Penganiaya Anak Tiri di Pati Ini Hanya Dituntut 8 Bulan Penjara, Korban Kecewa dengan JPU

Imelda (tengah) bersama dengan kuasa hukumnya (kanan) tengah mencegat JPU untuk menanyakan isi tuntutan kasus dugaan KDRT di PN Pati, Kamis (8/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Imelda (tengah) bersama dengan kuasa hukumnya (kanan) tengah mencegat JPU untuk menanyakan isi tuntutan kasus dugaan KDRT di PN Pati, Kamis (8/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keluarga korban penganiayaan oknum mantan polisi, SK kepada anak tirinya, Imelda Pricillia (21), warga Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati, kecewa dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa hanya delapan bulan penjara. Terlebih, keluarga korban yang menunggu sidang tidak diberi kesempatan untuk mendengarkan bacaan tuntutan.

“Terdakwa masuk, aku ikut masuk. Jaksanya lagi ngasih berkas tuntutan kepada terdakwa. Hakimnya langsung bilang, sidang ditunda pekan depan dengan agenda pembacaan pledoi dari terdakwa. Kuasa hukum terdakwa, kuasa hukum saya juga belum masuk ruang sidang, kok sidangnya sudah selesai,” ujar Imelda saat dihubungi MuriaNewsCom, Jumat (9/12/2016).

Padahal, menurut Imelda, sidang dilakukan secara terbuka. Namun, dia dan pihak keluarga tidak sempat mendengarkan bacaan tuntutan, JPU langsung menyerahkan berkas tuntutan. Hal itu dianggap tidak transparan karena sidang mestinya berlangsung secara terbuka.

Bayu Cahyono, ayah Imelda mengaku kecewa dengan proses persidangan yang seolah berlangsung secara tertutup. Dia bersama keluarga sudah menunggu berjam-jam untuk mendengarkan bacaan tuntutan dari JPU.

“Hakim memberikan kertas kepada terdakwa, entah apa isinya. Sidang langsung selesai dan isi tuntutan itu tidak sempat dibacakan. Kuasa hukum saya juga belum sempat masuk ruang sidang,” ucap Bayu.

Dia juga kecewa dengan tuntutan JPU yang hanya delapan bulan penjara. Padahal, kasus penganiayaan mestinya lebih dari itu. Dia khawatir bila JPU menuntut delapan bulan, hakim dipastikan memutuskan hukuman di bawah delapan bulan.

Sementara itu, JPU Heru Haryanta menjelaskan, tuntutan berdasarkan KUHP Pasal 44 ayat 1 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Sesuai dengan barang bukti yang ada, dia menuntut terdakwa delapan bulan penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum mantan polisi berinisial SK diduga melakukan penganiayaan kepada anak tirinya, Imelda. SK disebut menghina keluarga Imelda, sehingga Imelda memintanya untuk tidak tinggal di rumah neneknya. Nahas, Imelda dianiaya setelah meminta ayah tirinya itu keluar dari rumah neneknya.

Editor : Kholistiono

Keluarga Bocah Tayu yang Dianiaya Oknum PNS Bakal Ajukan Banding ke Pengadilan Tinggi

Suasana sidang yang menghadirkan saksi dalam kasus penganiayaan bocah asal Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana sidang yang menghadirkan saksi dalam kasus penganiayaan bocah asal Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Keluarga NH (12), bocah yang dianiaya oknum PNS bernama Sudiyanto tidak terima bila majelis hakim memvonis hukuman pidana penjara dua bulan dan denda Rp 1 juta. Karena itu, keluarga korban bakal mengajukan banding di Pengadilan Tinggi Semarang. Namun, keluarga korban masih mendiskusikan rencana banding yang akan dilakukan.

“Langkah kami selanjutnya, ada kemungkinan untuk mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Tapi, saya masih ingin berdiskusi dengan keluarga dulu,” kata Ahmad Sanusi, ayah korban saat ditanya MuriaNewsCom, Selasa (8/3/2016).

Ia menyayangkan hasil putusan yang hanya memvonis dua bulan penjara dan denda Rp 1 juta. Ia menilai, kekerasan terhadap anak mestinya mendapatkan hukuman yang setimpal.
Sedangkan Sudiyanto menanggapi akan pikir-pikir terkait dengan hasil putusan apakah ingin banding atau tidak. “Saya pikir-pikir dulu yang mulia,” ucapnya di persidangan.

Sementara itu, majelis hakim punya pertimbangan terkait dengan putusan tersebut. Ketua Majelis Hakim Etri Widayati menilai, luka pada korban tidak sampai membuat cedera dalam kategori serius.

Hukuman yang lebih berat biasanya ditetapkan ketika korban mengalami cedera, kehilangan panca indera, cacat dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Berbagai pertimbangan itu yang membuat majelis hakim akhirnya memutuskan vonis pidana penjara dua bulan dan denda Rp 1 juta.

