LBH GP Ansor Desak Polisi Usut Penganiayaan di Sukoharjo

FOTO ILUSTRASI (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Kasus penganiayaan yang terjadi di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, belum juga tuntas tertangani. Kasus penganiayaan terhadap warga yang merayakan peringatan 17 Agustus itu mengakibatkan sejumlah warga luka.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendesak kepolisian melanjutkan penyelidikan kasus. Peristiwa yang terjadi di Desa Siwal, RT 04/RW 03 Kecamatan Baki, Sukoharjo, 19 Agustus 2017 lalu itu, ditangani Kepolisian Resort (Polres) Sukoharjo, namun hingga sepekan kini belum ada perkembangan signifikan pada kasus itu.

Direktur Advokasi dan Litigasi LBH Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Achmad Budi Prayoga, mengatakan, penyerangan dilakukan oleh sekelompok orang bertopeng berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam.

“Ini harus mendapatakan perhatian dari semua Instansi Pemerintah, Penegak Hukum maupun Organisasi Masyarakat,” tegasnya, Senin (28/8/2017).

Pada peringatan HUT RI yang awalnya dirayakan dengan suasana damai, gembira, dan suka cita oleh warga Desa Siwal, berubah jadi tragedi yang mengakibatkan jatuhnya korban masyarakat umum serta seorang anak balita yang mengalami luka-luka.

“Peristiwa penyerangan dan penganiayaan tersebut juga merupakan bentuk tindakan premanisme. Patut diduga tindakan tersebut merupakan tindakan yang sudah direncanakan secara terstruktur dan sistematis oleh para pelaku,” tandasnya.

Berdasarkan investigasi tim Litigasi dan Advokasi LBH GP Ansor, ditemukan sejumlah bukti dan fakta di lapangan. Pertama, pelaku berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam dan benda tumpul yang telah disiapkan sebelumnya.

Kedua, sebagian besar pelaku telah mempersiapkan diri agar tidak dikenali dengan cara secara seragam menutup muka dan kepala para pelaku. Ketiga, pelaku bergerak dengan komando dari orang yang patut diduga berperan sebagai koordinator. Keempat, pelaku dalam melakukan aksinya terlihat hanya menyasar orang atau sasaran tertentu saja.

Kelima, pelaku saat melakukan tindakan dilakukan secara sistematis.  Pelaku menggunakan sepeda motor dan saling berboncengan, satu orang yang melakukan tindakan dan satu orang tetap di atas sepeda motor sebagai persiapan agar dapat dengan cepat melarikan diri.

Keenam, para pelaku datang kemudian mengancam dengan senjata tajam dan potongan besi serta memukul warga masyarakat dan juga anggota Banser. Kehadiran anggota Banser di acara itu adalah permintaan warga Baki untuk menjaga kemanan acara. Pelaku juga merusak sejumlah kursi.

Ketujuh, pada tanggal 20 Agustus 2017, ketua panitia acara tersebut didampingi oleh anggota banser telah melaporkan dan memberikan keterangan sebagai saksi korban ke Polsek Baki, Sukoharjo, untuk memberikan fakta-fakta peristiwa itu.

Maka, untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa serta untuk menghindari akibat lanjutan terhadap peristiwa berdarah itu, LBH PP GP Ansor meminta polisi mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku.

 “Karena berdasarkan keterangan saksi di lapangan, sudah ada pelaku yang telah dikenali oleh masyarakat korban, karena yang bersangkutan tidak memakai cadar pada saat penyerangan. Fakta ini telah kami sampaikan kepada jajaran Polsek Baki,” tandasnya. 

Editor : Akrom Hazami

Polisi Masih Buru 2 Pelaku Penganiayaan Bos Kafe Segara

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Dua dari tiga pelaku penganiayaan terhadap bos Kafe Segara di Desa Kebloran, Kecamatan Kragan, Rembang, Yeni Sudiyono (44) terus diburu oleh Tim Resmob Kepolisian Resor Rembang.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka menduga, dua tersangka yang masing-masing sudah dikantongi identitasnya itu masih dalam persembunyian tetapi masih berada di wilayah Pulau Jawa alias belum sampai kabur jauh.

Pada saat gelar kasus penangkapan seorang pelaku penganiayaan yang telah berhasil ditangkap. Polisi meminta kepada kedua buron yang merupakan warga Desa Labuhan Kidul Kecamatan Sluke, untuk menyerahkan diri.“Kami minta dua pelaku yang masih buron untuk menyerahkan diri saja,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi telah menangkap satu pelaku penganiayaan yakni Mohammad Khoirudin alias Kucing (29) selaku eksekutor utama. Kepada wartawan, ia menyatakan sempat turut memukul wajah Yeni dan membacok bagian kaki korban pada insiden 8 Mei 2017.“Saya wajah bagian kanan dan membacok kaki korban,” ujar Khoirudin yang tercatat sebagai residivis karena sudah setidaknya dua kali keluar masuk penjara.

Kemudian, terkait motif pengeroyokan terhadap bos Kafe Segara tersebut, karena pelaku tersinggung dengan ucapan korban saat ditagih bayaran karaoke.

Editor : Kholistiono

Ngaku Dianiaya, Seorang Guru SMPN 3 Rembang Polisikan Kepala Sekolah

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Suharno (54) warga Sumber Mukti, Kecamatan Rembang, yang merupakan guru mata pelajaran PKN di SMPN 3 Rembang mengaku dipukul kepala sekolah di tempat ia mengajar. Akibat pemukulan tersebut, wajah Suharno mengalami memar dan luka robek pada bagian depan telinga kanan.

Akibat pemukulan tersebut, Suharno harus mendapatkan perawatan di UGD RSUD dr Soetrasno Rembang. Kemudian, Suharno juga melaporkan kasus penganiayaan tersebut kepada Polres Rembang.

Menurut Suharno, kejadian pemukulan yang dilakukan kepala sekolahnya tersebut berawal ketika pada Senin (12/6/ 2017) sekitar pukul 08.00 WIB,dirinya sedang mengerjakan edit  foto foto siswa di ruang guru.

