Disdikpora Kudus Bakal Fasilitasi Keluhan MKKS

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus berjanji bakal memfasilitasi apa yang dikeluhkan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kudus. Disdikpora paham dengan situasi tersebut.

Sebelumnya diberitakan, MKKS SMA Kudus merasa progam Bupati Kudus Musthofa gratis sekolah 12 tahun saat ini tak lagi relevan. Karena saat ini tidak ada lagi dana pendamping BOS SMA/SMK  yang berakibat berkurangnya anggaran sekolah.

MKKS telah meminta izin kepada Disdikpora agar diperbolehkan menarik sumbangan, guna memecahkan solusi berkurangnya anggaran sekolah. Hanya sampai kini, MKKS belum melangkah karena belum jelas.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, sudah sewajarnya jika MKKS ingin sekolah lebih maju, dengan pendidikan yang berkualitas. Hanya, keinginan MKKS melakukan penarikan, belum bisa diterima.

“Kami sampai kini belum menerima surat dari MKKS SMA maupun SMK, tapi infonya akan segera dikirimkan tembusannya. Setelah itu bisa kami pelajari lebih lanjut tentang tuntutan MKKS,” katanya

Pihaknya tak bisa memutuskan keinginan MKKS. Namun, yang bisa dilakukan hanya memfasilitasi keluhan. Selain itu, kata dia, kini tanggung jawab SMA dan SMK sederajat juga di tangan pemerintah provinsi.

“Ini sudah ke ranah pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tapi kami kalau diminta bantuan tentang Penarikan Sumbangan, hanya bisa berpedoman dengan Permen Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Permen Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite. Selebihnya belum berani memutuskan,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Lantik 113 Pejabat Sekolah dan Pengawas Disdikpora

Bupati Kudus Musthofa melantik kepala SD, Kepala TK, dan pengawas pada Disdikpora, Senin. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa melantik dan mengambil sumpah 113 orang untuk menduduki jabatan sebagai kepala SD, Kepala TK, dan pengawas pada Disdikpora Pemkab Kudus, Senin (27/2). Yang rinciannya adalah 102 Kepala SD, 3 Kepala TK, dan 8 Pengawas.

Musthofa mengatakan pendidikan merupakan salah satu pilar penting dari program pro rakyatnya, selain UMKM, kesehatan, kesempatan kerja. Untuk itu, dirinya tidak mau gegabah dalam memilih orang-orang yang tepat pada jabatan ini.

”Bapak dan ibu adalah orang-orang pilihan untuk memikul tanggung jawab ini. Untuk itu saya minta bekerja dengan penuh keihlasan dan ketulusan untuk membimbing anak-anak kita,” kata Musthofa.

Harapannya tentu sebagai generasi penerus, anak-anak harus menjadi sosok yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, serta agama dan masyarakat luas untuk masa mendatang. Dia berharap agar anak-anak mendapat bekal pendidikan dan pengajaran yang terbaik.

Sementara adanya penetapan kurikulum lingkungan hidup (LH) mendapat apresiasi tersendiri. Dikatakannya, penetapan muatan lokal (mulok) LH ini menjadi sorotan nasional. Karena kepedulian pendidikan dasar di Kudus untuk cinta terhadap lingkungan dan alam.

”Kudus adalah paku buminya pendidikan. Saya ingin seluruh nusantara bisa belajar kurikulum dari Kudus. Salah satunya mulok LH ini,” tambahnya.

Dirinya juga meminta para pejabat ini untuk fokus bekerja semaksimal mungkin memberikan bekal pendidikan dasar anak-anak.

Bupati berpesan untuk tetap menjalin dan terus membangun komunikasi yang baik. Dengan adanya sertifikasi guru dan kenaikan TPP seharusnya bisa menjadi motivasi tersendiri untuk lebih bertanggung jawab pada pekerjaannya.

”Saya juga mengucapkan selamat. Mari sama-sama fokus untuk bekerja yang terbaik. Dan kepala sekolah adalah lokomotif semua kegiatan di sekolah,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Yakin Peralihan Pengelolaan Akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Siswa mengikuti salah satu kegiatan di SMK di Kudus. (MuriaNewsCom)

Siswa mengikuti salah satu kegiatan di SMK di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pengelolaan SMA / SMK dari Pemkab Kudus ke Pemerintah Provinsi, dinilai tak terlalu masalah. Sebab pengelolaan dari provinsi dimungkinkan akan lebih memajukan pendidikan, bahkan meningkatkan kualitas.

Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron mengatakan, APBD Provinsi selama ini terlalu banyak defisit di bidang pendidikan. Hal itu juga yang mendasari pengelola dialihkan ke provinsi. “Alokasi untuk pendidikan sejumlah 10 persen APBD provinsi, jumlah itu sangat besar untuk kepentingan dunia pendidikan di tingkat provinsi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dengan dana yang besar itu, kata dia, seharusnya mampu untuk gratiskan biaya pendidikan. Hal itu akan mengurangi kekhawatiran warga Kudus, yang selama ini berharap gratis sekolah selama 12 tahun. “Jadi masyarakat Kudus, khususnya orang tua tak usah risau. Sebab anggaran provinsi sangatlah banyak, dan cukup untuk biaya pendidikan,” ungkapnya.

Bahkan, tak hanya gratis SPP. Dikatakan juga kalau peningkatan yang dimaksud adalah pelayanan lain, seperti seragam, buku, dan juga kebutuhan siswa lainnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemkab Kudus Tak Lagi Anggarkan Bantuan Sekolah

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Pengambil alihan pengelolaan SMA dan SMK dari pemerintah kabupaten ke pemerintah provinsi, membuat Pemkab Kudus tak mampu memberikan bantuan seperti tahun sebelumnya. Untuk itulah, anggaran pemberian bantuan di 2017 dihapuskan lantaran pengelolaan tak lagi di tangan pemkab.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, pada tahun ini tak dianggarkan bantuan untuk SMA. Jika sebelumnya bantuan mencapai Rp 14 miliar untuk SMA sederajat, maka tahun depan ditiadakan atau tak diusulkan. “Sudah jadi tanggung jawab provinsi. Otomatis BOS Pendamping yang diambilkan dari APBD Kabupaten Kudus tidak berlaku lagi. Selain itu jika dianggarkan malah melanggar DAU,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, anggaran  bantuan di 2016 yang tak dapat dianggarkan di 2017, otomatis membuat jatah untuk Disdikpora berkurang. Namun anggaran yang bersumber dari APBD tersebut dapat dialokasikan kepada kebijakan lainnya. Pihaknya  yakin pendidikan SMA/SMK makin baik karena dibawahi langsung pemerintah provinsi. Nantinya, bantuan juga langsung ke sekolah tanpa melalui kabupaten.

