Polisi Belum Ketahui Identitas Mayat yang Ditemukan Nelayan di Perairan Laut Jepara

Petugas dari Polres Rembang saat melakukan autopsi terhadap mayat yang ditemukan oleh nalayan Rembang di wilayah perairan laut Jepara beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petugas dari Polres Rembang saat melakukan autopsi terhadap mayat yang ditemukan oleh nalayan Rembang di wilayah perairan laut Jepara beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Tim Inafis Polres Rembang telah melakukan identifikasi terhadap mayat berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan nelayan asal Rembang di perairan laut Jepara pada Minggu (18/12/2016) lalu. Namun demikian, petugas belum menemukan petunjuk terkait identitas dari mayat, yang diperkirakan sudah meninggal sekitar sepekan tersebut.

Kepala Satuan Polisi Air Polres Rembang Iptu Sukamto mengatakan, meski petugas masih belum bisa menemukan identitas korban, namun, jenazah korban dimakamkan terlebih dahulu. “Mayat misterius tersebut sudah dimakamkan di pemakaman umum Krapyak, Sidowayah, Rembang, pada Senin (12/19/2016) kemarin. Sebab, kondisi mayat sudah membusuk, membengkak, serta rusak. Jenazah juga tak bisa didinginkan layaknya mayat yang masih baru. Sedangkan pihak rumah sakit tidak mempunyai tempat pendingin jenazah. Kalau terlalu lama tak segera dikebumikan, kasihan jasadnya,” ujarnya.

Namun demikian, sebelum mayat tersebut dimakamkan, petugas kepolisian dari Polres Rembang sudah melakukan koordinasi dengan Satreskrim dan Pol Air Jepara. Karena, penemuan mayat masuk di wilayah hukum Polres Jepara.

Sementara itu, untuk barang-barang  milik korban, seperti halnya sepatu, baju batik, celana plus ikat pinggang dan uang ratusan ribu, sudah diamankan oleh Tim Identifikasi Polres Rembang. “Barang itu sudah diamankan oleh pihak Polres Rembang. Gunanya, yakni untuk mengantisipasi, apabila sewaktu – waktu ada keluarga korban yang mencari,” ungkapnya.

Baca juga : Tim Inafis Lakukan Identifikasi Mayat Pria yang Ditemukan di Perairan Laut Jepara, Ini Hasilnya

Editor : Kholistiono

Mayat Diduga Warga Rembang Ditemukan di Laut Bondo Jepara

Nelayan Jepara mengevakuasi mayat laki-laki yang ditemukan di Pantai Bondo, pada Kamis (5/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Nelayan Jepara mengevakuasi mayat laki-laki yang ditemukan di Pantai Bondo, pada Kamis (5/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan tanpa identitas di laut Jepara. Tepatnya di 12 mil dari bibir Pantai Bondo Jepara ke arah utara.
Mayat tersebut ditemukan kali pertama oleh Nurul Huda, nelayan yang juga warga Desa Bondo, saat memancing seorang diri.

Mayat yang diduga nelayan itu, ditemukan Nurul Huda dalam posisi tengkurap. Semula mayat tersebut dikira hanya barang yang terapung dan terbalut kain. Namun saat didekati ternyata sesosok mayat.

”Awalnya takut dan hendak meninggalkan begitu saja mayat itu, karena saya seorang diri. Tapi setelah saya pikir-pikir kok, kasihan. Mau saya angkat sendiri tidak kuat. Akhirnya saya menghubungi teman-teman saya yang juga memancing,” ujar Nurul di TPI Bondo, Kamis (5/5/2016).

Setelah meminta bantuan temannya Coko, Rajiun, dan Eli, mayat laki-laki yang mengenakan baju hitam dipadukan dengan celana pendek putih itu, langsung dievakuasi.

Setelah mayat berhasil dinaikan ke atas kapal dengan peralatan sederhana, mayat laki-laki tanpa identitas itu dibawa ke TPI Bondo. ”Tadi hanya diambil dengan tangan, terus dibungkus karung,” kata Nurul.

Dia mengatakan, penemuan mayat sekitar pukul 12.00 WIB. Mayat tiba di TPI Bondo pukul 14.30 WIB. Selanjutnya, mayat dibawa tim SAR beserta aparat kepolisian Polres Jepara ke kamar jenazah RSUD Kartini untuk divisum.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, diduga mayat laki-laki tersebut merupakan warga Lasem, Kabupaten Rembang. Pasalnya, tiga hari yang lalu, dikabarkan salah seorang nelayan Lasem hilang di tengah laut saat mencari ikan.

”Kemungkinan korban warga Rembang. Karena kemarin dikabarkan ada nelayan Rembang yang hilang dan kebetulan ini arusnya ke barat,” kata Rajiun.

Editor: Merie

Ini Ciri-ciri Mayat Perempuan Hamil yang Ditemukan di Juwana Pati

Petugas kepolisian dibantu anggota TNI melakukan evakuasi pada mayat wanita hamil yang ditemukan di Perairan Sungai Silugangga, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian dibantu anggota TNI melakukan evakuasi pada mayat wanita hamil yang ditemukan di Perairan Sungai Silugangga, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat perempuan hamil yang ditemukan mengapung di perairan Sungai Silugangga Juwana diduga sudah meninggal sejak seminggu lalu. Tak pelak, tubuh mayat sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Kendati tubuh mayat sudah membusuk, tetapi petugas kepolisian sudah mengantongi sejumlah ciri-ciri pada korban. Karena, mayat tersebut tidak memiliki identitas diri seperti KTP, SIM, atau lainnya.

“Kita kesulitan untuk mengetahui siapa orang ini dan warga mana, karena tidak ada kartu identitas yang ditemukan. Namun, kita sudah mencatat sejumlah ciri-ciri mayat,” ujar Kapolsek Juwana AKP Sumarni, Rabu (20/4/2016).

