DPRD Kudus Mau Bantu Pengusaha Air Pegunungan Muria, Asal…

Ketua DPRD Kudus Masan (baju biru) saat mendengarkan keluh kesah pengusaha air pegunungan Muria di kantor dewan, Rabu.  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus menerima kedatangan pengusaha air pegunungan Muria, Rabu (30/8/2017). Dewan juga memberikan solusi kepada mereka. Diketahui, sejumlah pengusaha air minum pegunungan Muria, mendatangi kantor DPRD Kudus. Mereka wadul ke dewan menyusul adanya surat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, terkait pengurusan izin usaha.

Dalam surat itu, BBWS menyampaikan agar pengusaha air Pegunungan Muria mengurus perihal perizinan usaha. Jika akhirnya pengusaha air tidak mengurus izin, maka usahanya akan ditutup. Selama ini, mereka menjalani usaha tanpa mengantongi izin.

Menanggapi itu, Ketua DPRD Kudus Masan menemui mereka secara langsung. Masan meminta mereka memproses izinya terlebih dahulu. “Dalam surat tersebut sudah dijelaskan diminta mengurus izin. Ada item satu hingga sembilan yang harus dilengkapi. Kalau ada yang sudah mengurus izin minimal tujuh item saja, maka kami bisa membantu memintakan untuk memberikan kelonggaran,” katanya kepada pengusaha air di ruang komisi C DPRD Kudus.

Masan menilai tak sulit jika pengusaha air berniat mengurus izin. Termasuk mengisi pendaftaran di BBWS, mengusulkan izin, peta bangunan dan sebagainya. Hal itu hendaknya dipatuhi. Tugas DPRD adalah mengayomi masyarakat. Dewan mau mengayomi, dengan syarat pengusaha patuh aturan.

Menurutnya, semua pengusaha harus patuh sesuai prosedur. Dalam hal ini, soal pengurusan izin. Jika proses tak dilakukan maka itu sama saja menyalahi aturan. “Saya tunggu hari ini atau besok, bagi yang sudah mengurus dapat diserahkan ke ruangan saya. Kalau tidak ada, berarti belum mengurusnya,” ujarnya.

Masan menambahkan, sebenarnya para pelaku bisnis eksploitasi air pegunungan merupakan usaha yang mahal. Investasi yang dikeluarkan juga tak sedikit bahkan mencapai ratusan juta. Seperti membeli truk tangki saja, itu sudah memakan biaya ratusan juta. Begitu pula dengan hal-hal lainya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Diminta Urus Izin, Pengusaha Air Minum Muria Malah Curhat ke Dewan

Diminta Urus Izin, Pengusaha Air Minum Muria Malah Curhat ke Dewan 

Pengusaha air melakukan audiensi ke DPRD Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pengusaha air minum pegunungan Muria, mendatangi kantor DPRD Kudus, Rabu (30/8/2017). Mereka wadul ke dewan menyusul adanya surat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, terkait pengurusan izin usaha.

Dalam surat itu, BBWS menyampaikan agar pengusaha air Pegunungan Muria mengurus perihal perizinan usaha. Jika akhirnya pengusaha air tidak mengurus izin, maka usahanya akan ditutup. Selama ini, mereka menjalani usaha tanpa mengantongi izin.

Mardiyanto, salah seorang pengusaha air di kantor dewan mengatakan, pihaknya berharap dukungan dari wakil rakyat. Pengusaha air itu meminta waktu guna melakukan pengurusan perizinan.

“Kami di sini sifatnya memohon perlindungan dan memohon bantuan supaya bisa memperjuangkan nasib kami. Jadi supaya tidak ditutup,” kata Mardiyanto saat audiensi di ruang rapat Komisi C DPRD Kudus.

Selama ini, pengusaha menggantungkan perekonomiannya dari usaha air. Di Kudus ini terdapat 202 orang pengusaha air. Di Kajar Colo, terdapat sekitar 20 depo pengisian air. Sementara air itu berasal dari buangan warga setempat. Pengusaha memanfaatkan air buangan warga, untuk dijual ke masyarakat yang membutuhkan.

