diserahkan orang tua U kepada BS, sebagai modal usaha bersama untuk dikembangkan.

“Dari hasil penyelidikan sementara, tuduhan itu tidak benar. Uang yang diberikan senilai Rp 60 juta itu adalah bentuk kerjasama kegiatan bisnis dan kegiatannya saja belum selesai. Nah, anggapan pemberi dukungan modal ini dikira melakukan penipuan. Karena kegiatannya belum selesai, jadi belum ada hasilnya dan tidak bisa dikatakan penipuan,” ungkapnya.

Fadlan menambahkan, setelah melakukan komunikasi dengan BS, dalam waktu dua atau tiga bulan ke depan, pekerjaan hasil kerjasama BS dengan orang tua U baru akan terlihat hasilnya. Pada kesempatan itu, uang bantuan modal sebesar Rp 60 juta akan dikembalikan beserta bagi hasil keuntungannya.

“Kalau anggota tersebut menjanjikan uang tersebut untuk masuk Tamtama itu kan bahasa yang sudah dibikin. Aslinya tidak seperti itu,”imbuhnya.

Editor : Kholistiono
Baca juga : Oknum TNI Jepara Diduga Tipu Warga “Nyalon” Tamtama, Korban Lapor ke Sub Denpom Pati

Oknum TNI Jepara Diduga Tipu Warga “Nyalon” Tamtama, Korban Lapor ke Sub Denpom Pati

Keluarga U tengah melaporkan aksi penipuan yang diduga dilakukan anggota TNI Jepara di Markas Sub Denpom Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga U tengah melaporkan aksi penipuan yang diduga dilakukan anggota TNI Jepara di Markas Sub Denpom Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang oknum TNI dari Kodim 0719/Jepara berpangkat kopka berinisial BS diduga melakukan penipuan terhadap warga Demak yang ingin nyalon sebagai Tamtama. Korban kemudian mendatangi Markas Sub Denpom IV/3-2 Pati, Rabu (23/3/2016) untuk melaporkan perbuatan yang dilakukan BS.

U (20), seorang warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Demak kepada MuriaNewsCom mengaku sudah menyetorkan uang senilai Rp 60 juta kepada BS. Awalnya, U dijanjikan dimasukkan sebagai polisi.

”Dia bilang, saya mau dimasukkan sebagai anggota polisi. Orangtua saya sudah kasih uang Rp 60 juta karena dibujuk dia terus. Dia minta tambahan uang Rp 100 juta supaya bisa masuk. Orangtua tidak mau, karena memang tidak punya uang sebanyak itu,” ungkapnya.

U juga mengatakan bila BS tidak bisa memasukkannya sebagai anggota polisi, lantaran ijazahnya cuma kejar paket C. Akhirnya, BS menjanjikan akan dimasukkan ke sekolah calon tamtama.

”Uang sudah dibawa, tapi tidak ada kepastian dan dihubungi sulit. Pak BS janji-janji terus sampai sekarang. Padahal, saya dijanjikan pada rekrutmen 2015 lalu,” paparnya.

Kesal dengan perbuatan BS, U bersama keluarga akhirnya melaporkan ke Sub Denpom IV/3-2 Pati. Namun, anggota Sub Denpom tengah menggelar latihan menembak di Salatiga, sehingga pihaknya akan melaporkan kembali besok.

Editor : Titis Ayu Winarni

Waspadai Penipuan, SMPN 6 Blora Surati Orang Tua Siswa

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Aksi penipuan melalui telepon kepada orang tua siswa rupanya sangat merisaukan orang tua maupun pihak sekolah. Sehingga pihak SMPN 6 Blora memberikan surat edaran kepada seluruh orang tua siswa.

Sudiyono kepala SMPN 6 Blora, mengungkapkan surat edaran tersebut sebagai konfirmasi kepada seluruh orang tua siswa, agar mengkonfirmasi ke sekolah jika mendapatkan kabar melalui telepon atau sms jika mendapat kabar anaknya kecelakaan di sekolah.