“Kami berharap kalau progam gratis 12 tahun dapat dilanjutkan. Selama ini sekolah di Kudus sudah gratis 12 tahun. Harapannya warga Kudus masih dapat menikmati progam gratis. Bedanya ini dari provinsi,” ujarnya.

Pemkab juga terus meminta kepada provinsi supaya melanjutkan program tersebut. Hal itu dianggap cara yang paling bisa dilakukan lantaran untuk penganggarannya sudah tak mungkin dilakukan. Tentang aset, kata dia, juga sudah beralih ke provinsi. Kecuali untuk SMA SMK swasta, yang menjadi milik yayasan. Namun pengelolaan tetap menganut ke provinsi sebagaimana dalam aturan.

Penandatanganan nota kesepakatan serah terima aset dan segala macamnya ke Provinsi Jawa Tengah dihadiri Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Kata Disdikpora Kudus Tentang Guru Swasta

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Peralihan pengelolaan SMA dan SMK dari pemerintah kabupaten ke pemerintah provinsi, sudah dilakukan. Hanya peralihan tersebut menyisakan kebingungan di kalangan pegawainya.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan aturan pengelolaan tak hanya berlaku pada sistemnya saja, namun juga berlaku untuk aset, tenaga hingga siswanya.  Sedangkan untuk guru swasta belum diketahui bagaimana tindak lanjut dari nasibnya nanti. “Untuk GTT atau guru swasta dikembalikan ke sekolah. Kami belum dapat aturan dari provinsi terkait hal tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, jumlah guru PNS yang ada di Kudus juga sangat banyak. Tercatat untuk tingkat SMA sekitar 380 orang, guru SMK 160 orang, tenaga administrasi 80 orang dan guru bantu di swasta sekitar 90 tenaga.

Untuk aset berupa bangunan sekolah dan fasilitas, masih di bawah pengelolaan provinsi khusus sekolah negeri. Namun SMA dan SMK swasta, aset masih menjadi milik yayasan, lantaran pengelolaan saja yang diambil provinsi.

Kepala SMK N 2 Kudus Harto Sundoyo mengatakan, pihaknya tak mempersoalkan tentang pengelolaan yang diambil oleh provinsi. Bagi dia, hal tersebut tak masalah lantaran semuanya sama saja. “Hanya pengelolaan saja yang diambil oleh provinsi. Jadi sistemnya, modelnya hingga administrasi masih tetap sama seperti sebelumnya. Bahkan kurikulum juga sama,” katanya kepada MuriaNewsCom 

Soal tenaga swasta di sekolahnya, dia meminta para guru tak usah khawatir. Karena mereka masih diperbolehkan beraktivitas seperti biasanya. “Dari pertemuan yang dilakukan, kami mendapatkan informasi untuk guru swasta yang sudah masuk P3D, akan digaji oleh provinsi langsung. Namun untuk yang belum, dikembalikan kepada sekolah masing-masing,” ujarnya.

Untuk SMK 2 Kudus, kata dia masih membutuhkan banyak guru swasta. Hal itu karena masih banyaknya siswa dalam sekolah dan juga kurangnya guru negeri. Hal lain juga disebabkan oleh tidak dibukanya formasi PNS, yang membuat dia membuka guru swasta.

Kasi Pendidikan Madrasah pada Kemenag Kudus Suudi mengungkapkan, pengalihan tersebut tak berpengaruh pada jenjang Madrasah Aliyah (MA). Sebab, jalur MA bukanlah ke dinas, Melainkan langsung ke Kemenag. “Hingga kini kami belum menerima edaran dan aturan tersebut. Jadi, kami masih bersikap seperti biasanya saja. Karena jalurnya memanglah berbeda,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Hebat, Siswa SMAN 1 Cepu Ini Raih Nilai UN Tertinggi untuk Mata Pelajaran IPA

Para peserta UN SMA saat mengikuti UN pekan lalu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peserta UN SMA saat mengikuti UN pekan lalu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – SMAN 1 Cepu patut berbangga. Pasalnya, hasil nilai ujian nasional tertinggi jurusan IPA di Kabupaten Blora diraih oleh Bulqis Ines Sakinah dengan nilai ujian nasional (UN) kolektif 520,5.

Sedangkan untuk terbaik kedua diraih oleh Dinar Limarwati dengan nilai Un kolektif 514,0 dan  tempat ketiga diraih oleh Luqman Hasan Nahari dengan nilai UN kolektif 494,5. Keduanya merupakan siswa SMA N 1 Blora.

Aunur Rofiq, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blora mengatakan, nilai tersebut didapat dari hasil rekap seluruh peserta ujian tingkat SMA se-Kabupaten Blora. ”Hasil itu berdasarkan rekap yang dilakukan dinas. Saat ini di mata pelajaran IPA, memang diraih Bulqis,” katanya.

Ketiga siswa tersebut patut diacungi jempol. Sebab, ia mampu menunjukkan taringnya dari segi kognitif. Tercatat, ada 9110 peserta UN tingkat SMA sederajat yang masuk dalam daftar nominasi tetap. Itu artinya, ketiga siswa tersebut mampu bersaing diantara ribuan siswa yang lain.

”Nilai memang memperngaruhi lulus atau tidaknya siswa dalam menempuh jenjang pendidikan. Namun, tidak seluruhnya, sebab, ada indikator lain. Jadi, selain siwa harus mampu secara kognitif. Juga harus memiliki sikap baik,” ujarnya.