“Sebenarnya kami tak bisa disebut sebagai pengusaha karena modal yang masih kecil, berbeda dengan pabrik yang besar. Kami di sini juga tak demo, karena jika demo kami bisa datangkan massa banyak sampai ribuan,” ungkap Mardiyanto.

Dia mengklaim masyarakat setempat tak ada yang keberataan dengan usaha tersebut.Selama ini, usaha berjalan tanpa masalah. Jika ada pihak yang merasa keberatan hingga melakukan unjuk rasa, dia mencurigai jika aksi itu dilakukan karena bayaran.

Editor : Akrom Hazami

 

Gadis Cantik Ini Pilih Buka Usaha Ketimbang jadi Karyawan di Kudus 

es krim

Siti Wahyuni saat berada di warungnya di Jalan UMK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Mayoritas pemuda memilih menjadi karyawan di perusahaan ketimbang menjadi pengusaha.

Tapi tidak demikian dengan Siti Wahyuni (23). Baginya, menjadi pengusaha sedari muda adalah pilihan mengasyikkan.

Yuni, begitu dia biasa dipanggil. Dia nekad membuat usaha sebuah warung. Namun warung yang dipilih bukanlah pada umumnya, melainkan tempat khusus makanan penutup.

“Di sini sangat jarang ada penjual makanan penutup. Makanya memilih membuka usaha ini,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom di kedai jualannya Jalan Kampus UMK.

Dia memilih membuka usaha lantaran tidak suka jadi karyawan. Bagi dia, berusaha lebih menantang ketimbang menjadi karyawan. Hal itulah yang menjadi dasar dia berani melakukan apa yang diinginkan.

Usaha makanan miliknya adalah menjual es krim. Makanan itu dipilih lantaran banyak yang suka. Usaha itu juga jarang ditemukan di Kudus.

Usahanya baru dibuka pada Mei 2016 lalu. Meski usaha yang dimiliki baru, namun untuk menu yang ditawarkan sudah mencapai 20 menu.

Puluhan menu itu mampu ditanganinya sendiri. Dia belum bersedia mempekerjakan karyawan karena ingin mengusai menu.

“Nanti jika memang sudah benar benar menguasai, baru akan merekrut karyawan. Sekarang masih proses pembelajaran juga,” imbuhnya.

Untuk nama, dia menilai, Hello Ice Cream adalah nama yang pas. Sebab, kata Hello lebih mudah diingat, sehingga mudah dikenal oleh masyarakat.

Soal harga cukup murah. Yakni kisaran Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu untuk satu porsi. Dan dia memberikan bonus air mineral.

Harga yang murah disajikan lantaran berada di areal kampus UMK.”Ini masih kontrak tempatnya. Jika mau datang, kami melayani jam buka siang, mulai jam 10.00 WIB hingga 17.00 WIB,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Tantangan Pengusaha Kuningan saat Kerjakan Piala Bhayangkara

Pegawai kuningan tengah menunjukkan sepatu Piala Bhayangkara Cup 2016, yang mereka buat atas pesanan khusus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pegawai kuningan tengah menunjukkan sepatu Piala Bhayangkara Cup 2016, yang mereka buat atas pesanan khusus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bukan hal yang mudah dipercaya untuk mengerjakan mahakarya berupa piala dan medali, yang digunakan pada acara bergengsi sepak bola tingkat nasional Piala Bhayangkara Cup 2016. Banyak tantangan yang dihadapi saat pengerjaan piala dan medali tersebut.

Hal itu diungkap Triyoga Septyantoro, penerima pesanan Piala Bhayangkara Cup 2016, yang merupakan putra bungsu pemilik Sampurna Kuningan Juwana. ”Kalau tantangan itu sudah pasti ada. Tapi, kita tetap kerjakan yang terbaik,” ujar Yoga kepada MuriaNewsCom, Rabu (13/4/2016).

