Selain DB, 1 Siswa MI Muhammadiyah Kudus Juga Diserang Typus

Para peserta Ujian Sekolah serius mengerjakan ujian. (MuriaNewsCom)

Para peserta Ujian Sekolah serius mengerjakan ujian. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinda Hamidah ternyata bukan satu satunya siswa di MI Muhammdiyah yang sakit dalam menghadapi ujian. Namun ada satu anak lagi yang sakit typus saat mengikuti ujian, yakni Amalia Khansa.

”Kalau Amalia rawat jalan, dan keduanya sudah ada surat keterangan dokter diperkenankan ikut US,” kata kepala MI Muhammdiyah 1 Kudus Saiful Umam, Kamis (18/5/2016)

Terkait hal itu,  ada pengawasan khusus yang disiapkan pihak sekolah seperti diberi dispensasi tidak ikut les. Karena, siswa lainnya setelah US masih ada les untuk persiapan ujian madrasah (UM).

Saiful menjelaskan, sebelum US ada ujian UM yang dilaksanakan Jumat (13/5/2016) dan Sabtu (14/5/2016) lalu. Dan, dilanjutkan Kamis (19/5/2016) sampai Sabtu (21/5/2016).

Dia menambahkan, Biasanya jadwal UM tidak bebarengan dengan US, hal ini dikarenakan bulan Juni sudah puasa sehingga dipadatkan. Hal itu juga yang membuat siswa lebih padat dalam proses pembelajaran.

Berserakan informasi yang didapat, peseta absen dalam US sejumlah empat siswa. Semuanya lantaran sakit sehingga akan mengikuti ujian susulan.

Editor: Supriyadi

Catat, Uji Kompetensi Siswa SMK Jadi Tiket VIP untuk Mendapat Pekerjaan

Puluhan saat siswa  mengikuti seminar beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Puluhan saat siswa mengikuti seminar beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain unggul dengan banyaknya jurusan unggulan SMK di Kudus, para pelajar juga dibekali dengan sertifikasi yang diperoleh setelah menyelesiakan uji kompetensi. Hal itu akan membantu para lulusan supaya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Noor Yasin mengatakan, dengan uji kompetensi akan mencatatkan para siswa ke dunia perusahaan. Sebab dengan adanya uji kompetensi sudah diakui dengan adanya sertifikat. Sehingga para siswa memiliki kemampuan lebih.

”Sekarang prosesnya sudah berjalan. Jadi terdapat siswa yang melakukan uji kompetensi untuk bisa mendapat pekerjaan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, tidak semua siswa yang diberikan keistimewaan itu. Melainkan hanya beberapa siswa yang dianggap unggul dan berpotensi. Hal itu berkaitan dengan anggaran yang disiapkan yang terbatas.

Selain itu, dalam melakukan uji kompetensi juga memakan waktu yang tidak sebentar. Sehingga siswa yang di uji juga siswa yang dipilih dan dianggap memiliki kompetensi

”Penilaiannya juga bukan sembarangan. Melainkan sebuah tim atau badan yang langsung dibentuk oleh kementrian. Hal itu jelas menjadi profesional, sehingga bakal mudah diterima perusahaan,” tegasnya.

Meski tidak semua mendapatkan fasiltas. Namun lulusan SMK di Kudus sangat mudah terserap. Bahkan, 80 persen lulusan dan siswa yang masih dibangku sekolah sudah dipesan untuk menjadi tenaga kerja profesional.

Editor: Supriyadi

Peserta UN Paket B di Kudus Ini Kerjakan Ujian Sambil Menyusui

Para peserta UN Paket B mengerjakan soal UN di TPQ Desa Garung Kidul. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para peserta UN Paket B mengerjakan soal UN di TPQ Desa Garung Kidul. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Semangat belajar yang ditunjukkan peserta paket B di LKBM Karangturi patut diacungi jempol. Ini antaran dalam mengikuti ujian yang dilangsungkan di TPQ Desa Garung Kidul tersebut sampai membawa anak untuk disusui.

Hal itu disampaikan ketua LKBM Karangturi Hadi Prawoto. Menurutnya dalam mengikuti ujian para peseta sangat semangat dan serius. Seperti halnya peserta asal desa setempat yang sampai membawa anak untuk mengikuti ujian.

”Ada tadi, ibu-ibu yang membawa anaknya. Bahkan sampai menyusui dulu sebelum mengerjakan soal, hingga akhirnya adiknya mengajak pulang sang bayi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Pihak pengelola memperbolehkan hal itu lantaran tidak menunggu. Itu pun tidak lama dan langsung mengerjakan soal seperti peserta lainnya.

Dia mengatakan, rata rata peserta UN Paket B kisaran usia 30an. Mereka yang bergantung memilih paket B bervariatif, ada yang alasan ekonomi, pekerjaan dan ada pula yang dikeluarkan lantaran kenakalan waktu sekolah.

Meski demikian, hal itu sudah tidak ditunjukkan lagi. Sebab para peserta sangat serius mengikuti paket B itu. Hal itu juga ditunjukkan dengan kepatuhan yang dilaKukan oleh para peseta.

”Mereka diminta membawa sepatu ya dibawa, diminta memakai seragam ya pada memakai seragam. Mereka sangat serius,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, kata dia sedikit nya 80 persen peserta juga berencana melahirkan ke paket C. Dia berharap semuanya dapat melanjutkan serta ilmu dan ijazah yang didapat dapat bermanfaat.