Sementara itu, untuk nilai siswa dari jurusan IPS dan bahasa pihaknya masih melakukan rekapitulasi. ”Untuk hasil IPS dan bahas masih belum bisa dikatakan final, masalahnya untuk hasil dari jurusan bahasa dan IPS masih belum kami rekap. Jadi, masih belum diketahui nilai tertinggi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Ikut Suami Merantau, 2 Peserta UN Paket B di Kudus Absen

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah dua peserta UN Paket B dari LKBM Karangturi memilih absen mengikuti UN tahun ini. Mereka berhenti, lantaran memilih mengikuti suami mereka yang bekerja merantau.

Hal itu disampaikan ketua LKBM Karangturi Hadi Prawoto. Menurutnya dua siswa peserta UN kejar paket yang diterimanya absen sekitar sebulan lalu. Hal itu lantaran mereka ikut merantau bersama suaminya.

”Keduanya perempuan, yang satu ke luar Jawa dan satunya lagi ke Jawa Timur. Keduanya bekerja membantu suaminya di sana,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (10/5/2016)

Ia pun menyayangkan atas apa yang dilakukan keduanya. Ini lantaran, waktu ujian terbilang cukup singkat untuk mendapatkan sebuah ijazah setelah mengikuti ujian.

Sebelumnya, kedua peserta UN yang absen juga sudah mengikuti pembelajaran cukup lama. Bahkan, mereka juga sudah melakukan try out sebanyak tiga kali.

”Di sini ada 24 peserta, namun karena dua absen jadi tunggal 22 saja. Dalam UN menggunakan dua ruangan milik madrasah di Desa Garung Kidul,” imbuhnya.

Desa Garung Kidul dipilih lantaran semua peserta kejar paket adalah berasal dari Garung Kidul. Tahun ini pula, merupakan UN terkahir kejar paket B di desa tersbeut.

Editor: Supriyadi

Hebat, Berkat Peran Ibu, Bocah 11 Tahun Ini Sudah Hafal 30 Juz

hafal alquran (e)

Farida Hasanah bersama anaknya Muhammad Sulthonun Nafi’ yang sudah hafal Alquran. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Anak-anak sekarang memang terbilang luar biasa. Misalnya saja bocah 11 tahun ini, yang sudah hafal 30 juz Alquran. Semua juga berkat ibunya.

Namanya Muhammad Sulthonun Nafi’. Usianya memang baru 5 tahun. Dia anak pasangan Farida Hasanah, (34), dan Hariyono, (42), warga Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. Dia adalah santri Pondok Pesantern Tahfidz Yanbu’ul Quran, Krandon, Kudus.

Ada sosok ibu di belakang Nafi’, hingga dirinya bisa hafal Alquran. Karena ibunyalah, dia kemudian bisa masuk ke ponpes tersebut, sehingga bisa belajar menghafal Alquran.

Farida Hasanah mengatakan, sebelum memasukkan anaknya itu ke ponpes, dia memang sempat berkonsultasi terlebih dahulu kepada psikolog. Apalagi dia melihat bahwa ponpes yang akan dimasuki anaknya, bukan ponpes sembarangan. Yakni ponpes yang khusus menghafalkan Alquran.

”Saat itu anak saya memang baru 5 tahun. Tepatnya pada tahun 2010 silam. Saya sempat datang ke seorang psikolog yang membuka kantornya di wilayah Burikan. Saya datang ke sana, untuk berkonsultasi mengenai tingkat kemampuan otak anak saya,” tuturnya, Kamis (21/4/2016).

Keinginan untuk memasukkan anaknya ke ponpes khusus itu, karena memang menginginkan pendidikan yang baik untuk putranya itu. ”Kalau suami, manut saja apa yang saya mau. Kebetulan juga dia bekerja di Kalimantan. Tapi, saya memang ingin anak saya sekolah di sana. Makanya saya konsultasi ke psikolog, apakah anak saya kuat atau tidak nantinya,” ujarnya.

Editor: Merie

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemsos RI Apresiasi Nilai UN Bukan Dijadikan Penentu Kelulusan Siswa

upload jam 23 umk 2 (e)

Seminar yang dilaksanakan di Auditorium UMK (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI Harry Hikmat mengapresiasi adanya perubahan di dalam dunia pendidikan terkait nilai ujian nasional (UN) yang tidak lagi dijadikan faktor utama kelulusan bagi siswa.

“Kelulusan memang sudah seharusnya bukan dari nilai UN saja. Sebab masih ada aspek lainnya yang menjadi pertimbangan dalam hasil UN,” katanya saat seminar sore tadi, di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK).

Dengan tidak laginilai UN dijadikan sebagai penentu kelulusan, maka dapat menjadikan siswa lebih serius lagi dalam mencapai hasil. Bukan semata-mata mengerjakan UN saja, namun aspek lainnya juga dipertimbangkan, seperti skill serta kejujuran.

Diakui atau tidak, menurutnya, menghilangkan menyontek merupakan hal yang sangat susah. Apalagi, hal itu terkait dengan sebuah kelulusan. Sehingga, jika nilai UN tidak menjadi faktor utama kelulusan, maka hal itu dapat membuat siswa lebih jujur.

Dia menilai, UN sebelumnya yang menjadi faktor penentu kelulusan merupakan hantu bagi siswa. Sebab para siswa akan memikirkan banyak hal untuk dapat lulus. Setelah itu, siswa juga akan bingung melanjutkan sekolah lantaran kriteria nilai kelulusan.

“Dalam dunia pendidikan, gagasan pendidikan selama ini lebih menekankan pada intelektual semata. Padahal, mental para siswa juga harus diubah untuk menciptakan generasi emas,” ujarnya.

Selain itu, keikhlasan pendidik juga sangat memerngaruhi para siswa. Dia mengakui, guru sekarang berbeda dengan yang dulu. Sebab, guru yang dulu lebih ikhlas dalam mengajarkan ilmunya.

Editor : Kholistiono

Sekolah Kudus Diberikan Mulok Cinta Lingkungan Hidup

uplod jam 17 00 ratusan tera timbangan 1 (e)

Bupati Kudus Musthofa menyerahkan kantong plastik secara simbolis kepada pelajar pramuka. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa dalam apel besar yang dihadiri sekitar 16 ribu pelajar pramuka tingkat SMA di Alun-alun, Jumat (15/4/2016), mengapresiasi adanya kegiatan kebersihan lingkungan yang ada.