“Nah di saat yang sama, kemudian saya mendapat perintah dari kepala sekolah untuk mendampingi siswa apel. Karena pekerjaan ngedit foto juga belum selesai, saya bilang tidak bisa mendampingi anak-anak untuk apel,” paparnya.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba kepala sekolah masuk ke ruang guru mendekati dirinya dan langsung  melayangkan bogem mentah secara bertubi-tubi. Akibat pemukulan itu, dahi Suharno memar   dan bagian atas depan  telinga kanan robek.

“Ya hanya dipicu masalah  pendampingan apel siswa  saja Mas. Saya nggak tau tiba- tiba dipukuli secara membabi buta di hadapan 15 guru-guru lain. Saat itu saya  sama sekali tidak melawan karena saya  menghormati pimpinan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, saat kejadian tersebut, juga ada dua orang guru yang berusaha mencegah pemukulan itu dengan cara menghadang kepala sekolah. Namun kepala sekolah masih melakukan pemukukan itu.

“Saat itu, Pak Karto guru olahraga dan Pak Supardan guru agama juga menggondeli pelaku. Namun pelaku masih saja memukuli saya,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Pebalap Pati Ini Mengaku Diancam Akan Dibunuh Oknum Polisi

Kevin, pebalap asal Pati yang menjadi korban pengeroyokan, sedang ditunggui ibunya di salah satu rumah sakit di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kevin, pebalap asal Pati yang menjadi korban pengeroyokan, sedang ditunggui ibunya di salah satu rumah sakit di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Turnamen Road Race Championship 2016 yang diadakan di Stadion Joyokusumo Pati, Minggu (04/09/2016), membuat seorang pebalap asal Desa Winong, Pati bernama Muhammad Rizki Kevin  Dwiki Arighi (21) mengalami trauma berat.

Dia mengaku dikeroyok oleh pebalap rivalnya bersama orang tua dan paman. Padahal, Kevin tidak memiliki masalah dengan rivalnya tersebut. Hanya saja, dia sempat senggolan dengan rivalnya itu dalam sebuah kompetisi.

“Saya tidak tahu apa-apa. Saat istirahat, saya didatangi ketiga orang itu. Saya didorong sampai jatuh, kemudian dipukul, dan perut saya diinjak. Bahkan, saya sempat diancam dibunuh ketika perut saya diinjak,” ungkap Kevin, Selasa (06/09/2016).

Kevin sendiri enggan menyebut identitas pengeroyok. Namun, pihak keluarga mengaku sudah melaporkan kejadian itu kepada polisi. “Kevin berhasil meraih peringkat dua, sedangkan pelaku pengeroyokan salah satunya merupakan rivalnya yang mendapat peringkat tiga. Ironisnya, pengeroyokan juga dilakukan oknum polisi yang bertugas di luar wilayah Pati. Padahal, dia penegak hukum yang mestinya jadi panutan masyarakat,” tutur Sriyati (48), ibunda Kevin.

Sriyati berharap besar agar Polres Pati segera menindaklanjuti laporan tersebut. Dia ingin meminta keadilan, karena anaknya sudah dianiaya di depan publik. “Kalau bukan sama polisi, sama siapa lagi kami meminta keadilan di negeri ini,” ujarnya.

Selain berharap keadilan, Sriyati berdoa agar luka pada bagian perut anaknya itu tidak menyebabkan luka dalam yang membahayakan hidupnya. Kini, pihak keluarga menunggu hasil visum akibat kekerasan yang menimpa Kevin.

Sriyati menyebut, anaknya yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa di STIE Jakarta itu tak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga terkena dampak psikis. “Kami sangat menyayangkan dalam event tersebut ada kasus pengeroyokan seperti ini,” pungkasnya.

Baca juga : Pebalap Asal Pati Alami Penganiyaan, Pelakunya Diduga Oknum Polisi

Editor : Kholistiono

Bapak dan Anak Dibacok Kawanan Orang Misterius di Kaliwungu Kudus

Korban pembacokan, Supriyadi (40) dirawat di Rumah Sakit Islam Kudus Ruang Sa'ad Ibnu Abi Waqqash. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Korban pembacokan, Supriyadi (40) dirawat di Rumah Sakit Islam Kudus Ruang Sa’ad Ibnu Abi Waqqash. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Nasib nahas menimpa Kasim (70) dan anaknya Supriyadi (40). Kedua merupakan warga Desa Mijen RT 1 RW 1, Kecamatan Kaliwungu yang diduga korban pembacokan orang tak dikenal pada Selasa (19/4/2016) malam.

Supri (40) mengatakan, pada Selasa malam sekitar pukul 21.00 WIB, dirinya masih berada di teras rumah sambil membawa ponsel. Setelah itu, dirinya akan masuk rumah dan mengecas ponsel tersebut.”Setelah akan masuk rumah sekitar pukul 21.15 WIB, tiba tiba ada 4 orang tak dikenal memanggil saya dengan panggilan Mas. Nah setelah itu, dua orang tersebut menghampiri sambil membawa gobang dan celurit sambil menanyakan apakah Warga Mijen ada yang bernama Bambang?. Yang dua lagi sambil menunggu di atas motor. Akan tetapi saya jawab, tidak tahu warga Mijen atas nama Bambang. Setelah itu kedua orang tersebut menyerang dengan senjata tajamnya,” katanya.

Dalam kondisi seperti itu, dirinya masih melawan untuk merebut senjata tajam yang dibawa pelaku pembacokan. Dalam perlawanan itu, tangan kanannya terkena sabetan senjata tajam tersebut.
Dari sumber yang dihimpun MuriaNewsCom, pria yang diduga sebagai korban pembacokan orang tak dikenal tersebut juga sebagai anggota LSM Horizon.