Editor: Supriyadi

Santri Qudsiyyah Kudus Dituntut Mandiri

Logo-Satu-Abad-Qudsiyyah-1-1024x700

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Menjadi lulusan yang bisa mengharumkan nama sekolah memang sebuah kebanggan tersendiri bagi para pendidik dan siswa itu sendiri. Namun kebanggan itu bukan berarti bersifat mendapatkan hadiah atau penghargaan di bidang akademik atau sejenisnya.

Akan tetapi kebanggaan para guru terhadap murid itu bisa berupa sikap kemandirian, atau karakteristik yang menonjol pada diri siswa yang baik di kehidupan masyarakat.

Oleh sebab itu, pada acara 100 tahun Qudsiyyah ini, para santri diharapkan tetap meneguhkan kemandirian dan harus mempunyai karakter yang berbeda dari santri lainnya. Sehinga dalam acara tersebut bakal menggelar diskusi tentang “Menjadi Santri Mandiri dan Berkarakter”.

Sekertaris 100 tahun Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, kegiatan halaqah atau diskusi tentang santri mandiri dan berkarakter ini merupakan cara untuk meneguhkan jiwa santri.”Supaya meraka bisa mandiri baik itu ekonomi dalam hal ini mengedepankan gusjigang,” paparnya.

Diketahui, diskusi tersebut bakal digelar pada Senin tanggal 25 Juli 2016 di hotel @home Kudus. Selain itu juga akan dihadiri santri Qudsiyyah maupun alumni Qudsiyyah.

“Setidaknya bila diskusi tentang kemandirian santri dan karakteristik santri, maka akan bisa memberikan pengetahuan bahwa santri Qudsiyyah juga bisa bersaing dengan lulusan manapun dan bisa berhasil sesuai kemampuan atau intelektualnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Siswa Madrasah di Kudus, Tolong Jangan Remehkan UAMBN

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Para peserta UAMBN Kudus, nampaknya harus tetap serius mengerjakan garapan soal ujian madrasah kali ini. Sebab, hasil yang keluar nanti dapat mempengaruhi hasil kelulusan

Kasi Pendidikan Madrasah pada kantor Kemenag Kudus Suudi mengatakan, pihaknya sudah memberikan informasi kepada sekolah terkait hal itu. Pihak sekolah juga memberitahu siswa untuk lebih serius dalam mengerjakannya.

“Hasilnya dapat mempengaruhi hasil UN. Sehingga semakin bagus hasil ujian madrasah maka bagus pula hasil UN,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya hasil dari UN yang menentukan kelulusan adalah gabungan dari hasil mata pelajaran lainnya. Termasuk pula dengan hasil ujian madrasah yang juga mempengaruhi hasil UN.

Dia menambahkan, pada ujian madrasah kali ini juga, akan dilakukan ujian susulan. Hal itu dapat diikuti untuk yang tidak bisa mengikuti ujian madrasah pada jadwal yang ditentukan.

“Untuk ujian madrasah susulan tingkat MA, dilaksanakan pada 21 dan 22 Maret ini. Sedangkan untuk tingkat MTs, susulan dilaksanakan pada 18 hingga 20 April,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Wali Murid TK Pertiwi Sambung Undaan Kudus Pegang Peran Penting Dalam Segala Hal

Suasana TK Pertiwi Sambung Undaan Kudus sebelum memasuki ruang kelas menggelar doa bersama dengan wali murid. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana TK Pertiwi Sambung Undaan Kudus sebelum memasuki ruang kelas menggelar doa bersama dengan wali murid. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Wali murid TK Pertiwi Sambung Undaan memang rutin menggelar doa bersama setiap pagi. Selain itu, wali murid juga memegang peran penting dalam sekolah. Yakni menjadi panitia kegiatan yang diadakan sekolah. Baik itu kegiatan tahunan, atau kegiatan lainnya.

Kepala TK Pertiwi Sambung Undaan Siti Umroh mengutarakan, peran penting itu ialah kegiatan rekreasi, kartinian, atau lomba-lomba. ”Dalam kegiatan itu pihak TK menyerahkan sepenuhnya kepada wali murid sebagai panitianya,” paparnya.

Dia menilai, kepanitiaan yang dipegang wali murid tersebut dimaksudkan untuk bisa terbuka dan transparansi. Selain itu juga mengakrabkan wali murid satu dengan lainnya.

”Inti dari kegiatan kepanitiaan yang dipegang wali murid ialah agar mengakrabkan wali murid dan keterbukaan publik,” ujarnya.

Hal senada juga dibenarkan oleh wali murid, Istiqomah (44). Dia mengatakan, kegiatan yang berupa piknik, Hari Kartini atau lomba jika dikelola wali murid maka bisa merekatkan suasana. ”Baik itu hubungan emosional wali murid dengan anak didik tambah sejuk, wali murid dengan guru tambah akrab bagaikan saudara,” tegasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tak Sekadar Menunggui Anaknya, Orang Tua di TK Pertiwi Sambung Juga Dilibatkan untuk Berdoa Bersama

Puluhan wali murid TK pertiwi Sambung Undaan Ikut berdoa bersama membaca Asmaul Husna sebelum pelajaran dimulai. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Puluhan wali murid TK pertiwi Sambung Undaan Ikut berdoa bersama membaca Asmaul Husna sebelum pelajaran dimulai. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Orang tua dari anak-anak yang bersekolah di TK Pertiwi Sambung, Kecamataan Undaan, Kudus, dilibatkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Salah satunya ketika sebelum pelajaran dimulai, orang tua juga diajak berdoa bersama-sama dengan anak dan guru.