Dalam sambutannya, Musthofa menerapkan kurikulum muatan lokal Cinta Lingkungan Hidup, baik mulai PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK dan MA. “Saya bangga dengan pelajar pramuka Kudus. Sebab bisa menggelar kegiatan bersih lingkungan. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kudus,” katanya.

Pihaknya akan menginstruksikan kepada jajaran yang ada supaya bisa menerapkan kurikulum muatan lokal Cinta Lingkungan Hidup. Sementara itu,untuk meningkatkan kualitas semangat kebersihan lingkungan, pihaknya juga berharap kepada pelajar pramuka supaya dapat menjadi contoh kepada pelajar atau masyarakat lainnya.

“Pramuka di Kudus harus bisa menjadi pionir untuk mencintai lingkungan hidup. Supaya ke depannya bisa menuju Kudus yang baik,” ujarnya.

Diketahui, kegiatan yang baru pertama kali digelar sekaligus untuk memperingati Hari Kartini tersebut diharapkan memberikan pendidikan tersendiri bagi pelajar yang ada.

Ka Kwarcab Pramuka Sudjatmiko mengatakan, kegiatan memang baru kali pertama digelar dengan melibatkan 16 ribu pelajar tingkat SMA di Kudus. “Bila ini berjalan dengan baik dan manfaat, maka untuk ke depannya kita akan mengagendakan setiap tahun,”imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Tanamkan Budi Pekerti Sejak Dini Bisa Dimulai dari Hal Sepele Seperti Ini

upload jam 10 smp undaan (e)

Siswa SMPN 1 Undaan Kudus terlihat sedang bersalaman ketika akan masuk kelas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik siswa tidak hanya secara akademik saja, namun juga tentang pendidikan moral, SMPN 1 Undaan, Kudus berupaya semaksimal mungkin menanamkan budi pekerti kepada siswa sejak dini.

Kepala SMP N 1 Undaan Mukhif Noor mengatakan, untuk memberikan pendidikan moral terhadap siswa bisa dimulai dari hal-hal ringan, seperti halnya bersalaman kepada guru ketika akan masuk kelas atau keluar. Tidak hanya terhadap guru, antarsiswa juga demikian.

Katanya, hal inilah yang dilakukan di SMPN 1 Undaan Kudus. Pihaknya, secara perlahan menanamkan sikap budi pekerti kepada siswa melalui cara-cara yang mudah, namun hal itu bisa berdampak luar biasa bagi siswa.

“Semakin lamapendidikan budi pekerti itu makin luntur.Oleh karenanya siswa-siswiini juga harus bisa dididik lebih mendalam lagi terhadap budi pekerti.Baik mulai budi pekerti antarsesama siswa hingga kepadaguru dan orang tua,” katanya.

Ia katakan, rutinitas bersalaman sebelum masuk kelas, menurutnya juga bisa menjalin keakraban dan komunikasi antarsiswa.

“Namun, untuk acara salam-salaman ketika akan masuk kelas ini, tentunya kami bagi. Yakni, peserta didik perempuan dengan perempuan, begitupun dengan yang laki-laki, sengaja kami pisahkan,” ungkapnya.

Dirinya berharap, cara-cara seperti ini bisa membangun pendidikan moral siswa, sehingga nantinya tidak hanya diterapkan siswa di sekolah saja, namun juga ketika di dalam keluarga atau lingkungan sekitar.

Editor : Kholistiono

Rawan Masalah, Peralihan Kewenangan Pengelolaan SMA/SMK di Grobogan Harus Dipersiapkan

uplod jam 21 00 rawan masalah (e)

Anggota Komisi E DPRD Jateng Muh Zen ADV menyampaikan beberapa catatan saat memimpin kunjungan kerja di SMAN 1 Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Peralihan kewenangan pengelolaan sekolah SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota ke Pemprov Jateng perlu dipersiapkan dengan serius. Sebab, peralihan kewenangan pengelolaan per 1 Januari 2017 itu akan memunculkan banyak persoalan.

“Seperti kita ketahui, jumlah SMA/SMK negeri maupun swasta se-Jawa Tengah ini sekitar 2.000 sekolah. Sementara jumlah gurunya baik yang PNS atau swasta mencapai 40.000 orang,” ungkap Anggota Komisi E DPRD Jateng Muh Zen ADV saat memimpin kunjungan kerja di SMAN 1 Purwodadi, Selasa (12/4/2016).

Ikut hadir dalam kesempatan itu, Asisten III Pemkab Grobogan Mokh Nursahi, Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono dan Kepala Kemenag Grobogan Moh Arifin. Terlihat pula, Kasi Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Bambang Supriyono. Kepala Sekolah SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat terlihat pula dalam kesempatan itu.

Terkait adanya kebijakan tersebut, Muh Zen meminta agar dilakukan persiapan sebaik mungkin. Seperti inventarisasi Personel, Pendanaan, Sarana dan Prasarana serta Dokumen (P3D). Kemudian, serah terima personel, sarana dan prasarana serta dokumen (P2D) paling lambat tanggal 2 Oktober 2016.

“Hasil inventarisasi P3D ini akan jadi dasar untuk penyusunan anggaran tahun 2017 mendatang. Jadi, masalah inventarisasi ini harus dilakukan dengan cermat agar penyusunan anggaran bisa tepat,” kata poltisi dari PKB itu.

Selain soal peralihat kewenangan pengelolaan SMA/SMK, Muh Zen juga sempat menyinggung soal pelaksanaan ujian nasional. Yang mana, dia berharap agar nantinya semua SMA/SMK bisa menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

“Kita harapkan, semua sekolah SMA/SMK bisa laksanakan UNBK. Namun, salah satu hal yang perlu dipikirkan bersama adalah penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya, khususnya komputer,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Kakemenag Kudus Apresiasi Semangat Ahmad yang Tetap Ikut UAMBN Meski Sedang Dirawat di Rumah Sakit

upload jam 1820  UAMBN 2 (e)

Ahmad Choiruddin, siswa MTs NU Alhidayah sedang mengerjakan soal ujian di rumah sakit (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Semangat Ahmad Choiruddin, yang mengikuti ujian akhir madrasah berstandar nasional (UAMBN) dengan kondisi sakit mendapat apresiasi dari Kepala Kemenag Kudus Hambali. Meski mendapatkan perawatan di rumah sakit, namun, siswa MTs NU Alhidayah Gebog Kudus ini masih tetap mengikuti UAMBN.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kudus Hambali mengatakan, pihaknya melihat, Ahmad masih semangat mengerjakan ujian. Bahkan, Ahmad sangat serius mengerjakan soal meski harus dengan susah payah.