Tantangan pertama, kata dia, pesanan tiga piala, satu piala bergilir dalam ukuran besar, dan 135 medali itu, idealnya dikerjakan selama dua bulan. Namun, ia diminta untuk menyelesaikannya pada Maret 2016 lalu.

”Saya sudah terlanjur bilang sanggup. Mau tidak mau, saya berusaha untuk mengerjakan tepat waktu dengan hasil terbaik,” tuturnya.

Tantangan selanjutnya muncul, setelah pemesan meminta perubahan desain hingga perubahan ukuran. Bahkan, perubahan pesanan itu hampir berlangsung setiap hari.

Pengajuan desain awal dinilai cukup sulit, karena harus membentuk bola dengan plat lembaran. ”Yang paling menantang ketika pewakilan Polri meninjau langsung hasil pembuatan piala dan meminta untuk direvisi,” katanya.

Revisi pertama, piala yang awalnya memiliki tinggi 50 sentimeter (cm) diganti 70 cm. Sementara itu, bola yang awalnya berdiameter 25 cm diminta untuk diganti menjadi 32 cm.

”Selanjutnya, ukuran tangan yang sudah jadi katanya terlalu berotot. Itu juga harus diganti. Setelah melalui proses dan tantangan-tantangan itu, akhirnya kami bisa selesai sesuai dengan pesanan,” katanya lega.

Editor: Merie

Ini Lho, Pengusaha yang Buat Piala Bhayangkara Cup

 

 

Piala Bhayangkara Cup 2016 berbentuk bola tengah dikerjakan pegawai Sampurna Kuningan Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Piala Bhayangkara Cup 2016 berbentuk bola tengah dikerjakan pegawai Sampurna Kuningan Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Turnamen Piala Bhayangkara Cup 2016 adalah salah satu ajang sepak bola nasional. Tahukah Anda bahwa piala yang menjadi simbol juara di turnamen itu, dibuat di Juwana, Pati.

Adalah pengusaha kuningan asal Juwana, Triyoga Septyantoro yang merupakan putra bungsu pemilik Sampurna Kuningan Juwana, yang membuatnya.

Dia membeberkan pembuatan Piala Bhayangkara Cup 2016, yang didapatkan pesenannya Polri. Yakni untuk membuat tiga piala kejuaraan, satu piala bergilir, dan 135 medali.

Triyoga mengatakan, pengajuan desain awal terhitung sulit, karena harus membentuk bola dengan plat lembaran. Sama halnya dengan desain sepatu dan tangan yang dinilai cukup sulit untuk dikerjakan.

”Akhirnya, kami menggunakan tangan manusia asli dengan dilapisi gips supaya bentuknya sama dengan tangan asli. Prosesnya sama dengan pembuatan sepatu. Saya harus beli sepatu bola asli sebagai desain dasar,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (13/4/2016).

Awalnya Triyoga tak menyangka bila karya metal artwork Sampurna Kuningan Juwana, dipercaya Polri untuk membuat satu paket piala dan medali, untuk kejuaraan sepak bola tingkat nasional yang bergengsi. ”Kaget saja dapat kepercayaan itu. Kami akhirnya membuatnya dengan karya terbaik,” tuturnya.

Saat ini, Yoga tengah membuat duplikasi piala dan medali Bhayanagkara Cup 2016 sebagai dokumentasi. Hal itu diharapkan bisa menjadi dokumentasi bahwa, pihaknya pernah menggarap proyek nasional untuk kejuaraan sepak bola tingkat nasional.

”Duplikasinya untuk dokumentasi saja, bahwa kita pernah mengerjakan proyek skala nasional yang notabene bergengsi. Ini menjadi pengalaman baru yang tak terlupakan,” pungkasnya.