Adapun ciri-ciri yang dimaksud, antara lain diperkirakan berusia sekitar 40 tahun, diduga sedang hamil, tinggi badan sekitar 160 cm, mengenakan daster motif batik warna merah, tidak mengenakan celana dalam, mengenakan rok dan bra warna coklat, dan stagen warna hitam.

Saat ini, pihaknya masih belum bisa mengidentifikasi apakah perempuan hamil itu murni meninggal karena kecelakaan atau dibunuh. Karena itu, petugas kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Mayat dievakuasi Sat Pol Air Res Pati. Kami juga sudah mendatangkan Tim Inafis Res Pati. Untuk mendalami kasus itu, mayat dibawa ke RSUD Sooewondo,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Heboh! Mayat Perempuan Hamil Ditemukan Membusuk di Sungai Juwana Pati

Heboh! Mayat Perempuan Hamil Ditemukan Membusuk di Sungai Juwana Pati

Petugas kepolisian tengah mengevakuasi mayat wanita hamil di perairan Silugangga, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian tengah mengevakuasi mayat wanita hamil di perairan Silugangga, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat perempuan hamil tanpa identitas, mengenakan daster bermotif batik warna merah ditemukan membusuk di perairan Sungai Silugangga, Juwana, Pati, Rabu (20/4/2016).

Mayat yang diperkirakan berusia 40 tahun itu ditemukan Tamin, nelayan asal Desa Bendar, Juwana di sekitar pohon Mangrove, Desa Bakaran Kulon, Juwana. Kondisinya mengenaskan, karena sudah membusuk.

“Saya bersama teman bekerja sebagai pengemudi kapal tarik. Tiba-tiba saat kerja, saya melihat ada sesosok mayat dalam keadaan mengapung di perairan Sungai Silugangga. Saya melihat itu Selasa (19/4/2016) kemarin sekitar pukul 17.30 WIB,” ujar Tamin.

Melihat ada mayat, Tamin kemudian menghubungi Sat Pol Air Res Pati melalui telepon seluler. Petugas pun seketika mencari mayat tersebut mulai pukul 19.30 WIB.

Setelah dicari berjam-jam hingga pukul 22.30 WIB, mayat tak kunjung ketemu. Pencarian dilanjutkan pada Rabu (20/4/2016) dan mayat akhirnya ditemukan.

“Mayat sudah ditemukan dan dievakuasi Sat Pol Air Res Pati ke Pelabuhan Juwana. Mayat dilarikan ke RSUD Soewondo untuk dilakukan autopsi dan penyelidikan lebih lanjut,” kata Kapolsek Juwana AKP Sumarni.

Editor : Akrom Hazami

Ini Identitas Mayat Misterius Tewas di Halaman Masjid Agung

Polisi membawa mayat misterius di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Polisi membawa mayat misterius di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sesosok laki-laki ditemukan dalam kondisi tewas di halaman masjid Agung Baitul Makmur Jepara, Senin (28/3/2016) sekitar pukul 15.00 WIB. Mayat yang sebelumnya ditemukan tanpa identitas itu, diketahui bernama Kardi, usia 40 tahun.

Identitas mayat tersebut diketahui setelah pihak aparat kepolisian melakukan penyelidikan, usai mayat dibawa ke ruang jenazah RSUD Kartini. Kardi, merupakan warga Desa Krapyak RT 04 RW 06 Kecamatan Tahunan Jepara.

“Pihak keluarga telah sampai di ruang jenazah untuk memastikan identitas mayat. Kemudian ini mau dibawa ke rumah duka, di Desa Krapyak,” ujar penjaga ruang jenazah RSUD Kartini, Jono kepada MuriaNewsCom, Senin (28/3/2016).

Menurut Jono, berdasarkan hasil pemeriksaan tim dokter, mayat yang ditemukan tewas di halaman masjid tersebut tidak terdapat luka-luka akibat kekerasan. Ada sedikit bagian wajah yang luka namun hal itu dipastikan akibat terjatuh.

“Tidak ada luka akibat pukulan maupun tanda kekerasan lainnya. Kemungkinan jenazah ini memang terjatuh akibat mengidap penyakit lalu meninggal,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak kepolisian Polsek Jepara kota dalam penanganan peristiwa ini dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Sriyono. Sriyono langsung memimpin evakuasi mayat dari halaman masjid sampai di RSUD Kartini. Selain itu, pihaknya juga yang memimpin proses pencarian identitas mayat tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Pria Misterius Ditemukan Tewas di Halaman Masjid Agung Jepara 

Pria Misterius Ditemukan Tewas di Halaman Masjid Agung Jepara

Petugas kepolisian menutup mayat pria misterius di halaman Masjid Agung (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Petugas kepolisian menutup mayat pria misterius di halaman Masjid Agung (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sesosok laki-laki tanpa identitas ditemukan dalam kondisi tewas di halaman Masjid Agung Baitul Makmur Jepara, Senin (28/3/2016) sekitar pukul 15.00 WIB. Lelaki yang diprediksi berusia sekitar 40 tahun itu tewas dalam kondisi telentang di halaman sisi selatan masjid.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun MuriaNewsCom, belum ada yang mengetahui penyebab kematian pria tersebut. Sejumlah saksi mengetahui, lelaki itu telah tergeletak dan tak ada yang mengetahui proses jatuhnya korban.

Salah seorang saksi, Vitasari mengatakan, dia mengetahui korban itu sudah dalam kondisi telentang. Ketika itu, korban terlihat masih bernyawa, karena terdengar suara dengkuran korban dari area salat perempuan Masjid Agung.

“Setelah salat zuhur, saya mau balik kerja. Tapi tiba-tiba saya melihat orang itu sudah tergeletak. Terdengar suara seperti orang mendengkur,” ujar Vitasari kepada MuriaNewsCom.