“Kehadiran kami di sini, untuk memberikan semangat. Jadi meski di rumah sakit, tidak usah minder. Tetap semangat dan kami mendukung semangat Ahmad,” katanya usai meninjau Ahmad Choiruddin di rumah sakit siang tadi.

Menurutnya, dari keterangan orang tuanya, Ahmad meminta sendiri mengerjakan UAMBN di rumah sakit. Padahal, sebenarnya siswa yang berhalangan diperbolehkan untuk mengikuti UAMBN susulan. Namun, semangat siswa MTs ini, menurutnya dapat dijadikan contoh bagi siswa lainnya, khususnya yang mengerjakan ujian di sekolah

Dia mengatakan, dokter yang menanganinya juga mengizinkan Ahmad mengerjakan soal. karena kondisinya sudah membaik, meski siswa tersebut masih merasakan sesak didadanya, sehingga dibantu oksigen.

“Kalau memang tidak kuat mengerjakan ujian tidak perlu dipaksa, bisa ikut susulan. Untuk siswa yang lain juga harus tetap menjaga kesehatan. Istirahat itu penting, karena sebentar lagi juga akan menghadapi UN,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Sakit Jantung, Siswa MTs NU Alhidayah Gebog Kudus Kerjakan Soal UAMBN di Rumah Sakit

upload sekarang UAMBN (e)

Ahmad Choiruddi mengerjakan soal UAMBN di rumah sakit (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Satu siswa dari MTs NU Alhidayah Gebog, Kudus, terpaksa mengerjakan ujian akhir madrasah berstandar nasional (UAMBN) di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus. Ahmad Choiruddin, menjalani perawatan sejak Senin (11/4/2016) malam karena menderita penyakit jantung dan sesak nafas.

Selang infus terlihat tertempel di tangan, sedangkan di hidungnya juga terdapat selang untuk membantu pernafasan, namun ia terlihat tetap berkonsentrasi mengerjakan soal-soal UAMBN. Ahmad mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal di hari kedua UAMBN ini.

“Agak pusing dan nafas saya masih agak sesak. Tapi, pelan-pelan saya coba kerjakan, yang penting selesai. Daripada ikut ujian susulan, malah harus mengulang pelajaran kembali,” ungkapnya.

Sementara itu, orang tua Ahmad Choiruddin, yakni Supardi mengatakan, jika anaknya sakit baru-baru ini. “Sakitnya termasuk baru, yakni menjelang UAMBN tepatnya Kamis (7/4/2016) lalu,” kata Supardi kepada MuriaNewsCom.

Supardi yang berasal dari Kendal tersebut mengatakan, anaknya sekolah di Kudus sambil mondok. Sebelum pelaksanaan UAMBN, beberapa hari lalu anaknya sempat pulang ke Kendal dan sempat mendapatkan rawat jalan. Kemudian, pada Minggu (10/4/2016) katanya anaknya sudah mendingan, dan kembali ke Kudus untuk ikut UAMBN.

Namun, ketika usai mengikuti UAMBN pada hari pertama, ternyata kondisi memburuk lagi, dan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sehingga pada hari kedua dan ketiga UAMBN ini, anaknya mengerjakan ujian di rumah sakit.

Editor : Kholistiono

Soal-soal UNBK Disebut Lebih Sulit Ketimbang Try Out

upload jam 1620 UN (e)

Devi Khofianida, siswi SMA 2 Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – SMA 2 Kudus kali pertama melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) pada 2016 ini. Meski berjalan lancar, namun, beberapa peserta mengaku cukup kesulitan mengerjakan soal UNBK. Soal-soal yang diujikan dinilai lebih sulit ketimbang contoh-contoh soal yang dipakai pada saat try out.

Devi Khofianidamisalnya, siswi SMA 2 Kudus ini mengungkapkan, jika dirinya harus bekerja ekstra untuk bisa menyelesaikan soal-soal UNBK. Bahkan, waktu yang tersedia hampir digunakan semuanya. Sekitar 2-10 menit batas akhir waktu yang diberikan, dirinya baru selesai mengerjakan soal.

“Biasanya 10 atau lima menit sebelum batas akhir baru selesai mengerjakan. Tapi hampir dua jam selalu berpikir keras, karena soal yang memang susah. Soal-soal ini berbeda jauh dengan try out yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kata dia, soal yang digunakan untuk try out, berasal dari sekolah dan naskah soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Namun, soal-soal yang ada di try out dinilai lebih mudah.

Melihat soal yang susah dikerjakan, dia tidak yakin bisa dapat hasil maksimal sesuai target. “Kalau lulus yakin lulus, tapi hasil UN belum tahu karena soalnya susah,” ungkapnya.

Sementara, Sekretaris Disdikpora Kudus Hartono mengungkapkan, naskah soal ujian berbeda dari satu peserta dengan lainnya. Namun, perbedaan soal tidak diketahui, lantaran sangat rahasia.

“Apalagi UNBK, tidak bisa bocor soalnya. Jadi tidak tahu mana soal yang sama atau berbeda semuanya. Sebab UN kali ini melatih kejujuran,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

3 Siswa UN Susulan di MAN 2 Kudus

ujian tyg pkl 2230 wib (e)

Siswa tengah mengerjakan ujian belum lama ini. Sedangkan siswa lainnya harus mengerjakan UN susulan karena sakit sebelumnya. (MuriaNewsCom/FAISOL HADI)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksaan UN susulan yang berlangsung mulai hari ini, dilaksanakan di dua sekolah. Dari lima siswa yang melakukan UN susulan, tiga di antaranya melakukan ujian di MAN 2 Kudus.

Ketua Sub Rayon 05 yang juga Kepala MAN 2 Kudus H A Rif’an mengatakan, di sekolahnya memang ada tiga siswa yang tengah melaksanakan UN susulan.