“Setelah itu, bapak saya Kasim menghampiri saya lari dari dalam rumah untuk mengetahui kejadian yang ada. Akan tetapi bapak saya juga terkena sabetan senjata tajam di kepala dan tangan kirinya. Namun setelah itu sekitar pukul 21.30 WIB saya dan bapak dilarikan ke RSI Kudus ini.

Memang sebelum adanya insiden itu, saya pada waktu Selasa (19/4/2016) siang sempat memantau pembangunan talut di Loram Wetan, Kecamatan Jati. Saya memantau itu, lantaran saya sebagai warga negara juga berhak untuk mengetahui pembangunan yang ada. Setelah itu, saya pulang dan ada salah satu pekerja bangunan yang marah. Apakah insiden itu ada kaitannya dengan pemantauan talut tersebut atau bukan, saya juga tidak tahu akar permasalahannya pembacokan ini,” ungkapnya.

Dari pantauan, kedua warga Mijen bapak serta anak yang diduga sebagai korban pembacokan orang tak dikenal tersebut saat ini telah dirawat di RSI Kudus. Untuk korban atas nama Kasim dirawat di ruang Ali bin Abi Tholib, dan untuk Supriyadi dirawat di ruang Sa’ad ibnu Abi Waqqash.
Di saat yang sama kakak dari Supriyadi yang bernama Preh (45) mengatakan, dalam kejadian ini keluarga sudah melaporkan ke polisi.”Sebab dalam tempat kejadian itu, ada sebuah topi dan sendal pelaku yang tertinggal. Mudah mudahan dengan petunjuk ini bisa secepatnya tertangkap pelaku itu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Oknum PNS Penganiaya Bocah Tayu Pati Divonis 2 Bulan Penjara

Suasana persidangan kasus penganiayaan bocah asal Tayu dengan agenda menghadirkan saksi beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana persidangan kasus penganiayaan bocah asal Tayu dengan agenda menghadirkan saksi beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Oknum PNS, Sudiyanto yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap NH (12), seorang bocah asal Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Pati, akhirnya divonis dua bulan penjara dan denda senilai Rp 1 juta.

Putusan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Etri Widayati di Pengadilan Negeri Pati, Selasa (8/3/2016). Hukuman itu dianggap adil, setelah majelis mendengarkan sejumlah saksi, pertimbangan pledoi dan duplik dari terdakwa.

“Ada beberapa pertimbangan hingga majelis hakim akhirnya memberikan vonis dua bulan dan denda Rp 1 juta. Kami mempertimbangkan pledoi dari terdakwa yang menyatakan bahwa dia merupakan pegawai negeri sipil yang sudah mengabdi puluhan tahun,” kata Widayati dalam persidangan.

Pertimbangan itulah yang meringankan hukuman Sudiyanto. Apalagi, terdakwa menjadi tulang punggung bagi keluarga dan tengah menderita penyakit.

Selain itu, terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya. Terdakwa juga sudah meminta maaf kepada keluarga NH sebanyak dua kali. Sudiyanto sendiri enggan memberikan komentar kepada wartawan. “Nanti,” kata Sudiyanto singkat.
Setelah ditunggu di ruang panitera pengganti sebelah utara, ternyata Sudiyanto lewat melalui pintu sebelah selatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga: Jaksa Penuntut Umum Tuntut Oknum PNS Penganiaya Bocah di Tayu Pati 4 Bulan Penjara 

3 Anggota Geng Ninja Keroyok Siswa SMK di Grobogan

http://www.murianews.com/2016/01/26/69320/sadis-warga-kembang-pati-ini-dikeroyok-dan-dibacok-6-orang.html

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tiga orang anggota dari salah satu komunitas motor Ninja diamankan di Mapolres Grobogan. Gara-garanya, mereka diindikasikan jadi pelaku pengeroyokan terhadap Yuazit Kun, 18, warga Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati.

Tiga orang penunggang Ninja yang diamankan polisi masing-masing, Budi Santosa, 26, warga Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari dan Samsul Ali, 21, warga Desa Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo. Satu lagi adalah Yeriko, 24, warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa pengeroyokan terhadap pelajar SMK kelas II itu terjadi, Minggu (14/2/2016) dini hari lalu. Ceritanya, saat itu korban tengah nongkrong bersama temannya di depan Stadion Krida Bhakti, Purwodadi.

Tidak lama kemudian, datang belasan pengendara motor Ninja ke lokasi tersebut. Ketika berada di situ, beberapa pengendara sempat membleyer-bleyer gas kendaraan hingga menimbulkan suara bising.

“Korban kemudian mendatangi mereka untuk mengingatkan agar tidak membunyikan motor dengan keras. Setelah menyampaikan peringatan, justru korban malah dipukuli beberapa pegendara motor itu,” ungkap salah seorang warga yang mengaku berada tidak jauh dari lokasi kejadian pada malam itu.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan informasi adanya peristiwa pengeroyokan di halaman stadion sepak bola tersebut. Akibat peristiwa ini, korban mengalami luka di bagian kepala dan sempat menjalani perawatan di RS Panti Rahayu Purwodadi.

“Tiga pelaku pengeroyokan sudah kita amankan. Mereka masih kita minta keterangan guna menjalani proses lebih lanjut,” cetusnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Sadis, Warga Kembang Pati Ini Dikeroyok dan Dibacok 6 Orang 

Guru Honorer di Gembong Pati Dikeroyok Hingga Babak Belur

Diduga Dianiaya Oknum Kades, Bocah Desa Kembang Pati Mengadu ke Dewan

Dani menunjukkan luka di kepala kepada anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dani menunjukkan luka di kepala kepada anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang anak bernama Dani Prasetyo (14), warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti yang merasa dianiaya oknum kades melaporkan kejadian tersebut kepada anggota DPRD Pati, Selasa (2/2/2016).

Dani bertemu dengan Anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah didampingi keluarga dan ayahnya, Sugiarto. Mereka mengadukan peristiwa penganiayaan yang dialaminya.

”Kami datang ke sini untuk meminta bantuan kepada wakil rakyat supaya proses hukumnya berjalan. Kami sudah melaporkan ke pihak kepolisian pada 30 Desember 2015 lalu, tapi masih belum ada perkembangan,” ujar Sugiarto.