Kepala TK Pertiwi Sambung Siti Umroh mengatakan, orang tua diajak bersama membaca Asmaul Husna. Hal ini, katanya, sudah dilakukan semenjak dua tahun silam. “Wali murid di sini, ketika pelajaran akan dimulai, ikut berdoa bersama membaca Asmaul Husna,” katanya.

Menurutnya, ketika mengantarkan dan menunggui anaknya di sekolah, orang tua tidak hanya duduk dan ngobrol di sekolah. Tapi, mereka juga ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

Ia katakan, pihaknya menyediakan ruangan untuk orang tua, untuk bersama-sama berdoa ketika pelajaran akan dimulai. Hal ini, menurutnya sangat positif untuk kelancaran proses belajar dan kemanfaatan ilmu bagi anak-anak.

Dirinya berharap, dengan hal seperti ini dapat memberikan aura positif bagi perkembangan pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.

Editor : Kholistiono

Perpustakaan di MI NU Bahrul Ulum Kudus Dimanfaatkan jadi Klinik Belajar

Beberapa siswa sedang belajar di perpustakaan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa siswa sedang belajar di perpustakaan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan perpustakaan di MI NU Bahrul Ulum Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus tidak hanya menjadi jujugan siswa untuk membaca buku saja. Namun, perpustakaan di tempat itu juga dimanfaatkan sebagai klinik belajar.

Kepala MI NU Bahrul Ulum Kholistimro’ah mengatakan, di perpustakaan tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan guru mengenai mata pelajaran yang sudah diajarkan guru.

“Misalnya ada siswa yang masih belum fahan dengan materi yang diberikan guru, siswa bisa berdiskusi dengan guru yang bersangkutan di ruang perpustakaan tersebut. Atau, siswa juga bisa bertanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sekolah,” katanya.

Dengan cara seperti itu, diharapkan siswa bisa lebih nyaman, karena situasinya sudah berbeda ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Di perpustakaan, suasanya lebih santai dan memungkinkan siswa untuk mengeluarkan ide atau pertanyaan mengenai pelajaran.

Ia katakan, di perpustakaan tersebut, tersedia beragam buku, baik untuk pelajaran umum maupun agama, yang disesuaikan dengan usia anak.

Dengan adanya perpustakaan tersebut, diharapkan dapat memacu siswa untuk membaca. “Biasanya, anak-anak kalau istirahat ke perpustakaan. Dan memang itu, kita coba budayakan, agar mereka memiliki kecintaan untuk membaca,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono
Baca juga : Puluhan Guru PAI di Kudus Gagal Terima Sertifikasi, Ini Gara-garanya

Proses PLPG Guru PAI Sekolah Negeri Disebut Tanpa Koordinasi dengan Disdikpora Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Menanggapi puluhan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang tak bisa menikmati tunjangan sertifikasi, karena terganjal persyaratan surat keputusan (SK) mengajar yang harus diteken bupati, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan, Suwarno mengatakan, proses PLPG puluhan guru PAI sekolah negeri di Kemenag digelar tanpa koordinasi dengan Disdikpora.

“Kami di UPT bahkan baru mengetahui ada guru PAI di sekolah negeri mengikuti PLPG di Kemenag, setelah mereka dinyatakan lolos. Seharusnya, sejak awal ada koordinasi untuk mengantisipasi persoalan seperti ini,” katanya.

Menurutnya, tidak diterbitkannya SK oleh bupati, untuk mengantisipasi persoalan sebagaimana yang terjadi pada honorer K2. ”Jadi, ketika ada masalah honorer K2, SK tersebut tidak bisa dikeluarkan,” katanya.

Sedangkan Ketua Komisi D Mukhasiron mengatakan, pihaknya akan membantu mencarikan solusi agar para guru bisa mendapatkan haknya. “Sangat disayangkan jika para guru yang sudal lolos PLPG ini akhirnya batal mendapat tunjangan sertifikasi. Kami akan mengundang Disdikpora maupun Kemenag untuk membahas persoalan ini,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Puluhan Guru PAI di Kudus Gagal Terima Sertifikas, Ini Gara-garanya 

Puluhan Guru PAI di Kudus Gagal Terima Sertifikasi, Ini Gara-garanya

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengajar di sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Kudus terpaksa gigit jari tak bisa menikmati tunjangan sertifikasi. Hal ini lantaran mereka terganjal persyaratan surat keputusan (SK) mengajar yang harus diteken bupati.

Kondisi tersebut cukup ironis, mengingat para guru tersebut sudah dinyatakan lolos Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) di Kementerian Agama (Kemenag). Bahkan, para guru tersebut sudah memiliki nomor register guru (NRG) dari Kemenag.

Siti Zumrotun, guru PAI SDN 7 Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mengatakan, guru PAI yang mengikuti PLPG di Kemenag berstatus guru tidak tetap (GTT).

Menurutnya, ada 60-an guru PAI yang mengikuti PLPG di Kemenag pada Agustus 2014. Sebanyak 30-an peserta berasal dari sekolah negeri. Sisanya berasal dari sekolah swasta (madrasah).

“Teman kami yang guru sekolah swasta tidak masalah, karena syarat SK cukup ditandatangani komite atau yayasan. Tapi untuk yang peserta dari sekolah negeri, SK mengajar harus ditandatangani oleh bupati,” katanya, Rabu (2/3/2016).

Padahal, saat ikut PLPG, Zumrotun dan teman-temannya mengaku sudah sangat gembira. Pasalnya, kalau bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi, gaji mereka minimal bisa lebih baik dibanding saat ini.

”Sekarang gaji saya hanya Rp 250 ribu per bulan. Lha mana itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Paling habis buat beli bensin,” ujarnya.