Editor: Merie

Pelaku Usaha Tahan Banting, Jumiah Tak Lelah Produksi Parut dan Ulek

Jumiah (53) pembuat parut dan ulek di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jumiah (53) pembuat parut dan ulek di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perjalanan usaha atau bisnis memang kerap mengalami pasang surut. Biasanya, kerugian sering dialami, dengan pemicunya adalah kena musibah atau tertipu.

Seperti yang dialami Jumiah (53) pembuat parut dan ulek. Jumiah merupakan warga Lemah Gunung, RT 5 RW 2, Krandon, Kota. Jumiah melakoni usaha membuat parut dan ulek hampir 25 tahun. Dalam kurun itu, dia sering ditipu.

Dia menceritakan kepada MuriaNewsCom. Saat Jumiah menyetorkan barang dagangannya ke pedagang. Biasanya, mereka tidak langsung membayar lunas. Justru, mereka lebih memilih membayar angsuran kredit ke bank ketimbang melunasi tanggungannya ke Jumiah.

“Alasannya pasti sama. Barang belum laku. Saat saya datangi untuk ditagih, barang tersebut rupanya sudah laku. Pedagang beralasan, besok, besok dan besok baru dilunasi,” kata Jumiah.

Menurutnya, jika uang hasil setor dibayar, tentu dia bisa berproduksi lagi. Termasuk untuk membeli bahan baku pembuatannya. Misalnya, papan harganya Rp 8 ribu per kilogramnya, kayu bekas penggergajian Rp 8 ribu per kilogram serta paku.

Adapun harga parut dan uleknya adalah Rp 7 ribu dan Rp 2.750. Biasanya, dia menyetorkan produksinya ke Pasar Kliwon, Jetak, bahkan luar Kudus, hingga Blora.

Editor : Akrom Hazami

Dalam Sepekan, Kasbi Bisa Pasok 21 Ton Chip Singkong ke Pabrik Tepung

upload besok jam 9 singkong 2 (e)

Caoption: chip singkong sebelum diproses menjadi tepung tapioka. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kasbi, warga Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Blora, sukses menjalankan usaha chip singkong.

Berkat usahanya ini, setidaknya dirinya bisa memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya sebagai tenaga kerja. Tak hanya itu, dirinya biasanya juga mengambil bahan baku dari petani di daerah setempat. Di antaranya Jepon, Kedungtuban dan Randublatung.

“Setidaknya, hal itu mampu memberdayakan petani singkong setempat. Beberapa hari sekali, para petani singkong dari desa menjual singkong kesini,” tuturnya.

Dalam hal perputaran transaksi, menurut Kasbi, musim kemarau jauh lebih baik daripada musim hujan seperti saat ini. Pada musim kemarau, lanjut bapak empat anak ini, dirinya mampu setor chip ke pabrik tepung sebanyak tiga kali atau tiga truk dalam satu minggu. Dimana setiap truknya mencapai hingga 7 ton. “Satu truk keuntungannya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta,” tuturnya.

Chip tersebut, disetor ke beberapa pabrik tepung di Jawa tengah, dan yang paling sering dia setor ke Kota Solo.

Ia katakan, untuk bisa membuat chip menjadi tepung, sebenarnya mudah. Dari proses terakhir, yakni penjemuran, dirinya bisa melanjutkan pada proses penggilingan sehingga chip tersebut langsung bisa menjadi tepung tapioka.

Namun sayangnya, dirinya masih belum memiliki mesin penggiling untuk membuat singkong tersebut menjadi bahan jadi berupa tepung.

Dirinya memiliki harapan untuk memperbesar usahanya yang tidak hanya produksi chip saja, tapi dari chip menjadi tepung tapioka dengan menambah mesin penggiling.