Editor : Akrom Hazami

Oknum PNS Penganiaya Bocah Tayu Pati Divonis 2 Bulan Penjara

Suasana persidangan kasus penganiayaan bocah asal Tayu dengan agenda menghadirkan saksi beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana persidangan kasus penganiayaan bocah asal Tayu dengan agenda menghadirkan saksi beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Oknum PNS, Sudiyanto yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap NH (12), seorang bocah asal Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Pati, akhirnya divonis dua bulan penjara dan denda senilai Rp 1 juta.

Putusan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Etri Widayati di Pengadilan Negeri Pati, Selasa (8/3/2016). Hukuman itu dianggap adil, setelah majelis mendengarkan sejumlah saksi, pertimbangan pledoi dan duplik dari terdakwa.

“Ada beberapa pertimbangan hingga majelis hakim akhirnya memberikan vonis dua bulan dan denda Rp 1 juta. Kami mempertimbangkan pledoi dari terdakwa yang menyatakan bahwa dia merupakan pegawai negeri sipil yang sudah mengabdi puluhan tahun,” kata Widayati dalam persidangan.

Pertimbangan itulah yang meringankan hukuman Sudiyanto. Apalagi, terdakwa menjadi tulang punggung bagi keluarga dan tengah menderita penyakit.

Selain itu, terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya. Terdakwa juga sudah meminta maaf kepada keluarga NH sebanyak dua kali. Sudiyanto sendiri enggan memberikan komentar kepada wartawan. “Nanti,” kata Sudiyanto singkat.
Setelah ditunggu di ruang panitera pengganti sebelah utara, ternyata Sudiyanto lewat melalui pintu sebelah selatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga: Jaksa Penuntut Umum Tuntut Oknum PNS Penganiaya Bocah di Tayu Pati 4 Bulan Penjara 

Jaksa Penuntut Umum Tuntut Oknum PNS Penganiaya Bocah di Tayu Pati 4 Bulan Penjara

Suasana sidang di Pengadilan Negeri terkait dengan kasus penganiayaan bocah di Desa Pondohan, Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana sidang di Pengadilan Negeri terkait dengan kasus penganiayaan bocah di Desa Pondohan, Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ahmad Riyadi menuntut agar oknum PNS yang menjadi terdakwa dalam kasus penganiayaan bocah asal Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Pati dihukum 4 bulan penjara dengan denda Rp 1 juta. Tuntutan itu dibacakan di Pengadilan Negeri Pati, Kamis (3/3/2016).

Riyadi mengatakan, ada beberapa hal yang membuat terdakwa mendapatkan pertimbangan keringanan. Salah satunya, dia seorang pegawai negeri sipil (PNS), pernah meminta maaf, mengakui kesalahan, dan menderita penyakit kencing manis, serta darah tinggi.

Baca juga : Di Persidangan, PNS Asal Tayu Pati Bantah Lakukan Pemukulan Terhadap Bocah Ini

Diduga Trauma Dianiaya Oknum PNS, Kecerdasan Bocah Tayu Pati Menurun Drastis 

Namun, pihak keluarga NH (12) masih tidak rela dengan tuntutan jaksa. Ia menilai, kasus penganiayaan anak yang menyebabkan seorang anak menderita dalam jangka waktu lama tidak bisa dihukum dalam hitungan bulan.

”Tuntutan jaksa masih jauh dari harapan. Meski begitu, kami berharap agar hakim bisa memberikan hukuman yang maksimal. Kami berharap supaya hakim bisa memberikan vonis lebih dari tiga tahun,” harap Ahmad Sanusi, ayah korban.

Sementara itu, Titik Supriyani, ibu korban mengaku kondisi NH semakin memprihatinkan. Tak hanya sakit dan sering mengeluh pusing semenjak kelapa muda kecil itu mengenai kepalanya, NH juga acapkali dirujuk ke dokter jiwa untuk memeriksa kondisi kejiwaannya.

”Hari ini, anak saya sampai tidak masuk sekolah. Kondisinya seperti ada tekanan sejak peristiwa itu. Padahal, kami sudah mencoba menghiburnya,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Saksi yang Dihadirkan Jaksa Terkait Kasus Dugaan Penganiayaan Bocah Tayu Dinilai Penuh Kepalsuan

Salah seorang saksi melihat kelapa muda kecil yang dijadikan barang bukti majelis hakim di persidangan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah seorang saksi melihat kelapa muda kecil yang dijadikan barang bukti majelis hakim di persidangan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya ada enam saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang keterangan saksi di Pengadilan Negeri Pati, terkait dengan kasus dugaan penganiayaan yang dialami seorang bocah berinisial NH (12), warga Desa Pondohan, Kecamatan Tayu, Kamis (18/2/2016).

Indah, salah satu saksi di depan Majelis Hakim mengatakan, S (oknum PNS yang diduga melakukan penganiayaan korban) berjalan masuk ke halaman sekolah dengan keadaan terburu-buru.

Setelah bertemu dengan NH dan teman-temannya, S kemudian menarik baju bagian kerah korban dengan memegang kakinya hingga setinggi 15 cm. Namun, NH tidak terjatuh.

”Yang saya lihat, tidak ada penamparan. Tidak ada pemukulan. Kakinya hanya diangkat 15 cm dan baju kerahnya ditarik dalam keadaan jongkok,” papar Indah.