Saksi lain, Ana juga mengaku melihat lelaki itu sudah dalam kondisi telentang. Selain itu, bagian mulut lelaki itu mengeluarkan darah. Dia melihat itu ketika hendak masuk ke dalam area masjid.

“Baru mau masuk masjid untuk ambil wudu, tetapi saya lihat lelaki itu sudah telentang dalam keadaan kaku,” katanya.

Menurut dia, setelah mengetahui kondisi lelaki itu, dirinya memberitahu rekannya, lalu memberi tahu sejumlah orang disekitar. Sontak, salah satu diantara mereka menghubungi pihak kepolisian. Ketika dicek, lelaki yang mengenakan celana jeans dan kaos berwarna biru itu sudah dalam kondisi tak bernyawa.

Sampai berita ini ditulis, korban dibawa oleh aparat kepolisian dari Polsek Jepara Kota. Korban dibawa ke RSUD Kartini untuk dilakukan penyelidikan.

Editor : Kholistiono

Warga Digegerkan dengan Penemuan Mayat Laki-laki di Pantai Empurancak Jepara

Mayat yang ditemukan di Pantai Empurancak dilakukan evakuasi (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Mayat yang ditemukan di Pantai Empurancak dilakukan evakuasi (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Mayat berjenis kelamin laki-laki tanpa identitas ditemukan di Pantai Empurancak Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Penemuan mayat ini menggegerkan warga setempat dan pengunjung pantai. Diduga, mayat tanpa identitas itu adalah pemancing yang terseret ombak.

Salah seorang warga setempat, Muji mengemukakan, mayat tersebut ketika ditemukan pertama kali dalam posisi tengkurap tersangkut di karang yang berada di tepi pantai tersebut. Saat ditemukan, kondisi wajah mayat laki-laki berbadan besar itu penuh dengan luka dan masih mengeluarkan darah.

“Posisinya tengkurap dengan kondisi wajah luka-luka seperti goresan terkena karang. Penemuan pertama kalinya siang tadi,” ujar Muji kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/3/2016).

Menurut dia, ketika diketahui ada mayat di tepi pantai, warga yang berada di sekitar lokasi langsung berkumpul. Tak lama kemudian dilakukan evakuasi. Setelah dievakuasi dari tepi pantai, tak ada warga yang mengenali mayat laki-laki yang ditemukan mengenakan celana pendek warna hitam itu. Namun, sejumlah warga mengaku sering melihat sosok tersebut memancing ikan di kawasan Pantai Empurancak.

“Beberapa warga tidak asing dengan wajah mayat itu, dimungkinkan sering mancing di wilayah sini. Tapi belum ada yang mengetahui secara pasti, apakah dia itu nelayan atau orang biasa,” ungkapnya.

Beberapa saat berselang, aparat kepolisian dari Polsek Mlonggo bersama petugas kesehatan dari Puskesmas Mlonggo mendatangi lokasi tempat ditemukannya mayat tersebut. Selanjutnya, mayat dimasukkan ke dalam mobil jenazah dan dilarikan ke rumah sakit.

Editor : Kholistiono

Ini Keterangan Polisi soal Kematian Ibu di Sumur yang Gegerkan Jepara

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dalam sumur tua di Kecamatan Bangsri, Jepara. (Istimewa)

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dalam sumur tua di Kecamatan Bangsri, Jepara. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Misteri kematian Sri Munaziati atau Kasri (54), warga Tengguli, Bangsri, Jepara, yang tenggelam di sumur di desanya, terus diperiksa anggota Polsek Bangsri.

Polisi ingin memastikan apakah korban tewas murni tercebur sumur, atau merupakan korban pembunuhan, atau ada penyebab lain.

Usai melakukan pemeriksaan, Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono menyatakan, korban meninggal murni karena tercebur sumur. “Yang jelas, bukan merupakan pembunuhan,” kata Timbul dihubungi Rabu (10/2/2016) sore.

Hal itu diperkuat pula dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Bangsri. Yang menyatakan, korban murni tewas karena tercebur sumur. “Luka di badannya karena benturan dinding sumur yang berdiameter 1 meter dengan kedalaman 15 meter,” terang Timbul.

Atas dasar itu, keluarga juga tidak mengizinkan polisi mengautopsi tubuh korban. Korban pun dipulangkan ke keluarganya dan dimakamkan Rabu siang selepas zuhur.
Dari keterangan keluarga, korban diduga mengalami kelainan jiwa. Karena beberapa hari sebelum hilang, korban kerap tertawa sendiri dan bertingkah aneh. Bahkan, tiga hari sebelum hilang, keluarga terus mengawasi korban. “Tiap malam diawasi keluarga,” bebernya.

Namun pada 20 Januari 2016 pukul 04.00 WIB, korban tak lagi ditemukan di rumahnya. Keluarga pun mencarinya kemana-mana. Keluarga pun melaporkannya ke pemdes setempat, dan ke Polsek Bangsri, serta ke Dinas Sosial.

Akhirnya Rabu pagi, suami korban, Suyono, berniat membersihkan kandang sapi. Tapi Suyono tiba-tiba merasa ingin melihat sumur tak jauh dari lokasi itu. Tepatnya berjarak 20 meter dari rumah. “Itu feeling suami,” tambah Timbul menyimpulkan.

Sebelumnya diberitakan, korban ditemukan tewas terendam di sumur tua, Rabu pagi. Setelah diberitakan hilang sejak 20 Januari 2016.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Ibu Tewas di Sumur di Jepara setelah 3 Minggu Terendam

Kronologis Ngeri Penemuan Mayat Ibu di Sumur Tua dekat Kandang Sapi di Jepara

Kronologis Ngeri Penemuan Mayat Ibu di Sumur Tua dekat Kandang Sapi di Jepara

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dalam sumur tua di Kecamatan Bangsri, Jepara. (Istimewa)

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dalam sumur tua di Kecamatan Bangsri, Jepara. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kematian Sri Munaziati atau Kasri (54), warga Tengguli, Bangsri, Jepara, benar-benar membuat gempar warga setempat.

