Pengemis dari Hadipolo Kudus Akan Dapat Sosialisasi Larangan Meminta-Minta

Satpol PP saat menertibkan pengemis di kawasan Menara Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan sosialisasi kepada kalangan pengemis di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, dianggap berhasil. Karenanya, Pemkab Kudus akan menggelar sosialisai terhadap pengemis di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.

Plt Satpol PP Kudus Eko Hadi Djatmiko mengatakan, rencana kegiatan sosialisasi terhadap pengemis akan dilakukan di Hadipolo.
“Di sana juga masih banyak orang yang meminta-minta. Ini juga sekaligus cara mengurangi warga yang selama ini meminta-minta,” kata Eko di Kudus, Sabtu (1/4/2017).

Sementara itu, rencana sosialisasi di Hadipolo akan digelar di rumah warga. Bukan di aula balai desa seperti di Demaan. Tujuannya agar warga yang hadir bisa lebih leluasa.

Data Satpol PP, pengemis yang biasa beroperasi di kawasan Menara Kudus, banyak yang berasal dari Hadipolo. Selain itu, banyak juga yang mangkal di lampu lalu lintas.

Atas dasar itulah, pemkab akan menggelar sosialisasi tersebut. Terlebih pula, pemkab akan menawarkan solusi agar warga berhenti jadi pengemis dan pengamen.

“Solusinya tetap sama, yaitu menjadi seorang juru parkir ataukah menjadi petugas kebersihan. Semuanya akan difasilitasi oleh petugas pemkab,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Kawasan Menara Kudus Kini Sepi Pengemis

Petugas Satpol PP Kudus saat melakukan razia pengemis di kawasan Menara, Sabtu (1/4/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pengemis yang biasa mangkal di kawasan Menara Kudus, kini mulai berkurang. Indikasinya, Satpol PP Kudus telah melakukan razia dan menemukan berkurangnya jumlah pengemis dari sebelumnya.

Ini tak lepas dari sosialisasi larangan meminta-minta yang diadakan pemkab setempat, beberapa hari lalu. Seperti yang diadakan di Demaan, Kecamatan Kota. Banyak dari pengemis kawasan Menara Kudus merupakan warga desa tersebut.

Plt Kepala Satpol PP Kudus Eko Hadi Djatmiko mengatakan, setelah sosialisasi di Demaan, pihaknya segera melakukan penertiban di sejumlah titik. Salah satunya di kawasan Menara Kudus yang merupakan titik favorit.

“Pagi harinya kami langsung operasi. Hasilnya sangat berbeda, dengan tak ada lagi pengemis di kawasan Menara Kudus asal wilayah Demaaan,” kata Eko di Kudus, Sabtu (1/4/2017).
Sebagian besar pengemis yang ditertibkan merupakan warga Gebog. Pengemis dari wilayah tersebut juga mendapatkan peringatan dari Satpol PP.

“Hingga sekarang kami juga masih melakukan operasi. Dan hasilnya memang bagus dengan tidak adanya lagi pengemis yang nampak di Menara Kudus,” ujarnya.

Dia menegaskan pihaknya akan meningkatkan razia pengemis. Mengingat keluhan masyarakat juga kerap muncul.

Editor : Akrom Hazami

 

Pengemis di Menara Kudus Bingung Dapat Tawaran Kerja Jos 

Warga Demaan memadati aula balai desa setempat saat sosialisasi tentang Larangan Meminta-Minta, kemarin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Mendapatkan tawaran kerja, idealnya akan membuat seseorang senang. Tapi tidak demikian dengan warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus.

Pemkab setempat memberikan tawaran kerja menjadi juru parkir dan petugas kebersihan. Tapi tawaran membuat mereka bingung. Tawaran itu merupakan solusi agar mereka berhenti menjadi pengemis dan pengamen seperti yang dilakukan selama ini.

“Apa bisa bekerja di usia yang sudah tua ini. Pasti yang diutamakan adalah mereka yang masih muda-muda. Bagaimana dengan kami yang sudah tua?,” kata salah seorang pengemis, Sri di desa setempat, kepada MuriaNewsCom, Jumat (31/3/2017).