Untuk siswa MA Muhammadiyah dan MA NU TBS hanya mengikuti UN susulan pada hari ini saja. ”Sedang siswa dari MAN 2 akan mengikuti UN susulan selama tiga hari. Hari pertama ini, mereka mengerjakan materi Bahasa Indonesia dan Geografi untuk IPS,” katanya.

Menurutnya, pihak sekolah sudah mempersiapkan satu ruang yang sudah disiapkan untuk UN susulan tersebut. Sedangkan untuk pengawas, sesuai dengan aturan tetap menggunakan pengawas silang.

Sementara untuk siswa MA Nurul Ulum, melaksanakan UN susulan di sekolahnya. Hal itu dilakukan lantaran MA itu masuk dalam Rayon Tiga.

Dalam mengerjakan UN, siswa mengerjakannya dengan sistem manual. Karena untuk di sub rayonnya memang tidak ada yang menggunakan sistem UNBK (Ujian Nasional BBerbasis Komputer).

Mereka yang mengikuti UN susulan ini, menurut Rif’an, sebelumnya saat UN utama lalu tengah sakit, sehingga harus ikut UN susulan.

”Kebetulan sakit yang diderita, membuat mereka tidak bisa mengikuti UN lalu. Sehingga terpaksa ikut UN susulan kali ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Alumni Qudsiyyah Berharap Santri Bisa Meniru KHR Asnawi

satu abad qudsiyyah-tyg pkl 2200 wib (e)

Kesenian bernuansa islami diajarkan di Madrasah Qudsiyyah Kudus. Ini sebagai bekal mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari, di samping ilmu yang sudah didapat selama ini. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada banyak sekali alumni santri dari Madrasah Qudsiyyah Kudus. Mereka memiliki harapan tersendiri pada satu abad peringatan madrasah tersebut.

Salah satu alumni Qudsiyyah Kudus Gus Apank mengatakan, dirinya berharap semua santri aktif maupun lulusan Qudsiyyah, bisa meniru perilaku KHR Asnawi.

”Bila kita contohkan, kedua album yang berjudul Khudz Badala dan ‘Isy Ghotthi yang diciptakan guru Qudsiyyah bernama Syaifudin Luthfi tersebut, merupakan arahan bagi semua santri yang ada,” paparnya.

Menurutnya, album yang berjudul Khudz Badala atau yang berarti ”Carilah Penggantiku” ini, merupakan mengisahkan Madrasah Qudsiyyah. Di mana album itu merupakan doa serta perjuangan para guru, yang berjuang di madrasah ini maupun di luar madrasah.

”Sehingga setiap santri harus bisa mempertahankan ilmu yang diberikan oleh bapak guru. Dan harus ikut tuntunan yang disampaikan KHR Asnawi sebagai pendiri madrasah,” tuturnya.

Sedangkan album yang berjudul Isy Ghotthi intinya ialah untuk mengenang KHR Asnawi sebagai guru bangsa. Baik itu sebagai tokoh ulama pendiri NU maupun sebagai pengajar atau pemuka agama.

”Yang terpenting ialah bagaiamana para santri ini bisa terus melanggengkan kebaikan, melalui ilmu yang sudah didapatnya saat masih duduk di Qudsiyyah. Selain itu juga bisa mengamalkan kepada masyarakat, bahwa ilmu pemberian dari guru dan ulama ini dapat bermanfaat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ajaran dari guru atau ulama yang sudah diberikan kepada santri, memang akan bisa bermanfaat, bilamana mereka dapat mengamalkan kepada masyarakat yang ada.

”Sebab bekal ilmu agama ini memang penting untuk sebagai penyeimbang ilmu pengetahuan di saat modernisasi zaman,” imbuhnya.

Editor: Merie

5 Siswa Ikuti UN Susulan

ujian susulan-tyg 1930 wib (e)

Siswa mengerjakan ujian nasional beberapa waktu lalu. Terdapat lima siswa yang harus mengikuti ujian susulan. (MuriaNewsCom/FAISOL HADI)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak lima siswa di Kudus, mengikuti UN susulan. Dari Kelima siswa tersebut, empat di antaranya mengikuti UN susulan hari ini.

Ketua Panitia UN Kabupaten Kudus Hartono mengatakan, di Kudus terdapat lima siswa yang mengikuti UN susulan. Yakni empat siswa dari MA dan satu siswa dari SMK.

Untuk tingkat MA, mereka berasal dari MAN 2 Kudus satu siswa, MA Muhammadiyah satu siswa, MA NU TBS satu siswa, dan MA Nurul Ulum satu siswa. Sedangkan peserta UN susulan dari SMK, dari Ma’arif dengan jumlah satu siswa.

”Untuk yang MA melakukan UN susulan hari ini. Hal itu sesuai dengan jadwal UN susulan yang juga telah diedarkan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (11/4/2016).

Menurutnya, khusus untuk SMK Ma’arif karena melaksanakan UN dengan sistem UNBK, maka untuk UN susulan yang juga menggunakan UNBK, akan dilaksanakan dari tanggal 18-20 April mendatang.

Hal itu disebabkan, hingga kini masih berlangsung UNBK yang bertempat di Ma’arif, serta 17 SMK di Kudus. Untuk itu, peserta dari SMK diminta lebih bersabar untuk menunggu.

”Mudah-mudahan berjalan dengan lancar. Baik susulan maupun tidak susulan, soalnya sama saja. Jadi tidak ada pembedaan,” ungkapnya.

Editor: Merie

SDN Slungkep 02 Kayen Prioritaskan Pembelajaran Berbasis Lingkungan

uplod jam 22 00 SD basis lingkungan (e)

Koordinator Dewan Juri Lomba Gugus Sekolah, Kadis tengah melakukan penilaian di SDN Slungkep 02 kayen sebagai sekolah inti dari Gugus Ki Hajar Dewantara. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati SD Negeri Slungkep 02 Kayen Pati saat ini tengah memprioritaskan pembelajaran berbasis lingkungan. Hal itu dikatakan Kepala SDN Slungkep 02 Subadi, usai mengikuti penilaian lomba gugus sekolah tingkat kabupaten, Selasa (5/4/2016).