Baca juga : Hati-hati! Penipuan Kedok Anak Kecelakaan Marak di Blora

”Jangan langsung percaya saat dapat kabar tersebut. Cek ke sekolah dulu untuk memastikan kebenarannya,” kata Sudiyono.

Sementara, pihak sekolah mempertimbangkan untuk segera melaporkan aksi penipuan tersebut ke pihak kepolisian. Menurut Sudiyono, dalam melakukan aksinya, penipu selalu berganti-ganti nomor handphone.

Diketahui sbelumnya, bahwa penipu menelpon wali murid dan mengabarkan anaknya jatuh di toilet sekolah. Lantaran terluka parah, bahkan sampai gagar otak, siswa harus menjalani perawatan inensif di rumah sakit. Sementara, penipu mengungkapkan rumah sakit harus membeli alat dengan harga puluhan juta guna mengoperasi siswa itu.

Untuk pembelian alat tersebut, sang penipu pun mencantumkan rekening bank yang mana orang tua siswa itu diminta untuk mentransfer uang guna pembelian alat tersebut. Namun itu hanyalah akal-akalan penipu untuk mendapatkan uang dari orang tua siswa.

Editor : Titis Ayu Winarni

Hati-hati! Penipuan Kedok Anak Kecelakaan Marak di Blora

Salah satu siswa SMPN 6 Blora menunjukkan surat edaran yang dikeluarkan sekolah (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu siswa SMPN 6 Blora menunjukkan surat edaran yang dikeluarkan sekolah (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Orang tua siswa SMPN 6 Blora resah atas aksi penipuan yang terjadi selama satu pekan terakhir. Terhitung sudah delapan wali murid dihubungi penipu.

Dalam aksinya, penipu menelepon wali murid dan mengabarkan anaknya jatuh di toilet sekolah. Lantaran terluka parah, bahkan sampai gagar otak, siswa harus menjalani perawatan inensif di rumah sakit. Sementara, penipu mengungkapkan rumah sakit harus membeli alat dengan harga puluhan juta guna mengoperasi siswa itu.

Untuk pembelian alat tersebut, sang penipu pun mencantumkan rekening bank. Untuk kemudian orang tua siswa itu diminta mentransfer sejumlah uang guna pembelian alat tersebut.

Sudiyono, Kepala SMPN 6 Blora menegaskan itu merupakan aksi penipuan. Pasalnya, terhitung sejak 1 Februari setiap hari dapat dipastikan ada kedok penipuan itu. ”Itu penipuan, tidak ada siswa kami yang jatuh di kamar mandi,” jelas Sudiyono.

Sudiyono mengaku heran, darimana penipu mendapatkan nomor wali murid tersebut. Bahkan, penipu tak segan mencatut nama guru SMPN 6 Blora untuk dalam melancarkan aksinya.

Dari informasi yang didapat Sudiyono, sampai saat ini sudah ada beberapa wali murid yang mentransfer uang ke rekening yang disebutkan penipu. ”Ada yang mentransfer Rp 2 juta sampai Rp 4 juta dari uang yang diminta sekitar Rp 19 jutaan,” jelas Sudiyono.

Baca juga :

Waspada! Marak Modus Penipuan Penerimaan Pegawai PT Semen Indonesia di Rembang

Waspada! Penipuan Minta Pulsa Lewat Hack BBM Mulai Beredar di Kudus

Pelamar Calon Siswa Polisi Diminta Waspadai Penipuan

Editor : Titis Ayu Winarni

Komplotan Penipu Juragan Beras di Pati Terancam Pidana 4 Tahun

Keempat komplotan penipu juragan beras (kiri) diamankan di ruang tahanan Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keempat komplotan penipu juragan beras (kiri) diamankan di ruang tahanan Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Empat komplotan penipu yang menggelapkan uang hingga Rp 70 juta asal Jawa Timur berhasil ditangkap Tim Buru Sergap Polres Pati. Mereka menipu juragan beras dan membawa kabur uang hasil penjualan beras di UD Noor Jaya, Desa Rogomulyo, Kecamatan Kayen, Pati.