Selama ini menjadi pengemis telah membuatnya nyaman. Setiap harinya, Sri bisa mendapatkan Rp 15 ribu per hari. Jumlah itu akan meningkat saat ramai peziarah. Dengan waktu mulai dari pukul 05.00 WIB-08.30 WIB.

Dia mangkal bersama teman dan tetangga di kawasan Menara Kudus, yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya.

Lain halnya dengan Fatimah (55), warga desa itu. Dia tak mungkin menerima kerja dari tawaran pemkab. Mengingat tenaganya yang tak lagi perkasa.

“Saya tak mengemis, saya menjadi pemulung rosok. Saya sudah tua dan tinggal dengan suami yang sakit. Jadi tidak bisa ditinggalkan lama-lama, apalagi tidak memiliki anak,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ngemis di Kudus, Akan Dipenjara 

Petugas Satpol PP saat menindak pengemis di salah satu sudut di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya pengemis di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, membuat prihatin pemerintah kabupaten. Untuk itulah disusun perda yang membahas tentang pengemis. Jika masih dilanggar maka dapat dipenjarakan.

Hal Itu disampaikan oleh Sumiyatun, Kepala  Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus saat sosialisasi di aula Balai Desa Demaan. Dikatakan kalau perda tersebut sudah hampir rampung dibahas dan tinggal didok atau diresmikan.

“Saya tanya, semuanya warga Kudus kan? Jika iya, harus mengikuti aturan yang berlaku juga. Semuanya juga tinggal di Kudus,” kata Sumiyatun saat sosialisasi.

Menurutnya, dalam perda itu juga menjelaskan tentang hukuman jika sampai ada yang melanggar. Jika yang bersangkutan tak mampu membayar sesuai yang ditetapkan untuk menebus, maka akan dikurung selama beberapa hari.

Pihaknya tak ingin jika sampai ada warga Kudus yang berbuat demikian apalagi sampai dikurung. Untuk itu, diminta supaya tidak usah lagi meminta-minta, karena dampaknya sangat serius.

Hal sama juga dikatakan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto. Menurutnya jika sampai ada yanh dipenjara meski hanya sebentar, akibatnya akan jelek di masyarakat.

“Meskipun hanya satu dua hari kan sama saja. Jangan sampai ada petugas satpol yang mengejar. Kalau kerja lainya malah bagus,” imbuhnya 

Dijelaskan mulai hari ini Kamis (30/3/2017), dilakukan operasi oleh petugas untuk pengemis dan pengamen. Itu untuk menciptakan Kudus yang nyaman dan juga melihat apakah masih ada yang beroperasi atau tidak.

Editor : Akrom Hazami

Jangan jadi Pengemis dan Pengamen di Kudus

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus Sumiyatun saat memberikan pengarahan kepada warga Desa Demaan untuk dilarang mengemis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, dikumpulkan oleh Pemkab Kudus, Rabu (29/3/2017) malam. Pemkab memberikan pengarahan kepada mereka agar tidak menjadi pengemis dan pengamen.

Warga dikumpulkan di aula balai desa yang bertempat di RT 4 RW 3. “Kami nyuwun panjenengan semua kerja dengan baik, jangan sampai ada orang tua yang mengajari anaknya untuk meminta-minta,” kata Sumiyatun, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus.

Peringatan itu tak hanya berlaku untuk orang tua dan anak saja, tapi juga pemudanya. Semuanya harus bekerja dengan yang baik. Dikatakannya, Kudus merupakan wilayah yang religius dan juga sejahtera. Jadi jika masih ada peminta minta dan juga pengamen, maka hal tersebut tidaklah pas.

“Selama ini sekolah sudah gratis, pengobatan gratis, kredit usaha ada KUP, jadi kurang bagaimana. Diharapkan mulai sekarang tak ada lagi pengemis dan peminta minta,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kalau Kudus sudah mendapat penghargaan Adipura Kencana selama dua kali berturut-turut. Itu semua karena peran serta masyarakat yang baik dan rapi. Jika sampai masih ada pengemis atau pengamen yang muncul, maka Kudus kemungkinan gagal mendapatkan kembali tahun ini. Apalagi saat penilaian dilaksanakan.