Betapa tidak, korban sebelumnya dinyatakan hilang oleh keluarga sejak 20 Januari 2016. Namun keberadaanya diketahui sudah terendam di sumur. Korban baru ditemukan pada Rabu (10/2/2016) dalam keadaan tewas di sumur tua.

Kronologi yang dihimpun BPBD Jepara, korban kali pertama diketahui oleh Suyono, warga Desa Tengguli, RT 6/07, Rabu pagi pukul 09.00 WIB.

Saat itu, Suyono sedang membersihkan kandang sapi. Tiba-tiba, Suyono merasa ingin melihat sumur tua yang ada tak jauh dari kandang sapi. Sumur itu diketahui milik Mustofa.

Betapa kagetnya saat mendapati di dalam sumur, ada tubuh yang terendam. Seketika, Suyono memberi tahu warga lainnya.

“Saat diangkat, kondisi tubuh korban amat mengenaskan. Tiga minggu di sumur, ya bisa dibayangkan kondisinya,” kata Kepala BPBD Jepara, Lulus Suprayitno, Rabu sore.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga :

Ibu Tewas di Sumur di Jepara setelah 3 Minggu Terendam 

Nenek Tewas Terseret Arus Sungai di Rembang, Ditemukan Tersangkut Carang 

Terpeleset Saat Mencuci di Tepi Sungai, Nenek di Rembang Tewas Terseret Arus 

Video – MAYAT TANPA KEPALA: Korban Kecelakaan Laut Kepulauan Seribu

Petugas menangani mayat tanpa kepala di RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ) 

Petugas menangani mayat tanpa kepala di RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kapolres Jepara AKBP Syamsu Arifin meninjau langsung mayat tanpa kepala yang ditemukan nelayan di perairan Bayuran Kecamatan Kembang, Jepara. Dia memastikan jika mayat dalam kondisi mengenaskan tersebut merupakan korban kecelakaan laut di perairan Kepulauan Seribu, dua pekan lalu.

Kepastian tersebut dia kemukakan setelah melakukan kordinasi dengan pihak terkait. Tepatnya setelah mengantongi identitas mayat tersebut. Bahkan, pihaknya juga mengaku telah mendapatkan informasi jika pihak keluarga jenazah akan segera menjemput jenazah yang untuk sementara ini masih disimpan di ruang jenazah RSUD Kartini, Jepara.

“Hasil penelusuran identitas korban dan kordinasi dengan kepolisian, mayat tersebut adalah korban kecelakaan laut di Kepulauan Seribu, sekitar dua pekan lalu,” terang Syamsu, Sabtu (26/12/2015).

Menurutnya, sekitar dua pekan lalu informasinya ada kecelakaan laut di sana. Pihaknya juga memastikan bahwa mayat tersebut memang karyawan dari Sea Leader Marine. Status dari jenazah itu adalah ABK dari kapal Sea Leader Marine.

“Tidak sampai di sini, kami terus melakukan penyelidikan atas peristiwa ini dengan melakukan kordinasi dengan kepolisian di sana,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, sesosok mayat ditemukan di kawasan perairan Bayuran, Kecamatan Kembang, Jepara dalam kondisi mengenaskan. Mayat tersebut ditemukan tanpa kepala dan sebagian tubuh lain seperti telapak tangan dan kaki juga sudah hilang.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, mayat tersebut ditemukan nelayan saat pulang mencari ikan pada Sabtu (26/12/2015) sekitar pukul 08.00 WIB. Kemudian di bawa ke darat di pantai Bayuran, dan nelayan melaporkan kepada pihak terkait. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

 

MAYAT TANPA KEPALA : Ditemukan di Pantai Bayuran Jepara

Mayat tanpa kepala berada di Ruang Jenazah RSUD Kartini, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Mayat tanpa kepala berada di Ruang Jenazah RSUD Kartini, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sesosok mayat ditemukan di kawasan perairan Bayuran, Kecamatan Kembang, Jepara dalam kondisi mengenaskan. Mayat tersebut ditemukan tanpa kepala dan sebagian tubuh lain seperti telapak tangan dan kaki juga sudah hilang.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, mayat tersebut ditemukan nelayan saat pulang mencari ikan pada Sabtu (26/12/2015) sekitar pukul 08.00 WIB. Kemudian di bawa ke darat di pantai Bayuran, dan nelayan melaporkan kepada pihak terkait.

Sesaat kemudian, aparat dari kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan sejumlah aparat lainnya mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi mayat tersebut. Selanjutnya mayat dibawa ke ruang jenazah yang ada di RSUD Kartini Jepara.

Meskipun ditemukan dalam kondisi mengenaskan tanpa kepala dan bagian tubuh lain tidak utuh. Mayat masih mengenakan pakaian dan juga masih ada identitas yang ada di dalam pakaian yang dikenakan. Sampai saat ini, mayat masih berada di ruang jenazah RSUD Kartini.

Pihak kepolisian masih mendalami penemuan mayat tersebut. Sebab, penyebab dari peristiwa tersebut masih menjadi misteri. Ada beberapa identitas yang sudah dikantongi pihak kepolisian.

Ingin tahu informasi lengkapnya? Ikuti terus perkembangan informasi selanjutnya di www.murianews.com. (WAHYU K/AKROM HAZAMI)

Camat Donorojo Pastikan Jenazah yang Ditemukan di Pantai Caruban Rembang Merupakan Warga Clering Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Ditemukannya jenazah di kawasan Pantai CarubanLasem, Kabupaten Rembang, telah dicek oleh Basarnas Pos Jepara, BPBD Jepara dan pihak keluarga yang sebelumnya kehilangan anggota keluarga saat melaut di Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Jepara, pada Rabu (16/12/2015).