“Kolaborasi antara tenaga pendidik dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas. Karena itu, peran serta masyarakat terhadap dunia pendidikan sudah lama kami terapkan,” ujar Subadi kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, pihaknya juga akan menekankan pembelajaran berbasis lingkungan. Dengan begitu, murid tidak akan jenuh belajar di dalam ruang kelas. “Lingkungan di sekitar sudah kami tata, mulai dari bak sampah, taman, hingga pengolahan sampah,” tuturnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kata dia, sejumlah murid tak segan terjun langsung di sawah untuk menanam padi. Mereka juga diajarkan untuk mencintai tanaman dan aktivitas penghijauan.

Secara terpisah, Koordinator Dewan Juri Lomba Gugus Sekolah, Kadis mengatakan, SDN Slungkep 02 sebagai sekolah inti Gugus Ki Hajar Dewantara yang membawahi sekitar tujuh SD imbas sudah sangat baik dan memenuhi kriteria sebagai sekolah terbaik. Hanya, pihaknya belum bisa memutuskan sekolah gugus mana yang terbaik di Kabupaten Pati.

“Ini baru putaran kedua. Penilaian pertama dilakukan di Kawedanan Tayu, kedua di Kayen yang diwakili SDN Slungkep 02. Ini baru kedua. Selanjutnya akan bertahap di Kawedanan Jakenan, Juwana, dan Pati,” imbuhnya.

Ia menambahkan, sekolah inti harus mampu menggandeng sekolah imbas supaya setidaknya bisa mendekati. Pasalnya, penilaian bukan hanya dilakukan di sekolah inti saja, tetapi juga sekolah imbas. “Itulah tujuan dari gugus sekolah biar SD lainnya ikut maju seperti sekolah yang sebelumnya sudah maju,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Siswa SD Slungkep 02 Pati Bangga Makanan Lokal http://www.murianews.com/2016/04/05/77869/siswa-sd-slungkep-02-pati-bangga-makanan-lokal.html

Petugas PLN “Ngawasi” UN di Grobogan

uplod jam 13

Petugas PLN mengawasi aliran listrik di salah satu Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Grobogan ternyata tidak hanya membuat sibuk jajaran dinas pendidikan saja. Tetapi juga petugas PLN area Purwodadi.

Mereka juga ikut sibuk “mengawasi” yakni hanya memonitor jaringan listrik di sekolah yang menyelenggarakan UN. Khususnya, sekolah yang menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Dari pantauan di lapangan, beberapa petugas PLN sempat melakukan pemeriksaan jaringan listrik di SMAN 1 Purwodadi. Yakni, setelah ujian sesion I selesai. Tindakan itu dilakukan guna menjamin pelaksanaan ujian berjalan lancar.

“Untuk pelaksanaan ujian kita memang menjalin kerjasama dengan PLN untuk memastikan aliran listrik tidak ada gangguan selama ujian berlangsung. Selain itu, sebagai upaya berjaga-jaga kami juga sudah menyediakan genset besar yang operatornya siaga penuh selama jam ujian,” kata Kepala Sekolah SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat.

Menurutnya, pada hari pertama ini mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Pelaksanaan ujian dibagi tiga sesi. Masing-masing sesi diikuti 120 siswa.

“Jumlah siswa yang ikut ujian ada 360 orang. Sementara kapasitas komputer ada 120 unit yang ditempatkan pada tiga ruangan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Hari Ini, 11.031 Siswa di Kudus Ikuti UN

F-upload sekarang UN (e)

Tulisan yang menandakan sedang ada UN (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 4432 siswa tingkat sekolah menengah atas (SMA) sederajat di Kabupaten Kudus terdaftar mengikuti ujian nasional (UN) hari ini (4/4/2016).

“Total jumlah siswa yang terdaftar sebagai peserta UN sebanyak 11.031 orang. Jumlah itu terdiri dari SMA sebanyak 3.014 siswa yang terdapat di 17 sekolah, kemudian untuk MA ada 3.692 orang yang terdapat di 36 sekolah, SMK ada 26 sekolah dengan siswa sebanyak 4.320 siswa dan SMALB hanya satu sekolah dengan 5 siswa. Sehingga, total siswa ada 11.031 orang,” katanya Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jumlah tersebut belum termasuk paket C. Karena, untuk jumlah paket C sendiri peserta UN mencapai 855 orang.

Untuk UN tahun ini, katanya, menggunakan ruangan sebanyak 425. Untuk per ruangannya, diisi 20 peserta UN.

Sedangkan pengawas UN yang ditempatkan di setiap ruangan, jumlahnya mencapai 850 orang. Model pengawasan yang dilakukan, yang dengan metode pengawas silang. Yakni, satu sekolah dengan sekolah lainnya yang sebelumya sudah ditentukan.

“Tahun ini jadwal pelaksanaan UN untuk SMA dan MA sama dengan tahun sebelumnya, yakni selama tiga hari, yaitu 4-6 April. Sedangkan untuk SMK ditambah satu hari, sehingga jumlahnya mencapai empat hari pelaksanaan,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Kadisdik Jateng : Jika Ada SMA/SMK yang Tak Mau Dikelola Provinsi, Itu Melanggar Undang-undang

Sekolah

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, beberapa kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten diserahkan kepada pemerintah provinsi. Salah satunya adalah pengelolaan pendidikan menengah.

Pengelolaan SMA dan SMA negeri yang dilakukan provinsi, itu bakal dilakukan pada awal 2017 nanti. Jika ada sekolah yang menolak, hal tersebut jelas melanggaran aturan yang berlaku.

“Kalau ada yang menolak, berarti ya melanggar undang-undang, dan itu merupakan contoh warga negara yang tidak baik,” kataKepala Dinas Pendidikan Jateng Nur Hadikepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa waktu yang lalu sempat terdengar kabar kalau ada sekolah yang menolak dikelola provinsi. Bahkan, aksi unjuk rasa dilakukan terkait kebijakan tersebut.

Hanya, dirinya memastikan jika hal itu bukan keinginan dari siswa untuk menolak, melainkanterdapat oknum yang bertindak demikian.