Saat ini, keempatnya mendekam di tahanan Mapolres Pati dan diancam dengan Pasal 378 jo 372 KUHP tentang Penipuan dan/atau Penggelapan.

“Mereka terancam pidana maksimal empat tahun penjara. Mereka sempat membagi-bagikan uang hasil penggelapan itu di jalur lingkar selatan (JLS) Pati, sebelum akhirnya kabur ke arah Malang, Jawa timur,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/1/2016).

Ia menambahkan, uang hasil penggelapan dibagi secara tidak rata, ada yang menerima Rp 9 juta, Rp 11 juta hingga totalnya sekitar Rp 69,45 juta. Mereka ditangkap Tim Buser saat hendak ke Semarang melalui jalur Purwodadi.

“Kami imbau agar pedagang beras lebih berhati-hati dalam menerima barang. Kenali dulu tengkulaknya, baru proses jual beli dilakukan. Itu untuk mengantisipasi agar terhindar dari penipuan yang merugikan salah satu pihak,” pesannya.

Editor : Kholistiono

Polres Pati Bekuk Komplotan Penipu Juragan Beras

Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati saat menginterogasi empat pelaku penipuan di ruang tahanan Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati saat menginterogasi empat pelaku penipuan di ruang tahanan Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran Polres Pati berhasil membekuk empat komplotan penipu asal Jawa Timur. Masing-masing berisial CS (51), S (30) dan ETS (61) yang merupakan warga asal Kabupaten Malang dan CNH (47), warga asal Surabaya.

Keempat orang ini dibekuk polisi, setelah melakukan penipuan terhadap juragan beras bernama Eny Jamilah yang merupakan warga asal Kabupaten Sragen dengan total beras 8 ton senilai Rp 69,45 juta.

“Keempatnya saat ini sudah kami tangkap dan sudah ada di tahanan Mapolres Pati. Mereka semua berasal dari Jawa Timur dan melakukan tindak kejahatan di gudang beras Noor Jaya, Desa Rogomulyo, Kecamatan Kayen, Pati,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/1/2016).

Ia mengatakan, modus keempat pelaku bertindak sebagai makelar. Mereka memesan kepada juragan beras bernama Eny Jamilah dari Sragen untuk mengirimkan 8,5 ton beras ke gudang beras Noor Jaya di Kayen, Pati.

“Setelah pihak Noor Jaya membayar 8 ton beras seharga Rp 69,45 juta kepada salah satu pelaku, sopir juragan beras diminta untuk menyetorkan sisa beras 5 kwintal ke Pasar Kayen. Namun, pelaku bersama komplotan lainnya kabur ke Jawa Timur dengan membawa uang hasil pembayaran,” tuturnya.

Sopir pun tidak bisa berbuat apa-apa, setelah uangnya dibawa kabur pelaku. Ia kemudian melaporkan kejadian itu dengan juragannya, sedangkan juragan beras akhirnya melaporkan kepada pihak kepolisian.

Editor : Kholistiono

Waspada! Marak Modus Penipuan Penerimaan Pegawai PT Semen Indonesia di Rembang

Slamet Mursidiarso, Kepala Biro Bina Lingkungan PT Semen Indonesia. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Slamet Mursidiarso, Kepala Biro Bina Lingkungan PT Semen Indonesia. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Penipuan bermodus penerimaan pegawai yang mengatasnamakan PT Semen Indonesia marak terjadi. Oleh karena itu, masyarakat terutama warga Rembang diminta untuk mewaspadai hal tersebut.