Dalam kegiatan tersebut, nampak pula Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto, Plt Satpol PP Kudus Eko Hari Djatmiko, Kepala Dinsos Ludhful Hakim, Kesbangpol Djati Sholehah dan sejumlah pejabat lain.

Editor : Akrom Hazami

15 Tahun Jadi Pengemis, Yanto Bertekad untuk Berubah dan Punya Usaha Sendiri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Yanto (40) warga Doro Kandang, Kecamatan Lasem, Rembang, sudah 15 tahun ini menjadi seorang pengemis. Salah satu alasannya melakoni sebagai peminta-minta tersebut karena keterbatasan fisik. Kedua tangan dan kakinya sudah cacat sejak lahir.

Setiap hari, dirinya pulang pergi Rembang-Kudus untuk menjalani aktivitas ini. Yanto biasa mangkal di Pasar Kliwon Kudus. “Saya biasanya dari rumah pukul 04.30 WIB dan kemudian naik bus. Sampai di Kudus sekitar pukul 06.30 WIB dan balik lagi ke rumah sekitar pukul 16.00 WIB,” ujarnya.

Dari hasil mengemis ini, Yanto biasanya mendapatkan uang sekitar Rp 80 ribu. Uang sebanyak itu digunakan untuk makan dan ongkos transportasi sekitar Rp 50 ribu. Kemudian, sisanya Rp 30 ribu ditabung dan dikasih kepada ibu tirinya, yang kini dalam kondisi sakit, semenjak bapaknya meninggal sekitar setahun lalu.

Yanto, kini punya keinginan untuk bisa berubah, tak lagi mengemis setiap hari. Untuk itu, dirinya mulai menabung sebagian uang dari hasil mengemis tersebut, meskipun tidak banyak. “Sebenarnya saya juga ingin berubah, ingin beralih ke pekerjaan lain. Namun, saya sadar fisik saya tidak mumpuni untuk bekerja berat. Namun tetap, saya ingin meninggalkan dari mengemis ini. Saya ingin punya usaha atau bekerja yang lainnya,” ungkapnya.

Saat ini, ia mulai menabung di koperasi. Dia enggan untuk memilih menabung di bank, karena, dirinya merasa minder dan malu dengan kondisi fisiknya jika pergi ke bank. “Kebetulan, tetangga saya kan ada yang bekerja di koperasi, jadi untuk menabungnya, uang saya bisa diambil ke rumah. Saya malu kalau ke bank,” imbuhnya.

Dirinya berharap, uang yang ditabung tersebut bisa terkumpul dan bisa buat modal untuk membuka usaha. Sehingga, nantinya tidak lagi mengemis setiap hari.

Editor : Kholistiono

Heboh! Dinsoskertrans Pati Bongkar Pengemis-pengemis Kaya

Petugas Dinsoskertrans Pati melakukan pendataan pada pengemis yang terjaring operasi Satpol PP, Senin (28/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Dinsoskertrans Pati melakukan pendataan pada pengemis yang terjaring operasi Satpol PP, Senin (28/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Siapa sangka bila pengemis-pengemis yang mangkal di sejumlah perempatan rambu lalu lintas di Pati ternyata orang mampu. Hal itu berhasil dibongkar Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsoskertrans) Pati.

Kepala Dinsoskertrans Pati Subawi mengaku pernah mengecek dan membuka dompet salah satu pengemis. Betapa terkejutnya Subawi, ketika dompet itu berisi uang Rp 500 ribu pada pagi hari.

“Kita memang buka dompetnya untuk mengecek. Itu pagi-pagi saja, dia sudah mengantongi uang Rp 500 ribu. Ada yang Rp 300 ribu. Itu memang pekerjaan. Apakah itu yang namanya orang miskin?” ujar Subawi saat ditanya MuriaNewsCom, Senin (28/3/2016).