Zumrotun mengatakan, para guru sudah meminta bantuan masing-masing kepala sekolah tempatnya mengajar agar memfasilitasi pengurusan SK ke bupati melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora). Namun hingga kini hasilnya masih nihil lantaran bupati hingga kini masih belum berkenan mengeluarkan SK tersebut.

”Padahal yang kami butuhkan hanya SK Bupati yang menyatakan kami ini memang benar-benar mengajar di SD tempat kami mengajar saat ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Warga Setrokalangan Kudus Tak Butuh SD lagi

Siswa dari Dukuh Karangturi berangkat sekolah di Desa Setrokalangan melewati jalan licin dan becek. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa dari Dukuh Karangturi berangkat sekolah di Desa Setrokalangan melewati jalan licin dan becek. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terkait adanya wacana Pemerintah Kabupaten Kudus dalam hal ini Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang akan mendirikan Sekolah Dasar (SD) di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kaliwungu, ditentang warga.

Salah satu warga Desa Setrokalangan, Wiyono mengatakan, bila yang menjadi alasan pembangunan SD tesebut ialah akses jalan yang tak mendukung. Yakni jalan becek serta berdampingan dengan tanggul sungai. Solusi yang pas yaitu membangun jalan supaya lebih tinggi.

Diketahui, akses jalan untuk menuju ke SD Setrokalangan dari Dukuh Karangturi termasuk medan sulit. Karena jalan yang tidak halus. Bahkan, warga dari Dukuh Karangturi harus berjalan sejauh sekitar 1,5 km.

“Berhubung di Desa Setrokalangan ini ada 2 SD. Nanti kalau pemerintah membangun lagi di Dukuh Karangturi. Secara otomatis, salah satu SD ini akan kosong, alias tidak ada muridnya. Dan itu justru tidak efisien,” kata Wiyono.

Warga Desa Setrokalangan lainya Wandi, mengatakan, solusi ideal adalah memperbaiki akses jalan. Supaya permukaan jalan nyaman dilewati. “Termasuk saat musim hujan, jalan tidak banjir seperti beberapa waktu lalu,” kata Wandi.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Salut, Meski Jarak 1,5 Km Siswa SD dari Dukuh Karangturi Ini Anti Terlambat Masuk Sekolah 

Salut, Meski Jarak 1,5 Km Siswa SD dari Dukuh Karangturi Ini Anti Terlambat Masuk Sekolah

Salah seorang siswa dari Dukuh Karangturi, Wilda Satria Abimanyu, berjalan kaki saat berangkat sekolah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah seorang siswa dari Dukuh Karangturi, Wilda Satria Abimanyu, berjalan kaki saat berangkat sekolah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Rasanya, pepatah itu tak cocok di mata siswa SD dari Dukuhturi, Desa Setrokalangan, Kudus.

Bagi mereka, tidak ada kata terlambat. Terutama dalam hal masuk sekolah. Tidak heran jika berbagai upaya ditempuh biar mereka tak terlambat.

Di antaranya, mereka memilih mempersiapkan semua perlengkapan sekolahnya sehabis subuh atau sekitar pukul 05.00 WIB. Sebab mereka sadar, jika kondisi perjalanan saat berangkat sekolah melalui medan yang cukup berat. Yakni permukaan jalan yang licin dengan panjang rute hampir 1,5 km.

Salah satu siswa SD 1 Setrokalangan, Kaliwungu dari Dukuh Karangturi RT 5 RW 3, Wildan Satria Abimanyu mengatakan, dia rela bangun pagi guna mempersiapkan segala sesuatunya sebelum ke sekolah.

Siswa lainnya, Riska Noor Hidayah mengayuh sepeda dengan hati hati sebab jalannya licin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa lainnya, Riska Noor Hidayah mengayuh sepeda dengan hati hati sebab jalannya licin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

“Biasanya kalau ndak jam 05.00 WIB atau 04.45 WIB itu, saya sudah bangun. Sebab jam 05.00 WIB hingga 05.30 WIB itu saya gunakan untuk mempersiapkan fasilitas sekolah. Setelah itu mandi, kemudian berangkat sekolah,” kata siswa kelas VI itu.

Untuk berangkat sekolah itu, biasanya dia berjalan, atau mengayuh sepeda. Dan itupun tergantung cuaca. Bila hujan, dia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki pukul 06.00 WIB, dan sampai sekolah pukul 06.30 WIB.

Karena tidak punya sepatu lainnya, maka dia memilih memasukkan sepatu ke dalam kantung plastik kresek. Akan tetapi, bila cuaca cerah, maka berangkat dari rumah pukul 06.15 WIB dan sampai sekolah sekitar pukul 06.30 WIB. Biasanya, saat cuaca itu, dia naik sepeda. Namun di berbagai titik jalan yang licin dan membahayakan, sepeda pun dituntun.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, akses satu-satunya yang menghubungkan Dukuh Katangturi hingga Desa Setrokalangan memang masih berupa tanah dan melewati tepian tanggul sungai. Sehinga saat banjir melanda, tanggul itu rawan jebol.

Sementara itu, terkait rencana Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus akan membangun sekolah baru di Dukuh Karangturi, disambut gembira oleh siswa dari dukuh tersebut.

“Ya senang, sebab dekat, tidak capek, tidak becek saat hujan, dan meskipun banjir, kita bisa tetap masuk sekolah,” kata siswa dari dukuh itu juga, Riska Noor Hidayah.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Disdikpora Akan Bangun SD Baru di Dukuh Karangturi Kaliwungu Kudus

Warga Karangturi Setrokalangan Kudus Tak Sabar Nunggu SD Baru 

 

Warga Karangturi Setrokalangan Kudus Tak Sabar Nunggu SD Baru

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terkait adanya wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, dalam hal ini Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang akan mendirikan gedung sekolah dasar (SD) baru di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan,Kaliwungu, mendapat tanggapan positif dari warga.