Dari hasil pengecekan, dipastikan jika jenazah tersebut benar merupakan nelayan bernama Sugiyono yang selama beberapa hari ini dicari setelah dikabarkan hilang tenggelam di laut.

Kepastian itu dikatakan Camat Donorojo Jepara, Nuryanto. Menurutnya, korban satu orang yang sebelumnya masih belum diketahui keberadaannya setelah melaut sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban ditemukan di perairan Rembang dan jenazah dilarikan ke RS Rembang.

“Korban satu orang Desa Clering,Kecamatan Donorojo sudah ditemukan meninggal di perairan Rembang. Saat ini, jenazah masih berada di RS Rembang,” ujar Nuryanto, Senin (21/12/2015).

Menurutnya, jenazah langsung dimasukkan ke peti untuk selanjutnya dibawa ke Desa Clering dan langsung dimakamkan. Rencananya, pemakaman dilakukan di pemakaman umum Desa Clering.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua nelayan hilang di perairan Jepara wilayah Kecamatan Donorojo pada Rabu (16/12/2015). Mereka adalah kakak beradik bernama Sugiyono (kakak) dan Sugiarto (adik).

Sang adik telah ditemukan dalam kondisi selamat di perairan Kabupaten Pati. Sedangkan sang kakak masih belum diketahui keberadaannya. Kini sang kakak ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di perairan Rembang. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Mayat yang Ditemukan di Lasem Dipastikan Bernama Giyono Nelayan Jepara yang Tenggelam

Tim Inafis Polres Rembang dan salah satu keluarga korban (perempuan di pojok) akhirnya memastikan korban merupakan Giyono (37) warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Tim Inafis Polres Rembang dan salah satu keluarga korban (perempuan di pojok) akhirnya memastikan korban merupakan Giyono (37) warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Mayat Misterius yang ditemukan di Pantai Caruban Senin (21/12/2015) pagi tadi, dipastikan adalah Giyono seorang nelayan yang hilang sejak Kamis (17/12/2015) lalu. Hal tersebut terungkap setelah dilakukan pihak kepolisian memastikan keterangan keluarga korban dengan kondisi korban ketika ditemukan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kasatreskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono kepada awak media. Eko mengatakan, pihak keluarga sudah yakin korban tersebut merupakan Giyono (37) warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Polisi sempat kesulitan mengidentifikasi mayat karena bagian jari mulai hancur. Namun dari ciri fisik antara lain, tinggi badan sekitar 180 centimeter, usia korban 37 tahun dan jari jempol salah satu tangan bengkok, membuat keluarga korban yakin mayat itu Giyono.

Eko menambahkan, proses serah terima jenazah segera dilakukan setelah pihak kepolisian dan pihak keluarga korban merasa yakin korban adalah Giyono. ”Proses serah terima jenazah dilakukan setelah polisi meminta keterangan dari keluarga korban dan pihak desa, serta dianggap cukup,” terangnya.

Seperti diketahui, dua nelayan asal warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara mengalami kecelakaan laut setelah kapalnya terbalik dihantam ombak tinggi di perairan Clering – Tayu. Keduanya merupakan kakak beradik, masing-masing bernama Giyarto dan Giyono.

Giyarto beruntung karena berhasil diselamatkan oleh nelayan di perairan Tayu. Sedangkan Giyono ditemukan tewas terdampar di bibir pantai Caruban pagi tadi oleh seorang warga bernama Munajat. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Penemuan Mayat di Lasem, Diduga Nelayan Jepara yang Tenggelam

Petugas Basarnas Pos Jepara mendatangi RSUD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Petugas Basarnas Pos Jepara mendatangi RSUD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Penemuan mayat seorang laki-laki yang hanya memakai celana dalam di Caruban Lasem, Senin (21/12/2015) pagi, diduga adalah warga Jepara bernama Giyono yang hilang sejak Kamis (17/12/2015) malam.

Sebanyak 8 anggota Basarnas Pos Jepara segera meluncur ke RSUD Rembang ketika mendengar kabar ditemukannya mayat di pantai Caruban. Selain itu, ada juga keluarga Giyono yang juga mendatangi kamar Jenazah RSUD setempat.

Condro Yasmantoro, salah satu anggota Basarnas Pos Jepara mengatakan timnya segera mengecek ke Rembang apakah benar mayat tersebut adalah Giyono, nelayan yang dikabarkan hilang sejak Kamis lalu. “Ada keluarga dari Giyono juga yang ke sini, tapi tadi tidak berangkat bersama kami,” ungkapnya.

Namun, sejauh ini belum bisa dipastikan karena kondisi tubuh mayat yang sudah membengkak. “Belum bisa dipastikan, ini masih dalam proses identifikasi. Mungkin besok baru bisa diketahui identitas korban tersebut,” ujarnya ketika ditemui MuriaNewsCom di kamar jenazah RSUD Sutrasno Rembang.

Condro menjelaskan dua nelayan asal warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara mengalami kecelakaan laut di perairan Clering – Tayu. Giyarto dan Giyono merupakan kakak beradik yang tenggelam ketika ombak setinggi 3 meter menerjang kapal mereka pada Kamis lalu. Satu korban diselamatkan nelayan di Tayu Pati atas nama Giyarto. “Sementara Giyono sampai ini masih belum ditemukan,” tandasnya.

Terpisah, Kapolsek Lasem AKP Eko Budi Sulistyo mengatakan pihak keluarga nelayan berusia 15 tahun yang hilang bernama Joko, juga sudah sempat mengecek korban. Namun ternyata, mayat tersebut bukan Joko. “Korban diperkirakan berusia tiga puluhan tahun,” jelasnya.