Sementara itu, saksi lainnya memastikan bila bluluk (kelapa muda kecil) yang dilemparkan S kepada NH terkena bagian bawah pundak, tidak terkena bagian kepala sebagaimana dilaporkan keluarga korban.

Dalam sidang tersebut, terdakwa membenarkan semua keterangan saksi yang diajukan JPU. Bahkan, terdakwa mengaku kepada Ketua Majelis Hakim Etri Widayati bila semua keterangan saksi yang diajukan JPU itu menjadi saksi yang meringankannya.

Ironisnya, pihak keluarga korban tidak tahu bila semua saksi yang dihadirkan dalam sidang tersebut berasal dari JPU. ”Saksi itu berasal dari pihak terdakwa,” kata Titik Supriyani ibu korban kepada MuriaNewsCom.

Titik mengatakan, keterangan yang diberikan saksi, kecuali saksi ahli, penuh dengan kepalsuan. ”Itu tidak sesuai dengan fakta. Mereka sebetulnya tidak tahu. Mereka tahunya setelah kejadian selesai,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar Majelis Hakim bisa memutuskan perkara tersebut seadil-adilnya. Pasalnya, anak kesayangan yang menjadi korban dugaan penganiayaan itu saat ini kondisinya terus memburuk setelah peristiwa itu terjadi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Baca Juga : Diduga Trauma Dianiaya Oknum PNS, Kecerdasan Bocah Tayu Pati Menurun Drastis

Diduga Dianiaya Oknum Kades, Bocah Desa Kembang Pati Mengadu ke Dewan

Dani menunjukkan luka di kepala kepada anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dani menunjukkan luka di kepala kepada anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang anak bernama Dani Prasetyo (14), warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti yang merasa dianiaya oknum kades melaporkan kejadian tersebut kepada anggota DPRD Pati, Selasa (2/2/2016).

Dani bertemu dengan Anggota Komisi D DPRD Pati Muntamah didampingi keluarga dan ayahnya, Sugiarto. Mereka mengadukan peristiwa penganiayaan yang dialaminya.

”Kami datang ke sini untuk meminta bantuan kepada wakil rakyat supaya proses hukumnya berjalan. Kami sudah melaporkan ke pihak kepolisian pada 30 Desember 2015 lalu, tapi masih belum ada perkembangan,” ujar Sugiarto.

Ia menuturkan, peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 29 Desember 2015. Saat itu, Dani sedang membantu temannya berjualan pada acara pentas dangdut di Desa Dukuhseti.

Tiba-tiba saja, Dani didatangi segerombolan orang, salah satunya Kades Dukuhseti. Dani dituduh membuat onar oleh gerombolan orang tersebut.

”Dani langsung dianiaya gerombolan orang sampai menderita luka bacok pada bagian kepala dan luka tusuk di dada. Kami sudah laporkan penganiayaan itu ke Polsek Dukuhseti, tapi saat ini belum ada perkembangan,” tambahnya.

Karena itu, ia mengadukan masalah tersebut ke Komisi D DPRD Pati dengan harapan bisa mengupayakan proses hukum agar bisa berjalan baik.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bocah 14 Tahun Asal Kembang Pati Dianiaya dengan Belati

Ilustrasi kekerasan anak (www.rmol)

Ilustrasi kekerasan anak (www.rmol)

 

MuriaNewsCom,Pati – Lagi-lagi pentas dangdut memakan korban. Di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati pada akhir 2015 lalu terjadi penganiayaan pada bocah berusia 14 tahun usai pentas dangdut di desanya.

Bocah berinisial DP itu ditusuk menggunakan belati pada bagian kepala dan dipukuli hingga babak belur, setelah bersama gerombolan orang yang melempari batu kepada gerombolan orang yang melintas. Insiden ini diamini Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

“Informasi yang kami terima dari Kanit Reskrim Polsek Dukuhseti, ada salah seorang yang lewat di jalan setelah menonton dangdut. Tiba-tiba saja, seseorang itu dilempari menggunakan batu dari segerombol orang di Desa Kembang,” ujar Sundoyo kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/1/2016).

Tak terima dilempari batu, seseorang tersebut akhirnya memanggil teman-temannya dan mendatangi gerombolan tadi. Di sana, beberapa orang dianiaya karena telah melempari batu orang yang lewat.

“Salah satu yang terkena penganiayaan secara bersama-sama, bocah berusia 14 tahun. Ia mengalami luka cukup serius, antara lain luka robek pada bagian kepala, memar di perut dan wajah hingga dilarikan ke RSI Margoyoso,” tuturnya.

Ia mengatakan, kasus tersebut memang cukup rumit, karena bisa jadi korban yang dianiaya juga merupakan pelaku yang melempari batu. Karena itu, pihaknya saat ini sedang mendalami kasus tersebut.

“Saat ini, kami sudah mengantongi identitas tersangka. Namun, kami masih mendalami kasus ini karena memang cukup rumit. Korban bisa jadi tersangka dan sebaliknya. Kami terus dalami kasus ini,” pungkasnya

Editor : Kholistiono