Salah satu warga Dukuh Karangturi RT 2 RW 3 Desa Setrokalangan, Sujono mengatakan, bila pembangunan SD itu benar-benar akan diletakkan di dukuhnya ini, maka warga sagat senang. “Kami sudah tidak sabar bisa lebih dekat dengan sekolah. Sebab selama ini anak-anak warga Karangturi bila bersekolah harus jalan kaki sekitar 1, 5 km menuju Desa Setrokalangan. Dan itupun lewat jalan berlumpur di tepian tanggul,” ujarnya.

Dia menilai, kedua SD yang berada di Desa Setrokalangan itu tersentra di satu tempat saja. Yakni hanya di pusat desa. Sedangkan untuk yang di Dukuh Katangturi, belum terdapat bangunan sekolahnya.

Hal serupa diiyakan oleh Sekdes Setrokalangan Abdul Chamdi. Dia mengatakandesa sangat senang bila itu bisa cepat dibangun.”Nanti kalau dibangun, itu sama saja memfasilitasi pendidikan warga,” kata Chamdi.

Dia menambahkan, memang harapan adanya bangunan SD di Desa Setrokalangan, khususnya Dukuh Karangturi ini sudah ada sejak dulu. “Warga berharap bisa cepat terealisasi,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

baca juga : Disdikpora Akan Bangun SD Baru di Dukuh Karangturi Kaliwungu Kudus 

Siswa di Kudus Bacakan Deklarasi Relawan Pelajar Cerdas Hukum

 

Penyuluhan Hukum Serentak 2016 yang digelar di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Penyuluhan Hukum Serentak 2016 yang digelar di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perwakilan siswa SLTA di Kabupaten Kudus bersama membacakan Deklarasi Relawan Pelajar Cerdas Hukum, Kamis (28/1/2016). Deklarasi ini dibacakan dalam Penyuluhan Hukum Serentak 2016 yang digelar di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Kudus.

Ada delapan poin deklarasi yang mereka bacakan. Di antaranya berjanji untuk bersikap jujur, serta mencegah dan melaporkan tindakan bullying. Lalu taat pada peraturan di sekolah atau luar sekolah. Serta berjanji untuk tidak menyontek.

Sekda Kudus Noor Yasin meminta, agar deklarasi yang sudah diucapkan tersebut, nantinya dapat diterapkan di sekolah.”Saya berharap, siswa bisa memiliki komitmen sebagai pelajar cerdas hukum. Makanya, poin-poin itu harus dilaksanakan,” ungkapnya.

Dengan begitu, katanya, siswa nantinya dapat terhindar dari hal-hal yang negatif, dan memiliki komitmen kuat untuk belajar yang lebih rajin. Sehingga, nantinya dapat menjadi penerus bangsa yang cerdas.

Editor : Kholistiono

Tak Hanya Mengajar, 11 Guru di Kudus Ini Mencari Murid Miskin untuk Diajak Bersekolah

Guru dan murid MI NU Hidayatus Shibyan, Ledok, Demaan, Kota Kudus berfoto bersama ketika jam istirahat belajar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru dan murid MI NU Hidayatus Shibyan, Ledok, Demaan, Kota Kudus berfoto bersama ketika jam istirahat belajar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Julukan pahlawan tanpa tanda jasa memang pantas disematkan pada 11 guru MI NU Hidayatus Shibyan, Dukuh Ledok, Desa Demaaan, Kecamatan Kota Kudus. Pasalnya, guru tesebut tak hanya mengajar di sekolah, melainkan bergerak sebagai aksi sosial dengan mencari murid yang putus sekolah dan anak dari kalangan keluarga kurang mampu untuk diajak sekolah.

Kepala MI NU Hidayatus Shibyan, Ledok, Demaan, Kota Kudus, Qibtiyah mengatakan pencarian murid bukan hanya sekadar disaat pendaftaran murid baru saja. Akan tetapi pihak sekolah juga selalu memantau dan mencari murid setiap saat.

”Pemantauan dan pencarian murid yang putus sekolah atau kurang mampu itu di fokuskan pada wilayah perkampungan miskin yang berdada di emperan Kali Gelis, Desa Demaan,” paparnya.

Dengan adanya pencarian murid putus sekolah atau dari kalangan miskin tersebut, pihak sekolah ingin memberikan pendidikan pengetahuan yang layak bagi anak-anak itu. Supaya kehidupan mereka bisa lebih baik dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

”Untuk saat ini, murid keseluruhan kami mulai kelas satu hingga kelas enam berjumlah 28 anak. Namun dengan kondisi ini, kita tetap berupaya untuk mempertahankan misi sekolah. Yakni menyediakan pendidikan yang baik untuk warga miskin,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, ke 28 anak tersebut memang rata-rata dari keluarga kurang mampu. Khususnya berasal dari wilayah perkampungan sosial (warga miskin) Desa Demaan.

”Ya alhamdulilah sampai saat ini murid tersebut bisa mengenyam pendidikan layaknya murid sekolah lain. Sebab untuk segala fasilitas atau yang lainnya kita penuhi,” ungkapnya.

Dia menambahkanh, disaat program pemerintah Beasiswa Siswa Miskin (BSM), Gerakkan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), bantuan yatim piatu, miskin, belum ada, ke 11 guru ini pun menggalang dana secara pribadi untuk memenuhi kebutuhan sekolah para murid. Baik seragam, sepatu, dan peralatan sekolah.