Padahal, kata dia, pekerjaan petani, pekerja bangunan dan lainnya saja tidak sampai memiliki penghasilan sebesar itu. Itu sebabnya, ia meminta kepada pengguna jalan yang melintas di perempatan di Pati untuk tidak memberikan uang kepada pengemis.

“Ada gula, ada semut. Itu juga tergantung masyarakat. Kalau tidak diberi, ya dia tidak ada lagi. Sepanjang di perempatan dikasih uang terus, dia pasti ada terus. Sebaiknya, salurkan saja kepada panti-panti sosial atau yang memang benar-benar membutuhkan,” sarannya.

Yang lebih mengejutkan, salah satu pengemis yang beroperasi di kawasan Puri ternyata memiliki usaha persewaan sound system dan tenda. “Ada pengemis yang beroperasi di Puri. Dia orang Kudus. Dia punya usaha persewaan sound system, tapi pekerjaannya pengemis. Sekarang, pengemis itu memang sudah jadi profesi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ternyata, Pengemis di Kudus Ini Hampir Tiap Hari Tukarkan Uang Recehnya Rata-rata Rp 200 Ribu per Hari

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Berkedok baju yang kusut dengan memasang wajah memelas, ternyata banyak yang tertipu dengan gaya seorang pengemis. Bahkan, tiap hari penghasilan seorang pengemis melebihi seorang pegawai. Yaitu dengan jumlah rata-rata Rp 200 ribu per hari.

Biasanya, pengemis mendapatkan uang jumlah banyak itu dalam bentuk receh. Kemudian mereka menukarkan uang hasil pemberian masyarakat itu ke beberapa tempat. Misalnya di Minimarket.

Seperti halnya diungkapkan Petugas Minimarket Kecamatan Kota yang tidak mau disebutkan namanya. Menurutnya, para pengemis itu biasanya menukarkan uang hasil meminta-minta pada siang hari. Hal itu dilakukan hampir setiap hari usai mereka beroperasi.

”Sering mereka menukarkan uang, ya meski tidak setiap hari ke sini namun mereka sering menukarkan uangnya dalam jumlah yang lumayan. Biasanya antara Rp 150 sampai 200 ribu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, biasanya para pengemis menukarkan uang receh itu pada waktu siang hari. Atau kisaran pukul 14.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pada saat itulah pengemis secara bergantian menukarkan uang di berbagai tempat.

Selain menukar pada Minimarket, pengemis juga menukarkan uang hasil meminta-minta ke beberapa toko. Berbeda dengan menukar di Minimarket yang hanya menukar saja. Jika di toko tidak demikian, melainkan mereka juga membeli makanan di sana.

Hal itu juga pernah diketahui oleh Mashud, seorang pekerja di kompleks Menara. Dia menyebutkan kalau sejumlah pengemis terkadang menukarkan uang di beberapa warung dekat kompleks Menara.

”Beberapa kali menukarkan. Tapi tidak tahu jumlahnya berapa dan tiap jam berapa,” ujarnya.

Namun dia yang sering menjumpai pengemis itu mengungkapkan kalau penghasilannya banyak. Bahkan jika sampai Rp 200 ribu tiap harinya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Baca juga :

Wow! Penghasilan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Lebih Besar dari PNS

Di Menara Kudus Pengemis Ketakutan Lihat Satpol PP

Sering Ditertibkan, Pengemis di Kawasan Menara Kudus Masih Tak Kapok

Wow! Penghasilan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Lebih Besar dari PNS

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dengan muka memelas mereka menadahkan tangan meminta sedekah kepada para peziarah di Makam Sunan Kudus. Penampilan para pengemis itu mengundang iba. Selembar seribu atau dua ribuan direlakan para dermawan untuk mereka.

Namun, benarkah para pengemis yang setiap hari lalu lalang itu hidup menderita? Ternyata tidak semua.
Ada fakta yang mengejutkan, dalam sehari pengemis di kawasan Menara Kudus ini bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 200 ribu bahkan lebih.