Menurutnya, kebutuhan tepung tapioka di kawasan Blora dan sekitarnya juga mulai tinggi. Mengingat, saat ini di daerah Cepu hingga Bojonegoro banyak sekali pabrik kerupuk. “Nah, tepung tapioka itu bahan utama pembuatan kerupuk, jadi saya berharap suatu saat bisa memproduksi tepung sendiri,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Petani Asal Blora Ini Sukses Geluti Usaha Chip Singkong

upload besok jam 7 singkong 1 (e)

Kasbi, pengusaha chip singkong (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Singkong, oleh sebagian besar petani masih dijual secara mentah, meski harganya terkadang harus menyesuaikan harga dari tengkulak. Dengan kondisi seperti itu, petani terkadang hanya mendapatkan nilai ekonomi yang pas-pasan.

Di tangan Kasbi, petani asal Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Blora, singkong kemudian dicoba dijual tidak hanya dalam bentuk mentah, namun dibuat chip.

Chip adalah potongan singkong mentah yang dikeringkan. Chip tersebut bisa diolah lagi, antara lain menjadi tepung singkong, pakan ternak, dan biotanol. Dengan cara ini, singkong memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Berkat usahanya ini, Kasbi sukses mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, dirinya juga bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Usaha ini, sudah dilakoni Kasbi sejak tiga tahun lalu. Dirinya, berpikir jika melimpahnya singkong di Blora, bisa lebih bermanfaat jika hanya sekadar dijual mentah. Kemudian, munculah ide untuk membuat chip singkong.

“Waktu itu, saya melihat banyak tanaman singkong yang terdapat di Blora. Namun, pemanfaatannya dinilai belum maksimal. Dari situ saya mulai berpikir tentang manfaat lain singkong,” ungkapnya.

Untuk pembuatan chip tersebut, dirinya biasa dibantu beberapa warga setempat sebagai tenaga pengupas singkong. Saat singkong sedang ramai, biasanya waktu musim kemarau, dirinya biasa dibantu sekitar 30 orang. Namun, saat musim hujan, dirinya hanya dibantu lebih kurang 16 orang.
Kasbi mengaku dirinya sudah sangat bersyukur mampu mengajak masyarakat setempat untuk bekerja. “Sementara belum banyak untungnya, tapi saya sangat senang, bisa sedikit mengurangai pengangguran,” katanya.

Editor : Kholistiono

Tangannya Diamputasi, Tubuhnya 70 Persen Terbakar, Lalu Bagaimana Pria Asal Pati Ini Bisa Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Sekarang Ini?

 

Mukhrim menunjukkan bibit-bibit jamur yang menjadi salah satu bisnis dari budidaya jamur yang ia geluti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mukhrim menunjukkan bibit-bibit jamur yang menjadi salah satu bisnis dari budidaya jamur yang ia geluti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pada 2009, sebuah tragedi menimpa Mukhrim, warga Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati. Ia tersengat listrik dari sebuah tiang hingga mengalami luka bakar sekujur tubuh sampai 70 persen.

“Saya dulu bekerja sebagai pemborong bangunan dan pemasangan instalasi listrik. Saat membantu menarik, tiba-tiba kabel dengan tegangan tinggi mengenai tangan kanan saya hingga tubuh saya terbakar 70 persen. Pakaian yang saya kenakan juga ikut gosong. Hanya punggung dan kepala yang tidak terbakar,” kata Mukhrim saat ditanya MuriaNewsCom, Senin (4/1/2016).

Ia sempat pingsan dan tidak sadarkan diri. Orang-orang di sekitarnya sempat mencoba menolong dengan menekan-nekan dadanya. Diketahui masih bernafas, Mukhrim dilarikan ke rumah sakit.

“Banyak rumah sakit yang menolak, karena peralatan terbatas hingga saya dirawat di sebuah rumah sakit di Semarang. Saya kaget, setelah tim medis menyatakan tangan kanan saya harus diamputasi,” curhatnya.

Ia mengatakan, banyak orang telah mengira dirinya meninggal dunia. Bahkan, saat dirinya dirawat di rumah sakit, keluarga dan tetangga sudah menyiapkan perlengkapan kematian. “Banyak orang mengatakan, saya ini nyowo keliwat,” imbuhnya.