Editor : Titis Ayu

SD 1 Wergu Wetan Kudus Berulang Kali Sukses Ujian Sekolah, Ini Bocoran Triknya

Siswa kelas VI mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD 1 Wergu Wetan Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa kelas VI mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD 1 Wergu Wetan Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Meski ujian sekolah masih lama, yakni Mei 2016, namun SD 1 Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, sudah melakukan persiapan biar sukses lagi meraih hasil terbaik. Mereka pun membocorkan triknya kepada MuriaNewsCom.

Adalah menggelar les atau tambahan jam pelajaran sejak semester pertama. Hal itu dilakukan supaya ke depannya bisa membuat 42 siswanya di kelas VI lebih siap meraih dan mengerjakan ujian dengan baik.

Kepala SD 1 Wergu Wetan, Kota, Maskat mengatakan, penambahan jam mata pelajaran sudah dilakukan sejak semester pertama tahun ajaran ini. Dengan fokusnya pada tiga mata pelajaran inti dalam ujian tersebut.

“Tambahan jam mengajar atau les dari semester pertama, yakni Bahasa Indonesia, IPA, dan Matematika,” kata Maskat.

Penambahan jam mata pelajaran dilakukan pada Senin hingga Rabu. Masing-masing hari itu diisi satu mata pelajaran.Adapun waktu penambahan jam mata pelajaran itu dimulai seusai kegiatan belajar mengajar. Yakni pukul 12.30 WIB hingga 14.00 WIB.

Untuk kegiatan semacam ini berlangsung sejak dua tahun lalu. “Haslnya luar biasa, sekolah ini bisa mendapatkan peringkat 10 besar se-Kecamatan Kota,” tambahnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Siswa di Kudus Ini Punya Cara Asik Isi Waktu Liburannya

Siswa di Kudus sedang isi liburannya dengan membaca dan belajar di Perpustakaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa di Kudus sedang isi liburannya dengan membaca dan belajar di Perpustakaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selama dua pekan siswa sekolah di Kudus menjalani libur akhir semester ganjil. Namun waktu tersebut selalu digunakan untuk mengunjungi perpustakaan guna membaca dan mengasah ilmu pengetahuannya.

Hal tersebut dibuktikannya dengan peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan dan arsip daerah Kudus selama libur sekolah. Salah satu staf kantor perpustakaan dan arsip daerah Kudus Pujo Nugroho mengatakan, ada peningkatan jumlah pengunjung disaat liburan sekolah ini. Rata-rata setiap harinya mulai tanggal 21 hingga 31 Desember kemarin pengunjung mencapai sekitar 35 hingga 40 pengunjung.

Pujo memaparkan, mayoritas pengunjung perpustakaan adalah anak seusia SD, SMP bahkan SMA. Dengan begitu, mereka bisa mengisi waktu liburan dengan hal positif memperluas wawasan dengan membaca.

”Kami senang lantaran perpustakaan ini bisa dikunjungi banyak pembaca disaat liburan. Ternyata mereka tidak mengedepankan bermain disaat liburan. Namun mereka memilih membaca buku yang bermanfaat,” ujarnya.

Selain itu, untuk membuat pengunjung perpustakaan lebih nyaman, pihak Perpustakaan dan Arsip Daerah Kudus juga menyediakan berbagai fasilitas. ”Fasilitas bagi pengunjung tersebut meliputi permainan anak seperti halnya perosotan, jungkat jungkit serta ruang baca yang nyaman. Yakni diberikan sekat kaca dan komputer,” ungkapnya.

Dia menilai, fasilitas itu membuat pengunjung lebih nyaman. Sebab di bulan sebelumnya belum ada fasilitas tersebut.

Hal senada diiyakan oleh pengunjung Umam Setyo Hermawan kelas 5 SD Wergu Wetan. Dia menambahkan, kegiatan liburan harus bisa bermanfaat dengan cara membaca, belajar dan kegiatan positif lainnya. ”Karena membaca menambah wawasan, untuk bekal masa depan,” kata Umam. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Hai Petani! Obat Organik Ini Bisa Jadi Solusi untuk Basmi Hama Tanamanmu

Anggota Saka Taruna Bumi ketika mengikuti pelatihan di Taman Ternak Besito (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Saka Taruna Bumi ketika mengikuti pelatihan di Taman Ternak Besito (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sedikitnya ada 70 siswa tingkat SMA sederajat se- Kabupaten Kudussaat ini digembleng di Taman Ternak Besito, Gebog, Kudus. Kegiatan yang digelar Saka Taruna Bumi ini, bertujuan untuk mendidik anggota pramuka agar memiliki pengetahuan tentang pertanian.

Pada kegiatan yang berlangsung pada 26-27 Desember ini, peserta diajarkan mengenai pembuatan obat pembasmi hama tanaman, yang berbahan dasar buah-buahan.

“Kegiatan ini merupakan kegiatanlatihan dasar untuk anggota baru Saka Taruna Bumi. Kali ini, kita dilatih membuat obat pembasmi hama  yang dinamakan mol, yakni obat cairyang terbuat dari fermentasi buah yang sudah membusuk,” ujar Luthfiana Ulfa, salah satu peserta Saka Taruna Bumi dari MA NU Ibtidaul Falah, Dawe.

Untuk cara pembuatan obat pembasmi hama tersebut, katanya, bahan bakunyaberasal dari buah-buahan yang sudah membusuk yang kemudian dicampurdengan rebusan air gula merah, air cucian beras, air mineral serta airkelapa.