Kepala Biro Bina Lingkungan PT Semen Indonesia, Slamet Mursidiarso meminta masyarakat mewaspadai penipuan bermodus penerimaan pegawai yang mengatasnamakan PT Semen Indonesia. ”Apabila pelaku meminta imbalan uang, bisa dipastikan hal itu adalah penipuan,” ungkapnya, Rabu (23/12/2015).

Slamet menegaskan proses rekrutmen karyawan di PT Semen Indonesia berlangsung transparan. Mulai diumumkan melalui website, kemudian menjalani serangkaian tes sampai pengumuman. ”Tidak ada permainan uang agar pelamar bisa ditrerima,” tandasnya.

Justru kalau memang ada oknum melakukan tindakan semacam itu, lanjut Slamet, kantor perwakilan PT Semen Indonesia siap menerima laporan. Apabila bukti cukup dan ternyata melibatkan orang dalam, maka akan dipecat.

Menurutnya, ada juga modus lain yakni pelaku terkadang mengirimkan surat kepada pelamar, memberitahukan pelaksanaan tes wawancara. ”Mereka minta uang Rp 5 juta ditransfer dulu, berdalih untuk biaya naik pesawat, taxi, dan akomodasi. Saat pelamar tiba di Bandara, dia baru tersadar telah kena tipu,” tandasnya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Waspada! Penipuan Minta Pulsa Lewat Hack BBM Mulai Beredar di Kudus

Screenshoot percakapan BBM yang di hack pelaku minta pulsa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Screenshoot percakapan BBM yang di hack pelaku minta pulsa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Penipuan dengan cara meminta pulsa, seperti ”Mama Minta Pulsa” memang sudah tidak marak. Namun kini muncul penipuan baru, yaitu minta pulsa dengan cara yang lebih canggih.

Penipuan minta pulsa kali ini dengan cara meng-hack blackberry messenger (BBM) seseorang. Kemudian isi kontak dalam BBM tersebut dikirim pesan untuk meminta pulsa ke nomor yang ditentukan.

Seperti halnya yang menimpa Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron, Jumat (12/11/2015). BBM miliknya di hack dan pelaku mengirimkan pesan kepada kontak dalam daftar BBM miliknya.

Awalnya, pelaku mengecek nomor di ponsel dengan cara di “PING!!”. Setelah mendapatkan respon, kemudian pelaku langsung meminta tolong untuk dikirimkan pulsa ke nomor yang sudah ditentukan.

”Aku mau minta tolong ni, Bisa isikan dlu plsa ntar aku ganti uangnya,” kata pelaku di BBM yang dibajak.

Nominalnya yang diminta, kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Anehnya, satu korban dengan korban lainnya diminta untuk mengirimkan pulsa ke nomor yang berbeda satu dengan lainnya dan bukan nomor pemilik sebenarnya.

Dengan kejadian tersebut, pemilik akun BBM juga dirugikan. Nama baiknya yang digunakan oleh orang yang memanfaatkannya, digunakan untuk meminta pulsa.

”Iya, BBM saya di hack seseorang. Abaikan saja pesan yang muncul dari sana,” kata Mukhasiron.
Adanya kasus tersebut harus membuat lebih waspada. Sebab jika seorang ketua Komisi saja bisa di hack, maka siapa tahu kelak giliran yang lain yang kena.
Seperti diimbau anggota komisi D Mawahib, siapapun bisa terkena modus semacam itu. Jadi harus lebih hati-hati.

”Tolong abaikan jika ada yang minta transfer pulsa atas nama Mk (Mukhasiron). Bisa jadi besok yang di hack saya atau panjenengan semua. Waspadalah,” katanya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Polres Grobogan Bekuk Pelaku Penggelapan Truk Dinas Pertamanan Jaktim

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto (paling kanan) menunjukkan dua pelaku penggelapan (celana pendek) truk milik Dinas Petamanan Jakarta Timur. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto (paling kanan) menunjukkan dua pelaku penggelapan (celana pendek) truk milik Dinas Petamanan Jakarta Timur. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Aparat Polres Grobogan Selasa (13/10/2015) berhasil meringkus dua pelaku penggelapan truk milik Dinas Pertamanan Jakarta Timur (Jaktim). Dua pelaku yang dibekuk masing-masing, Reza Irawan (28), warga Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur dan Radit Sapuan (27), warga Pasar Pulojahe, Kelurahan Cakung, Jaktim.