Seperti diketahui, seorang anak buah kapal Agung Gumelar milik Arun, warga Kragan, Rembang dilaporkan hilang pada Selasa (15/12/2015) lalu. Sedangkan tenggelamnya Joko ketika mandi di tengah laut terjadi pada hari Sabtu (12/12/2015) lalu. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Sopir Truck Dump Tewas di Area Tambang Tanah di Rembang

Mayat

 

REMBANG – Kapolsek Sarang, AKP I Made Hartawan menyatakan, lokasi tambang tanah uruk di Desa Lodan Kulon yang menewaskan seorang sopir truk dump bernama Fauzi, sudah berizin alias legal. Tambang tersebut merupakan milik Pemerintah Desa Lodan Kulon yang dikelola oleh Gapoktan atas nama warga setempat, Siswanto.

”Lokasi tambang resmi berizin. Belum mengarah ke situ (tersangka). Kami masih mendalami keterangan pihak saksi yang berada di lokasi kejadian,” jelas Hartawan.

Saat ini polisi masih mendalami keterangan dari sejumlah saksi mata. Belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan dalam kasus tewasnya sopir truk tambang yang merupakan warga Rt 3 Rw 4 Desa Karas, Kecamatan Sedan itu.

Menurut informasi yang dihimpun peristiwa itu terjadi pada Senin (30/11/2015) sekitar pukul 09.00 WIB pagi. Saat itu korban sedang menunggu tak jauh dari dump truk Nopol S 8725 VA yang diisi tanah uruk oleh operator backhoe.

Saat tengah asyik menunggu itulah, tiba-tiba saja tebing setinggi sekitar 30 meter yang bagian bawahnya dikeruk backhoe longsor. Beberapa bongkahan tanah berukuran besar tak pelak langsung menghujani dump truk, backhoe serta tubuh korban.

Korban langsung saja tersungkur dengan luka parah pada bagian kepala dan dagu. Sedangkan operator backhoe yang bernama Memed berhasil selamat. Selanjutnya, korban langsung mendapatkan pertolongan dari penjaga dan operator backhoe.

Mereka segera membawa korban menuju Puskesmas terdekat di Kecamatan Sedan. Namun di tengah perjalanan korban dinyatakan tewas. Dugaan sementara korban tewas karena luka di bagian kepada sehingga kehabisan darah. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Seorang Pria Paruh Baya Meninggal di Persawahan Jekulo Kudus

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Seorang pria paruh baya bernama Nasikun (50) warga Desa Sidomulyo RT 04 RW 01, Kecamatan Jekulo, Kudus, ditemukan meninggal di area persawahan yang berada di Tegal Anyar, Desa Sidomulyo, Jekulo, pada Selasa (24/11/2015) sekitar pukul 16.00 WIB.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, siang tadi sekitar pukul 13.00 WIB, korban pergi ke sawah untuk menambal plastik pembatas sawah. Kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB, tiba-tiba ada petir menyambar dan disertai hujan. Setelah ada petir tersebut, korban lalu tergeletak di sawah.

Mengetahui adanya hal itu, Sundoyo (45) warga Desa Sidomulyo, Jekulo, yang berada di dekat lokasi langsung menolong korban. Kemudian, bersama warga yang lain membawa ke rumah korban. Namun, ternyata korban sudah meninggal.

Dari hasil pemeriksaan dr Doni Wicaksono dari Puskesmas Jekulo dan Unit Identifikasi Sat Reskrim Polres Kudus, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan maupun tanda-tanda tersambar petir. Kuat dugaan, korban meninggal karena terlalu dekat dengan suara petir dan kaget, karena serangan jantung. (KHOLISTIONO)

Supawi Sempat Pamit Mencangkul, Sebelum Meninggal di Tengah Sawah Desa Koripandriyo Pati

Petugas kepolisian meminta pihak keluarga membuat surat pernyataan meninggalnya korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian meminta pihak keluarga membuat surat pernyataan meninggalnya korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tidak disangka, pamitan Supawi, warga Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus, Pati untuk mencangkul di sawahnya yang berada di Desa Koripandriyo, Gabus ternyata untuk yang terakhir kalinya.

Supawi pamitan kepada keluarga untuk mencangkul pada pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB menggunakan sepeda motor. Diduga terkena angin duduk, Supawi akhirnya meninggal dunia di pematang sawah dan ditemukan sekitar pukul 08.30 WIB.

Kapolsek Gabus AKP Darsono kepada MuriaNewsCom, Kamis (12/11/2015) mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat terkait penemuan mayat di desa tersebut. “Kami mendapatkan laporan dan menerjunkan sejumlah personel untuk melakukan pemeriksaan,” katanya.

Dari pemeriksaan tersebut, tidak diketahui adanya tanda-tanda penganiayaan. “Setelah diperiksa petugas, tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Kami menduga, penyebab kematian adalah penyakit yang diderita,” imbuhnya.

Sementara itu, dr Wahib Hasim dari Puskesmas I Gabus mengatakan, penyebab kematian Supawi karena adanya serangan angin duduk. “Dari pemeriksaan, saudara Supawi sepertinya terkena angin duduk yang menyerang secara tiba-tiba,” katanya.

Sampai saat ini, pihak keluarga merelakan kepergian Supawi. Jenazah langsung dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Warga Koripandriyo Pati Digegerkan dengan Penemuan Mayat

Petugas memeriksa jenazah korban di depan rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas memeriksa jenazah korban di depan rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Warga Desa Koripandriyo, Kecamatan Gabus, Pati dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat di tengah sawah desa setempat, Kamis (12/11/2015).

Mayat yang diketahui bernama Supawi, warga Desa Tanjunganom, Gabus tersebut ditemukan meninggal dunia dalam keadaan tengkurap menggunakan sarung bermotif kotak-kotak.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, penemuan mayat berawal saat Sukemi, warga setempat berangkat ke sawah dan melihat ada seseorang dalam keadaan tengkurap. Sontak, Supami berteriak memanggil orang yang ada di sekitarnya.

