Mau Cari Ungker Jati, Warga Banjarejo Ini Malah Dapat Fosil Gajah Purba

Fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas yang disimpan di rumah Kades Banjarejo tengah dibersihkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas yang disimpan di rumah Kades Banjarejo tengah dibersihkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas ternyata terjadi secara kebetulan. Awalnya, si penemu fosil, yakni Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo bermaksud mencari ungker atau ulat di areal kebun jati milik Dul Karman yang ada di Dusun Ngrunut.

Dalam beberapa hari terakhir, memang banyak warga Banjarejo yang kerja sambilan mencari ungker jati. Soalnya, ada orang dari luar daerah yang bersedia menampung ungker jati tersebut. Kebetulan, saat ini banyak sekali ungker yang memakan daun-daun jati.

”Daripada nganggur di rumah, saya akhirnya ikut-ikutan cari ungker di kebun jati milik warga. Selain dimakan, ungker ini katanya juga dipakai buat pakan burung,” kata Budi Setyo Utomo.
Ketika mencari ungker di kebun jati tersebut, kaki Budi sempat tersandung benda keras yang tersembul dari dalam tanah. Semula, benda keras itu dikira sebuah batu biasa. Namun, setelah diamati dan diperhatikan lebih teliti, benda itu ternyata potongan fosil hewan purba.

Bagi Budi, untuk membedakan batu biasa dengan fosil bukan pekerjaan sulit. Pasalnya, selama ini, dia sudah puluhan kali menemukan fosil yang terpendam di wilayah Desa Banjarejo. Lantaran seringnya menemukan fosil, pria ini dijuluki Profesor purbakala oleh warga setempat.

”Setelah tahu benda ini potongan fosil hewan purba, saya lalu menghubungi Pak Kades dan beberapa orang warga untuk melakukan penggalian. Ada dua titik yang digali di kebun jati itu. Satu titik penggalian ketemu fosil rahang purba dan satu lokasi lagi ada beberapa potongan tubuh hewan purba lainnya,” kata Budi.

Menurutnya, lokasi penemuan itu sebelumnya dinilai tidak ada fosil yang terpendam di dalamnya. Malah, sekitar 200 meter disebelah utaranya justru yang diperkirakan terdapat fosil hewan purba. (DANI AGUS/TITIS W)

Lagi, Ditemukan Fosil Gajah Purba Seberat 1 Kuintal di Kebun Jati Desa Banjarejo

Empat warga Desa Banjarejo tengah memikul fosil gajah purba dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Empat warga Desa Banjarejo tengah memikul fosil gajah purba dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan fosil bagian tubuh hewan purbakala lagi-lagi ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Yang terbaru berupa bagian tubuh gajah purba yang ditemukan Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo, Minggu (03/01/2016) sore.

Lokasi penemuan fosil baru ini berada di areal kebun jati di Dusun Ngrunut. Dari perkampungan menuju ke lokasi kebun jati milik Dul Karman itu jaraknya sekitar 1 km.

Fosil tersebut terpendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter. Untuk menggali fosil yang dilakukan empat orang itu butuh waktu sekitar lima jam. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses evakuasi itu disebabkan butuh kehati-hatian agar proses penggalian tidak merusak fosil yang terkubur dalam tanah tersebut.

”Kalau hanya sekedar bikin galian sedalam 1 meter paling butuh waktu satu jam saja. Tetapi karena proses mengangkat fosil ini butuh hati-hati makanya jadi cukup lama,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang memimpin langsung proses pengangkatan fosil tersebut.

Menurut Taufik, fosil yang ditemukan itu memiliki panjang 60 cm, lebar 40, tinggi 35 cm. Meski tidak terlalu besar, namun bobot fosil itu ternyata cukup berat. Diperkirakan, beratnya sekitar 1 kuintal dan butuh empat orang untuk memikul fosil itu dari tempat penemuan hingga ke perkampungan.

Penemuan fosil terbaru itu, sudah dikoordinasikan dengan pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Selain itu, foto-foto fosil juga dikirimkan pula ke sana melalui email.
Dari keterangan pihak BPSMP, fosil tersebut merupakan rahang atas gajah purba. Hal itu dilihat dengan adanya deretan gigi yang terdapat pada fosil tersebut. Meski demikian, pihak BPSMP belum bisa memastikan jenis gajah purba tersebut. Apakah jenis mastodon, stegodon, atau elephas.