”Pelaku Reza Irawan adalah karyawan kontrak Dinas Pertamanan Jaktim. Mereka berhasil kita amankan sekitar 16.30 WIB saat berada di Dusun Tuwung, Desa Suru, Kecamatan Geyer,” Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto pada wartawan.

Selain menangkap dua pelaku penggelapan, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti. Yakni, satu unit truk merk Isuzu warna kuning, dengan nopol B 9152 TQO dan berikut kunci kontaknya. Kemudian, cat semprot warna hitam yang dipakai untuk mengubah warna plat nomor truk, dua ponsel serta dompet milik pelaku.

Dari keterangan pelaku, penggelapan truk itu dilakukan pada Minggu (11/10/2015) lalu sekitar pukul 10.00 WIB di Kantor Dinas Pertamanan Jakarta Timur. Tidak lama kemudian, kasus hilangnya truk di garasi kantor itu dilaporkan ke Polres Jakarta Timur. Dari penelusuran petugas, kendaraan itu terlihat menuju wilayah Jawa Tengah.

”Setelah dilakukan penanggkapan pelaku, kami langsung berkoordinasi dengan Polsek Kramat Jati dan Polres Jakarta Timur. Tersangka dan barang bukti selanjutnya kami serahkan pada mereka untuk diproses lebih lanjut,” katanya. (DANI AGUS/TITIS W)

Ditipu Pembeli, Mbok Darmi Belum Berniat Lapor ke Polisi

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meskipun penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota ditipu pembeli dengan uang palsu. Mbok Darmi (sapaan akrabnya) mengaku belum berniat untuk lapor ke polisi.

Perempuan penjual jajan keliling dengan berjalan kaki ini lebih memilih menunggu sampai kembali ketemu pembeli, yang diduga memberikan uang palsu tersebut. Dia mengaku, hanya ingin menegur dan mengembalikan uang palsu yang telah diterimanya itu.

”Saya masih ingat ciri-ciri orangnya. Kalau ketemu lagi, saya mau menegurnya dan minta ganti uang palsu ini dengan uang asli,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Dia menambahkan, ketika nanti sudah ketemu dan sudah ditegur, namun pembeli itu masih tidak bersedia untuk mengganti. Maka tidak menutup kemungkinan, dirinya akan lapor ke polisi. Sebab, kasus tersebut cukup meresahkan terutama bagi pedagang-pedagang kecil seperti dirinya.

”Ini pengalaman buat saya agar lebih berhati-hati kalau menerima uang dengan pecahan besar, agar tidak terulang lagi,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Ciri-ciri Pembeli yang Bayar dengan Uang Palsu

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota, kini harus menerima kenyataan pahit. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ) yang bayar dengan uang palsu pecahan Rp 50 ribu.

Darmi dengan yakin membeberkan ciri-ciri pembelinya yang menipu dirinya tersebut. Menurut dia, ciri-ciri dari pembeli tersebut adalah seorang wanita berumur sekitar 40 tahun, mengenakan jilbab dan bersepeda motor.
”Tapi saya tidak ingat sepeda motornya warna apa. Yang saya ingat hanya itu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, wanita tersebut ketika membeli dagangannya berlaga sok akrab. Bahkan, dia juga banyak bercerita tentang berbagai hal sambil memilih-milih jajan yang mau dibeli. Dia menduga, lagak sok akrab tersebut dilakukan untuk mengelabuhi dirinya agar tidak mencermati uang palsu yang diberikan untuk membayar.