Ia menuturkan, peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 29 Desember 2015. Saat itu, Dani sedang membantu temannya berjualan pada acara pentas dangdut di Desa Dukuhseti.

Tiba-tiba saja, Dani didatangi segerombolan orang, salah satunya Kades Dukuhseti. Dani dituduh membuat onar oleh gerombolan orang tersebut.

”Dani langsung dianiaya gerombolan orang sampai menderita luka bacok pada bagian kepala dan luka tusuk di dada. Kami sudah laporkan penganiayaan itu ke Polsek Dukuhseti, tapi saat ini belum ada perkembangan,” tambahnya.

Karena itu, ia mengadukan masalah tersebut ke Komisi D DPRD Pati dengan harapan bisa mengupayakan proses hukum agar bisa berjalan baik.

Editor : Titis Ayu Winarni

Seorang Warga Jepara Tewas Mengenaskan Karena Dianiaya

Menjelang proses autopsi di ruang jenazah RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Menjelang proses autopsi di ruang jenazah RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Salah seorang warga Jepara tewas dalam kondisi mengenaskan. Ia bernama Ruslan (50), warga Desa Tunahan, RT 19 RW 06 Kecamatan Keling. Dia tewas dalam kondisi luka serius di bagian kepala setelah dianiaya, pada Senin (25/1/2016) sekitar pukul 21.15 WIB.

Jenazah korban dibawa ke ruang jenazah RSUD RA Kartini Jepara pada Selasa (26/1/2016) sekitar pukul 03.00 WIB. Kemudian, sekitar pukul 11.00 WIB dilakukan autopsi oleh tim forensik Polda Jawa Tengah.

Belum diketahui pasti penyebab dan kronologi detail kejadian tersebut. Pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan dan olah tempat kejadian perkara. Diduga, korban dianiaya oleh lebih dari satu orang. Sebab luka yang dialami korban cukup parah.

Dokter Polisi dari tim forensik Polda Jateng, dr Setyo mengatakan, korban mengalami luka yang sangat parah. Bagian kepala korban terkena benda tumpul sehingga kondisinya pecah.

”Dalam kondisi seperti itu, saat dipukul tidak sampai lima menit kalau tidak diselamatkan memang langsung meninggal,” katanya kepada MuriaNewsCom usai melakukan autopsi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Kronologi Penganiayaan di Tempat Karaoke Joglo Putu Inten Jepara

ilustrasi+penganiayaan

 

JEPARA – Polemik mengenai tempat karaoke di kawasan Pungkruk telah usai dengan dibongkarnya semua bangunan disana. Tetapi di beberapa tempat karaoke lain justru masih beroperasi. Bahkan, di tempat Karaoke Joglo Putu Inten yang berada di Desa Tegal Sambi, Kecamatan Tahunan beberapa waktu lalu sempat terjadi keributan di termpat tersebut yang menyebabkan korban terluka parah karena dianiaya.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin melalui KBO Satreskrim Polres Jepara Ipda Chandra Bayu Septi membeberkan, kasus penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis (26/11/2015) sekitar pukul 01.30 WIB.

“Kronologinya, ketika korban bersama saksi mau pulang dari tempat karaoke, ada handphone milik saksi yang tertinggal. Kemudian meminta korban untuk membantu mengambilkannya di dalam room 1. Tetapi, korban justru masuk dan mencari di room 2 yang masih diisi oleh pelanggan karaoke lain,” terang Chandra kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/12/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, ada dugaan ketika masuk ke room yang salah dalam kondisi setengah sadar karena pengaruh minuman keras, membuat pengguna room lain menjadi tersinggung dan terjadi cekcokdan berujung pada penganiayaan.

Menurutnya, ada dugaan jika korban dianiaya lebih dari satu orang. Sebab, dari beberapa luka yang dialami korban memang cukup parah. Meski demikian, pihaknya belum berani memastikannya. “Kami masih akan dalami dan kembangkan kasus ini,” tegas Chandra.

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini pihaknya telah mengamankan satu tersangka. Namun, pihaknya masih enggan menyebutkan identitasnya. Sebab, nantinya akan dikembangkan lagi, dan jika memang benar ada keterlibatan orang lain maka dimungkinkan ada tambahan tersangka lagi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Warga Ujung Batu Jadi Korban Penganiayaan di Karaoke Joglo Putu Inten Jepara

ilustrasi penganiayaan

ilustrasi penganiayaan

 

JEPARA – Salah seorang warga Desa Ujung Batu RT 07 RW 02, Kecamatan Kota Jepara bernama Miftahul Huda menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh sesama penikmat karaoke. Peristiwa tersebut terjadi di tempat Karaoke Joglo Putu Inten yang berada di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin melalui KBO Satreskrim Polres Jepara Ipda Chandra Bayu Septi mengemukakan, informasi penganiayaan tersebut memang ada, dan korban mengalami luka parah serta terancam buta permanen. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (26/12/2015) sekitar pukul 01.30 WIB.

“Kondisi korban terluka parah, terutama di bagian mata. Informasi yang kami terima, korban telah dilakukan operasi di bagian yang terluka di rumah sakit dan terpaksa harus mengalami cacat di bagian mata karena saking parahnya,” kata Chandra kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/12/2015).

Menurutnya, ada dugaan jika korban dianiaya oleh lebih dari satu orang. Sebab, dari beberapa luka yang dialami korban memang cukup parah. Meski demikian, pihaknya belum berani memastikannya. “Kami masih akan dalami dan kembangkan kasus ini,” tegas Chandra.