”Keterangan ini diberikan berdasarkan dari foto yang saya kirim. Untuk memastikan, perlu melihat langsung fosil dan lokasi penemuan untuk melakukan serangkaian kajian. Dalam waktu dekat, pihak BPSMP melakukan penelitian ke Banjarejo,” imbuh Taufik. (DANI AGUS/TITIS W)

Begini Jadinya Kalau Rumah Kades Banjarejo Grobogan Dipenuhi Fosil

Siswa SD Sengonwetan, Kecamatan Kradenan tengah melihat koleksi benda kuno di rumah Kades Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa SD Sengonwetan, Kecamatan Kradenan tengah melihat koleksi benda kuno di rumah Kades Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Banyaknya penemuan benda peninggalan masa lalu yang berhasil dikumpulkan di rumah Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Ahmad Taufik ternyata membawa dampak positif.

Sejak satu bulan lalu, rumah yang sekarang kondisinya mirip museum itu tidak pernah sepi pengunjung.

Selain warga biasa, pengunjung yang melihat koleksi benda kuno dan purbakala juga datang dari siswa sekolah. Mulai TK hingga perguruan tinggi sudah pernah datang ke ‘museum’ dadakan itu. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Grobogan saja tetapi juga dari luar kota dan bahkan ada dari luar Jawa.

Bahkan, boleh dibilang jumlah pengunjungnya bisa mengalahkan orang yang melihat koleksi benda kuno di Museum milik Pemkab Grobogan. Soalnya, museum Pemkab yang berada satu komplek sdengan Kantor Dinas Pendidikan di Jalan Pemuda Purwodadi itu jarang didatangi orang lantaran hanya dibuka pada hari-hari tertentu saja.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika rumahnya tidak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam. Terlebih pada hari libur atau Minggu, pengunjungnya bisa mencapai 500 orang lebih.

“Beberapa hari lalu saya sempat bikinkan buku tamu agar diisi para pengunjung yang datang. Sampai saat ini, daftar nama pengunjung sudah lebih 500 orang. Kalau semuanya mengisi buku tamu mungkin jumlahnya lebih banyak lagi,” katanya.

Menurutnya, beberapa siswa sekolah dan mahasiswa dari luar kota beberapa waktu lalu juga sempat datang. Selain melihat-lihat, kedatangan mereka juga bertujuan untuk membuat karya tulis tentang benda kuno dan purbakala yang ada di Desa Banjarejo.

Salah satu benda penemuan yang jadi daya tarik adalah fosil kepala kerbau raksasa yang ditemukan sekitar dua bulan lalu. Hampir semua pengunjung menyempatkan foto di depan fosil purba yang diperkirakan berusia 5.000 hingga 7.000 tahun itu. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Warga Banjarejo Kembali Dihebohkan dengan Penemuan Fosil Potongan Gigi Purba

Kades Banjarejo Ahmad Taufik sedang mengamati fosil potongan gigi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik sedang mengamati fosil potongan gigi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus tidak berhenti pada gading gajah purba saja. Ternyata, masih ada lagi satu penemuan yang hampir bersamaan dengan ditemukanya gading gajah purba, Rabu (18/11/2015) kemarin.

Kali ini, penemuannya berupa fosil berbentuk potongan gigi.Fosil ini panjangnya sekitar 20 cm. Lebar bagian pangkal 10 cm dan paling ujung sekitar 8 cm. Di bagian pangkal terdapat dua deretan gigi-gigi kecil.

Warga setempat belum bisa memastikan fosil gigi tersebut milik binatang jenis apa. Ada yang menyatakan, benda itu merupakan potongan gigi bagian kiri dari gajah purba.

Namun, ada pula yang bilang kalau benda itu merupakan belahan mulut bagian bawah buaya atau ular besar. Kebetulan, dua jenis binatang ini erat kaitannya dengan cerita legenda dari Kerajaan Medang Kamulan.

Dimana, saat dikalahkan Prabu Aji Saka, Raja Medang Kamulan Prabu Dewata Cengkar sempat berubah jadi buaya ketika diceburkan ke laut selatan. Sementara, dalam cerita legenda, disebutkan ada ular besar bernama Jaka Linglung yang konon mengaku sebagai keturunan Aji Saka.

“Karena sama-sama bukan ahlinya, maka setiap orang bisa menyimpulkan macam-macam dengan benda ini. Tetapi, saya lebih condong kalau potongan gigi ini milik gajah purba,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, benda itu bentuk aslinya kemungkinan masih cukup panjang. Soalnya, bagian tengah hingga ujungnya sudah tidak ada. Kemungkinan, bagian ini sudah lapuk dan jadi tanah.