Salah satu pedagang di kawasan Menara Kudus Yati menuturkan, penghasilan para pengemis sangatlah banyak. Bahkan, saat ramai seperti ini bisa mencapai Rp 200 ribu bahkan lebih untuk per harinya.
“Mereka banyak yang kasih, soalnya mereka sampai setengah memaksa. Bahkan kalau tidak dikasih langsung menepuk-nepuk tangan peziarah untuk diberikan uangnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Bahkan, kalau masih juga tidak dikasih oleh peziarah, pengemis di kawasan menara melontarkan kata-kata yang kotor kepada peziarah. Dengan begitu, membuat para peziarah terpaksa memberikan uang kepada pengemis.
Dia menceritakan, pernah suatu ketika, peziarah hendak membeli dagangan yang dimiliki. Hanya, belum sempat membeli, pengemis langsung mengerumuni peziarah itu. Tidak hanya itu, ketika peziarah hanya memberikan uang kepada satu pengemis saja, yang lain juga mengerumuni untuk minta jatah.
“Saya pernah menawari pengemis itu untuk berjualan seperti saya. Meski hasilnya tidak terlalu banyak, namun cukup. Itupun ditolak mereka dan memilih untuk meminta-minta,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Satpol PP Kudus Siap Menyamar untuk Tindak Pengemis di Kawasan Menara

Pengemis meminta-minta kepada peziarah makan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengemis meminta-minta kepada peziarah makan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Satpol PP Kudus, memiliki cara tersendiri dalam menindak keberadaan pengemis di kawasan Menara Kudus. Dalam melakukan penindakan, Satpol PP tidak mau terkecoh oleh pengemis yang harusnya ditangkap malah kabur.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengungkapkan, jika cara biasa dalam menangkap pengemis dinilai kurang efektif. Sebab pengemis akan langsung lari berhamburan begitu mendengar suara Satpol PP dan melihatnya di kawasan Menara.

”Makanya kami tidak mau kalau menertibkan dengan cara biasa. Harus disiasati cara menindaknya seperti apa,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Cara yang dilakukan, adalah dengan memasang anggota di sana dalam jumlah tertentu. Berbeda dengan anggota lain, anggota yang dipasang tidak berpakaian seragam melainkan pakaian bebas. Tugasnya, adalah mencari info apakah di kawasan sana ada pengemis yang beroperasi apa tidak.

Setelah dinyatakan ada aktivitas pengemis, lanjutnya, maka petugas akan datang dari berbagai sisi. Hal itu dilakukan untuk memastikan pengemis tidak bisa kabur saat dirazia.

”Ya meskipun ada saja yang lolos karena banyaknya pengemis. Mereka juga yang dalam waktu tidak lama langsung meminta-minta lagi. Padahal kami tidak mungkin berjaga di sana terus menerus,” ujarnya.

Seperti halnya tadi, rencananya petugas Satpol PP mengadakan razia kepada para pengemis di lingkungan Menara. Hanya setelah petugas keliling, ternyata sudah tidak ada pengemis di kawasan Menara, sehingga operasi tidak jadi dilaksanakan.

”Yang kami khawatirkan itu kalau mereka sampai memaksa peziarah. Itu jelas lebih parah dibandingkan hanya dengan meminta minta saja,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Sering Ditertibkan, Pengemis di Kawasan Menara Kudus Masih Tak Kapok

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, pihaknya bersama beberapa instansi terkait beberapa kali sudah melakukan penertiban terhadap pengemis yang ada di kawasan Menara Kudus. Namun, hal itu tak membuat pengemis kapok, dan masih saja melakukan aktivitas di tempat tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya dalam waktu dekat ini bakal melakukan penertiban kembali terhadap pengemis. Tidak hanya yang berada di kawasan Menara Kudus saja, namun juga yang berada di lokasi lain, yang biasa dijadikan pengemis untuk meminta-minta.