Setelah dicampur, nantinya didiamkanditempat yang sejuk, kurang lebih 2 minggu hingga 1
bulan.”Setelah fermentasi sudah selesai 2 minggu hingga 1 bulan, maka barangtersebut bisa digunakan. Nah dari kesekian proses yang paling pentingialah, kita harus tahu bahwa proses itu bisa berhasil menjadi obat hamaatau gagal,” katanya.

Katanya, jika prosesnya berhasil, cairan itu berwarnamerah kecoklatan dan mempunyai  aroma semacam tape. Tapi jika fermentasi tersebut gagal, maka airnya akan berwarna kuning dan mengeluarkan aroma busuk.

Siti NelaLailatul Hidayah, peserta lainnya menambahkan, jika fermentasinya berhasilmenjadi obat, maka ketika cairan itu terkena tangan, maka tidakmenimbulkan rasa gatal dan perih. Namun,  bila fermentsinya gagal,maka bisa menimbulkan gatal dan perih.

“Obat pembasmi hama ini cocok untuk tanaman kebun. Misalkan sajacabai, terong, tomat, bunga dan sejenisnya. Selain itu juga bisamempercepat tumbuh serta memperbanyak buah,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Alhamdulilah, Guru Al-Azhar Diberi Fasilitas Bisa Kurban dan Umrah

Guru atau pendidik menyimak materi di workshop bertajuk Meningkatkan Kualitas Pendidik dan Mendidik dengan Cinta itu, di Kudus.

Guru atau pendidik menyimak materi di workshop bertajuk Meningkatkan Kualitas Pendidik dan Mendidik dengan Cinta itu, di Kudus.

 

KUDUS – Yayasan Al-Azhar yang menaungi lembaga pendidikan anak, yakni Kelompok Bermain (KB) Al-Azhar memberikan penghargaan terhadap para pendidiknya atau guru. Yaitu memberikan fasilitas kurban dan umrah kepada masing-masing pendidik.

Ketua penyelenggara KB Al-Azhar, Eni Misdayani mengatakan hal itu di depan 27 pendidik (guru) saat mengikuti workshop internal yang diselenggarakan di Kampus II sekolah tersebut.

“Kurban kami berikan kepada guru yang telah menjalani masa tugas atau mengabdi selama 10 tahun, sedang fasilitas umrah gratis diberikan jika telah mengabdi selama 15 tahun,’’ kata Eni dalam workshop bertajuk Meningkatkan Kualitas Pendidik dan Mendidik dengan Cinta itu.

Kebijakan memberikan apresiasi yang demikian besar ini, karena kesadaran betapa berat tanggung jawab sebagai pendidik di PAUD. Karena menurutnya, menjadi pendidik PAUD bukan profesi mudah, namun harus siap menancapkan senyum riang agar hati selalu senang.

Namun begitu, dia meyakini bahwa pilihan menjadi pendidik PAUD merupakan pekerjaan mulia, karena perannya dalam menyiapkan generasi cerdas dan memiliki karakter yang baik.“Di usia dinilah masa terbaik membentuk karakter anak,” tambahnya.

Yakni melalui penanaman dan peneguhan nilai-nilai positif, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi kokoh, kuat dan tangguh.

Afthonul Afif, pakar psikologi mengatakan pendidik di PAUD dituntut menjadi seseorang yang memiliki kepribadian kokoh, mampu mengelola emosi diri sendiri dan anak didik secara baik.

“Pendidik yang mampu memberikan peneguhan positif dan memiliki karakter tangguh dalam mendampingi anak-anak didiknya untuk  melewati usia dini,”ungkapnya.

Beratnya tugas mendidik di PAUD ini, menurut Afif yang antara lain menulis buku Identitas Tionghoa Muslim Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri (2012), Ilmu Bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram (2012), (2012), Pemaafan, Rekonsiliasi & Restorative Justice (2015), karena ia harus menjadi teladan bagi anak-anak didiknya.

“Guru PAUD harus benar-benar menjadi teladan yang baik. Seberat apapun persoalan di rumah, efeknya jangan sampai ke sekolah.

Sementara itu, selain Eni Misdayani dan Afthonul Afif, narasumber lain yang dihadirkan yaitu Rosidi (staf Humas Universitas Muria Kudus) dan Rr. Melinda Arryani S.Pd. (pengawas TK/SD Kecamatan Jekulo). Hadir pula pada kesempatan itu, Andreas Suwito S.Pd. (penilik PAUD Kecamatan Jekulo) dan H. M. Faedhoni MH. (pembina Yayasan Al-Azhar). (MERIE/AKROM HAZAMI)

Kepala Sekolah Pertukaran Luar Jawa Hanya Bisa Menunggu

Ilustrasi kepala sekolah

Ilustrasi kepala sekolah

 

KUDUS – Keempat kepala sekolah yang seharusnya ditukar ke luar Jawa selama 14 hari, hanya bisa menunggu tugas dari Pemkab Kudus saja sebagai kepala sekolah yang terpilih, mereka hanya siap melaksanakan saja.

Seperti halnya kepada SMA 2 Kudus Sri Haryoko, menurutnya kabar tentang dipindah sementara ke luar Jawa sudah didengar. Hanya keberangkatan masih belum diterimanya hingga kini.

”Belum dengar soal hal tersebut, namun yang pasti kami sebagai kepala sekolah menunggu kebijakan pemerintah soal pemindahan tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Meski diluar Jawa, pertukaran kepala sekolah sementara yang dilakukan selama 14 hari, dipastikan terdapat di daerah yang aman. Hal itu dipastikan lantaran lokasi tersebut sudah diperiksa dan tidak ada hal yang meresahkan.