Benda yang masih jadi teka-teki itu ditemukan di lokasi berbeda dengan penemuan gading gajah purba. Tempatnya masih masuk wilayah Dusun Peting, sekitar 500 meter sebelah utara penemuan gading purba. Penemuan potongan gigi itu berada di pinggiran sawah.

“Hari Rabu (25/11/2015) mendatang, tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran akan datang ke Banjarejo untuk melakukan sosialisasi masalah penemuan benda purbakala pada masyarakat. Nanti, akan kita tanyakan pada mereka untuk memastikan benda ini milik hewan apa,” cetusnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Fosil Gading Purba Bakal Disambungkan Tim BPSMP Sangiran

Kades Banjarejo Ahmad Taufik bersama warga membungkus fosil satu demi satu dan berhati-hati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik bersama warga membungkus fosil satu demi satu dan berhati-hati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Kendati patah jadi 13 potongan namun fosil gading gajah purba itu nantinya bisa disatukan lagi hingga utuh. Hal itu disampaikan Kades Banjarejo Ahmad Taufik pada wartawan di lokasi penemuan fosil di Dusun Peting.

”Perihal penemuan fosil ini sudah saya laporkan pada Disporabudpar Grobogan. Selain itu pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran juga kita tembusi masalah ini,” kata Taufik.

Taufik menjelaskan, dari pihak BPSMP sudah menjanjikan untuk membantu menyambungkan lagi potongan fosil itu supaya bisa utuh dan menyatu lagi. Kebetulan, pada Rabu (25/11/2015) mendatang, tim BPSMP datang ke Banjarejo untuk melakukan sosialisasi masalah penemuan benda purbakala pada masyarakat.

Agar proses penyatuan fosil lebih mudah, tiap potongan gading purba itu dimasukkan dalam satu kantong plastik berikut nomor urutannya. Dengan demikian, nantinya potongan itu bisa disusun dengan cepat dan tidak akan tertukar posisinya.

”Sebelum disatukan lagi nanti fosilnya dibersihkan lebih dulu. Soalnya, masih banyak lapisan tanah yang menempel,” imbuhnya.

Menurut Taufik, dengan ditemukannya gading purba ini makin menambah daftar penemuan benda purbakala di desanya. Dua bulan lalu, sudah ada kepala kerbau purba yang berhasil ditemukan serta potongan tulang binatang purba. (DANI AGUS/TITIS W)

Fosil Gading Gajah Purba yang Ditemukan di Banjarejo Patah Jadi 13 Bagian

13 potongan fosil serupa gading gajah purba itu dikumpulkan dan diberi label nomor urut 1-13. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

13 potongan fosil serupa gading gajah purba itu dikumpulkan dan diberi label nomor urut 1-13. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski berhasil diangkat dari dalam tanah, namun fosil gading gajah purba itu tidak bisa utuh. Tetapi mengalami patah hingga jadi 13 potong atau bagian.

Karena patah jadi 13 bagian, proses pengangkatan fosil gading itu dilakukan dengan sangat hati-hati oleh Budi Setyo Utomo. Bagian pertama yang diangkat adalah di posisi pangkal.

Kemudian, potongan pertama ini diletakkan di atas lembaran karung bekas di samping tempat penemuan. Setelah diletakkan, potongan itu diberi label nomor 1 untuk memudahkan dalam merangkai lagi agar bentuknya bisa utuh.

Proses seperti ini dilakukan hingga potongan fosil paling ujung atau nomor 13. Butuh waktu sekitar satu jam lamanya untuk mengangkat fosil dari dalam tanah. Yakni, dari mulai sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.

”Patahnya fosil ini bukan karena terkena peralatan saat melakukan penggalian. Tetapi, kemungkinan karena lokasinya cukup dangkal sehingga barangnya mudah lapuk,” kata Budi Setyo Utomo.

Setelah selesai, bentuk gading gajah itu terlihat cukup panjang. Dari pengukuran yang dilakukan, panjang gading itu mencapai 2,17 meter. Lebar pangkal gading sekitar 15 cm dan dibagian ujungnya 7 cm.

”Fosil gading ini luar biasa panjang. Saya tidak bisa membayangkan bentuk gajahnya ketika masih hidup segede apa,” kata Camat Gabus Anwar Udin Hamid yang ikut memantau dilokasi pengangkatan fosil. (DANI AGUS/TITIS W)

Video – Lagi, Fosil Gading Gajah Purba Ditemukan di Banjarejo

 

GROBOGAN – Selain benda cagar budaya, penemuan fosil hewan purba juga ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Hari ini, penemuan terbaru berupa fosil gading gajah purba. Fosil yang diperkirakan berusia ribuan tahun itu ditemukan di pekarangan milik Kurdi, warga Dusun Peting, RT 03 RW 5.