”Gayanya sok akrab. Saya juga heran, kok bisa seperti itu padahal saya baru pertama ketemu. Tapi kata dia, dia sering melihat saya di lewat di SMPN 2 Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Duh, Penjual Jajan Keliling ini Ditipu Pembeli

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Nasib malang menimpang seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01, RW 01, Kecamatan Jepara, Kota. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ).

Darmi mengaku menerima uang dari pembeli dengan pecahan Rp 50 ribu, ketika pembeli membayar jajan yang diambil seharga Rp 15 ribu. Kemudian, dia memberi kembalian senilai Rp 35 ribu. Namun tak disangka, ketika beberapa jam kemudian, dia baru menyadari jika pecahan Rp 50 ribu dari pembeli tadi ternyata palsu.

”Ada pembeli seorang wanita sekitar umur 40 tahun. Dia membayar dengan uang Rp 50 ribu. Setelah beberapa jam, uang itu saya tukarkan ke tukang parkir. Lha tukang parkirnya kok bilang kalau uang itu palsu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, dia semakin yakin dan percaya jika uang tersebut palsu ketika dia cermati betul-betul pecahan Rp 50 ribu tersebut. Dari kualitas kertasnya sudah sangat berbeda, dan warna biru dari uang tersebut juga agak luntur.

”Awalnya saya tidak tau karena setelah menerima uangnya langsung saya masukkan tas kecil. Setelah diberitahu tukang parkir, saya cermati ternyata memang palsu,” tandasnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Begini Modus Polisi Gadungan Tipu Restoran di Pati

Udin, salah satu pengelola resto di Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Udin, salah satu pengelola resto di Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Pengelola rumah makan dan restoran di Pati saat ini resah dengan adanya penelepon yang mengaku dari pihak kepolisian, tetapi ternyata tidak. Padahal, layanan pesan antar dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi customer.

Hal ini dikeluhkan Udin, pengelola salah satu restoran di kawasan Simpang Lima Pati. Ia mengaku, sudah lima kali ditelepon dari orang yang mengaku dari pihak kepolisian untuk mengantarkan sejumlah makanan box.

“Beberapa waktu lalu, kami sempat tertipu. Saya sudah membuat banyak makanan box untuk saya antar ke Polres Pati. Setelah saya antar, ternyata pihak kepolisian mengaku tidak memesan. Akhirnya saya harus merugi. Barusan dapat telepon lagi yang mengaku Kapolres Pati,” tuturnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (22/8/2015).

Ia menambahkan, biasanya pelaku pesan awal dalam jumlah yang sedikit, misalnya 10 hingga 25 kardus. Setelah selang 15 menit, pelaku kembali menelepon untuk minta tambahan makanan, sekaligus minta isi pulsa yang nantinya akan diganti waktu mengantar makanan.

“Pengelola rumah makan atau restoran harus hati-hati dan waspada agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Ini nomor penelepon yang sempat menipu saya tadi, 082153489760. Dia pesan nasi box dengan lauk ayam sebanyak 25 box,” tandasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Belajar dari Tayangan Kriminal di TV, Polisi Gadungan Ini Tipu Mahasiswa

Tersangka penipuan berhasil diringkus aparat Polres Kudus, Kamis (25/6/2015). Dia melakukan penipuan dengan modus mengaku sebagai polisi. (MURIA NEWS/FAISOL HADI)

Tersangka penipuan berhasil diringkus aparat Polres Kudus, Kamis (25/6/2015). Dia melakukan penipuan dengan modus mengaku sebagai polisi. (MURIA NEWS/FAISOL HADI)

KUDUS – Mengenakan baju seragam tahanan, Uut Rivai (31) tampak terpincang-pincang saat digelandang petugas Satreskrim Polres Kudus, di Mapolres setempat, Kamis (25/6/2015). Uut merupakan tersangka penipuan, yang mengaku sebagai anggota Satresnarkoba Polres Kudus, dalam menjalankan aksinya. Polisi berhasil membekuknya setelah mendapatkan laporan masyarakat. Lanjutkan membaca