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini pihaknya telah mengamankan satu tersangka. Namun, pihaknya masih enggan menyebutkan identitasnya. Sebab, nantinya akan dikembangkan lagi, dan jika memang benar ada keterlibatan orang lain maka dimungkinkan ada tambahan tersangka lagi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG: Ini Kronologi Pengakuan Tersangka

Tersangka (tengah) diinterogasi pihak kepolisian. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Tersangka (tengah) diinterogasi pihak kepolisian. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Aparat kepolisian dari unit reskrim Polres Jepara dan Polsek Batealit berhasil membekuk tersangka kasus pembunuhan dan penganiayaan yang terjadi di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Jepara. Usai diamankan, tersangka membeberkan kronologi peristiwa tragis tersebut.

”Awalnya saya cemburu kepada istri yang sms-an dengan orang lain,” kata tersangka, Seraju (45) saat diinterogasi Kapolsek Batealit, Rabu (28/10/2015) malam tadi.

Usai mengetahui istri (yang dikabarkan sempat cerai sebulan lalu tapi masih serumah) sms-an, dia mengaku sangat kesal. Kemudian di waktu subuh, dia melampiaskan kekesalannya itu dengan mengambil palu dan memukul kepala istrinya tersebut. ”Saya mulai pukul pas dia masih tidur,” ungkapnya.

Tak puas menganiaya istrinya, anak pertamanya sampai bangun yang berusaha menolong ibunya. Namun, anaknya juga menjadi korban kebuasan tersangka. Kemudian, usai kedua korban yakni anak dan istrinya terkapar, dia menyimpan palu yang digunakan untuk memukul di bawah almari.

“Saya lari sampai jalan raya dan naik bus ke Semarang,” katanya.

Seperti diberitakan, korban melarikan diri ke rumah saudaranya di Desa Kuningan, Semarang Utara. Aparat berhasil membekuknya usai mengetahui alamat saudaranya tersebut dari para saksi. (WAHYU KZ/TITIS W)

PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG : Pelaku Akui Hantam Kepala Anak dan Istri Pakai Palu Besi

Kapolsek Batealit menunjukkan barang bukti palu yang digunakan tersangka. (MuriaNews/Wahyu KZ)

Kapolsek Batealit menunjukkan barang bukti palu yang digunakan tersangka. (MuriaNews/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Aparat unit reskrim gabungan antara Polres Jepara dan Polsek Batealit berhasil membekuk tersangka bernama Seraju (45) saat melarikan diri ke Semarang. Usai diamankan di Mapolsek Batealit, tersangka diinterogasi.

”Tersangka mengaku memukul kepala korban dengan palu ini,” kata Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro sembari menunjukkan palu yang digunakan tersangka.

Menurutnya, palu tersebut disembunyikan di bawah almari. Ada bekas darah di ujung palu tersebut. Dia menduga, pukulan yang dilakukan tersangka sangat keras lantaran tanda-tanda di palu tersebut masih tersisa dan korban yang juga anak kandungnya tewas, sementara istrinya juga kritis.

Sebagaimana disampaikan dokter dari RSUD Kartini, Nur Hayati. Kedua korban mengalami luka parah di bagian kepala depan dan belakang bahkan terjadi pendarahan. Akibatnya, nyawa korban yang merupakan anak kandungnya tak mampu diselamatkan. (WAHYU KZ/TITIS W)

PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG: Kondisi Kejiwaan Pelaku Normal

Kapolsek Batealit menginterogasi pelaku pembunuhan anak kandung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kapolsek Batealit menginterogasi pelaku pembunuhan anak kandung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Aparat kepolisian Polsek Batealit, Jepara telah membekuk pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maut yang terjadi di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, di Desa Kuningan, Semarang Utara, Rabu (28/10/2015) malam tadi. Aparat memastikan kondisi kejiwaan pelaku masih terbilang normal.

Sebab, dari keterangan pelaku, dirinya melarikan diri dengan cara berjalan kaki hingga ke jalan raya, kemudian naik angkutan umum minibus menuju tempat saudaranya di Semarang. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan tes sederhana untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku normal.

”Tadi saya ajak komunikasi masih nyambung. Ketika saya tanya nama-nama anaknya, nama istri dan nama orang tuanya pun masih bisa menjawab dengan benar. Bahkan, saya minta nulis dan saya minta tanda tangan juga ternyata masih sama dengan di KTP pelaku,” ujar Kapolsek Batealit, Jepara, AKP Hendro Astro kepada MuriaNewsCom.

Meski begitu, lanjutnya, pihaknya masih butuh bantuan dari pihak psikiater untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku penganiayaan hingga berujung maut tersebut. Pihaknya belum berani memastikan secara pasti bahwa kejiwaan pelaku normal.

Sebab, seperti diberitakan MuriaNewsCom, pelaku memiliki riwayat sakit jiwa dan pernah di larikan ke RSUD Kartini. Bahkan ketika kambuh, pernah pula dilarikan ke rumah sakit di Semarang pada tahun 2014 lalu. (WAHYU KZ/TITIS W)

PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG: Pelaku Dibekuk di Semarang

Pelaku pembunuhan anak kandung diinterogasi Kapolsek Batealit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pelaku pembunuhan anak kandung diinterogasi Kapolsek Batealit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pelaku kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mengakibatkan anak kandungnya tewas, dan mantan istrinya yang kritis telah dibekuk aparat kepolisian. Pelaku diketahui bernama Seraju (45) itu dibekuk di Semarang pada Rabu (28/10/2015) malam tadi.

”Setelah kami memintai keterangan para saksi, kami mendapatkan informasi jika pelaku atau tersangka memiliki saudara di Semarang, kemudian kami melakukan pengejaran,” ujar Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pengejaran dilakukan unit reskrim gabungan antara Polres Jepara dengan Polsek Batealit. Akhinya, kurang dari 24 jam dari peristiwa penganiayaan, tersangka sudah dapat diamankan tanpa banyak perlawanan.

”Tersangka berada di kawasan Desa Kuningan, Semarang Utara. Kemudian tersangka dibawa dari Semarang ke sini (Mapolsek Batealit),” kata Hendro Astro.

Sampai saat ini tersangka masih mendekap di jeruji besi di Mapolsek Batealit. Proses penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan oleh pihak kepolisian setempat.