Berbeda dengan penemuan benda purba sebelumnya, fosil gading gajah itu ditemukan di lokasi yang dangkal. Kedalaman dari tanah hanya sekitar 50 cm. Meski demikian, selama ini pemilik lahan belum pernah menyentuh benda langka tersebut saat mencangkul di pekarangannya.

Penemu benda purbakala itu adalah Kaur Kesra Dusun Kuwojo Budi Setyo Utomo. Dari informasi yang diterima, salah satu perangkat Desa Banjarejo itu memperkirakan jika di pekarangan tersebut ada benda purba.

Pada Selasa (17/11/2015) sore Budi dibantu beberapa warga mencoba membuktikan kebenaran informasi yang didapat tersebut. Setelah menggali 50 cm, mulai terlihat ada bongkahan seperti batu. Selanjutnya, penggalian tanah dilakukan secara manual dengan memakai tangan hingga akhirnya terlihat wujud benda seperti bentuk gading gajah.

”Karena kemarin sudah agak gelap maka pengangkatan fosil ini terpaksa kita hentikan. Setelah berkoordinasi dengan Pak Kades, baru pagi ini fosil ini bisa kita angkat,” kata Budi. (DANI AGUS/TITIS W)

Menemukan Fosil Gading Kuno Dapat Rp 3 Juta

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski mendapatkan tali asih sejumlah Rp 16,650 juta. Namun jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan bagi 29 penemu fosil di Kudus selama ini. Jumlah yang diterima bervariatif antara Rp 100 ribu hingga Rp 3 jutaan.

Seperti halnya yang diterima Sutono, penemu fosil di Kudus. Dia mendapatkan tali asih Rp 3, 750 juta. Jumlah tersebut didapat lantaran dia menemukan fosil berupa gading dua buah.

Sementara Ari, penemu fosil di Kudus lainnya mendapatkan Rp 1,4 juta. Nominal tersebut untuk tali asih barang yang ditemukan. Yaitu tanduk rusa, dan gigi alat batu. Warga lain Simpo juga mendapatkan Rp 2,3 juta, dia mendapatkan gading dua buah, sama fragmen kaki gajah.

Rus Mulia, Kepala Seksi Perlindungan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) mengatakan, nominal penerima tali asih memang dibedakan. Hal itu diberikan sesuai dengan ukuran dan jenis fosil yang ditemukan para warga.

“Berbeda beda, tidak dapat disamakan semuanya. Soalnya besar dan jenis fosil. Juga berbeda satu dengan lainnya. Jadi harus dibedakan juga,” katanya di Balai Desa Terban.

Menurutnya, untuk penemuan gading misalnya. Meski sama sama gading, namun dilihat ukuran dan bentuk gading yang diketemukan. Kondisi gading juga menjadi pertimbangan dalam penentuan nominalnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Kerap Diketemukam Fosil, Desa Medalem Akan Dirikan Tugu Identitas

Fosil gading gajah purba yang ditemukan warga Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora masih nampak utuh. (Dok. foto Humas Protokoler Kabupaten Blora)

Fosil gading gajah purba yang ditemukan warga Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora masih nampak utuh. (Dok. foto Humas Protokoler Kabupaten Blora)

 

BLORA – Seperti diketahui, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora secara geografis terletak di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Di lokasi itu sering ditemukan fosil-fosil hewan purba yang kondisinya 90 persen utuh.

Kabid Kebudayaan DPPKKI Kabupaten Blora Suntoyo didampingi Kasi Sejarah dan Purbakala Setyo Pujiono mengatakan, berkat penemuan fosil tesebut, warga Desa Medalem berharap di wilayahnya didirikan atau dibangun tugu identitas.

”Bangunan tugu itu berfungsi sebagai penanda kalau daerah tersebut kerap diketemukan fosil binatang purba. Tugunya menunjukkan Mendalem Desa Gajah Purba”, ungkap Suntoyo.

Setyo Pujiono menjelaskan, dari hasil penelitian ini, di wilayah tersebut sudah empat kali ditemukan fosil gajah purba. Salah satunya di Dusun Sungon dengan ditemukan fosil gajah Blora.

”Gajah ini, diperkirakan berusia lebih dari 200 ribu tahun. Tingginya sendiri mencapai limameter dan berat 10 ton. Fosil gajah itu, merupakan fosil temuan terbesar dan terlengkap di Indonesia,” terangnya. (TITIS W)