Pada masa penyembuhan, Mukhrim seringkali menonton tayangan-tayangan peluang usaha di televisi. Dari sana, ia akhirnya jatuh cinta pada budidaya jamur dan bertekad untuk menggelutinya.

“Kegagalan demi kegagalan sempat membuat saya putus asa. Hanya dengan bangkit, mencoba dan terus berusaha, Tuhan akan memberikan jalan untuk kita. Sekarang, saya punya sepetak 6×8 meter dengan kapasitas 7.000 bag lock jamur. Alhamdulillah, omzet saya setiap bulan berkisar di angka Rp 30 juta dan bisa menghidupi istri, serta anak tercinta,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Usaha Bersama Komunitas Bisa Dorong Desa Lebih Produktif

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain membuka kegiatan Loram Expo, Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati juga membuka Usaha Bersama Komunitas (UBK) yang diprogramkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa).

Nantinya UBK tersebut dikelola oleh ke dua desa untuk dijadikan badan usaha milik desa. Sehingga masyarakatnya menjadi lebih produktif sesuai dengan usaha yang dijalankan.

Salah satu staf Kemendesa, Tatyana Warastuti mengatakan program ini memang difokuskan kepada desa yang mempunyai produktivitas tinggi. Misalkan Loram Wetan dan Loram Kulon.

Meski begitu, pihaknya juga tidak mematok program tersebut harus tersasar kepada desa yang mayoritas warganya mempunyai usaha kecil saja. ”Kalau UBK itu tergantung dari perdes dan APBDesnya masing-masing. Sebab UBK itu memang dianggarkan dari dana desa. Selain itu, bagi desa yang tidak mempunyai keahlian khusus atau mempunyai usaha, juga bisa membuat UBK tersebut dengan desa lainnya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Tatyana, dalam produk UBK tersebut diserahkan kepada pihak desa. Baik itu pembuatan sosis atau sabun seperti halnya di Loram. Dengan adanya UBK tersebut, diharapkan anggotanya bisa mejalankan usahanya untuk lebih maju.

”Kami sebagai Kemendesa, hanya bisa memfasilitasi, memantau perkembangan serta mengarahkan. Sehingga desa yang mempunyai UBK bisa maju dengan dana desa yang ada,” harapnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Tempat Kerja ditutup, Zainal Nekat Beli Sapi Juragannya

Zainal bersama keluarga sedang memproduksi susu Sumber Berkah di rumah produksinya Garung Lor Kaliwungu Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Zainal bersama keluarga sedang memproduksi susu Sumber Berkah di rumah produksinya Garung Lor Kaliwungu Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Tak banyak orang yang mampu bangkit setelah keterpurukan. Namun menunggu nasib baik datang sendiri, tentu akan menghabiskan banyak waktu. Mencoba membuat peluang untuk mendatangkan nasib baik pastinya lebih baik daripada harus menunggu. Dari hal tersebutlah, Zainal Abidin (43), pria asal Garung Lor RT 2 RW 1 Kaliwungu, Kudus, ini mencoba peruntungannya di bisnis susu perah.

Sumber Segar, label susu lokal yang dikembangkannya kini banyak ditemukan di berbagai daerah. Tak hanya Kudus, namun juga diwilayah sekitar misalnya Jepara dan Pati.

Ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat produksi, ayah dua orang putra ini mengaku dulunya sempat bekerja ditempat pemerahan susu beberapa tahun. Namun karena suatu hal, membuat dirinya kehilangan mata pencaharian akibat penutupan produksi. ”Yang saya tahu waktu itu karena tidak ada penerus produksi sehingga perusahaan tutup,” ungkapnya.

Belajar dari pengalaman tersebut, Zainal memberanikan untuk membuka usaha sendiri dengan modal beberapa sapi yang dibelinya dari tempat ia bekerja dulu beberapa waktu lalu. Dan hingga sekarang produksinya makin berkembang dan memiliki belasan sapi perah sendiri.