“Siswa sepakat dengan aturan baru itu. Di twitter pribadi saya, ada yang bilang kalau mereka mendukung. Itu adalah twitter milik siswa lho. Jadi tidak ada masalah sebenarnya,” ujarnya

Sementara di Kudus, Disdikpora Kudus mendukung progam atau kebijakan tersebut. Bahkan, sejak jauh hari syarat untuk peralihan pengelolaan berupa pendataan aset dan fasilitas sekolah sudah diserahkan ke porivinsi.

“Sudah diserahkan, kita ikuti aturan dari pemerintah. Pendataan sudah selesai, dan sudah diserahkan. Tinggal menunggu saja pelaksananya,” kata Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo.

Editor : Kholistiono

Ini Pesan Kadinas Pendidikan Grobogan Pada Peserta Ujian Nasional

upload besok pagi jam 8 un (e)

Pengecekan paket soal UN ketika tiba di Disdik Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan Terkait bakal dilangsungkannya ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat, 4-6 April 2016, Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono menyampaikan beberapa imbauan khusus pada peserta.

Salah satu hal yang ditekankan adalah, para siswa diminta tidak mudah percaya pada pihak-pihak tertentu yang mengaku punya kunci jawaban soal UN.

“Isu soal adanya kunci jawaban soal ini biasanya muncul menjelang pelaksanaan UN. Untuk itu, saya minta anak-anak maupun orang tua agar tidak percaya dengan hal ini,” katanya.

Karsono meminta agar para siswa konsentrasi penuh dalam belajar dan tidak perlu dibebani rasa ketakutan tidak bisa mengerjakan soal. Jika belajar dengan baik maka kesempatan untuk bisa mengerjakan soal UN sangat terbuka.

Untuk itu, Karsono juga meminta pada orang tua agar ikut memantau aktivitas belajar putra-putrinya.

“Manfaatkan waktu yang masih tersisa ini untuk belajar. Kepada orang tua saya juga minta untuk memantau anak-anaknya,” ujar Karsono.

Disinggung jumlah siswa SMA sederajat yang akan ikut UN, Karsono menegaskan, total ada 12.290 siswa. Jumlah ini, didalamnya sudah termasuk 648 siswa kejar paket C dan 4 siswa SMA luar biasa.

Editor : Kholistiono

Ini yang Dilakukan Agar Sejarah Qudsiyah Kudus Tidak Terputus

qudsiyah upload jam 23 (e)

Siswa melakukan ziarah ke Makam KHR Asnawi (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus  Ada beberapa cara agar sejarah Qudsiyah Kudus tidak terputus begitu saja pada generasi penerus. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan mengenalkan kepada siswa mengenai perjalanan panjang mengenai awal berdirinya Madarasah Qudsiyah.

Pada peringatan Satu Abad Qudsiyah, pihak panitia mengajak siswa untuk melakukan ziarah ke Makam KHR Asnawi, yang merupakan pendiri Madrasah Qudsiyah. Hal ini, supaya siswa tahu tokoh-tokoh dan pendiri Madrasah Qudsiyah.

Panitia penyelenggara peringatan Satu Abad Qudsiyah Abdul Jalil mengatakan, sejarah Qudsiyah memang perlu dikenalkan kepada siswa, sehingga siswa bisa tahu mengenai siapa tokoh pendirinya, ataupun perjalanan Qudsiyah dari masa ke masa.

“Kita mencoba mengenalkan mengenai sejarah Qudsiyah ini kepada siswa dan juga masyarakat, baik dari awal berdirinya maupun hingga kini,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, untuk mengetahui mengenai sejarah Qudsiyah, siswa ataupun masyarakat juga bisa melihat dokumen-dokumen mengenai madrasah yang dipasang secara terbuka. Sehingga, siswa bisa melihat dan membaca mengenai sejarah Qudsiyah.

Dirinya juga mengatakan, jika peringatan Satu Abad Qudsiyah bukan semata untuk seremonial saja, namun, yang lebih penting dari itu yakni untuk mengenalkan kembali Qudsiyah ini berdiri hingga sekarang.

Faza, siswa Qudsiyah mengatakan, senang bisa ikut kegiatan bertajuk Satu Abad Qudsiyah bersama dengan teman-temannya. “Senang, jadi bisa ikut meramaikan kegiatan 100 tahun Qudsiyah. Apalagi acaranya besar,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Pri GS: Kita Rindu Kiai Kharismatik

upload jam 1830 qudsiyah (e)

Tiga orang pembicara yang hadir dalam acara bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah, Sabtu (2/4/2016) (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sosok kiai, terutama kiai sepuh yang kharismatik, rupanya bisa membuat seseorang makin mencintai kearifan lama.

Hal itu disampaikan budayawan Prie GS, yang hadir sebagai pembicara dalam bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus, di @hom Hotel, Sabtu (2/4/2016).

Prie mengatakan ada banyak contoh dari para kiai sepuh di Kudus, yang mampu membuat semua orang menghargai kearifan lokal.

“Contoh saja bagaimana romantisme para kiai itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sangat luar bagaimana memperlakukan mulai dari keluarga sampai warganya dengan luar biasa. Itu yang perlu kita contoh,” jelasnya.

Melacak sejarah guru-guru besar dalam hal ini para kiai, menurut Prie, dapat menyembuhkan diri kitab dari hal-hal negatif.

“Ajaran kiai-kiai sepuh itu mampu membuat kita kembali, kepada kearifan lama yang sangat bagus,” katanya.

Dan Prie menegaskan bahwa pesantren,  adalah benteng terakhir dalam melawan penjajahan yang semakin hari semakin banyak yang muncul.

“Penjajahan itu masuk semakin sering dan banyak. Baik lewat lidah, tata ruang dan lain sebagainya. Contoh ruko-ruko yang banyak dibangun sekarang. Itu penjajahan. Dan tidak perlu orang pintar untuk membuat ruko. Wong, cuma kotak-kotak begitu. Tidak ada estetika,” paparnya.

Membicarakan pesantren, menurut Prie, adalah membicarakan persoalan kultural. Dan persoalan kultural adalah yang paling dirindukan saat ini.”Dan kita memang sangat rindu untuk berbicara, berdiskusi, dan memiliki hal-hal kultural itu,” imbuhnya.

Editor: Merie