Seperti diberitakan, bahwa kasus KDRT maut telah terjadi di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Jepara. Anak tersangka, yakni Afrianto alias Rian dengan nalam lengkap Fitri Harianto (15) tewas ditangan ayah kandungnya. Sementara istri (yang diketahui sudah cerai sebulan lalu), kritis usai keduanya dianiaya oleh tersangka. (WAHYU KZ/TITIS W)

Tak Terima Diceraikan, Suami Bunuh Anak Kandung

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Peristiwa tragis terjadi di Desa Geneng RT 03/I, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Seorang anak remaja bernama Afrianto (15) tewas, dan ibunya bernama Siti Hadroh (37) kritis di RSUD Kartini Jepara, usai dianiaya secara sadis oleh ayahnya bernama Seraju (45), Rabu (28/10/2015) pagi. Ternyata, antara korban Siti Hadroh dengan pelaku Seraju sebelumnya telah bercerai.

Ketua RT setempat, Muhlisin mengatakan, antara korban dengan pelaku telah bercerai sekitar satu bulan lalu. Namun, mereka masih tinggal satu rumah. Pihak korban diketahui menceraikan suaminya tersebut lantaran beberapa hal.

“Sudah cerai sekitar satu bulan lalu, tapi masih tinggal satu rumah,” kata Muhlisin kepada MuriaNewsCom, di lokasi kejadian. Menurutnya, para tetangga juga sebenarnya terheran-heran lantaran status mereka yang sudah cerai tapi masih tinggal satu rumah. Sehingga, peristiwa kekerasan atau penganiayaan yang terjadi disebut warga karena kekesalan suami yang telah diceraikan.

“Diantara warga sendiri juga masih mengira-ngira penyebab kejadian ini, ada banyak kemungkinan,” ungkapnya. Sementara itu, Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro mengatakan, belum ada saksi yang melihat kronologi persisnya masalah ini. Saksi kunci, yakni korban yang krisis juga belum dapat diajak berkomunikasi. “Kita tunggu saja nanti. Sementara ini memang belum dapat disimpulkan,” kata Hendro. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kisah Kejiwaan Ayah Pembunuh Anak Kandung di Jepara

Polisi tampak berjaga di tempat kejadian perkara di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Polisi tampak berjaga di tempat kejadian perkara di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara, Seraju (45) yang menganiaya anak kandungnya hingga tewas dan istrinya hingga terluka parah, ternyata diketahui memiliki gangguan jiwa.

Salah satu adik korban, Sumanah (33) mengatakan, kakak iparnya yang menjadi pelaku penganiayaan terhadap kakak kandung dan keponakannya, pernah dirawat di RSUD Kartini karena mengalami gangguan kejiwaan.  Bahkan, menurut dia sempat dirujuk ke salah satu rumah sakit di
Semarang.

“Memang pernah mengalami gangguan jiwa dan dirawat di rumah sakit,” kata Sumanah kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015).

Hal itu juga disampaikan Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro. Menurut Hendro, pelaku sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa dan di rawat di rumah sakit.

Terakhir, pelaku di rawat di rumah sakit pada tahun 2014 lalu. “Sesuai informasi dari warga, pelaku memiliki gangguan jiwa,” kata Hendro.

Dia menambahkan, kasus ini dilimpahkan ke Polres Jepara karena korban sampai ada yang meninggal dunia. Meski begitu, pihaknya tetap akan memberikan bantuan. Mengingat peristiwa terjadi di wilayah hukumnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG : 2 Adiknya Ingin Ketemu Kakaknya yang Sudah Tewas

Korban kritis yang dirawat di RSUD Kartini, saat ini ditempatkan di Ruang Teratai. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Korban kritis yang dirawat di RSUD Kartini, saat ini ditempatkan
di Ruang Teratai. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berujung maut, di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Jepara, memberikan rasa kepedihan tersendiri bagi para keluarga korban.

Salah satunya Sumanah (33), adik korban Siti Hadroh (37) yang terluka parah dan kritis. Sumanah mengaku sangat sedih mengetahui kakaknya menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh kakak iparnya atau suami korban, Seraju (45).

Lebih tragis lagi, keponakannya,Afrianto alias Rian yang masih duduk di kelas IX di salah satu MTs swasta di Desa Raguklampitan menjadi korban dan meninggal dunia.

“Saya tidak tega. Sedih sekali mengetahui kakak saya terluka parah, dan keponakan meninggal di tangan ayahnya sendiri,” kata Sumanah yang tak kuasa menahan tangis, di ruang jenazah RSUD Kartini Jepara, Rabu (28/10/2015).

Kakaknya saat ini tergeletak di ruang rumah sakit karena kritis. Dengan luka parah di bagian kepala. Hadroh memiliki tiga orang anak. Yang menjadi korban hingga meninggal merupakan anak sulung. Sedangkan dua anak lainnya dititipkan di sebuah yayasan panti asuhan di Semarang.

“Malah anak yang di yayasan itu sebelumnya bilang ingin melihat kakaknya, tapi sekarang sudah meninggal,” ungkapnya.

Sampai saat ini, korban kritis dirawat di Ruang Teratai, kelas paling bawah di RSUD Kartini. Diketahui keluarga korban merupakan orang yang tak mampu. Sementara korban tewas, ditempatkan di ruang jenazah untuk dilakukan auotopsi. Sementara pelaku diketahui melarikan diri dan belum diketahui keberadaannya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Kronologi KDRT, Seorang Anak Tewas, Ibu Kritis

Rumah korban sampai saat ini masih dalam penjagaan petugas kepolisian dengan dibatasi garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Rumah korban sampai saat ini masih dalam penjagaan petugas kepolisian dengan dibatasi garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Peristiwa tragis terjadi di rumah warga di Desa Geneng RT 03 RW 01, Kecamatan Batealit, Jepara. Seorang anak remaja bernama Afrianto alias Rian (15) tewas dan ibunya bernama Siti Hadroh (37) kritis setelah dianiaya oleh ayahnya Seraju (45).