Setelah dilihat, mayat yang sudah tidak asing lagi bagi warga Koripandriyo dibawa ke rumahnya. Supawi diduga meninggal dunia secara mendadak, lantaran terkena angin duduk. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Tak Terima Diceraikan, Suami Bunuh Anak Kandung

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Peristiwa tragis terjadi di Desa Geneng RT 03/I, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Seorang anak remaja bernama Afrianto (15) tewas, dan ibunya bernama Siti Hadroh (37) kritis di RSUD Kartini Jepara, usai dianiaya secara sadis oleh ayahnya bernama Seraju (45), Rabu (28/10/2015) pagi. Ternyata, antara korban Siti Hadroh dengan pelaku Seraju sebelumnya telah bercerai.

Ketua RT setempat, Muhlisin mengatakan, antara korban dengan pelaku telah bercerai sekitar satu bulan lalu. Namun, mereka masih tinggal satu rumah. Pihak korban diketahui menceraikan suaminya tersebut lantaran beberapa hal.

“Sudah cerai sekitar satu bulan lalu, tapi masih tinggal satu rumah,” kata Muhlisin kepada MuriaNewsCom, di lokasi kejadian. Menurutnya, para tetangga juga sebenarnya terheran-heran lantaran status mereka yang sudah cerai tapi masih tinggal satu rumah. Sehingga, peristiwa kekerasan atau penganiayaan yang terjadi disebut warga karena kekesalan suami yang telah diceraikan.

“Diantara warga sendiri juga masih mengira-ngira penyebab kejadian ini, ada banyak kemungkinan,” ungkapnya. Sementara itu, Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro mengatakan, belum ada saksi yang melihat kronologi persisnya masalah ini. Saksi kunci, yakni korban yang krisis juga belum dapat diajak berkomunikasi. “Kita tunggu saja nanti. Sementara ini memang belum dapat disimpulkan,” kata Hendro. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kisah Kejiwaan Ayah Pembunuh Anak Kandung di Jepara

Polisi tampak berjaga di tempat kejadian perkara di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Polisi tampak berjaga di tempat kejadian perkara di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Desa Geneng, Kecamatan Mlonggo, Jepara, Seraju (45) yang menganiaya anak kandungnya hingga tewas dan istrinya hingga terluka parah, ternyata diketahui memiliki gangguan jiwa.

Salah satu adik korban, Sumanah (33) mengatakan, kakak iparnya yang menjadi pelaku penganiayaan terhadap kakak kandung dan keponakannya, pernah dirawat di RSUD Kartini karena mengalami gangguan kejiwaan.  Bahkan, menurut dia sempat dirujuk ke salah satu rumah sakit di
Semarang.

“Memang pernah mengalami gangguan jiwa dan dirawat di rumah sakit,” kata Sumanah kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015).

Hal itu juga disampaikan Kapolsek Batealit AKP Hendro Astro. Menurut Hendro, pelaku sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa dan di rawat di rumah sakit.

Terakhir, pelaku di rawat di rumah sakit pada tahun 2014 lalu. “Sesuai informasi dari warga, pelaku memiliki gangguan jiwa,” kata Hendro.

Dia menambahkan, kasus ini dilimpahkan ke Polres Jepara karena korban sampai ada yang meninggal dunia. Meski begitu, pihaknya tetap akan memberikan bantuan. Mengingat peristiwa terjadi di wilayah hukumnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kakek Misterius Berbaju Muslim Tewas di Sawah

ilustrasi

ilustrasi

 

REMBANG – Seorang kakek misterius atau tanpa identitas, mengenakan baju muslim, tewas di sawah. Adapun lokasi penemuan mayatnya di Desa Timbrangan, Gunem, Rembang.

Polisi menemukan mayat korban, Kamis (1/10) petang di sawah. Tepatnya di gubuk sawah milik Suroto warga Dukuh Karanganyar RT 04 RW 06, Desa Tegaldowo, Gunem, Rembang.

Salah satu saksi mata Jumadi (35), warga Timbrangan, mengatakan, dia mengetahui korban mondar-mandir di lokasi. “Saya memberinya makan tapi tidak mau,” kata Jumadi kepada polisi.

Jumadi kemudian mengajak temannya Pujo, warga setempat untuk menemui korban. “Ternyata sudah meninggal dunia,” terangnya.

Dari pemeriksaan Polsek Gunem, korban diperkirakan berusia 60 tahun. Korban memiliki tinggi badan 155 cm. Dengan ciri – ciri rambut telah beruban, kulit sawo matang, menggunakan baju muslim warna krem. Serta menggunakan kaos dalam warna biru, celana warna cokelat susu, serta menggunakn celana pendek warna abu-abu. (AKROM HAZAMI)

Minim Petunjuk, Polisi Kesulitan Ungkap Identitas Mayat di Sungai Serang

Mayat yang ditemukan di Sungai Serang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mayat yang ditemukan di Sungai Serang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Identitas mayat yang ditemukan di pinggir Sungai Serang di Desa Winong, Kecamatan Penawangan, Grobogan, hingga hari kedua pascaditemukan belum berhasil diungkap.

Minimnya petunjuk yang ditemukan pada mayat, menyebabkan pihak kepolisian butuh waktu untuk untuk menemukan jati diri korban.

“Kami sudah meminta bantuan pada semua pihak untuk membantu mengungkap identitas korban. Mudah-mudahan identitas korban bisa segera terungkap,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto.

Menurutnya, saat ditemukan, tidak ada identitas yang melekat pada tubuh korban. Saat itu, korban ditemukan hanya mengenakan kemeja merah maron, kaos krem bertuliskan Bali, celana dalam warna biru.

Saat diperiksa lebih lanjut, mayat itu juga tidak memiliki ciri khusus pada tubuhnya. Ciri fisik yang terlihat, mayat tersebut memiliki tinggi 165 cm, potongan rambut Mohawk dan berkulit sawo matang. Usia korban dperkirakan antara 18 sampai 25 tahun.