Produk susu olahannya makin dikembangkan dengan berbagai pilihan rasa dan bentuk. ”Ada tiga kemasan yaitu cup, bantal, dan gelas dengan beberapa rasa seperti strawberi, coklat, dan vanilla,” ujarnya. Tak hanya dijual bebas, susu produksinya juga menjadi langganan beberapa perusahaan dan sekolah untuk agenda rutin tertentu.

Dalam menjalankan usahanya tentu banyak tantangan yang dihadapi. ”Yang paling pokok dan dialami banyak pengusaha baru ya memang modal dan pemasaran,” jelasnya.

Namun karena kegigihan, dirinya sanggu bertahan hingga sekarang. Bahkan Zainal yang juga merupakan ketua gapoktan Susu Kudus berusaha mengembangkan bisnis susu melalui 10 pengusaha susu lain. ”Harapannya tidak hanya saya, akan tetapi teman-teman seperjuangan juga bisa lebih membesarkan usahanya. Tidak hanya cukup sampai mampu mencukupi kebutuhan hidup. Akan tetapi bagaimana menjaga kualitas dan kesegaran produk,” ungkapnya.

Sebab tes laboratorium baik ditingkat Kabupaten hingga pusat sangat dibutuhkan untuk mengetahui kualitas susu produksinya. Setelah mengantongi uji kelayakan dari dinas juga akan mendongkrak omzet serta makin dikenal sebagai produk yang aman dan berstandar.

”Sehingga akan memajukan bisnis. Walaupun saat ini masih sebagai pengusaha lokal tentunya bisa dikenal lebih banyak orang akan makin membanggakan pribadi dan daerah,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Pengusaha Mebel di Jepara Mulai Khawatir Kehilangan Karyawan

 

ana saat pertemuan pengusaha mebel dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

ana saat pertemuan pengusaha mebel dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pengusaha mebel di Kabupaten Jepara mulai merasa khawatir kehilangan karyawan dan perajin mereka. Pasalnya, saat ini di Kabupaten Jepara sudah mulai banyak investor asing dan perusahaan di bidang lain yang merekrut banyak karyawan.

Salah satu yang merasa khawatir adalah pengusaha mebel asal Krasak, Kecamatan Bangsri, Febri Estiningsih. Menurutnya, pihaknya mengaku mulai merasa was-was karena banyaknya pabrik milik orang asing yang berinvestasi di seputar daerahnya.

”Bisa-bisa perajin kami memilih kerja di garmen atau pabrik-pabrik yang lain,” ujar Febri saat menghadiri pertemuan dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015).

Selain mengeluhkan hal itu, sejumlah pengusaha juga mengeluhkan terkait regulasi kayu jati. Salah satu yang mengeluhkan hal ini adalah Sasmiatun, seorang exportir dari desa Bandengan, Kecamatan Kota Jepara.

”Kami mengeluhkan tentang regulasi kayu jati yang seakan-akan tidak berpihak pada perajin kecil. Harga kayu jati yang terus meningkat sangat menyulitkan para perajin,” ujarnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pengusaha Mebel di Jepara Didorong Kembangkan Produk yang Khas 

Suasana pertemuan wakil bupati Jepara dengan sejumlah pengusaha, perajin, dan pejabat terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Suasana pertemuan wakil bupati Jepara dengan sejumlah pengusaha, perajin, dan pejabat terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pengusaha mebel di Kabupaten Jepara didorong untuk mengembangkan spirit Jepara Incorporited guna menjaga kualitas produk, pengembangan manajemen, penatapan harga, dan promosi di pasar global. Selain juga dalam mengantisipasi berlakunya pasar bebas Asean.

Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, Jepara Incorporated ini sangat diperlukan karena di pasar global dan juga pasar Asean kemampuan pengusaha kita relatif lemah baik dari sisi modal, manajemen maupun promosi.