Dari keterangan para saksi yang dihimpun MuriaNewsCom, peristiwa penganiayaan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi sekitar pukul 05.00 WIB, di rumah yang dihuni satu keluarga tersebut.

Kedua korban diketahui oleh warga setelah peristiwa terjadi dalam kondisi terluka parah. Dugaan kuat yang beredar di masyarakat, sang anak, Arfianto tewas mengalami luka parah di kepala karena melerai orang tua mereka. Meski begitu, belum ada saksi mata yang mengetahui persisnya kejadian kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa tersebut.

”Lokasi tepatnya ada di dalam kamar. Tidak ada yang melihat persis kejadiannya seperti apa karena kejadian masih sangat pagi. Ketika ditemukan, anak dan ibunya terluka parah,” kata salah seorang saksi yang kali pertama mengetahui korban terluka, Nur Sahid (45) di lokasi
kejadian, Rabu (28/10/2015).

Menurutnya, sebelum peristiwa tersebut, malam harinya keluarga korban masih harmonis. Bahkan, Nur Sahid mengaku melihat mereka masih nonton televisi bersama. Tapi, pagi harinya korban ditemukan sudah tak berdaya kemudian warga sekitar melarikan korban ke RSUD Kartini.

”Sebelumnya juga si anak (Rian) itu masih main dengan temannya. Dia sekolah di salah satu MTs di Desa Raguklampitan,” katanya.

Pihak kepolisian Satreskrim Polres Jepara belum memberikan keterangan lebih detail terkait hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). ”Pelaku melarikan diri, kami masih melakukan penyelidikan. Belum ada yang bisa disimpulkan,” tegas Kasatreskrim Polres Jepara AKP I Wayan Suhendar. (WAHYU KZ/TITIS W)

Penganiaya Kakek Gara-gara Akik Divonis 4 Bulan Penjara

Pembacaan putusan sidang penganiaya kakek sendiri gara-gara akik (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pembacaan putusan sidang penganiaya kakek sendiri gara-gara akik (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sidang putusan terhadap terdakwa kasus penganiayaan terhadap kakek sendiri, hanya gara-gara persolan akik, telah selesai digelar. Majelis hakim yang diketuai oleh Kun Triharyanto memvonis terdakwa bernama Rifan Suudi (24) warga Desa Beringin, Kecamatan Batealit, Jepara, dengan hukuman empat bulan penjara.

Vonis tersebut sedikit lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut enam bulan penjara. Majelis hakim dalam pembacaan putusannya mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya karena terdakwa telah mengakui kesalahan dan telah mendapatkan surat pernyataan mendapatkan ampunan dan pemberian maaf dari pihak korban.

“Terdakwa juga belum pernah melakukan tindakan kriminal lain serta terdakwa telah berjanji tidak mengulangi tindakan yang serupa,” kata Kun Triharyanto, Rabu (7/10/2015).

Hukuman bagi terdakwa tersebut dikurangi masa tahanan yang telah dijalani terdakwa sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Dari pengakuan ibu terdakwa, terdakwa terpaksa dilaporkan ke pihak kepolisian untuk diproses secara hukum agar terdakwa jera dengan perilaku yang nakal.

Seperti diberitakan MuriaNewsCom sebelumnya, penganiayaan tersebut terjadi pada minggu 14 Juni 2015 lalu, sekitar pukul 16.30 WIB di kediaman korban. Kasus dilaporkan ibu kandung pelaku sendiri ke pihak kepolisian.

Kronologinya, korban saat itu duduk di rumah, kemudian datang terdakwa. Terdakwa merebut akik milik korban dengan mengancam memilih mati atau memilih hidup jika tidak menyerahkan akik. Namun korban menolak, kemudian terjadi tarik menarik dan pemukulan dengan tangan kosong dan dengan pecahan genteng terjadi, hingga korban terluka berat. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Anak Disekolahkan untuk Dididik, Bukan Dianiaya

Keluarga Sony Permadi membawa poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap siswa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga Sony Permadi membawa poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap siswa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Anak disekolahkan untuk dididik, bukan dianiaya. Mohon keadilan, hukum harus ditegakkan. Pelaku kekerasan anak wajib dihukum.

Begitu sederet poster yang dibawa keluarga Sony Permadi di depan pintu Ruang Sidang Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (30/9/2015). Mereka menuntut agar WS, guru kesenian dan kebudayaan SMP Negeri 1 Tambakromo yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Sony, dihukum sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

”Kami menyekolahkan anak itu untuk dididik, diajari ilmu pengetahuan, dan budi pekerti yang baik, bukannya malah dianiaya. Kami berharap pelaku diganjar sesuai dengan perbuatannya,” ujar Siswati, ibu korban kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Advokasi Nasional Maskuri mengatakan akan mendampingi kasus tersebut hingga selesai. ”Kami akan dampingi hingga selesai. Ini menjadi peringatan kepada guru agar tidak lagi menggunakan cara kekerasan dalam mendidik siswa. Bagaimana pun juga, kekerasan bertentangan dengan hukum,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Gara-gara Nyanyi Fals, Siswa SMP 1 Tambakromo Ditonjok Guru

Keluarga Sony Permadi membawa poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap siswa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga Sony Permadi membawa poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap siswa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Gara-gara tidak bisa bernyanyi dengan suara merdu dan fals, Sony Permadi, siswa SMP Negeri 1 Tambakromo mendapatkan hadiah bogem mentah dari WS, guru kesenian dan kebudayaan. Kasus tersebut terjadi pada Selasa (28/4/2015) lalu.

Akibat perbuatannya, WS diadili di meja hijau Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (30/9/2015). Sedikitnya ada 80 warga yang mengawal kasus tersebut hingga membawa poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap guru yang melakukan aksi pemukulan itu.

Saat ditanya MuriaNewsCom, Sony mengaku ditonjok berkali-kali. ”Guru bilang suara saya fals. Lalu saya dijewer dan ditarik ke depan untuk nyanyi. Di situlah saya ditonjok. Saya diminta menambah daftar skor pelanggaran di ruang Bimbingan Konseling. Setelahnya, saya ditonjok lagi,” tuturnya.