Disinggung soal penyebab kematian, Agung menyatakan, korban meninggal akibat tenggelam. Hal itu berdasarkan keterangan dari tim dokter usai melakukan otopsi pada jasad korban di RSUD dr R Soedjati Purwodadi.

Dari otopsi itu, diketahui kalau beberapa luka yang terdapat pada wajah dan kepala korban, bukan diakibatkan pukulan benda keras karena tidak sampai merusak jaringan di dalamnya. Selain itu, pada bagian kerongkongan korban terdapat pasir yang meyumbat jalur pernapasan.
”Hasil otopsi ini sudah disampaikan pada kami secara lisan oleh tim dokter. Jadi, korban tersebut meninggal karena tenggelam, bukan akibat tindak kekerasan,” imbuhnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Tukang Becak Ditemukan Tak Bernyawa Saat Antar Penumpang

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Tukang becak di Kudus, ditemukan dalam tidak bernyawa. Awalnya, tukang becak tersebut sedang menunggu penumpang yang diantarkan. Kabar meninggalnya warga Desa Prambatan Kidul, RT 4 RW I, Kecamatan Kaliwungu ini, diketahui kali pertama oleh Mabril Syamputra (61) yang juga sedang antri mengambil uang di Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).

Pensiunan dokter ini curiga setelah melihat Suparno yang tidak melakukan gerakan apapun selama beberapa menit. Karena curiga, Mabil pun mendekati Suparno. Dan setelah dicek, ternyata urat nadi Suparno sudah tak berdenyut lagi. Selain itu, juga tak ada oksigen yang keluar masuk dari lubang hidungnya.

”Saya lantas lapor ke satpam BTPN yang bernama Agus Hadiriyanto,” kata Mabil saat dimintai keterangan aparat kepolisian.

Satuan pengamanan dan nasabah Bank BTPN, Jalan Jendral Sudirman No. 117 A, turut Desa Ngaguk, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, kaget dengan hal tersebut. Sebab dengan peristiwa meninggalnya Suparno (71), tanpa diketahui sebabnya, tukang becak yang sedang istirahat di depan pintu atau loket pelayanan gaji pensiun Bank BTPN ini tiba-tiba diketahui sudah tak bernyawa.

Saat kejadian, Suparno sedang menunggui Sulis Setyowati warga RT 2 RW IV, Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, yang antre mengambil uang pensiun milik mertuanya yang bernama Sukinah.

Jajaran satpam BTPN pun melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian. Dan informasi itu diteruskan kepada pihak UPTD Puskesmas Wergu Wetan.

Berdasar pemeriksaan dr Puspitasari, tidak ditemukan adanya tanda-tanda bekas pukulan benda tumpul atau lebam akibat kekerasan pada jasad korban. Karena kematian korban karena sebab yang wajar, jasad Suparno selanjutnya dibawa oleh pihak keluarganya untuk dimakamkan.

”Diduga kuat, korban sebelumnya memang memiliki riwayat penyakit dalam,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Bukan Lagi Karena Terpaksa, Mengemis Sudah Jadi Komoditas Bisnis

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Pengamat sosial dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Hakim Alif Nugroho menyebut, banyaknya pengemis yang nyatanya seorang yang kaya, menunjukkan adanya perubahan fenomena sosial. Kalau dulu menurut dia, orang mengemis karena terpaksa, namun sekarang justru untuk komoditas bisnis.

”Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bersama bahwa fenomena sosial saat ini menunjukkan gejala yang berbeda dengan kondisi dulu. Kalau dulu mengemis itu terpaksa, sekarang mengemis dimanfaatkan sebagai komoditas bisnis yang menguntungkan,” kata pengamat asal Kabupaten Pati ini.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat lebih jeli saat memberikan uang kepada pengemis, dan jangan hanya berlandaskan rasa kasihan semata. Masyarakat juga diimbau untuk menghentikan memberikan uang kepada pengemis atau peminta-minta di pinggir jalan, dan mengalihkannya ke warga yang benar-benar membutuhkan.

“Seperti menyalurkan sumbangan di lembaga-lembaga sosial, yang betul-betul disalurkan untuk fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Jangan langsung memberi ke pengemis di jalanan,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Mayat Pengemis Kantongi Uang dan 25 Cincin Emas Senilai Puluhan Juta Rupiah

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sosok mayat pengemis kaya yang ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia dan mengambang di Sungai Juwana, Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Jumat (7/8/2015) diketahui bernama Karno (72), warga Desa Trangkil RT 5 RW 8.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, mayat tersebut ditemukan seorang nelayan yang tengah pulang dari melaut. Sontak, penemuan mayat tersebut menggemparkan warga setempat.

Tak disangka, petugas kepolisian yang melakukan pemeriksaan menemukan uang koin Rp 100 hingga uang pecahan Rp 100 ribu di dalam saku baju dan celana korban. Petugas mengkalkulasi, uang tersebut mencapai Rp 3,4 juta.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan cincin emas lengkap dengan surat-surat resmi dari toko emas. Cincin-cincin emas tersebut ditaksir bernilai Rp 26 juta.

“Setelah diperiksa, ditemukan uang pecahan, mulai dari Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 10 ribu. Semua pecahan uang kertas rupiah ada. Selain itu, pecahan uang koin, mulai dari Rp 100 hingga Rp 1.000 juga ada. Totalnya ada Rp 3.408.900,” Kapolsek Juwana, AKP Sumarni, melalui Kanit Reskrim, Ipda Gunarso.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, mayat dibawa ke RSUD Soewondo Pati. Sementara itu, uang dan cincin emas milik korban saat ini diamankan petugas, sembari menunggu informasi dari pihak keluarga. Beruntung, korban membawa kartu identitas berupa KTP sehingga mudah diidentidikasi. (LISMANTO/KHOLISTIONO)