”Sebenarnya kami sudah melakukan teguran dan bahkan penertiban kepada pengemis. Mereka bilang tidak akan mengganggu lagi, namun pada kenyataannya mereka masih saja meminta-minta kepada peziarah. Dalam waktu dekat, kita akan melakukan penertibab,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, masyarakat peziarah tentunya akan merasa terganggu dengan keberadaan pengemis itu, apalagi jika sampai pengemis tersebut meminta uang kepada peziarah dengan memaksa. “Untuk meminta uang, pengemis ini mengejar-ngejar peziarah sampai dikasih uang,” imbuhnya.

Terkait hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan intansi terkait untuk mengambil langkah tegas mengai keberadaan pengemis. Sehingga, nantinya, peziarah yang datang ke Kudus merasa nyaman dan aman. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Keberadaan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Disebut Meresahkan

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Beberapa lokasi di Kabupaten Kudus menjadi sasaran empuk bagi pengemis untuk mengumpulkan recehan demi recehan. Di antaranya adalah kawasan menara Kudus atau kawasan Makam Sunan Kudus.

Namun, keberadaan pengemis di kawasan menara ini disebut meresahkan. Karena, ketika meminta uang kepada peziarah, pengemis terkesan memaksa.

”Musim ziarah seperti ini banyak pengemis, terlebih lagi menjelang bulan Ramadan nanti. Pengemisnya jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya, dan mereka terkesan memaksa dalam meminta kepada peziarah,”kata Suud, pedagang di kawasan Menara Kudus kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, selama dia bekerja di lingkungan menara, dia kerap kali melihat pengemis yang selalu mengejar peziarah. Bahkan, sebelum mereka dikasih uang oleh peziarah, para pengemis masih mengejarnya.

Bukan hanya itu saja katanya, jika mereka tidak dikasih uang oleh peziarah, ada juga di antara mereka yang malah mendoakan yang tidak baik kepada peziarah.

”Pengemisnya mengejar-ngejar peziarah, setelah dapat, mereka langsung pergi. Namun, jika tidak dikasih uang maka dia terus mengejarnya sampai dapat. Kalau saya lihat penghasilan pengemis ini banyak,”ujarnya.

Yang disayangkan juga, katanya, pengemis di lingkungan menara justru bergaya mewah dengan hasil mengemis tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan pola konsumsi yang tidak mencerminkan sebagai pengemis. “Kalau makan itu mereka yang enak-enak dan beli makanan yang mahal,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Jangan Beri Uang ke Pengemis Kalau Tak Ingin Didenda

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Semakin banyaknya jumlah pengemis dan gelandangan di Kabupaten Kudus menjadi keprihatinan banyak pihak. Tak ingin jumlah pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) semakin bertambab, DPRD Kudus bakal menggulirkan rancangan peraturan daerah (raperda) larangan memberi uang kepada PGOT.

Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRD Kudus Aris Suliyono mengatakan, pemberian uang dinilai tidak mendidik. “Kebaikan” warga itu justru semakin memicu bertambahnya jumlah pengemis di jalanan. “Seperti yang bisa dilihat. Jumlah pengemis di perempatan jalan di Kudus semakin hari justru semakin bertambah,” katanya, Selasa (8/12).

Yang memprihatinkan, banyak pengemis yang melibatkan anak-anak saat meminta-minta uang di jalanan. “Kami akan menggulirkan raperda larangan memberi uang ke pengemis. Sanksi denda bagi pemberi juga akan dipertimbangkan dalam raperda tersebut,” ujarnya.

Aris mengatakan, Pemkab Kudus sudah memiliki banyak program untuk mengentaskan pengangguran melalui berbagai jenis pelatihan keterampilan. Program itu seharusnya juga bisa dimanfaatkan oleh pengemis agar memiliki bekal keterampilan, untuk bekerja yang lebih baik. Di Kudus juga sudah ada panti rehabilitasi untuk PGOT.

Aris mengatakan, raperda larangan memberi uang ke pengemis menjadi salah satu raperda inisiatif yang akan digulirkan tahun depan. Banleg rencananya akan mengusulkan empat raperda inisiatif pada program legislasi daerah (Prolegda) 2016. (MERIE/AKROM HAZAMI)