”Karena itu yang harus dikembangkan bersama-sama adalah deferensiasi produk atau perbedaan produk dibandingkan dengan pesaing yang lain. Kalau kita justru menawarkan jenis produk yang kompetitor di pasar global  banyak, justru kita menjadi lemah dipasar global,” ujar Subroto saat melakukan pertemuan dengan para pengusaha dan perajin mebel di Jepara, Senin (21/9/2015).

Menurut Subroto, Jepara memiliki keunggulan lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain, yaitu ukir. Karena itu pelestarian seni ukir harus dilakukan, agar tidak kehilangan perajin terampil.

”Ini tudak mudah ditengah-tengah mengalirnya investasi ke Jepara non ukir yang kemudian menyebabkan generasi muda lebih mengarahkan minatnya ke sana. Karena itu kita harus mulai berfikir untuk meningkatkan upah bagi perajin ukir Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

IWAPI Kudus Bakal Jembatani Pengusaha Kecil

Pelantikan IWAPI Cabang Kudus di @Home Hotel (MuriaNewsCom)

Pelantikan IWAPI Cabang Kudus di @Home Hotel (MuriaNewsCom)

KUDUS – Pelaku usaha khususnya kaum perempuan, sekarang ini tidak perlu khawatir. Ada organisasi yang mewadahi tentang usaha dan bisa membantu manajemen pemasaran dan lain sebagainya.

Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Cabang Kudus yang kemarin baru dilantik di @Hom Hotel, akan dihidupkan kembali eksistensinya.

Ketua IWAPI Kudus, Noor Haniah mengatakan, banyak sekali yang perlu dibenahi.”Memang sempat vakum, tapi masih eksis. Yang masih menjadi PR kami adalah meningkatkan kualitas dari anggota, dan meningkatkan jumlah keanggotaan. Sekarang ini memang baru sedikit, dan kami akan menggandeng semua pelaku usaha,” jelasnya.

Haniah menambahkan, dahulu, pemikiran anggota IWAPI itu adalah pengusaha skala besar. Tapi, ke depan semua pelaku bisa masuk. Sebagai ketua, pihaknya sudah melakukan perincian, yakni pengusaha kecil 85 persen, pengusaha menengah 12 persen dan pengusaha besar tiga persen.

”Saya justru mengangkat pengusaha dari skala kecil, sehingga bisa dikembangkan menjadi skala menengah atau besar. Progam ke depan sudah ada jadwalnya, yakni mengikutsertakan pengusaha dalam pameran,” jelasnya.

Ditambahkan, IWAPI Cabang Kudus akan mengembangkan kerjasama usaha antarlembaga, pemerintah, swasta, dan perbankan. Hal ini bertujuan untuk memperlancar bisnis, termasuk segi permodalan agar lebih baik dan kuat. (KHOLISTIONO)

Pengusaha Dinyatakan Menghilang 5 Hari

KOTA SALATIGA-Pengusaha ekspedisi paket dan rental mobil, Herry Satrijo Pambudi (44) dinyatakan menghilang sejak Kamis (23/1) lalu. Warga Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga itu diduga diculik, dan telah dilaporkan ke Polres Salatiga.
Korban yang merupakan pengusaha paket kilat Tikindo dan Rental Mobil tersebut pada Kamis pekan lalu berangkat ke Yogyakarta mengantar mobil rental ke seseorang yang memesan mobil rentalnya di bandara Adi Sucipto. Sejak saat itu, semua nomor handphonenya tidak aktif dan sudah tidak dapat dihubungi lagi oleh keluarganya.
”Saya menduga kuat kakak saya diculik saat menjemput penyewa mobilnya,” tutur Ari Pambudi (40), adik Herry, di Salatiga, Selasa (28/1).
Diceritakan, Herry berangkat ke Yogyakarta menggunakan mobil Daihatsu Luxio warna hitam H-9436-KB. Ia berangkat dari rumahnya yang menjadi tempat usahanya di Jalan Tentara Pelajar (depan Kafe Ole) Kota Salatiga sekitar pukul 06.00. Pemesannya meminta pukul 10.00 Herry sudah stand by di bandara.

Lanjutkan membaca