Tak hanya mendapatkan perlakuan kasar, Sony juga dinilai tidak naik kelas karena skor pelanggaran yang dilakukan mencapai 64 poin. Padahal, sebelum peristiwa tersebut, angka pelanggarannya hanya 12 poin.

”Kami mengajukan tuntutan agar pelaku dijerat dengan Pasal 76 C junto Pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam dengan hukuman maksimal tiga tahun enam bulan atau denda Rp 72 juta,” kata Maskuri, Direktur LBH Advokasi Nasional yang mendampingi kasus tersebut.

Ia berharap, kasus tersebut menjadi pembelajaran bagi guru agar tidak lagi menggunakan cara kekerasan dan mendidik anak. ”Anak-anak Indonesia saat ini dilindungi Undang-undang. Jadi, jangan asal main kekerasan,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Polisi Dicuekin Keluarga Kuswanto

Kuswanto duduk di barisan paling kiri saat sidang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Kuswanto duduk di barisan paling kiri saat sidang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Kapolsek Mejobo, AKP Suharyanto, menerangkan saat ditangkap Kuswanto, mantan korban penganiayaan polisi, tak mau menandatangani surat penangkapan.

Pun demikian dengan keluarganya, tak mau menerima surat penangkapan yang diberikan pihak kepolisian. “Akhirnya, surat itu kami titipkan di balai desa,” ujar Suharyanto.

Diberitakan sebelumnya, Kuswanto yang pernah menjadi korban penganiayaan oknum Polres Kudus, ditangkap aparat Polsek Mejobo. Ia ditangkap atas laporan korban penganiayaan atas nama Sofi’i.

Saat ini, berkas perkara tersebut telah dinyatakan P-21 oleh pihak kejaksaan. Selanjutnya, pihak kepolisian melakukan pelimpahan tahap dua, penyerahan barang bukti dan tersangka, ke kejaksaan. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Mantan Korban Penganiayaan Polisi, Kuswanto, Bikin Kesal

Kuswanto duduk di barisan paling kiri saat sidang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Kuswanto duduk di barisan paling kiri saat sidang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Mantan korban penganiayaan oknum Polres Kudus, Kuswanto, tak lagi berada di bawah pengawasan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Demikian ditegaskan komisioner LPSK, Teguh Soedarsono.

“Kami tak lagi mengurusi dia sama sekali, sudah sejak lama, tepatnya kapan saya lupa,” ucapa Teguh.

Oleh karena itu, disampaikannya, LPSK tak mau tahu menahu, persoalan terkait Kuswanto lagi. Termasuk, perkara penangkapan Kuswanto, oleh jajaran aparat kepolisian di Kudus, pada Rabu (26/8) kemarin. “Dia ditangkap, itu sudah bukan urusan kami,” tandasnya.

Menurut Teguh, saat masih dalam perlindungan dan pengawasan LPSK, Kuswanto tak menunjukkan sikap kooperatif. Bahkan, dia menilai, Kuswanto merupakan sosok orang yang tak tahu terimakasih.
“Kami sudah berusaha menolong dia secara maksimal. Alih-alih kooperatif, dia malah membuat laporan yang tidak-tidak tentang kami, ke Ombudsman, itu sama saja ditulung malah menthung,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Kuswanto melaporkan kasus dugaan penganiayaan hingga dirinya menderita luka bakar akibat ulah seorang oknum anggota polisi itu, ke Komnas HAM.

Karena kasusnya melibatkan aparat hukum, maka Kuswanto kemudian ditempatkan di bawah LPSK. Ini dilakukan karena yang bersangkutan mengaku diancam untuk tidak meneruskan laporannya tersebut.

Hanya saja, LPSK kemudian merasa jengah. Ini dikarenakan sikap Kuswanto yang dinilai justru bersikap ”ngelunjak” kepada lembaga yang sudah berupaya melindungi hak-haknya itu.

LPSK dilaporkan Kuswanto ke Ombudsman RI, karena tidak puas dengan kinerja lembaga tersebut. Kuswanto mengeluhkan kinerja dari LPSK, yang telah membantunya selama ini. Kuswanto menuding bahwa lembaga tersebut tak lagi mempedulikannya. ”Sejak saya menjalani operasi pertama di RSUP Kariadi, sekitar dua bulan lalu, (LPSK, red) sudah sulit untuk komunikasi. Tidak ada tindak lanjutnya,” kata Kuswanto, pada Kamis (16/4/2015) lalu.

Hanya saat ini kondisinya berbalik. Kuswanto kembali mendekam di tahanan Mapolres Kudus, lantaran terlibat kasus penganiayaan. Ia dijerat oleh polisi dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

Tersiar kabar, penangkapan Kuswanto tak dilengkapi oleh surat-surat yang sah. Saat hendak dikonfirmasi perihal ini, Kustinah, ibu Kuswanto tak mengangkat telepon dari awak media. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Kapolres Kudus Angkat Bicara soal Kuswanto

Kuswanto (duduk paling kiri) saat menjalani kasus penganiayaan oknum polisi. (MuriaNewsCom)

Kuswanto (duduk paling kiri) saat menjalani kasus penganiayaan oknum polisi. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Kapolres Kudus, AKBP M Kurniawan, tidak mau diam begitu saja atas Kuswanto. Sebagaimana diketahui, Kuswanto merupakan korban penganiayaan polisi, beberapa waktu lalu.

Tapi kini, Kuswanto malah melakukan penganiayaan terhadap korbannya adalah Sofi’i. Korban merupakan warga Karanganyar RT 03 / RW 02, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus.

Kurniawan menyatakan dengan tegas bahwa penangkapan Kuswanto adalah murni kasus kriminal biasa. Tak ada hubungannya dengan perkara, yang telah lalu.
“Ini murni perkara kriminal biasa, jangan dikait-kaitkan dengan yang itu,” tegas Kapolres. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)