Hal itu diungkapkan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo, pada MuriaNewsCom, menurutnya keempat lokasi dilarikan aman dari kementerian. Bahkan masyarakat yang ada disana juga kebanyakan masyarakat dari Jawa, sehingga lebih mudah untuk adaptasi.

”Seperti halnya di SMA N Miado Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat, lokasi tersebut bakal ditempati oleh kepala sekolah SMA 2 Kudus. Kebanyakan masyarakat dan siswa yang sekolah juga berasal dari Jawa,” katanya.

Mengenai tempat tinggalnya, supaya pendidik dari asal Kudus itu akan ditempatkan di rumah guru. Hal itu untuk memudahkan dari tempat tinggal dengan sekolah.

Begitu juga dari SD 2 Besito Sutiono mengampu SD Impres 12 kabupaten Sorong Papua. Lokasinya juga berada di daerah perkotaan sehingga akses juga lebih mudah. (FAISOL HADI/TITIS W)

Sambut Hari Ibu, Anak dan Ibu Adu Kekompakan di Play Group Pelita Nusantara Kudus

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dalam memperingati hari ibu yang ke 87 di tahun 2015 ini. Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus mengadakan berbagai lomba. Lomba yang diikuti oleh 62 peserta didik dan ibu tersebut, tentunya dapat memberikan pelajaran psikomotorik terhadap anak.

Salah satu pendidik di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus Trisye Sulistiowati mengutarakan, lomba ini ada lima kategori. Selain itu, yang mengikuti lomba tersebut bukan hanya dari peserta didik saja, namun pihak orang tua juga turut serta.

”Ke lima lomba tersebut meliputi, lomba menempel pola organ tubuh manusia yang diikuti 14 anak dari usia 2-3 tahun, lomba meronce (menempel) manik-manik diikuti 21 anak dari usia 3-4 tahun, loma memakai dan melipat baju diikuti 27 anak dari usia 4-6 tahun, lomba anak menyuapi ibu dengan puding, serta lomba ibu merias kue donat,” paparnya.

Diketahui, lomba yang terlaksana sejak Kamis (10/12/2015) hingga Sabtu (12/12/2015) di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara di Perumahan Jati Indah No 99 Kudus ini diambil tiga kejuaraan di setiap cabang lomba. Sehingga menambah semangat para peserta lomba.

”Kegiatan itu memang diambil tiga kejuaraan dari setiap cabang lomba. Untuk hadiahnya khusus untuk lomba menempel pola organ tubuh yang diikuti anak usia 2-3 tahun akan diberi peralatan permainan semacam puzzle. Selebihnya untuk ke empat lomba lainnya diberikan peralatan sekolah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam kegiatan ini pastinya dapat memberikan ilmu pengetahuan umum pada anak didik selain materi. Namun mereka juga bisa mempraktikan pengetahuannya. Seperti halnya memakai dan melipat baju, menyuapi ibu dan yang lainnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Gara-gara Sekolah Swasta di Kudus Hebat, Pemkab ‘Iri’

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Banyaknya sekolah unggulan di tingkat swasta, menjadi hal yang membanggakan. Bahkan, Disdikpora Kudus sampai ‘iri’ yakni mengakui keunggulan kemampuan sekolah swasta.

Kepala Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Joko Susilo mengatakan di sekolah swasta banyak yang bagus. Mulai jenjang SD hingga SMA.

“Swasta kan banyak, ada SDIT yang terdapat di beberapa titik. Kemudian SMA juga ada satu – satunya yang lolos CBT 2015. Jadi membuktikan lebih bagus,” kata Joko kepada MurianewsCom.

Menurutnya, sekolah swasta lebih bagus karena siswanya memang dididik dengan baik. Sehingga hasilnya adalah siswa yang unggul pula. Dia mencontohkan, tahun lalu sekolah yang lolos UN CNB juga dari swasta, sedangkan untuk sekolah negeri, meskipun itu unggulan tidak lolos  tahun lalu.

“Saya juga melihat fisik siswa swasta lebih kuat, saya lihat waktu upacara TMMD di Desa Getassrabi Gebog beberapa waktu lalu. Banyak siswa termasuk anak-anak itu kuat  upacara meski udara sangat panas. Padahal jika upacara di Simpang Tujuh banyak diikuti sekolah negeri banyak yang pingsan,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Sekolah Negeri di Kudus Kalah Saing dengan Swasta

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Banyaknya sekolah swasta, nampaknya menjadi saingan tersendiri bagi sekolah negeri. Sebab, dari data yang ada, sekolah swasta lebih cenderung diminati masyarakat ketimbang sekolah negeri.

Hal itu diungkapkan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. Menurutnya saat pertemuan beberapa waktu lalu di Jateng, diungkapkan kalau sekolah swasta lebih diminati warga ketimbang sekolah negeri.

“Dari data yang disampaikan beberapa waktu yang lalu saat pertemuan, jika persentase untuk tingkat SMA, 85 persen masih memilih sekolah swasta. Sedangkan sekolah negeri hanya 15 persen saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk SMK juga mengalami hal yang serupa. Untuk SMK swasta, peminat masyarakat masih mendominasi angka 60 persen, sedangkan sisanya 40 persen baru SMK negeri.

Ini sangat aneh, ternyata bagi masyarakat sekolah swasta lebih banyak diminati. Dan sekolahkan sangat banyak sehinggga membuat tugas bersama bagi kami dan sekolah negeri untuk mengembangkannya.

“Bukan berarti sekolah swasta juga tidak dipikirkan. Namun lebih ke minat masyrakat yang memilih sekolah swasta ketimbang negeri,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)